SITE STATUS
Jumlah Member :
482.036 member
user online :
2476 member
pageview's per day :
Over 100.000(!) page views
Kalkulator kesuburan
Masukan tanggal hari pertama bunda mengalami menstruasi

6 Tipe Mengelola Uang

   

6 Tipe Mengelola Uang



Namun, untuk merencanakan masa depan anak butuh biaya yang tidak sedikit. Itu sebabnya, Anda perlu mengelola uang dengan cermat sehingga bisa menutupi kebutuhan, sekaligus menyisihkannya untuk pendidikan mereka kelak. Sayangnya, tak semua orang melakukan hal yang sama dalam mengelola uang. Yang gampang terlihat saja sudah ada 6 tipe gaya mengelola uang. Anda tergolong tipe yang mana, dan saran apa yang dapat diberikan supaya gaya pengelolaan uang menjadi lebih baik dan terarah?
1. Boros. Tipe ini suka menghabiskan uang tanpa memedulikan kondisi keuangannya sendiri. Baginya, belanja, meski sampai berutang, bukanlah masalah. Saran: Tipe ini harus segera sadar dan membiasakan diri membuat anggaran. Sedapat mungkin, ia juga harus mengikuti dan berdisiplin mengikuti anggaran yang dibuatnya itu. Bila tidak � apalagi masih terus berutang � anak-anak di masa depan akan menanggung kebiasaan buruk pengelolaan uang orangtua.
2. Pelit. Ia paling takut membelanjakan uangnya. Ketakutan terbesarnya adalah tak punya uang dan berutang. Ia terlalu berhitung dalam memegang uang, sehingga tak bisa menikmati uangnya sendiri. Saran: Untuk soal ini, pengelolaan uang memang tak perlu dicemaskan. Tapi sayangnya, pelit berbeda dengan irit. Pelit akan membuat anak-anak Anda nantinya merasa terkekang, dan kemungkinan akan berbelanja gila-gilaan ketika akhirnya punya uang sendiri. Ingat, uang bukanlah kebahagiaan, biar pun ia bisa menjadi sarana untuk menikmati masa-masa bahagia. Berusahalah agar lebih longgar dan tidak terlalu ketat, asal dipergunakan semestinya, uang Anda tidak akan terasa hilang tak keruan.
3. Pencemas. Ia selalu mencemaskan soal uang, bahkan dalam kondisi punya banyak uang. Saran: Ini mungkin berhubungan dengan kondisi kepribadian atau karakter Anda yang terlalu mengkhawatirkan masa depan. Padahal, selama Anda merencanakan segala sesuatu dengan baik, kecemasan yang berlebihan tidaklah diperlukan. Memang, kita punya rencana, Tuhan juga yang menentukan. Karena itu, buanglah urusan kecemasan ini, lebih cermat dalam mengelola uang, dan camkan pada diri sendiri bahwa Tuhan akan selalu mengulurkan tangan bila umat-Nya dalam kesulitan.
4. Berjiwa Bebas. Tipe ini kebalikan dari pencemas. Ia tak pernah risau, meski dililit utang atau terlambat membayar tagihan. Saran: Bersikap santai dalam menghadapi segala problema hidup sebenarnya bukanlah sesuatu yang buruk. Namun, terlalu santai bukan hal yang dianjurkan. Karena itu, cobalah agar sedikit lebih disiplin, terutama dalam urusan uang. Terlambat membayar tagihan misalnya, akan membuahkan pemborosan karena Anda harus membayar denda yang kalau dikumpulkan, jumlahnya lumayan. Apalagi bila denda itu berasal dari kartu kredit atau jenis-jenis kredit lainnya. Jadi, sedikit disiplin dalam mengelola uang akan lebih banyak membantu, apalagi bila Anda sudah punya keinginan menabung untuk biaya pendidikan anak kelak.
5. Pemimpi. Tidak ada undian yang ia lewatkan. Ia sangat yakin, kelak ia akan berhasil memenangkan salah satu undian yang ia ikuti. Saran: Banyak pemimpin sukses karena memiliki mimpi-mimpi yang besar. Namun, mimpi dan pemimpi bukan hal yang sama. Oleh karena itu, cobalah bedakan mana mimpi Anda yang dapat diwujudkan, dan mana yang berupa khayalan semata. Tidak ada untungnya bermimpi memperoleh undian, karena hanya sedikit dari bermiliar orang yang dapat memenangkannya. Lebih baik, cobalah wujudkan mimpi-mimpi Anda yang lebih kecil dulu, sampai akhirnya dapat meraih mimpi yang besar.
6. Perencana. Tipe ini sangat teliti dalam membelanjakan uangnya. Baginya, segala sesuatu harus dijalankan menurut rencana. Kendati demikian, ia tetap dapat menikmati hidup. Saran: Tidak ada saran untuk si perencana, selain bahwa kesadaran bahwa Tuhanlah yang mengatur segalanya. Namun, manusia memang diharuskan berupaya. Tipe inilah yang paling ideal dalam mengelola uang. (hannie kusuma)
Tolong beritahu kami apa pendapat Anda tentang artikel ini


Jika Anda tidak melihat kotak komentar silahkan refresh halaman