SITE STATUS
Jumlah Member :
498.959 member
user online :
1015 member
pageview's per day :
Over 100.000(!) page views
Kalkulator kesuburan
Masukan tanggal hari pertama bunda mengalami menstruasi

Blog -- cara menurunkan panas



Blog posted by

cara menurunkan panas


Blog posted on 12-01-2017

Demam merupakan gejala umum pada saat sakit. Suhu tubuh meningkat di atas normal. Baik pada bayi, anak-anak maupun dewasa, peningkatan panas tubuh ini tetap harus diwaspadai dan dipantau. Kenaikan suhu tubuh yang berlebihan dapat memberikan implikasi medis yang serius. Akibat dari panas tubuh yang berlebihan, salah satunya adalah kejang demam, yang umum terjadi pada anak-anak. Hal ini merupakan respon tubuh, terutama otak, atas kenaikan suhu tubuh yang berlebihan. Terjadinya kejang demam pada anak dapat beragam, dari yang ringan, seperti mata melotot hingga berat, seperti kejang seluruh tubuh. Berdasar durasinya, kejang demam dibagi menjadi : Kejang demam yang sederhana, terjadi dari beberapa detik hingga 15 menit. Terjadi pada seluruh baian tubuh dan tidak akan terulang kembali selama 24 jam. Kejang demam yang kompleks, yang dapat terjadi lebih dari 15 menit, dapat dapat terulang kembali dalam 24 jam. Pada bayi dan anak-anak, titik kritis panas tubuh adalah 38 derajat Celcius. Sedangkan pada orang dewasa, suhu 39,4. Pada titik suhu seperti ini sebaiknya harus diwaspadai, sebab sampai saat ini, belum ditemukan obat yang dapat mencegah terjadi kejang demam. Yang bisa dilakukan untuk mencegahnya adalah dengan menurunkan suhu tubuh yang terlalu tinggi. Untuk menurunkan panas tubuh dapat diberikan obat penurun panas. Namun jika perlu obat tidak juga membuat suhu tubuh turun, dilakukan kompres. Ada 2 jenis kompres, yaitu kompres panas dan kompres dingin. Diantara kedua hal tersebut, mana yang paling tepat? Kompres dingin untuk saat ini dianggap tidak tepat. Kompres dingin tidak direkomendasikan untuk mengatasi demam karena dapat meningkatkan pusat pengatur suhu (set point) hipotalamus, mengakibatkan badan menggigil sehingga terjadi kenaikan suhu tubuh. Kompres dingin mengakibatkan pembuluh darah mengecil (vasokonstriksi), yang meningkatkan suhu tubuh. Selain itu, kompres dingin mengakibatkan anak merasa tidak nyaman. Dengan kompres panas, tubuh akan dirangsang untuk mengeluarkan keringat. Jika keringat telah keluar, secara alami suhu tubuh akan turun. Penggunaan kompres panas selama kurang lebih 10-15 menit akan membuka pori-pori dan mengeluarkan keringat sehinggga panas tubuh berkurang melalui prosesd penguapan. Bagaimana cara yang tepat menggunakan kompres panas saat demam? Begini caranya: Sebelum mengompres, sediakan baskom kecil berisi air hangat dengan suhu ± 38 ºC. Basahi handuk atau waslap dengan air hangat tersebut. Saat mengompres, bukalah baju yang dipakai. Letakkan handuk di ketiak dan lipatan paha, bukan di dahi. Ketiak dan lipatan paha dilintasi pembuluh darah besar, sehingga segera memberi sinyal ke pusat pengatur suhu di otak untuk menurunkan demam. Kompres bagian tersebut ± 10 menit. Bila handuk sudah berkurang hangatnya, ulangi lagi dengan membasahinya dengan air hangat. Kompres lagi sampai suhu tubuh anak menurun. Selesai mengompres, seka bagian yang habis dikompres (kemungkinan basah) dengan cara menekan-nekan kulit, jangan digosok. Gunakan handuk kering. Kenakan kembali baju. Pilih baju yang tipis dan longgar sehingga membantu meredakan demam melalui proses penguapan.Tutupi dengan selimut tipis apabila kedinginan atau menggigil. Saat ini banyak beredar kompres instan berupa plester kompres. Efektifkah menggunakan plester kompres ini untuk menurunkan demam? Plester kompres terbuat dari hidrogel sebagai penyerap panas. Dilihat dari cara kerjanya, plester kompres sama dengan melakukan kompres dingin. Sesuai dengan uraian di atas, kompres dingin tidak direkomendasikan. Jadi sebaiknya jangan dilakukan. Namun bila panas tubuh tidak juga turun, sebaiknya segeralah untuk mencari pertolongan medis. 





Ditampilkan sebanyak : 762

Tolong beritahu kami apa pendapat Anda tentang blog ini


Jika Anda tidak melihat kotak komentar silahkan refresh halaman
 
Devi Ratna Juwita's blog :