SITE STATUS
Jumlah Member :
508.453 member
user online :
1142 member
pageview's per day :
Over 100.000(!) page views
Kalkulator kesuburan
Masukan tanggal hari pertama bunda mengalami menstruasi

Blog -- pengalaman pertamaku



Blog posted by

pengalaman pertamaku


Blog posted on 09-03-2012
Setelah menanti selama 9 bulan, akhirnya pada tanggal 3 maret 2012 pukul 23.40, lahirlah anak kami yang pertama... seorang bayi laki-laki sempurna yang kemudian kami beri nama Rafvan Adya Wicaksono. Rafvan berasal dari 2 kata yaitu Rafa yang berarti kebahagiaan dan Evan yang berarti anugrah Tuhan yang terindah sedangkan Adya berarti pertama, tak tertandingi dan Wicaksono merupakan nama belakang ayahnya. Kami berharap Rafvan akan menjadi anak pertama yang merupakan anugrah Tuhan yang terindah yang membawa kebahagiaan bagi semua orang. Proses persalinan di awali dengan rembesnya air ketuban dari jam 12 siang ketika sedang beberes rumah. Awalnya saya ragu, apakah itu air ketuban atau hanya air pipis biasa? Tapi air tak kunjung berhenti, keluar sedikit-sedikit meskipun saya tidur, duduk atau berdiri. Akhirnya jam 3 sore, kami putuskan untuk berangkat ke RS Wijaya Kusuma. Sampai di sana, saya di cek, rupanya itu memang air ketuban dan baru pembukaan 2. Jam 4 sore, akhirnya bidan memutuskan untuk memberi saya infus induksi karena saya tak kunjung merasakan mulas kontraksi. Bidan bilang, jika induksi tidak berefek, maka terpaksa harus dilakukan operasi. 4 jam berlalu, pembukaan hanya bertambah 1, tapi untungnya dinding vagina mulai menipis, sehingga induksi terus dilanjutkan. Perut saya mulai terasa sedikit mulas. Dan jam 10 malam, kontraksi semakin hebat. Setelah dicek, sudah pembukaan 6. Waktu berlalu dengan penuh kesakitan tiada tara yang membuatku menjadi emosi dan tak mengikuti lagi saran bidan dan orang-orang terdekatku. Ketika puncak derita tak lagi tertahankan, bidan mengecek dan rupanya sudah pembukaan 10. Persalinanpun disiapkan. Saya mulai mengejan mengikuti irama gerakan bayiku. Saya sudah tidak bisa lagi membedakan ejanan depan dan belakang. Kotoran ikut keluar bersama dengan nafas yang kutahan. Rasa malu sudah tak lagi ku pedulikan. Saya hanya ingin segera mengeluarkan bayiku dan mengakhiri penderitaan sakit yang nikmat itu. Nafasku rupanya tak cukup kuat, sehingga bayiku keluar masuk bahkan berhenti di ujung kepala. Suami, ibuku dan ibu mertuaku semuanya memberi dorongan semangat. Ibu mertuaku bahkan ikut mengejan agar aku bisa mengikuti irama ejananannya. Semua bidan dan perawat yang ada, mungkin sekitar 10 orang berusaha begitu keras dengan fokus pada tugasnya masing-masing. Setelah dipijat oleh salah satu bidan dari atas dan mendengar suamiku berkata “ayo, kamu bisa”, kepala bayikupun keluar sepenuhnya, tinggal badannya. Saya disuruh menghembuskan nafas (berkata “ah!”), setelah beberapa saat saya merasakan perasaan yang begitu lega. Saya melihat bayiku yang merah, kecil, saya mendengar tangisnya, rasanya sungguh indah dan mengharukan. Semua rasa sakit selama persalinan hilang entah kemana begitu melihat bayi kecilku yang manis. Bayiku dibersihkan dan diadzani oleh ayahnya. Saya melihat mata ayahnya sudah merah menahan tangis harunya. Sungguh tak dapat kuceritakan bagaimana moment yang begitu indah itu berlangsung. Ibuku yang selama persalinan tak henti-hentinya berdoa karena kuatir melihatku yang sudah pucat, datang dan memberi selamat. Sampai sekarang, jika mengingatnya, rasanya aku masih ingin menangis haru. Semua orang begitu sayang padaku dan bayiku. Kini bayiku berusia 6 hari, semalam sekitar jam 12, tali pusarnya putus. Rencananya, hari minggu nanti, akan diadakan acara puputan. Semoga semua berjalan dengan lancar. Sejauh ini, aku dan suami dengan bantuan mba tetangga yang membantu pekerjaan di rumah bisa menghandle baby kami yang semakin besar. Namun, sudah 3 hari ini, matanya belekan. Sudah dibersihkan berkali-kali dan diberi salep, tetap saja beleknya masih ada. Tapi kata mba tetanggaku, itu wajar, nanti hilang sendiri. Hari ini saya juga menyadari ada bentol kecil seperti bisul kecil di leher kirinya. Katanya juga tak apa-apa. Tapi rasanya aku masih kuatir saja. Tak tega melihatnya merintih akhir-akhir ini, matanya seakan mengatakan “sakit”, hingga tak bisa melek. Bentolan kecil itu juga membuatku tak tenang makan dan tidur. Ya Allah, semoga bayiku baik-baik saja. Sembuhkanlah jika itu penyakit. Berilah kami kemudahan dalam merawat bayi kecil kami ini. Amin....


Ditampilkan sebanyak : 1055

Tolong beritahu kami apa pendapat Anda tentang blog ini


Jika Anda tidak melihat kotak komentar silahkan refresh halaman
 
rechan's blog :