SITE STATUS
Jumlah Member :
489.497 member
user online :
830 member
pageview's per day :
Over 100.000(!) page views
Kalkulator kesuburan
Masukan tanggal hari pertama bunda mengalami menstruasi

Layakkah Membawa Pulang Pekerjaan Ke Rumah?

   

Layakkah Membawa Pulang Pekerjaan Ke Rumah?



Sayangnya, belum tentu rumah Anda cocok sebagai tempat kerja. Boleh jadi Anda tidak punya sudut nyaman di mana Anda bisa mengetik dengan lancar di laptop. Atau, ini yang paling berat, si kecil terus-terusan mengajak bundanya bermain karena ia kangen. Sungguh suatu ujian yang mahaberat. Haruskah menemani si kecil dulu, menunggunya sampai ia tidur (artinya Anda juga letih), dan mulai tugas malam di depan komputer? Ataukah menyuruh pengasuh anak membawanya menjauh, dan Anda memilih menyelesaikan tugas? Keduanya sama-sama bukan pilihan yang menyenangkan. Sebelum mencari cara bagaimana halnya supaya pekerjaan kantor dapat diselesaikan di rumah, ada baiknya Anda juga mencari tahu mengapa jam kantor tidak cukup untuk menyelesaikan pekerjaan. Di antaranya:
1. Pekerjaan tambah banyak karena kantor memang sedang berkembang, sehingga Anda tidak mungkin mengerjakannya sendirian tanpa lembur atau membawa pekerjaan ke rumah. Solusi ? mungkin Anda perlu menghadap bos dan mengatakan sudah saatnya untuk menerima pekerja baru. Buat laporan dengan mendetail soal ini dan ketik di atas kertas supaya terdokumentasi dengan baik. Cantumkan juga berapa jumlah dan kualitas pekerjaan Anda sebelumnya, dan bagaimana keadaannya sekarang.
2. Anda tidak bisa memenuhi deadline, sehingga harus selalu menambah jam kerja. Solusi ? Tuliskan jumlah pekerjaan dan deadline-nya. Bagilah semua tugas-tugas itu dalam target-target kecil. Misalnya, laporan A terdiri dari 5 folder. Setiap folder selesai dalam sehari, dan begitu seterusnya. Buatlah jadwalnya sehingga Anda bisa menghitung waktu dengan cermat dan tak perlu lembur di rumah.
3. Anda tak bisa mendelegasikan tugas kepada anak buah sehingga harus mengerjakan sendiri, akibatnya Anda jadi keteteran. Solusi ? Tak ada lain yang perlu dilakukan, yaitu belajarlah memercayai rekan kerja. Selama ini Anda membanting tulang sendirian, padahal ada bawahan yang siap membantu tapi tidak tahu caranya. Bagilah dan beri sedikit demi sedikit tugas Anda, dan biarkan Anda menghemat waktu dengan cara ini. Tentu saja, Anda bisa memilih tugas yang tidak terlalu penting untuk diselesaikan oleh si junior, atau Anda bertindak sebagai mentor yang memeriksa kembali bila tugas itu telah selesai.
4. Tak bisa konsentrasi di kantor karena banyak gangguan. Setelah meeting, telepon dan ponsel masih berdering, bahkan datang tamu-tamu yang menggerogoti waktu Anda seperti penjual parfum, petugas kartu kredit, dan sebagainya. Solusi ? Kalau Anda memiiliki ruangan sendiri, lebih baik tutup pintu. Tapi bila ruang Anda bersifat cubical, mintalah rekan kerja yang lain untuk menyampaikan pada siapa pun bahwa Anda sedang sangat sibuk karena mengejar deadline. Bila perlu, pakailah earphone sehingga Anda tidak mendengar bila ada telepon berdering.
Jika keempat solusi di atas tetap tak dapat menghindarkan Anda dari membawa pekerjaan kantor ke rumah, mungkin memang ada waktunya Anda harus bekerja lembur di rumah. Gunakan trik di bawah ini:
� Bila anak terbiasa tidur larut malam karena waktu tidur siangnya panjang, usahakan agar di siang hari ia tidak tidur. Telepon ke rumah segera bila Anda tahu harus bekerja lembur di rumah, supaya pengasuh anak tidak menidurkannya pada siang hari. Dengan begitu, Anda dapat menemaninya tidur lebih dulu ketika malam tiba.
� Bila bayi Anda masih di bawah dua tahun, letakkan boksnya di dekat komputer, atau Anda yang membawa laptop mendekati boksnya.
� Untuk anak yang usianya lebih tua, biarkan ia bermain di dekat Anda sementara Anda bekerja. Berikan mainan yang membuatnya sibuk, misalnya mewarnai gambar. Sekali-sekali berikan pelukan atau ciuman agar ia tetap merasa aman. Semua usaha ini tentu saja dalam rangka supaya anak tidak merasa ibunya mengabaikan dia. Sebab, bagaimanapun, kedekatan fisik dan sentuhan itu sangat diperlukan oleh buah hati kita. Hannie Kusuma
Tolong beritahu kami apa pendapat Anda tentang artikel ini


Jika Anda tidak melihat kotak komentar silahkan refresh halaman