SITE STATUS
Jumlah Member :
492.722 member
user online :
844 member
pageview's per day :
Over 100.000(!) page views
Kalkulator kesuburan
Masukan tanggal hari pertama bunda mengalami menstruasi

forum

Cari: kehamilan anak pertama pada usia 38 tahun

New Topic :  
18-09-2015 13:49:05 Hamil anak kedua
Jumlah Posts : 326
Jumlah di-Like : belum ada like

 WEANING WITH LOVE (WWL): Menyapih Dengan Cinta

Bunda si kecil sudah 2 tahun ya, aduh sudah saatnya disapih nih, bisa gak ya??

Menyusui merupakan kedekatan yang sangat intens antara ibu dan bayinya. Sehingga saat harus melalui proses menyapih, seringkali ibu merasa tak tega untuk melakukannya. Demikian pula bagi si bayi, yang juga tak rela berpisah dari ibunya. Akibatnya, proses yang sebenarnya alamiah ini, maju mundur bahkan menimbulkan masalah yang bisa menjadi momok bagi ibu dan anak.

Kapan waktu yang tepat untuk menyapih?

Menentukan kapan anak perlu disapih, terkadang bukan keputusan mudah. Walau memang sudah masanya, terkadang justru bunda belum siap untuk menyapih.

Berikut yang perlu kita perhatikan:

1. Ibu ingin menyapih, anak belum siap. Alasan ibu ingin menyapih, karena tidak menikmati kegiatan menyusui, kelelahan atau sibuk bekerja.

Saran ahli:

  • Jika anak masih di rentang usia menyusui, pikirkan kembali apakah ia perlu disapih? Bila alasannya tidak mendesak, tunda dulu niat menyapih.
  • Bila kurang menikmati kegiatan menyusui, atasi pencetus masalahnya. Semisal, bila puting ibu sakit, atasi dengan cara menyusui yang benar.

Bila menyusui terasa membosankan, ubah jadi menyenangkan sambil mendengarkan musik

2. Anak ingin disapih, ibu belum siap. Anak tidak tertarik lagi minum ASI dari payudara dan ingin minum dari cangkir. Padahal ibu masih ingin menyusui dan ASI banyak.

Saran ahli:

  • Tunda penyapihan dengan menciptakan suasana menyusui yang tenang, jauh dari rangsangan yang bisa membuyarkan konsentrasi anak
  • Jika anak sudah bisa diajak komunikasi, beri pengertian manfaat ASI dengan bahasa yang sederhana
  • Bila anak ingin tetap disapih, berpikir positif dan jangan sedih atau kecewa karena bisa mengganggu kerja hormon prolaktin dan oksitosin sehingga bisa menghambat produksi ASI.
  • Karena inisiatif datang dari anak, biasanya proses menyapih menjadi lebih mudah. Tetap berikan ASI, namun melalui cangkir

3. Ibu dan anak sama-sama tidak siap. Anjuran menyapih dari pihak luar, bukan kehendak ibu ataupun anak. Misalnya, lingkungan menganggap anak sudah besar sehingga perlu disapih.

Saran ahli:

  • Pemberian ASI dianjurkan hingga anak usia 2 tahun. Tapi jika ibu dan anak masih nyaman, boleh terus dilanjutkan. Kekurangannya, anak bisa menjadi manja, kurang mandiri, tergantung pada ibu dan jadi bahan ejekan.
  • Pada kasus ibuhamil lagi, keputusan menyapih atau tidak tergantung pada kesehatan kandungan

4. Penyapihan sementara. Bisa dialami bunda yang mendapat tugas sehingga harus meninggalkan anak. Atau bunda harus minum obat sehingga ASI "tercemar" dan tidak boleh diminumkan bayi

Saran ahli:

  • Bila bepergian lama, lakukan penyapihan sementara, setelah itu relaktasi. Selama bunda pergi anak minum ASI dari cangkir. Begitu bunda kembali, anak menyusu lagi dari payudara.
  • Jika menjalani pengobatan, ASI tetap diperah namun dibuang hanya untuk menjaga produksinya. Setelah pengobatan selesai, lakukan relaktasi.

Bagaimana tips menyapih dengan cinta?

Mestinya selama proses penyapihan itu tidak perlu terjadi saling menekan antara ibu dan anak karena proses tersebut alami. Menyapih bukan proses pemisahan hubungan antara ibu dan anak, baik secara fisik maupun emosi. Menyapih adalah bagian dari fase perkembangan yang harus dijalani oleh anak. Justru karena cinta Anda, anak harus melewati fase perkembangan ini untuk menghadapi fase perkembangan selanjutnya.

Tapi perlu diingat sebisa mungkin hindari menyapih anak dengan membohonginya. Kalau ada anjuran, olesi saja daerah areola Anda dengan buah mengkudu atau obat merah agar bayi tak ingin menyusu, abaikan saran ini. Menyapih anak dengan cara ini sama dengan melakukan kekerasan padanya. Anda mengambil paksa 'kepemilikannya', yang dapat menimbulkan luka batin.

Kerelaan Anda dan si bayi untuk mengakhiri kegiatan menyusu adalah kunci utama dari menyapih dengan cinta atau weaning with love. Lakukan sepenuh cinta dengan langkah-langkah ini:

  1. Kurangi frekuensi menyusui secara bertahap dimulai pada siang hari. Sebab pada saat inilah waktu yang tepat untuk mengenalkan dia pada sesuatu yang baru, seperti rasa, bentuk dan tekstur pada makanan pendamping ASI (MP-ASI).
  2. Tidur terpisah. Balita mau tak mau belajar menahan diri untuk tidak menyusu di malan hari. Dalam hal ini perlu kerja sama ayah seperti menemani tidur, agar balita tidak rewel ketika pisah dengan ibunya.
  3. Tambah pemberian MP-ASI sebanyak 3-4 kali sehari untuk mengurangi pemberian ASI pada siang hari.
  4. Tetapkan tempat menyusui hanya pada satu tempat, misalnya di kamar. Gunanya agar si kecil tidak meminta susu di sembarang tempat sekaligus mengajaknya untuk belajar mengenal aturan.
  5. Tunjukkan perhatian dan kasih sayang selama proses menyapih, misalnya mendekap, mengusap atau mencium agar anak tahu bahwa Anda tetap menyayangi dia meski Anda sudah tidak menyusuinya lagi.
  6. Ajak bicara. Sekalipun masih kecil, sedikit-sedikit balita bisa mengerti maksud kita, asalkan dijelaskan dengan bahasa sederhana dan lemah lembut
  7. Bulatkan tekad. Artinya Anda benar-benar siap untuk melepaskan aktivitas ini. Bila Anda ragu-ragu, Anda akan kesulitan sendiri. Keraguan Anda terbaca oleh anak. Alhasil, anak pun tidak rela disapih.
  8. Sapih anak saat ia dalam keadaan sehat, karena dalam keadaan sakit ia akan semakin butuh kelekatan dengan Anda.  
  9. Libatkan suami sebagai orang yang mampu menghibur dan mengalihkan perhatian anak ketika rewel minta ASI.
  10. Berikan penjelasan pada anak mengapa ia harus disapih. Misalnya, “Ayo, kamu sudah besar, sudah tidak perlu lagi menyusu bunda. Makan kue saja yuk. Atau minum susu di cangkir?” Lakukan dengan sabar, lembut dan cinta Anda. Jangan pernah bosan untuk memberikan alasan padanya.
  11. Ganti aktivitas menyusu dengan membaca buku atau mendongeng sebelum tidur. Aktivitas ini tidak jauh berbeda saat Anda menyusuinya bukan?

Ada aturannya? Pernyataan WHO dan UNICEF di Geneva pada tahun 2001, “Tidak ada keharusan anak disapih pada usia 2 tahun. Benar bila ibu menyusui bayi secara eksklusif di enam bulan pertama kehidupannya. Kemudian ASI dapat dilanjutkan secara bersamaan dengan MP-ASI hingga anak berusia 2 tahun. Tapi tidak ada keharusan kapan harus menyapih.” Penelitian Dewey KG, Pediatric Clinics of North American, tahun 2001, ASI masih boleh diberikan pada anak usia 2 tahun karena masih mengandung: 43% protein, 36% kalsium, 75% vitamin A, dan 60% vitamin C. 

Saat proses penyapihan terjadi, sebenarnya anak sedang berada pada fase alami untuk:

  • Belajar mengenal aneka ragam rasa dan tekstur makanan.
  • Latihan mengunyah makanan padat karena gigi dan rahangnya 'diuji' agar dapat berkembang secara optimal.
  • Latihan kemandirian, sebab anak tidak harus bergantung lagi pada ASI setiap ia merasa lapar atau haus. Dia sudah bisa menikmati makanan padatnya.
  • Latihan percaya pada orang lain dalam pemenuhan kebutuhannya. Saat ini Anda bukanlah satu-satunya orang yang bisa memenuhi kebutuhannya. Selain itu anak juga sedang berlatih untuk beradaptasi dan berinteraksi dengan orang lain.

Bagaimana jika anak tidak mau disapih?

Bagi anak, menyusu bukan sekadar kegiatan yang mengenyangkan perut. Menyusu juga memenuhi kebutuhan emosi anak. Berhenti menyusu bisa jadi masalah jika anak tidak siap untuk disapih dengan alasan:

  1. Tidak mau kehilangan kedekatan bersama ibu. Dia sudah mengerti kalau dia bisa memiliki perhatian dan waktu Anda seluruhnya hanya saat menyusu.
  2. Menikmati kontak kulit. Lewat sentuhan dan pelukan, dia merasa dicintai.
  3. Memberi ketenangan. Bagi balita Anda yang selalu aktif, saat menyusu adalah waktu dimana dia bisa tenang di tengah rasa ingin tahunya yang tinggi.
  4. Memberi kenikmatan oral dan bonusnya dia bisa mendapat susu.

Apa yang sebaiknya Anda lakukan? Upayakanlah agar anak berhenti menyusu tanpa membahayakan perkembangan fisik dan emosinya.  Kuncinya mudah saja, beri anak hubungan dekat dan rasa cinta yang sama seperti pertama kali Anda menyusui dirinya.

Ini kiatnya! Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua ketika anak menolak untuk disapih:

1. Jelaskan alasan Anda menyapihnya. Biasanya strategi yang Anda gunakan ketika ingin menyapih anak adalah dengan menjauhi anak. Namun pesan yang sampai pada anak berbeda, dia justru merasa Anda tidak ingin bersamanya lagi. Untuk menhindari hal ini, anak perlu penjelasan dan anak usia 2 tahun  sudah bisa mendengarkan dan memahami penjelasan Anda.

2. Alihkan perhatiannya. Anak  tidak bisa berhenti memikirkan tentang menyusu kecuali kesempatan tersebut muncul. Anda adalah orang yang bisa tahu kapan anak ingin menyusu pada Anda. Setiap kali dia mendekati Anda untuk meminta menyusu, segera ajak dia bermain atau melakukan kegiatan menyenangkan yang bisa membuat dia lupa tujuan awalnya mendekati Anda.

3. Tinggalkan kebiasaan saat menyusui. Bila Anda terbiasa menyusui dia sebelum tidur ganti ritual tersebut dengan membacakan dia dongeng. Jika Anda punya sudut favorit untuk menyusui anak, misalnya di sofa kamar, hindari duduk di sofa tersebut di jam-jam di mana Anda biasa menyusui anak.

4. Siap dengan camilan sehat pengganti ASI. Jika Anda ingin menyapih anak, pastikan Anda sudah menyediakan  camilan lezat dan sehat yang bisa memuaskan rasa laparnya.

5. Beri waktu. Anda tidak bisa langsung berhenti menyusuinya seketika. Lakukan secara perlahan-lahan karena jika tidak Anda justru bisa membuat anak mengalami kecemasan saat berpisah. Biasanya anak lebih mudah untuk mengurangi menyusu pada Anda, bila dia masih bisa mendapat jaminan di waktu menyusu favoritnya, misalnya pagi hari atau malam hari sebelum tidur.

Yuk tunjukkan kasih sayang kita kepada anak, sapihlah dengan cinta dan antar anak ke gerbang masa depan gemilangnya dengan cinta.

   


04-02-2011 11:19:28 Kehamilan Pasca Kuret
Jumlah Posts : 5
Jumlah di-Like : 1
Buat Bunda yang hamil pasca kuret, Selamat ya....

Oktober tahun lalu saya juga mengalami kuret hamil anak  pertama pada usia 7 minggu 4 hari
  Semoga saya bisa segera hamil lagi karena mengingat usia saya juli 2011 nanti genap 35 tahun, tapi aku yakin dengan kekuasaan Allah, tetap berusaha dan berdo'a Allah pasti akan kasih titipan (anak) yang terbaik buat hambanya. Amiiien Ya Robbal 'Alamiiien.

Mohon Do'nya juga ya Bun......

Terima kasih.
   
Jumlah Posts : 169
Jumlah di-Like : belum ada like
bunda aci, dl saya anak pertama di usia 38 minggu sudah lahir, normal tapi di induksi, krn pembukaan nya g nambah2, padahal debay dah pengen keluar, makanya saya bingung antara mules normal nanti kyk gmn rasanyanya, soalnya mulesnya induksi sayandah pernah coba
   


29-08-2014 12:19:53 flek coklat
Jumlah Posts : 193
Jumlah di-Like : belum ada like
kalau pengalaman saya dulu hamil anak pertama di usia 38 w keluar flek coklat gitu bun, besoknya lahiran...
   
01-08-2014 09:54:26 persalinan
Jumlah Posts : 193
Jumlah di-Like : belum ada like
Lyea : itu bentar lagi kayaknya mau lahir bun...coba bawa ke RS bun biar bisa diperikaa dokter dan bidan...pengalaman saya melahirkan anak pertama di usia 38 minggu :)
   


Jumlah Posts : 516
Jumlah di-Like : 7

@crown: tergantung keadaan janin kita sih bun....kalo dokter / bidan menyatakan kandungan kita kuat InsyaAllah aman untuk berhubungan sex, Alhamdulilah waktu kehamilan anak pertama waktu usia menginjak 7 bulan (sering ML) aman2 saja tuh...krn emang kandungan sy kuat. malah skrng di kehamilan ke-2 pun sy lbh sering ML dr hamil muda sampe skrng ya aman2 saja n janin nya tetep sehat hehe...hanya saja sy heran knp hamil kedua ini bawaannya pengen ML trs :D 

@Riezq: iya bun benar itu...kalo usia hamil gede emang hrs sering ML yah.....dokter saya jg menganjurkan begitu...biar cpt kontraksi dan insyaAllah bs memperlancar persalinan ^^ wah bentar lg nieee bun.....smoga lancar ya persalinannya :)

   
01-02-2010 21:43:02 Mulut Asem truz
Jumlah Posts : 625
Jumlah di-Like : 16
@bunda Debby,

iya betul kata bunda Eve. Teh (dan kopi) menghambat penyerapan zat besi pada janin. Padahal itu sangat dibutuhkan. Boleh juga sih kalau pengen, tapi jangan terlalu sering.

Setidaknya menunggu setelah anak lahir pada usia 2 tahun, biar zat besi dapat diserap tubuhnya dulu.
   
Jumlah Posts : 6
Jumlah di-Like : belum ada like
selamat siang..
perkenalkan saya Melly, saat ini saya sedang hamil anak pertama dengan usia kehamilan 7w6d. Saya memiliki riwayat hernia inguinalis dan telah di operasi 2 tahun yg lalu..
tp semenjak hamil terkadang saya merasakan nyeri pada bagian bekas operasi hernia..
apakah ini berbahaya?
apakah nanti saat sdh hamil besar ada kemungkinan hernia ini terjadi lg?
dan apakah saya bs melahirkan secara normal nanti?
   
27-04-2015 15:52:17 Hamil diusia 38 ahun
Jumlah Posts : 45
Jumlah di-Like : belum ada like

Sore Bunda Semua... Salam kenal dari saya..

Saya mo nanya2 nih, ada nggak yg pernah hamil di usia 38 tahun.... Kebetulan ini kehamilan saya yang  ke4, anak pertama saya 12 tahun, yg kedua BO karena toxo, dan yg ketiga putri saya berumur 3 tahun mei ini.

Dikehamilan kedua saya harus dikuret karena BO, dan kehamilan ketiga saya tiap bulan harus minum obat anti virus dan antibiotik karena toxo... Alhamdulillah dia lahir dalam keadaan sehat, dan kehamilan yang sekarang ini saya agak was2 karena usia saya sdh diatas 38 tahun Bun... ya, memang gak direncana..... Sama dokter seperti dulu saya harus minum antibiotik sama obat virus seperti kehamilan yang lalu....

Sharing dong Bun ada yang pernah mengalami kasus kehamilan seperti saya nggak... terus terah saya dag dig dug nih kehamilan saya masuk minggu kw 7,

   
23-09-2010 00:49:17 Caesar Ke 3x
Jumlah Posts : 20
Jumlah di-Like : belum ada like
Dear Bunda,
9 bulan lalu tepat tgl 1 jan 2010 saya melahirkan anak kedua dengan proses SC sekaligus pengankatan myoma uteri dgn diameter 4,5cm.
SC ke 2 lebih sakit pasca operasi dibanding Sc pertama pada 16 april 2008. Jarak kehamilan anak pertama dengan anak ke dua adalah 1 tahun.
Hari ini saya baru mengetahui kalau saya hamil kembali/ telat 1 bulan. Shock, sedih and kuatir banget.
Apakah aman saya hamil lagi?
Apakah bisa meminta dokter untuk meng-stop kehamilan ini?
Saat ini usia saya 35thn dan saya tadinya berpikir untuk tidak hamil lagi tapi sekarang keadaannya berbeda :(

Mohon share pengalaman atau informasinya ya buns
   
Jumlah Posts : 198
Jumlah di-Like : 10

MEMANTAU BERAT BADAN BAYI

Tumbuh kembang bayi dapat tercermin dari peningkatan berat badannya.

Ada banyak cara memantau kesehatan bayi. Tapi yang termudah dan terjelas adalah dengan mengukur kondisi fisiknya. Inilah yang dikenal dengan istilah pengukuran antropometri yang mencakup pengukuran berat badan, panjang (tinggi) badan, lingkar lengan, serta lingkar kepala.

Pembahasan kali ini diutamakan pada berat badan (BB) bayi yang kerap menjadi perhatian utama karena nyata terlihat. Namun, bukan berarti orangtua boleh mengabaikan tinggi (panjang) badan, lingkar lengan serta lingkar kepala lo. Ketiga komponen itu tetap harus mendapat perhatian karena juga dapat dijadikan sebagai tolok ukur kesehatan bayi.

Sajian rubrik Dunia Bayi minggu ini menyajikan kiat-kiat cara memantau berat badan bayi plus bagaimana menjaga agar BB si kecil bisa dalam standar ideal.

Selamat mambaca!

BB TURUN DULU LANTAS NAIK

Bila dicermati pada waktu 1-2 minggu setelah lahir, bobot bayi menyusut. Karena tubuhnya masih banyak mengandung air sebagai "oleh-oleh" dari dalam rahim. Dalam rentang waktu 1-2 minggu tersebut, cairan itu sedikit demi akan keluar melalui urine dan menurunkan bobot bayi secara otomatis. Tentu saja angka penurunannya tidak drastis. Dengan begitu, jika setelah 1-2 minggu kelahiran bayi, BB si kecil turun, itu merupakan hal alamiah. Jadi tak perlu terlalu dikhawatirkan.

Di minggu-minggu berikutnya, berat badan si kecil relatif meningkat, yakni sekitar 750-1.000 gram per bulannya. Setelah usia 3-6 bulan kenaikannya tidak sebesar itu, yaitu sekitar 500– 600 gram per bulan. Nah, di usia 6-9 bulan penambahan bobotnya semakin melambat, sekitar 350–450 gram per bulan. Begitu pula ketika si kecil berusia 9-12 bulan, penambahannya tak terlalu mencolok sekitar 150–250 gram per bulannya.

Ketika memasuki usia satu tahun, umumnya penambahan berat badan bayi mulai melambat lagi. Namun, bukan berarti terjadi penurunan. Beratnya tetap meningkat, hanya saja perlahan-lahan atau tidak sepesat sebelumnya. Yang jelas, orangtua tak perlu kaget atau khawatir. Itu artinya normal-normal saja. Toh, berbagai penelitian terhadap sejumlah bayi normal dari berbagai ras juga menunjukkan adanya penurunan berat badan di rentang usia 0-12 bulan.

KEBUTUHAN ENERGI & BERAT BADAN

Agar berat badan sang buah hati tetap mengalami peningkatan yang normal dan sesuai dengan pertambahan usianya, berikan ia asupan nutrisi yang adekuat dengan komposisi zat gizi yang seimbang. Maksudnya, makanan yang dikonsumsi hendaknya mengandung unsur karbohidrat, protein, lemak, serta vitamin-mineral yang cukup.

Patut diperhatikan bahwa tiap kelompok usia, kebutuhan energi anak berbeda-beda. Untuk bayi usia 0-6 bulan, kebutuhan energinya adalah 550 Kkal per hari. Sedangkan yang berusia 7-12 bulan, kebutuhan energinya adalah 650 Kkal. Tambahan lagi pada bayi, jenis makanan pun disesuaikan dengan kemampuannya saat itu. Contohnya, pada usia 0–6 bulan hanya minum ASI/susu formula, kemudian bertahap diberikan bentuk makanan yang lebih bertekstur mulai dari lembut hingga lebih kasar sesuai dengan kemampuan/toleransinya.

Bila berat badan bayi mengalami penurunan, apalagi bila tren tersebut terjadi dalam 1 bulan atau bahkan lebih (berarti lebih dari sekali pengukuran), harus dicari penyebabnya. Sebaiknya segera bawa buah hati Anda ke dokter untuk dievaluasi lebih lanjut, apakah jumlah minum/makannya sudah mencukupi kalorinya, ataukah ada penyebab-penyebab lainnya seperti penyakit-penyakit/kelainan-kelainan tertentu. Ada banyak kemungkinan penyebabnya, di antaranya adalah:

1. Pola makan dan asupan nutrisi yang tidak seimbang dan adekuat

2. Pengetahuan orangtua tentang nutrisi untuk anak/bayi yang kurang

3. Kelainan sistem organ dalam tubuh seperti:

- Sistem pencernaannya (seperti refluks gastrointestinal, diare kronik/melanjut, kelainan anatomis bawaan, dan lain-lain),

- Sistem hormonal (defisiensi hormon pertumbuhan, gangguan kelenjar tiroid/hipotiroid, diabetes, dan lain-lain),

- Sistem imunologi (defisiensi imunitas, AIDS/HIV, alergi berat terhadap makanan tertentu sehingga penyerapannya terganggu, penyakit autoantibodi, dan lain-lain),

- Kelainan jantung bawaan,

- Penyakit kronis seperti kecacingan, tuberkulosis, dan sebagainya.

MENGENAL KMS

Untuk memudahkan mengenali status gizi bayi--- menurut berat badan, jenis kelamin, serta usia----maka standar ideal digambarkan dalam bentuk kurva yang biasanya terdapat pada kartu atau buku pantau tumbuh-kembang bayi dari puskesmas atau rumah sakit. Dengan mengetahui ukuran ideal, orangtua diharapkan bisa mengetahui status kesehataan si kecil.

Saat ini ada dua kurva pertumbuhan yang digunakan yakni kurva yang terdapat dalam Kartu Menuju Sehat (KMS) hasil rancangan Departemen Kesehatan dan yang dikeluarkan oleh National Center for Health Statistics (NCHS)/Centers for Disease Control (CDC) yang berasal dari Amerika Serikat. Perbedaannya, kurva pertumbuhan pada KMS hanya mencantumkan berat badan dan umur. Sedangkan pada kurva NCHS mencantumkan berat badan, tinggi badan, umur dan jenis kelamin. Jadi kurva NCHS memang lebih praktis dan mudah dibaca. Sayangnya, NCHS mengacu pada pertumbuhan anak-anak di Amerika (ras kaukasia).

Dengan kurva tersebut, orangtua tinggal menyesuaikan antara usia, jenis kelamin dan berat untuk me-ngetahui, apakah berat badan bayinya masuk ke dalam kurva normal, kurang atau berlebih. Pemantauan proses tumbuh kembang bayi ini perlu dilakukan setiap bulan, sehingga bila terjadi penyimpangan dari garis atau pita normal dapat diketahui dengan segera dan dilakukan antisipasi yang tepat.

MEMBACA KURVA

Untuk membaca kurva berat badan bayi versi NCHS atau KMS sebenarnya mudah. Langkah pertama adalah me-ngetahui berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) atau usia (dalam bulan) si bayi. Kemudian dengan berpedoman pada komponen tersebut, cobalah untuk mencari titik temunya pada kurva yang tersedia. Patut diperhatikan bila menggunakan kurva NCHS, pilihlah kurva yang sesuai dengan jenis kelamin bayi Anda. Sebab, kurva ini dibedakan antara bayi laki-laki dan perempuan.

Cobalah cermati, apakah sudah sesuai dengan garis/pita standar (normal) yang tersedia (biasanya berwarna hitam), ataukah trennya malah cenderung menuju ke bawah (garis merah). Bila penambahan BB, TB dan usia bayi sesuai atau berada pada garis/pita standar, itu berarti tumbuh kembangnya normal. Nah, sebaiknya orangtua wajib waspada bila tren grafiknya cenderung menuju ke bawah (garis merah).

Fluktuasi memang mungkin terjadi, namun bila masih dalam rentang yang normal tidak apa-apa. Tapi, tetap dianjurkan untuk meningkatkan pertambahan BB/TB sesuai dengan standar usianya. BB yang turun bukan melulu ada gangguan. Faktor genetik juga menentukan pertum-buhan si kecil. Artinya, pertambahan berat juga dapat dilihat bagaimana riwayat BB keluarganya. Maksudnya, bila orangtua memang berperawakan kurus bisa jadi anaknya pun akan memiliki perawakan yang sama dengan orangtuanya.

Utami Sri Rahayu. Foto: Iman/nakita

PERTAMBAHAN BERAT BAYI, BENARKAH TURUN NAIK?

Semua bayi dari ras-ras yang ada di dunia mengalami penurunan pertambahan berat badan di bulan-bulan tertentu.

"Dok, kenapa, ya, pertambahan berat badan bayi saya naik-turun? Bulan kemarin naik 650 gram. Eh, bulan ini naiknya cuma 350 gram. Saya khawatir terjadi apa-apa pada bayi saya," kata seorang ibu saat berkonsultasi dengan dokter anak.

Menanggapi kecemasan ibu tersebut, dr. Hanifah Oswari, Sp.A., menegaskan para orang tua untuk tidak terlalu khawatir terhadap pertambahan BB bayi yang naik-turun. Umumnya dalam waktu 2 minggu setelah lahir, BB bayi akan mengalami penurunan setidaknya sekitar 10 persen. Sebelumnya sewaktu lahir, badan bayi masih banyak mengandung air sehingga timbangannya lebih berat. Nah, dalam 2 minggu pertama itulah cairan berangsur-angsur keluar melalui saluran urin. "Ini proses yang alamiah, kok. Kebanyakan bayi akan mengalami penurunan BB," kata dokter dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Senada dengan Hanifah, penelitian yang dilakukan oleh Judith Groner juga menunjukkan bahwa dalam jangka waktu 1-2 minggu setelah lahir BB bayi akan turun sekitar 10 persen. Meski begitu, umumnya BB si kecil akan kembali seperti waktu lahir dalam beberapa pekan kemudian. Demikian hasil penelitian yang diungkapkan oleh asosiasi profesor bidang penyakit anak pada Fakultas Kedokteran, Columbus University, Ohio, Amerika Serikat.

KISARAN BB NORMAL

Bobot bayi baru lahir yang dikategorikan normal berada pada rentang 2.500 ­ 4.000 gram. Setelah itu, pertambahan bobotnya tentu akan berbeda-beda; ada yang tinggi dan ada yang rendah. Umpamanya, ada bayi yang penambahan BB-nya 600 gram per bulan. Namun, ada juga yang bertambah hanya sekitar 350 gram per bulan.

Kepastian apakah BB bayi normal atau tidak bisa dilihat dari kurva Lubchenko. Biasanya kurva ini dicantumkan dalam kartu menuju sehat (KMS) atau buku pantau tumbuh-kembang bayi yang bisa didapat di puskemas atau rumah sakit. Menurut kurva Lubchenko, ada 3 parameter utama untuk mengetahui pertumbuhan seorang bayi, yaitu bertambahnya berat badan, tinggi badan, dan ukuran lingkar kepala.

Pertambahan BB yang dikategorikan normal dibagi menjadi beberapa tahapan. Pada triwulan pertama, pertambahan BB sekitar 150-250 gram per bulan. Pada triwulan kedua sekitar 500-600 gram per bulan, sedangkan pada triwulan ketiga mencapai 350-450 gram per bulan. Lalu, pada triwulan keempat pertambahan BB berkisar antara 250-350 gram per bulan. Dari patokan di atas terlihat kalau dalam 3 bulan pertama setelah lahir, pertambahan BB berlangsung biasa-biasa saja. Kemudian, pada usia 3-6 bulan pertambahan BB terkesan melesat, dan mulai melambat saat usia di atas 6 bulan.

Yang ditekankan Hanifah, meski kenaikan BB-nya melambat, pertumbuhan anak sebenarnya berlangsung normal. Toh, sebenarnya bobot tersebut tetap mengalami penambahan walaupun lebih kecil ketimbang di bulan-bulan sebelumnya. Jadi, orang tua tak perlu khawatir. Memang, "Tak diketahui secara pasti kenapa pertambahan BB bayi menurun. Yang pasti, penelitian yang dilakukan terhadap sejumlah bayi normal dari berbagai ras juga menunjukkan hal yang sama," ujarnya.

Secara garis besar, saat menginjak usia 6 bulan, rata-rata BB bayi sudah mencapai 2 kali lipat BB lahirnya. Sedangkan di usia 1 tahun BB ini sudah mencapai 3 kali lipat berat lahir. Nah, selepas usia 1 tahun, pertambahan BB mulai melambat lagi. "Hal itu memang berlangsung secara alamiah dan normal. Tak usah terlalu dipusingkan kenapa kenaikan BB yang tadinya tinggi tiba-tiba menurun. Bagaimanapun, angka-angka itu sangat bersifat individual. Tiap anak berbeda-beda tak usah dibandingkan dengan bayi yang lain," tutur Hanifah.

BB TIDAK NORMAL

Dugaan bahwa ada yang tidak beres pada pertumbuhan si kecil pantas muncul bila grafik BB pada kurva terlihat menurun drastis. Apalagi jika nafsu makannya (termasuk keinginan untuk menyusu) juga terlihat menurun. Nah, untuk mendeteksi ketidaknormalan itu, Hanifah sekali lagi menekankan pentingnya mengamati data-data yang tercatat pada kurva Lubchenko. Jangan-jangan si kecil terserang penyakit.

Sebuah studi menunjukkan adanya keterkaitan antara perubahan BB dengan kondisi pertumbuhan anak. Jika BB tak bertambah sesuai dengan grafik normal maka kemungkinan anak tengah mengalami gangguan pertumbuhan. Nah, jika dalam 2 bulan berturut-turut si kecil tidak mengalami pertambahan berat atau malah turun secara drastis, waspadai kemungkinan adanya gangguan. Masalahnya, pada usia 0-2 tahun, sekitar 80 persen jaringan otak sedang terbentuk. Segeralah berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui dan memastikan kondisi si kecil.

Gangguan pertumbuhan ini bisa terjadi dalam waktu singkat maupun jangka panjang. Merosotnya BB dalam waktu singkat bisa disebabkan oleh menurunnya nafsu makan, penyakit, atau kurangnya asupan makanan pada bayi. Sedangkan, penurunan BB sedikit demi sedikit dalam rentang waktu yang tidak sebentar biasanya dipicu oleh kelainan gagal tumbuh. Gagal tumbuh merupakan ketidakmampuan bayi/anak untuk mencapai BB atau TB sesuai jalur pertumbuhan yang normal. Penyakit infeksi juga dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pertumbuhan pada anak.

PENTINGNYA GIZI

ASI, seperti ditandaskan dr. Rachmi Untoro, MPH, berperan besar pada pertambahan BB bayi. Penelitian membuktikan bayi yang mengonsumsi ASI pada 2 bulan pertama semenjak lahir, mengalami pertambahan BB yang lebih cepat ketimbang bayi yang mengonsumsi susu formula. 

Meski belum ada studi yang dapat menjawab dengan pasti mengapa dengan minum ASI pertambahan BB berlangsung lebih cepat, tapi riset menunjukkan anak yang minum ASI menghabiskan energi lebih sedikit dibandingkan anak yang minum susu formula. Itulah mungkin yang menjadi penyebab bobotnya cepat bertambah. Selain itu, dengan minum ASI bayi pada dasarnya akan lebih cepat lapar dan haus. Plus, tentu saja, ASI mengandung zat-zat terbaik untuk bayi.

Rachmi juga berpendapat kalau pertumbuhan bayi tidak bisa dilihat hanya berdasarkan perubahan BB dan PB-nya saja. Namun juga, perlu diperhatikan keseimbangan antara asupan dan kebutuhan gizinya. Jika keadaan gizi anak baik, barulah dapat dikatakan pertumbuhannya normal. Bukankah jika gizinya tak seimbang, pertumbuhan anak akan terganggu, seperti menjadi kurus, terlalu gemuk, atau pendek.

Kecukupan gizi sebenarnya sudah diperlukan bayi sejak di kandungan. Ibu hamil yang kurang menyantap makanan bergizi kemungkinan besar nantinya memiliki bayi dengan BB rendah dan sakit-sakitan. "Beberapa penelitian menunjukkan, bayi yang tak mendapat gizi cukup ketika masih dalam kandungan berisiko tinggi menderita penyakit degeneratif," papar Direktur Gizi Masyarakat Departemen Kesehatan ini. Contohnya, hipertensi, penyakit jantung, diabetes, dan gagal ginjal.

KATEGORI KURUS-GEMUK

Ada yang menyebutkan, bayi baru lahir dikatakan gemuk jika BB-nya mencapai lebih dari 3.500 gram. Atau sebaliknya, bayi yang lahir dengan BB 2.500 gram adalah kurus. Padahal kurus-gemuknya bayi tak bisa dilihat secara hitam putih seperti itu karena masing-masing menjalani proses tumbuh-kembang yang khas.

Kalaupun si kecil telihat gemuk atau kurus, tinggal dilihat saja apakah bobot tersebut masih sejalan dengan kurva pertambahan tinggi badan dan ukuran lingkar kepala yang normal. "Apakah bayi itu kurus atau gemuk tak cukup dilihat berdasarkan berat badannya, tapi bandingkan pula dengan pertumbuhan panjang badan setiap bulannya melalui kurva Lubchenko."

Untuk menyebut apakah anak kurus atau gemuk juga harus dengan melihat bagaimana riwayat berat badan keluarganya. Alasannya, faktor genetik juga menentukan pertumbuhan anak. Ada anak yang pertambahan BB-nya lambat tapi diiringi pertambahan tinggi badan yang cepat. Jadilah ia si kurus. Sebaliknya, ada anak yang pertambahan BB-nya cepat tapi pertambahan tinggi badannya lambat, maka ia disebut sebagai si gendut. Artinya, ada faktor X yang ikut mempengaruhi apakah si anak kelak tergolong gemuk atau kurus yaitu faktor genetik.

Yang perlu diketahui, lanjut Hanifah, di bawah usia 2 tahun, bayi atau anak yang gemuk belum bisa dibilang kegemukan. Gemuk dalam persepsi orang dewasa adalah kelebihan simpanan lemak. Lemak ini sebenarnya berfungsi sebagai cadangan energi. Jadi, kalaupun lemak si bayi tampak berlebih, bukan berarti ia menderita obesitas. Lantaran itulah, walaupun si bayi terlihat sangat gemuk, orang tua tak perlu mengurangi asupan makanannya. Contohnya, bayi yang lahir di atas 3.500 gram tidak bisa dikatakan gemuk karena itu baru BB awalnya.

Pengecualian bisa dilakukan bila memang orang tua memiliki riwayat obesitas. Kemungkinan besar, bayi bisa mengalami hal yang sama. Kalau sudah begini, porsi makan si kecil perlu diperhatikan. Namun, penyebab obesitas tak melulu faktor genetik. Bayi yang kurang aktif bergerak juga bisa mengalami kegemukan. Apalagi bila ia selalu makan terlalu banyak. Akibatnya, sel-sel lemaknya berkembang terlalu pesat sehingga mempercepat pembentukan lemak pada tubuhnya.

PERTAMBAHAN BB BAYI PREMATUR

Bagaimana dengan berat badan bayi prematur? Apakah pertambahannya akan lebih sedikit dibandingkan anak seusianya yang lahir cukup bulan? Biasanya, lanjut Hanifah, perlu waktu beberapa tahun agar pertambahan BB anak prematur berlangsung normal. "Karena ia dilahirkan lebih cepat, anak prematur perlu waktu untuk mengejar berat atau tinggi badan anak seusianya."

Riset menunjukkan pada usia 8 tahun anak prematur rata-rata akan mampu mengejar ketertinggalan pertambahan berat dan tingginya. Namun, hasil riset memaparkan anak prematur yang lahir saat usia kehamilan belum genap 32 minggu akan tetap memiliki bobot maupun tinggi badan yang lebih kecil dibanding teman seusianya yang lahir dengan cukup bulan. 

   
Jumlah Posts : 198
Jumlah di-Like : 10

MEMANTAU BERAT BADAN BAYI

Tumbuh kembang bayi dapat tercermin dari peningkatan berat badannya.

Ada banyak cara memantau kesehatan bayi. Tapi yang termudah dan terjelas adalah dengan mengukur kondisi fisiknya. Inilah yang dikenal dengan istilah pengukuran antropometri yang mencakup pengukuran berat badan, panjang (tinggi) badan, lingkar lengan, serta lingkar kepala.

Pembahasan kali ini diutamakan pada berat badan (BB) bayi yang kerap menjadi perhatian utama karena nyata terlihat. Namun, bukan berarti orangtua boleh mengabaikan tinggi (panjang) badan, lingkar lengan serta lingkar kepala lo. Ketiga komponen itu tetap harus mendapat perhatian karena juga dapat dijadikan sebagai tolok ukur kesehatan bayi.

Sajian rubrik Dunia Bayi minggu ini menyajikan kiat-kiat cara memantau berat badan bayi plus bagaimana menjaga agar BB si kecil bisa dalam standar ideal.

Selamat mambaca!

BB TURUN DULU LANTAS NAIK

Bila dicermati pada waktu 1-2 minggu setelah lahir, bobot bayi menyusut. Karena tubuhnya masih banyak mengandung air sebagai "oleh-oleh" dari dalam rahim. Dalam rentang waktu 1-2 minggu tersebut, cairan itu sedikit demi akan keluar melalui urine dan menurunkan bobot bayi secara otomatis. Tentu saja angka penurunannya tidak drastis. Dengan begitu, jika setelah 1-2 minggu kelahiran bayi, BB si kecil turun, itu merupakan hal alamiah. Jadi tak perlu terlalu dikhawatirkan.

Di minggu-minggu berikutnya, berat badan si kecil relatif meningkat, yakni sekitar 750-1.000 gram per bulannya. Setelah usia 3-6 bulan kenaikannya tidak sebesar itu, yaitu sekitar 500– 600 gram per bulan. Nah, di usia 6-9 bulan penambahan bobotnya semakin melambat, sekitar 350–450 gram per bulan. Begitu pula ketika si kecil berusia 9-12 bulan, penambahannya tak terlalu mencolok sekitar 150–250 gram per bulannya.

Ketika memasuki usia satu tahun, umumnya penambahan berat badan bayi mulai melambat lagi. Namun, bukan berarti terjadi penurunan. Beratnya tetap meningkat, hanya saja perlahan-lahan atau tidak sepesat sebelumnya. Yang jelas, orangtua tak perlu kaget atau khawatir. Itu artinya normal-normal saja. Toh, berbagai penelitian terhadap sejumlah bayi normal dari berbagai ras juga menunjukkan adanya penurunan berat badan di rentang usia 0-12 bulan.

KEBUTUHAN ENERGI & BERAT BADAN

Agar berat badan sang buah hati tetap mengalami peningkatan yang normal dan sesuai dengan pertambahan usianya, berikan ia asupan nutrisi yang adekuat dengan komposisi zat gizi yang seimbang. Maksudnya, makanan yang dikonsumsi hendaknya mengandung unsur karbohidrat, protein, lemak, serta vitamin-mineral yang cukup.

Patut diperhatikan bahwa tiap kelompok usia, kebutuhan energi anak berbeda-beda. Untuk bayi usia 0-6 bulan, kebutuhan energinya adalah 550 Kkal per hari. Sedangkan yang berusia 7-12 bulan, kebutuhan energinya adalah 650 Kkal. Tambahan lagi pada bayi, jenis makanan pun disesuaikan dengan kemampuannya saat itu. Contohnya, pada usia 0–6 bulan hanya minum ASI/susu formula, kemudian bertahap diberikan bentuk makanan yang lebih bertekstur mulai dari lembut hingga lebih kasar sesuai dengan kemampuan/toleransinya.

Bila berat badan bayi mengalami penurunan, apalagi bila tren tersebut terjadi dalam 1 bulan atau bahkan lebih (berarti lebih dari sekali pengukuran), harus dicari penyebabnya. Sebaiknya segera bawa buah hati Anda ke dokter untuk dievaluasi lebih lanjut, apakah jumlah minum/makannya sudah mencukupi kalorinya, ataukah ada penyebab-penyebab lainnya seperti penyakit-penyakit/kelainan-kelainan tertentu. Ada banyak kemungkinan penyebabnya, di antaranya adalah:

1. Pola makan dan asupan nutrisi yang tidak seimbang dan adekuat

2. Pengetahuan orangtua tentang nutrisi untuk anak/bayi yang kurang

3. Kelainan sistem organ dalam tubuh seperti:

- Sistem pencernaannya (seperti refluks gastrointestinal, diare kronik/melanjut, kelainan anatomis bawaan, dan lain-lain),

- Sistem hormonal (defisiensi hormon pertumbuhan, gangguan kelenjar tiroid/hipotiroid, diabetes, dan lain-lain),

- Sistem imunologi (defisiensi imunitas, AIDS/HIV, alergi berat terhadap makanan tertentu sehingga penyerapannya terganggu, penyakit autoantibodi, dan lain-lain),

- Kelainan jantung bawaan,

- Penyakit kronis seperti kecacingan, tuberkulosis, dan sebagainya.

MENGENAL KMS

Untuk memudahkan mengenali status gizi bayi--- menurut berat badan, jenis kelamin, serta usia----maka standar ideal digambarkan dalam bentuk kurva yang biasanya terdapat pada kartu atau buku pantau tumbuh-kembang bayi dari puskesmas atau rumah sakit. Dengan mengetahui ukuran ideal, orangtua diharapkan bisa mengetahui status kesehataan si kecil.

Saat ini ada dua kurva pertumbuhan yang digunakan yakni kurva yang terdapat dalam Kartu Menuju Sehat (KMS) hasil rancangan Departemen Kesehatan dan yang dikeluarkan oleh National Center for Health Statistics (NCHS)/Centers for Disease Control (CDC) yang berasal dari Amerika Serikat. Perbedaannya, kurva pertumbuhan pada KMS hanya mencantumkan berat badan dan umur. Sedangkan pada kurva NCHS mencantumkan berat badan, tinggi badan, umur dan jenis kelamin. Jadi kurva NCHS memang lebih praktis dan mudah dibaca. Sayangnya, NCHS mengacu pada pertumbuhan anak-anak di Amerika (ras kaukasia).

Dengan kurva tersebut, orangtua tinggal menyesuaikan antara usia, jenis kelamin dan berat untuk me-ngetahui, apakah berat badan bayinya masuk ke dalam kurva normal, kurang atau berlebih. Pemantauan proses tumbuh kembang bayi ini perlu dilakukan setiap bulan, sehingga bila terjadi penyimpangan dari garis atau pita normal dapat diketahui dengan segera dan dilakukan antisipasi yang tepat.

MEMBACA KURVA

Untuk membaca kurva berat badan bayi versi NCHS atau KMS sebenarnya mudah. Langkah pertama adalah me-ngetahui berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) atau usia (dalam bulan) si bayi. Kemudian dengan berpedoman pada komponen tersebut, cobalah untuk mencari titik temunya pada kurva yang tersedia. Patut diperhatikan bila menggunakan kurva NCHS, pilihlah kurva yang sesuai dengan jenis kelamin bayi Anda. Sebab, kurva ini dibedakan antara bayi laki-laki dan perempuan.

Cobalah cermati, apakah sudah sesuai dengan garis/pita standar (normal) yang tersedia (biasanya berwarna hitam), ataukah trennya malah cenderung menuju ke bawah (garis merah). Bila penambahan BB, TB dan usia bayi sesuai atau berada pada garis/pita standar, itu berarti tumbuh kembangnya normal. Nah, sebaiknya orangtua wajib waspada bila tren grafiknya cenderung menuju ke bawah (garis merah).

Fluktuasi memang mungkin terjadi, namun bila masih dalam rentang yang normal tidak apa-apa. Tapi, tetap dianjurkan untuk meningkatkan pertambahan BB/TB sesuai dengan standar usianya. BB yang turun bukan melulu ada gangguan. Faktor genetik juga menentukan pertum-buhan si kecil. Artinya, pertambahan berat juga dapat dilihat bagaimana riwayat BB keluarganya. Maksudnya, bila orangtua memang berperawakan kurus bisa jadi anaknya pun akan memiliki perawakan yang sama dengan orangtuanya.

Utami Sri Rahayu. Foto: Iman/nakita

PERTAMBAHAN BERAT BAYI, BENARKAH TURUN NAIK?

Semua bayi dari ras-ras yang ada di dunia mengalami penurunan pertambahan berat badan di bulan-bulan tertentu.

"Dok, kenapa, ya, pertambahan berat badan bayi saya naik-turun? Bulan kemarin naik 650 gram. Eh, bulan ini naiknya cuma 350 gram. Saya khawatir terjadi apa-apa pada bayi saya," kata seorang ibu saat berkonsultasi dengan dokter anak.

Menanggapi kecemasan ibu tersebut, dr. Hanifah Oswari, Sp.A., menegaskan para orang tua untuk tidak terlalu khawatir terhadap pertambahan BB bayi yang naik-turun. Umumnya dalam waktu 2 minggu setelah lahir, BB bayi akan mengalami penurunan setidaknya sekitar 10 persen. Sebelumnya sewaktu lahir, badan bayi masih banyak mengandung air sehingga timbangannya lebih berat. Nah, dalam 2 minggu pertama itulah cairan berangsur-angsur keluar melalui saluran urin. "Ini proses yang alamiah, kok. Kebanyakan bayi akan mengalami penurunan BB," kata dokter dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Senada dengan Hanifah, penelitian yang dilakukan oleh Judith Groner juga menunjukkan bahwa dalam jangka waktu 1-2 minggu setelah lahir BB bayi akan turun sekitar 10 persen. Meski begitu, umumnya BB si kecil akan kembali seperti waktu lahir dalam beberapa pekan kemudian. Demikian hasil penelitian yang diungkapkan oleh asosiasi profesor bidang penyakit anak pada Fakultas Kedokteran, Columbus University, Ohio, Amerika Serikat.

KISARAN BB NORMAL

Bobot bayi baru lahir yang dikategorikan normal berada pada rentang 2.500 ­ 4.000 gram. Setelah itu, pertambahan bobotnya tentu akan berbeda-beda; ada yang tinggi dan ada yang rendah. Umpamanya, ada bayi yang penambahan BB-nya 600 gram per bulan. Namun, ada juga yang bertambah hanya sekitar 350 gram per bulan.

Kepastian apakah BB bayi normal atau tidak bisa dilihat dari kurva Lubchenko. Biasanya kurva ini dicantumkan dalam kartu menuju sehat (KMS) atau buku pantau tumbuh-kembang bayi yang bisa didapat di puskemas atau rumah sakit. Menurut kurva Lubchenko, ada 3 parameter utama untuk mengetahui pertumbuhan seorang bayi, yaitu bertambahnya berat badan, tinggi badan, dan ukuran lingkar kepala.

Pertambahan BB yang dikategorikan normal dibagi menjadi beberapa tahapan. Pada triwulan pertama, pertambahan BB sekitar 150-250 gram per bulan. Pada triwulan kedua sekitar 500-600 gram per bulan, sedangkan pada triwulan ketiga mencapai 350-450 gram per bulan. Lalu, pada triwulan keempat pertambahan BB berkisar antara 250-350 gram per bulan. Dari patokan di atas terlihat kalau dalam 3 bulan pertama setelah lahir, pertambahan BB berlangsung biasa-biasa saja. Kemudian, pada usia 3-6 bulan pertambahan BB terkesan melesat, dan mulai melambat saat usia di atas 6 bulan.

Yang ditekankan Hanifah, meski kenaikan BB-nya melambat, pertumbuhan anak sebenarnya berlangsung normal. Toh, sebenarnya bobot tersebut tetap mengalami penambahan walaupun lebih kecil ketimbang di bulan-bulan sebelumnya. Jadi, orang tua tak perlu khawatir. Memang, "Tak diketahui secara pasti kenapa pertambahan BB bayi menurun. Yang pasti, penelitian yang dilakukan terhadap sejumlah bayi normal dari berbagai ras juga menunjukkan hal yang sama," ujarnya.

Secara garis besar, saat menginjak usia 6 bulan, rata-rata BB bayi sudah mencapai 2 kali lipat BB lahirnya. Sedangkan di usia 1 tahun BB ini sudah mencapai 3 kali lipat berat lahir. Nah, selepas usia 1 tahun, pertambahan BB mulai melambat lagi. "Hal itu memang berlangsung secara alamiah dan normal. Tak usah terlalu dipusingkan kenapa kenaikan BB yang tadinya tinggi tiba-tiba menurun. Bagaimanapun, angka-angka itu sangat bersifat individual. Tiap anak berbeda-beda tak usah dibandingkan dengan bayi yang lain," tutur Hanifah.

BB TIDAK NORMAL

Dugaan bahwa ada yang tidak beres pada pertumbuhan si kecil pantas muncul bila grafik BB pada kurva terlihat menurun drastis. Apalagi jika nafsu makannya (termasuk keinginan untuk menyusu) juga terlihat menurun. Nah, untuk mendeteksi ketidaknormalan itu, Hanifah sekali lagi menekankan pentingnya mengamati data-data yang tercatat pada kurva Lubchenko. Jangan-jangan si kecil terserang penyakit.

Sebuah studi menunjukkan adanya keterkaitan antara perubahan BB dengan kondisi pertumbuhan anak. Jika BB tak bertambah sesuai dengan grafik normal maka kemungkinan anak tengah mengalami gangguan pertumbuhan. Nah, jika dalam 2 bulan berturut-turut si kecil tidak mengalami pertambahan berat atau malah turun secara drastis, waspadai kemungkinan adanya gangguan. Masalahnya, pada usia 0-2 tahun, sekitar 80 persen jaringan otak sedang terbentuk. Segeralah berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui dan memastikan kondisi si kecil.

Gangguan pertumbuhan ini bisa terjadi dalam waktu singkat maupun jangka panjang. Merosotnya BB dalam waktu singkat bisa disebabkan oleh menurunnya nafsu makan, penyakit, atau kurangnya asupan makanan pada bayi. Sedangkan, penurunan BB sedikit demi sedikit dalam rentang waktu yang tidak sebentar biasanya dipicu oleh kelainan gagal tumbuh. Gagal tumbuh merupakan ketidakmampuan bayi/anak untuk mencapai BB atau TB sesuai jalur pertumbuhan yang normal. Penyakit infeksi juga dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pertumbuhan pada anak.

PENTINGNYA GIZI

ASI, seperti ditandaskan dr. Rachmi Untoro, MPH, berperan besar pada pertambahan BB bayi. Penelitian membuktikan bayi yang mengonsumsi ASI pada 2 bulan pertama semenjak lahir, mengalami pertambahan BB yang lebih cepat ketimbang bayi yang mengonsumsi susu formula. 

Meski belum ada studi yang dapat menjawab dengan pasti mengapa dengan minum ASI pertambahan BB berlangsung lebih cepat, tapi riset menunjukkan anak yang minum ASI menghabiskan energi lebih sedikit dibandingkan anak yang minum susu formula. Itulah mungkin yang menjadi penyebab bobotnya cepat bertambah. Selain itu, dengan minum ASI bayi pada dasarnya akan lebih cepat lapar dan haus. Plus, tentu saja, ASI mengandung zat-zat terbaik untuk bayi.

Rachmi juga berpendapat kalau pertumbuhan bayi tidak bisa dilihat hanya berdasarkan perubahan BB dan PB-nya saja. Namun juga, perlu diperhatikan keseimbangan antara asupan dan kebutuhan gizinya. Jika keadaan gizi anak baik, barulah dapat dikatakan pertumbuhannya normal. Bukankah jika gizinya tak seimbang, pertumbuhan anak akan terganggu, seperti menjadi kurus, terlalu gemuk, atau pendek.

Kecukupan gizi sebenarnya sudah diperlukan bayi sejak di kandungan. Ibu hamil yang kurang menyantap makanan bergizi kemungkinan besar nantinya memiliki bayi dengan BB rendah dan sakit-sakitan. "Beberapa penelitian menunjukkan, bayi yang tak mendapat gizi cukup ketika masih dalam kandungan berisiko tinggi menderita penyakit degeneratif," papar Direktur Gizi Masyarakat Departemen Kesehatan ini. Contohnya, hipertensi, penyakit jantung, diabetes, dan gagal ginjal.

KATEGORI KURUS-GEMUK

Ada yang menyebutkan, bayi baru lahir dikatakan gemuk jika BB-nya mencapai lebih dari 3.500 gram. Atau sebaliknya, bayi yang lahir dengan BB 2.500 gram adalah kurus. Padahal kurus-gemuknya bayi tak bisa dilihat secara hitam putih seperti itu karena masing-masing menjalani proses tumbuh-kembang yang khas.

Kalaupun si kecil telihat gemuk atau kurus, tinggal dilihat saja apakah bobot tersebut masih sejalan dengan kurva pertambahan tinggi badan dan ukuran lingkar kepala yang normal. "Apakah bayi itu kurus atau gemuk tak cukup dilihat berdasarkan berat badannya, tapi bandingkan pula dengan pertumbuhan panjang badan setiap bulannya melalui kurva Lubchenko."

Untuk menyebut apakah anak kurus atau gemuk juga harus dengan melihat bagaimana riwayat berat badan keluarganya. Alasannya, faktor genetik juga menentukan pertumbuhan anak. Ada anak yang pertambahan BB-nya lambat tapi diiringi pertambahan tinggi badan yang cepat. Jadilah ia si kurus. Sebaliknya, ada anak yang pertambahan BB-nya cepat tapi pertambahan tinggi badannya lambat, maka ia disebut sebagai si gendut. Artinya, ada faktor X yang ikut mempengaruhi apakah si anak kelak tergolong gemuk atau kurus yaitu faktor genetik.

Yang perlu diketahui, lanjut Hanifah, di bawah usia 2 tahun, bayi atau anak yang gemuk belum bisa dibilang kegemukan. Gemuk dalam persepsi orang dewasa adalah kelebihan simpanan lemak. Lemak ini sebenarnya berfungsi sebagai cadangan energi. Jadi, kalaupun lemak si bayi tampak berlebih, bukan berarti ia menderita obesitas. Lantaran itulah, walaupun si bayi terlihat sangat gemuk, orang tua tak perlu mengurangi asupan makanannya. Contohnya, bayi yang lahir di atas 3.500 gram tidak bisa dikatakan gemuk karena itu baru BB awalnya.

Pengecualian bisa dilakukan bila memang orang tua memiliki riwayat obesitas. Kemungkinan besar, bayi bisa mengalami hal yang sama. Kalau sudah begini, porsi makan si kecil perlu diperhatikan. Namun, penyebab obesitas tak melulu faktor genetik. Bayi yang kurang aktif bergerak juga bisa mengalami kegemukan. Apalagi bila ia selalu makan terlalu banyak. Akibatnya, sel-sel lemaknya berkembang terlalu pesat sehingga mempercepat pembentukan lemak pada tubuhnya.

PERTAMBAHAN BB BAYI PREMATUR

Bagaimana dengan berat badan bayi prematur? Apakah pertambahannya akan lebih sedikit dibandingkan anak seusianya yang lahir cukup bulan? Biasanya, lanjut Hanifah, perlu waktu beberapa tahun agar pertambahan BB anak prematur berlangsung normal. "Karena ia dilahirkan lebih cepat, anak prematur perlu waktu untuk mengejar berat atau tinggi badan anak seusianya."

Riset menunjukkan pada usia 8 tahun anak prematur rata-rata akan mampu mengejar ketertinggalan pertambahan berat dan tingginya. Namun, hasil riset memaparkan anak prematur yang lahir saat usia kehamilan belum genap 32 minggu akan tetap memiliki bobot maupun tinggi badan yang lebih kecil dibanding teman seusianya yang lahir dengan cukup bulan. 

   
Jumlah Posts : 34
Jumlah di-Like : 4
Cuma sekedar info untuk pertimbangan bunda2 yang ingin menyapih di usia 2 tahun... Cara terbaik buat anak justru self weaning lhooo.... biarkan dia menyapih dirinya sendiri... Lalu mengenai usia 2 tahun adalah usia dimana anak HARUS DISAPIH, gak sepenuhnya benar lho... Kalau ada anggapan anak akan jadi manja dan gak mandiri kalau gak disapih, trus ASI udah gak oke lagi kualitasnya, itu juga gak sepenuhnya benar. Tapi memang sebaiknya, mulai menyapih di usia 2 tahun. Tapi ya itu tadi, self weaning is the best! Jadi lebih baik don't refuse and don't offer... Jangan dipaksa... Ini ada surat terbuka kepada Tabloid Nakita dari Mbak Luluk, pemerhati masalah ASI dan kesehatan anak, menanggapi pendapat yang menyatakan ASI maksimum diberikan hingga usia 2 tahun... Mudah2an bermanfaat...   Date: Fri, 7 Oct 2005 09:05:34 +0700 (WIT)
From: "Luluk Lely Soraya I"
Subject: Surat Terbuka utk Tabloid Nakita (Perihal Menyusui & menyapih)

Dear Redaksi Nakita Yth., Saya adalah pembaca setia tabloid Nakita. Saya selalu tertarik ttg topik-topik bahasan Nakita. Terutama bahasan tentang ASI & menyusui.

Beberapa edisi yg lalu, tepatnya edisi Nakita No. 331 th VII, saya terusik dengan tulisan dari Ibu Dra. Mayke Tedjasaputra sebagai psikolog di rubrikKonsultasi Ahli. Saat itu ada seorang pembaca yg menanyakan mengenaiapakah anaknya harus disapih saat berumur 2 th.
Dan jawaban dari ibu Mayke adalah :

“Justru bila anak disapih pada usia yang seharusnya (maksimum 2 tahun) merupakan tindakan yang tepat, karena pada saat ini orang tua sekaligus melatih anak untuk mandiri dan anak belajar untuk tidak selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. “

Ini memang bukan kali pertama saya membaca ulasan dari beliau ataupun Ahli lain di Nakita tentang pentingnya menyapih anak di usia 2 th atau < 2 th agar anak tidak manja dan lebih mandiri. Bahkan di salah satu bahasan Nakita (artikel “Saat dan cara tepat menyapih si kecil” Nakita No. 01016) tentang hal ini psikolog lain menyampaikan agar anak disapih
minimal di usia 1-2 th, karena jika anak terus disusui terutama > 2 thakan menyebabkan gangguan psikis pada anak seperti ke penyimpangan seksual.

Masih dalam artikel yg sama seorang dokter anak juga menyampaikan bahwa menyapih sebaiknya dilakukan minimal di usia setahun tapi jangan sampai lebih dari 2 tahun. Sebab, terangnya, "Semakin bertambah usia, kualitas ASI juga sudah tak bagus lagi."

Membaca tulisan2 tsb saya sebagai ibu dari seorang putri amat khawatir dg masa menyusui anak & masa menyapihnya. Dan saya yakin ribuan ibu & ayah pembaca Nakita juga mengalami keresahan yg sama.
Satu pertanyaan besar dalam benak saya, atas dasar apa ya para ahli tsb mengeluarkan pernyataan spt itu ?! Apakah memang sudah pernah dilakukan penelitian atas hal tsb atau bagaimanakah ?! Bukankah dalam dunia medis juga dunia perkembangan anak, segala pernyataan harus didukung bukti-bukti akurat dapat berupa hasil penelitian yg akurat. Sehingga tidak terjadi misconception di masyarakat.
Karena hal itu saya mencoba browsing mencari informasi yg tepat danupdating info terkini ttg ASI & menyusui. Ternyata apa yg saya dapatkan sangat berbeda sekali dg yg disampaikan para pakar di Nakita.

Saya yakin Redaksi Nakita pasti ingin memberikan yg terbaik utk pembacanya. Karena itu ijinkan saya utk menyampaikan hasil browsing saya dari berbagai sumber terpercaya mengenai “Benarkah anak yg disusui > 2 th akan membuatnya tidak mandiri dan mengalami gangguan psikis dari segi medis ataupun psikologis ?”

Fakta 1. WHO & UNICEF tidak pernah mengeluarkan pernyataan bahwa menyusui anak > 2th akan berdampak buruk bagi anak.

Pada th 2001 di Geneva, WHO & UNICEF menyampaikan satu statement resmi
bahwa tiap ibu di-encourage utk menyusui bayinya secara eksklusif di 6 bl pertama kehidupannya, kemudian ASI terus dilanjutkan bersamaan dg MPASI hingga anak berusia 2 tahun atau LEBIH, SELAMA IBU & ANAK SALING MENGINGINKANNYA (1) .
Dalam tiap bahasan artikel-artikel WHO ttg ASI & menyusui, pernyataan tersebut selalu diulang-ulang. Tidak pernah ada batasan khusus bahwa ASI harus distop saat anak masuk usia 2 th. Jika menyusui anak > 2th memiliki dampak buruk bagi anak (spt anak jadi manja bahkan mengalami gangguan psikologis, gizi ASI utk anak > 1th jelek, dsbnya) tentu WHO sebagai “kiblat” dari dunia medis TIDAK AKAN mengeluarkan statement spt diatas.
Saya yakin sekali bahwa tiap statement yg dikeluarkan oleh WHO & UNICEF bukan hanya sekedar hasil pemikiran satu atau sekelompok orang saja.
Tapi pernyataan tsb didukung oleh berbagai penelitian yg hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.

Fakta 2. Tidak benar jika kualitas ASI > 1 th sudah tidak bagus lagi.
Memang betul saat anak > 1th, ASI bukan lagi kebutuhan utama baginya.
Namun bukan berarti tidak ada nilai gizinya. Berdasarkan penelitian dilakukan pakar2 laktasi di WHO menyatakan bahwa ASI > 1 th tetap kaya akan nutrisi yang tidak ternilai harganya.

Breastfeeding your toddler can provide:
31% of his daily energy needs,
38% of protein requirements,
45% of Vitamin A requirements, and
95% of Vitamin C needs.

Source: WHO/CDR/93.4 (2)

Bahkan menurut penelitian Goldman et. Al, kandungan zat imun dalam ASI makin tinggi seiring dengan bertambahnya usia bayi. (3).

Menyusui utk anak > 1 th atau > 2th tetap memberikan manfaat tidak hanyutk anak, tetapi juga utk ibu. (4)

Fakta 3. Tidak benar bahwa secara psikologis, menyusui > 2th akan membuat anak jadi tidak mandiri, apalagi beresiko membuatnya mengalami penyimpangan seksual.
Tidak pernah ada penelitian yg berhasil membuktikan statement di atas. Bahkan American Academy of Pediatrics (AAP) , semacam IDAI nya Amerika, merekomendasikan : "Susuilah anak di tahun pertamanya dan susuilah terus selama ibu dan anak saling menginginkan…Makin lama ibu menyusui anaknya,makin memberikan keuntungan bagi ibu dan anak dari segi kesehatannya dan perkembangannya……Tidak ada batasan pasti kapan anak harus berhenti menyusu dari ibunya. Dan TIDAK ADA BUKTI bahwa menyusui anak-anak > 2 th akan membuatnya terganggu secara psikologis ataupun." (AAP 2005).

Sementara itu penelitian yg dilakukan Sally Kneidel in "Nursing Beyond One Year" (New Beginnings, Vol. 6 No. 4, July-August 1990, pp. 99-103) (5) menyimpulkan bahwa anak-anak yang menyapih dirinya sendiri memiliki rasa sosial dan kemandirian yang jauh lebih baik dari mereka yang disapih secara paksa. Ferguson et al 1987 juga melakukan penelitian pada anak usia 6-8 th. Bahwa ternyata anak2 tsb disusui oleh ibunya hingga usia > 2th dan mereka memiliki social adjustment (adaptasi sosial) yang sangat baik.

Banyak ahli laktasi menyarankan agar menyusui anak > 1th membantunya menemukan rasa percaya dirinya dsbnya. Jadi menyusui di usia ini justru memenuhi kebutuhan psikologisnya. Tentu saja saja komunikasi selama masa menyusui ini adalah kunci dari ikatan kuat antara ibu-anak.

Fakta 4. Karena tidak ada batasan kapan anak harus disapih, maka biarkanlah ibu & anak yg memutuskannya.
Yg dapat dilakukan oleh para ahli medis & ahli laktasi adalah memberikan saran bagaimana cara menyapih yg terbaik. Bahwa menyapih dg memberikan jamu pahit ke putting payudara ibu, atau melarang anak utk menyusu lagi secara drastis, dan berbagai cara menyapih yang sering disampaikan hanya akan menodai bonding yg begitu indah terjalin selama masa menyusui.
Bahwa betul Nakita pernah menulis ttg cara menyapih secara perlahan seperti Yg ditulis dalam artikel “Lewat usia 2 tahun masih menyusu ibu”. Namun cara menyapih yang paling tepat adalah dg strateg I “do & don't”. Jangan menolak jika anak ingin menyusu, tapi jangan tawarkan jika ia tidak ingin menyusu. Dan hal yg paling penting tapi sering terlupakan dalam masa menyapih adalah KOMUNIKASI. Ajaklah anak utk diskusi tentang rencana menyapih dsbnya. Berapapun kecil usia si anak.

Semoga ulasan tersebut dapat membantu menyeimbangkan informasi yg telah ada. Saya juga lampirkan tulisan saya tentang bahasan diatas untuk dapat dapat dipertimbangkan dimuat di Nakita.

Semoga Nakita makin berjaya dan makin memberikan yg terbaik utk pembacanya.


Terima kasih.

Luluk Lely Soraya Ichwan
Pemerhati masalah ASI & kesehatan keluarga

Referensi :

(1) WHO. Global Strategy for Infant and Young Child Feeding. 2001WHA55/2002/REC/1.
(2) WHO. 2004. ”Infant Feeding in emergencies : A guide for mothers”(www.who.int)
(3) Kelly Bonyata, BS, IBCLC ”Extended Breastfeeding Fact Sheet”
(http://www.kellymom.com/bf/bfextended/ebf-benefits.html)
(4) Jack Newman, MD, FRCPC. ”Breastfeed a Toddler—Why on Earth? ”
(http://www.kellymom.com/newman/bf_toddler_01-03.html)
(5) Lalecheleague International, ”What are the benefits of breastfeeding my toddler?” (http://www.lalecheleague.org/FAQ/advantagetoddler.html)
(6) Lalecheleague : “Nursing Beyond One Year”
(http://www.lalecheleague.org/NB/NBJulAug90p99.html)
(7) Nursing Past Infancy and Into Toddlerhood
(http://www.breastfeed-essentials.com/nursetoddler.html)
(8) Ahn, C H and MacLean, W C. Growth of the exclusively breastfed infant. Am J Clin Nutr 1980; 33:183-92.
(9) Briend, A. et al. Breast feeding, nutritional state, and child survival in rural Bangladesh. Br Med J 1988; 296:879-82.
(10) Ferguson, D. M. et al. Breastfeeding and subsequent social adjustment in six- to eight-year-old children. J Child Psychol Psychiatr Allied Discip 1987; 28:378-86.
(11) Goldman, A. S. et al. Immunologic components in human milk during the second year of lactation. Acta F'aediatr Scand 1983; 722:133-34.
(12) Guilick, E. E. Effects of Breastfeeding on Infant Health. Pediatr Nurs 1986; 12(1): 51-54.
(13) Jelliffe, D. B. and Jelliffe, E. F. P. The volume and composition
of human milk in poorly nourished communities. A review. Am J Clin Nutr 1978;31:492-509.
(14) Rohde, J. E. Breastfeeding beyond twelve months. Lancet 1988; 2:1016.
(15) Savilahti, V. M. et al . Prolonged exclusive breast feeding and
heredity as determinants in infantile atopy. Arch Dis Child 1987; 62269-73.
(16) Shattock, F M. and Stephens, A. J. H. Duration of breastfeeding.Lancet 1975; 1:113-114.
(17) Tangermann, R. H. et al. Breastfeeding beyond twelve months. Lancet 1988; 2:1016.
(18) Underwood, B. A. Weaning practices in deprived environments: theweaning dilemma. Pediatr 1985; 75:194-98.
(19) Victora, C. G. et al. Is prolonged breastfeeding associated withmalnutrition? Am J Clin Nutr 1984; 39:307-14.
(20) Waletzky, L. R. Breastfeeding and weaning: some psychologicalconsiderations. Primary Care 1979; 6:341-55.
(21) Whitehead, R. G. The human weaning process. Pediatr 1985; 75: 189-93.    
   
28-02-2008 16:32:28 LASY
Jumlah Posts : 9
Jumlah di-Like : 1
Halo semua,
Lasy adalah mainan edukasi yang diciptakan di jerman, dan telah mendunia, seperti LEGO.
Ini ada kutipan dari koran suara merdeka, semarang:

Lasy, sejak diciptakan kali pertama tahun 1971 oleh Peter Lawrs, memang telah didesain untuk permainan yang mengembangkan kreativitas anak. Awalnya, distribusi balok-balok permainan lasy hanya beredar di beberapa tempat yang terbatas. Namun, ketika tahun 1978 produsen pengembangnya maju pesat, secara resmi berdiri Lasy GmbH.
Dalam perkembangannya, Lasy GmbH yang berpusat di Jerman dan Swiss telah memiliki lebih dari 160 produk yang dipatenkan di 38 negara. Tak cuma itu, inovasi baru selalu dilakukan untuk menciptakan jenis-jenis baru.
Bolehlah disebutkan, permainan lasy pesat berkembang, tentu saja dengan produk-produknya. Hal itu karena keniscayaannya dalam memunculkan kreativitas. Kreativitas itu terbangun lewat balok-balok plastik dengan warna-warna meriah yang disukai anak-anak. Anak-anak mana yang tak suka melihat balok-balok lasy dari pastik dengan warna-warna yang cerah?
Boleh jadi karena memunculkan kreativitas, permainan seperti itu digemari anak-anak. Betapapun produknya berharga agak mahal, tak sedikit orang tua yang merelakan uangnya demi memberikan mainan yang bermanfaat bagi anaknya.
''Daripada membelikan mainan yang sudah jadi tetapi tak awet, lebih baik saya belikan lasy. Mahal memang, tetapi kan anak saya bisa memuat apa saja,'' ujar Ny Sri (42), yang dijumpai baru membelikan satu set lasy di Kids Station Java Supermall, Semarang.
Alasan serupa juga dikemukakan Ny Joko (35), yang beberapa bulan lalu membelikan satu set untuk anaknya yang berusia lima tahun. ''Paling menyenangkan kalau anakku sedang membuat sesuatu dari balok-balok itu. Wah, cerewetnya minta ampun. Fantasinya ke mana-mana.''
Sekadar informasi, di Semarang beberapa waktu lalu memang ada kegandrungan terhadap permainan itu. Beberapa lomba lasy digelar untuk anak-anak prasekolah dan TK. Meskipun tak banyak dijumpai, beberapa gerai permainan anak di kota ini pun menunjukkan minatnya untuk menyediakan paket lasy. Dan, sambutannya pun cenderung bagus.
''Ya, memang sejak kami menyediakan produk itu, yang berminat cukup banyak,'' tutur Agus Susilo, pramuniaga di Kids Station di Java Supermall.
Yang menarik, pada setiap lomba, seolah-olah pengunjung diberi banyak cerita mengenai bagaimana anak-anak itu membangun fantasi dan imajinasinya lewat balok-balok tersebut. Tak termungkiri lagi, permainan itu diakui sebagai permainan berkualitas yang menumbuhkan daya kreatif.
Lihat misalnya yang diadakan di Hotel Graha Santika, dalam perayaan Natal tahun lalu. Hotel tersebut menyelenggarakan lomba lasy yang terbuka untuk anak-anak di bawah usia sembilan tahun. Ketika lomba berlangsung, suasana begitu meriah oleh celoteh anak seraya tangan mereka asyik menyusun balok dan membentuknya menjadi benda-benda tertentu seperti pesawat terbang, kapal api, dan mobil-mobilan.
Keistimewaan balok lasy lainnya, anak-anak itu bisa segera mengubah benda ciptaannya kalau benda terdahulu tidak memuaskan. Di ruang lomba itu pun dijumpai anak-anak yang mengubah kreasinya dan dengan cepat menciptakan benda lain.
Nilai positif permainan lasy juga dibenarkan Kak Seto, psikolog yang khusus berkenaan dengan dunia anak. Dihubungi via telepon dia mengatakan, permainan lasy pada prinsipnya memang sangat bagus karena merangsang kreativitas anak.
Dia juga bercerita, telah bertemu dengan Peter Lawrs, pencipta permainan itu. Peter memang mengungkapkan kreasinya sebagai penyempurnaan dari permainan hampir serupa yang ada sebelumnya. Apalagi memang produknya dibuat dari plastik khusus dan dipercantik dengan warna-warna cerah, sehingga tak berbahaya bagi anak-anak. (Saroni Asikin-74k)

semoga cukup jelas untuk lihat gambarnya silahkan ke:

http://lontongopor.googlepages.com/

thank's

yenny
   
Jumlah Posts : 43
Jumlah di-Like : belum ada like
salam kenal semuanya, aq skrg lgi hamil stelah bln des mengalami keguguran di usia 3 bln. anak pertama aq sdh 4 tahun dan pd saat proses persalinan SC, nah utk kehamilan skrg aq pengen bgt bisa normal persalinan nya.
bisa ga y? minta tips n triknya mom..
mksih..