SITE STATUS
Jumlah Member :
486.015 member
user online :
2656 member
pageview's per day :
Over 100.000(!) page views
Kalkulator kesuburan
Masukan tanggal hari pertama bunda mengalami menstruasi

Perawatan Bayi Diare dan Kapan Harus Ke Dokter

   

Perawatan Bayi Diare dan Kapan Harus Ke Dokter



Diare merupakan kondisi yang ditandai dengan frekuensi buang air besar (BAB) lebih sering dibandingkan dari biasanya. Pada umumnya, diare terjadi akibat konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri, virus, atau parasit. Tidak semua bayi diare perlu dibawa ke bantuan medis, kecuali Bunda memerlukan konsultasi medis untuk merawatnya.

Bunda perlu menghubungi bantuan medis apabila mengalami dehidrasi dengan ciri-ciri pada bayi yang baru lahir, antara lain Kencing kurang sering (lebih sedikit popok basah), mudah rewel atau marah, mulut kering, tidak ada air mata ketika ia menangis, mengantuk yang tidak biasa, cekung lembut di bagian atas kepala bayi, dan kulit yang tidak elastis seperti biasa (ketika Anda lembut mencubit dan melepaskannya, tidak langsung kembali). Sedangkan pada bayi berusia dibawah 6 bulan mengalami dehidrasi dengan ciri, diantaranya Bayi mengalami demam dari 102 derajat (kurang lebih sekitar 38 derajat celcius) atau lebih tinggi, sakit perut, Darah atau nanah dalam kotoran nya, bayi terlihat semakin lesu, muntah yang berkelanjutan .

Merawat bayi diare

Pada tahap-tahap perawatan ini, Bunda disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan diagnosis dan perawatan yang tepat. Ada beberapa langkah  yang dapat Bunda lakukan pada saat bayi terkena diare, yakni :

1.  Tentukan penyebabnya

Ada banyak penyebab yang dapat menimbulkan diare, misalnya Infeksi dengan virus, bakteri, atau parasit karena bayi dapat terkena kuman melalui kontak dengan makanan atau minuman atau ketika mereka menyentuh permukaan mengandung kuman dan kemudian meletakkan tangan mereka ke dalam mulut mereka; alergi makanan atau sensitivitas terhadap obat-obatan; keracunan.

2. Hilangkan makanan yang menimbulkan iritasi pada saat terjadi diare, apabila :

    a. Bayi muntah-muntah, hentikan semua makanan padat, susu (kecuali ASI), dan makanan instan.

    b. Bayi tidak muntah-muntah, hentikan semua produk olahan berbahan susu, sari buah dalam kemasan, dan makanan dengan kadar lemak tinggi.

    c. Diare tergolong gawat (encer, terjadi dua jam sekali), hentikan semua makanan, susu, makanan instan, dan sari buah.

3. Cegah dehidrasi

Jika bayi tidak memperoleh ASI, gantikan dengan larutan elektrolit oral. Pada masa pemulihan di mana diare telah menurun, sesuai dengan saran dokter, umumnya Bunda dapat melakukan tindakan berikut:

   a. Memberikan susu formula dengan porsi setengah susu formula dan setengah larutan elektrolit oral atau kembali ke ASI;

   b. Setelah 24 jam, berikan susu formula seperti biasa sesuai dengan takaran normal;

   c. Berikan makanan dalam porsi kecil dan sering setelah 24-48 jam. Hindari susu sapi dahulu, tapi boleh memberikan yoghurt. Ingatlah bahwa usus sembuh secara perlahan, butuh waktu beberapa minggu untuk pemulihan. Berkonsultasilah dengan dokter yang merawat bayi Bunda karena lebih mengetahui kondisi bayi yang diperiksanya.

Hal-hal yang tidak boleh dilakukan ketika merawat bayi diare:

  • Berhenti memberi ASI, kecuali jika diare tergolong sudah gawat dan disarankan dokter untuk berhenti memberinya ASI. Dalam keadaan umum, ASI perlu diberikan karena tidak menimbulkan iritasi, bahkan mungkin bisa berfungsi sebagai penyembuh, dan mungkin satu-satunya makanan yang dapat diterima seorang anak yang sedang sakit.
  • Larutan yang mendidih, terutama susu dan gula karena proses mendidih mungkin menyebabkan air menguap, membuat larutan begitu kuat dan memperparah dehidrasi.
  • Menahan makanan lebih dari 48 jam. Hal ini bisa jadi memperparah diare.
  • Memberi sari buah dalam kemasan.
Tolong beritahu kami apa pendapat Anda tentang artikel ini


Jika Anda tidak melihat kotak komentar silahkan refresh halaman