SITE STATUS
Jumlah Member :
493.715 member
user online :
1071 member
pageview's per day :
Over 100.000(!) page views
Kalkulator kesuburan
Masukan tanggal hari pertama bunda mengalami menstruasi

forum

Cari: cara agar anak tidak ngompol trus usia 1

New Topic :  
Jumlah Posts : 34
Jumlah di-Like : 4
Cuma sekedar info untuk pertimbangan bunda2 yang ingin menyapih di usia 2 tahun... Cara terbaik buat anak justru self weaning lhooo.... biarkan dia menyapih dirinya sendiri... Lalu mengenai usia 2 tahun adalah usia dimana anak HARUS DISAPIH, gak sepenuhnya benar lho... Kalau ada anggapan anak akan jadi manja dan gak mandiri kalau gak disapih, trus ASI udah gak oke lagi kualitasnya, itu juga gak sepenuhnya benar. Tapi memang sebaiknya, mulai menyapih di usia 2 tahun. Tapi ya itu tadi, self weaning is the best! Jadi lebih baik don't refuse and don't offer... Jangan dipaksa... Ini ada surat terbuka kepada Tabloid Nakita dari Mbak Luluk, pemerhati masalah ASI dan kesehatan anak, menanggapi pendapat yang menyatakan ASI maksimum diberikan hingga usia 2 tahun... Mudah2an bermanfaat...   Date: Fri, 7 Oct 2005 09:05:34 +0700 (WIT)
From: "Luluk Lely Soraya I"
Subject: Surat Terbuka utk Tabloid Nakita (Perihal Menyusui & menyapih)

Dear Redaksi Nakita Yth., Saya adalah pembaca setia tabloid Nakita. Saya selalu tertarik ttg topik-topik bahasan Nakita. Terutama bahasan tentang ASI & menyusui.

Beberapa edisi yg lalu, tepatnya edisi Nakita No. 331 th VII, saya terusik dengan tulisan dari Ibu Dra. Mayke Tedjasaputra sebagai psikolog di rubrikKonsultasi Ahli. Saat itu ada seorang pembaca yg menanyakan mengenaiapakah anaknya harus disapih saat berumur 2 th.
Dan jawaban dari ibu Mayke adalah :

“Justru bila anak disapih pada usia yang seharusnya (maksimum 2 tahun) merupakan tindakan yang tepat, karena pada saat ini orang tua sekaligus melatih anak untuk mandiri dan anak belajar untuk tidak selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. “

Ini memang bukan kali pertama saya membaca ulasan dari beliau ataupun Ahli lain di Nakita tentang pentingnya menyapih anak di usia 2 th atau < 2 th agar anak tidak manja dan lebih mandiri. Bahkan di salah satu bahasan Nakita (artikel “Saat dan cara tepat menyapih si kecil” Nakita No. 01016) tentang hal ini psikolog lain menyampaikan agar anak disapih
minimal di usia 1-2 th, karena jika anak terus disusui terutama > 2 thakan menyebabkan gangguan psikis pada anak seperti ke penyimpangan seksual.

Masih dalam artikel yg sama seorang dokter anak juga menyampaikan bahwa menyapih sebaiknya dilakukan minimal di usia setahun tapi jangan sampai lebih dari 2 tahun. Sebab, terangnya, "Semakin bertambah usia, kualitas ASI juga sudah tak bagus lagi."

Membaca tulisan2 tsb saya sebagai ibu dari seorang putri amat khawatir dg masa menyusui anak & masa menyapihnya. Dan saya yakin ribuan ibu & ayah pembaca Nakita juga mengalami keresahan yg sama.
Satu pertanyaan besar dalam benak saya, atas dasar apa ya para ahli tsb mengeluarkan pernyataan spt itu ?! Apakah memang sudah pernah dilakukan penelitian atas hal tsb atau bagaimanakah ?! Bukankah dalam dunia medis juga dunia perkembangan anak, segala pernyataan harus didukung bukti-bukti akurat dapat berupa hasil penelitian yg akurat. Sehingga tidak terjadi misconception di masyarakat.
Karena hal itu saya mencoba browsing mencari informasi yg tepat danupdating info terkini ttg ASI & menyusui. Ternyata apa yg saya dapatkan sangat berbeda sekali dg yg disampaikan para pakar di Nakita.

Saya yakin Redaksi Nakita pasti ingin memberikan yg terbaik utk pembacanya. Karena itu ijinkan saya utk menyampaikan hasil browsing saya dari berbagai sumber terpercaya mengenai “Benarkah anak yg disusui > 2 th akan membuatnya tidak mandiri dan mengalami gangguan psikis dari segi medis ataupun psikologis ?”

Fakta 1. WHO & UNICEF tidak pernah mengeluarkan pernyataan bahwa menyusui anak > 2th akan berdampak buruk bagi anak.

Pada th 2001 di Geneva, WHO & UNICEF menyampaikan satu statement resmi
bahwa tiap ibu di-encourage utk menyusui bayinya secara eksklusif di 6 bl pertama kehidupannya, kemudian ASI terus dilanjutkan bersamaan dg MPASI hingga anak berusia 2 tahun atau LEBIH, SELAMA IBU & ANAK SALING MENGINGINKANNYA (1) .
Dalam tiap bahasan artikel-artikel WHO ttg ASI & menyusui, pernyataan tersebut selalu diulang-ulang. Tidak pernah ada batasan khusus bahwa ASI harus distop saat anak masuk usia 2 th. Jika menyusui anak > 2th memiliki dampak buruk bagi anak (spt anak jadi manja bahkan mengalami gangguan psikologis, gizi ASI utk anak > 1th jelek, dsbnya) tentu WHO sebagai “kiblat” dari dunia medis TIDAK AKAN mengeluarkan statement spt diatas.
Saya yakin sekali bahwa tiap statement yg dikeluarkan oleh WHO & UNICEF bukan hanya sekedar hasil pemikiran satu atau sekelompok orang saja.
Tapi pernyataan tsb didukung oleh berbagai penelitian yg hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.

Fakta 2. Tidak benar jika kualitas ASI > 1 th sudah tidak bagus lagi.
Memang betul saat anak > 1th, ASI bukan lagi kebutuhan utama baginya.
Namun bukan berarti tidak ada nilai gizinya. Berdasarkan penelitian dilakukan pakar2 laktasi di WHO menyatakan bahwa ASI > 1 th tetap kaya akan nutrisi yang tidak ternilai harganya.

Breastfeeding your toddler can provide:
31% of his daily energy needs,
38% of protein requirements,
45% of Vitamin A requirements, and
95% of Vitamin C needs.

Source: WHO/CDR/93.4 (2)

Bahkan menurut penelitian Goldman et. Al, kandungan zat imun dalam ASI makin tinggi seiring dengan bertambahnya usia bayi. (3).

Menyusui utk anak > 1 th atau > 2th tetap memberikan manfaat tidak hanyutk anak, tetapi juga utk ibu. (4)

Fakta 3. Tidak benar bahwa secara psikologis, menyusui > 2th akan membuat anak jadi tidak mandiri, apalagi beresiko membuatnya mengalami penyimpangan seksual.
Tidak pernah ada penelitian yg berhasil membuktikan statement di atas. Bahkan American Academy of Pediatrics (AAP) , semacam IDAI nya Amerika, merekomendasikan : "Susuilah anak di tahun pertamanya dan susuilah terus selama ibu dan anak saling menginginkan…Makin lama ibu menyusui anaknya,makin memberikan keuntungan bagi ibu dan anak dari segi kesehatannya dan perkembangannya……Tidak ada batasan pasti kapan anak harus berhenti menyusu dari ibunya. Dan TIDAK ADA BUKTI bahwa menyusui anak-anak > 2 th akan membuatnya terganggu secara psikologis ataupun." (AAP 2005).

Sementara itu penelitian yg dilakukan Sally Kneidel in "Nursing Beyond One Year" (New Beginnings, Vol. 6 No. 4, July-August 1990, pp. 99-103) (5) menyimpulkan bahwa anak-anak yang menyapih dirinya sendiri memiliki rasa sosial dan kemandirian yang jauh lebih baik dari mereka yang disapih secara paksa. Ferguson et al 1987 juga melakukan penelitian pada anak usia 6-8 th. Bahwa ternyata anak2 tsb disusui oleh ibunya hingga usia > 2th dan mereka memiliki social adjustment (adaptasi sosial) yang sangat baik.

Banyak ahli laktasi menyarankan agar menyusui anak > 1th membantunya menemukan rasa percaya dirinya dsbnya. Jadi menyusui di usia ini justru memenuhi kebutuhan psikologisnya. Tentu saja saja komunikasi selama masa menyusui ini adalah kunci dari ikatan kuat antara ibu-anak.

Fakta 4. Karena tidak ada batasan kapan anak harus disapih, maka biarkanlah ibu & anak yg memutuskannya.
Yg dapat dilakukan oleh para ahli medis & ahli laktasi adalah memberikan saran bagaimana cara menyapih yg terbaik. Bahwa menyapih dg memberikan jamu pahit ke putting payudara ibu, atau melarang anak utk menyusu lagi secara drastis, dan berbagai cara menyapih yang sering disampaikan hanya akan menodai bonding yg begitu indah terjalin selama masa menyusui.
Bahwa betul Nakita pernah menulis ttg cara menyapih secara perlahan seperti Yg ditulis dalam artikel “Lewat usia 2 tahun masih menyusu ibu”. Namun cara menyapih yang paling tepat adalah dg strateg I “do & don't”. Jangan menolak jika anak ingin menyusu, tapi jangan tawarkan jika ia tidak ingin menyusu. Dan hal yg paling penting tapi sering terlupakan dalam masa menyapih adalah KOMUNIKASI. Ajaklah anak utk diskusi tentang rencana menyapih dsbnya. Berapapun kecil usia si anak.

Semoga ulasan tersebut dapat membantu menyeimbangkan informasi yg telah ada. Saya juga lampirkan tulisan saya tentang bahasan diatas untuk dapat dapat dipertimbangkan dimuat di Nakita.

Semoga Nakita makin berjaya dan makin memberikan yg terbaik utk pembacanya.


Terima kasih.

Luluk Lely Soraya Ichwan
Pemerhati masalah ASI & kesehatan keluarga

Referensi :

(1) WHO. Global Strategy for Infant and Young Child Feeding. 2001WHA55/2002/REC/1.
(2) WHO. 2004. ”Infant Feeding in emergencies : A guide for mothers”(www.who.int)
(3) Kelly Bonyata, BS, IBCLC ”Extended Breastfeeding Fact Sheet”
(http://www.kellymom.com/bf/bfextended/ebf-benefits.html)
(4) Jack Newman, MD, FRCPC. ”Breastfeed a Toddler—Why on Earth? ”
(http://www.kellymom.com/newman/bf_toddler_01-03.html)
(5) Lalecheleague International, ”What are the benefits of breastfeeding my toddler?” (http://www.lalecheleague.org/FAQ/advantagetoddler.html)
(6) Lalecheleague : “Nursing Beyond One Year”
(http://www.lalecheleague.org/NB/NBJulAug90p99.html)
(7) Nursing Past Infancy and Into Toddlerhood
(http://www.breastfeed-essentials.com/nursetoddler.html)
(8) Ahn, C H and MacLean, W C. Growth of the exclusively breastfed infant. Am J Clin Nutr 1980; 33:183-92.
(9) Briend, A. et al. Breast feeding, nutritional state, and child survival in rural Bangladesh. Br Med J 1988; 296:879-82.
(10) Ferguson, D. M. et al. Breastfeeding and subsequent social adjustment in six- to eight-year-old children. J Child Psychol Psychiatr Allied Discip 1987; 28:378-86.
(11) Goldman, A. S. et al. Immunologic components in human milk during the second year of lactation. Acta F'aediatr Scand 1983; 722:133-34.
(12) Guilick, E. E. Effects of Breastfeeding on Infant Health. Pediatr Nurs 1986; 12(1): 51-54.
(13) Jelliffe, D. B. and Jelliffe, E. F. P. The volume and composition
of human milk in poorly nourished communities. A review. Am J Clin Nutr 1978;31:492-509.
(14) Rohde, J. E. Breastfeeding beyond twelve months. Lancet 1988; 2:1016.
(15) Savilahti, V. M. et al . Prolonged exclusive breast feeding and
heredity as determinants in infantile atopy. Arch Dis Child 1987; 62269-73.
(16) Shattock, F M. and Stephens, A. J. H. Duration of breastfeeding.Lancet 1975; 1:113-114.
(17) Tangermann, R. H. et al. Breastfeeding beyond twelve months. Lancet 1988; 2:1016.
(18) Underwood, B. A. Weaning practices in deprived environments: theweaning dilemma. Pediatr 1985; 75:194-98.
(19) Victora, C. G. et al. Is prolonged breastfeeding associated withmalnutrition? Am J Clin Nutr 1984; 39:307-14.
(20) Waletzky, L. R. Breastfeeding and weaning: some psychologicalconsiderations. Primary Care 1979; 6:341-55.
(21) Whitehead, R. G. The human weaning process. Pediatr 1985; 75: 189-93.    
   


18-09-2015 20:31:45 4 month udah boleh MPASI
Jumlah Posts : 326
Jumlah di-Like : belum ada like

klo sy pernah melihat video dr.tiwi di youtube. dr.tiwi perhatian akan tumbuh kembang bayi / anak. Dia menyarankan untuk MPASI-dini agar anak tidak gagal tumbuh. Jadi, dia tidak mengeneralisir bahwa MPASI usia 4 bln itu boleh untuk semua bayi.

WHO merekomendasikan MPASI saat usia 6 bln, untuk tumbuh kembang yg optimal. Rekomendasi ini berdasarkan penelitian panjang, jadi sudah ada alasan yg jelas. Secara general, pencernaan bayi usia 6 bln sudah matang dan siap mencerna makanan padat.

Tapi, dipihak lain, ada satu dan lain penyebab yg membuat bayi tidak berkembang dengan semestinya. Hal ini bisa dilihat dari kenaikan BB nya yg tidak wajar. Hitungan BB bayi dibawah rata2 itu berbeda setiap bayi, karena yg dilihat itu perkembangannya dari lahir sampai usia saat itu. Nah, untuk mencegah gagal tumbuh, Dr. Tiwi menyarankan agar MPASI-dini, agar bisa memenuhi nutrisi yg kurang.

MPASI-dini tidak bisa digeneralisir bahwa, jika bayi kurus, boleh langsung MPASI-dini. Bisa jadi bayi tsb kurus, tapi perkembangan dia dari lahir bagus, jadi tidak perlu MPASI-dini. Setiap bayi berbeda kondisinya.

Pemberian MPASI dini tidak bisa disamakan dengan pemberian MPASI normal saat usia 6 bln. Tujuan MPASI dini ini untuk mengejar ketinggalan agar tidak gagal tumbuh, bukan menggendutkan bayi yah. Berapa banyak makanan yg diberikan juga harus disesuaikan kasus per kasus. Tetap, sampai usia 6 bln ASI yg utama.

Anak tmn saya kenaikan BB nya sejak usia 2 bln sudah tidak sesuai dengan kurva perkembangannya. Usia 4 bln dokter menyarankan MPASI dengan catatan bayi SIAP. Bagaimana kita tahu bayi itu siap. Dulu, pertimbangan dokter saya untuk menganjurkan MPASI-dini adalah:
1. BB anak saya sudah 2x dari BB lahir.
2. Kenaikan BB anak saya tidak sesuai dengan kurva perkembangannya.
3. Anak saya sudah sangat mobile, sangat aktif (usia 4 bln sudah bisa manjat2)
4. Anak saya sudah bisa duduk tegak. Ini salah satu syarat MPASI, agar bayi tidak tersedak.
5. Thrust tongue reflex sudah hilang --> untuk anak tmn saya, reflex ini baru hilang saat usia 5.5 bln.
*thrust tongue reflex, reflex bayi untuk melepeh agar tidak ada benda2 asing yg masuk ke mulutnya.

Saat pertama pemberian MPASI, tmn saya selalu didampingi oleh tenaga kesehatan. Tugasnya untuk mengevaluasi apakah bayi siap. Dilihat, jika bayi beneran siap untuk makan, maka dia akan makan beneran. Jika tidak siap, maka, secara alami, dia akan melepehnya. Anak tmn saya dicoba kasih makan sejak usia 4.5 bln, langsung dia lepeh, dicoba kemudian usia 5 bln, dia lepeh juga, dan baru usia 5.5 bln dia tidak melepeh, berarti dia sudah siap untuk makan. Jadi, pemberian MPASI-dini tidak bisa dilakukan sembarangan bu.

Menurut saya, untuk ibu2 yg kawatir akan perkembangan anaknya, akan kemajuan BB anak, sebaiknya konsultasi terlebih dahulu ke dokter sebelum langsung memutuskan MPASI-dini. Diskusikan pro dan kontranya. Biarkan dokter yg menjelaskan sejelas2nya kenapa perlu MPASI-dini. Tidak perlu terlalu ngotot untuk full ASI ekslusif 6 bln, tidak mau kan anak gagal tumbuh kembang. Tapi, jangan terlalu gegabah untuk memutuskan MPASI-dini.

 

   
15-05-2014 23:24:05 Bayi Tersenyum, Ibu Senang
Jumlah Posts : 2
Jumlah di-Like : belum ada like
iya nich.. bun, gimana sich cara agar anak mau makan. anak q 9bln 1 minggu. tp susah banget makannya. paling juga 2 or 3 sendok maunya, trus dah gak mau lagi.
   


13-03-2009 09:11:13 Hydrocele...
Jumlah Posts : 26
Jumlah di-Like : 3
Hydrocele pada anak

Apa itu Hydrocele?

Hydrocele terdiri dari 2 kata “hydro” yang artinya air dan “cele” yang artinya kantung. Kantung air ini terletak di dalam scrotum dan berisi air rongga perut (bukan air dari usus atau lambung). Gejala yang dapat dilihat adalah pembesaran kantung zakar yang dapat terjadi pada salah satu atau kedua kantung. Bila pembesaran tersebut diterawang menggunakan senter, maka akan tembus pandang (sinar dapat terlihat).

Bagaimana kantung ini bisa terbentuk pada anak? 

Pada saat anak berada didalam kandungan, pembentukan testis terjadi pada perut bayi. Ketika kandungan berusia 7bulan, testis tersebut turun ke scrotum. Kemudian rongga antara perut dan scrotum tertutup perlahan2. 90% dari bayi memiliki rongga yang sudah tertutup, tapi sisanya masih ada celah. Akan tetapi proses penutupan ini masih dapat berlangsung ketika anak sudah lahir sampai usia 1 thn.

Apa bedanya Hydrocele dan hernia?

Keduanya disebabkan adanya rongga antara perut dan scrotum. Perbedaannya terletak pada besarnya lubang. Bila lubangnya sangat kecil, maka hanya air yang dapat lewat dan mengisi kantung di scrotum. Tapi bila cukup besar, maka usus pun dapat masuk kedalam rongga tersebut, ini lah yang disebut dengan hernia. Untuk kasus hernia, tindakan operasi harus segera dilakukan karena ada kemungkinan usus yang terjepit di rongga berputar dan melilit, sehingga mengganggu pencernaan penderita.

Apakah anak merasa sakit bila terkena Hydrocele?

Sebenarnya keberadaaan kantung tersebut tidak menimbulkan kesakitan pada anak, tapi keberadaanya yang cukup besar dapat mengganggu pergerakan dan menimbulkan ketidaknyamanan pada anak.

Bagaimana mengobatinya?

Alternatif pertama adalah dengan operasi. Operasi dilakukan dengan membuka sedikit bagian dari bawah perut (sekitar 2cm) dan mengikat rongga antar scrotum dan perut. Untuk ini, anak akan dibius total. Menurut dokter bedah, operasi ini tergolong operasi sedang dan membutuhkan waktu antara 15-30 menit.

Alternatif kedua dengan aspiration, yaitu metode untuk mengambil air melalui alat. Biasanya bagian yang akan dimasukan jarum akan diberi obat bius terlebih dahulu. Tapi cara ini tidak benar2 menyembuhkan, karena lubang antara rongga perut dan scrotum masih ada, dan potensi untuk munculnya Hydrocele cukup besar. Oleh sebab itu dokter tidak merekomendasikan alternatif ini.

Bagaimana bila Hydrocele dibiarkan saja tanpa tindakan apapun?

Untuk anak, hydrocele dapat menekan testis kebelakang dan ada kemungkinan menghambat pertumbuhan testis. Selain itu, bila ukurannya semakin besar, mungkin dapat menimbulkan resiko terjadi hernia.

Menurut dokter Alexandra (RS Harapan kita), untuk anak-anak, masih ada kemungkinan terjadinya penutupan lubang ini secara alami sampai anak berusia 2 tahun. Diatas usia tersebut, kemungkinannya sangat kecil dan lebih baik dioperasi.


WiOnA


   
Jumlah Posts : 18
Jumlah di-Like : belum ada like
anak sy lahir tgl 1 juni 2017...
mau tanya bunda2 semua,,anak sy minum asinya lancar tapi kok gak gemuk2 ya??
ada yg bisa share gmana cara agar anak cepat gemuk??
   


16-05-2015 21:32:25 mohon bantuan ny dong bun
Jumlah Posts : 4
Jumlah di-Like : belum ada like
hai bunda saya mau tanya dong skrng saya sdang hamil anak ke 2 bru masuk 4 minggu, ada masalah dg anak pertama nie bunda untk dsapih, ga mau bgt minum sufor pdahal sdh saya biasakan dri usia 8 bln, krn skrng saya hamil jd mau saya stop asi ny tp anak saya malah ngambek, gmn y bun cara agar anak saya mau minum susu dmalam hari?
   
Jumlah Posts : 4
Jumlah di-Like : belum ada like

Ibu mana sih yang nggak panik ketika si buah hati yang sedang aktif-aktifnya tiba-tiba buang air besar lebih dari tiga kali sehari. Konsistensi BABnya pun tidak lunak seperti biasa tetapi cair dan terkadang disertai lendir.Bayi yang sebelumnya tertawa riang kini menjadi lemah dan lesu. Tak jarang, saking khawatirnya ibu langsung membawa sang bayi ke dokter.

Rasa khawatir yang dialami oleh ibu ketika anak mengalami mencret cukup beralasan.Di negara kita Indonesia dan negara berkembang lainnya, mencret atau diare masih merupakan penyebab utama angka kesakitan pada anak. Oleh karena itu, penanganan diare yang cepat dan tepat akan menurunkan angka kematian karena diare. Jadi, sebagai seorang ibu kiranya dapat mengetahui tentang diare, penanganan awalnya  dan keadaan seperti apakah yang membuat penyakit saluran cerna ini berpotensi untuk menjadi berat.

Sebenarnya kapan sih seorang anak dikatakan mengalami diare?

Dari definisinya, anak baru dikatakan mengalami diare jika buang air besar cair lebih dari 3 kali sehari dengan atau tanpa disertai lendir/darah.Pada dasarnya, diare adalah usaha pertahanan tubuh untuk mengeluarkan kuman dan racunnya dari tubuh, tapi menjadi masalah karena sering dengan menyerap cairan di dinding usus yang mengakibatkan dehidrasi.Penyebab terjadinya diare sangat banyak, tetapi yang paling sering pada anak adalah infeksi usus yang disebabkan oleh virus. Penyebab lainnya dapat berupa adalah bahan kimia makanan, obat-obatan, psikis, alergi susu sapi/makanan, malabsorpsi makanan dan gizi buruk.

Lalu apa yang harus Ibu lakukan saat sang buah hati mengalami diare?

1. Don’t be panic! Jangan panik. Kalau Ibu panik, semuanya bisa jadi runyam.Anak yang sebelumnya tenang bisa ketakutan karena kepanikan ibu. Jadi, saat menghadapi anak yang mengalami diare atau penyakit apapun seorang ibu haruslah tenang dan berpikir jernih.

2. Tangani segera. Prinsip penanganan diare adalah mengganti cairan yang hilang secepat mungkin.Bila anak masih mau minum dan tidak muntah, maka anak tetap diberikan ASI (kalau masih minum ASI) dan segera berikan cairan rehidrasi oral (CRO).Cairan ini bisa berupa oralit atau larutan gula-garam. Cairan tersebut mempunyai komposisi yang sama dengan cairan yang dikeluarkan bersama tinja anak yang diare. Pemberian cairan ini bisa dilakukan di rumah. Bila anak kita tidak menyukai rasa cairan tersebut, bisa diganti dengan cairan lain seperti air putih. Perhitungan cairannya adalah: kalau anak mencret, maka kita harus memberikan cairan sebanyak 10cc/kgBB dan kalau munta 2-5 cc/kgBB.

Anak yang mengalami diare tidak selalu harus diinfus dan dirawat.Selama anak masih sanggup untuk minum dan tidak mengalami muntah terus-menerus, maka si anak masih bisa kita tangani di rumah.Namun, jika anak tidak mampu minum karena muntah terus-terusan, jangan tunggu lagi, segera bawa buah hati kita ke pusat pelayanan kesehatan terdekat.

Bagaimana pencegahannya agar anak tidak terkena diare ?

Beragam upaya dapat kita lakukan untuk mencegah terjadinya diare antara lain :

1. Penyediaan sarana air bersih dan pembuatan MCK yang layak

2. Meningkatkan personal higiene

3. Penyapihan yang benar. Jangan terburu-buru menyapih bayi kita dan memberinya susu tambahan atau makanan tambahan. Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan dapat menghindarkan bayi kita dari diare yang disebabkan oleh alergi susu sapi. Susu tambahan bisa saja diberikan asalkan memang produksi ASI terbukti kurang atau ada masalah dengan puting susu ibunya.

4. Bila bayi di rumah butuh susu tambahan, maka penyiapan dan pembuatan susunya harus bersih : bersihkan botol  dan dot yang habis pakai, merebus dan merendamnya di air hangat, tidak membiasakan dot terbuka tanpa penutup sehingga terhinggapi oleh lalat atau tercampur debu. Untuk lebih jelasnya kita bisa langsung bertanya pada ahli gizi di Careline bebeclub.

Ingat kata pepatah, mencegah lebih baik dari pada mengobati.Jadi, sebelum anak kita mengalami diare, maka sebagai ibu kita wajib mencegahnya.

Nah, bagi Ibu yang ingin mengetahui lebih banyak tentang penanganan dini saat sang buah hati mengalami gangguan saluran pencernaan seperti diare, dan lain-lain, yuk gabung di komunitas bebeclub.  Bebeclub merupakan social network platform bagi kaum ibu. Jadi di sana, kita bisa saling berbagi berbagai informasi seputar kehamilan, persalinan, perkembangan dan kesehatan bayi, serta bisa bertanya langsung pada ahlinya lewat careline. Di sana ada bidan, ahli gizi, dan ibu-ibu yang berpengalaman yang sangat responsive menjawab pertanyaan kita. Tak hanya itu, tampilan bebeclub juga interaktif sehingga dapat diakses dengan gadget apapun.

   
Jumlah Posts : 1725
Jumlah di-Like : 25
Dear Dokter,

Saya mempunyai seorang anak yang berusia 2,5 bulan dgn BB 5 kg, dan dari lahir tidak minum ASI (susu formula) dikarenakan ASI tidak keluar. sejak usia 1 bulan dia sering muntah setelah minum sufor, muntahnya memang tidak setiap diberikan sufor, namun muntah bisa terjadi 1 - 2 kali saja dalam 1 hari dan dalam jumlah banyak. Yang saya tanyakan apakah ini berbahaya Dok? dan apa penyebabnya? karena menurut orang tua saya itu hal biasa, namun saya khawatir dengan kesehatannya. Dan apakah BB untuk anak sesuianya normal?
Mohon tanggapannya Dok. Terima kasih

Dari : Devita Anggraini

Jawaban:

Dear Bunda, 
 
Apabila bayi anda muntah setelah minum susu , perhatikan beberapa hal seperti di bawah ini;
• Sendawakan bayi selama dan setelah pemberian susu. Bila bayi diberi susu, sendawakan setiap kali akan berpindah ke payudara lainnya. 
• Susui bayi dalam posisi tegak lurus, dan bayi tetap tegak lurus selama 20-30 menit setelah disusui. Pastikan ketika memberikan susu dengan botol susu, tidak ada udara yang terhisap. tegakkan botol ketika anak Bunda sedang menyusu sehingga cairan susu memenuhi isi dot, dan bukan udara.
• Jangan didekap atau diayun-ayun sedikitnya setengah jam setelah menyusu.
 
Apabila ada tanda-tanda lain menyertai muntah tersebut seperti rewel, demam, tampak, kesakitan atau tidak nyaman pada perutnya, gangguan BAB, maka segera periksakan bayi anda kepada dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.
 
   
Jumlah Posts : 1391
Jumlah di-Like : belum ada like
Cerita bunda hampir mirip dengan  anak pertama saya, yang sekarang sudah 11 tahun.
Anak pertama saya tidak tengkurap,tidak bisa duduk sendiri,tidak bisa merangka,tidak bisa bangun dari tidurnya  kalau mau duduk kita harus yang mendudukan, tidak mau berdiri dia hanya bisa ngesot, ditetahpun dia tidak mau karena dia sama sekali tidak mau menginjakan kakinya dilantai setiap kali di berdirikan kakinya selalu diangkat. Ibu saya dan mertua saya sempat kwatir sekali kalau anak saya tidak bisa berjalan karena anak saya sama sekali tidak mau mengerakan kakinya.
Saya sebagai ibu malah saya tidak terlalu kawatir  hati kecil saya sebagi seorang ibu yakin anak saya akan bisa berjalan, hanya perlu proses dan kesabaran kita untuk melatihnya. Suatu hari satu kejutan yang diberikan anak saya buat saya dan neneknya, ketika kami berdirikan dan kami suruh dia melangkahkan kaki sambil berhitung 1.2.3 ternyata kakinya langsung melangkah dan berjalan, sejak hari itu dan seterusnya kakinya terus melangkah, pada saat itu usianya 14 bulan.
Bunda tidak usah kawatir tidak semua anak bisa berjalan di usia 1 tahun, setiap anak mempunyai perbedaan, saya juga punya balita usia 18 bulan, si adek ini beda jauh dengan kakak dia bisa tengkurep, merangka, di usia 1 tahun 1minggu dia sudah bisa berjalan.
Bunda perhatikan saja perkembangannya dan teruslah melatihnya, kalau bunda tidak yakin bunda bisa berkonsultasi dengan dokter.
   
24-08-2016 13:02:21 tidak tau hitung masa subur
Jumlah Posts : 1
Jumlah di-Like : belum ada like
Siang dok,saya terakhir mens 30 juli 2016-6 agustus.. saya berhubungan intim dengan suami tgl 14 agustus.. Apakah saya pada saat itu sedang dalam masa subur? soalnya jujur kami belum ada rencana nambah momongan karena anak bungsu ku masih usia 1,5 tahun.. yang pasti gak flek sama skali..apakah ada solusi untuk menggagalkam kehamilan ? mohon pencerahannya..
   
Jumlah Posts : 10
Jumlah di-Like : belum ada like
salam kenal.. aq mw minta tips donk... cara agar anak mau minum sufor. soalnya aku hamil 3 bln. trz,anakku skrg umur 13bulan msh AsI. tp, hbz dr dokter katanya aq dah g'boleh menyusui anak sy tkutnya nnti terjadi kontraksi. dr awal kehamilan aq dah berusaha untk memberi anak sy sufor.. tp,g'mw... g'suka sufor n g'suka pkai dot... bagi tips nya donk bund...
   
04-11-2014 22:35:56 perkenalan
Jumlah Posts : 9
Jumlah di-Like : belum ada like
saya ingin tanya, gimana cara membersihkan putih2 pada lidah bayi usia 1 bulan?
   
17-09-2014 21:43:35 perkenalan
Jumlah Posts : 1
Jumlah di-Like : belum ada like
malam bunda,,,
mau tanya niih sayur2 apa aja campuran buat bubur yg sehat dan bergizi buat anak,,
kebetulan anak saya bntr lagi usia 1 tahun
   
Jumlah Posts : 28
Jumlah di-Like : belum ada like
bunda amel : iya bun anak sy jg sampe usia 1 thn aja imunisasinya. tp katanya imunisasi dpt dan polio itu diulang di usia anak 18 bln dan 5 thn. nah yg usia 18 bln itu anak saya ga imunisasi
   
30-04-2014 13:37:04 efek kipas angin utk bayi
Jumlah Posts : 86
Jumlah di-Like : belum ada like
di balik manfaat dan kepraktisannya, kita juga perlu mewaspadai dampak yang ditimbulkan akibat penggunaan AC atau kipas angin yang terlalu lama, terlalu dingin atau bukan pada tempatnya. Menurut Dr.H. Muljono Wirjodiarjo, Sp.A(K) dari RS Internasional Bintaro, Tangerang, gangguan yang mungkin timbul antara lain: * Hipotermia Pemaparan terhadap udara yang terlalu dingin akan menyebabkan suhu badan menjadi terlampau dingin atau hipotermia. Hipotermia yang terlalu lama akan menimbulkan gangguan pada peredaran darah. Gangguan peredaran darah di bagian tubuh yang penting, misalnya otak, dapat menurunkan kesadaran atau pingsan. Bahkan pada bayi misalnya, dapat menimbulkan kematian yang mendadak (Sudden Infant Death/SID) . Pemaparan udara yang terlalu dingin dapat terjadi karena meletakkan kipas angin yang terlalu dekat, menyetel terlalu kuat dan mengarahkan secara langsung ke tubuh. Kapasitas AC yang terlalu besar bagi ukuran kamar juga dapat menyebabkan penurunan suhu udara yang terlalu dingin. Anak-anak yang sudah cukup besar dan dapat menyetel kipas angin atau AC sendiri juga perlu dipantau. Bila AC dan kipas angin tidak dilengkapi dengan timer, besar kemungkinan suhu udara yang terlalu dingin akan terpasang terus. Oleh karena itu sebaiknya orang tua memeriksa kamar anak-anak untuk mencegah pemakaian AC atau kipas angin yang terlalu dingin. Pada musim kemarau seperti sekarang, biasanya terjadi perbedaan suhu udara siang dan malam yang cukup besar. Kita harus ekstra hati-hati karena kipas angin atau AC yang kita anggap sudah disetel dengan cukup, ternyata menjadi terlalu dingin pada saat menjelang pagi karena udara di luar menurun. Pemaparan hawa dingin pada tubuh yang tidak merata juga tidak baik bagi kesehatan. Pada bayi dan anak, misalnya karena bagian perut dan dadanya terbuka, dapat menyebabkan bagian yang terbuka menjadi lebih dingin dari bagian yang tertutup. Pada bayi, bila kebetulan dia mengompol dan tidak segera diganti popoknya, besar kemungkinan bagian pantat akan menjadi lebih dingin. Pemaparan suhu dingin yang tidak merata pada anak, dapat menyebabkan gejala seperti "masuk angin". Bagian perut yang terbuka, bila terpapar angin atau udara dingin, dapat menyebabkan gejala sakit perut bahkan sampai mencret. * Pemakaian kipas angin dan AC pasa saat anak sedang sakit. Anak yang sedang sakit tentu lebih rentan terhadap efek yang ditimbulkan oleh pemakaian kipas angin atau AC yang tidak benar ketimbang anak sehat. Anak yang sedang menderita panas sebaiknya ditempatkan pada ruangan yang suhunya cukup sejuk agar panas yang berlebihan di dalam tubuhnya dapat dipancarkan keluar tubuhnya. Mungkin anak akan sedikit menggigil karena kedinginan. Bila seperti itu, anak boleh diberi selimut yang tidak terlalu tebal agar pelepasan panas tidak semuanya ditahan oleh selimut. Pada saat panasnya mulai turun seringkali anak akan mengeluarkan banyak keringat. Segera seka keringat tersebut dengan handuk kering, jangan dibiarkan mengering sendiri untuk menjaga agar anak tidak menderita hipotermia. Bagi anak yang menderita gangguan pernapasan, pemakaian kipas angin dan AC sebaiknya dibatasi mengingat kipas angin menyebabkan debu beterbangan. Sehingga bagi anak yang mempunyai bakat alergi, hal ini bisa mengakibatkan penyakit yang lebih serius. Dalam situasi seperti ini, AC mungkin lebih baik. Tapi AC yang filternya jarang dibersihkan juga dapat mengakibatkan terjadinya debu atau jamur. Perlu diketahui, pemakaian AC dapat menyebabkan udara kamar menjadi kering karena kandungan airnya sudah diambil oleh mesin AC. Bila anak sedang flu dibiarkan menghisap udara kering dalam jangka waktu lama, maka selaput lendir alat pernapasannya akan menjadi kering. Akibatnya dapat mengganggu fungsi pernapasannya. Ini akan berlanjut dengan hidung tersumbat dan mungkin sangat mudah berdarah (mimisan). * AC mobil Hal yang perlu diperhatikan pada umumnya hampir sama dengan pemakaian AC di rumah. Namun demikian ada beberapa hal penting untuk diperhatikan. Pertama, periksalah knalpot mobil. Knalpot bocor menyebabkan tersedotnya asap ke dalam mobil melalui AC sehingga dapat mengakibatkan keracunan gas CO2. Walaupun knalpot tidak bocor, hindarilah kebiasaan berada di dalam mobil yang sedang berhenti dengan terus- menerus menghidupkan mesin, tanpa atau dengan memasang AC. Apalagi jika mobil sedang diparkir di tempat tertutup, misalnya di dalam garasi. Asap mobil yang terkumpul di bawah mobil atau di ruangan akan tersedot ke dalam ruangan mobil. Bila perjalanan cukup jauh atau lama, seperti ke luar kota, untuk menyegarkan udara di dalam mobil, sering- seringlah membuka jendela agar udara segar masuk dan memungkinkan terjadinya sirkulasi udara dari luar ke dalam mobil. * AC di tempat umum AC di tempat umum tidak memungkinkan untuk disetel sesuai kehendak kita. Dalam hal ini kita tidak dapat berbuat banyak kecuali melindungi tubuh anak agar tidak terpapar hawa dingin secara berlebihan. AC di dalam pesawat terbang cenderung disetel dingin sehingga terasa sangat dingin. Dalam keadaan seperti itu, jangan segan-segan meminta selimut kepada pramugari, bila perlu mintalah selimut lebih dari satu helai. Kelembaban udara di dalam kabin pesawat yang sangat rendah (udara menjadi kering) dapat menyebabkan mata menjadi merah dan terasa pedih. Selaput lendir hidung juga menjadi kering dan tenggorokan menjadi terasa kering dan sakit. Untuk mengatasinya kita dapat meminta handuk basah yang hangat dari pramugari, kemudian hisaplah dalam-dalam udara melalui handuk basah tersebut agar uap airnya dapat membasahi selaput lendir hidung. Lakukan ini sesering mungkin, terutama sangat dianjurkan bagi anak yang mempunyai bakat alergi (rinitis, asma, dll) atau anak yang menderita infeksi telinga yang berulang.