SITE STATUS
Jumlah Member :
280.926 member
user online :
3947 member
pageview's per day :
Over 100.000(!) page views
Kalkulator kesuburan
Masukan tanggal hari pertama bunda mengalami menstruasi

forum

Cari: kandungan dalam susu bebelac umur 2 tahunhtml

New Topic :  
07-02-2014 22:57:49 baby tengkurep
Jumlah Posts : 6
Jumlah di-Like : belum ada like
bunda maria saya kasih artikel tntng Hebatnya ASI. klo bisa babynya diksh ASIP klo bunda kerja dan klo ada fb ikut group AIMi Asosiasi ibu menyusui indonesia. bs dksh saran. Berikut adalah share dari tulisan seorang rekan ibu Afra Amalia tentang pengalamannya waktu riset antara Susu Formula Vs ASI. Agak panjang memang tulisannya, tapi isinya sangat menarik kok. Semoga bisa menjadikan inspirasi buat bunda2 sekalian, trims. Jadi inget, dulu pernah bikin riset ttg susu formula merek X, buatan Eropa di pertengahan tahun 2008. Interviewnya sama dokter-dokter anak di Indonesia, pas banget ketika saya sedang hamil. Ketika saya ikut serta dalam riset ini, saya belum kebayang sama sekali bakal kasih ASI sampai 22bulan, dan kasih homemade food ke Alika; anak saya, dan gak memberikan susu formula sama sekali. Boro-boro kebayang pumping ASI dan bawa-bawa pompa dan segambreng peralatan perang ASI lainnya, wong dulu tuh mikirnya pasti soal "merek susu apa ya yg bagus?" atau nanya ke orang-orang: "Merek susu apa ya yang bagus?". Sampai suatu hari Saya dapat kesempatan untuk bantu di project riset tentang susu formula merek ini. Fyi: ini adalah salah satu merek susu buatan Eropa yang terkenal di Indonesia. Dan sebelum fieldwork dimulai, saya seperti biasa melakukan brainstorming meeting bersama orang brand (Orang Swiss) dan orang R&D yg menjadi salah satu peracik formula susunya (Dokter asal New Zealand). Dari hasil brainstorming meeting ternyata diketahui bahwa alasan mereka membuat study pemasaran di Indonesia karena pangsa pasar susu formula di Indonesia itu sangat besar, termasuk dalam 5 besar di dunia. Sementara, di Eropa sendiri para produsen susu formula sangat susah buat jualan produk susu formula, karena pemerintahnya sangat galak dan sangat ketat dalam mengatur penjualan susu formula. Hal ini berbeda dengan pemerintah Indonesia yang belum galak dan masih "Pro" Susu formula. Belum lagi ditambah dengan adanya stigma dari orang Eropa mengenai susu formula yang dianggap "rubbish product" - karena terlalu banyaknya process dalam pembuatannya: dari cair ke bubuk dan terlalu banyak bahan kimia yang dibutuhkan dalam proses pengubahan bentuknya dan terlalu banyak fortifikasi yang artinya terlalu banyak bahan kimia di dalamnya. Makanya produk X ini mau meningkatkan penjualannya di Indonesia, karena memang lebih mudah dan lebih gampang : Ketika Saya mendengar cerita itu di meeting itu, Saya sebenarnya sudah agak shock dengan keterangan mereka, karena pemahaman saya mengenai susu formula "yang sangat sehat" ternyata salah. Namun memang, meski sudah mendengar penjelasan orang Brand dan R&D tersebut, penjelasan tersebut masih belum begitu bisamembuat hati saya tergerak untuk memberikan ASI pada calon Bayi Saya. Saya bahkan masih terpikir untuk tetap kasih formula.... Mungkin campur laah 50% ASI : 50% formula. Kan saya kerja..?? *alesan* Setelah selesai brainstorming meeting, saya iseng bertanya pada orang R&D yg meracik susu formula merek ini, karena beliau adalah Ibu dari 1 anak, dan anaknya berusia 3thn. Tujuannya seperti biasa, karena saya ingin cari referensi mengenai merek susu formula, soalnya dia kan dokter dan R&D susu formula. Jadi pastinya referensinya OK : Jadi langsung saja Saya tanya ke beliau, "Kalau Anda dulu kasih susu formula merek apa?" (dengan keyakinan, pasti dia akan bilang merek yang dia racik). Ternyata saya mendengar jawaban diluar harapan saya, karena dia bilang:"Saya tidak kasih susu formula sama sekali" *Saya bengong*. Lalu saya tanya lagi: "Terus dikasih apa? Susu UHT?" Dijawab sama beliau: "Tidak, saya baru kasih UHT ketika umur 2 tahun" *dan saya makin bingung dan shock* Saya tanya lagi: "Terus dari 0 - 2 tahun anak Anda dikasih apa?" Dia jawab sambil tersenyum: "Saya kasih ASI, karena susu formula itu nutrisinya itu tidak sebanding dengan ASI." Agak shock denger jawaban dari si ibu R&d itu. Apalagi pas denger dia bilang lagi:"Saya menyusui smp anak saya umur 24bln, setelah itu langsung saya kasih UHT. No formula at all!" *Dan saya pun menganga* Saya tanya lagi" seriously?" Dia jawab lagi: "Yup. Very serious". Dan semua orang mendorong saya untuk memberikan ASI. Jadi masa menyusui Saya menjadi lebih mudah" Tetapi tetep aja... Meski sudah denger pengakuan si Tetapi tetep aja... Meski sudah denger pengakuan si R&D itu... Saya masih agak tidak percaya dengan pengakuan dia, sampai pada akhirnya saya menginterview 5 dokter anak di Indonesia: 3 yang Pro ASI, dan 2 Yang Tidak Pro ASI. Hasilnya? Semua dokter anak yg diinterview itu mengakui hal yg sama: ASI is the best dan paling cocok dengan metabolisme bayi. Dan susu formula cuma bisa diserap 0,sekian persen oleh tubuh bayi. Bahkan 2 dari 3 dokter yg pro ASI kasih urutan gimana nutrisi diserap bayi dari bayi msh dlm kandungan sampai dia 2 thn: ketika bayi di kandungan: bayi akan menyerap semua nutrisi dari sari makanan (bukan susu ya) yg dikonsumsi ibunya. Dan nutrisi yang dibutuhkan oleh si Bayi ketika dalam kandungan itu cuma sedikit, gak perlu jumlah yang banyak, karena si janin itu kan juga ukurannya masih sangat kecil jika dibandingkan kebutuhan manusia biasa. Jadi even Susu hamil juga tidak perlu, karena kebutuhan kalcium/folat/AA/DHA/Kolin itu bisa didapat dari makanan yang dikonsumsi oleh si Ibu. Jadi, asal Ibu makan makanan yang sehat (sayur, ikan, telur, daging, buah) secukupnya, pasti kebutuhan nutrisi sang janin dan sang Ibu akan terpenuhi. Dan dokter kandungan biasanya sudah kasih vitamin dan supplement yang menunjang nutrisi sang janin. Jadi minum susu hamil sebenarnya malah bisa membuat Ibu obesitas karena kelebihan kalori (bukan nutrisi). Ketika bayi umur 0-6bln: Bayi cuma bisa menyerap ASI, karena ASI sangat sesuai dengan pencernaan bayi yang masih sangat rentan dan sangat sensitif, karena kandungan ASI yang sangat spesifik. Dan AA, DHA, AA, dsb yang di dalam ASI-lah yang cuma bisa diserap sempurna oleh otak Bayi . Sementara kandungan dalam susu formula secara umum cuma bisa diserap bayi 5-10%kl gak salah (lupa euy, udah lama bgt soalnya risetnya) CMIIW. Ketika bayi usia 6-12bln: Bayi menyerap 70%ASI, dan 30%nya adalah sari makanan. Oleh karena dari itu, buat Ibu-ibu yang anak-anaknya usia 6-12bulan, sebenarnya di masa ini tidak perlu terlalu khawatir kalau anaknya ketika di usia ini masih susah makan, karena di masa ini sebenarnya adalah masa untuk mulai mengajarkan anak dan mengenalkan anak makanan padat, bukan untuk memenuhi kebutuhan total nutrisi harian anak. Sementara susu formula? Cuma bisa diserap sekitar 15-20% (CMIIW). Ketika bayi usia 12 - 18bln: Bayi bisa menyerap ASI 50% dan sari makanan 50% Ketika bayi usia 18-24bln:Bayi menyerap ASI sebesar 30% dan sari makanan 70%, dan disini peran ASI lebih pada daya tahan/body immunity, karena di usia ini bayi sangat rentan terkena virus/bakteri karena sudah mulai lebih banyak memakan makanan padat dan mulai mengalami fase oral alias mulai memasukkan semua barang ke mulut
   


Jumlah Posts : 34
Jumlah di-Like : 1
KEBIASAAN hidup sehat sangat penting. Bisa dimulai dengan memerhatikan makanan dan minuman yang dikonsumsi anak-anak. Salah satunya: mengurangi asupan gula tambahan untuk si kecil! Selama ini orangtua kurang menyadari jika sebenarnya anaknya sudah mengonsumsi gula berlebih yang memang terdapat pada makanan dan minuman yang dikonsumsi.

Padahal WHO
telah merekomendasikan bahwa asupan gula tambahan tidak melebihi 10 persen dari total energi yang dikonsumsi untuk menghindari kelebihan energi dalam tubuh anak. Artinya, anak usia satu sampai tiga tahun tidak disarankan mengonsumsi lebih dari 25 gram gula tambahan/hari (setara lima sendok teh) dan untuk anak usia empat sampai enam tahun tidak melebihi 38 gram gula tambahan/hari (setara delapan sendok teh).
Catatan: satu sendok teh gula berkisar lima gram.

Jenis-jenis gula Gula merupakan zat gizi yang berfungsi menghasilkan sumber energi.

Jenis-jenis gula adalah gula pasir, gula merah, gula biang, dan pemanis buatan. Gula yang terdapat dalam tiap gram produk olahan berkisar 4 Kkal. Jenis gula dalam makanan yaitu gula alamiah seperti sukrosa, fruktosa, dan laktosa.
Yang kedua adalah gula tambahan (added sugar/free sugar) yaitu jenis gula yang ditambahkan dalam proses pembuatan makanan contohnya gula pasir dalam sirup, jus buah, dan tepung susu. Menurut WHO, free sugar dapat menyeimbangkan energi positif.

Dengan membatasi asupan free sugar akan menurunkan asupan energi dan menurunkan berat badan. Minuman yang tinggi kandungan free sugar akan meningkatkan asupan energi karena mengurangi kontrol nafsu makan. Sebaiknya mengkonsumsi free sugar 10 persen dari total energi yang dikonsumsi setiap hari. Penyumbang gula terbanyak: susu Menurut Dr. dr. Rini Sekartini, SpA (K), berdasarkan penelitian yang pernah dilakukannya terhadap 100 anak berusia 3-6 tahun, asupan gula harian (sukrosa, glukosa, fruktosa, dan laktosa) yang biasa diasup memberikan kontribusi lebih dari 10 persen terhadap total kalori. Hasil penelitian menyebutkan bahwa asupan gula terbanyak dikonsumsi anak-anak tersebut adalah sukrosa 49,45 gram - kebanyakan berasal dari konsumsi susu. Artinya, prosentasi ini sudah melebihi batas ambang yang direkomendasikan WHO.

Umumnya orangtua akan memberikan susu formula lanjutan pada anak-anak usia satu sampai tiga tahun yang sudah berhenti minum ASI. Nah, anak-anak sangat menyenangi rasa manis yang dipenuhi lewat asupan susu yang diminum secara rutin setiap hari. Untuk tetap menjaga kesehatan mereka, kandungan susu yang mengandung pemanis tambahan pun perlu dibatasi asupannya.

Contoh, jika anak mengonsumsi tiga gelas susu per hari, berarti ia telah mengonsumsi hingga 12 sendok teh gula tambahan setiap hari. Oleh sebab itu, sebelum memilih susu untuk si kecil, sebaiknya cermat dan cerdaslah membaca label kandungan gula dalam kemasan.

Baca komposisi (ingredients) dan informasi nilai gizi yang tercantum. Cermati jumlah total karbohidrat dan total gula tambahan dalam produk susu tersebut. Kandungan dalam susu sebaiknya tanpa gula tambahan, yang boleh ada hanya LAKTOSA (gula natural yang ada pada susu). “Orangtua harus mewaspadai asupan gula tambahan pada anak agar tidak berlebihan, bahkan tetap memelajari nilai gizi makanan dan minuman yang mereka anggap sehat sekalipun,” ujar Dokter spesialis tumbuh kembang anak ini. Anak bisa obesitas Jika gula tambahan dikonsumsi berlebih setiap hari, dampaknya akan menyebabkan kelebihan energi pada tubuh yang dapat menyebabkan obesitas, karies gigi, dan akan membangun kebiasaan pola makan yang kurang baik saat si kecil beranjak dewasa. Dokter spesialis anak endokrin FKUI, dr. Aman Bhakti Pulungan, SpA (K) mengatakan saat dikonsumsi, makanan dan minuman manis akan diserap dengan cepat ke dalam pembuluh darah, sehingga meningkatkan kadar hormon insulin.

Selanjutnya, hormon insulin ini akan bekerja menarik gula dan lemak dari darah untuk disimpan dalam jaringan sebagai persediaan di masa mendatang. Jika tidak seimbang, antara proses penyimpanan dengan pengeluaran energi akan menyebabkan kenaikan berat badan. Diabetes pun mengintai Yang lebih mengkhawatirkan, kelebihan asupan gula tambahan ini jika dibiarkan akan menyebabkan penyakit diabetes. Tidak hanya orang dewasa saja yang terkena, saat ini penyakit diabetes mulai mengintai anak-anak.

Berdasarkan kasus yang terdata, sudah ada bayi (neonatal) yang menderita diabetes tipe 1, kemudian banyak anak-anak usia 8 tahun yang terdeteksi menderita diabetes tipe 2. Di antara mereka, ada yang termasuk tipe double diabet yaitu tipe 2 menjadi tipe 1 (Insulin resistance) atau tipe 1 menjadi tipe 2. Sebelum anak didiagnosis menderita diabetes, biasanya didahului dengan intoleransi glukosa. Dapat dilakukan intervensi pola hidup sehat jika memang diketahui anak tersebut mengidap intoleransi glukosa dimana metabolisme gula terganggu, sehingga masih ada kesempatan untuk mengobati dan mencegah terjadinya diabetes.

Segeralah konsultasikan ke dokter atau ahli gizi. Dokter akan mengatur pola makannya dalam waktu 20 bulan, termasuk jumlah asupan gula yang dikonsumsi. “Perlu diingat kebutuhan nutrisi si kecil harus disesuaikan dengan tumbuh kembang dan aktivitas anak tersebut,” tambah dr Rini. Anak-anak tidak dianjurkan diet, tapi kembali ke pola konsumsi normal. Cara ini dapat menghindari terjadinya diabetes sampai 45,5 – 50 persen. Dan selama tidak mengganggu konsentrasi, anak-anak tetap harus sarapan. Tapi jika si kecil sudah terlanjur menderita diabetes, maka tidak akan dapat diintervensi. Lakukan screening Agar mengetahui apakah si kecil menderita diabetes atau tidak, sebaiknya lakukanlah screening.

Screening atau cek diabetes pada anak-anak boleh dilakukan kapan saja. Tapi jika ada gejala atau risiko atau keturunan dari keluarga yang memiliki riwayat diabetes, harus secepatnya dilakukan screening/cek diabetes. Tanda-tanda yang sering dijumpai pada penderita insulin resistance adalah pada bagian leher/tengkuk, ketiak, perut, dan tangan tampak hitam-hitam. dr Rini berpendapat screening juga bisa dilakukan pada usia anak 10 tahun. Tapi jika ditemukan gejala diabetes seperti di atas, maka screening dapat dilakukan sebelum usia 10 tahun. Sebaiknya lakukan screening setiap tiga bulan sekali. Tak ada salahnya mendeteksi dini sebelum ancaman diabetes datang, bukan?

Sumber: Mom&Kiddie
   
29-10-2010 15:07:39 alergi susu sapi
Jumlah Posts : 1516
Jumlah di-Like : 25
karena di umur 18 bln ini pola makannya udah lain ( tidak bubur /susu saja )tp sdh makan (buah ,ikan,sayur,nasi,daging.tempe )halus.
apakah sudah pas saya ganti susu HA nya, mengingat faktor alergi kan bukan dr susunya saja ( bisa dari makanan,lingkungan )?
sbb harga HA, lumayan GEDE dok..

Dari : pintul

Jawaban:

Dear Bunda pintul,

Alergi susu sapi biasanya akan menimbulkan gejala seperti gatal pada kulit ataupun diare. Apabila anak Bunda mengalami konstipasi, hal tersebut biasa disebabkan oleh susu sapi. Namun belum tentu anak Bunda alergi terhadap susu sapi. Alergi susu sapi biasanya akanmenghilang setelah anak berumur 4-5 tahun. Namun pada beberapa kasus menetap hingga dewasa. Apabila anak Anda dinyatakan alergi terhadap susu sapi, itu dimaksudkan alergi terhadap kandungan dalam susu sapi tersebut. Anda dapat mencoba memberikan susu sapi kepada anak Anda, dengan cara mengencerkan takaran susu tersebut. Apabila tidak ada reaksi alergi seperti kemerahan atau gatal pada kulit maupun diare, Anda dapat meneruskan pemberian susu sapi.
   


Jumlah Posts : 8
Jumlah di-Like : belum ada like

Alergi susu sapi biasanya akan menimbulkan gejala seperti gatal pada kulit ataupun diare. Apabila anak Bunda mengalami konstipasi, hal tersebut biasa disebabkan oleh susu sapi. Namun belum tentu anak Bunda alergi terhadap susu sapi. Alergi susu sapi biasanya akanmenghilang setelah anak berumur 4-5 tahun. Namun pada beberapa kasus menetap hingga dewasa. Apabila anak Anda dinyatakan alergi terhadap susu sapi, itu dimaksudkan alergi terhadap kandungan dalam susu sapi tersebut. Anda dapat mencoba memberikan susu sapi kepada anak Anda, dengan cara mengencerkan takaran susu tersebut. Apabila tidak ada reaksi alergi seperti kemerahan atau gatal pada kulit maupun diare, Anda dapat meneruskan pemberian susu sapi.

http://www.infobunda.com/dokter/659-Alergi-Susu-Sapi.html

   
17-01-2014 12:35:29 Tumbuh kembang balita
Jumlah Posts : 25
Jumlah di-Like : belum ada like
normal minum susu baby umur 2 bulan berapa sih ,baby ku 120 cc setiap 2 jam sekali .. dan berat nya naik 2kali lipat berat badan nya
   


17-01-2014 12:35:29 Tumbuh kembang balita
Jumlah Posts : 25
Jumlah di-Like : belum ada like
normal minum susu baby umur 2 bulan berapa sih ,baby ku 120 cc setiap 2 jam sekali .. dan berat nya naik 2kali lipat berat badan nya
   
Jumlah Posts : 235
Jumlah di-Like : 2
Oya Bund,,,

mau sharing nie :

SUSU HAMIL di TRIMESTER AWAL

aq sampe sekarang, usia kandungan 10 week
belum minum susu ibu hamil sama sekali...

kemaren waktu periksa aq juga belum tanya,, dah boleh minum susu ibu hamil belum...

cz,, aq pernah baca di forum IB
bahwa : di trimester awal,, usahakan jangan minum susu hamil dulu,,,
karena ada kandungan dalam susu hamil tersebut,, yang belum aman buat janin di trimester awal

kalo bunda-bunda disini,, gimana bund ???
   
Jumlah Posts : 9
Jumlah di-Like : 3
Syy ingin menanyakan manfaat antara susu UHT dgn susu formula. Spt yg
diketahui susu Formula bayi sampai usia 5 thn sgt byk beredar baik merek
maupun kandungan gizinya. Yg ingin sy tanyakan:

1. Mana lebih baik kandungan gizi susu UHT dgn susu Formula?
2. sy perhatikan di luar negri sana tdk banyak ibu yg menggunakan susu
formula sbg pengganti ASI, melainkan menggunakan susu UHT. Bgmn cara
pemberian susu UHT kepada bayi diatas 1 thn utk beralih dari ASI?
3. Setelah ASI eksklusif 6 bln, susu apa yg baik diberikan kpd bayi sbg
tambahan?
Terima Kasih atas jwbnnya.

Jawaban Prof. Dr. Ir. Made Astawan, MS:

Terima kasih atas pertanyaan Ibu Hany,

Secara alami susu segar telah mengandung semua zat gizi dalam jumlah dan
komposisi yang baik untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Sesuai dengan namanya,
susu formula adalah susu yang diformulasi dengan bahan-bahan lain, agar
memiliki komposisi seperti yang diinginkan. Itulah sebabnya, mengapa saat
ini di pasaran ditemui begitu banyak macam susu formula, masing-masing
dengan klaim dan iming-iming tertentu.

Bayi hingga usia 4-6 bulan sebaiknya memang mendapatkan ASI eksklusif Di
atas usia tersebut sudah saatnya untuk mendapatkan makanan pendamping ASI
(MP-ASI). Untuk sementara MP-ASI yang dipilihkan dapat berupa susu formula
khusus untuk bayi di atas 6 bulan. Bila nanti sudah berusia 9 bulan, bayi
ibu sudah bisa dilatih dengan susu UHT, tetapi harus diencerkan terlebih
dahulu dengan air. Apabila sudah berusia 12 bulan, susu UHT dapat diberikan
seutuhnya anak. Jumlah yang diberikan berkisar antara 2 - 3 gelas sehari (1
gelas = 250 ml)., sesuai kemampuan anak.

Susu UHT direkomendasikan untuk diberikan kepada anak usia di atas 12 bulan.
Dengan demikian putra Ibu sudah memenuhi kriteria tersebut. Budaya minum
susu UHT harus dipertahankan hingga usia balita, remaja, dewasa bahkan
lanjut usia. Karena melalui minum susu secara rutin, fisik anak akan tumbuh
secara optimum dan kuat, serta kesehatannya akan selalu terjaga prima
sehingga tidak mudah terserang berbagai penyakit.

Sejak dini harus diusahakan agar anak memiliki status gizi yang baik, yaitu
tidak kurang dan juga tidak lebih. Oleh karena itu, anak-anak harus
diusahakan memiliki status gizi yang baik melalui pola makan yang benar,
yaitu dengan menerapkan konsep menu seimbang. Menu seimbang artinya makanan
yang mengandung karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral, sesuai
dengan kebutuhan anak. Cara paling sederhana untuk memonitor status gizi
anak adalah dengan cara mengukur tinggi badan atau berat badan, serta
mencocokkannya dengan Tabel tinggi badan menurut umur atau Tabel berat badan
menurut umur. Tabel tersebut bisa dilihat di buku-buku tentang gizi atau
panduan rumah sakit.

Susu UHT (Ultra High Temperature) merupakan susu yang diolah dengan suhu
pemanasan sangat tinggi (135-145ºC) dalam waktu yang sangat singkat (2-5
detik). Pemanasan dengan suhu yang sangat tinggi bertujuan untuk membunuh
seluruh mikroorganisme, baik pembusuk maupun patogen (penyebab penyakit).
Waktu pemanasan yang sangat singkat dimaksudkan untuk mencegah kerusakan
nilai gizi susu, serta untuk mendapatkan warna, aroma dan rasa yang relatif
tidak berubah dibandingkan susu segarnya. Di dalam teknologi pangan, telah
diketahui bahwa pengolahan dengan suhu pemanasan yang tinggi tetapi dengan
waktu yang sangat singkat, lebih dapat menyelamatkan nilai gizi daripada
suhu pengolahan yang lebih rendah tetapi dengan waktu yang lebih
lama.Pengolahan susu cair segar menjadi susu UHT relatif lebih sedikit
pengaruhnya terhadap kerusakan zat-zat gizi, dibandingkan dengan pengolahan
susu bubuk.

Susu bubuk berasal susu segar yang kemudian dikeringkan, umumnya
menggunakan spray dryer atau roller dryer. Kerusakan protein sebesar 30%
dapat terjadi pada pengolahan susu cair menjadi susu bubuk. Kerusakan
vitamin dan mineral juga lebih banyak terjadi pada pengolahan susu bubuk.

Susu UHT dapat dijadikan sebagai pengganti susu bubuk. Dalam beberapa hal,
susu UHT lebih praktis diberikan kepada anak-anak, yaitu mudah dibawa, tidak
perlu waktu untuk menyiapkannya, serta awet disimpan pada suhu kamar selama
10 bulan meskipun tanpa bahan pengawet. Konsumsi susu penting untuk
meningkatkan sistem imunitas (kekebalan) tubuh terhadap berbagai penyakit.

Sesungguhnya susu cair dapat diandalkan sebagai bahan pangan sumber zat gizi
yang sangat baik. Itulah alasan utamanya mengapa konsumsi susu cair di
dunia selalu lebih tinggi dibandingkan susu bubuk. Hanya di Indonesia,
berlaku hal sebaliknya. Hal tersebut merupakan warisan masa lalu, khususnya
di zaman penjajahan yang lebih mudah untuk mendistribusikan susu bubuk
ketimbang susu cair. Kendala lain di masa lalu adalah keterbatasan
teknologi pengolahan susu dan keterbatasan lemari pendingin.

Selain itu keunggulan susu UHT dibandingkan yang lain adalah: (1) aman untuk
dikonsumsi, karena telah bebas dari mikroba pembusuk dan mikroba penyebab
penyakit, (2) memiliki warna, rasa dan penampakan yang mirip susu sapi
segar, (3) susu bersifat awet dan tanpa bahan pengawet, (4) sangat praktis
untuk dikonsumsi dan tidak membutuhkan lemari pendingin, (5) mengandung zat
gizi yang sangat bermanfaat bagi pemeliharaan kesehatan tubuh yang optimal.

Semoga ibu & keluarga tetap mengkonsumsi susu UHT untuk memperoleh manfaat
yang optimal...

http://hannyks.multiply.com/journal/item/3/Susu_UHT_vs_Susu_Formula
 
   
Jumlah Posts : 198
Jumlah di-Like : 10

MEMANTAU BERAT BADAN BAYI

Tumbuh kembang bayi dapat tercermin dari peningkatan berat badannya.

Ada banyak cara memantau kesehatan bayi. Tapi yang termudah dan terjelas adalah dengan mengukur kondisi fisiknya. Inilah yang dikenal dengan istilah pengukuran antropometri yang mencakup pengukuran berat badan, panjang (tinggi) badan, lingkar lengan, serta lingkar kepala.

Pembahasan kali ini diutamakan pada berat badan (BB) bayi yang kerap menjadi perhatian utama karena nyata terlihat. Namun, bukan berarti orangtua boleh mengabaikan tinggi (panjang) badan, lingkar lengan serta lingkar kepala lo. Ketiga komponen itu tetap harus mendapat perhatian karena juga dapat dijadikan sebagai tolok ukur kesehatan bayi.

Sajian rubrik Dunia Bayi minggu ini menyajikan kiat-kiat cara memantau berat badan bayi plus bagaimana menjaga agar BB si kecil bisa dalam standar ideal.

Selamat mambaca!

BB TURUN DULU LANTAS NAIK

Bila dicermati pada waktu 1-2 minggu setelah lahir, bobot bayi menyusut. Karena tubuhnya masih banyak mengandung air sebagai "oleh-oleh" dari dalam rahim. Dalam rentang waktu 1-2 minggu tersebut, cairan itu sedikit demi akan keluar melalui urine dan menurunkan bobot bayi secara otomatis. Tentu saja angka penurunannya tidak drastis. Dengan begitu, jika setelah 1-2 minggu kelahiran bayi, BB si kecil turun, itu merupakan hal alamiah. Jadi tak perlu terlalu dikhawatirkan.

Di minggu-minggu berikutnya, berat badan si kecil relatif meningkat, yakni sekitar 750-1.000 gram per bulannya. Setelah usia 3-6 bulan kenaikannya tidak sebesar itu, yaitu sekitar 500– 600 gram per bulan. Nah, di usia 6-9 bulan penambahan bobotnya semakin melambat, sekitar 350–450 gram per bulan. Begitu pula ketika si kecil berusia 9-12 bulan, penambahannya tak terlalu mencolok sekitar 150–250 gram per bulannya.

Ketika memasuki usia satu tahun, umumnya penambahan berat badan bayi mulai melambat lagi. Namun, bukan berarti terjadi penurunan. Beratnya tetap meningkat, hanya saja perlahan-lahan atau tidak sepesat sebelumnya. Yang jelas, orangtua tak perlu kaget atau khawatir. Itu artinya normal-normal saja. Toh, berbagai penelitian terhadap sejumlah bayi normal dari berbagai ras juga menunjukkan adanya penurunan berat badan di rentang usia 0-12 bulan.

KEBUTUHAN ENERGI & BERAT BADAN

Agar berat badan sang buah hati tetap mengalami peningkatan yang normal dan sesuai dengan pertambahan usianya, berikan ia asupan nutrisi yang adekuat dengan komposisi zat gizi yang seimbang. Maksudnya, makanan yang dikonsumsi hendaknya mengandung unsur karbohidrat, protein, lemak, serta vitamin-mineral yang cukup.

Patut diperhatikan bahwa tiap kelompok usia, kebutuhan energi anak berbeda-beda. Untuk bayi usia 0-6 bulan, kebutuhan energinya adalah 550 Kkal per hari. Sedangkan yang berusia 7-12 bulan, kebutuhan energinya adalah 650 Kkal. Tambahan lagi pada bayi, jenis makanan pun disesuaikan dengan kemampuannya saat itu. Contohnya, pada usia 0–6 bulan hanya minum ASI/susu formula, kemudian bertahap diberikan bentuk makanan yang lebih bertekstur mulai dari lembut hingga lebih kasar sesuai dengan kemampuan/toleransinya.

Bila berat badan bayi mengalami penurunan, apalagi bila tren tersebut terjadi dalam 1 bulan atau bahkan lebih (berarti lebih dari sekali pengukuran), harus dicari penyebabnya. Sebaiknya segera bawa buah hati Anda ke dokter untuk dievaluasi lebih lanjut, apakah jumlah minum/makannya sudah mencukupi kalorinya, ataukah ada penyebab-penyebab lainnya seperti penyakit-penyakit/kelainan-kelainan tertentu. Ada banyak kemungkinan penyebabnya, di antaranya adalah:

1. Pola makan dan asupan nutrisi yang tidak seimbang dan adekuat

2. Pengetahuan orangtua tentang nutrisi untuk anak/bayi yang kurang

3. Kelainan sistem organ dalam tubuh seperti:

- Sistem pencernaannya (seperti refluks gastrointestinal, diare kronik/melanjut, kelainan anatomis bawaan, dan lain-lain),

- Sistem hormonal (defisiensi hormon pertumbuhan, gangguan kelenjar tiroid/hipotiroid, diabetes, dan lain-lain),

- Sistem imunologi (defisiensi imunitas, AIDS/HIV, alergi berat terhadap makanan tertentu sehingga penyerapannya terganggu, penyakit autoantibodi, dan lain-lain),

- Kelainan jantung bawaan,

- Penyakit kronis seperti kecacingan, tuberkulosis, dan sebagainya.

MENGENAL KMS

Untuk memudahkan mengenali status gizi bayi--- menurut berat badan, jenis kelamin, serta usia----maka standar ideal digambarkan dalam bentuk kurva yang biasanya terdapat pada kartu atau buku pantau tumbuh-kembang bayi dari puskesmas atau rumah sakit. Dengan mengetahui ukuran ideal, orangtua diharapkan bisa mengetahui status kesehataan si kecil.

Saat ini ada dua kurva pertumbuhan yang digunakan yakni kurva yang terdapat dalam Kartu Menuju Sehat (KMS) hasil rancangan Departemen Kesehatan dan yang dikeluarkan oleh National Center for Health Statistics (NCHS)/Centers for Disease Control (CDC) yang berasal dari Amerika Serikat. Perbedaannya, kurva pertumbuhan pada KMS hanya mencantumkan berat badan dan umur. Sedangkan pada kurva NCHS mencantumkan berat badan, tinggi badan, umur dan jenis kelamin. Jadi kurva NCHS memang lebih praktis dan mudah dibaca. Sayangnya, NCHS mengacu pada pertumbuhan anak-anak di Amerika (ras kaukasia).

Dengan kurva tersebut, orangtua tinggal menyesuaikan antara usia, jenis kelamin dan berat untuk me-ngetahui, apakah berat badan bayinya masuk ke dalam kurva normal, kurang atau berlebih. Pemantauan proses tumbuh kembang bayi ini perlu dilakukan setiap bulan, sehingga bila terjadi penyimpangan dari garis atau pita normal dapat diketahui dengan segera dan dilakukan antisipasi yang tepat.

MEMBACA KURVA

Untuk membaca kurva berat badan bayi versi NCHS atau KMS sebenarnya mudah. Langkah pertama adalah me-ngetahui berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) atau usia (dalam bulan) si bayi. Kemudian dengan berpedoman pada komponen tersebut, cobalah untuk mencari titik temunya pada kurva yang tersedia. Patut diperhatikan bila menggunakan kurva NCHS, pilihlah kurva yang sesuai dengan jenis kelamin bayi Anda. Sebab, kurva ini dibedakan antara bayi laki-laki dan perempuan.

Cobalah cermati, apakah sudah sesuai dengan garis/pita standar (normal) yang tersedia (biasanya berwarna hitam), ataukah trennya malah cenderung menuju ke bawah (garis merah). Bila penambahan BB, TB dan usia bayi sesuai atau berada pada garis/pita standar, itu berarti tumbuh kembangnya normal. Nah, sebaiknya orangtua wajib waspada bila tren grafiknya cenderung menuju ke bawah (garis merah).

Fluktuasi memang mungkin terjadi, namun bila masih dalam rentang yang normal tidak apa-apa. Tapi, tetap dianjurkan untuk meningkatkan pertambahan BB/TB sesuai dengan standar usianya. BB yang turun bukan melulu ada gangguan. Faktor genetik juga menentukan pertum-buhan si kecil. Artinya, pertambahan berat juga dapat dilihat bagaimana riwayat BB keluarganya. Maksudnya, bila orangtua memang berperawakan kurus bisa jadi anaknya pun akan memiliki perawakan yang sama dengan orangtuanya.

Utami Sri Rahayu. Foto: Iman/nakita

PERTAMBAHAN BERAT BAYI, BENARKAH TURUN NAIK?

Semua bayi dari ras-ras yang ada di dunia mengalami penurunan pertambahan berat badan di bulan-bulan tertentu.

"Dok, kenapa, ya, pertambahan berat badan bayi saya naik-turun? Bulan kemarin naik 650 gram. Eh, bulan ini naiknya cuma 350 gram. Saya khawatir terjadi apa-apa pada bayi saya," kata seorang ibu saat berkonsultasi dengan dokter anak.

Menanggapi kecemasan ibu tersebut, dr. Hanifah Oswari, Sp.A., menegaskan para orang tua untuk tidak terlalu khawatir terhadap pertambahan BB bayi yang naik-turun. Umumnya dalam waktu 2 minggu setelah lahir, BB bayi akan mengalami penurunan setidaknya sekitar 10 persen. Sebelumnya sewaktu lahir, badan bayi masih banyak mengandung air sehingga timbangannya lebih berat. Nah, dalam 2 minggu pertama itulah cairan berangsur-angsur keluar melalui saluran urin. "Ini proses yang alamiah, kok. Kebanyakan bayi akan mengalami penurunan BB," kata dokter dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Senada dengan Hanifah, penelitian yang dilakukan oleh Judith Groner juga menunjukkan bahwa dalam jangka waktu 1-2 minggu setelah lahir BB bayi akan turun sekitar 10 persen. Meski begitu, umumnya BB si kecil akan kembali seperti waktu lahir dalam beberapa pekan kemudian. Demikian hasil penelitian yang diungkapkan oleh asosiasi profesor bidang penyakit anak pada Fakultas Kedokteran, Columbus University, Ohio, Amerika Serikat.

KISARAN BB NORMAL

Bobot bayi baru lahir yang dikategorikan normal berada pada rentang 2.500 ­ 4.000 gram. Setelah itu, pertambahan bobotnya tentu akan berbeda-beda; ada yang tinggi dan ada yang rendah. Umpamanya, ada bayi yang penambahan BB-nya 600 gram per bulan. Namun, ada juga yang bertambah hanya sekitar 350 gram per bulan.

Kepastian apakah BB bayi normal atau tidak bisa dilihat dari kurva Lubchenko. Biasanya kurva ini dicantumkan dalam kartu menuju sehat (KMS) atau buku pantau tumbuh-kembang bayi yang bisa didapat di puskemas atau rumah sakit. Menurut kurva Lubchenko, ada 3 parameter utama untuk mengetahui pertumbuhan seorang bayi, yaitu bertambahnya berat badan, tinggi badan, dan ukuran lingkar kepala.

Pertambahan BB yang dikategorikan normal dibagi menjadi beberapa tahapan. Pada triwulan pertama, pertambahan BB sekitar 150-250 gram per bulan. Pada triwulan kedua sekitar 500-600 gram per bulan, sedangkan pada triwulan ketiga mencapai 350-450 gram per bulan. Lalu, pada triwulan keempat pertambahan BB berkisar antara 250-350 gram per bulan. Dari patokan di atas terlihat kalau dalam 3 bulan pertama setelah lahir, pertambahan BB berlangsung biasa-biasa saja. Kemudian, pada usia 3-6 bulan pertambahan BB terkesan melesat, dan mulai melambat saat usia di atas 6 bulan.

Yang ditekankan Hanifah, meski kenaikan BB-nya melambat, pertumbuhan anak sebenarnya berlangsung normal. Toh, sebenarnya bobot tersebut tetap mengalami penambahan walaupun lebih kecil ketimbang di bulan-bulan sebelumnya. Jadi, orang tua tak perlu khawatir. Memang, "Tak diketahui secara pasti kenapa pertambahan BB bayi menurun. Yang pasti, penelitian yang dilakukan terhadap sejumlah bayi normal dari berbagai ras juga menunjukkan hal yang sama," ujarnya.

Secara garis besar, saat menginjak usia 6 bulan, rata-rata BB bayi sudah mencapai 2 kali lipat BB lahirnya. Sedangkan di usia 1 tahun BB ini sudah mencapai 3 kali lipat berat lahir. Nah, selepas usia 1 tahun, pertambahan BB mulai melambat lagi. "Hal itu memang berlangsung secara alamiah dan normal. Tak usah terlalu dipusingkan kenapa kenaikan BB yang tadinya tinggi tiba-tiba menurun. Bagaimanapun, angka-angka itu sangat bersifat individual. Tiap anak berbeda-beda tak usah dibandingkan dengan bayi yang lain," tutur Hanifah.

BB TIDAK NORMAL

Dugaan bahwa ada yang tidak beres pada pertumbuhan si kecil pantas muncul bila grafik BB pada kurva terlihat menurun drastis. Apalagi jika nafsu makannya (termasuk keinginan untuk menyusu) juga terlihat menurun. Nah, untuk mendeteksi ketidaknormalan itu, Hanifah sekali lagi menekankan pentingnya mengamati data-data yang tercatat pada kurva Lubchenko. Jangan-jangan si kecil terserang penyakit.

Sebuah studi menunjukkan adanya keterkaitan antara perubahan BB dengan kondisi pertumbuhan anak. Jika BB tak bertambah sesuai dengan grafik normal maka kemungkinan anak tengah mengalami gangguan pertumbuhan. Nah, jika dalam 2 bulan berturut-turut si kecil tidak mengalami pertambahan berat atau malah turun secara drastis, waspadai kemungkinan adanya gangguan. Masalahnya, pada usia 0-2 tahun, sekitar 80 persen jaringan otak sedang terbentuk. Segeralah berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui dan memastikan kondisi si kecil.

Gangguan pertumbuhan ini bisa terjadi dalam waktu singkat maupun jangka panjang. Merosotnya BB dalam waktu singkat bisa disebabkan oleh menurunnya nafsu makan, penyakit, atau kurangnya asupan makanan pada bayi. Sedangkan, penurunan BB sedikit demi sedikit dalam rentang waktu yang tidak sebentar biasanya dipicu oleh kelainan gagal tumbuh. Gagal tumbuh merupakan ketidakmampuan bayi/anak untuk mencapai BB atau TB sesuai jalur pertumbuhan yang normal. Penyakit infeksi juga dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pertumbuhan pada anak.

PENTINGNYA GIZI

ASI, seperti ditandaskan dr. Rachmi Untoro, MPH, berperan besar pada pertambahan BB bayi. Penelitian membuktikan bayi yang mengonsumsi ASI pada 2 bulan pertama semenjak lahir, mengalami pertambahan BB yang lebih cepat ketimbang bayi yang mengonsumsi susu formula. 

Meski belum ada studi yang dapat menjawab dengan pasti mengapa dengan minum ASI pertambahan BB berlangsung lebih cepat, tapi riset menunjukkan anak yang minum ASI menghabiskan energi lebih sedikit dibandingkan anak yang minum susu formula. Itulah mungkin yang menjadi penyebab bobotnya cepat bertambah. Selain itu, dengan minum ASI bayi pada dasarnya akan lebih cepat lapar dan haus. Plus, tentu saja, ASI mengandung zat-zat terbaik untuk bayi.

Rachmi juga berpendapat kalau pertumbuhan bayi tidak bisa dilihat hanya berdasarkan perubahan BB dan PB-nya saja. Namun juga, perlu diperhatikan keseimbangan antara asupan dan kebutuhan gizinya. Jika keadaan gizi anak baik, barulah dapat dikatakan pertumbuhannya normal. Bukankah jika gizinya tak seimbang, pertumbuhan anak akan terganggu, seperti menjadi kurus, terlalu gemuk, atau pendek.

Kecukupan gizi sebenarnya sudah diperlukan bayi sejak di kandungan. Ibu hamil yang kurang menyantap makanan bergizi kemungkinan besar nantinya memiliki bayi dengan BB rendah dan sakit-sakitan. "Beberapa penelitian menunjukkan, bayi yang tak mendapat gizi cukup ketika masih dalam kandungan berisiko tinggi menderita penyakit degeneratif," papar Direktur Gizi Masyarakat Departemen Kesehatan ini. Contohnya, hipertensi, penyakit jantung, diabetes, dan gagal ginjal.

KATEGORI KURUS-GEMUK

Ada yang menyebutkan, bayi baru lahir dikatakan gemuk jika BB-nya mencapai lebih dari 3.500 gram. Atau sebaliknya, bayi yang lahir dengan BB 2.500 gram adalah kurus. Padahal kurus-gemuknya bayi tak bisa dilihat secara hitam putih seperti itu karena masing-masing menjalani proses tumbuh-kembang yang khas.

Kalaupun si kecil telihat gemuk atau kurus, tinggal dilihat saja apakah bobot tersebut masih sejalan dengan kurva pertambahan tinggi badan dan ukuran lingkar kepala yang normal. "Apakah bayi itu kurus atau gemuk tak cukup dilihat berdasarkan berat badannya, tapi bandingkan pula dengan pertumbuhan panjang badan setiap bulannya melalui kurva Lubchenko."

Untuk menyebut apakah anak kurus atau gemuk juga harus dengan melihat bagaimana riwayat berat badan keluarganya. Alasannya, faktor genetik juga menentukan pertumbuhan anak. Ada anak yang pertambahan BB-nya lambat tapi diiringi pertambahan tinggi badan yang cepat. Jadilah ia si kurus. Sebaliknya, ada anak yang pertambahan BB-nya cepat tapi pertambahan tinggi badannya lambat, maka ia disebut sebagai si gendut. Artinya, ada faktor X yang ikut mempengaruhi apakah si anak kelak tergolong gemuk atau kurus yaitu faktor genetik.

Yang perlu diketahui, lanjut Hanifah, di bawah usia 2 tahun, bayi atau anak yang gemuk belum bisa dibilang kegemukan. Gemuk dalam persepsi orang dewasa adalah kelebihan simpanan lemak. Lemak ini sebenarnya berfungsi sebagai cadangan energi. Jadi, kalaupun lemak si bayi tampak berlebih, bukan berarti ia menderita obesitas. Lantaran itulah, walaupun si bayi terlihat sangat gemuk, orang tua tak perlu mengurangi asupan makanannya. Contohnya, bayi yang lahir di atas 3.500 gram tidak bisa dikatakan gemuk karena itu baru BB awalnya.

Pengecualian bisa dilakukan bila memang orang tua memiliki riwayat obesitas. Kemungkinan besar, bayi bisa mengalami hal yang sama. Kalau sudah begini, porsi makan si kecil perlu diperhatikan. Namun, penyebab obesitas tak melulu faktor genetik. Bayi yang kurang aktif bergerak juga bisa mengalami kegemukan. Apalagi bila ia selalu makan terlalu banyak. Akibatnya, sel-sel lemaknya berkembang terlalu pesat sehingga mempercepat pembentukan lemak pada tubuhnya.

PERTAMBAHAN BB BAYI PREMATUR

Bagaimana dengan berat badan bayi prematur? Apakah pertambahannya akan lebih sedikit dibandingkan anak seusianya yang lahir cukup bulan? Biasanya, lanjut Hanifah, perlu waktu beberapa tahun agar pertambahan BB anak prematur berlangsung normal. "Karena ia dilahirkan lebih cepat, anak prematur perlu waktu untuk mengejar berat atau tinggi badan anak seusianya."

Riset menunjukkan pada usia 8 tahun anak prematur rata-rata akan mampu mengejar ketertinggalan pertambahan berat dan tingginya. Namun, hasil riset memaparkan anak prematur yang lahir saat usia kehamilan belum genap 32 minggu akan tetap memiliki bobot maupun tinggi badan yang lebih kecil dibanding teman seusianya yang lahir dengan cukup bulan. 

   
Jumlah Posts : 198
Jumlah di-Like : 10

MEMANTAU BERAT BADAN BAYI

Tumbuh kembang bayi dapat tercermin dari peningkatan berat badannya.

Ada banyak cara memantau kesehatan bayi. Tapi yang termudah dan terjelas adalah dengan mengukur kondisi fisiknya. Inilah yang dikenal dengan istilah pengukuran antropometri yang mencakup pengukuran berat badan, panjang (tinggi) badan, lingkar lengan, serta lingkar kepala.

Pembahasan kali ini diutamakan pada berat badan (BB) bayi yang kerap menjadi perhatian utama karena nyata terlihat. Namun, bukan berarti orangtua boleh mengabaikan tinggi (panjang) badan, lingkar lengan serta lingkar kepala lo. Ketiga komponen itu tetap harus mendapat perhatian karena juga dapat dijadikan sebagai tolok ukur kesehatan bayi.

Sajian rubrik Dunia Bayi minggu ini menyajikan kiat-kiat cara memantau berat badan bayi plus bagaimana menjaga agar BB si kecil bisa dalam standar ideal.

Selamat mambaca!

BB TURUN DULU LANTAS NAIK

Bila dicermati pada waktu 1-2 minggu setelah lahir, bobot bayi menyusut. Karena tubuhnya masih banyak mengandung air sebagai "oleh-oleh" dari dalam rahim. Dalam rentang waktu 1-2 minggu tersebut, cairan itu sedikit demi akan keluar melalui urine dan menurunkan bobot bayi secara otomatis. Tentu saja angka penurunannya tidak drastis. Dengan begitu, jika setelah 1-2 minggu kelahiran bayi, BB si kecil turun, itu merupakan hal alamiah. Jadi tak perlu terlalu dikhawatirkan.

Di minggu-minggu berikutnya, berat badan si kecil relatif meningkat, yakni sekitar 750-1.000 gram per bulannya. Setelah usia 3-6 bulan kenaikannya tidak sebesar itu, yaitu sekitar 500– 600 gram per bulan. Nah, di usia 6-9 bulan penambahan bobotnya semakin melambat, sekitar 350–450 gram per bulan. Begitu pula ketika si kecil berusia 9-12 bulan, penambahannya tak terlalu mencolok sekitar 150–250 gram per bulannya.

Ketika memasuki usia satu tahun, umumnya penambahan berat badan bayi mulai melambat lagi. Namun, bukan berarti terjadi penurunan. Beratnya tetap meningkat, hanya saja perlahan-lahan atau tidak sepesat sebelumnya. Yang jelas, orangtua tak perlu kaget atau khawatir. Itu artinya normal-normal saja. Toh, berbagai penelitian terhadap sejumlah bayi normal dari berbagai ras juga menunjukkan adanya penurunan berat badan di rentang usia 0-12 bulan.

KEBUTUHAN ENERGI & BERAT BADAN

Agar berat badan sang buah hati tetap mengalami peningkatan yang normal dan sesuai dengan pertambahan usianya, berikan ia asupan nutrisi yang adekuat dengan komposisi zat gizi yang seimbang. Maksudnya, makanan yang dikonsumsi hendaknya mengandung unsur karbohidrat, protein, lemak, serta vitamin-mineral yang cukup.

Patut diperhatikan bahwa tiap kelompok usia, kebutuhan energi anak berbeda-beda. Untuk bayi usia 0-6 bulan, kebutuhan energinya adalah 550 Kkal per hari. Sedangkan yang berusia 7-12 bulan, kebutuhan energinya adalah 650 Kkal. Tambahan lagi pada bayi, jenis makanan pun disesuaikan dengan kemampuannya saat itu. Contohnya, pada usia 0–6 bulan hanya minum ASI/susu formula, kemudian bertahap diberikan bentuk makanan yang lebih bertekstur mulai dari lembut hingga lebih kasar sesuai dengan kemampuan/toleransinya.

Bila berat badan bayi mengalami penurunan, apalagi bila tren tersebut terjadi dalam 1 bulan atau bahkan lebih (berarti lebih dari sekali pengukuran), harus dicari penyebabnya. Sebaiknya segera bawa buah hati Anda ke dokter untuk dievaluasi lebih lanjut, apakah jumlah minum/makannya sudah mencukupi kalorinya, ataukah ada penyebab-penyebab lainnya seperti penyakit-penyakit/kelainan-kelainan tertentu. Ada banyak kemungkinan penyebabnya, di antaranya adalah:

1. Pola makan dan asupan nutrisi yang tidak seimbang dan adekuat

2. Pengetahuan orangtua tentang nutrisi untuk anak/bayi yang kurang

3. Kelainan sistem organ dalam tubuh seperti:

- Sistem pencernaannya (seperti refluks gastrointestinal, diare kronik/melanjut, kelainan anatomis bawaan, dan lain-lain),

- Sistem hormonal (defisiensi hormon pertumbuhan, gangguan kelenjar tiroid/hipotiroid, diabetes, dan lain-lain),

- Sistem imunologi (defisiensi imunitas, AIDS/HIV, alergi berat terhadap makanan tertentu sehingga penyerapannya terganggu, penyakit autoantibodi, dan lain-lain),

- Kelainan jantung bawaan,

- Penyakit kronis seperti kecacingan, tuberkulosis, dan sebagainya.

MENGENAL KMS

Untuk memudahkan mengenali status gizi bayi--- menurut berat badan, jenis kelamin, serta usia----maka standar ideal digambarkan dalam bentuk kurva yang biasanya terdapat pada kartu atau buku pantau tumbuh-kembang bayi dari puskesmas atau rumah sakit. Dengan mengetahui ukuran ideal, orangtua diharapkan bisa mengetahui status kesehataan si kecil.

Saat ini ada dua kurva pertumbuhan yang digunakan yakni kurva yang terdapat dalam Kartu Menuju Sehat (KMS) hasil rancangan Departemen Kesehatan dan yang dikeluarkan oleh National Center for Health Statistics (NCHS)/Centers for Disease Control (CDC) yang berasal dari Amerika Serikat. Perbedaannya, kurva pertumbuhan pada KMS hanya mencantumkan berat badan dan umur. Sedangkan pada kurva NCHS mencantumkan berat badan, tinggi badan, umur dan jenis kelamin. Jadi kurva NCHS memang lebih praktis dan mudah dibaca. Sayangnya, NCHS mengacu pada pertumbuhan anak-anak di Amerika (ras kaukasia).

Dengan kurva tersebut, orangtua tinggal menyesuaikan antara usia, jenis kelamin dan berat untuk me-ngetahui, apakah berat badan bayinya masuk ke dalam kurva normal, kurang atau berlebih. Pemantauan proses tumbuh kembang bayi ini perlu dilakukan setiap bulan, sehingga bila terjadi penyimpangan dari garis atau pita normal dapat diketahui dengan segera dan dilakukan antisipasi yang tepat.

MEMBACA KURVA

Untuk membaca kurva berat badan bayi versi NCHS atau KMS sebenarnya mudah. Langkah pertama adalah me-ngetahui berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) atau usia (dalam bulan) si bayi. Kemudian dengan berpedoman pada komponen tersebut, cobalah untuk mencari titik temunya pada kurva yang tersedia. Patut diperhatikan bila menggunakan kurva NCHS, pilihlah kurva yang sesuai dengan jenis kelamin bayi Anda. Sebab, kurva ini dibedakan antara bayi laki-laki dan perempuan.

Cobalah cermati, apakah sudah sesuai dengan garis/pita standar (normal) yang tersedia (biasanya berwarna hitam), ataukah trennya malah cenderung menuju ke bawah (garis merah). Bila penambahan BB, TB dan usia bayi sesuai atau berada pada garis/pita standar, itu berarti tumbuh kembangnya normal. Nah, sebaiknya orangtua wajib waspada bila tren grafiknya cenderung menuju ke bawah (garis merah).

Fluktuasi memang mungkin terjadi, namun bila masih dalam rentang yang normal tidak apa-apa. Tapi, tetap dianjurkan untuk meningkatkan pertambahan BB/TB sesuai dengan standar usianya. BB yang turun bukan melulu ada gangguan. Faktor genetik juga menentukan pertum-buhan si kecil. Artinya, pertambahan berat juga dapat dilihat bagaimana riwayat BB keluarganya. Maksudnya, bila orangtua memang berperawakan kurus bisa jadi anaknya pun akan memiliki perawakan yang sama dengan orangtuanya.

Utami Sri Rahayu. Foto: Iman/nakita

PERTAMBAHAN BERAT BAYI, BENARKAH TURUN NAIK?

Semua bayi dari ras-ras yang ada di dunia mengalami penurunan pertambahan berat badan di bulan-bulan tertentu.

"Dok, kenapa, ya, pertambahan berat badan bayi saya naik-turun? Bulan kemarin naik 650 gram. Eh, bulan ini naiknya cuma 350 gram. Saya khawatir terjadi apa-apa pada bayi saya," kata seorang ibu saat berkonsultasi dengan dokter anak.

Menanggapi kecemasan ibu tersebut, dr. Hanifah Oswari, Sp.A., menegaskan para orang tua untuk tidak terlalu khawatir terhadap pertambahan BB bayi yang naik-turun. Umumnya dalam waktu 2 minggu setelah lahir, BB bayi akan mengalami penurunan setidaknya sekitar 10 persen. Sebelumnya sewaktu lahir, badan bayi masih banyak mengandung air sehingga timbangannya lebih berat. Nah, dalam 2 minggu pertama itulah cairan berangsur-angsur keluar melalui saluran urin. "Ini proses yang alamiah, kok. Kebanyakan bayi akan mengalami penurunan BB," kata dokter dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Senada dengan Hanifah, penelitian yang dilakukan oleh Judith Groner juga menunjukkan bahwa dalam jangka waktu 1-2 minggu setelah lahir BB bayi akan turun sekitar 10 persen. Meski begitu, umumnya BB si kecil akan kembali seperti waktu lahir dalam beberapa pekan kemudian. Demikian hasil penelitian yang diungkapkan oleh asosiasi profesor bidang penyakit anak pada Fakultas Kedokteran, Columbus University, Ohio, Amerika Serikat.

KISARAN BB NORMAL

Bobot bayi baru lahir yang dikategorikan normal berada pada rentang 2.500 ­ 4.000 gram. Setelah itu, pertambahan bobotnya tentu akan berbeda-beda; ada yang tinggi dan ada yang rendah. Umpamanya, ada bayi yang penambahan BB-nya 600 gram per bulan. Namun, ada juga yang bertambah hanya sekitar 350 gram per bulan.

Kepastian apakah BB bayi normal atau tidak bisa dilihat dari kurva Lubchenko. Biasanya kurva ini dicantumkan dalam kartu menuju sehat (KMS) atau buku pantau tumbuh-kembang bayi yang bisa didapat di puskemas atau rumah sakit. Menurut kurva Lubchenko, ada 3 parameter utama untuk mengetahui pertumbuhan seorang bayi, yaitu bertambahnya berat badan, tinggi badan, dan ukuran lingkar kepala.

Pertambahan BB yang dikategorikan normal dibagi menjadi beberapa tahapan. Pada triwulan pertama, pertambahan BB sekitar 150-250 gram per bulan. Pada triwulan kedua sekitar 500-600 gram per bulan, sedangkan pada triwulan ketiga mencapai 350-450 gram per bulan. Lalu, pada triwulan keempat pertambahan BB berkisar antara 250-350 gram per bulan. Dari patokan di atas terlihat kalau dalam 3 bulan pertama setelah lahir, pertambahan BB berlangsung biasa-biasa saja. Kemudian, pada usia 3-6 bulan pertambahan BB terkesan melesat, dan mulai melambat saat usia di atas 6 bulan.

Yang ditekankan Hanifah, meski kenaikan BB-nya melambat, pertumbuhan anak sebenarnya berlangsung normal. Toh, sebenarnya bobot tersebut tetap mengalami penambahan walaupun lebih kecil ketimbang di bulan-bulan sebelumnya. Jadi, orang tua tak perlu khawatir. Memang, "Tak diketahui secara pasti kenapa pertambahan BB bayi menurun. Yang pasti, penelitian yang dilakukan terhadap sejumlah bayi normal dari berbagai ras juga menunjukkan hal yang sama," ujarnya.

Secara garis besar, saat menginjak usia 6 bulan, rata-rata BB bayi sudah mencapai 2 kali lipat BB lahirnya. Sedangkan di usia 1 tahun BB ini sudah mencapai 3 kali lipat berat lahir. Nah, selepas usia 1 tahun, pertambahan BB mulai melambat lagi. "Hal itu memang berlangsung secara alamiah dan normal. Tak usah terlalu dipusingkan kenapa kenaikan BB yang tadinya tinggi tiba-tiba menurun. Bagaimanapun, angka-angka itu sangat bersifat individual. Tiap anak berbeda-beda tak usah dibandingkan dengan bayi yang lain," tutur Hanifah.

BB TIDAK NORMAL

Dugaan bahwa ada yang tidak beres pada pertumbuhan si kecil pantas muncul bila grafik BB pada kurva terlihat menurun drastis. Apalagi jika nafsu makannya (termasuk keinginan untuk menyusu) juga terlihat menurun. Nah, untuk mendeteksi ketidaknormalan itu, Hanifah sekali lagi menekankan pentingnya mengamati data-data yang tercatat pada kurva Lubchenko. Jangan-jangan si kecil terserang penyakit.

Sebuah studi menunjukkan adanya keterkaitan antara perubahan BB dengan kondisi pertumbuhan anak. Jika BB tak bertambah sesuai dengan grafik normal maka kemungkinan anak tengah mengalami gangguan pertumbuhan. Nah, jika dalam 2 bulan berturut-turut si kecil tidak mengalami pertambahan berat atau malah turun secara drastis, waspadai kemungkinan adanya gangguan. Masalahnya, pada usia 0-2 tahun, sekitar 80 persen jaringan otak sedang terbentuk. Segeralah berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui dan memastikan kondisi si kecil.

Gangguan pertumbuhan ini bisa terjadi dalam waktu singkat maupun jangka panjang. Merosotnya BB dalam waktu singkat bisa disebabkan oleh menurunnya nafsu makan, penyakit, atau kurangnya asupan makanan pada bayi. Sedangkan, penurunan BB sedikit demi sedikit dalam rentang waktu yang tidak sebentar biasanya dipicu oleh kelainan gagal tumbuh. Gagal tumbuh merupakan ketidakmampuan bayi/anak untuk mencapai BB atau TB sesuai jalur pertumbuhan yang normal. Penyakit infeksi juga dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pertumbuhan pada anak.

PENTINGNYA GIZI

ASI, seperti ditandaskan dr. Rachmi Untoro, MPH, berperan besar pada pertambahan BB bayi. Penelitian membuktikan bayi yang mengonsumsi ASI pada 2 bulan pertama semenjak lahir, mengalami pertambahan BB yang lebih cepat ketimbang bayi yang mengonsumsi susu formula. 

Meski belum ada studi yang dapat menjawab dengan pasti mengapa dengan minum ASI pertambahan BB berlangsung lebih cepat, tapi riset menunjukkan anak yang minum ASI menghabiskan energi lebih sedikit dibandingkan anak yang minum susu formula. Itulah mungkin yang menjadi penyebab bobotnya cepat bertambah. Selain itu, dengan minum ASI bayi pada dasarnya akan lebih cepat lapar dan haus. Plus, tentu saja, ASI mengandung zat-zat terbaik untuk bayi.

Rachmi juga berpendapat kalau pertumbuhan bayi tidak bisa dilihat hanya berdasarkan perubahan BB dan PB-nya saja. Namun juga, perlu diperhatikan keseimbangan antara asupan dan kebutuhan gizinya. Jika keadaan gizi anak baik, barulah dapat dikatakan pertumbuhannya normal. Bukankah jika gizinya tak seimbang, pertumbuhan anak akan terganggu, seperti menjadi kurus, terlalu gemuk, atau pendek.

Kecukupan gizi sebenarnya sudah diperlukan bayi sejak di kandungan. Ibu hamil yang kurang menyantap makanan bergizi kemungkinan besar nantinya memiliki bayi dengan BB rendah dan sakit-sakitan. "Beberapa penelitian menunjukkan, bayi yang tak mendapat gizi cukup ketika masih dalam kandungan berisiko tinggi menderita penyakit degeneratif," papar Direktur Gizi Masyarakat Departemen Kesehatan ini. Contohnya, hipertensi, penyakit jantung, diabetes, dan gagal ginjal.

KATEGORI KURUS-GEMUK

Ada yang menyebutkan, bayi baru lahir dikatakan gemuk jika BB-nya mencapai lebih dari 3.500 gram. Atau sebaliknya, bayi yang lahir dengan BB 2.500 gram adalah kurus. Padahal kurus-gemuknya bayi tak bisa dilihat secara hitam putih seperti itu karena masing-masing menjalani proses tumbuh-kembang yang khas.

Kalaupun si kecil telihat gemuk atau kurus, tinggal dilihat saja apakah bobot tersebut masih sejalan dengan kurva pertambahan tinggi badan dan ukuran lingkar kepala yang normal. "Apakah bayi itu kurus atau gemuk tak cukup dilihat berdasarkan berat badannya, tapi bandingkan pula dengan pertumbuhan panjang badan setiap bulannya melalui kurva Lubchenko."

Untuk menyebut apakah anak kurus atau gemuk juga harus dengan melihat bagaimana riwayat berat badan keluarganya. Alasannya, faktor genetik juga menentukan pertumbuhan anak. Ada anak yang pertambahan BB-nya lambat tapi diiringi pertambahan tinggi badan yang cepat. Jadilah ia si kurus. Sebaliknya, ada anak yang pertambahan BB-nya cepat tapi pertambahan tinggi badannya lambat, maka ia disebut sebagai si gendut. Artinya, ada faktor X yang ikut mempengaruhi apakah si anak kelak tergolong gemuk atau kurus yaitu faktor genetik.

Yang perlu diketahui, lanjut Hanifah, di bawah usia 2 tahun, bayi atau anak yang gemuk belum bisa dibilang kegemukan. Gemuk dalam persepsi orang dewasa adalah kelebihan simpanan lemak. Lemak ini sebenarnya berfungsi sebagai cadangan energi. Jadi, kalaupun lemak si bayi tampak berlebih, bukan berarti ia menderita obesitas. Lantaran itulah, walaupun si bayi terlihat sangat gemuk, orang tua tak perlu mengurangi asupan makanannya. Contohnya, bayi yang lahir di atas 3.500 gram tidak bisa dikatakan gemuk karena itu baru BB awalnya.

Pengecualian bisa dilakukan bila memang orang tua memiliki riwayat obesitas. Kemungkinan besar, bayi bisa mengalami hal yang sama. Kalau sudah begini, porsi makan si kecil perlu diperhatikan. Namun, penyebab obesitas tak melulu faktor genetik. Bayi yang kurang aktif bergerak juga bisa mengalami kegemukan. Apalagi bila ia selalu makan terlalu banyak. Akibatnya, sel-sel lemaknya berkembang terlalu pesat sehingga mempercepat pembentukan lemak pada tubuhnya.

PERTAMBAHAN BB BAYI PREMATUR

Bagaimana dengan berat badan bayi prematur? Apakah pertambahannya akan lebih sedikit dibandingkan anak seusianya yang lahir cukup bulan? Biasanya, lanjut Hanifah, perlu waktu beberapa tahun agar pertambahan BB anak prematur berlangsung normal. "Karena ia dilahirkan lebih cepat, anak prematur perlu waktu untuk mengejar berat atau tinggi badan anak seusianya."

Riset menunjukkan pada usia 8 tahun anak prematur rata-rata akan mampu mengejar ketertinggalan pertambahan berat dan tingginya. Namun, hasil riset memaparkan anak prematur yang lahir saat usia kehamilan belum genap 32 minggu akan tetap memiliki bobot maupun tinggi badan yang lebih kecil dibanding teman seusianya yang lahir dengan cukup bulan. 

   
Jumlah Posts : 2
Jumlah di-Like : belum ada like
hai moms.. saya cuma mau kasih info nih kenapa bayi ga boleh dikasih makan kalo dibawah 6 bulan Diambil dari milis motherandchild (Dirangkum & ditulis bebas oleh Luluk Lely Soraya I, 26 March 2005) Banyak sekali pertanyaan dan kritik yang timbul mengenai pemberian MP-ASI (Makanan Pendamping ASI) di usia kurang dari 6 bulan. Bahkan banyak dari kita tidak pernah tahu mengapa WHO & IDAI mengeluarkan statement bahwa ASI eksklusif (ASI saja tanpa tambahan apapun bahkan air putih sekalipun) diberikan pada 6 bulan pertama kehidupan seorag anak. Kemudian setelah umur 6 bulan anak baru mulai mendapatkan MPASI berupa bubur susu, nasi tim, buah, dsb. Alasan menunda pemberian MPASI Mengapa harus menunda memberikan MPASI pada anak sampai ia berumur 6 bulan?! Kalo jaman dulu (baca : sebelum diberlakukan ASI eksklusif 6 bulan) umur 4 bulan aja dikasih makan bahkan ada yg umur 1 bulan. Dan banyak yang berpendapat gak ada masalah apa-apa tuh dengan anaknya. Satu hal yg perlu diketahui bersama bahwa jaman terus berubah. Demikian juga dengan ilmu & teknologi. Ilmu medis juga terus berkembang dan berubah berdasarkan riset2 yg terus dilakukan oleh para peneliti. Sekitar lebih dari 5tahun yang lalu, MP-ASI disarankan diperkenalkan pada anak saat ia berusia 4 bulan. Tetapi kemudian beberapa penelitian tahun2 terakhir menghasilkan banyak hal sehingga MP-ASI sebaiknya diberikan setelah anak berusia lebih dari 6bulan. Mengapa umur 6 bl adalah saat terbaik anak mulai diberikan MPASI ?! 1.Pemberian makan setelah bayi berumur 6 bulan memberikan perlindungan besar dari berbagai penyakit. Hal ini disebabkan sistem imun bayi berusia kurang dari 6 bulan belum sempurna. Pemberian MP-ASI terlalu dini sama saja dengan membuka pintu gerbang masuknya berbagai jenis kuman. Belum lagi jika tidak disajikan higienis. Hasil riset terakhir dari peneliti di Indonesia menunjukkan bahwa bayi yg mendapatkan MP-ASI sebelum ia berumur 6 bulan, lebih banyak terserang diare, sembelit, batuk-pilek, dan panas dibandingkan bayi yang hanya mendapatkan ASI eksklusif. Belum lagi penelitian dari badan kesehatan dunia lainnya. 2.Saat bayi berumur 6 bl keatas, sistem pencernaannya sudah relatif sempurna dan siap menerima MPASI. Beberapa enzim pemecah protein spt asam lambung, pepsin, lipase, enzim amilase, dsb baru akan diproduksi sempurna pada saat ia berumur 6 bl. 3.Mengurangi resiko terkena alergi akibat pada makanan Saat bayi berumur kurang dari 6 bulan, sel-sel di sekitar usus belum siap untuk mengolah kandungan dari makanan. Sehingga makanan yg masuk dapat menyebabkan reaksi imun dan terjadi alergi. 4.Menunda pemberian MP-ASI hingga 6 bulan melindungi bayi dari obesitas di kemudian hari. Proses pemecahan sari-sari makanan yg belum sempurna dalam usus bayi, pada beberapa kasus ekstrem ada juga yang memerlukan tindakan bedah akibat pemberian MP-ASI terlalu dini. Dan banyak sekali alasan lainnya mengapa MP-ASI baru boleh diperkenalkan pada anak setelah anak berumur 6 bulan. Masih banyak yg mengenalkan MP-ASI pada bayi kurang dari 6 bulan Kalo begitu kenapa masih banyak orangtua yg telah memberikan MP-ASI ke anaknya sebelum berumur 6 bulan? Banyak sekali alasan kenapa ortu memberikan MP-ASI sebelum anak berusia 6 bulan. Umumnya banyak ibu yg beranggapan kalo anaknya kelaparan dan akan tidur nyenyak jika diberi makan. Meski gak ada relevansinya banyak yg beranggapan ini benar. Kenapa? Karena belum sempurna, sistem pencernaannya harus bekerja lebih keras utk mengolah & memecah makanan. Kadang anak yg menangis terus dianggap sbg anak gak kenyang. Padahal menangis bukan semata-mata tanda ia lapar. Belum lagi masih banyak anggapan di masyarakat kita seperti orang tua terdahulu bahwa anak saya gak papa tuh dikasih makan pisang pas kita umur 2 bulan. Malah sekarang jadi orang. Alasan lainnya juga bisa jadi juga tekanan dari lingkungan dan gak ada dukungan seperti alasan di atas. Dan gencarnya promosi produsen makanan bayi yang belum mengindahkan ASI eksklusif 6 bulan. Aturan MP-ASI setelah 6 bulan: Karena sebelum berusia 6 bulan mengandung resiko. Sekali lagi tidak mungkin ada saran dari WHO & IDAI jika tidak dilakukan penelitian panjang. Lagipula tiap anak itu beda. Bisa jadi gak jadi masalah utkkita tapi belum tentu untuk yg lain. Misalkan, ilustrasinya sama seperti aturan cuci tangan sebelum makan. Ada anak yang dia tidak terbiasa cuci tangan sebelum makan. Padahal ia baru bermain-main dengan tanah dsb. Tapi ia tidak apa-apa. Sedangkan satu waktu atau di anak yang lain, begitu ia melakukan hal tsb ia langsung mengalami gangguan pencernaan karena kotoran yg masuk ke makanan melalui tangannya. Demikian juga dengan pemberian MP-ASI pada anak terlalu dini. Banyak yang merasa “anak saya gak masalah tuh saya kasih makan dari umur 3 bulan”. Sehingga hal tsb menjadi “excuse” atau alasan untuk tidak mengikuti aturan yg berlaku. Padahal aturan tsb dibuat karena ada resiko sendiri. Lagipula penelitan ttg hal ini terus berlanjut. Saat ini mungkin pengetahuan dan hasil riset yg ada masih terbatas dan “kurang” bagi beberapa kalangan. Tapi di kemudian hari kita tidak tahu. Ilmu terus berkembang. Dan satu hal yg penting. Aturan agar menunda memberikan MPASi pada anak kurang dari 6 bulan bukan hanya berlaku untuk bayi yang mendapatkan ASI eksklusif. Tetapi juga bagi bayi yg tidak mendapatkan ASI (susu formula atau mixed). Semuanya akan kembali kepada ayah & ibu. Jika kita tahu ada resiko dibalik pemberian MP-ASI saat usia anak kurang dari 6 bulan, maka mengapa tidak kita menundanya. Apalagi banyak sekali penelitian & kasus yang mendukung hal tsb. Apapun keputusan ibu & ayah, apakah mau memberikan MP-ASI saat anak berusia kurang atau lebih dari 6 bulan, alangkah baiknya dipertimbangkan dengan baik untung ruginya bagi anak, bukan bagi orang tuanya. Sehingga keputusan yg diambil adalah yg terbaik utk sang anak. (Luk) Sumber : Solid Food in Early Infancy increases risk of Eczema, from original source : Fergusson DM et al Early solid feeding and recurrent childhood eczema: a 10-year longitudinal study Pediatrics 1990 Oct; 86:541-546.[ Medline abstract][Download citation] World Health Organization (WHO). Infant Feeding Guidelines. 2003. Information for Health Professionals on Infant Feeding. www.who.int/ health_topics/ breastfeeding/ en/ World Health Organization (WHO). 2003. Global Strategy for Infant and Young Child Feeding. www.who.int World Health Organization (WHO). Complementary feeding. Report of the global consultation. Summary of guiding principles. Geneva, 10-13 December 2001. www.who.int DIarsipkan di bawah: ASI | yang berkaitan: ASI, MPASI
   
Jumlah Posts : 918
Jumlah di-Like : 4
Dear Bunda Farel,
Sepanjang minggu ini saya juga menerima SMS & EMAIL FITNAH serupa yang tidak jelas sumber beritanya. Saya pribadi, tentu saja MENGABAIKAN isi sms tersebut & berpegang teguh pada penjelasan terkini dari BPOM RI dan para produsen susu formula tersebut.
- Buat pengguna BEBELAC, silakan baca pengumuman resmi di situs www.nutricia.co.id
- Buat pengguna DANCOW, BENDERA, SGM & SUN, silakan mencari info langsung ke produsen masing-2 melalui situs resminya atau telpon ke careline.
- Buat pengguna S-26, silakan baca email terlampir yang dikirimkan PT. Wyeth Indonesia kepada saya,

From: indonesia@wyethcareline.com
Date: Mar 13, 2008 3:16 PM
Subject: Re: Question/Comment about Wyeth Nutritionals
To: Erina Livia
Dear Ibu Erina,
Kami mengerti kekhawatiran orang tua yang anaknya masih menggunakan susu formula, khususnya product Wyeth.
Wyeth sangat serius menanggapi masalah ini meskipun sampai saat ini Wyeth belum mendapat laporan resmi mengenai hasil penelitian tersebut dari pihak IPB.
Wyeth mengetahui hal ini dari pemberitaan media yang tidak menyebut secara spesifik produk yang dimaksud.
Namun yang pasti, Wyeth sebagai perusahan multinational berpengalaman lebih dari 100 tahun dalam memproduksi susu formulanya dengan menggunakan standar yang sangat tinggi. Salah satu test yang harus dilalui sebelum produk infant formula di pasarkan adalah test bebas bakteri e-sakazakii
ini.
Produk Infant Formula Wyeth yang beredar di Indonesia adalah produk yang diproduksi di Singapore yang sudah melalui berbagai macam pengujian untuk menjamin kualitas dan keamanannya.
Berikut ini informasi terbaru yang kami dapatkan dari :
http://www.pom.go.id/public/berita_aktual/detail.asp?id=192&qs_kateg=Produk
Konferensi Pers Kontaminasi Bakteri dalam Susu Formula dan makanan bayi
FACTSHEET
KONFERENSI PERS
ISU KONTAMINASI BAKTERI DALAM SUSU FORMULA DAN MAKANAN BAYI
1.PENELITIAN IPB DILAKUKAN PADA TAHUN 2003 DENGAN SAMPLING SUSU YANG BEREDAR PADA MASA ITU, MAKA SUSU YANG TERKONTAMINASI BAKTERI ENTEROBACTER SAKAZAKII SEKARANG SUDAH TIDAK ADA LAGI DIPASARAN
2.SESUAI KAIDAH PENELITIAN, PENELITI BELUM PERNAH DAN TIDAK AKAN MENGUMUMKAN MEREK YANG TELAH DITELITI
3.ADANYA ISU TENTANG DAFTAR SUSU AMAN DAN SUSU YANG BERBAHAYA YANG BEREDAR DI MASYARAKAT DAN MENGATASNAMAKAN BADAN POM ADALAH TIDAK BENAR
4.SAMPAI SAAT INI DI INDONESIA BELUM ADA LAPORAN TENTANG KASUS BAYI YANG SAKIT AKIBAT SUSU FORMULA DAN MAKANAN BAYI YANG TERKONTAMINASI BAKTERI ENTEROBACTER SAKAZAKII
5.LAPORAN KASUS DI LUAR NEGERI, SELAMA 42 TAHUN (SEJAK 1961 SAMPAI DENGAN 2003) HANYA DITEMUKAN 48 KASUS, UMUMNYA PADA BAYI UMUR DI BAWAH SATU BULAN, DENGAN SISTEM KEKEBALAN TUBUH RENDAH, BERAT LAHIR RENDAH, DAN BAYI PREMATUR
6.BAYI 0-6 BULAN HARUS DIBERIKAN ASI EKSKLUSIF. BILA KARENA SESUATU HAL ASI TIDAK DAPAT DIBERIKAN, MAKA DAPAT DIBERIKAN SUSU FORMULA
7.DALAM MEMBERIKAN SUSU FORMULA, HARUS MEMPERHATIKAN STANDAR KEBERSIHAN PERALATAM DAN PROSEDUR MEMPERSIAPKAN SERTA MENYAJIKAN SUSU FORMULA DENGAN BENAR (SEBAGAIMANA TERLAMPIR)
8.SELURUH SUSU FORMULA YANG BEREDAR DI PASARAN TELAH DILAKUKAN EVALUASI TERHADAP KEAMANAN, MUTU DAN GIZINYA SERTA DIMONITOR SECARA BERKALA OLEH BADAN POM

JUM'AT 29 Februari 2008
Panduan untuk menyiapkan dan menyajikan susu formula
Cara membersihkan dan sterilisasi peralatan
1.Cuci tangan dengan sabun sebelum membersihkan dan mensterilkan peralatan minum bayi.
2.Cuci semua peralatan (botol, dot, sikat botol dan sikat dot) dengan air bersih yang mengalir.
3.Gunakan sikat botol dan sikat dot untuk membersihkan bagian dalam botol dan dot agar sisa susu yang melekat bisa dibersihkan.
4.Bilas botol dan dot dengan air bersih yang mengalir.
5.Bila menggunakan alat sterilisator buatan pabrik, ikuti petunjuk yang tercantum dalam kemasan.
6.Bila sterilisasi dengan cara direbus :
a.Botol harus terendam seluruhnya sehngga tidak ada udara di dalam botol;
b.Panci ditutup dan dibiarkan sampai mendidih selama 5 - 10 menit;
c.Panci biarkan tertutup, biarkan botol dan dot di dalamnya sampai segera akan digunakan
7.Cuci tangan dengan sabun sebelum mengambil botol dan dot.
8.Bila botol tidak langsung digunakan setelah direbus:
a.Botol harus disimpan di tempat yang bersih dan tertutup;
b.Dot dan penutupnya terpasang dengan baik.
Cara menyiapkan dan menyajikan susu formula
1.Bersihkan permukaan meja yang akan digunakan untuk menyiapkan susu formula.
2.Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, kemudian keringkan.
3.Rebus air minum sampai mendidih selama 10 menit dalam ketel atau panci tertutup.
4.Setelah mendidih, biarkan air tersebut di dalam panci/ketel tertutup selama 10 - 15 menit agar suhunya turun menjadi di atas 70oC.
5.Tuangkan air tersebut (suhunya di atas 70oC) sebanyak yang dapat dihabiskan oleh bayi (jangan berlebihan) ke dalam botol susu yang telah disterilkan.
6.Tambahkan bubuk susu sesuai takaran yang dianjurkan pada label dan sesuai kebutuhan bayi.
7.Tutup kembali botol susu dan kocok sampai susu larut dengan baik.
8.Dinginkan segera dengan merendam bagian bawah botol susu di dalam air bersih dingin, sampai suhunya sesuai untuk diminum (dicoba dengan meneteskan susu pada pergelangan tangan, akan terasa agak hangat, tidak panas).
9.Sisa susu yang telah dilarutkan dibuang setelah 2 jam.
Semoga jawaban kami dapat membantu. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.
Salam,
Eli. Murdiana
Customer Service Supervisor
Wyeth Indonesia
   
21-02-2008 20:14:50 aneka resep makanan buat baby
Jumlah Posts : 62
Jumlah di-Like : 2
Aneka Menu buat bayi umur 6-12 bulan



cream labu kuning dan ayam (puree )



bahan



100 gr labu kuning( kukus hingga matang)

100 gr daging ayam,matang

120ml ASI(susu formula)



Masukan semua bahan ke dalam blender dan blend hingga halus,kl terlalu kental bisa tambah air kaldu





Bubur beras melon



bahan



1 sdm tepung beras

50 gr melon,haluskan(blender)

150ml ASi atau air

1 sdm susu formula,larutkan dgn air



Cara membuat

1.larutkan tepung beras dgn ASI(air),didihkan sambil terus diadk hingga mengental dan matang

2.sesaat sebelum diangkat,masukan melon yg sudah halus dan susu formula yg udah dilarutkan dgn air,aduk rata dan hidangkan hangat hangat



Utk 1 porsi



Bubur Hunkwe Pisang



bahan

1 sdm tepung maizena

50 gr buah pisang matang,haluskan

150ml ASI(air)

1 sdm susu formula



cara membuat



1.larutkan tepung maizena dgn ASI(air),didihkan dgn api kecil,aduk rata hingga mengental dan mendidih

2.tambahkan larutan susu formula dan pisang yg sudah halus ,didihkan utk sesaat ,siap dihidangkan



Note,buah juga bisa diganti dgn yg lain seperti labu kuning,stroberi(kl ngak alergi),mangga,papaya dsb





Kentang & sayuran (utk 6-12 bln)



utk 2-3 porsi)



bahan



1 buah kentang

1 buah wortel9ukuran sedang)

15 gr margarin(unsalted butter)

1 sdm susu formula (larutkan dgn 60ml air)

beberapa potong brokoli(bagian atasnya saja)



cara membuat



1.rebus kentang,wortel dan brokoli hingga matang

2,angkat dan haluskan dgn sendok garpu,tambahkan margarin dan larutan susu formula,

3.siap di hidangkan selagi hangat





Banana Milksahake utk bayi 6-12 bulan



bahan

120ml ASI (susu formula)

1 1/2 buah pisang matang



cara membuat>masukkan semua bahan ke dalam blender ,dan blender hingga halus dan berbusa,taruh ke dalam gelas dan siap di hidangkan



buah bisa diganti dgn apel,melon,pepaya,pir)





Bubur susu saus Apel



bahan



1sdm tepung beras(merah atau putih)

60ml air putih

60ml susu formula(ASI)

75 gr apel(biasa merk fuji yg rasanya manis)





Cara membuat:

Bubur Susu



1. Masukkan tepung beras dengan air putih ke dalam panci, panaskan hingga mendidih sambil diaduk, kecilkan api.

2. Ambil sedikit adonan di dalam panci, campurkan dengan susu formula, aduk rata. Sedikit demi sedikit masukkan adonan tersebut ke dalam panci, aduk terus sampai mengental (gunakan api kecil), masak terus selama 2-3 menit.

3. Sajikan dingin bersama saos apel



Saos Apel



1. Kupas apel fuji (manis), buang biji dan kulitnya, potong dadu, rendam di dalam air.

2. Didihkan air, masukkan potongan apel, diamkan dalam keadaan tertutup selama 2-3 menit.

3. Angkat rebusan apel, blender hingga halus, saring.





Bubur Susu Maizena

Bahan:

1 sdm tepung maizena

40 g bayam, cuci, rebus, haluskan

150 ml ASi atau 3 sdm susu formula lanjutan yang dilarutkan dengan dengan 100 ml air hangat

200 ml air matang/kaldu sayuran

Cara Membuat:

1. Larutkan tepung maizena dengan 200 ml air matang/kaldu sayuran. Didihkan hinga matang dan mengental. Angkat.

2. Sesaat sebelum diangkat, masukan bayam. Aduk rata, angkat dari perapian.

3. Selagi hangat masukan ASI atau larutan susu formula lanjutan, aduk rata.

4. Tuang ke dalam mangkuk saji. Hidangkan hangat.

Untuk 2 porsi



Kandungan ± Nutrisi per porsi:

Protein: 3.8 g

Lemak: 1.1 g

Karbohidrat: 19.8 g

Energi: 61.3 kkal





NASI TIM HATI AYAM



Bahan:

60 g beras, cuci bersih

50 g hati ayam, rebus lalu haluskan/cincang

40 g wortel, potong dadu kecil

40 g tomat, buang bijinya, potong dadu kecil

Kaldu Ayam:

100 g, tulang ayam/kaki ayam, cuci bersih

500 ml air

1 batang daun bawang, potong-potong

Cara Membuat:

1. Kaldu Ayam: Rebus semua bahan kaldu hingga mendidih. Angkat, saring.

2. Tuang air dalam panci, panaskan hingga mendidih.

3. Siapkan pinggan tahan panas atau panic, masukkan beras, kaldu dan wortel, aduk rata. Letakan pinggan tahan panas/panci di atas panci yang berisi air mendidih. Tutup panci, masak hingga beras matang dan lembut.

4. Sesaat sebelum diangkat, tambahkan rebusan hati ayam dan potongan tomat, aduk rata. Masak kembali selama 2 menit. Angkat.

5. Masukkan nasi tim ke dalam mangkuk atau piring saji. Berikan pada bayi dalam kondisi hangat.

Untuk 2 Porsi





sumber

dari Buku panduan MPASI karya DR BUDI SUTOMO Spd,bukunya bisa didapat di Gramedia
   
16-02-2008 00:08:19 susu UHT
Jumlah Posts : 368
Jumlah di-Like : 1
bunda, ini ada artikelnya

===========================================================



SUSU UHT Proses Susu UHT

Susu cair segar UHT dibuat dari susu cair segar yang diolah menggunakan pemanasan dengan suhu tinggi dan dalam waktu yang sangat singkat (135-145 derjat Celcius) selama 2-5 detik (Amanatidis, 2002). Pemanasan

dengan suhu tinggi bertujuan untuk membunuh seluruh mikroorganisme

(baik pembusuk maupun patogen) dan spora.





Waktu pemanasan yang singkat dimaksudkan untuk mencegah kerusakan nilai gizi susu serta untuk mendapatkan warna, aroma dan rasa yang relatif tidak berubah seperti susu segarnyauntuk membunuh seluruh mikroba, sehingga memiliki mutu yang sangat baik.





Secara kesuluruhan faktor utama penentu mutu susu UHT adalah bahan baku, proses pengolahan dan pengemasannya. Bahan baku susu UHT cair segar adalah susu segar yang memiliki mutu tinggi terutama dalam komposisi gizi. Hal ini didukung oleh perlakuan prapanen hingga pasca panen yang terintegrasi.





Pakan sapi harus diatur agar bermutu baik dan mengandung zat-zat gizi yang memadai, bebas dari antibiotika dan bahan-bahan toksis lainnya. Dengan demikian, sapi perah akan menghasilkan susu dengan komposisi gizi yang baik.





Mutu susu segar juga harus didukung oleh cara pemerahan yang benar

termasuk di dalamnya adalah pencegahan kontaminasi fisik dan mikrobiologis dengan sanitasi alat pemerah dan sanitasi pekerja.





Susu segar yang baru diperah harus diberi perlakuan dingin termasuk

transportasi susu menuju pabrik. Pengolahan di pabrik untuk mengkonversi susu segar menjadi susu UHT juga harus dilakukan dengan sanitasi yang maksimum yaitu dengan menggunakan alat-alat yang steril dan meminimumkan kontak dengan tangan. Seluruh proses dilakukan secara aseptik.



Susu UHT dikemas secara higienis dengan menggunakan kemasan aseptik

multilapis berteknologi canggih, Kemasan multilapis ini kedap udara sehingga bakteri pun tak dapat masuk ke dalamnya. Karena bebas bakteri perusak minuman, maka susu UHT pun tetap segar dan aman untuk dikonsumsi.





Selain itu kemasan multilapis susu UHT ini juga kedap cahaya sehingga cahaya ultra violet tak akan mampu menembusnya dengan terlindungnya dari sinar ultra violet maka kesegaran susu UHT pun akan tetap terjaga. Setiap kemasan aseptic multilapis susu UHT disterilisasi satu per satu secara otomatis sebelum diisi dengan susu. Proses tersebut secara otomatis dilakukan hampir tanpa adanya campur tangan manusia sehingga menjamin produk yang sangat higienis dan memenuhi standar kesehatan internasional.



Dengan demikian teknologi UHT dan kemasan aseptic multilapis menjamin susu UHT bebas bakteri dan tahan lama tidak membutuhkan bahan pengawet dan tak perlu disimpan di lemari pendingin hingga 10 bulan setelah diproduksi.









Keunggulan Susu UHT

Kelebihan-kelebihan susu UHT adalah simpannya yang sangat panjang pada susuh kamar yaitu mencapai 6-10 bulan tanpa bahan pengawet dan tidak perlu dimasukkan ke lemari pendingin. Jangka waktu ini lebih lama dari umur simpan produk susu cair lainnya seperti susu pasteurisasi. Selain itu susu UHT merupakan susu yang sangat higienis karena bebas dari seluruh mikroba (patogen/penyebab penyakit dan pembusuk) serta spora sehingga potensi kerusakan mikrobiologis sangat minimal, bahkan hampir tidak ada.





Kontak panas yang sangat singkat pada proses UHT menyebabkan mutu

sensori (warna, aroma dan rasa khas susu segar) dan mutu zat gizi,

relatif tidak berubah.





Proses pengolahan susu cair dengan teknik sterilisasi atau pengolahan menjadi susu bubuk sangat berpengaruh terhadap mutu sensoris dan mutu gizinya terutama vitamin dan protein.





Pengolahan susu cair segar menjadi susu UHT sangat sedikit pengaruhnya terhadap kerusakan protein. Di lain pihak kerusakan protein sebesar 30 persen terjadi pada pengolahan susu cair menjadi susu bubuk.



Kerusakan protein pada pengolahan susu dapat berupa terbentuknya pigmen coklat (melanoidin) akibat reaksi Mallard. Reaksi Mallard adalah reaksi pencoklatan non enzimatik yang terjadi antara gula dan protein susu akibat proses pemanasan yang berlangsung dalam waktu yang cukup lama seperti pada proses pembuatan susu bubuk. Reaksi pencoklatan tersebut penyebabkan menurunnya daya cerna protein.



Proses pemanasan susu dengan suhu tinggi dalam waktu yang cukup lama

juga dapat menyebabkan terjadinya rasemisasi asam-asam amino yaitu

perubahan konfigurasi asam amino dari bentuk L ke bentuk D. Tubuh

manusia umumnya hanya dapat menggunakan asam amino dalam bentuk L.

Dengan demikian proses rasemisasi sangat merugikan dari sudut pandang ketersediaan biologis asam-asam amino di dalam tubuh.



Reaksi pencoklatan (Mallard) dan rasemisasi asam amino telah berdampak kepada menurunnya ketersedian lisin pada produk-produk olahan susu.





Penurunan ketersediaan lisin pada susu UHT relatif kecil yaitu hanya mencapai 0-2 persen. Pada susu bubuk penurunannya dapat mencapai 5-10 persen.





Tip Penggunaan Susu UHT





1. Apabila kemasan susu UHT telah dibuka, maka susu tersebut harus disimpan pada refrigerator. Susu UHT harus dihindarkan dari penyimpanan pada suhu tinggi (di atas 50 derjat Celcius) karena dapat terjadi gelasi yaitu pembentukan gel akibat kerusakan protein.





2. Kerusakan susu UHT sangat mudah dideteksi secara visual, ciri utama yang umum terjadi adalah kemasan menggembung. Gembungnya kemasan terjadi akibat kebocoran kemasan yang memungkinkan mikroba-mikroba penbusuk tumbuh dan memfermentasi susu. Fermentasi susu oleh mikroba pembusuk menghasilkan gas CO2 yang menyebabkan gembung.





3. Kerusakan juga ditandai oleh timbulnya bau dan rasa yang masam. Selain menghasilkan gas, aktivitas fermentasi oleh mikroba pembusuk juga menghasilkan alkohol dan asam-asam organik yang menyebabkan susu menjadi berflavor dan beraroma masam.





4. Hindari mengkonsumsi susu UHT yang telah mengental. Fermentasi susu oleh bakteri pembusuk juga pembusuk juga menyebabkan koagulasi dan pemecahan protein akibat penurunan pH oleh asam-asam organik. Koagulasi dan pemecahan protein inilah yang menyebabkan tekstur susu rusak yaitu menjadi pecah dan agak kental.





5. Untuk susu yang belum habis, kami lebih disarankan untuk tetap di simpan

dikulkas, dikarenakan produk kami tidak menggunakan bahan pengawet sehingga cukup rentan terhadap bakteri yang sangat cepat berkembang biak dalam susu tersebut.





6. Tetapi apabila tidak memungkinkan untuk dimasukkan kedalam kulkas,

sebaiknya susu disimpan dalam keadaan tertutup (rapat) dalam suhu normal

tidak terlalu panas.dingin dan jangan terlalu lama didiamkan diluar.





7. Kualitas kandungan gizi pada susu yang telah dibuka dan didiamkan

otomatis akan sedikit berbeda (berkurang) dibanding dengan kualitas gizi pada saat susu pertamakali dibuka, dikarena sudah ada kontaminasi dari udara luar walaupun hanya sedikit. Proses bakteri merusak susu tidak terjadi begitu saja melalui proses terlebih dahulu (ada penguraian) hal ini terjadi dalam hitungan jam sampai akhirnya susu tersebut basi (rasanya jadi asam/pahit, teksturnya menggumpal, ataupun pecah).





8. Apabila memang harus disimpan dalam suhu ruang sebaiknya tidak melebihi dari beberapa jam, kurang lebih 5-7 jam, dan itu pun tergantung dari kondisi lingkungan atau ruangan itu sendiri dan susu sebaiknya dalam keadaan tertutup.





9. Tapi jika ingin lebih memastikan dapat mencicipinya terlebih dahulu dan melihat teksturnya apabila tidak lagi sama dengan kualitas susu yang biasa Ibu minum sebaiknya jangan dikonsumsi lagi.





10. Tetapi dikarenakan susu disimpan dalam kulkas sehingga pertumbuhan bakteri dapat terhambat untuk sementara, maka kemungkinan susu akan rusak yaitu selama kurang lebih 3-5 hari, tergantung kondisi penyimpanan yang harus dingin (4C) dan kondisi kulkas yang harus baik dan juga tidak terlalu banyak makanan ataupun buah-buahan didalamnya, karena dikhawatirkan aroma dari makanan dan buah-buahan tersebut juga bisa merusak kualitas rasa/aroma dari susu tersebut





Sebagai saran , agar mengkonsumsi susu dengan ukuran yang lebih kecil agar anak tetap mendapatkan kesegaran susu dan kualitas susu yang terbaik.







Ø Dari sharing bbrp SP, anak yg dulunya ada reaksi alergi kalau minum susu formula, stlh mencoba susu UHT tidak menimbulkan reaksi alergi. Walaupun sebenarnya alergi pd susu sapi formula atau bukan) umumnya hanya bersifat sementara. jd saya gak tahu, tidak ada lagi alergi apa memang karena UHTnya atau anaknya memang sdh tdk alergi lagi.









Ø Dari sharing juga bbrp SP, stlh minum UHT BABnya lbh lancar.





Ø UHT lebih fresh!





Ø Lebih praktis. Kalau travelling, ngga perlu bawa banyak bawaan, spt. termos, etc.

===========================================================





Array
   
29-04-2014 06:47:31 makanan tambahan
Jumlah Posts : 78
Jumlah di-Like : belum ada like
UNTUK mencapai pertumbuhan optimal, seorang bayi
memerlukan semua zat gizi makro dan zat gizi mikro
yang sesuai antara jumlah dengan kebutuhannya.
Tak dapat dipungkiri, kebutuhan nutrisi terbaik untuk
bayi berusia 0 ? 6 bulan adalah ASI.
Tapi begitu menginjak usia 6 bulan ke atas, asupan
bayi harus ditambah dengan Makanan Pendamping
ASI (MPASI). Nah, berikut panduan soal MPASI yang
perlu Anda ketahui!
Terlalu Cepat vs Terlambat
Jangan memberikan MPASI terlalu cepat (sebelum
usia 6 bulan). Di samping pencernaannya belum
sempurna, tindakan itu hanya akan memperbesar
potensi bayi terkena alergi makanan.
Juga, pemberian MPASI terlalu cepat akan
menyebabkan insting bayi untuk mengisap akan
menurun sehingga jumlah ASI yang dikonsumsi juga
menurun. Kekurangan gizi banyak terjadi karena
pemberian MPASI yang terlalu dini.
Jangan pula berikan MPASI terlambat (hanya ASI saja
setelah 6 bulan ke atas). Tak baik bagi
pertumbuhannya. Bayi bisa menderita kekurangan
gizi, berat dan panjangnya tidak sesuai dengan yang
seharusnya dicapai. Karena ASI sesudah usia 6 bulan
tidak bisa mencukupi kebutuhan bayi lagi.
Mulai Usia 6 Bulan
Berikan MPASI saat bayi berusia 6 bulan ke atas.
Mengapa? Biasanya saat itu, bayi sudah bisa
menopang kepalanya sendiri secara tegak dan
menegakkan dadanya. Dengan demikian bisa
dikatakan proses menelannya sudah lebih baik.
Sedangkan jika kepalanya masih goyang-goyang,
ditakutkan proses menelannya belum sempurna,
maka dikhawatirkan akan tersedak. Juga, fungsi
pencernaan bayi pada usia tersebut sudah lebih baik.
Tanda Bayi Siap MPASI
Berikut tanda bayi yang siap MPASI:
- Mampu duduk tegak walau masih harus dibantu
- Mampu menegakkan kepala dengan baik
- Tampak tertarik melihat makanan, sendok dan
garpu
- Tidak lagi memiliki ?refleks menolak dengan lidah?
setiap kali makanan padat disuapkan ke mulutnya
- Mampu menerima makanan yang disuapkan dengan
sendok, yang mungkin terjadi bila bayi telah mampu
menggerak-gerakkan lidahnya maju-mundur dan ke
kiri-kanan
Tunjang Berat Badan Bayi
MPASI diharapkan dapat menunjang berat badan bayi
agar sesuai dengan Kartu Menuju Sehat (KMS),
yakni: pada triwulan pertama, penambahan berat
badan bayi sebanyak 750-1000 gr/bln, triwulan
kedua sebanyak 600 gr/bln, triwulan ketiga sebanyak
400 gr/bln, dan triwulan keempat sebanyak 200-300
gr/bln.
Bubur Susu
Perkenalkan jenis MPASI kepada bayi secara
bertahap. Itulah yang dianjurkan oleh semua Dokter
Spesialis Anak (DSA).
Sebagai tahap awal, bayi yang sudah berusia 6 bulan
dapat diberikan makanan bertekstur lunak dan cair
seperti bubur susu, yaitu tepung beras plus susu.
Pemberian bubur susu ini dimulai dari 1x sehari, dan
bertahap sampai 2x dalam sehari.
Berikan pada bayi satu jenis makanan baru selama
3-4 hari berturut-turut untuk mengetahui apakah
bayi cocok dengan makanan tersebut atau tidak.
Selain bubur susu, pure buah juga dapat diberikan.
Cairan pure yang dapat digunakan adalah ASI, susu
formula atau air matang . Caranya, berikan 1-2
sendok makan pure kepada bayi. Jika tidak ada
masalah, tingkatkan secara bertahap.
Jenis buah yang dapat diberikan berupa pisang
(pisang raja atau pisang ambon), alpukat, labu dan
pepaya. Setiap jenis buah diberikan 3-4 hari
berturut-turut agar bayi dapat mengenal rasa.
Setelah itu, baru mencoba buah yang lain.
Nasi Tim Saring
Dengan bertambahnya usia bayi, maka makanan yang
diasup bayi juga akan meningkat. Setelah bubur
susu, sebaiknya bayi mulai dikenalkan dengan
makanan yang berbentuk bubur atau nasi tim saring.
Makanan ini terdiri dari beras, lauk pauk (hewani
atau nabati), dan sayur.
Pemberiannya pun bergantian antara bubur susu dan
tim saring. ?Pada frekuensi awal, bubur susu
diberikan 1-2 kali sehari. Namun ketika usia bayi 7
bulan, mengalami peningkatan, dimana bubur
susunya 2x, sedangkan tim saringnya diberikan satu
kali sehari. Ketika usia 8 bulan, bubur susu diberikan
hanya sekali, tim saringnya menjadi dua kali dengan
isi yang lebih beragam. Begitu usia bayi 9-10 bulan,
baru diberikan tim saring sebanyak 3 kali sehari,?
papar dr Tinuk Agung Meilany SpA.
Nasi Lembek
Sesudah semua tahapan tersebut, baru anak
diberikan nasi putih biasa. Disarankan nasinya masih
berupa nasi yang lembek. Namun, ada juga anak
yang tidak bermasalah diberikan nasi biasa. Jadi,
bergantung kemampuan masing-masing anak, sebab
usia lebih dari 8 bulan, anak sudah tumbuh gigi,
otomatis lebih pandai mengunyah.
Satu Macam Sayur Dulu
Pemberian sayur untuk anak pun sangat disarankan.
Sayur yang baik adalah mengandung vitamin dan
mineral, biasanya terdapat pada sayuran berwarna
hijau atau orange (bayam, kacang, buncis, wortel).
Tapi, bukan berarti sayuran berwarna lain tidak
bergizi, hanya saja kandungannya lebih rendah.
Tahapannya mulai dari 1 macam sayur, jangan
langsung 3 macam. Sebab anak bisa diare. Bayi
harus harus beradaptasi dulu dengan makanan
barunya.
Bakat Alergi: Tunda Telur
Begitu anak makan bubur boleh mulai diberikan
telur. Tapi harus diperhatikan untuk anak-anak yang
punya bakat alergi, disarankan untuk memperlambat
pemberian telur, yaitu pada usia lebih dari setahun
atau lebih bagus saat usia 2 tahun.
Selain itu, pemberian telur sebaiknya dimulai dari
kuning telur terlebih dahulu, karena alergen biasanya
berasal dari protein yakni putih telurnya, sementara
kuning telur banyak mengandung lemak dan vitamin.
Ikan: Menjelang Satu Tahun
Pada dasarnya, makanan yang diberikan untuk bayi
adalah makanan yang sehat, yang terdiri atas beras,
lauk-pauk (hewani dan nabati), buah-buahan dan
tambahan susu. Sama halnya dengan memberikan
makanan padat, lauk-pauk pun harus diberikan
secara bertahap. Mulai dari daging ayam yang
dihaluskan, lalu diselingi dengan daging sapi,
sampai ketika usianya mendekati satu tahun, si kecil
sudah boleh diberi ikan.
Tahapan MPASI
Ditegaskan dr Endang Peddyawati MS SpGK MARS,
pemberian MPASI dimulai dari bentuk makanan encer
menuju ke bentuk kental secara bertahap. Semuanya
itu disesuaikan dengan usia bayi dan kemampuan
bayi menerima makanan serta kebutuhan bayi akan
kecukupan zat gizinya. Perinciannya sebagai berikut:
- Umur 6 ? 8 bulan dapat diberikan ASI, buah dan
bubur susu/ biskuit.
- Usia 8 ? 10 bulan, dapat diberikan ASI, buah,
biskuit, bubur susu, bubur saring. Bila perlu, berikan
makanan selingan seperti finger foods (makanan
yang mudah dipegang). Misalnya, wortel yang masih
mentah atau direbus setengah matang, potongan
buah apel atau pir, kentang goreng dan lainnya.
Pada usia ini, makanan bayi sudah boleh dibubuhi
kuning telur atau ayam masak.
- Usia 10 ? 12 bulan dapat diberikan ASI, buah,
biskuit, bubur susu, nasi tim lembek.
- Pada usia 1 tahun ke atas di samping masih
mengonsumsi ASI juga sudah bisa diberikan nasi
dengan lauk pauk dan buah.
Sumber: Mom & Kiddie