SITE STATUS
Jumlah Member :
507.984 member
user online :
528 member
pageview's per day :
Over 100.000(!) page views
Kalkulator kesuburan
Masukan tanggal hari pertama bunda mengalami menstruasi

Balita

mendidik anak lelaki

New Topic :  
11-06-2010 10:07:16 ke: 1
Jumlah Posts : 3
Jumlah di-Like : belum ada like
salam kenal bunda ..... mau sharing nih ...

bagaimana ya bun cara mendidik anak lelaki biar jadi anak yang pemberani dan mandiri. anakku umur 2 tahun 3 bulan sangat aktif dan periang kalau di rumah tapi kalau sudah di luar pasti bengong aja. apalagi kalau sudah di datangi temannya yang bertingkah agresif pasti dia langsung lari ke arah saya. saya kasihan bun ... kalau di ajak mandi bola dia senang tapi kalau mainannya direbut anak lain dia langsung ketakutan dan tidak bisa membela diri.

anak saya lembut orangnya bun, sama adiknya sayang bgt. apa ini pengaruh ajaran mamanya yang selalu mengajarkan kasih sayang dan mengalah dengan yang lebih kecil? atau pengaruh genetik juga karena saya waktu kecil jg penakut banget.

mohon sarannya bunda ..... bagaimana caranya agar Fahriku bisa bertindak asertif tapi bukan arogan.
terima kasih bunda .....


   
14-06-2010 16:54:47 ke: 2
Jumlah Posts : 244
Jumlah di-Like : 14
Numpang curhat yah.....

Saya juga mengalami hal yg sama dengan bunda juliamartin..
Anakku cowok, bulan agustus besok usia 3 thn
kalau di rumah PD abis (mungkin karena paling kecil yah)
Tapi kalau lagi di palyland, dia lebih sering melihat teman2nya maen
bahkan kalau pas di papan seluncur, walaupun anakku sudah di posisi atas, jika ada temannya yg mau naik.. anakku lebih baik memilih turun daripada meluncur kebawah..
beberapa bulan yang lalu sempat aku masukkan PAUD dg harapan supaya lebih PD,
tapiii.... pernah suatu hari anakku dipukul temannya.. bukannya balas atau teriak.. eh malah senyum-senyum aja... (duh anakku ini, bundanya yg gregetan).
Trus kalau ngeliat temennya nangas, dia langsung merapat ke bundanya dan ikut sedih juga..

mohon saran dari para bunda, bagaimana cara supaya anakku bisa mempertahankan diri..

Salam
zilah kris
jual sprei waterproof, silahkan KLIK DISINI untuk melihat koleksi warnanya
ym : zilah.kris@yahoo.com


.

   
15-06-2010 16:02:42 ke: 3
Jumlah Posts : 850
Jumlah di-Like : 15

Agar Anak Mandiri

Oleh: Ummu Nadzifah, S.Pd
Staf di Lembaga Bantuan Psikologi dan Manajemen (LBPM)

Dalam bahasa sehari-hari, istilah anak mandiri sering dikonotasikan dengan anak yang mampu makan sendiri atau mandi sendiri. Sebaliknya, anak yang tidak mandiri berarti anak yang segala aktivitasnya—makan, mandi, berpakaian, dan bermain—tidak mau sendiri; semua harus dilayani oleh lingkunganya.

Dalam pandangan Islam, anak yang mandiri adalah anak yang mampu memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan naluri (gharîzah) maupun kebutuhan fisik (hâjah al-’udhawiyah), oleh dirinya sendiri secara bertanggung jawab tanpa bergantung pada orang lain. Bertanggung jawab maksudnya adalah meletakkan segala tanggung jawab dalam kaitannya dengan orang lain sebagai bagian yang tidak terpisahkan darinya, yakni sama-sama mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhi (Taqiyuddin An-Nabhani, Hakikat Berpikir Tentang Hidup, hlm. 86-95).

Anak yang mandiri tidak berteriak minta diambilkan makan dan tidak rewel.
Anak mandiri akan melayani diri sendiri dengan mengambil makanan sendiri.
Jika terdapat anggota keluarga yang belum makan, anak mandiri tidak akan mengambil dan menghabiskan semua makanan, tetapi hanya mengambil bagiannya saja. Demikian halnya jika anak mengetahui bahwa ibunya sedang bekerja di dapur atau mengisi pengajian;
ia akan beraktivitas sendiri atau dengan temannya tanpa mengganggu ibunya.
Sebenarnya, naluri setiap bayi adalah berkembang untuk mandiri. Misalnya, mereka belajar untuk tengkurap, merangkak, berjalan, makan, dan minum sendiri. Dalam belajar berjalan, mereka berusaha sekuat tenaga untuk bisa walaupun sering jatuh dan menangis. Hal itu merupakan upaya untuk menjadi manusia yang mandiri. Hanya saja, lingkungan sering kurang tanggap dan kondusif terhadap proses kemandirian anak sehingga anak diperlakukan secara salah. Akibatnya, anak justru menjadi tidak mandiri.

Dampak Perkembangan Anak

Anak-anak yang berkembang dengan kemandirian secara normal akan memiliki kecenderungan positif pada masa depan. Dalam mengarungi kehidupan, anak mandiri cenderung berprestasi karena dalam menyelesaikan tugas anak tersebut tidak bergantung pada orang lain.
Pada akhirnya anak merasa mampu menumbuhkan rasa percaya diri. Anak mandiri yakin, seandainya ada risiko, ia mampu menyelesaikannya dengan baik. Dengan begitu, kelak anak akan tumbuh menjadi orang yang mampu berpikir serius, yakni senantiasa berusaha untuk merealisasikan sesuatu yang ditargetkan atau yang dimaksudkan (qashd, purpose) (An-Nabhani, Ibid., hlm. 130-137). Selanjutnya, ia akan tumbuh menjadi anak yang prestatif.

Demikian halnya di lingkungan keluarga dan sosial, anak yang mandiri akan mudah menyesuaikan diri (environment adjustment). Ia akan mudah untuk diterima oleh anak-anak dan teman-teman di sekitarnya. Jika demikian, kecerdasan anak—baik dalam bentuk kecerdasan intelektual (intelligence quotion), kecerdasan emosional (emotion quotion), maupun kecerdasan spiritual (spiritual quotion)—akan terus berkembang. Anak-anak seperti inilah yang kelak akan memiliki keberanian untuk melakukan amar makruf nahi mungkar sekaligus menjadi pemimpin di tengah-tengah kaum yang bertakwa.

Sebaliknya, anak-anak yang tidak mandiri akan berpengaruh negatif terhadap perkembangan kepribadiannya sendiri. Jika hal ini tidak segera teratasi, anak akan mengalami kesulitan pada perkembangan selanjutnya. Anak akan susah menyesuaikan diri dengan lingkungannya sehingga ia memiliki kepribadian kaku. Anak yang tidak mandiri juga akan menyusahkan orang lain.

Anak-anak yang tidak mandiri cenderung tidak percaya diri dan tidak mampu menyelesaikan tugas hidupnya dengan baik. Akibatnya, prestasi belajarnya bisa mengkhawatirkan. Anak-anak seperti ini senantiasa bergantung pada orang lain; misalnya mulai dari persiapan berangkat sekolah, ketika di lingkungan sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah, sampai dalam pola belajarnya.

Dalam persiapan berangkat sekolah, misalnya, anak selalu ingin dimandikan orang lain, dibantu berpakaiannya, minta disuapi, buku dan peralatan sekolah harus disiapkan orang lain, termasuk harus selalu diantar ke sekolah. Ketika belajar di rumah, mereka mungkin mau, asalkan semua dilayani; misalnya anak akan menyuruh orang lain untuk mengambilkan pensil, buku, serutan dan sebagainya.

Penyebab Anak Tidak Mandiri

Ada beberapa alasan yang menyebabkan anak tidak mandiri.
Pertama: adanya kekhawatiran yang berlebihan dari orangtua terhadap anaknya. Misalnya, orangtua melarang anaknya mandi sendiri karena khawatir kurang bersih; melarang anak makan sendiri karena khawatir makanan tumpah. Segala kehawatiran lingkungan yang berlebihan akan menyebabkan anak tidak mandiri.

Kedua: orangtua sering membatasi dan melarang anaknya berbuat sesuatu secara berlebihan. Setiap anak beraktivitas, orangtua sering mengatakan, “jangan” tanpa diikuti argumentasi yang jelas. Pola doktrin seperti ini membuat anak ragu-ragu untuk mengembangkan kreativitasnya. Kondisi seperti ini akan mendidik anak untuk tidak berani membuat keputusan (decession making) dalam kehidupannya sehari-hari.
Ketiga: kasih-sayang orangtua yang berlebihan terhadap anak. Misalnya, karena sangat sayang, apapun keinginan anak dipenuhi. Bahkan karena protektifnya, anak dibiarkan saja “duduk manis”, sementara orangtua atau pembantunya sibuk melayaninya. Pendidikan dengan model menjadikan anak sebagai raja kecil atau “the little king” dalam rumah merupakan penyebab anak tidak mandiri.

Agar Anak Mandiri
Untuk mencegah ketidakmandirian anak, atau agar anak mandiri, ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh orangtua sebagai berikut.

Pertama: memberikan pemahaman kepada anak sesuai dengan tingkat perkembangan (kemampuan) akalnya. Rasulullah saw., sebagaimana dituturkan Ali bin Abi Thalib ra., pernah bersabda:

Berbicaralah kepada manusia dengan sesuatu yang mereka ketahui. Apakah engkau suka jika Allah dan Rasul-Nya didustakan? (HR al-Bukhari).

Dengan demikian, pemberian pemahaman terhadap anak tentang arti pentingnya mandiri harus didasarkan pada argumentasi yang bisa dipahami anak dan berlandaskan akidah Islam. Tujuannya adalah agar anak menyadari pentingnya memenuhi kebutuhan sendiri secara bertanggung jawab sesuai dengan perintah Allah Swt.;
bukan melakukannya karena kebiasaan saja, takut terhadap orangtua, atau takut gagal jika tidak mandiri. Penyadaran dengan pemahaman tidak cukup dilakukan sekali. Orangtua harus sabar untuk terus membimbingnya dan disertai praktik mandiri pada anak.

Kedua: berbuatlah secara bijaksana. Dalam hal tertentu, jangan memaksa anak untuk berbuat sesuatu ataupun membiarkan anak berbuat sesuatu, kecuali sesuatu itu tidak membahayakan dirinya dan tidak menyimpang dari tata aturan Islam. Rasulullah saw. bersabda, sebagaimana dituturkan Abu Hurairah ra.:

Kamu semua disuruh untuk berlaku manis dan bijaksana, bukan berlaku kasar dan mengundang kesulitan. (HR al-Bukhari).

Dengan cara demikian, naluri anak untuk berkembang dapat tersalurkan; pola intelektualitas, emosionalitas dan kreativitas anak juga akan tumbuh. Berbeda halnya dengan anak yang senantiasa dibatasi (restricted), naluri perkembangan psikologinya bisa menjadi tumpul. Akibatnya, anak akan bergantung pada orang lain dan tidak berprestasi.

Ketiga: memberikan kasih sayang secara wajar; dalam perilaku, hadiah, maupun pujian. Rasulullah saw., sebagaimana dituturkan Abu Musa ra., pernah mendengar seorang laki-laki yang memuji seorang yang lain secara berlebihan. Lalu Beliau bersabda (yang artinya), “Kamu telah mencelakakan orang itu!” (HR al-Bukhari).
Kasih-sayang yang kurang ataupun berlebihan sama-sama memiliki dampak negatif bagi perkembangan anak.
Jika kasih-sayang orangtua kurang, anak bisa menjadi “extrem kiri”: bandel, kasar, jahat, dan sebagainya. Sebaliknya, jika anak ’kelebihan’ kasih sayang, pola kepribadian anak akan menjadi “extrem kanan”: bersikap manja sehingga malas merawat dirinya, selalu minta dituruti kemauannya, dan sering mengendalikan orangtuanya.

Keempat: memberikan cara pendidikan secara tegas kepada anak. Tidak dibenarkan jika orangtua bersifat “plintat-plintut” (inkonsisten) dalam mendidik anak. Di sinilah juga pentingnya ayah dan ibu seiring dan sejalan dalam mendidik anak.
Ketidaksejalanan ayah dan ibu dalam mendidik anak akan membuat anak bersikap tidak konsisten sehingga sikap kemandirian anak tidak berkembang secara baik.
Wallâhu a‘lam bi ash-shawâb

salam

putri a.k.a zach mom's
   
17-06-2010 15:28:45 ke: 4
Jumlah Posts : 17
Jumlah di-Like : belum ada like
hi bunda2....

ternyata yang aku alami hampir sama yah dengan bunda.
anakq 21 bulan cowox, aktif banget, ngomong lancar n jelas, udah paham hampir semua binatang, lagu2 bahkan berhitung.
dia rumah dia mendominasi.
tp begitu keluar rumah pendiam sekali.
diPAUD dekat rumahpun pendiam, bahkan gurunya waktu dgr dia ngomong terkagum2 (dikiranya dia pendiam).
gmn yah ngasih pengarahan....
trus satu hal lagi dia posesif bgt.
siapapun anggota keluarga yg deket dengan orang lain yg dia g kenal ga boleh deket2.
bahkan kmrn wktu ikut aq periksa calon adiknya ke DSOG. dia ampe teriak2 plus nangis "jangan mama...udah....." ampe heboh bgt....
what's wrong?
what should i do?
hehehe

to bunda zach... thx atas masukannya. tp mmg agak susah mengaplikasikannya.

thx,
tanjung.
   
17-06-2010 15:48:45 ke: 5
Jumlah Posts : 17
Jumlah di-Like : belum ada like
hi bunda2....

ternyata yang aku alami hampir sama yah dengan bunda.
anakq 21 bulan cowox, aktif banget, ngomong lancar n jelas, udah paham hampir semua binatang, lagu2 bahkan berhitung.
dia rumah dia mendominasi.
tp begitu keluar rumah pendiam sekali.
diPAUD dekat rumahpun pendiam, bahkan gurunya waktu dgr dia ngomong terkagum2 (dikiranya dia pendiam).
gmn yah ngasih pengarahan....
trus satu hal lagi dia posesif bgt.
siapapun anggota keluarga yg deket dengan orang lain yg dia g kenal ga boleh deket2.
bahkan kmrn wktu ikut aq periksa calon adiknya ke DSOG. dia ampe teriak2 plus nangis "jangan mama...udah....." ampe heboh bgt....
what's wrong?
what should i do?
hehehe

to bunda zach... thx atas masukannya. tp mmg agak susah mengaplikasikannya.

thx,
tanjung.
   
18-06-2010 14:03:07 ke: 6
Jumlah Posts : 850
Jumlah di-Like : 15
@pertiwi
jd ingat kata2 temenku,
"gag ada yang susah klo kita berusaha"
dan semua butuh proses tdk secepat membalikkan telapak tangan

salam

putri a.k.a zach mom's
   
21-06-2010 20:06:21 ke: 7
Jumlah Posts : 244
Jumlah di-Like : 14
bunda putri.. tengkyu yah atas masukannya..
masalah kemandirian pelan2 anja sudah mulai mandiri, minta makan sendiri, pakai celana sendiri, pasang sandal sendiri..

saya akan terus berusaha menanamkan supaya rasa percaya diri itu tumbuh..
ow iya, waktu saya konsultasi dengan psikolog anak di skulnya yg baru..
ternyata dalam menghadapi perlakuan temannya, ada beberapa cara.. ada yg dengan cara menghindar ada pula dengan cara langsung membalas..
yg penting kita ajarkan untuk berani bilang "aku tidak suka" atau 'aku tidak mau diperlakukan begitu"
tapi kalau temannya masih bandel, baru lapor bu guru.. (dalam hatiku, langsung balas aja hehehe...)
tapi rupanya menahan emosi itu juga  pelajaran yg penting buat buah hati kita.

salam
FB : zilah kris
jual sprei waterproof
koleksi foto silahkan klik disini

   
23-06-2010 20:28:00 ke: 8
Jumlah Posts : 3
Jumlah di-Like : belum ada like
bunda zach many  thanks atas infonya ya. mudah mudahan bisa diaplikasikan.

klw bunda pertiwi dan bunda anja gmn sekarang buah hatinya ada perubahan tidak?

tahun ajaran baru fahri jg mau saya masukkan PG . atas anjuran kakak, fahri masuk ke PG yang dalam 1 kelas muridnya tidak terlalu ramai untuk menghindarkannya dari perassan tertekan . mudah2an dari sini Fahri bisa lebih PD dan berani

Bunda anak2nya kan sudah sekolah , ada tips gak agar hari pertamanya menyenangkan agar dia gak kapok sekolah???

makasih sebelumnya ya bunda .....
   
12-08-2010 10:26:28 ke: 9
Jumlah Posts : 6
Jumlah di-Like : belum ada like
ikut share ya bunda......apa yang bunda alami,juga saya alami,kebetulan saya seorang ibu pekerja,jd tidak bisa setiap saat berada di samping anak saya....dari pagi sampai sore saya kerja jd hanya malam aja saya ada......setelah saya di rumah...anak saya ga mau di layani selain sama saya......apakah itu termasuk anak yang tidak mandiri,umur anak saya 3th,dia sudah tidak ngompol lagi,poop juga di kamar mandi sendiri.......
   
23-08-2010 23:40:31 ke: 10
Jumlah Posts : 149
Jumlah di-Like : belum ada like
Hai para Bunda yang sedang saling curhat, ikutan yaaa...

Anakku cowok, kasus sama PD abis di rumah dan ketika bertemu di lingkungan teman sebaya jadi menciut nyalinya...itu dulu waktu usianya 2-3 tahun dan belum sekolah.

Kuncinya, dorong si anak, tumbuhkan percaya dirinya bahwa ia akan senang bermain dengan teman-teman sebayanya. Perjuangan lho sampai anakku bisa jadi seperti sekarang, main bersama-sama temannya.

Ada satu hal yang masih saya ingat, ajaran seorang pakar dalam mendidik anak...yaitu, katakan kepada anak tentang jati diri yang si ortunya pengen itu ada di si anak. Jadi, kalau kita ingin anak kita mandiri, dapat bersosialisasi lebih baik, jangan berkomunikasi dengan nada negatif, "Ah, kok kamu penakut gitu sih!" Lebih baik begini menurutku, "Rein, kamu itu pintar lho...kemarin bisa susun balok jadi menara waktu di rumah. Nah, coba sekarang main sama teman-teman untuk menyusun balok...pasti seru dan asyik main sama-sama." Tonjolkan terus keasyikan bermain bersama kawan sebayanya, pakai program televisi yang terkait untuk mendukung apa yang ingin ditanamkan.

:) Talia76  di http://www.pebisniswanita.co.cc (sebuah solusi bagi wanita/ibu bekerja)
   
 page  1  2 Next
atau login dengan Facebook Anda