SITE STATUS
Jumlah Member :
279.816 member
user online :
4765 member
pageview's per day :
Over 100.000(!) page views
Kalkulator kesuburan
Masukan tanggal hari pertama bunda mengalami menstruasi

Bayi

Ketika Bayi dan Bocah harus Sekolah

New Topic :  
18-12-2007 23:07:09 ke: 1
Jumlah Posts : 368
Jumlah di-Like : 1
bunda2.. ini ada artikel yg bisa membantu bunda yg sdg bingung ttg sekolah bayi itu penting ga sih?? heheheh Array



======================================



Minggu, 12 Mei 2002







Ketika Bayi dan Bocah Harus Sekolah





Kompas/frans sartono



ISABEL, bocah sembilan bulan yang giginya baru tumbuh dua biji itu sudah "bersekolah". Bayi yang

belum dapat berjalan itu digendong sang ibu untuk mengikuti Gymbaby, program dari Gymboree, sebuah kelompok bermain di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Di sana, bocah imut-imut itu sudah dibiasakan mengucap "kiss bye!"



Isabel hanyalah salah seorang dari ribuan bocah usia balita di Jakarta yang ramai-ramai dibawa orangtua ke taman bermain atau play group yang kini makin meriah di Jakarta. Tamara Bleszinsky, Ayu Azhari, Diah Permatasari, Rina Gunawan, Iis Dahlia, atau mantan model Larasati yang kini atlet berkuda itu, hanyalah sebagain dari mereka yang mengajak anak ke taman bermain.



Ada sejumlah harapan yang tersimpan di benak para orangtua. Ada yang sekadar supaya si anak dapat segera berjalan. Ada pula yang ingin anak mereka terbiasa berbahasa Inggris. Atau bahkan, kata salah seorang ibu di atas, agar si bocah "siap melihat masa depan."



Namun, rata-rata orangtua itu menginginkan agar anak mereka dapat, istilah mereka, bersosialisasi dengan lingkungan. Bahasa sederhananya mungkin tumbuh wajar sebagai anak-anak.



"Saya tidak memaksakan anak saya untuk dapat membaca atau menulis. Saya membutuhkan dia memiliki kemampuan sosialisasi. Saya perlu dia tidak menjadi raja kecil di rumah, tapi agar dia juga menyadari adanya raja-raja yang lain di sekolah," kata Tamara yang mengirim anaknya, Teuku Rsya Islamei Pasya (3) di taman bermain High Scope, Pondok Indah.



Ibu-ibu lain seperti Rina Gunawan (28) atau Iis Dahlia (27) yang kebetulan bergerak di jagat hiburan, mempunyai harapan lain. Antara lain, agar anak mereka mengenal bahasa Inggris di usia dini. Asal tahu saja, banyak di antara sekolah tersebut memang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Bahkan, ada pula yang memang dirancang untuk memberi kemampuan anak berbahasa Inggris sejak dini. Ada yang menggunakan penutur asli.



Jangan heran jika anak penyanyi dangdut Iis Dahlia, atau pemain sinetron Diah Permatasari, sudah merdu ber-cas-cis cus Inggris. Setidaknya mereka dapat mengucap percakapan dasar meski kadang bercampur dengan bahasa Indonesia. Diah, pemeran Si Manis Jembatan Ancol dulu itu, misalnya, mengatakan Marcello (3) putranya yang sekolah di Kinderlands, Pulomas, Jakarta Timur, berbicara campur aduk. "Mama dinosaurus itu is dead."



Rupanya ada persoalan lain yang diungkap banyak orangtua, yaitu soal pergaulan dengan lingkungan sebaya. Mereka kebanyakan tinggal di kompleks perumahan atau malah ada yang di apartemen. Ditambah lagi, mereka adalah para orang sibuk yang tidak setiap saat dapat menemani sang anak bermain. Diah, misalnya, dulu cuma sempat mengeloni anaknya menjelang tidur.





Kompas/dody wisnu pribadi



Begitu sibuknya, Iis Dahlia yang masih menjanda itu sampai mengajak anaknya, Salsadilla Juwita (4), ke arena show dangdut. "Dia sering ikut saya sehingga dia lebih dekat ke komunitas ibunya. Saya daftarkan dia ke Whiston supaya dia berada di komunitas teman sebaya," kata Iis yang tinggal di Permata Puri, Cibubur.



Problem sepi kawan bergaul anak di rumah menjadi alasan Rina Gunawan untuk mencari-cari taman bermain. Presenter acara Campur-Campur di ANteve ini mengincar taman bermain, terutama yang memberi pembiasaan berbahasa Inggris. Sebelumnya, putra Rina, Aqshal (4), didaftarkan di Kidsports, Pondok Indah. "Dia kurang gaul. Kalau diajak ke rumah kawan saya, dia nangis ketemu orang yang belum dikenal," kata Rina yang tinggal di kawasan Bukit Sentul.





***

MUNGKIN itulah mengapa di Jakarta kemudian makin banyak bermunculan taman bermain. Ada yang menyebut mereka dengan nama pre-school, play group, atau TK Mini. Intinya, semua itu adalah tempat kumpul bocah usia mulai enam bulan hingga empat tahun.



"Kampus bocah" itu kini mudah dicari di Jakarta, semisal Tumble Tots, Montesori, Ladybird Preschool and English Activity Center, Gracefields Kindergarten, Kinderland, Kidsports Family Fun & Fitness, Sunshine Pre school, Tutor Time, dan sederet nama-nama "keren" lain. Di antara mereka ada yang diselenggarakan dengan sistem wara laba, setidaknya berkaitan dengan lembaga sejenis di luar negeri. Sementara itu kelompok bermain lokal juga menjadi incaran orangtua. Tersebutlah Taman Bermain Kepompong, Kembang, Kartini, Tadikapuri, Kembang, TK Mini Pak Kasur, dan Mutiara Indonesia.



Lokasi taman bermain bisa di mana saja, namun kebanyakan tak jauh dari kompleks pemukiman kalangan menengah atas seperti Pondok Indah, Bintaro, Kelapa Gading, atau Pulomas. Ada juga yang menempati lantai dasar apartemen, bahkan sampai di mal. Jangan kaget jika jalan-jalan ke Mal Taman Anggrek atau Mal Ciputra di Jakarta Barat, Anda akan menjumpai taman bermain Tumble Tots yang terletak di antara gemerlap toko serba ada dan arena jajan. Namun, ada juga yang menempati areal tersendiri dan dirancang sebagai "sekolahan" seperti Kartini di Cilandak, atau Tutor Time di Pondok Indah. Ada yang menempati bekas rumah tinggal seperti TK Mini Pak Kasur di kawasan Menteng.



Di sanalah bocah-bocah balita diajak bermain. Kata para penyelenggara, si buyung dipersiapkan untuk menjadi anak yang penuh rasa percaya diri, mandiri, dan itu tadi, dapat bersosialisasi dengan lingkungan sebaya. Plus, mereka terbiasa dengan bahasa Inggris yang memang menjadi bahasa pengantar.



Tentu saja setiap kelompok bermain mempunyai program, metode, atau kurikulum berbeda-beda. Mereka juga menggunakan beragam piranti bermain untuk meyampaikan program. Kelompok bermain Amanda Montesori di kawasan Bintaro, misalnya, menerapkan metode untuk mendidik anak dalam usia dini dengan konsep learning by hand, belajar dari pengalaman, pembiasaan gerak tangan.



Montesori misalnya mempunyai piranti yang disebut cloth frame, alat berupa kotak kerangka berukuran 30 x 30 sentimeter. Kerangka tersebut dililiti kain, dilengkapi kancing dan ritsleting, serta dipasang tali. Alat peraga tersebut menurut Duna Uron, pengelola Amanda Montesori, digunakan untuk melatih koordinasi tangan untuk mengancing baju, memakai celana, dan mengenakan sepatu.



Alat peraga lain disiapkan untuk para bocah mengenal bentuk, warna, sampai matematika. Tentu saja, piranti tersebut dirancang untuk bocah yang telah berumur setidaknya dua-empat tahun. Bayi-bayi berumur enam sampai 12 bulan tentu belum mengerti apa itu tali sepatu. Maka metode dan alat lain pun diciptakan untuk mereka.



Bocah-bocah mungil di Gymboree, misalnya, disediakan permainan molly ball berupa bola bosar berdiamter sekitar satu meter.



Anak-anak dinaikkan di atas bola tersebut dan tentu masih dipegangi orangtua. Bola lalu digoyang-goyang sehingga sang anak ikut bergerak seturut gerakan bola. Menurut Yuliana Sutanto, Direktur Gymboree Play & Music yang berlokasi di Apartemen Bumimas, anak-anak yang lama bergabung dengan taman bermain itu memang menampakkan hasil, dibanding sebelum bergabung. Setidaknya menurut pengalaman artis Ayu Azhari yang mengirim anaknya, Atiq Soleman (3) ke Hansel & Gretel, di Pondok Indah. Selain rasa percaya diri yang bertambah, Atiq juga dapat makan tanpa disuapi. Dia juga sudah dapat buang air kecil tanpa bantuan orang lain.



"Dia juga sudah bisa baca. Dia memang lebih cepat dibanding kakaknya dulu," kata Ayu yang tinggal di apartemen di Jakarta Selatan. Demikian juga anak Iis Dahlia yang dulu menangis jika ketemu orang yang belum dikenal itu, kini katanya, malah berani memulai pembicaraan. Malah kadang dengan bahasa Inggris.



Pengalaman salah satu orangtua yang anaknya "disekolahkan" di Tumble Tots di Mal Ambasador tak jauh berbeda. Oni menyadari anaknya, Michael, kurang mendapat stimulasi sehingga pada usia tiga tahun belum bisa bicara. "Ternyata setelah saya masukkan ke taman bermain ini, dia bisa bicara dan jadi cerewet sekali," kata Oni.





***

BEGITULAH anak-anak bermain tak lagi di pelataran rumah atau di bawah semilir pohon. Mereka bermain di taman bermain, di taman bermain ber-AC, terprogram, dan kini telah menjadi semacam kebutuhan orangtua. Atlet berkuda Larasati misalnya, sudah mendaftarkan anaknya di Kepompong sejak si anak berusia empat bulan. "Itu pun saya dapat daftar tunggu urutan 83."



Apa boleh buat, taman bermain telah dianggap menjadi bagian dari tahapan pendidikan anak sebelum TK, SD, dan seterusnya. Mereka berharap anaknya akan lebih siap masuk TK. "Sekarang masuk TK kan pakai tes," kata Iis Dahlia.



Maka, mereka yang jeli melihat peluang kemudian membuka usaha taman bermain. Di antara mereka ada yang dikelola dengan sistem serupa wara laba dengan pemilik usaha di luar negeri. Amanda Montesori di Bintaro, meski menyandang nama serupa dengan lembaga pendidikan serupa yang berasal dari Inggris, namun tidak berbentuk wara laba. Setidaknya, pola usaha mereka tidak persis seperti, katakanlah, perusahaan ayam goreng dari Amerika yang merebak di mana-mana itu. Pengelola Amanda Montesori, seperti dituturkan Dina Uron, hanya diwajibkan mengikuti pelatihan lengkap, termasuk teori dan praktik di perwakilan Montesori.



Memang dimungkinkan calon pengelola sekolah Montesori untuk mengambil pelatihan di London, Malaysia, atau Thailand. Namun, di Kemang, Jakarta Selatan, orang pun dapat membekali diri dengan ilmu Montesori. Di Kemang memang terdapat perwakilan Montesori. "Saya lalu belanja paket dan alat peraga pendidikannya. Kemudian, saya baru meminta izin penyelenggaraan pendidikannya."



Gymboree yang digagas pada tahun 1976 oleh Joan Barnes, ibu dari California, mempunyai bentuk agak lain. Taman bermain yang mempunyai 450 cabang di 18 negara itu segala sesuatunya terkontrol oleh kantor pusat di Amerika. Dari metode, penataan ruang sampai alat-alat yang digunakan semuanya berada di bawah pengawasan pusat.



Misalnya, ada peraturan yang mengatur soal ukuran ruang berikut warna dinding. Ruang ukuran 80 meter persegi maksimal diharuskan menampung 11 anak.



Desain interior, piranti program baik letak maupun warna-warnanya, semuanya terkontrol dan dibuat standar dengan Gymboree di mana pun. "Dekorasi ruang kita di mana-mana sama. Alat-alat yang digunakan semuanya juga sama, dari Amerika. Jadi anak Indonesia yang datang ke Gymboree Malaysia atau negara mana pun akan sama saja," kata Direktur Gymboree.



Hal yang sama juga terjadi dengan Tutor Time yang induknya berada di Florida, AS. Menurut Melania Hamdan, Ketua Yayasan Pendidikan Indonesia Amerika, yang mengelola Tutor Time di Pondok Indah dan Kemang, Jakarta Selatan, taman bermain mereka dijalankan mengikuti standar yang ditentukan dari kantor induk. Ruangan dan alat-alat main harus dibersihkan dengan larutan desinfektan tertentu, alat-alat makan harus dicuci dan tidak boleh dikeringkan pakai lap, setiap tahun para fasilitator dan asistennya harus mengikuti pelatihan. Jumlah guru adalah satu untuk tiap enam murid dengan dua asisten, dan sederet lagi syarat yang akan dikontrol tiap tahun dari Florida.





Kompas/alif ichwan



Besar investasi membuka taman bermain memang beragam. Ada di antara mereka yang harus menyiapkan 80 ribu dollar AS. Separuh dari anggaran tersebut digunakan untuk piranti penunjang program yaitu 40 ribu dollar. Maka bayaran buat sekolah bocah itu juga bisa beragam, tergantung program dan fasilitas yang ditawarkan. Ada yang mulai dengan angka Rp 75.000 per bulan sampai Rp 10 juta per tahun. Montesori misalnya memungut biaya per tiga bulanan antara Rp 2.475.000-Rp 2.750.000. Itu belum termasuk uang pangkal Rp 3 juta. Ada juga yang menarik biaya dari 550-1.500 dollar AS per 10 minggu, tergantung jumlah hari anak ikut sekolah setiap minggunya.



Biaya memang relatif. Namun, tampaknya orangtua tidak akan hirau angka sejauh sang anak mendapat pendidikan yang baik. Seperti dikatakan Diah Permatasari, "Saya menomorsatukan kualitas pendidikan. Jadi semahal apa pun saya kejar. Saya tidak ingin anak saya terbelakang," kata Diah.





***

TENTU tidak semua kelompok bermain memasang tarif tinggi, terutama untuk kelompok bermain yang tidak ada hubungannya dengan wara laba. Seperti Kelompok Bermain Kembang yang didirikan dan sampai sekarang masih dipimpin Yaya Suwarso dan berlokasi di Jalan Selat Bangka, Kemang.



Kelompok bermain yang muridnya campuran antara anak-anak Indonesia dan anak-anak warga asing yang tinggal di daerah Kemang dan berdiri sejak tahun 1974 ini tetap menggunakan bahasa pengantar Indonesia secara umum. Di sini, penekanannya adalah pada pembiasaan kehidupan sehari-hari, seperti mencuci tangan sebelum makan, pergi ke toilet, sampai melatih motorik halus dan kasar. Ada kolam pasir di sana, ada alat panjat di dindingnya, selain bermain dengan alat-alat "tradisional" seperti lilin, krayon, dan menyusun balok kayu.



Ruangannya yang dibuat tanpa jendela menyebabkan angin semilir memasuki ruangan dengan bebas. "Pada fase balita, hasil tidak menjadi tujuan belajar. Kategorisasi hasil kerja anak misalnya bagus atau jelek, dihindarkan demi merangsang kreativitas anak. Tekanan pengajaran adalah pada kepuasan anak yang tertentu berbeda derajatnya pada setiap anak," tutur Yaya yang tidak menerapkan suatu metode tertentu karena pengalamannya menunjukkan setiap metode memiliki keunggulan yang berbeda-beda.



Begitu juga suasana di TK Mini Pak Kasur di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, yang berdiri sejak tahun 1958. Meskipun ruangan diberi pendingin ruangan, suasananya jauh dari mewah. Menurut Bu Kasur, TK pimpinannya memang tidak mendahulukan penampilan, tetapi kualitas pendidikan. "Kalau kami mengejar penampilan, maka biaya yang harus kami keluarkan akan besar sekali. Tidak saja untuk modal awal, tetapi juga untuk biaya perawatan sesudahnya," tutur Bu Kasur yang bernama asli Sandyah ini.



Meskipun tidak mewah, nama besar Pak Kasur (almarhum) dan Bu Kasur (76) sebagai tokoh pendidik anak-anak, menjadi daya tarik orangtua memasukkan anaknya ke TK Mini Pak Kasur. Selain di Cikini, TK ini juga ada di Pasar Minggu, Cipinang Indah, Kemang Pratama, dan Banjarwijaya (Tangerang). Selain itu, uang pangkalnya "hanya" Rp 1 juta-Rp 1,5 juta, sementara uang sekolahnya antara Rp 50.000-Rp 75.000 per bulan.



"Pak Kasur sangat menekankan pendidikan tidak boleh diperdagangkan. Kalau bisa, kita bahkan membantu. Segala kesulitan itu bisa dikomunikasikan. Bila kita mengelola sekolah dengan transparan tentu orangtua dan guru mau mengerti dan membantu mengatasinya," kata Bu Kasur. (ARN/ODY/XAR/NMP)



Design By KCM

Copyright 2002 Harian KOMPAS



============================================



gimana ???



Array Array Array
   
18-12-2007 23:09:48 ke: 2
Jumlah Posts : 368
Jumlah di-Like : 1
ini dia solusinya....heheheh Array
========================================

Teliti Sebelum Memilih, Jangan Cuma Ikut-ikutan


Kompas/dody wisnu pribadi

MEMANG agak sulit mencari jumlah pasti berapa angka pertumbuhan bisnis taman bermain di Jakarta, apalagi di Indonesia. Meskipun begitu, bila kita agak sedikit menaruh perhatian, secara kasat mata jumlahnya terus bertambah.

Kesan ini diperkuat oleh penjelasan Melania Hamdan, Ketua Yayasan Pendidikan Indonesia Amerika yang memiliki taman bermain Tutor Time untuk usia 1-6 tahun di Kemang dan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Tahun ini, tiba-tiba permintaan mendapatkan wara laba taman bermain yang berpusat di Florida, Amerika Serikat, ini meningkat. Lokasi yang baru berdiri tahun ini ada di Bandung, Puri Indah, Pondok Indah, dan akan segera di Pluit, Jakarta Utara. Baru sebulan dibuka, sudah 17 anak mendaftar di Tutor Time Pondok Indah.

"Mungkin karena ekonomi booming lagi sehingga yang berminat pada taman bermain seperti ini meningkat. Ini juga karena keinginan orangtua memberikan yang terbaik untuk anaknya," kata Melania.

Sependapat dengan pengamatan Melania adalah Anggani Sudono. Praktisi dan pengamat pendidikan ini mengatakan, munculnya taman-taman bermain dengan pesat belakangan ini karena permintaan masyarakat. Begitu juga dengan taman bermain yang menawarkan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.

Dra Tjut Rifameutia U Ali-Nafis, MA, psikolog dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, melihat semakin banyaknya pasangan muda yang dua-duanya bekerja dan hubungan dengan lingkungan sekitar yang tidak akrab seperti di kota-kota besar, membuat taman bermain menjadi kebutuhan pasangan muda.

"Itu peluang bisnis, namun dalam menjalankan bisnis sebaiknya yayasan menjalankannya dengan serius dan benar. Misalnya, bila ingin menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar, gunakan pengajar yang bisa berbicara Inggris dengan benar dan baik. Jika bahasa Inggris hanya sebagai daya tarik dan untuk gaya-gayaan, hal itu justru akan merusak kemampuan berbahasa anak," jelas Rifameutia.


***

Kompas/alif ichwan
SALAH satu daya tarik yang banyak ditawarkan taman bermain saat ini adalah penggunaan bahasa Inggris sebagai pengantar. Alasan orangtua umumnya karena mereka ingin mempersiapkan anaknya sedini mungkin menghadapi masa depan. Masa depan lalu diterjemahkan antara lain dengan sedini mungkin menguasai bahasa asing, dalam hal ini bahasa Inggris (baca juga halaman 13).

Keinginan itu barangkali tidak berlebihan karena setiap hari kita memang dicekoki berbagai jargon seputar globalisasi: Pasar bebas, AFTA, saluran MTV, film Hollywood, makanan mulai dari steak sampai burger. Bahkan, percakapan sehari-hari pun terasa kurang keren bila tidak menyisipkan bahasa Inggris, tidak peduli apakah pemilihan kalimat atau katanya tepat atau tidak.

Karena itu, bukanlah hal aneh bila anak-anak yang dimasukkan ke taman bermain itu tidak selalu berasal dari keluarga yang bisa berbahasa Inggris. Seperti dikatakan Cynthia Moeljono, koordinator sekolah Tutor Time Pondok Indah, ada orangtua yang sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris menyekolahkan anaknya di Tutor Time yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, baik itu keluarga Indonesia maupun warga asing yang bekerja di sini. "Tetapi, tidak apa-apa, karena anak belajar melalui bermain," kata Cynthia.

Anggani Sudono yang mengajar di Jakarta International School di Jakarta Selatan dari tahun 1964-1990 mengatakan, memang ada hasil penelitian yang menyebutkan makin dini anak diperkenalkan dengan bahasa semakin cepat anak menguasai. Akan tetapi, secara prinsip ia lebih memilih anak menguasai bahasa ibunya dengan baik sebelum diperkenalkan pada bahasa lain.

Anggani berpendapat, hal itu penting supaya anak tidak mengalami "kebingungan bahasa" yang akan terbawa sampai besar karena tiap bahasa memiliki logikanya sendiri. Bila memang orangtua memutuskan memasukkan anaknya sejak dini di taman bermain yang menggunakan pengantar bahasa Inggris, sekolah maupun orangtua harus konsisten menggunakan kedua bahasa itu. "Jangan dicampur-campur, misalnya dengan bilang 'Ini red book,'" jelas Anggani.

Logika berbahasa ini bisa mempengaruhi anak sampai ke usia lebih lanjut, artinya mungkin saja anak bisa mengucapkan kata-kata bahasa Inggris dengan baik dan tampak mampu menyusun kalimat berbahasa Inggris, tetapi logika berbahasanya tidak mengikuti logika bahasa Inggris. Hal yang sama juga bisa terjadi pada bahasa Indonesianya. Padahal, seseorang dinilai dari kemampuannya berkomunikasi.

Menurut Anggani, bila sekolah sepenuhnya menggunakan bahasa Inggris, maka orangtua di rumah harus aktif membantu anaknya. Misalnya, menentukan satu waktu tertentu dalam sehari sebagai saat berbahasa Inggris dan anak menyadari saat itu ia sedang berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Orangtua juga bisa membantu membacakan buku cerita berbahasa Inggris. "Tetapi, saat tiba berbahasa Indonesia, berkomunikasilah dengan bahasa Indonesia yang benar dan anak tahu bahwa dia sedang berkomunikasi dalam bahasa Indonesia," tambah Anggani yang juga menjadi anggota Badan Pembina Akademik Perguruan Islam Al Izhar di Pondok Labu, Jakarta Selatan.

Sedangkan Rifameutia mengatakan, anak memang memiliki potensi belajar bahasa yang luar biasa, bahkan mampu menguasai tiga bahasa sekaligus. Namun, syaratnya saat mengenalkan sebuah bahasa, harus konsisten menggunakan bahasa itu setiap berkomunikasi dengan anak. "Pemakaian bahasa itu pun harus benar," tambah Rifameutia. Selain itu, jangan menekankan sisi kognitif. "Misalnya, 'Merah itu bahasa Inggrisnya red.' Itu salah sama sekali."


***
SEBENARNYA ada hal-hal lain yang lebih penting yang harus diperhatikan orangtua ketika memilih taman bermain, yaitu mencocokkan antara tujuan orangtua memasukkan anak ke taman bermain dan fasilitas yang disediakan taman bermain bersangkutan.

"Seberapa mendesak anak dimasukkan ke taman bermain dan pada usia berapa, sangat tergantung dari orangtua. Jika orangtua merasa tidak bisa memberikan stimulus (rangsangan) untuk perkembangan anaknya, dia bisa memasukkan anaknya ke taman bermain. Namun, jika orangtua mampu memberikan sendiri stimulus itu, maka tidak terlalu mendesak memasukkan anak ke taman bermain. Anak yang diasuh sendiri oleh orangtuanya bisa berkembang sama baiknya dengan anak yang dimasukkan ke taman bermain," kata Rifameutia.

Kelebihan anak yang dimasukkan ke taman bermain sejak dini adalah kemampuan bersosialisasi yang lebih cepat dibandingkan anak yang diberi stimulus hanya oleh orangtuanya di rumah saja. "Namun, bukan berarti anak yang dipegang sendiri oleh orangtuanya tidak bisa mengejar kemampuan itu. Hanya pada awalnya saja anak lulusan taman bermain lebih cepat bersosialisasi," tambah Rifameutia.

Di tengah belantara tawaran dan iklan taman bermain, orangtua perlu hati-hati memilih. Jangan hanya melihat bentuk fisik bangunan dan fasilitas, tetapi yang lebih penting bagaimana para "guru" di taman bermain "mengajar" anak-anak balita itu.

Kelompok bermain yang baik menurut Anggani adalah yang memberikan program sesuai kebutuhan anak. Pada taman bermain penekanannya adalah pembiasaan kegiatan sehari-hari misalnya berlatih menggunakan toilet, duduk pada saat makan, mencuci tangan sebelum makan, dan berbagai pembiasaan lain. "Pada usia 2-3 tahun, fasilitator tidak menuntut anak-anak agar bisa ini-itu. Yang penting dia bisa dekat dengan anak sehingga anak merasa aman, lalu misalnya anak-anak bisa bilang ketika ingin kencing," tutur Anggani.

Beberapa syarat yang harus dipenuhi taman bermain seperti yang muncul dalam pertemuan World Forum on Early Childhood Education di Selandia Baru yang diikuti Anggani baru-baru ini antara lain taman bermain harus menjamin peningkatan kesehatan dan keamanan anak.

Pelayanan diberikan dalam kelompok kecil dengan rasio ideal satu fasilitator untuk lima anak. Tugas utama taman bermain adalah pengasuhan dan pendidikan yang harus dilakukan konsisten. "Artinya, tidak bisa sekarang fasilitator mengatakan sebelum makan harus cuci tangan, lain kali tidak apa-apa bila anak tidak cuci tangan," tambah Anggani.

Yang perlu diperhatikan juga adalah pengasuhan harus sesuai kebutuhan anak, misalnya disesuaikan dengan umur anak. Memberi pelatihan linguistik dan kebudayaan yang berkesinambungan, yaitu menggunakan bahasa yang benar, mengucapkan terima kasih bila menerima sesuatu. "Jangan gunakan 'bahasa bayi'," tambah Anggani.

Kebutuhan individual anak mendapat perhatian dalam konteks taman. Lingkungan pun harus menyenangkan dan dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan anak-anak. "Jadi misalnya, bila salah satu pembiasaan yang diberikan adalah latihan ke toilet, maka kamar mandi harus bersih dan terang sehingga tidak menakutkan anak. Bak cuci tangan, misalnya, harus sesuai dengan tinggi tubuh anak," tambah Anggani. "Yang juga harus dituntut orangtua pada taman bermain adalah laporan kemajuan individual."

Sedangkan menurut Rifameutia, taman bermain yang baik adalah yang selalu memberikan laporan untuk segala kegiatannya. Misalnya, mereka mengenalkan bentuk bulat, maka mereka akan memberikan laporan apa saja yang mereka lakukan untuk mengenalkan anak pada bulatan. "Laporan ini tidak saja yang sifatnya berkala, tetapi di setiap kegiatan. Dengan begitu orangtua bisa memantau kurikulum yang mereka jalankan. Ini penting sekali mengingat taman bermain tidak di bawah pengawasan pemerintah," jelas Rifameutia.

Menurut Direktur Pendidikan Dini Usia (Padu) Ditjen Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda Depdiknas Gautama, izin penyelenggaraan taman bermain ada di Departemen Sosial.

Tentang banyaknya taman bermain yang menetapkan biaya sangat mahal untuk ukuran rata-rata orang Indonesia, Gautama mengakui hal itu memang ada. Menurut pantauannya, hal itu karena alat peraga biasanya dibeli dari luar negeri. Belum lagi ada layanan gizi, kesehatan, tempat bermain dan alat bermain yang lengkap. "Tetapi, sebenarnya yang tidak mahal juga ada. Contohnya di Jawa Tengah, ada Padu yang biaya pendidikannya murah karena hampir semua alat sarananya dibuat sendiri oleh pengelolanya," jelas Gautama.

Akhirnya semua kembali kepada orangtua-karena para balita itu belum bisa memilih-mau sekadar gaya, ikut-ikutan trend, atau memang mencari taman bermain yang memang cocok dengan kebutuhan anak. (ARN/TRI/NMP)
   
18-12-2007 23:10:09 ke: 3
Jumlah Posts : 368
Jumlah di-Like : 1
gimana bunda2??? hehehehehehe

smua pilihan ada di tgn anda... Array
   
19-12-2007 10:25:58 ke: 4
Jumlah Posts : 3
Jumlah di-Like : belum ada like
panjang beneeeer sis... :)
thanks ya info nya.....
   
 page  1   
atau login dengan Facebook Anda