SITE STATUS
Jumlah Member :
508.453 member
user online :
1231 member
pageview's per day :
Over 100.000(!) page views
Kalkulator kesuburan
Masukan tanggal hari pertama bunda mengalami menstruasi

Blog -- fitri + abi



Blog posted by

fitri + abi


Blog posted on 22-02-2007

Karena kesibukanku mempersiapkan sidang tesisku,
membuatku sedikit mengabaikan kehamilanku yang akan
memasuki usia 8 bulan. Tiga hari menjelang sidang,
aku mengalami radang tenggorokan, karena anti obat-obatan
selama hamil (kecuali vitamin dan suplemen tentunya),
aku pun banyak mengkonsumsi air putih hari itu,
ternyata hal ini membuat aku sering buang air kecil.
Karena risih harus sering berganti pakaian dalam (maaf)
akibat seringnya ke kamar kecil, aku memutuskan memakai
pembalut wanita sore harinya dan akupun kembali disibukkan
dengan persiapan mengahadapi sidang. Tanpa kusadari
sepanjang malam aku sampai tiga kali mengganti pembalut
akibat pembalut “penuh”. Aku mengganti pembalut tanpa
merasa ada yang aneh pada kehamilanku.


Pagi harinya ketika aku bercerita pada ibuku, ibu langsung panik,
karena ibu khawatir dengan “cairan” yang membuat pembalutku
penuh Akhirnya pagi itu kami pergi ke klinik bersalin langgananku,
setelah diperiksa ternyata cairan pada pembalutku itu adalah
resapan air ketuban. Akupun saat itu juga diharuskan bed rest.
Keesokan harinya setelah 24 jam bed rest, dokter baru memeriksa
kehamilanku secara intensif, dan ternyata janinku sudah kekurangan
air ketuban dan harus segera dilahirkan melalui operasi Caesar.
Suamiku yang bertugas di luar kota terpaksa datang pada
hari itu juga demi dapat menemaniku memasuki ruang operasi.


Dua hari sebelum sidang, anak pertamaku Febrian Abimanyu
Wijanarko (Abi) lahir dengan berat 1800 gram dan panjang 42 cm.
Bayangan bayi montok dan lucu sangat tidak tampak pada bayi
kecilku pada saat pertama kali ku melihat bayiku. Abi begitu kecil,
keriput, dan hitam karena masih banyaknya bulu-bulu halus di
permukaan tubuhnya. Abi tampak tidur lelap di incubator dengan
selang oksigen di hidung dan selang NGT untuk memasukkan
susu yang juga berada di hidungnya. Perasaan bersalah dan
berdosa berkecamuk di hatiku akibat terlalu sibuk dengan
persiapan sidang membuatku mengabaikan kehamilanku dan janinku,
saat itu juga ku telfon dosen-dosen pembimbingku untuk
membatalkan sidang tesisku.


Empat hari setelah melahirkan aku diizinkan pulang, namun
perasaan sedih kembali menghantuiku karena aku pulang
tanpa membawa bayi kecilku. Bayiku terpaksa menjalani perawatan
secara intensif di dalam incubator karena berat badannya yang
jauh dari berat bayi normal. Esoknya aku mendapat kabar dari klinik
bahwa anakku “kuning” karena bilirubinnya mencapai 14,
dan harus menjalani light therapy, aku tidak tahu bagaimana
perasaanku saat itu, di tangan kecil bayiku ada jarum infus,
dengan mata tertutup perban, setiap hari diambil darahnya begitu
berat hari-hari yang diharus dilalui jagoan kecilku. Sepuluh hari Abi
menjalani light therapy, tiga kali dalam sehari aku mengunjungi
Abi selain untuk melihat keadaannya, juga untuk memberikan ASI.
ASI ku yang tadinya berlimpahpun kini tinggal sedikit,
mungkin karena disebabkan stress dan kelelahan yang kualami
setelah melihat keadaan Abi. Dan selama itupun ASI ku tidak langsung
dihisap abi tapi melalui pompa, karena masih belum mampu menghisap
ASI sendiri, asupan ASI didapat melalui selang NGT di hidungnya.


Tanpa terasa 21 hari Abi di klinik dan masih saja di incubator,
selama itu Abi belum mangalami peningkatan berat badan,
beratnya masih sama seperti saat dilahirkan, namun Abi
mengalami kemajuan, sejak hari ke 19 Abi dapat menyusu langsung
melalui dot tanpa perlu malalui selang NGT lagi.
Dengan pertimbangan Abi sudah dapat disusui melalui dot dan
harapan berat badan abi akan cepat naik bila diasuh
langsung oleh bundanya, akhirnya aku memutuskan
untuk membawa pulang Abi. Dokter pun mengizinkan dengan
syarat aku harus menyiapkan incubator buatan di rumah.
Bermodalkan dua buah bolam lampu 100 watt, kamarku disulap
menjadi incubator raksasa. Panasnya kamar dengan lampu 200 watt
plus lampu yang memang sudah ada, tidak membuatku pantang menyerah,
kurawat Abi kecilku dengan sepenuhnya. Dukungan suami
dan keluargaku sangat berarti dalam melaui hari-hari pertamaku
merawat sendiri Abi di rumah. Pelan-pelan Abi kuajari menyusu
langsung melalui payudaraku, segala usaha kulakukan agar ASI ku
kembali banyak. Ku perhatikan selalu jadwal imunisasinya
agar Abiku tumbuh sehat seperti bayi-bayi lainnya.
Aku banyak membaca buku-buku dan majalah tentang perawatan bayi.


Empat bulan setelah melahirkan Abi, akhirnya aku dapat
menyelesaikan studi master ku di Institut Pertanian Bogor.

Dan Tanpa terasa Februari 2007 satu tahun sudah usia Abi kecilku.
Kini ia tumbuh menjadi jagoan kecilku yang sehat dan selalu ceria.




Ditampilkan sebanyak : 506

Tolong beritahu kami apa pendapat Anda tentang blog ini


Jika Anda tidak melihat kotak komentar silahkan refresh halaman
 
ibundaabi's blog :