SITE STATUS
Jumlah Member :
492.574 member
user online :
1787 member
pageview's per day :
Over 100.000(!) page views
Kalkulator kesuburan
Masukan tanggal hari pertama bunda mengalami menstruasi

forum

Cari: panas anak karena kerumut diberi obat tr

New Topic :  
Jumlah Posts : 4
Jumlah di-Like : belum ada like

malem bunda2....slm kenal....kalo aq, wktu Zereen usia 7 bulanan gitu, dia tu kena sakit yg dokter sendiri g tau itu sakit apa, katanya mah kena alergi. awalnya cuma kyak digigt semut, merah, tp g ilang2, malah semakin menjalar dan kulit mengelupas seperti terbakar. dan cepat menjalar ke bagian tubuh yg lain. dan semakin melebar, sebelum kulit mengelupas, dia berisi cairan berwarna keruh, bila tersentuh kulit (tangan) terasa panas. sudah dikasih obat dari dokter. kata temen, ini terkena bakteri. kt tetangga yg sudah pengalaman, ini mah " sakit geulis ", gpp. tp sgb ibu yg br punya ank merasa sangat khawatir melihat anak seperti tersiksa spt itu. ini berlangsung sekitar 1 minggu. setelah sakitnya mulai kering, c dd (Zereen) badannya panas, batuk, pilek. kemudian diberi obat penurun panas. yg agak lama batuknya sekitar 1 minggu, tp alhmdulillas skr sudah pulih seperti sedia kala. cuma yg agak susah skr adl makannya. karena aq kerja, jd mungkin g terlalu bervariasi makannya, jd bosen dianya.

Mohon sharinya bunda2 buat makanan baby qu.....thanks ...
   


Jumlah Posts : 4
Jumlah di-Like : belum ada like
malem bunda2....slm kenal....kalo aq, wktu Zwrwwn usia 7 bulanan gitu, dia tu kena sakit yg dokter sendiri g tau itu sakit apa, katanya mah kena alergi. awalnya cuma kyak digigt semut, merah, tp g ilang2, malah semakin menjalar dan kulit mengelupas seperti terbakar. dan cepat menjalar ke bagian tubuh yg lain. dan semakin melebar, sebelum kulit mengelupas, dia berisi cairan berwarna keruh, bila tersentuh kulit (tangan) terasa panas. sudah dikasih obat dari dokter. kata temen, ini terkena bakteri. kt tetangga yg sudah pengalaman, ini mah " sakit geulis ", gpp. tp sgb ibu yg br punya ank merasa sangat khawatir melihat anak seperti tersiksa spt itu. ini berlangsung sekitar 1 minggu. setelah sakitnya mulai kering, c dd (Zereen) badannya panas, batuk, pilek. kemudian diberi obat penurun panas. yg agak lama batuknya sekitar 1 minggu, tp alhmdulillas skr sudah pulih seperti sedia kala. cuma yg agak susah skr adl makannya. karena aq kerja, jd mungkin g terlalu bervariasi makannya, jd bosen dianya.

Mohon sharinya bunda2 buat makanan baby qu.....thanks ...
   
Jumlah Posts : 1725
Jumlah di-Like : 25
Dok, anak saya baru 10bln, sudah seminggu ini tidurnya selalu resah karna batuk yg terus menerus.. lalu saya berikan obat batuk bayi berharap besok sudah mereda, malam kedua batuknya kambuh disertai muntah2 & badan panas,esok pagi sy ke dr spec. Anak & diberi obat & menganjurkan segera rongent stlh sembuh krn ada indikasi flek, malam harinya kambuh kembali dgn kejadian yg sma, krn ga tega melihat bdnnya lemas, saya pergi ke ugd agar di cek kondisinya apakah dia terkena asma, stlh dicek tdk ada indikasi asma & kami pulang kembali, esok pagi saya periksa ke spec. Anak dengan dr yg berbeda(dr pertama tdk praktek) dan diberi tindakan mantub & uap serta agar segera dirongent krn menuju flek, malam ke 4 kambuh kembali dgn ciri2 sama, ada yg menganjurkan bawa ke spec. Paru krn anaknya pernah mengalaminya, divonis flek oleh spec. Anak (minum obat 6 bln+3bln) krn merasa tdk ada perubahan dia konsul ke spec.paru dan penyakitnya asma bkn flek & dia dimarahi krn tubuh anaknya kurus & pendek, sore sy ke spec. Paru dan benar anak sy divonis asma alergi & hasil mantub negatif serta diberi obat asma, malam ke 5 kondisi anak sy lbh baikan dibanding mlm2 sbelumnya, esok paginya anak sy kambuh lg batuk2 disertai muntah, kmudian sy bawa ke dr sub Spec paru anak dan dia menjelaskan anak sy gejala asma hindari sgala pemicu asma& disarankan agar tdk perlu rongent krn percuma pasti hasilnya tb / flek & diberi obat serta hrs di uap, tp sampai saat ini blom ada perkembangan yg berarti krna batuk&muntah masih sering.
pertanyaan saya:
1. Anak sy asma / flek
2. Knapa diagnosa spec.anak & spec.paru berbeda serta anjuran rongent
3. Apa yg hrs sy lakukan bila anak saya batuk2 trus dan disetai muntah
4. Apakah penggunaan obat terus menerus dpt mempengaruhi tumbuh kembang anak
Saya berharap ada solusi terbaik dari doter, karna saya bingung krn anak blom sembuh, terima kasih.

Dari : mira damayanti

Jawaban:

Dear Bunda,





















































































Untuk mendiagnosa adanya TB paru pada anak terdapat standart operasional tersendiri. Kebijakan mendiagnosa suatu penyakit dapat saja memiliki perbedaan metode di antara suatu daerah dengan daerah lainnya, di antara negara satu dengan negara lainnya, demikian pula di antara satu dokter dengan dokter lainnya. Namun, secara garis besar, metode untuk mendiagnosa suatu penyakit akan dilakukan berdasarkan etika dan guideline yang secara umum dan luastelah  disepakati. Menurut anjuran dari Ikatan Dokter Anak Indonesia, dalam mendiagnosa TB paru pada anak adalah sebagai berikut: 









































































































































































































































































     
  1.  



  2. Diagnosis tuberkulosis (TB) pada anak didasarkan pada:














       
    •  



    • Bukti atau kecurigaan adanya kontak dengan sumber infeksi TB, biasanya pasien TB dewasa dengan hasil basil tahan asam (BTA) positif.





















    •  
    •  



    • Gejala dan tanda klinis sugestif TB, termasuk penilaian seksama terhadap kurva tumbuh kembang anak.





















    •  
    •  



    • Uji tuberkulin positif.





















    •  
    •  



    • Gambaran radiologis sugestif ke arah TB.





























    •  
    •  



    •  













    •  
    •  





    •  






















  3.  
  4.  



  5. Uji tuberkulin penting dalam penegakan diagnosis TB pada anak. Sangat tidak direkomendasikan mendiagnosis TB hanya berdasarkan pemeriksaan radiologis.





























  6.  
  7.  



  8.  













  9.  
  10.  





  11.  


























































































































































































































































Pemeriksaan Radiologis pada paru anak tidak dapat dijadikan dasar utama karena paru anak dapat menunjukkan gambaran perawanan/perkabutan pada paru layaknya pada orang dewasa, namun tidak khusus pada keadaan TB paru layaknya yang terjadi pada orang dewasa. Bila ada infeksi paru lainnya, dapat menunjukkan perawanan pada paru anak karena luas lapang paru anak yang tidak seluas lapang paru orang dewasa (pada orang dewasa TB paru menunjukkan perawanan pada daear puncak paru). Pada anak, TB paru dapat diduga dengan kuat ketika gambaran radiologis menunjukkan bercak milier pada lapang paru. Maka itu, diagnosis TB paru lebih ditekankan pada :









































































































































































































































































     
  •  



  • Bukti atau kecurigaan adanya kontak dengan sumber infeksi TB, biasanya pasien TB dewasa dengan hasil basil tahan asam (BTA) positif.





















  •  
  •  



  • Gejala dan tanda klinis sugestif TB, termasuk penilaian seksama terhadap kurva tumbuh kembang anak.





















  •  
  •  



  • Uji tuberkulin positif.





















  •  
  •  



  • Gambaran radiologis sugestif ke arah TB.





























  •  
  •  



  •  













  •  
  •  





  •  


























































































































































































































































Pada penyakit asma, tanda dan gejala hanya terjadi bila adanya serangan. Pada umumnya anak yang memiliki penyakit asma juga memiliki kecenderungan alergi terhadap alergen tertentu. Bila sang anak mengalami kontak dengan alergen tersebut, maka timbulah reaksi alergi yang dapat juga memicu timbulnya asma. Karena itu, anak yang memiliki keadaan asma tidak akan menunjukkan tanda dan gejala fisik khas penyakit asma bila tidak ada serangan asma (ketika sehat tidak akan tampak tanda dan gejala asma).



























































































































































































































































Bila anak Bunda sudah didiagnosa dengan penyakit asma, usahakan untuk menghindari bahan-bahan yang diduga dapat memicu asma dan alergi. pada umumnya bahan yang menyebabkan reaksi alergi adalah makanan yang berbahan seafood, telur, bahan-bahan kimia ataupun cuaca dan suhu yang juga dapat memicu timbulnya reaksi alergi dan asma. 



























































































































































































































































Singkirkan bahan-bahan tersebut yang Bunda curigai menjadi penyebab reaksi alergi dan asma, ingat kembali sejak kapan dan sejak kontak dengan bahan apakah serangan batuk dan sesak mulai terjadi, hindari untuk sementara waktu dan lihat perubahan keadaan anak Bunda. Lakukan satu persatu diantara seluruh bahan yang dicurigai menjadi alergen, agar dapat lebih mudah mengamati keadaan anak Bunda.



























































































































































































































































Obat pada serangan asma pada umumnya hanya diberikan ketika serangan terjadi sampai beberapa hari meskipun serangan telah mereda dan sembuh. Namun, konsultasikan dan ikuti saran penggunaan obat-obatan pada dokter yang merawat anak Bunda. Tumbuh kembang anak tergantung dari banyak faktor seperti keadaan genetik, faktor gizi dan kemampuan tubuh mencerna asupan nutrisi tersebut. Berikan obat untuk membantu keadaan umum anak Bunda sesuai petunjuk dokter dan tidak lupa untuk melakukan pencegahan seperti menjaga kesehatan dan menjauhkan dari pemicu reaksi alergi dan asma pada anak Anda.






























































































































   


24-02-2014 04:16:10 Just Share,bunda :)
Jumlah Posts : 527
Jumlah di-Like : belum ada like

COMMON PROBLEM PADA ANAK

Selama ini banyak dari kita menjadi orangtua berdasar ilmu "KATANYA", baik dalam masalah kesehatan anak, parenting maupun psikologi anak. Memang tidak ada sekolah untuk menjadi orangtua, kita harus aktif untuk belajar dari semua sumber yang dapat dipercaya, dari buku,seminar,internet maupun berdiskusi langsung dengan ahlinya. Kadang kala kita lebih percaya pada orangtua kita karena beliau lebih berpengalaman, tetapi dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada beliau,kita tetap harus mencari informasi tambahan karena ilmu pengetahuan selalu berkembang.

Seperti kita tahu, common problem pada anak atau yang jadi langganan sakitnya anak tidak jauh2 dari demam,batuk,pilek,diare,muntah & konstipasi. Tetapi yang sering luput dari perhatian,bahwa itu semua bukan penyakit,tetapi ALARM, gejala suatu penyakit, maka akan lebih bijak jika kita lakukan observasi untuk mencari penyebab sakitnya dan BUKAN mengobati gejala penyakitnya.

Demam umumnya tidak berbahaya,yg hrs kita lakukan dicari penyebabnya. Jika demam disertai meler,batuk,rewel,lesu,tinja lembek biasanya mrpk gelaja FLU. Demam dg mual,muntah,diare kemungkinan Gastroentritis. Demam disertai rewel & anak suka tarik2 telinga,mungkin infeksi telinga atau tumbuh gigi. Demam & sakit saat berkemih,mengarah ke Infeksi Saluran Kencing. Demam,>3th,sakit saat menelan,mengarah pada radang tenggorokan. Demam >38,5C,batuk,dahak byk & SESAK NAPAS ada kemungkinan Pneumonia. Demam,sakit kepala hebat,sakit hebat,muntah & kaku bulu kuduk,mengarah ke Meningitis.

Yang penting harus diamati perilaku anak & dijaga agar tidak dehidrasi.Anak harus byk diberi asupan cairan (air,sup,jus buah bahkan es krim juga boleh kok selama anak tidak alergi dingin toh ditenggorokan es akan lumer & menyesuaikan suhu tubuh), kompres dengan air hangat atau bisa juga diajak berendam air hangat. Jika suhu sudah diatas 38,3C & anak merasa tidak nyaman,boleh diberikan obat demam. Tapi jika behavior anak masih baik,masih lari2 & bermain,pemberian obat demam bisa ditunda karena sebenarnya obat demam hanya menurunkan demam bbrp strip saja & lbh mrpk pain killer utk memberi rasa nyama pada anak. Selama penyebabnya masih ada, suhu badan masih mungkin utk naik lagi. Suhu tinggi ini juga diperlukan utk membunuh virus lho,karena virus berkembang baik disuhu tidak tinggi.

Batuk & pilek sebenarnya tidak ada obatnya,akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh yg baik. Batuk sebenarnya adalah mekanisme pertahanan tubuh utk mengeluarkan sesuatu yg mengganggu saluran pernafasan.Obat batuk yg beredar dipasaran sebagian besar tidak akan memulihkan anak lebih cepat.  WHO scr tegas menyatakan bahwa batuk pada anak tdk diredakan dgn obat,melainkan dg cara yg aman & nyaman.Reflek batuk ini tidak boleh dihilangkan krn dpt membuat dahak terkumpul & menyumbat jalan nafas. Yg bisa kita lakukan adalah mengurangi produksi lendir dgn banyak minum yg hangat,bantal agak tinggi,jangan ada asap rokok & diusahakan agar ruangan lembab (bs dg menaruh ember diisi air panas mendidih dikamar),& jangan gunakan Antibiotik.

Orangtua kdg menganggap anak meler sbg flu,pdhl bisa infeksi virus,alergi,kedinginan. Tidak ada cara atau obat utk membunuh infeksi virus flu. Daya tahan tubuh anak thd infeksi virus flu akan meningkat sejalan dgn waktu.

Jika batuk & pilek yang tidak kunjung sembuh, perlu dicermati adanya alergi atau virus yg pingpong.

Diare jg bukan penyakit melainkan ALARM, shg kita hrs mencari penyebabnya & bukan menghentikan diarenya. Sebagian besar disebabkan oleh virus shg bisa sembuh sendiri /self-limited disease, & tujuan terapi adalah untuk mencegah dehidrasi bukan utk menstop Diare. Diare bisa disebabkan oleh Infeksi (Virus-->paling srg pada anak, bakteri & parasit), keracunan makanan,efek samping obat terutama antibiotika yg tdk rasional,gangguan proses pencernaan, alergi bahan makanan tertentu (alergi susu/intoleransi laktosa)

Muntah jg merupakan ALARM, bisa disebabkan infeksi virus (Gastroentritis),makan terlalu banyak,stres,over excited,mabuk perjalanan. Baik muntah maupun diare yg harus kita perhatikan adalah asupan cairan utk mencegah dehidrasi.

Konstipasi biasanya disebabkan oleh makanan kurang serat-banyak lemak,kurang cairan/minum,peralihan makanan lunak ke padat, peralihan ASI ke susu non ASI.  Tapi bisa juga krn kebiasaan & kondisi psikologis spt kebiasaan menahan BAB krn enggan menggunakan toilet umum, kondisi medis spt dehidrasi,lama berbaring,susah makan,luka pada anus atau krn efek samping obat2an. Untuk mengatasinya dgn makan seimbang & teratur,cukup kebutuhan serat,cukup kebutuhan cairan & ajari anak utk tidak menahan BAB.

Belajar menjadi orangtua terutama utk lebih rasional dalam penggunaan obat pada anak2 memang sulit,bahkan biasanya ujian akan datang dr orang2 terkasih disekitar yg memperhatikan kita. Tapi saat saya bimbang, akankah anakku akan kuberi obat ini,padahal sudah jelas2 penyebabnya virus yg akan sembuh sendiri tanpa obat ( walaupun waktunya lama), yg saya lakukan adalah membaca ulang side effect dari obat,jika kurang mantap browsing dulu www.drugs.com sehingga saya akan berpikir ulang dengan efek samping seperti itu akankah saya tega " membeli kenyamanan sesaat". Saya tidak Anti Obat, hanya berusaha lebih rasional dalam penggunaan obat apalagi antibiotik jika tidak perlu benar.

Menjadikan dokter sebagai partner untuk berkonsultasi juga sesuatu yg penting & tidak menjadikan mereka "tukang obat". Setidaknya jika ke dokter,setelah menceritakan semua gejalanya saya akan bertanya "diagnosanya apa ya dok?" dan bukan "obatnya apa?"

   
Jumlah Posts : 527
Jumlah di-Like : belum ada like
So long long articcle ya,bund?Poin pentingnya disini :) 20 Mitos Kampanye Hitam Anti ImunisasiDr. Widodo Judarwanto Sp.A Imunisasi adalah investasi terbesar bagi anak di masa depan. Imunisasi adalah hak anak yang tidak bisa ditunda dan diabaikan sedikitpun. Imunisasi sudah terbukti manfaat dan efektivitasnya dan teruji keamanannya secara ilmiah dengan berdasarkan kejadian berbasis bukti. Tetapi masih banyak saja orangtua dan kelompok orang yang menyangsikannya. Setiap tahun ada sekitar 2,4 juta anak usia kurang dari 5 tahun di dunia yang meninggal karena penyakit-penyakit yang dapat dicegah oleh vaksinasi. Di Indonesia, sekitar 7 persen anak belum mendapatkan vaksinasi. Salah satu masalah utama yang menghambat keberhasilan program imunisasi adalah penyebaran informasi yang tidak benar dan menyesatkan tentang imunisasi. Hal itu adalah wajar terjadi karena demikian banyak informasi yang beredar yang tidak berdasarkan pemikiran dan dasar ilmiah meski dilakukan oleh seorang dokter. Hambatan lain adalah munculnya kelompok-kelompok antivaksinasi yang menyebabkan kampanye hitam dengan membawa faktor agama dan budaya. Biasanya, kelompok tertentu yang menyebarkan kampanye hitam imunisasi demi kepentingan pribadi khususnya dalam kepentingan bisnis terselubung yang mereka lakukan. Sebagian kelompok ini adalah yang berdiri dibelakang oknum pelaku naturopathy, food combining, homeopathy atau bisnis terapi herbal. Inilah 20 Mitos Tidak benar Yang Disebarkan Kampanye Hitam Anti Imunisasi : 1. Imunisasi tidak aman.Tidak Benar. Saat ini 194 negara terus melakukan vaksinasi untuk bayi dan balita. Badan resmi yang meneliti dan mengawasi vaksin di negara tersebut umumnya terdiri atas para dokter ahli penyakit infeksi, imunologi, mikrobiologi, farmakologi, epidemiologi, dan biostatistika. Sampai saat ini tidak ada negara yang melarang vaksinasi, justru semua negara berusaha meningkatkan cakupan imunisasi lebih dari 90% . 2. Terdapat "ilmuwan" menyatakan bahwa imunisasi berbahaya.Tidak benar imunisasi berbahaya. "Ilmuwan" yang sering dikutip di buku, tabloid, milis ternyata bukan ahli vaksin, melainkan ahli statistik, psikolog, homeopati, bakteriologi, sarjana hukum, wartawan. sehingga mereka tidak mengerti betul tentang vaksin. Sebagian besar mereka bekerja pada era tahun 1950- 1960, sehingga sumber datanya juga sangat kuno. 3. "Ilmuwan kuno" yang sering dikutip informasi di media masa atau media elektronik lainnya adalah ahli vaksin.Tidak benar. Mereka semua bukan ahli vaksin. Contoh : Dr Bernard Greenberg (biostatistika tahun 1950), DR. Bernard Rimland (Psikolog), Dr. William Hay (kolumnis), Dr. Richard Moskowitz (homeopatik), dr. Harris Coulter, PhD (penulis buku homeopatik, kanker), Neil Z. Miller, (psikolog, jurnalis), WB Clark (awal tahun 1950), Bernice Eddy (Bakteriologis tahun 1954), Robert F. Kenedy Jr (sarjana hukum) Dr. WB Clarke (ahli kanker, 1950an), Dr. Bernard Greenberg (1957-1959), Dr. William Hay, penulis buku "Immunisation: The Reality behind the Myth"(penggagas food combioning). Neil Z. Miller sering disebut sebagai peneliti vaksin internasional ternyata adalah medical research journalist dan natural health advocate. 4. Dokter Wakefield adalah "ahli vaksin", membuktikan MMR menyebabkan autisme.Tidak benar. Wakefield juga bukan ahli vaksin, dia dokter spesialis bedah. Penelitian Wakefield tahun 1998 hanya dengan sample 18. Banyak penelitian lain oleh ahli vaksin di beberapa negara menyimpulkan MMR tidak terbukti mengakibatkan autis. Setelah diaudit oleh tim ahli penelitian, terbukti bahwa Wakefield memalsukan data, sehingga kesimpulannya salah. Hal ini telah diumumkan di majalah resmi kedokteran Inggris British Medical Journal Februari 2011. 5. Imunisasi sebabkan autisme.Tidak benar. Beberapa institusi atau badan dunia di bidang kesehatan yang independen dan sudah diakui kredibilitasnya juga melakukan kajian ilmiah dan penelitian tentang tidak adanya hubungan imunisasi dan autisme. Dari hasil kajian tersebut, dikeluarkan rekomendasi untuk tenaga profesional untuk tetap menggunakan imunisasi MMR dan thimerosal karena tidak terbukti mengakibatkan Autisme. The All Party Parliamentary Group on Primary Care and Public Health pada bulan Agustus 2000, menegaskan bahwa MMR aman. Dengan memperhatikan hubungan yang tidak terbukti antara beberapa kondisi seperti inflammatory bowel disease (gangguan pencernaan) dan autisme adalah tidak berdasar. WHO (World Health Organisation), pada bulan Januari 2001 menyatakan mendukung sepenuhnya penggunaan imunisasi MMR dengan didasarkan kajian tentang keamanan dan efikasinya. Beberapa institusi dan organisasi kesehatan bergengsi di Inggris pada Januari 2001 setelah mengadakan pertemuan dengan pemerintahan Inggris mengeluarkan pernyataan bersama yaitu MMR adalah vaksin yang sangat efektif dengan laporan keamanan yang sangat baik. The American Academy of Pediatrics (AAP), organisasi profesi dokter anak di Amerika Serikat pada tanggal 12 - 13 Juni 2000 mengadakan konferensi dengan topik "New Challenges in Childhood Immunizations" di Oak Brook, Illinois Amerika Serikat yang dihadiri para orang tua penderita autisme, pakar imunisasi kesehatan anak dan para peneliti. Pertemuan tersebut merekomendasikan bahwa tidak terdapat hubungan antara MMR dan autisme. Menyatakan bahwa pemberian imunisasi secara terpisah tidak lebih baik dibandingkan MMR, malahan terjadi keterlambatan imunisasi MMR. Selanjutnya akan dilakukan penelitian lebih jauh tentang penyebab autisme. 6. Thimerosal dalam kandungan autism sebagai penyebab autisme. Tidak benar. Penelitian yang mengungkapkan bahwa thimerosal tidak mengakibatkan Autis dilakukan oleh berbagai penelitian di antaranya dilakukan oleh Kreesten M. Madsen dkk dari berbagai intitusi di Denmark. Mereka mengadakan penelitian bersama terhadap anak usia 2 hingga 10 tahun sejak tahun 1970 hingga tahun 2000. Mengamati 956 anak sejak tahun 1971 hingga 2.000 anak dengan autis. Sejak thimerosal digunakan hingga tahun 1990 tidak didapatkan kenaikkan penderita auitis secara bermakna. Kemudian sejak tahun 1991 hingga tahun 2000 bersamaan dengan tidak digunakannya thimerosal pada vaksin ternyata jumlah penderita autis malah meningkat drastis. Kesimpulan penelitian tersebut adalah tidak ada hubungan antara pemberian thimerosal dengan autis. Demikian juga Stehr-Green P dkk, Department of Epidemiology, School of Public Health and Community Medicine, University of Washington, Seattle, WA, bulan Agustus 2003 melaporkan antara tahun 1980 hingga 1990 membandingkan prevalensi dan insiden penderita autisme di California, Swedia, dan Denmark yang mendapatkan ekposur dengan imunisasi thimerosal. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa insiden pemberian thimerosal pada autisme tidak menunjukkan hubungan yang bermakna. Geier DA dalam Jurnal Americans Physicians Surgery tahun 2003, menungkapkan bahwa thimerosal tidak terbukti mengakibatkan gangguan neurodevelopment (gangguan perkembangan karena persarafan) dan penyakit jantung. Melalui forum National Academic Press tahun 2001, Stratton K dkk melaporkan tentang keamanan thimerosal pada vaksin dan tidak berpengaruh terhadap gangguan gangguan neurodevelopment (gangguan perkembangan karena persarafan). Sedangkan Hviid A dkk dalam laporan di majalah JAMA 2004 mengungkapkan penelitian terhadap 2.986.654 anak per tahun didapatkan 440 kasus autis. Dilakukan pengamatan pada kelompok anak yang menerima thimerosal dan tidak menerima thimerosal. Ternyata tidak didapatkan perbedaan bermakna. Disimpulkan bahwa pemberian thimerosal tidak berhubungan dengan terjadinya autis. Menurut penelitian Eto, menunjukkan manifestasi klinis autis sangat berbeda dengan keracunan merkuri. Sedangkan Aschner, dalam penelitiannya menyimpulkan tidak terdapat peningkatan kadar merkuri dalam rambut, urin dan darah anak Autis. Pichichero melakukan penelitian terhadap 40 bayi usia 2-6 bulan yang diberi vaksin yang mengandung thimerosal dan dibandingkan pada kelompok kontrol tanpa diberi thimerosal. Setelah itu dilakukan evaluasi kadar thimerosal dalam tinja dan darah bayi tersebut. Ternyata thimerosal tidak meningkatkan kadar merkuri dalam darah, karena etilmerkuri akan cepat dieliminasi dari darah melalui tinja. Selain itu masih banyak lagi peneliti melaporkan hasil yang sama, yaitu thimerosal tidak mengakibatkan autisme. 7. Semua vaksin terdapat zat-zat berbahaya yang dapat merusak otak ?Tidak benar. Isu itu karena "ilmuwan" tersebut di atas tidak mengerti isi vaksin, manfaat, dan batas keamanan zat-zat di dalam vaksin. Contoh: jumlah total etil merkuri yang masuk ke tubuh bayi melalui vaksin sekitar 2 mcg/kgbb/minggu, sedangkan batas aman menurut WHO adalah jauh lebih banyak (159 mcg/kgbb/minggu). Oleh karena itu vaksin mengandung merkuri dengan dosis yang sangat rendah dan dinyatakan aman oleh WHO dan badan-badan pengawasan lainnya. 8. Vaksin terbuat dari nanah, dibiakkan di janin anjing, babi, manusia yang sengaja digugurkan?Tidak benar. Isu itu bersumber dari "ilmuwan" 50 tahun lalu (tahun 1961-1962). Pengetahuan imunologi, biomolekuilar vaksin dan tknologi pembuatan vaksin berkembang sangat pesat. Sekarang tidak ada vaksin yang terbuat dari nanah atau dibiakkan embrio anjing, babi, atau manusia. Metode baru dan teknologi paling modern dari manipulasi biomolekuler telah diyakini teknologi vaksin baru sekarang memasuki "zaman keemasan." Perbaikan vaksin sangat mungkin dilakukan di masa depan untuk mendapatkan keamanan dan efektifitas vaksin lebih hebat lagi 9. Imunisasi tak masuk akal bermanfaat.Tidak benar. Pendapat yang menyesatkan yang tidak berdasarkan kajian ilmiah dan penelitian ilmiah dikeluarkan oleh Dr. William Hay seorang dokter yang bergerak di bidang food combining, dalam buku "Immunisation: The Reality behind the Myth""Tak masuk akal memikirkan bahwa Anda bisa menyuntikkan nanah ke dalam tubuh anak kecil dan dengan proses tertentu akan meningkatkan kesehatan. Tubuh punya cara pertahanan tersendiri yang tergantung pada vitalitas saat itu. Jika dalam kondisi fit, tubuh akan mampu melawan semua infeksi, dan jika kondisinya sedang menurun, tidak akan mampu. Dan Anda tidak dapat mengubah kebugaran tubuh menjadi lebih baik dengan memasukkan racun apapun juga ke dalamnya." Padahal sampai saat ini 194 negara di seluruh dunia yakin bahwa imunisasi aman dan bermanfaat mencegah wabah, sakit berat, cacat, dan kematian pada bayi dan balita. Terbukti 194 negara tersebut terus menerus melaksanakan program imunisasi, termasuk negara dengan sosial ekonomi tinggi dan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, dengan cakupan umumnya lebih dari 85 %. Ribuan penelitian tentang efikasi dan manfaat vaksi secara biomolekular dan secara statistik bermanfaat secara bermakna. 10. Vaksin mengandung lemak babi ?Tidak benar. Hanya sebagian kecil dari vaksin yang pernah bersinggungan dengan tripsin pada proses pengembangan maupun pembuatannya seperti vaksin polio injeksi (IPV) dan meningitis. Pada vaksin meningitis, pada proses penyemaian induk bibit vaksin tertentu 15 ? 20 tahun lalu, ketika panen bibit vaksin tersebut bersinggungan dengan tripsin pankreas babi untuk melepaskan induk vaksin dari persemaiannya. Tetapi kemudian induk bibit vaksin tersebut dicuci dan dibersihkan total, sehingga pada vaksin yang disuntikkan tidak mengandung tripsin babi. Atas dasar itu maka Majelis Ulama Indonesia berpendapat vaksin itu boleh dipakai, selama belum ada penggantinya. Contohnya vaksin meningokokus (meningitis) haji diwajibkan oleh Saudi Arabia bagi semua jemaah haji untuk mencegah radang otak karena meningokokus. 11. Vaksin yang dipakai di Indonesia buatan Amerika ?Tidak benar. Vaksin yang digunakan oleh program imunisasi di Indonesia adalah buatan PT Bio Farma Bandung, yang merupakan BUMN, dengan 98,6% karyawannya adalah Muslim. Proses penelitian dan pembuatannya mendapat pengawasan ketat dari ahli-ahli vaksin di BPOM dan WHO. Vaksin-vaksin tersebut juga diekspor ke 120 negara, termasuk 36 negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam, seperti Iran dan Mesir. Vaksin yang digunakan oleh program imunisasi di Indonesia adalah buatan PT Biofarma Bandung. Vaksin-vaksin tersebut dibeli dan dipakai oleh 120 negara, termasuk 36 negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam 12. Program imunisasi hanya di negara Muslim dan miskin agar menjadi bangsa yang lemah?Tidak benar. Imunisasi saat ini dilakukan di 194 negara, termasuk negara-negara maju dengan status sosial ekonomi tinggi, dan negara-negara non-Muslim. Kalau imunisasi bisa melemahkan bangsa, maka mereka juga akan lemah, karena mereka juga melakukan program imunisasi, bahkan lebih dulu dengan jenis vaksin lebih banyak. Kenyataanya : bangsa dengan cakupan imunisasi lebih tinggi justru lebih kuat. Jadi terbukti bahwa imunisasi justru memperkuat kekebalan terhadap penyakit infeksi, bukan melemahkan. 13. Di Amerika banyak kematian bayi akibat vaksin ?Tidak benar. Isu itu karena penulis tidak faham data Vaccine Adverse Event Reporting System (VAERS) FDA Amerika tahun 1991-1994, yang mencatat 38.787 laporan kejadian ikutan pasca imunisasi, oleh penulis angka tersebut ditafsirkan sebagai angka kematian bayi 1 - 3 bulan. Kalau memang benar angka kematian begitu tinggi tentu FDA AS akan heboh dan menghentikan vaksinasi. Faktanya Amerika tidak pernah meghentikan vaksinasi bahkan mempertahankan cakupan semua imunisasi di atas 90 %. Angka tersebut adalah semua keluhan nyeri, gatal, merah, bengkak di bekas suntikan, demam, pusing, muntah yang memang rutin harus dicatat kalau ada laporan masuk. Kalau ada 38.787 laporan dari 4,5 juta bayi berarti KIPI hanya 0,9 %. 14. Banyak bayi balita meninggal pada imunisasi masal campak di Indonesia ?Tidak benar. Setiap laporan kecurigaan adanya kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) selalu dikaji oleh Komnas/Komda KIPI yang terdiri dari pakar-pakar penyakit infeksi, imunisasi, imunologi. Setelah dianalisis dari keterangan keluarga, dokter yang merawat di rumah sakit, hasil pemeriksaan fisik, dan laboratorium, ternyata balita tersebut meninggal karena radang otak, bukan karena vaksin campak. Pada bulan itu ada beberapa balita yang tidak imunisasi campak juga menderita radang otak. Berarti kematian balita tersebut bukan karena imunisasi campak, tetapi karena radang otak. 15. Demam, bengkak, merah setelah imunisasi adalah bukti vaksin berbahaya?Tidak benar. Demam, merah, bengkak, gatal di bekas suntikan adalah reaksi wajar setelah vaksin masuk ke dalam tubuh. Seperti rasa pedas dan berkeringat setelah makan sambal adalah reaksi normal tubuh kita. Umumnya keluhan tersebut akan hilang dalam beberapa hari. Boleh diberi obat penurun panas, dikompres. Bila perlu bisa konsul ke petugas kesehatan terdekat. 16. Program imunisasi gagal?Tidak benar. Isu-isu tersebut bersumber dari data yang sangat kuno (50-150 tahun lalu) hanya dari 1 - 2 negara saja, sehingga hasilnya sangat berbeda dengan hasil penelitian terbaru, karena vaksinnya sangat berbeda. Isu vaksin cacar variola gagal, berdasarkan data yang sangat kuno, di Inggris tahun 1867 - 1880 dan Jepang tahun 1872-1892. Fakta terbaru sangat berbeda, bahwa dengan imunisasi cacar di seluruh dunia sejak tahun 1980 dunia bebas cacar variola. Isu vaksin difteri gagal, berdasarkan data di Jerman tahun 1939. Fakta sekarang: vaksin difteri dipakai di seluruh dunia dan mampu menurunkan kasus difteri hingga 95 %. Isu pertusis gagal hanya dari data di Kansas dan Nova Scottia tahun 1986. Isu vaksin campak berbahaya hanya berdasar penelitian 1989-1991 pada anak miskin berkulit hitam di Meksiko, Haiti dan Afrika. 17. Program imunisasi gagal, karena setelah diimunisasi bayi balita masih bisa tertular penyakit tersebut ?Tidak benar. Program imunisasi di seluruh dunia tidak pernah gagal. Perlindungan vaksin memang tidak 100%. Bayi dan balita yang telah diimunisasi masih bisa tertular penyakit, tetapi jauh lebih ringan dan tidak berbahaya. Banyak penelitian imunologi dan epidemiologi di berbagai membuktikan bahwa bayi balita yang tidak diimunisasi lengkap tidak mempunyai kekebalan spesifik terhadap penyakit-penyakit berbahaya. Mereka mudah tertular penyakit tersebut, akan menderita sakit berat, menularkan ke anak-anak lain, menyebar luas, terjadi wabah, menyebabkan banyak kematian dan cacat. 18. Vaksin berbahaya, tidak effektif, tidak dilakukan di negara maju ?Tidak benar. Karena di Indonesia ada orang-orang yang tidak mengerti tentang vaksin dan imunisasi, hanya mengutip dari "ilmuwan" tahun 1950 -1960 yang ternyata bukan ahli vaksin, atau berdasar data-data 30 - 40 tahun lalu (1970 - 1980an) atau hanya dari 1 sumber yang tidak kuat. Atau dia mengutip Wakefield spesialis bedah, bukan ahli vaksin, yang penelitiannya dibantah oleh banyak tim peneliti lain, dan oleh majalah resmi kedokteran Inggris British Medical Journal Februari 2011 penelitian Wakefield dinyatakan salah atau bohong. Ia hanya berdasar kepada 1 - 2 laporan kasus yang tidak diteliti lebih lanjut secara ilmiah, hanya berdasar logika biasa. Badan penelitian di berbagai negara membuktikan bahwa dengan meningkatkan cakupan imunisasi, maka penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi berkurang secara bermakna. Oleh karena itu, saat ini program imunisasi dilakukan terus menerus di 194 negara, termasuk negara dengan sosial ekonomi tinggi dan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. 19. ASI, gizi, dan suplemen herbal sudah cukup menggantikan imunisasi .Tidak ada satupun badan penelitian di dunia yang menyatakan bisa, karena kekebalan yang dibentuk sangatlah berbeda. ASI, gizi, suplemen herbal, kebersihan, hanya memperkuat pertahanan tubuh secara umum, karena tidak membentuk kekebalan spesifik terhadap kuman tertentu. Kalau jumlah kuman banyak dan ganas, perlindungan umum tidak mampu melindungi bayi, sehingga masih bisa sakit berat, cacat atau bahkan mati. Imunisasi merangsang pembentukan antibodi dan kekebalan seluler yang spesifik terhadap kuman-kuman atau racun kuman tertentu, sehingga bekerja lebih cepat, efektif, dan efisien untuk mencegah penularan penyakit yang berbahaya. Selain diberi imunisasi, bayi harus diberi ASI eksklusif, makanan pendamping ASI dengan gizi lengkap dan seimbang, kebersihan badan, makanan, minuman, pakaian, mainan, dan lingkungan. Suplemen diberikan sesuai kebutuhan individual yang bervariasi. Selain itu bayi harus diberikan kasih sayang dan stimulasi bermain untuk mengembangkan kecerdasan, kreatifitas dan perilaku yang baik. 20. Imunisasi dan Konspirasi Zionisme di dalamnya.Tidak benar. Jika dirunut sejarah vaksin modern yang dilakukan oleh Flexner Brothers, dapat ditemukan bahwa kegiatan mereka dalam penelitian tentang vaksinasi pada manusia didanai oleh Keluarga Rockefeller. Di dunia internasional banyak yayasan sosial yang mendanai penelitian ilmiah tentang vaksin dan masalah kesehatan masyarakat lainnya. Memang Rockefeller sendiri adalah salah satu keluarga Yahudi yang paling berpengaruh di dunia tetapi sebenarnya mereka adalah pendiri WHO dan lembaga strategis lainnya (The UN's WHO was established by the Rockefeller family's foundation in 1948 - the year after the same Rockefeller cohort established the CIA. Two years later the Rockefeller Foundation established the U.S. Government's National Science Foundation, the National Institute of Health (NIH), and earlier, the nation's Public Health Service (PHS). Yayasan Rockefeller yang berdiri sejak tahun 1913 dan kredibilitasnya telah diakui dunia kesehatan Internasional yang berupaya meningkatkan kesehatan global dengan bekerja untuk mengubah sistem kesehatan sehingga lebih mudah diakses dan terjangkau masyarakat tidak mampu. Yayasan kesehatan dunia ini juga menghubungkan jaringan surveilans penyakit global untuk membantu mereka yang berjuang meminimalkan penyebaran penyakit menular yang dapat menyebabkan pandemi. Yayasan ini juga meningkatkan monitoring, deteksi dan respon terhadap penyakit menular seperti Ebola, SARS, dan flu burung untuk mencegah pandemi. Memperluas penggunaan teknologi untuk meningkatkan perawatan kesehatan. Melibatkan sektor swasta untuk bekerja dengan sektor publik dalam mengembangkan praktik dan kebijakan untuk menyediakan dan mendanai pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin. Sikap orang tua dalam menghadapi kampanye hitam * Bila mendengar dan mengetahui kontroversi tersebut, maka pasti akan membingungkan masyarakat awam. Hal ini terjadi karena yang memberikan informasi yang tidak benar tersebut adalah para ahli kedokteran tetapi yang tidak berkompeten sesuai keahliannya. Untuk menyikapinya kita harus cermat dan teliti dan berpikiran lebih jernih. Kalau mengamati beberapa penelitian yang mendukung adanya berbagai kejadian berhubungan dengan imunisasi, mungkin benar sebagai pemicu atau sebagai co-accident atau kebetulan. * Penelitian yang menunjukkan hubungan keterkaitan imunisasi dan berbagai hal yang tidak benar hanya dilihat dalam satu kelompok kecil (populasi). Secara statistik hal ini hanya menunjukkan hubungan, tidak menunjukkan sebab akibat. Kita juga tidak boleh langsung terpengaruh pada laporan satu atau beberapa kasus, misalnya bila orang tua anak autism berpendapat bahwa anaknya timbul gejala autism setelah imunisasi. Kesimpulan tersebut tidak bisa digeneralisasikan terhadap anak sehat secara umum (populasi lebih luas). Kalau itu terjadi bisa saja kita juga terpengaruh oleh beberapa makanan yang harus dihindari oleh penderita autism juga juga akan dihindari oleh anak sehat lainnya. Jadi logika tersebut harus dicermati dan dimengerti. * Menanggapi tantangan tersebut, Prof Sri Rezeki Hadinegoro, Ketua Pelaksana Konferensi Vaksin Se-Asia 3 mengatakan, pemerintah bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melakukan pendekatan kepada ulama dan masyarakat untuk memberikan pemahaman yang benar. "Kami tidak melawan pemahaman kelompok antivaksin, tetapi jangan memutarbalikkan fakta pada masyarakat," kata Sri dalam acara jumpa pers pelaksanaan Konferensi Vaksinasi Asia Ke-3 di Jakarta, Kamis (28/7/2011). * Ketua Bidang Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama menambahkan, masyarakat seharusnya tidak perlu mengkhawatirkan keamanan dan kehalalan vaksin yang beredar. "Pemerintah menjamin semua vaksin yang beredar sesuai kaidah-kaidah yang berlaku. Pada kasus kontroversi vaksin meningitis untuk jemaah haji, kami mengikuti saran MUI," katanya. * Persoalan black campaign dari vaksin ternyata juga ditemui di negara-negara lain, misalnya di Filipina. Menurut Enrique Tayag, President of Philliphine Foundation for Vaccination, kelompok antivaksin juga menjadi tantangan. "Bagaimanapun masyarakat harus diingatkan manfaat vaksin untuk kesehatan anak jauh lebih besar daripada efek samping yang ditakutkan," katanya dalam kesempatan yang sama. Hambatan lain adalah munculnya kelompok-kelompok antivaksinasi yang menyebabkan kampanye hitam dengan membawa faktor agama dan budaya. Biasanya kelompok tertentu yang menyebarkan kampanye hitam imunisasi demi kepentingan pribadi khususnya dalam kepentingan bisnis terselubung yang mereka lakukan. Sebagian kelompok ini adalah yang dilakukan oleh oknum pelaku naturopathy, homeopathy, food combining, atau bisnis terapi herbal. Sebagian dari kelompok ini juga dilakukan oleh dokter bahkan beberapa profesor. Tetapi semuanya bukan berasal dari ahli medis, dokter atau profesior yang berkompeten di bidangnya seperti ahli kesehatan anak, ahli vaksin, ahli imunologi. Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak juga dokter atau profesor yang bergerak di bidang bisnis terapi alternatif atau non medis. Meski sebenarnya ilmu dan aliran terapi alternatif tersebut pada umumnya sangat baik, tetapi sayangnya sebagian kecil di antara mereka demi keberhasilan bisnis mereka mengorbankan kepentingan anak di dunia dengan menyebarkan informasi tidak benar dan menyesatkan.   Benarkah imunisasi lumpuhkan generasi?Dr Piprim B Yanuarso SpA (K)Konsultan Kardiologi Anak Bagian Anak FKUI/RSCM JakartaPengurus PP IDAI, JakartaPencinta anak-anak dan ibunya anak-anak.  Pendahuluan Akhir-akhir ini kita sering mendengar atau melihat seminar dengan judul yang membuat mata seorang dokter terbelalak. "Imunisasi lumpuhkan generasi" atau "Wahai para orangtua bekali dirimu dengan pengetahuan tentang bahaya imunisasi". Sebagai seorang dokter saya lalu merenung, bila benar apa yang mereka serukan itu, betapa besar dosa saya sebagai dokter anak yang sering mengimunisasi bayi dan anak yang datang ke tempat praktek. Betapa jahatnya saya sebagai manusia karena telah mengimunisasi begitu banyak bayi dan anak selama ini, bahkan sejak saya masih sebagai dokter umum di puskesmas dahulu. Lalu saya merenung dan mencoba meneliti kembali permasalahan ini. Siapa sebenarnya yang salah dan siapa yang benar? Dalam kontroversi yang memuat perbedaan 180 derajat ini, tidak mungkin kedua-duanya salah atau benar. Pasti salah satu benar dan yang lain salah. Dan saya khawatir bila selama ini sayalah yang bersalah itu. Saya sungguh khawatir jangan-jangan saya telah melumpuhkan begitu banyak generasi muda. Jangan-jangan saya telah melakukan dosa kemanusiaan yang sangat besar. Galau habis-habisan.Rasa galau itu membuat saya membuka-buka literatur dan data yang ada tentang permasalahan imunisasi. Saya mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi dengan seruan yang menentang keras imunisasi. Suatu pernyataan yang sangat bertolak belakang dengan yang selama ini saya pelajari bahwa imunisasi itu suatu tindakan preventif yang amat bermanfaat buat kemanusiaan. Di lain pihak kegalauan saya juga semakin menjadi bila mengingat andai seruan tersebut kemudian menyebar ke masyarakat luas lalu apa yang akan terjadi dengan bayi-bayi mungil tak berdosa itu di kemudian hari? Mungkinkah penyakit-penyakit berat yang dapat dicegah dengan imunisasi akan bangkit kembali dari kuburnya gara-gara seruan itu? Masalah ini justru menimbulkan kegalauan lebih dalam bagi saya. Apakah sebenarnya imunisasi itu? Sebelum melangkah lebih jauh mari kita bahas sekilas apakah yang dimaksud dengan imunisasi. Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang terhadap suatu penyakit, sehingga bila kelak terpajan pada penyakit tersebut ia tidak menjadi sakit. Kekebalan yang diperoleh dari imunisasi dapat berupa kekebalan pasif maupun aktif. Imunisasi yang diberikan untuk memperoleh kekebalan pasif disebut imunisasi pasif, dengan cara memberikan antibodi atau faktor kekebalan kepada seseorang yang membutuhkan. Contohnya adalah pemberian imunoglobulin spesifik untuk penyakit tertentu, misalnya imunoglobulin antitetanus untuk penyakit tetanus. Contoh lain adalah kekebalan pasif alamiah antibodi yang diperoleh janin dari ibu. Kekebalan jenis ini tidak berlangsung lama karena akan dimetabolisme oleh tubuh. Kekebalan aktif dibuat oleh tubuh sendiri akibat terpajan pada antigen secara alamiah atau melalui imunisasi. Imunisasi yang diberikan untuk memperoleh kekebalan aktif disebut imunisasi aktif dengan memberikan zat bioaktif yang disebut vaksin, dan tindakan itu disebut vaksinasi. Kekebalan yang diperoleh dari vaksinasi berlangsung lebih lama dari kekebalan pasif karena adanya memori imunologis, walaupun tidak sebaik kekebalan aktif yang terjadi karena infeksi alamiah. Untuk memperoleh kekebalan aktif dan memori imunologis yang efektif maka vaksinasi harus mengikuti cara pemakaian dan jadwal yang telah ditentukan melalui bukti uji klinis yang telah dilakukan. Tujuan imunisasi adalah untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu pada seseorang dan menghilangkan penyakit tersebut pada sekelompok masyarakat (populasi), atau bahkan menghilangkannya dari dunia seperti kita lihat pada keberhasilan imunisasi cacar variola. Keadaan terakhir ini lebih mungkin terjadi pada jenis penyakit yang hanya dapat ditularkan melalui manusia, seperti penyakit difteri dan poliomielitis. Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) merupakan penyakit berbahaya yang dapat menyebabkan kematian dan kecacatan seumur hidup dan akan menjadi beban bagi masyarakat di kemudian hari. Sampai saat ini terdapat 19 jenis vaksin untuk melindungi 23 PD3I di seluruh dunia dan masih banyak lagi vaksin yang sedang dalam penelitian. Adakah bukti bahwa imunisasi bermanfaat ? Pertanyaan selanjutnya yang perlu dijawab adalah adakah manfaat imunisasi? Ataukah imunisasi hanya bikin mudhorot (keburukan) buat kemanusiaan? Untuk menjawab pertanyaan ini saya kemudian menelaah berbagai data status kesehatan masyarakat sebelum dan sesudah ditemukannya imunisasi di berbagai negara. Namun saya ingin menampilkan data dari negara maju seperti Amerika Serikat, karena kelompok antiimunisasi selalu menuduh bahwa imunisasi adalah sebuah proyek konspirasi dari negara ini untuk melumpuhkan generasi muda di seluruh dunia.Sebelum adanya vaksin polio, terdapat 13.000 - 20.000 (16.316) kasus lumpuh layuh akut akibat polio dilaporkan setiap tahun di AS meninggalkan ribuan korban penderita cacat karena polio yang mesti menggunakan tongkat penyangga atau kursi roda. Saat ini AS dinyatakan bebas kasus polio. Angka penurunan mencapai 100%.Sebelum adanya imunisasi campak, 503.282 kasus campak terjadi setiap tahun dan 20% di antaranya dirawat dengan jumlah kematian mencapai 450 orang pertahun akibat pneumonia campak. Setelah ada imunisasi campak kasus menurun hingga 55 kasus pertahun pada tahun 2006. Angka penurunan 99.9%.Sebelum ditemukan imunisasi difteri terjadi 175.885 kasus difteri per tahun dengan angka kematian mencapai 15.520 kasus. Setelah imunisasi ditemukan tahun 2001 jumlahnya menurun menjadi 2 kasus dan tahun 2006 tidak ada lagi laporan kasus difteri. Angka penurunan mencapai 100%Sebelum tahun 1940an terdapat 150.000-260.000 kasus pertussis setiap tahun dengan angka kematian mencapai 9000 kasus setahun. Setelah imunisasi pertussis ditemukan angka kematian menurun menjadi 30 kasus setahun. Namun dengan seruan antiimunisasi yang marak di AS terjadi lagi peningkatan kasus secara signifikan di beberapa negara bagian. Pada 8 negara bagian terjadi peningkatan kasus 10-100 kali lipat pada saat cakupan imunisasi pertussis menurun drastis.Sebelum vaksin HiB ditemukan, HiB nerupakan penyebab tersering meningitis bakteri (radang selaput otak) di AS, dengan 20.000 kasus per tahun. Meningitis HiB menyebabkan kematian 600 anak pertahun dan meninggalkan kecacatan berupa tuli, kejang, dan retardasi mental pada anak yang selamat. Pada tahun 2006 kasus meningitis HIB menurun menjadi 29 kasus. Angka penurunan 99.9%.Hampir 90% bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi Rubella saat hamil trimester pertama akan mengalami sindrom Rubella kongenital, berupa penyakit jantung bawaan, katarak kongenital, dan ketulian. Pada tahun 1964 sekitar 20.000 bayi lahir dengan sindrom Rubella kongenital ini, mengakibatkan 2100 kematian neonatal dan 11.250 abortus. Setelah adanya imunisasi hanya dilaporkan 6 kasus sindrom Rubella kongenital pada tahun 2000. Kasus Rubella secara umum menurun dari 47.745 kasus menjadi hanya 11 kasus pertahun pada tahun 2006. Angka penurunan 99.9%.Hampir 2 milyar orang telah terinfeksi hepatitis B suatu saat dalam hidupnya. Sejuta di antaranya meninggal setiap tahun karena penyakit sirosis hati dan kanker hati. Sekitar 25% anak-anak yang terinfeksi hepatitis B dapat diperkirakan akan meninggal karena penyakit hati pada saat dewasa. Terjadi penurunan jumlah kasus baru dari 450.000 kasus pada tahun 1980 menjadi sekitar 80.000 kasus pada tahun 1999. Penurunan terbanyak terjadi pada anak dan remaja yang mendapat imunisasi rutin.Di seluruh dunia penyakit tetanus menyebabkan kematian pada 300.000 neonatus dan 30.000 ibu melahirkan setiap tahunnya dan mereka tidak diimunisasi adekuat. Tetanus sangat infeksius namun tidak menular, sehingga tidak seperti PD3I yang lain, imunisasi pada anggota suatu komunitas tidak dapat melindungi orang lain yang tidak diimunisasi. Karena bakteri tetanus terdapat banyak di lingkungan kita, maka tetanus hanya bisa dicegah dengan imunisasi. Bila program imunisasi tetanus distop, maka semua orang dari berbagai usia akan rentan menderita penyakit ini.Sekitar 212.000 kasus mumps (gondongan) terjadi di AS pada tahun 1964. Setelah ditemukannya vaksin mumps pada tahun 1967 insidens penyakit ini menurun menjadi hanya 266 kasus pada tahun 2001. Namun pada tahun 2006 terjadi KLB di kalangan mahasiswa, sebagian besar di antara mereka menerima 2 kali vaksinasi. Terjadi lebih dari 5500 kasus pada 15 negara bagian. Mumps merupakan penyakit yang sangat menular dan hanya butuh beberapa orang saja yang tidak diimunisasi untuk memulai transmisi penyakit sebelum menyebar luas. Sebelum vaksin pneumokokus ditemukan, pneumokokus menyebabkan 63.000 kasus invassive pneumococcal disease (IPD) dengan 6100 kematian di AS setiap tahun. Banyak anak yang menderita gejala sisa berupa ketulian dan kejang-kejang. Dari data di atas para ahli menyimpulkan bahwa imunisasi adalah salah satu di antara program kesehatan masyarakat yang paling sukses dan cost-effective . Program imunisasi telah menyebabkan eradikasi penyakit cacar (variola, smallpox), eliminasi campak dan poliomielitis di berbagai belahan dunia. dan penurunan signifikan pada morbiditas dan mortalitas akibat penyakit difteri, tetanus, dan pertussis. Badan kesehatan dunia (WHO) pada tahun 2003 memperkirakan 2 juta kematian anak dapat dicegah dengan imunisasi. Katz (1999) bahkan menyatakan bahwa imunisasi adalah sumbangan ilmu pengetahuan yang terbaik yang pernah diberikan para ilmuwan di dunia ini.  Miskonsepsi tentang imunisasi Meskipun imunisasi telah terbukti banyak manfaatnya dalam mencegah wabah dan PD3I di berbagai belahan dunia, namun masih terdapat sebagian orang yang memiliki miskonsepsi terhadap imunisasi. Secara umum berikut ini adalah beberapa miskonsepsi yang sering terjadi di masyarakt: A. Penyakit-penyakit tersebut (PD3I) sebenarnya sudah mulai menghilang sebelum vaksin ditemukan karena meningkatnya higiene dan sanitasi.Pernyataan sejenis ini dan variasinya sangat banyak dijumpai pada literatur antivaksin. Namun bila melihat insidens aktual PD3I sebelum dan sesudah ditemukannya vaksin kita tidak lagi meragukan manfaat vaksinasi. Sebagai contoh kita lihat kasus meningitis HiB di Canada. Higiene dan sanitasi sudah dalam keadaan baik sejak tahun 1990, namun kejadian meningitis HiB sebelum program imunisasi dilaksanakan mencapai 2000 kasus per tahun dan setelah imunisasi rutin dijalankan menurun menjadi 52 kasus saja dan mayoritas terjadi pada bayi dan anak yang tidak diimunisasi. Contoh lain adalah pada 3 negara maju (Inggris, Swedia, dan Jepang) yang menghentikan program imunisasi pertussis karena ketakutan terhadap efek samping vaksin pertussis. Di Inggris tahun 1974 cakupan imunisasi menurun drastis dan diikuti dengan terjadinya wabah pertussis pada tahun 1978, ada 100.000 kasus pertussis dengan 36 kematian. Di Jepang pada kurun waktu yang sama cakupan imunisasi pertussis menurun dari 70% menjadi 20-40% hal ini menyebabkan lonjakan kasus pertussis dari 393 kasus dengan 0 kematian menjadi 13.000 kasus dengan 41 kematian karena pertussis pada tahun 1979. Di Swedia pun sama, dari 700 kasus pada tahun 1981 meningkat menjadi 3200 kasus pada tahun 1985. Pengalaman tersebut jelas membuktikan bahwa tanpa imunisasi bukan saja penyakit tidak akan menghilang namun juga akan hadir kembali saat program imunisasi dihentikan. B. Mayoritas anak yang terkena penyakit justru yang sudah diimunisasi.Pernyataan ini juga sering dijumpai pada literatur antivaksin. Memang dalam suatu kejadian luar biasa (KLB) jumlah anak yang sakit dan pernah diimunisasi lebih banyak daripada anak yang sakit dan belum diimunisasi. Penjelasan masalah tersebut sebagai berikut: pertama tidak ada vaksin yang 100% efektif. Efektivitas sebagian besar vaksin pada anak adalah sebesar 85-95%, tergantung respons individu. Kedua: proporsi anak yang diimunisasi lebih banyak daripada anak yang tidak diimunisasi di negara yang menjalankan program imunisasi. Bagaimana kedua faktor tersebut berinteraksi diilustrasikan dalam contoh berikut. Suatu sekolah mempunyai 1000 murid. Semua murid pernah diimunisasi campak 2 kali kecuali 25 yang tidak pernah sama sekali. Ketika semua murid terpapar campak, 25 murid yang belum diimunisasi semuanya menderita campak. Dari kelompok yang telah diimunisasi campak 2 kali, sakit 50 orang. Jumlah seluruh yang sakit 75 orang dan yang tidak sakit 925 orang. Kelompok antiimunisasi akan mengatakan bahwa persentase murid yang sakit adalah 67 % (50/75) dari kelompok yang pernah imunisasi, dan 33% (25/75) dari kelompok yang tidak diimunisasi. Padahal bila dihitung dari efek proteksi, maka imunisasi memberikan efek proteksi sebesar (975-25)/975 = 94.8%. Yang tidak diimunisasi efek proteksi sebesar 0/25= 0%. Dengan kata lain, 100% murid yang tidak mendapat imunisasi akan sakit campak; dibanding hanya 5,2% dari kelompok yang diimunisasi yang terkena campak. Jelas bahwa imunisasi berguna untuk melindungi anak. C. Vaksin menimbulkan efek samping yang berbahaya, kesakitan, dan bahkan kematianVaksin merupakan produk yang sangat aman. Hampir semua efek simpang vaksin bersifat ringan dan sementara, seperti nyeri pada bekas suntikan atau demam ringan. Kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) secara definitif mencakup semua kejadian sakit pasca imunisasi. Prevalensi dan jenis sakit yang tercantum dalam KIPI hampir sama dengan prevalensi dan jenis sakit dalam keadaan sehari-hari tanpa adanya program imunisasi. Hanya sebagian kecil yang memang berkaitan dengan vaksin atau imunisasinya, sebagian besar bersifat koinsidens. Kematian yang disebabkan oleh vaksin sangat sedikit. Sebagai ilustrasi semua kematian yang dilaporkan di Amerika sebagai KIPI pada tahun 1990-1992, hanya 1 yang mungkin berhubungan dengan vaksin. Institut of Medicine (IOM) tahun 1994 menyatakan bahwa risiko kematian akibat vaksin adalah amat rendah (extra-ordinarily low). Besarnya risiko harus dibandingkan dengan besarnya manfaat vaksin. Bila satu efek simpang berat terjadi dalam sejuta dosis vaksin namun tidak ada manfaat vaksin, maka vaksin tersebut tidak berguna. Manfaat imunisasi akan lebih jelas bila risiko penyakit dibandingkan dengan risiko vaksin. Contoh vaksin MMR (melindungi campak, mumps (gondongan) dan rubella (campak jerman)pneumonia campak : risiko kematian 1:3000 risiko alergi berat MMR 1:1000.000Ensefalitis mumps : 1 : 300 pasien mumps, risiko ensefalitis MMR 1:1000.000Sindrom rubella kongenital : 1 : 4 bayi dari ibu hamil kena rubella Contoh vaksin DPaT (melindungi difteri, pertussis, dan tetanus)Difteri : risiko kematian 1 : 20, risiko menangis lama sementara 1 : 100Tetanus : risiko kematian 1 : 30, risiko kejang sembuh sempurna 1 : 1750Pertussis : risiko ensefalitis pertussis 1 : 20, risiko ensefalitis DPaT 1 : 1000.000  D. Penyakit penyakit tersebut (PD3I) telah tidak ada di negara kita sehingga anak tidak perlu diimunisasiAngka kejadian beberapa penyakit yang termasuk PD3I memang telah menurun drastis. Namun kejadian penyakit tersebut masih cukup tinggi di negara lain. Siapa pun termasuk wisatawan dapat membawa penyakit tersebut secara tidak sengaja dan dapat menimbulkan wabah. Hal tersebut serupa dengan KLB polio di Indonesia pada tahun 2005 lalu. Sejak tahun 1995 tidak ada kasus polio yang disebabkan oleh virus polio liar. Pada bulan April 2005, Laboratorium Bioofarma di Bandung mengkonfirmasi adanya virus polio liar tipe 1 pada anak berusia 18 bulan yang menderita lumpuh layuh akut pada bulan Maret 2005. Anak tersebut tidak pernah diimunisasi sebelumnya. Virus polio itu selanjutnya menyebabkan wabah merebak ke 10 propinsi, 48 kabupaten. Sampai bulan April 2006 tercatat 349 kasus polio, termasuk 46 kasus VDVP (vaccine derived polio virus) di Madura. Dari analisis genetik virus diketahui bahwa virus berasal dari Afrika barat. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa virus sampai ke Indonesia melalui Nigeria dan Sudan sama seperti virus yang diisolasi di Arab Saudi dan Yaman. Dari pengalaman tersebut terbukti bahwa anak tetap harus mendapat imunisasi karena dua alasan. Alasan pertama adalah anak harus dilindungi. Meskipun risiko terkena penyakit adalah kecil, bila penyakit masih ada, anak yang tidak terproteksi tetap berpeluang terinfeksi. Alasan kedua imunisasi anak penting untuk melindungi anak lain di sekitarnya. Terdapat sejumlah anak yang tak dapat diimunisasi (misalnya karena alergi berat terhadap komponen vaksin) dan sebagian kecil anak yang tidak memberi respons terhadap imunisasi. Anak-anak tersebut rentan terhadap penyakit dan perlindungan yang diharapkan adalah dari orang-orang di sekitarnya yang tidak sakit dan tidak menularkan penyakit kepadanya. E. Pemberian vaksin kombinasi (multipel) meningkatkan risiko efek simpang yang berbahaya dan dapat membebani sistem imunAnak-anak terpapar pada banyak antigen setiap hari. Makanan dapat membawa bakteri yang baru ke dalam tubuh. Sistem imun juga akan terpapar oleh sejumlah bakteri hidup di mulut dan hidung. Infeksi saluran pernapasan bagian atas akan menambah paparan 4-10 antigen, sedangkan infeksi streptokokus pada tenggorokan memberi paparan 25-50 antigen. Tahun 1994 IOM menyatakan bahwa dalam keadaan normal penambahan jumlah antigen dalam vaksin tidak mungkin akan memberikan beban tambahan pada sistem imun dan tidak bersifat imunosupresif. Data penelitian menunjukkan bahwa imunisasi simultan dengan vaksin multipel tidak membebani sistem imun anak normal. Pada tahun 1999 Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP), American Academy of Pediatrics (AAP), dan American Academy of Family Physicians (AAFP) merekomendasi pemberian vaksin kombinasi untuk imunisasi anak. Keuntungan vaksin kombinasi adalah mengurangi jumlah suntikan, mengurangi biaya penyimpanan dan pemberian vaksin, mengurangi jumlah kunjungan ke dokter, dan memfasilitasi penambahan vaksin baru ke dalam program imunisasi. F. Vaksin MMR menyebabkan autismeBeberapa orangtua anak dengan autisme percaya bahwa terdapat hubungan sebab akibat antara vaksin MMR dengan autisme. Gejala khas autisme biasanya diamati oleh orangtua saat anak mulai tampak gejala keterlambatan bicara setelah usia lewat satu tahun. Vaksin MMR diberikan pada usia 15 bulan (di luar negeri 12 bulan). Pada usia sekitar inilah biasanya gejala autisme menjadi lebih nyata. Meski pun ada juga kejadian autisme mengikuti imunisasi MMR pada beberapa kasus. Akan tetapi penjelasan yang paling logis dari kasus ini adalah koinsidens. Kejadian yang bersamaan waktu terjadinya namun tidak terdapat hubungan sebab akibat. Kejadian autisme meningkat sejak 1979 yang disebabkan karena meningkatnya kepedulian dan kemampuan kita mendiagnosis penyakit ini, namun tidak ada lonjakan secara tidak proporsional sejak dikenalkannya vaksin MMR pada tahun1988.Pada tahun 2000 AAP membuat pernyataan : "Meski kemungkinan hubungan antara vaksin MMR dengan autisme mendapat perhatian luas dari masyarakat dan secara politis, serta banyak yang meyakini adanya hubungan tersebut berdasarkan pengalaman pribadinya, namun bukti-bukti ilmiah yang ada tidak menyokong hipotesis bahwa vaksin MMR menyebabkan autisme dan kelainan yang berhubungan dengannya. Pemberian vaksin measles, mumps, dan rubella secara terpisah pada anak terbukti tidak lebih baik daripada pemberian gabungan menjadi vaksin MMR, bahkan akan menyebabkan keterlambatan atau luput tidak terimunisasi. Dokter anak mesti bekerjasama dengan para orangtua untuk memastikan bahwa anak mereka terlindungi saat usianya mencapai 2 tahun dari PD3I. Upaya ilmiah mesti terus dilakukan untuk mengetahui penyebab pasti dari autisme. Lembaga lain yaitu CDC dan NIH juga membuat pernyataan yang mendukung AAP. Pada tahun 2004 IOM menganalisis semua penelitian yang melaporkan adanya hubungan antara vaksin MMR dengan autisme. Hasilnya adalah tidak satu pun penelitian itu yang tidak cacat secara metodologis. Kesimpulan IOM saat itu adalah tidak terbukti ada hubungan antara vaksin MMR dengan autisme. Penutup Setelah mengkaji berbagai literatur sebagaimana disebutkan di atas, maka secara berangsur kegalauan saya menghilang. Saya semakin yakin akan kebenaran teori ilmiah berbasis bukti yang sudah ditemukan para ahli. Bahkan beberapa waktu lalu ada sejawat saya Dr Julian Sunan, seorang dokter yang masih muda dan amat ganteng (menurut pengakuannya sendiri) telah menelaah bahwa ternyata tokoh-tokoh antivaksin yang sering dikutip kelompok antivaksin di Indonesia ternyata banyak yang fiktif. Mereka melakukan pemelintiran data dan pemutarbalikan fakta. Tak heran kalau yang sangat aman dianggap sangat berbahaya dan penyakit sangat berbahaya nan mematikan dianggap tidak apa apa dan mungkin malah diajak bersahabat karib oleh kelompok antiimunisasi. Terimakasih.  Bahan bacaan : Ranuh IGNG, Suyitno H, Hadinegoro SRS, Kartasasmita CB, Ismoedijanto, Soedjatmiko. Buku Pedoman Imunisasi di Indonesia, edisi ke-4. Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia, Jakarta 2011.Center for Disease Control http://www.cdc.gov
   


Jumlah Posts : 37
Jumlah di-Like : belum ada like
@ bunda stephani

jujur ya bun, waktu aku ngalami IUFD aku ga ngerasain hal yang ekstrim banget kayak pecah ketuban atau pun pendarahan cuma aku ngerasa pinggul bagian belakang ( sunda na mah bobokong ) kerasa panas banget kayak yang mo lahiran. aku sama sekali ga nyadar kalo saat itu baby ku dalam keadaan gawat, sampe pada akhirnya aku ga merasakan gerakan dan tendangan lembutnya.. kata dokter plasenta nya terlepas dari dinding rahim tapi wallohu'alam...
ini ada artikel yang lebih lengkap mudah2an dapat membantu...

penasaran dgn kasus yang terjadi, meskipun orang tua terutama ibu yg sangat terpukul mengetahui janinnya sudah tidak dapat tertolong mencoba untuk tegar, sabar, dan ikhlas menghadapinya, karena yakin semua sudah menjadi kehendak Yang Diatas, Allah SWT, namun manusia selalu ingin tahu hukum alam yang berlaku saat itu, pastilah ada penyebab ilmiah yang bisa mengakibatkan kematian janin di dalam kandungan, setidaknya di kehamilan berikutnya bisa diusahakan untuk tidak berulang dengan kasus yang sama.
Jika penelitian belum juga menghasilkan jawaban yg memuaskan, maka misteri Illahi berlaku pula di dalamnya, hanya Allah yang Maha Mengetahui setiap waktu yang terbaik untuk hambaNya. Demikian juga, lagi dan lagi, secara filosofi, kita kembalikan dengan adanya seleksi alam, kalaupun tetap dipertahankan hidup, tak akan survive.

Dari beberapa diskusi, aku coba googling dan ketemu artikel dari nakita, http://www.tabloid-nakita.com/artikel.php3?edisi=02058&rubrik=kecil.

kematian janin di kandungan, dalam dunia kedokteran dikenal dengan Intra Uterin Fetal Death (IUFD). Yang dimaksud dengan kematian janin adalah kematian yang terjadi saat usia kehamilan lebih dari 20 minggu dimana janin sudah mencapai ukuran 500 gram atau

lebih. Umumnya, kematian janin terjadi menjelang persalinan saat usia kehamilan sudah memasuki 8 bulan.

* Ketidakcocokan rhesus darah ibu dengan janin

Akan timbul masalah bila ibu memiliki rhesus negatif, sementara bapak rhesus positif. Sehingga anak akan mengikuti yang dominan; menjadi rhesus positif. “Akibatnya antara ibu dan janin mengalami ketidakcocokan rhesus.”

Ketidakcocokan ini akan mempengaruhi kondisi janin tersebut. Misalnya, dapat terjadi hidrops fetalis; suatu reaksi imunologis yang menimbulkan gambaran klinis pada janin, antara lain pembengkakan pada perut akibat terbentuknya cairan berlebih dalam rongga perut (asites), pembengkakan kulit janin, penumpukan cairan di dalam rongga dada atau rongga jantung, dan lain-lain. Akibat penimbunan cairan yang berlebihan tersebut, maka tubuh janin akan membengkak. “Bahkan darahnya pun bisa tercampur air.” Biasanya kalau sudah demikian, janin tak akan tertolong lagi.

Sebenarnya, terang dr. Nasdaldy, Sp.OG, hidrops fetalis merupakan manifestasi dari bermacam penyakit. Bisa karena kelainan darah, rhesus, atau kelainan genetik. “Biasanya bila kasusnya hidrops fetalis, maka tak ada manfaatnya kehamilan dipertahankan. Karena memang janinnya pasti mati.” Sayangnya, seringkali tidak dilakukan otopsi pada janin yang mati tersebut, sehingga tidak bisa diketahui penyebab hidrops fetalis. “Padahal dengan mengetahui penyebabnya bisa untuk tindakan pencegahan pada kehamilan berikutnya.”

* Ketidakcocokan golongan darah antara ibu dan janin

Terutama pada golongan darah A,B,O. “Yang kerap terjadi antara golongan darah anak A atau B dengan ibu bergolongan O atau sebaliknya.” Sebab, pada saat masih dalam kandungan, darah ibu dan janin akan saling mengalir lewat plasenta. Bila darah janin tidak cocok dengan darah ibunya, maka ibu akan membentuk zat antibodinya.

* Gerakan sangat “liar”

Gerakan bayi dalam rahim yang sangat berlebihan, terutama jika terjadi gerakan satu arah saja. “Nah, karena gerakannya berlebihan, terlebih satu arah saja, maka tali pusat yang menghubungkan janin dengan ibu akan terpelintir. Kalau tali pusat terpelintir, maka pembuluh darah yang mengalirkan plasenta ke bayi jadi tersumbat.” Kalau janin sampai memberontak, yang ditandai gerakan “liar”, biasanya karena kebutuhannya ada yang tidak terpenuhi, entah itu karena kekurangan oksigen, atau makanan. Karena itu, harus segera dilakukan tindakan yang mengarah pada pemenuhan kebutuhan janin. Misalnya, apakah oksigen dan gizinya cukup? Kalau ibu punya riwayat sebelumnya dengan janin meninggal, maka sebaiknya aktivitas ibu jangan berlebihan. “Sebab, dengan aktivitas berlebihan, maka gizi dan zat makanan hanya dikonsumsi ibunya sendiri, sehingga janin relatif kekurangan.”

* Berbagai penyakit pada ibu hamil

Salah satu contohnya preeklampsia dan diabetes. Itulah mengapa pada ibu hamil perlu dilakukan cardiotopografi (CTG) untuk melihat kesejahteraan janin dalam rahim.

* Kelainan kromosom

Bisa disebut penyakit bawaan, misalnya, kelainan genetik berat trisomy. “Kematian janin akibat kelainan genetik biasanya baru terdeteksi saat kematian sudah terjadi, yaitu dari otopsi bayi.” Sebab, ungkap Nasdaldy, jarang sekali dilakukan pemeriksaan kromosom saat janin masih dalam kandungan. “Selain biayanya mahal, risikonya juga tinggi. Karena harus mengambil air ketuban dari plasenta janin sehingga berisiko besar terinfeksi, juga bisa lahir prematur. Kecuali kalau memang ada keganjilan dalam kehamilan tersebut yang dicurigai sebagai kelainan kromosom.”

* Trauma saat hamil

Trauma bisa mengakibatkan terjadi solusio plasentae atau plasenta terlepas. Trauma terjadi, misalnya, karena benturan pada perut, entah karena kecelakaan atau pemukulan. “Benturan ini bisa saja mengenai pembuluh darah di plasenta, sehingga timbul perdarahan di plasenta atau plasenta lepas sebagian. Akhirnya aliran darah ke bayi pun jadi tak ada.”

* Infeksi pada ibu hamil

Ibu hamil sebaiknya menghindari berbagai infeksi, seperti infeksi akibat bakteri maupun virus. “Bahkan demam tinggi pada ibu hamil bisa menyebabkan janin tak tahan akan panas tubuh ibunya.”

* Kelainan bawaan bayi

Kelainan bawaan pada bayi sendiri, seperti jantung atau paru-paru, bisa mengakibatkan kematian di kandungan.

SEGERA DILAHIRKAN

Selama hamil, kehati-hatian dan kewaspadaan ibu perlu ditingkatkan, mengingat demi kebaikan janin dan ibu itu sendiri. Apa saja yang harus diwaspadai?

Yang pertama, bila tidak ada gerakan janin. “Pada ibu-ibu yang sudah merasakan gerakan bayi; pada kehamilan lebih dari 5 bulan, perlu diwaspadai jika dalam sehari ia tak bisa merasakan gerakan bayinya.” Gerakan bayi yang normal minimal 10 kali dalam sehari.

Yang kedua, ibu perlu mewaspadai tanda-tanda “sekarat” pada bayi. “Sebelum bayi tidak bergerak sama sekali, biasanya juga didahului tanda-tanda ’sekarat’. Timbul gerakan yang sangat hebat atau malah sebaliknya, gerakannya semakin pelan atau lemah.” Pada ibu yang peka, pasti akan terasa, kok, saat gerakan janinnya lain.

Yang ketiga, bila kehamilan tak kunjung membesar. “Ibu harus curiga bila pertumbuhan kehamilan tidak sesuai bulannya.”

Nah, bila terjadi hal-hal yang sudah diuraikan tadi, terang Nasdaldy, sebaiknya segera periksa ke dokter. “Walau belum waktunya pemeriksaan ulang, sebaiknya segera periksa. Sehingga sebelum terjadi kematian, dokter bisa melakukan tindakan pencegahan.” Tindakan yang dilakukan dokter biasanya dengan melahirkan segera atau lahir prematur. “Di luar bayi bisa di-treatment agar bisa hidup.”

Bila sudah diketahui penyebabnya, maka dokter tentu juga akan mengatasi penyebab tersebut. “Bila ada infeksi pada ibu, maka akan diobati infeksinya. Kalau ibunya diabetes, maka diobati diabetesnya.”

Dengan bantuan optimal, maka gawat janin bisa membaik kembali. “Karena untuk janin yang sedang ’sekarat’, tak selamanya harus dikeluarkan. Karena dikeluarkan pun harus melihat usia kehamilannya, kan? Kalau ternyata usianya masih muda, tidak mungkin ia dilahirkan segera. Pada usia kehamilan muda tentunya paru-parunya belum terbentuk sempurna. Sehingga di luar pun ia tak mungkin bisa bernafas. Jadi, yang dilakukan dokter adalah mempertahankan dengan mengatasi penyebabnya tersebut.”

Jika tak tertolong lagi, terang Nasdaldy, maka janin yang sudah meninggal harus segera dilahirkan. “Proses kelahiran harus dilakukan secara normal agar tidak terlalu merugikan ibu.” Jadi, bukan melalui operasi. Sebab, operasi tetap saja berisiko buat ibunya. “Anaknya, kan, sudah meninggal, kenapa harus menanggung risiko untuk anak yang sudah tidak ada?”

Operasi hanya dilakukan jika ada halangan untuk melahirkan normal. Misalnya, bayinya mati dalam posisi melintang, ibu mengalami preeklampsia, dan sebagainya.

Yang jadi berbahaya justru jika janin yang sudah meninggal tidak segera dilahirkan. “Kalau lebih dari dua minggu bersemayam dalam rahim ibunya, tentu akan mengganggu pembekuan darah si ibu. Zat pembekuan darah atau fibrinogennya bisa turun.” Hal ini akan berakibat fatal kala ibu melahirkan janin tersebut. “Dalam persalinan, kan, pasti terjadi perdarahan. Nah, kalau fibrinogennya rendah, maka perdarahannya tidak bisa berhenti. Jadi, bisa saja ibu tak tertolong karena perdarahan tersebut.”

Namun, bukan berarti tak ada obat untuk mencegahnya, lo. Sebelum dilakukan tindakan persalinan, bila telah diketahui janin sudah meninggal, maka dokter akan mengecek dulu fibrinogennya. “Kalau fibrinogennya turun, maka harus diberi obat fibrinogen.”

Tapi kasus janin meninggal bersemayam lebih dari 2 minggu sangat jarang terjadi. “Karena sebenarnya alam sudah mengaturnya. Biasanya tubuh si ibu sendiri kalau janinnya mati akan terjadi penolakan. Timbullah proses persalinan.”

Memang, diakui Nasdaldy, cukup banyak ibu yang tak menyadari janinnya sudah meninggal. “Bahkan sampai janinnya itu membatu atau mengeras.” Hal ini terjadi karena kurang pekanya sang ibu, terlebih lagi karena tak ada reaksi penolakan pada tubuhnya. “Biasanya terjadi pada ibu yang tak menyadari kalau dirinya hamil, tahu-tahu anaknya sudah meninggal dalam kandungan, bahkan telah membatu.”

Tentu saja mengeluarkan janin yang telah membatu lebih berisiko. “Mengeluarkannya akan lebih susah sehingga biasanya terjadi komplikasi, misalnya, ada perobekan di dinding rahim dan jalan lahir.”

BISA HAMIL LAGI

Setelah kematian janin, bukan berarti ibu tidak bisa hamil lagi, lo. Seperti penuturan dr. Nasdaldy, Sp.OG, “Ibu bisa memulai program hamil kapan saja. Hanya sebaiknya penyebab kematian janin terdahulu sudah diketahui sebelum hamil kembali.” Hal ini bertujuan agar pada kehamilan berikutnya bisa diantisipasi hal-hal yang menjadi permasalahan kasus tersebut.

Sayangnya, terang Nasdaldy, jarang sekali orang tua yang bersedia mengotopsi janinnya yang meninggal. Akibatnya penyebab kematiannya tidak diketahui dengan pasti. Padahal mengetahui penyebab kematian akan mempermudah pengobatan yang harus diberikan pada ibu. Misalnya, bila penyebabnya karena perbedaan rhesus darah, maka harus segera diobati rhesusnya. “Pengobatan ini harus segera diberikan supaya zat antinya tidak terlanjur terbentuk. Sehingga kalau terjadi kehamilan lagi, perbedaan rhesus tidak berdampak seperti sebelumnya.”

maaf ya kepanjangan... :D
semoga bunda dan babynya sehat dan selamat sampai lahiran nanti .. :D



   
19-06-2008 16:35:15 Obat batuk & pilek untuk bayi
Jumlah Posts : 20
Jumlah di-Like : 1
heiiiiii bunda2..nih aq punya artikel smg bs bermanfaat.... Berjuang Menjadi Orangtua Cerdas February 1, 2008 • Berawal dari keprihatinan menghadapi situasi masa kini, sebagian orangtua bersatu membentuk komunitas. Tekadnya sederhana, mencerdaskan sesama orangtua agar terhindar dari ”kesesatan”. Mereka berusaha menjadi orangtua kritis yang tak begitu saja menerima resep dokter, atau terbujuk iklan.Mungkin beginilah paradoks zaman modern, ketika arus kehidupan dikendalikan konsumerisme. Kekuatan bujukan iklan sering kali membuat seseorang merasa tak berdaya. Apalagi bagi orang yang tak punya akses cukup untuk mendapatkan informasi mengenai berbagai produk tersebut. Kalau sudah begini, apa yang diklaim dalam iklan sering kali menjadi hal yang dipercaya begitu saja. ”Anak-anak sering menjadi obyek penderita kesalahpahaman. Sebab itu, yang dicerahkan harus orangtuanya. Dengan mailing list, kami bergerilya,” tutur Purnamawati S Pujiarto SpAK, MMPed yang mengampanyekan penggunaan obat secara rasional (rational use of drug/RUD) kepada konsumen medis. Selama tiga tahun terakhir ini, Wati, demikian sapaannya, berusaha membina dan mencerdaskan para orangtua melalui komunitas maya yang diberi nama Grup Sehat. Moto komunitas ini ”be smarter be healthier”. Upayanya, yang telah tahunan dirintis, didukung Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Ibu empat anak ini juga menjadi salah satu konsultan WHO. Kini, pada mailing list sehat@yahoogroups.com telah tercatat 3.218 anggota dari penjuru Indonesia hingga yang bermukim di luar negeri. Para orangtua dapat berkonsultasi bebas dengan Wati dan sejumlah dokter lain, sampai dibimbing mempelajari ilmu kesehatan terkini dari berbagai situs terpercaya. Pujiati (29), yang tinggal di Surabaya, dulu kerap bolak-balik ke dokter anak karena putranya, Bagas (24 bulan), sering sakit. Setiap kali sakit Bagas selalu diberi antibiotik serta obat berbentuk puyer. Ketika itu dia belum paham, antibiotik tak diperlukan untuk pengobatan batuk pilek pada anak-anak yang umumnya disebabkan virus. Virus dapat dilawan dengan meningkatkan daya tahan tubuh. Kalau penyakit itu disebabkan bakteri, baru diperlukan antibiotik. Sebagian dokter bahkan sering memberikan antibiotik paling ampuh, mahal, yang sebenarnya justru antibiotik spektrum luas (broad spectrum). Akibatnya, beragam bakteri yang tergolong baik pun turut tergilas. ”Setelah bergabung dengan Grup Sehat, saya baru menyadari semua praktik itu kelirumologi alias salah. Kini, kunjungan ke dokter anak sangat jarang, dan anak saya sehat. Kalau batuk pilek cukup home treatment saja. Banyak minum air putih hangat, makan makanan yang disukainya, dan istirahat. Kalau demam, saya kompres dia dengan air hangat atau minum obat penurun panas saja. Enggak perlu antibiotik dan suplemen,” tutur Pujiati. Tak mudah bagi Pujiati menularkan pengetahuan itu kepada suaminya. Sang suami malah sempat mengira komunitas yang diikutinya beraliran aneh. Orang awam memang kerap mengira komunitas ini anti-obat, anti-antibiotik, bahkan anti-dokter. Padahal sama sekali tidak. Koridor konsep RUD-lah yang menjadi pegangan Grup Sehat. ”Antibiotik itu anugerah kehidupan, harus dieman-eman (disayang-sayang). Ketika kita betul-betul membutuhkan antibiotik, dia adalah penyelamat jiwa,” ujar Wati yang kini mendirikan Yayasan Orang Tua Peduli. Penggunaan antibiotik secara tidak rasional justru memunculkan bermacam bakteri yang bermutasi, dan resisten terhadap antibiotik (superbugs). Sementara penemuan antibiotik baru tidaklah secepat perkembangan munculnya bakteri baru. Semakin sering menggunakan antibiotik secara tak rasional, malah menyebabkan anak sering jatuh sakit. Belum lagi risiko seperti gangguan hati pada anak, seperti kerap ditemukan Wati, yang juga ahli hepatologi anak ini. Proses menyenangkan Selain RUD, para anggota komunitas juga memperoleh informasi obyektif menyangkut pemenuhan gizi anak, serta problem klasik seperti anak susah makan. Tipikal sebagian orangtua masa kini yang tergopoh-gopoh menjejali anak dengan obat ketika jatuh sakit biasanya diikuti pula dengan memberi anak berbagai suplemen penambah nafsu makan dan susu formula. ”Beredarnya susu bubuk yang mengklaim bisa menjadi pengganti makanan lengkap juga banyak dipahami orangtua secara sesat. Padahal, makan itu proses belajar, eksplorasi, yang penuh dengan unsur hiburan. Sebagian orangtua sering mengambil cara praktis ketimbang bereksperimen dengan menu agar disukai anak,” kata Wati. Gempuran iklan susu formula di media massa juga dapat mendoktrin sebagian orangtua bahwa anak harus minum susu formula. Padahal, bayi hingga usia enam bulan harus eksklusif minum air susu ibu (ASI). Usia di atas satu tahun, selain ASI, bayi cukup diberi susu sapi cair tanpa pengawet, yang telah disterilisasi dengan teknik ultrahigh temperature (UHT) atau pasteurisasi. Aneka susu yang menyebut ditambahi berbagai zat penting untuk perkembangan otak hanyalah klaim yang tidak berlandaskan prinsip ilmiah evidence based medicine (EBM). ”Di luar negeri, anak di atas satu tahun masih minum formula akan ditertawakan tenaga medis. Di atas satu tahun, susu bukan segalanya. Gizi anak terutama dari makanan. Orangtua harus paham piramida makanan. Siapa bilang anak harus gemuk, yang penting anak itu sehat,” tutur Wati yang prihatin dengan praktik pemasaran susu formula yang, menurut dia, semakin tak etis. Yosi Kusuma Ningrum (27) mengaku dulu sempat termakan iklan susu formula. Susu berharga ratusan ribu rupiah itu dibelinya demi sang buah hati. Agen pemasaran susu formula kerap meneleponnya, membujuk dia agar anaknya diberi susu formula supaya gemuk. ”Sekarang enggak lagi. Mendingan uangnya ditabung untuk pendidikan anak kelak. Tetapi orang-orang, bahkan keluarga sendiri, sering sinis. Mereka bilang, kok anakku dikasih susu murah, padahal kedua orangtuanya bekerja,” ujar Yosi, ibu seorang anak yang tinggal di kawasan Kalimalang, Jakarta Timur. Tanpa tes alergi Sebagian dokter pun sering kali terlalu mudah mendiagnosis seorang anak alergi susu sapi, tanpa melakukan tes alergi terlebih dahulu. Pujiati pernah mengalami hal ini, dan memberi anaknya susu bubuk kedelai yang harganya relatif lebih mahal. Nyatanya, setelah tak lagi minum susu bubuk kedelai pun, anaknya tak bermasalah. Anak Pujiati dan Yosi yang meminum susu sapi biasa tetap sehat, lincah, dan mudah buang air besar meskipun mereka sama sekali tidak lagi mengonsumsi suplemen vitamin dan penambah nafsu makan. Hal krusial lain dalam masalah kesehatan anak adalah imunisasi. Kesalahpahaman seputar imunisasi kerap terjadi, mulai dari isu autisme hingga pemberian imunisasi secara tunggal. Beragam riset seperti WHO, Centers for Disease Control and Prevention (CDC), dan Institute of Medicine (IOM) telah menegaskan vaksinasi measles, mumps, rubella (MMR) tidak berkorelasi dengan autisme. Bayi dan anak-anak pun dianjurkan divaksinasi secara simultan sehingga meminimalkan kunjungan ke dokter, mengurangi risiko tertular penyakit di rumah sakit, serta anak cepat terbentengi imunitasnya. Belum lagi dokter yang ”bereksperimen” dengan meresepkan obat yang tidak perlu untuk mengurangi efek demam dari imunisasi. ”Anak saya pernah diresepkan luminal setelah imunisasi DPT (difteri-pertusis-tetanus). Padahal, luminal itu obat penenang saraf. Katanya, biar orangtua enggak repot,” tutur Alia Indardi (34), ibu dari tiga anak, yang tinggal di Jatiwaringin, Bekasi. Alia lantas mengatakan kepada dokter tersebut bahwa dia tidak akan menebus obat itu. Alasannya, dampak demam dari imunisasi adalah gejala yang normal. Jika anaknya terganggu dengan demam tersebut, pemberian obat penurun panas saja sudah mencukupi. Untuk anak yang sedang kejang saja, luminal sudah tidak direkomendasikan lagi. ”Coba kalau pasiennya tidak memiliki informasi yang cukup dan berimbang, kan pasti sudah langsung menurut saja. Jadilah anak itu dikasih obat penenang saraf,” ujar Alia. sumber : http://purnamawati.wordpress.com
   
Jumlah Posts : 1391
Jumlah di-Like : belum ada like
Dear Moms, Ini ada artikel soal batuk pilek pada anak, semoga bisa jadi referensi..  
Mengapa Anak Terus Panas-batuk-pilek?
Seorang bayi seharusnya jarang sakit, karena masih ditopang imunitas tinggi sewaktu dikandung atau menyusu ibunya. Penyakit sehari-hari seperti flu (yang ditandai panas-batuk-pilek), penyakit virus lain, atau bahkan infeksi kuman dapat ditolaknya. Sejak lama fakta ini telah disadari.
Coba saja, bila bayi Anda tinggal serumah dengan seorang penderita campak, maka biasanya ia tidak akan gampang tertular, dikatakan oleh Prof. Iwan Darmansjah.

Namun nyatanya, banyak anak dan bayi menjadi pelanggan dokter setiap 2 - 3 minggu karena penyakit yang sama: bolak-balik demam, batuk, dan pilek. Tentu banyak orang tua bosan. Mereka menggugat, "Mengapa ini harus terjadi, sedangkan semua kebutuhan anak saya telah dicukupi?"

Pencetus penyakit pada anak memang sulit ditentukan, karena dapat bermacam-macam, misalnya lingkungan kurang sehat, polusi tinggi, dan ada perokok di rumah. Penggunaan penyejuk udara (AC) di malam hari bisa menimbulkan alergi suhu dingin, sehingga hidung anak mampet, dan ia bernafas lewat mulut. Kipas angin dipasang di kamar tidur yang lalu meniup debu ke segala penjuru kamar. Belum lagi penularan virus di sekolah dan tempat ramai seperti mal. Juga perawat yang sedang batuk - pilek. Tak langka pula kejadian sakit gara-gara anak mengonsumsi makanan ringan tidak sehat yang membuat tenggorokan menggelitik.

Batuk - pilek beserta demam yang terjadi sekali-kali dalam 6 - 12 bulan sebenarnya masih dinilai wajar. Tetapi observasi menunjukkan bahwa kunjungan ke dokter bisa terjadi setiap 2 - 3 minggu selama bertahun-tahun. Bila ini yang terjadi, maka ada dua kemungkinan kesalahkaprahan dalam penanganannya.

Pertama, pengobatan yang diberikan selalu mengandung antibiotik. Padahal 95% serangan batuk-pilek dengan atau tanpa demam disebabkan oleh virus, dan antibiotik tidak dapat membunuh virus. Selain mubazir, pemberian antibiotik kadang-kadang justru menimbulkan efek sampingan berbahaya. Kalau dikatakan akan mempercepat penyembuhan pun tidak, karena penyakit virus memang bakal sembuh dalam beberapa hari, dengan atau tanpa antibiotik. Hal ini telah dibuktikan dengan studi terkontrol (membandingkan dengan plasebo) berulang kali sejak ditemukannya antibiotik di tahun 1950 - 1960-an. Hasilnya selalu sama sehingga tidak perlu diragukan lagi kebenarannya.

Di lain pihak, antibiotik malah membunuh kuman baik dalam tubuh, yang berfungsi menjaga keseimbangan dan menghindarkan kuman jahat menyerang tubuh. Ia juga mengurangi imunitas si anak, sehingga daya tahannya menurun. Akibatnya anak jatuh sakit setiap 2 - 3 minggu dan perlu berobat lagi. Orang tuanya lalu langsung membeli antibiotik di apotik atau pasar hanya karena setiap kali ke dokter mereka diberi obat tersebut.

Lingkaran setan ini: sakit >> antibiotik >> imunitas menurun >> sakit lagi >>, akan membuat si anak diganggu panas-batuk-pilek sepanjang tahun, selama bertahun-tahun. Komplikasi juga sering akan terjadi, yang akhirnya membawa anak itu ke kamar perawatan di rumah sakit.

Pengalaman menunjukkan, bila antibiotik dicoret dari resep (sementara obat batuk-pilek yang adekuat diberikan), setelah 1 - 3 bulan si anak tidak akan gampang terserang penyakit flu lagi. Pertumbuhan badannya pun menjadi lebih baik.

Salah kaprah kedua ialah gejala batuk - pilek yang tidak diobati secara benar; artinya, siasat pengobatan perlu diubah. Ini lantaran obat jadi yang dijual di apotek tidak selalu dapat mengatasi masalah setiap penderita. Bahkan sering terjadi, batuk - pilek malah menjadi lebih parah dan berkepanjangan.

Suatu perubahan dalam resep, yang mendasar dan individual, perlu dilakukan untuk memutus lingkaran setan panas-batuk-pilek ini. Yang utama ialah menghentikan antibiotik, tidak memberikan kortikosteroid secara terus-menerus, menghentikan pemberian obat penekan batuk dan menggantinya dengan bronkodilator, serta memberikan campuran obat pilek yang baru. Efedrin dosis kecil - dicampur dengan antihistamin yang efektif - merupakan obat pilek terbaik. Pseudo-efedrin, fenilpropanolamin, atau etilefrin yang lebih sering dijumpai dalam obat-jadi, tidak lebih baik dari efedrin, walaupun lebih mahal. Semua obat lain yang ternyata tidak terbukti efektif perlu dihentikan.

Terakhir, yang tidak kalah penting, carilah faktor pencetus yang dicantumkan di awal tulisan ini. Bila ditemukan, hindarilah. Selamat mencoba. Semoga anak Anda tidak perlu lagi begitu sering berobat karena flu!

Pencetus baru telah saya temukan diantara beberapa pasien anak. Ternyata orang tua jaman ini sering entertain anaknya di Mal. Kasus pertama, anaknya terus sakit, pun bila sebelumnya sangat sehat. Berikut ini sms-nya berbunyi setelah saya tanyakan "apa yang terjadi sebelumnya?". Tadi siang jam 2 BAB-nya baik, BAK banyak & kuning tua. Dari jam 11 jalan di mal sampai jam 4 sore, dia mengeluh pusing & lelah serta suhu badan yang tinggi (demam). Saya menjawab bahwa Mal bukan tempat rekreasi yang sehat. Dengan hanya parasetamol akhirnya panas hilang dan terus sembuh.. Berapa banyak orang tua di kota Jakarta ini berbuat demikian untuk 'mengangin-anginkan anaknya? Sebagian besar akan berakhir dengan panas, batuk, pilek, berak2, dan muntah secara akut. Jelas Mal bukan tempat rekreasi yang sehat, karena penuh dengan virus dan kuman.
 (idionline/Kalbefarma)
  Bunda Rafa
   
21-05-2008 13:48:46 antibiotik buat bayi
Jumlah Posts : 23
Jumlah di-Like : belum ada like
Dear Moms, Waktu Rafa umur 1bln lebih pernah sakit panas. Karena Rafa lemes dan mulai gak mau minum asi, akhirnya aku bawa ke DSA. Sama DSA-nya Rafa diberi obat penurun panas (Alphamol) ma antibiotik (Cefat). Waktu itu pas jam 4 sore, apotek masih tutup (maklum di kota kecil), jadinya Rafa cuma minum Obat penurun panas-nya aja. Malam hari baru dapat antibiotik, tapi Rafa sudah mulai turun panasnya. Akhirnya Antibiotik tsb gak saya kasihkan. Pas saya cerita sama adik ipar saya (kebetulan dokter, tp bukan DSA), dibilang jangan dikasih antibiotik (apalagi merk itu, katanya dosisnya tinggi), karena tidak berpengaruh terhadap kesembuhan bayi. Jadi bingung nih... Sebenarnya apa sih fungsi antibiotik buat bayi/anak sakit? Padahal udah dikasih obatnya jg. Ada yg punya pengalaman serupa gak ya?   Bunda Rafa
   
Jumlah Posts : 23
Jumlah di-Like : belum ada like
Moms, mo kasih masukan nih... Artikel ini saya ambil dr Internet (lupa alamatnya)

Perawatan Bayi Baru Lahir

Betulkah minyak kayu putih tak boleh diberikan sebelum anak usia 3 tahun?

Pemberian minyak kayu putih pada usia berapa saja tak masalah. Hanya ada dua faktor; seberapa besar konsentrasinya dan seberapa iritatif serta sensitif kulit si bayi. Tentunya konsentrasi minyak kayu putih yang asli, misal, dari Ambon, akan berbeda dengan yang sudah campuran. Yang asli akan terasa makin pedas. Faktor iritasi yang ditimbulkan pun berbeda. Semakin asli semakin beruntusan kulitnya.

Jadi, tak ada larangan orang tua memakaikan minyak kayu putih pada bayinya, tergantung seberapa iritatif dan sensitif kulitnya. Apalagi pori-pori kulit bayi lebih kecil dibanding pori-pori orang dewasa. Pori-pori ini digunakan untuk pernapasan kulit. Jika pori-pori tertutup dengan minyak, tak terjadi pernapasan kulit. Akibatnya, kulit jadi kemerahan. Solusinya, tak usah diberi obat macam-macam. Mandikan saja dan dikeringkan.

Bagaimana dengan pemberian bedak pada bayi?

Sebetulnya di Indonesia tak perlu penggunaan bedak, baby oil, baby lotion, dan segala macam. Sebab, tingkat kelembabannya tinggi, hingga permukaan kulit tak pernah kering.

Praktek lain yang salah tentang bedak yaitu digunakan untuk membersihkan bekas kencing atau daerah-daerah yang basah karena keringat. Padahal, campuran bedak dan keringat adalah media yang baik untuk tumbuh kuman. Sementara permukaan kulit sendiri sudah penuh kuman. Itu sebab, bila tak mandi, terjadi pembusukan oleh bakteri yang ada di permukaan kulit. Apalagi di lipatan-lipatan seperti leher, selangkangan, yang lebih cepat terjadi pembusukan.

Memang tak menyebabkan kematian, tapi banyak beruntusan, dan kadang ada nanah-nanah kecil di lipatan seperti leher. Solusinya, bayi dimandikan. Jangan pakai air panas, kecuali di daerah yang dingin sekali. Pakailah sabun bayi atau sabun khusus, selain untuk membersihkan juga menghambat tumbuhnya kolonisasi kuman.

Bolehkah pemberian minyak kelapa pada biang keringat?

Tidak, karena akan menutup pori-porinya.

 

Bagaimana mengatasi bayi kembung? Perlukah pemakaian minyak telon?

Bayi ditelungkupkan/ditengkurapkan. Kalau banyak angin di perutnya, akan keluar kentut. Sebab, dengan ditelungkupkan, gas di perut akan mencari tempat yang lebih tinggi untuk kemudian keluar.

Pemakaian minyak telon jika berdasarkan keyakinan ibu tak apa-apa, maka silakan. Asal tahu, minyak telon bisa menyebabkan kulit bayi merah-merah, meski tak membahayakan. Tapi memang itu sifatnya iritasi.    
   
07-04-2008 17:05:04 Dokter Anak
Jumlah Posts : 5
Jumlah di-Like : belum ada like
Masalah yang biasa ditemukan dengan Dokter Anak

( Jumat, 10/08/2007 11:18 )



COMMON PROBLEMS IN PEDIATRICS



Beberapa negara, terutama negara maju, telah menerapkan konsep partnership atau kemitraan antara dokter dan konsumen medis (pasien). Kondisi ini suka atau tidak suka masih belum membudaya di negara kita, Indonesia. Sistem yg berlaku relatif paternalistik. Sementara itu di era komunikasi ini, konsumen banyak sekali dibantu dengan kemudahan teknologi yg ada. Melalui internet, konsumen medis dapat belajar lebih jauh untuk memahami masalah kesehatan. Sehingga pasien yg aktif berpartisipasi dalam menangani masalah kesehatannya merupakan hal penting dalam layanan kedokteran yang baik. Karenanya, istilah Konsumen Medis jauh lebih tepat dibandingkan “pasien”. Konsumen terkesan lebih aktif dibandingkan dg pasien yg terkesan pasif dan pasrah. Ingat, sebagai konsumen medis/kesehatan, kita memiliki hak, bukan hanya kewajiban.



Apa hak konsumen kesehatan? Memperoleh informasi yang benar dan obyektif. Hal ini sesuai dengan tugas seorang tenaga kesehatan. Tugas dokter bukan hanya KURATIF (mengobati kondisi sakit), melainkan juga EDUKATIF PROMOTIF (penyuluhan kesehatan) dan upaya PREVENTIF (Pencegahan).



Apa kewajiban konsumen? Learn as much as possible. Salah satunya adalah mencari informasi, mempelajari dasar-dasar kesehatan dan mempelajari segala sesuatu perihal penyakit yang sedang dialami. Manfaatkan kemajuan teknologi yanga ada. Cari informasi kesehatan melalui internet, tetapi selektiflah memilih situs yang dipercaya. Be active, speak up terutama saat medical visit. Jika perlu cari 2nd opinion.



Topik pertemuan kali ini adalah berbagai masalah kesehatan yang umum terjadi pada anak. Selain demam, alasan terbanyak orangtua membawa anaknya ke dokter adalah batuk pilek, radang tenggorokan, dan diare. Orang tua panik, anak memperoleh berbagai macam obat yang belum tentu diperlukan, yang juga belum tentu tanpa efek samping. Sedihnya lagi, tak jarang anak diberikan antibiotik. Padahal sebagian besar penyebabnya adalah virus, yang tidak bisa "dilawan" oleh antibiotik.



Demam, batuk-pilek, radang tenggorokan, diare, merupakan kondisi langganan anak-anak. Pelajarilah, agar dapat bertindak dengan tenang dan rasional, agar tidak tergopoh-gopoh mengambil obat dan mengobati gejala-gejala tersebut.



Semoga melalui sharing dan materi ini kita, para orang tua, akan jauh lebih bijak dalam menyikapi masalah kesehatan yang sering terjadi pada anak.



SLIDE 1. Common Problems in Pediatrics : Title

Peran seorang pasien (tepatnya konsumen medis) sangat berpengaruh dan menentukan dalam kinerja tenaga medis. Konsumen medis yang aktif berpartisipasi dalam menangani masalah kesehatannya, akan sangat membantu kinerja dokter dan tenaga medis lainnya. Terutama kinerja dokter untuk tetap berpegang pada prinsip pola pengobatan yang rasional (Rational Use of Drugs / RUD) . Pola pengobatan yang rasional adalah AMAN dan COST EFFECTIVE. Perlu kita ketahui banyak faktor yang berperan dalam pemberian obat. Paling tidak ada 3 faktor yang dominan berperan kuat, yaitu dokter (penulis resep), konsumen (pasien) dan industri obat.



Intinya, konsumen (pasien) yang tidak rasional akan mendorong iklim layanan kesehatan yang tidak rasional pula. Demikian pula sebaliknya.



SLIDE 2. IRRATIONAL USE OF DRUGS (IRUD)

Pola pengobatan yang irrational menjadi concern seluruh dunia.



Minimal ada dua masalah utama perihal IRUD yaitu polifarmasi dan pemberian antibiotik yg berlebihan/tidak pada tempatnya.



Masalah polifarmasi tanpa disadari sering terjadi, terutama saat anak sakit.



Evaluasi kembali buku kesehatan / kartu berobat putra/I bapak/ibu.



Perhatikan berapa kali dalam 1 th kita membawa anak berobat karena sakit.



Coba jawab pertanyaan berikut :





· Berapa kali dalam kunjungan ke dokter, ibu tidak memperoleh obat ?

Tidak juga antibiotik ?

· Apakah setiap kali berobat anak mendapatkan obat puyer ?

· Berapa jumlah obat dalam tiap puyer ?



Umumnya para dokter mengajukan minimal 3 alasan mengapa mereka cenderung “abusive”, yaitu :



1. LACK OF CONFIDENCE.

Kebanyakan dokter sering tidak yakin atau merasa kurang PEDE untuk menyatakan bahwa pasien tsb sakit akibat infeksi virus, yang tidak membutuhkan antibiotik. Para dokter juga merasa “insecure” takut pasien pindah ke dokter lain.

2. PATIENT PRESSURE.

Tidak sedikit pasien, tanpa disadari, memilih bersikap pasif dan menganggap dokter tahu yg terbaik. Sehingga obat yang diberikan dokter pasti yang terbaik. Padahal dokter dapat bisa saja salah memberikan obat.



Pasien yang irasional, sering menuntut dokter untuk memberikan antibiotik , karena menganggap antibiotik merupakan “obat dewa” yang bisa menyembuhkan segala kondisi. Pasien irrasional sering “menuntut” dokter sebagai “tukang sihir”, yang dapat memberikan obat yang cespleng.



DOCTOR is a kind of MAGICIAN sehingga setiap kita ke dokter kita selalu berharap segera sembuh. Hal ini juga menimbulkan beban tersendiri bagi para dokter.



3. COMPANY PRESSURE.

Dalam Doctor-patient partnership, dokter sangat bergantung/membutuhkan pasien sebagaimana pasien bergantung / membutuhkan dokter. Tindakan pasien akan sangat mempengaruhi tindakan sang dokter. Pasien yang irrasional akan mendorong dokter menjadi irrasional. Intinya adalah tanggung jawab atau kewajiban menyehatkan anak bukan hanya di bahu seorang dokter, tetapi juga orangtua sbg konsumen medis.



SLIDE 3. IMMUNE SYSTEM

Sejak lahir Tuhan telah melengkapi kita dengan sistem imun (daya tahan tubuh) yang sempurna & canggih. Diantaranya ASI.



Secara garis besar, sistem imun terdiri atas 2 bagian, yaitu :

1. Bagian yang langsung “membunuh” kuman/virus/parasit, dll yang menyerang tubuh kita dan membuat tameng / proteksi untuk “serangan” serupa.



Sistem imun yang bertugas langsung membasmi “musuh” tsb adalah Sel Darah Putih atau LEUKOSIT. Leukosit juga membentuk antibodi, suatu zat untuk menetralisir “musuh” bila suatu saat kita kembali terserang oleh infeksi yang sama.



2. Bagian atau sel-sel yang bertugas membantu sel leukosit sehingga leukosit jauh lebih efektif “serangan”nya.



SLIDE 4. BACTERIA & VIRUS

Kedua makhluk tersebut amat dangat kecil tetapi memiliki canggih & lihai agar dapat lolos dari serangan sistem imun tubuh kita.

· Bakteri.

Bakteri ada dimana-mana, di alam, dan di sekitar kita. Bahkan tubuh kita dipenuhi oleh bakteri. Bahkan ASI mengandung bakteri.



Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas bakteri TIDAK JAHAT, bahkan menguntungkan. Kita justru membutuhkan bakteri tsb di dalam usus seperti untuk :



a) Mencernakan makanan menjadi zat-zat bergizi

b) Mengolah makanan menjadi vitamin B & K

c) Melindungi kita agar tidak terinfeksi oleh kuman yang jahat.

d) Membantu pencernaan agar kita tidak sembelit



Berdasarkan sifat kimiawinya, bakteri dibagi dua yaitu bakteri Gram Positif dan bakteri Gram negatif.



1. Bakteri Gram positif

a. umumnya lebih mudah di”lawan” dibandingkan bakteri Gram negatif.

b. dapat diatasi oleh antibiotik yang ringan (narrow spectrum antibiotik)

c. umumnya menyebabkan Infeksi di bagian atas diafragma



2. Bakteri Gram negatif

a. menyebabkan infeksi di bagian bawah diafragma



Broad spectrum antibiotics adalah antibiotik yang menyerang kedua kelompok bakteri di atas



INGAT :

- Pemberian antibiotik yang terlalu sering dan terlalu lama akan mematikan kuman yang baik. Hal ini akan menganggu pencernaan misalnya diare akibat munculnya banyak jamur, kekurangan vitamin B & K.

- Semakin sering kita memakan antibiotik, semakin sering kita jatuh sakit.

· Virus.

Virus jauh lebih kecil daripada bakteri. Virus tidak dapat dibunuh oleh obat, antibiotik sama sekali tidak bekerja terhadap virus. Virus hanya bisa dibasmi oleh sistem imun atau daya tahan tubuh kita.



SLIDE 5. RADANG / INFLAMMATION - ITIS

Kita sering menyalahartikan istilah radang sebagai suatu keadaan akibat infeksi kuman.

Radang atau inflamasi artinya MERAH, BENGKAK, dan SAKIT. Radang tenggorokan, artinya tenggorokannya merah, sakit, dan mungkin agak membengkak (amandelnya).

v Radang karena INFEKSI.

Radang akibat infeksi dapat dibagi2, yaitu :

1. Radang karena kuman

2. Radang karena virus.

85% radang tenggorokan pada bayi/anak disebabkan oleh infeksi VIRUS - sehingga tidak perlu antibiotik.

v Radang BUKAN INFEKSI.

Biasanya disebabkan oleh kondisi seperti ALERGI, TRAUMA, AUTOIMMUN, TEETHING, dll. Kesemuanya, sekali lagi, tidak dapat diobati dengan antibiotik. Upaya terbaik mengatasi alergi adalah avoidance- mengurangi kemungkinan exposure hal2 yang bisa menimbulkan alergi (debu, karpet, binatang berbulu, mainan berbulu, AC, makanan tertentu dengan pewarna, pengawet, perasa sintetik, permen, sea food, dll).

v Demikian halnya dengan DEMAM.



Demam dapat disebabkan oleh infeksi dan juga bukan karena infeksi.



Sekali lagi, penyebab demam terbanyak pada anak adalah infeksi virus. Demam itu sendiri merupakan salah senjata tubuh untuk melawan infeksi. Dengan perkataan lain, kalau ada infeksi, tubuh kita memproduksi panas sebagai bagian dari sistem imun untuk melawan infeksinya. Tetapi demam juga bisa dikarenakan hal lain yg tidak ada hubungannya dg infeksi.



SLIDE 6. FEVER

Demam adalah alasan terbanyak orangtua membawa anaknya ke dokter. Apalagi jika orangtua tidak memiliki ilmu yang cukup mengenai demam, penyebab demam & tatacara merawat anak demam.



Bahayakah demam itu ? Burukkah demam itu ?



Tidak ada sesuatu yang 100% buruk atau 100% baik. Demikian juga dengan demam. Tuhan pasti memiliki maksud dibalik fenomena demam.



There is something for many reasons.



Tubuh kita diciptakan oleh Tuhan dengan dilengkapi mekanisme pengaturan yang canggih, termasuk mekanisme pengaturan suhu.



Di otak kita terdapat termostat bernama hipotalamus yang mengatur mekanisme ini. Tepatnya terdapat pusat pengaturan suhu disebut juga SET POINT. Pengatur suhu tubuh ini akan memastikan tubuh kita senantiasa pada suhu konstan (sekitar 37C) .



Demam adalah kondisi dimana otak (melalui Set Point) memasag suhu diatas setting normal yaitu > 38C. Namun demikian demam yang sesungguhnya adalah bila suhu >38.5C. Akibat kenaikan setting suhu tubuh tsb, maka tubuh akan memproduksi panas melalui tahapan : menggigil hingga mencapai suhu puncak à suhu demam stabil à suhu mulai turun.



Bagaimana dan mengapa timbul demam ?

Peningkatan suhu tubuh ini disebabkan oleh beredarnya molekul kecil dalam tubuh, yaitu PIROGEN – suatu zat pencetus panas.



Apa yang menyebabkan terjadinya peningkatan pirogen ?

Penyebabnya antara lain : infeksi, radang, keganasan, alergi. Teething, dll. Pada saat terserang infeksi, sistem imun tubuh kita akan membasmi infeksi tsb dengan serangan leukosit (sel darah putih).



Agar tugas leukosit tsb efektif dan tepat sasaran, dibutuhkan dukungan banyak pihak termasuk pirogen, yang ebrtugas :

1. Mengerahkan sel darah putih (leukosit)

2. Menimbulkan demam yang akan membunuh virus. Karena virus tidak dapat hidup di suhu tinggi. Sementara itu virus akan tumbuh subut di suhu rendah.



Perhatikan hal berikut :

1. Selama infeksi masih berlangsung, memang harus ada demam.

2. Demam merupakan bagian dari sistem pertahanan tubuh untuk membasmi infeksi.

3. Prinsip utama adalah cari penyebab timbulnya demam. Dengan mengetahui sumber masalahnya, maka kita dapat bertindak secara rasional. Pada anak penyebab utamanya adalah infeksi virus.

4. Beri minum lebih banyak dari biasanya. Waspadai kemungkinan terjadinya komplikasi dehidrasi.



American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasi tatacara penanganan demam. Berikut kondisi kapan orang tua harus menghubungi dokter :

v Bila bayi berusia < 3 bulan dengan suhu tubuh > 38C

v Bila bayi berusia 3 – 6 bulan dengan suhu tubuh > 38.3C

v Bayi dan anak berusia > 6 bulan, dengan suhu tubuh > 40C



Konsultasikan juga dengan dokter jika terdapat kondisi berikut :

v Sama sekali tidak mau minum atau sudah dehidrasi; Gelisah, muntah, diare

v Iritabel atau menangis terus menerus, tidak dapat ditenangkan

v Tidur terus menerus, lemas dan sulit dibangunkan (lethargic)

v Kejang; Kaku kuduk leher; Sakit kepala hebat

v Sesak napas

v Gelisah, muntah, daire



SLIDE 7. TREATING FEVER



Point-point utama yang harus diperhatikan selama merawat anak demam adalah :



1. Mencari penyebab demam dan memperhatikan pola perilaku anak.

Amati tingkah laku anak. Jika perilaku anak hampir sama seperti biasanya, maka kita tidak perlu khawatir. Karena pada dasarnya demam itu bukan hal yang membahayakan.



2. Cegah dehidrasi.

Demam akan meningkatkan penguapan cairan tubuh. Karenanya bayi dan anak beresiko mengalami dehidrasi. Berikan cairan lebih banyak. Berikan air, air sup, jus buah segar yang dicampur air, es batu, es krim.

Bila muntah atau diare, berikan minuman elektrolit : pedialyte, oralit.



3. Ruangan dijaga agar tidak panas, pasang kipas angin. Anak memakai baju yang tipis.



4. Kompres air hangat atau berendam di ari hangat.



5. Biarkan anak memakan apa yang diinginkan. Jangan dipaksa. Hindarkan makanan berlemak, karena sulit dicerna oleh tubuh.



6. Meskipun anak dianjurkan untuk tidak masuk sekolah, bukan berarti ia harus berada di tempat tidur seharian.



7. Pemberian obat penurun panas mengikuti aturan berikut :

104 (>40C) : Beri obat penurun panas, kompres hangat, hubungi dokter.



Ingat: DO NOT TREAT LOW GRADE FEVER (< 38.3C)



SLIDE 8. COLDS AND FLU

Penyebabnya infeksi virus. Umumnya berlangsung selama 5 hari (3 – 14 hari rentangnya) tergantung daya tahan tubuh dan tergantung ada tidaknya penderita flu di rumah atau di sekolah. Jika bai dan anak memiliki saudara kandung yang lebih besar dan sudah bersekolah, maka ia sangat potensial sering mengalami colds & flu.



Tidak ada obat untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Daya tahan tubuh anak terhadap infeksi virus flu akan meningkat sejalan dengan waktu



Tatalaksana:

v Yang paling dibutuhkan adalah cairan, sering minum meski sedikit2.

v Supaya ”ingus” tidak kental dan menyumbat jalan nafas, berikan air garam steril sebagai tetes hidung. Air garam steril ini tidak akan menimbulkan efek samping. Menghirup uap air panas juga banyak membantu saat mengalami colds & flu.

v Apabila pada malam hari tiak dapat tidur karena hidung tersumbat, beri tetes hidung untuk menghilangkan pembengkakan di dalam hidung (Breathy).

v Humid environment, jangan kering seperti dalam ruangan berAC. Kalau perlu, taruh satu ember berisi air mendidih setelah anak tidur.

v Paracetamol – bila bayi/anak uncomfortable atau high fever (>38.5)

v Di lain pihak, kita sering mengacaukan alergi dengan flu. Pada alergi yg mengenai hidung, anak juga akan ”meler” tetapi anak tidak demam, tetap aktif bermain. Bukan berarti juga anak menderita infeksi virus flu.



Pencegahan:

v Sering cuci tangan

v Hindari kontak erat dengan penderita flu

v Jaga kebersihan rumah seperti di kamar mandi, dapur, dsb.



Kapan menghubungi dokter?

v Persistent cough, fever > 72 hours

v Sesak nafas, kuku dan bibir tampak biru

v Luar biasa rewel, atau luar biasa mengantuk (sangat sulit dibangunkan)



Ingat: Tidak ada obat pilek yang efektif untuk bayi dan anak.



SLIDE 9. SORE THROAT / PHARYNGITIS (Radang tenggorokan & infeksi amandel)

v Umumnya disebabkan oleh infeksi virus. ARTINYA: akan sembuh sendiri – self limiting; dan samasekali tidak memerlukan antibiotik.

v Hanya sekitar 15% saja yg infeksinya disebabkan oleh kuman Streptococcus dan umumnya menyerang anak usia 4 – 7 tahun. Dengan catatan, diagnosisnya harus berdasarkan biakan usap tenggorokan.



Tatalaksana



Banyak minum; minuman yg hangat akan memberikan rasa nyaman di tenggorokan.



Untuk anak yg lebih besar, bisa diajarkan untuk kumur2 atau mengisap lozenges.



Kalau panas atau kesakitan, berikan paracetamol (seperti panadol atau tempra).



Kalau hidung tersumbat, dapat diberikan tetes hidung NaCl dan menghirup uap panas. Kalau anak sangat terganggu, dapat diberikan Nasal decongestant.



SLIDE 10. COUGHS



Jika kita membaca literaratur kedokteran, sering diungkapkan bahwa batuk merupakan suatu mekanisme tubuh untuk mengeluarkan sesuatu yang mengganggu saluran nafas kita, seperti dahak, riak, benda asing (kacang, dsb). Batuk sebagai anugerah terindah dari Tuhan sering disikapi dengan tidak bijak oleh mereka yang tidak memahaminya.



Andaikan kita perhatikan sejenak para pada penderita stroke misalnya. Karena adanya gangguan dalam otak, refleks batuknya terganggu. Akibatnya dahak menumpuk di paru2 dan ybs umumnya mengalami pneumonia. Hingga berefek fatal kematian pada penderita tsb.



Batuk bukanlah momok. Melalui batuk, kita tetap dapat bernafas, karena lendir yang mengganggu saluran nafas akan dikeluarkan saat batuk. Dengan batuk, kita terhindari dari bahaya tersedak benda asing yang masuk ke saluran nafas kita.



Yang terpenting yang harus kita lakukan adalah mencari tahu apa penyebab batuk. Infeksi kah atau bukan infeksi.



Pada anak, batuk umumnya disebabkan oleh infeksi virus atau oleh alergi.



Batuk akibat infeksi virus flu misalnya bisa berlangsung sd 2 minggu. Bahkan lebih lama lagi bila anak kita sensitif atau alergi, atau bila di rumah ada anak lain yang lebih besar yang juga sedang sakit. Batuk karena alergi juga bisa berlangsung lama atau hilang timbul selama pencetus alerginya tidak diatasi. Alergi yang dimaksud bisa dalam bentuk alergi hidung (Allergic rhinitis), asma, alergi suatu zat dari lingkungan. Penyebab lainnya adalah sinusitis, reflux, pneumonia.



Tatalaksana :

M Cari PENYEBAB batuk.



Jika batuk disebabkan oleh produksi dahak yang berlebihan, maka upaya yang perlu dilakukan adalah mengurangi produksi lendir. Melalui cara :

v Minum banyak yang hangat misalnya lemon

v Jangan ada asap rokok

v Rangan jangan kering (Moist air - kamar mandi - buka keran air panas biarkan beberapa lama sehingga ruangan, atau taruh satu ember air panas mendidih, atau pasang humidifier)

v Agar anak lebih nyaman, tidurkan dengan bantal agak tinggi

v NO – ANTIBIOTICS. Ingat ! Kebanyakan batuk tidak memerlukan antibiotik

v NO cough suppressant. Jangan mengkonsumsi obat penekan refleks batuk (seperti DMP). Anehnya, anak kita sering mendapatkan obat racikan / puyer yang salah satu kandungannya codein (sejenis narkotika) yang tidak diketahui manfaatnya.



Pada dasarnya, TIDAK ADA yang namanya obat batuk itu.

Juga tidak ada obat pencair dahak. Cari pencetusnya !



SLIDE 11. BRONCHITIS (INFEKSI SALURAN NAFAS)



Penyebab banyak, tetapi yang tersering adalah alergi (Allergic rhinitis, asthma, environmental exposures). Bisa juga karena sinusitis, refluks, reaksi obat, kelainan bawaan saluran napas, tersedak “benda asing”, pneumonia (virus, jamur). Mohon diingat – pneumonia belum tentu karena infeksi bakteri. Jadi - belum tentu perlu antibiotik. Biasanya ditandai dengan batuk lama.



Tatalaksana :

v Mencari penyebab. Bila karena alergi – modifikasi lingkungan sekitar untuk mengurangi eksposur pada anak

v Humidifikasi

v Ekstra cairan, dll



Jika anak kita dinyatakan menderita bronkitis, maka kita harus segera berpikir bahwa -itis di sini artinya radang – inflamasi. Penyebabnya belum tentu infeksi bakteri - mayoritas bronkitis pada anak tidak perlu antibiotik.



SLIDE 12. EAR INFECTION



Penyebab :

v Umumnya karena infeksi virus

v Pasca infeksi hidung atau radang tenggorokan seperti cold / flu

v Tooth problem



Gejala:

v Sakit telinga (biasanya 1 sisi), demam, pilek dengan hidung buntu, rewel, telinga di-tarik2, nafsu makan menurun

v Kadang2 tampak cairan kuning keluar dari telinga, kadang2 juga anak mengalami sedikit gangguan pendengaran

v Rata-rata setiap anak mengalami infeksi minimal 1 x sebelum usia 5 tahun.



Tatalaksana :

v Penghilang rasa sakit

v Posisi tegak/upright position,

v Jangan ada yang merokok

v Jangan minum susu dari dot-botol sambil tiduran

v Air hangat di botol, bungkus kain perca, taruh di atas telinga

v Kalau perlu minum obat decongestant (mengurangi hidung buntu)



Pencegahan: berikan ASI selama mungkin



Hubungi DOKTER / penggunaan ANTIBIOTIK :

v Bila berkepanjangan, lebih dari 2 minggu atau

v Bila infeksi berat dan anak kesakitan hebat



SLIDE 13. DIARRHEA - VOMITING

Hampir serupa dengan batuk, diare & muntah adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan pada manusia. Diare & muntah adalah mekanisme alami tubuh untuk mengeluarkan racun, virus/kuman yang masuk ke dalam tubuh. Diare & muntah itu ibarat alarm tubuh untuk memberitahukan bahwa ada sesuatu yg tidak beres dalam tubuh kita.



Yang perlu dilakukan adalah mencari PENYEBAB nya.



Tidak perlu diberikan obat anti muntah atau obat untuk “mampet”kan diarenya. Obat-obat tsb memang akan mengurangi/menghentikan diare/muntah, tetapi tidak mengobati penyakitnya.



Perbaikan tersebut bersifat “semu”. Ibarat bom waktu. Kita terkecoh seolah anak membaik, padahal penyakitnya masih terus berlangsung. Selain itu, obat2 tersebut juga bukan tanpa risiko / efek samping.





PENYEBAB:



v >80% penyebabnya pada anak, terutama bayi, adalah virus. Dikenal juga dengan ROTAVIRUS.

v Food poisoning

v Alergi makanan,

v Pemakaian antibiotik.



TATALAKSANA – CEGAH DEHIDRASI - Minum banyak

v ASI diteruskan, campur dg Oral rehydration Solution (ORS) seperti pedialit atau oralit.

v Perbanyak minum.

v Bila diare hebat, fokus pada upaya rehidrasi (menjaga agar tidak dehidrasi). Kalau perlu, untuk sementara waktu tidak perlu makan sampai dehidrasi teratasi











Kapan menghubungi dokter?

v Ada darah di tinja atau tinja berwarna hitam

v Tanda-tanda dehidrasi berat : tidak buang air kecil > 8 jam, bibir kering, air mata kering ketika menangis, skin turgor menurun (jika tangan dicubit, tidak akan kembali seperti semula), mata cekung, abdomen (sekitar perut) cekung, fontanelle (ubun-ubun) pada bayi cekung.

v Luar biasa mengantuk, sulit dibangunkan

v Luar biasa lemas, layu



PRINSIP:

v Umumnya tidak perlu diberi antibiotik, antibiotik hanya bila tinja berdarah (butuh evidence/lab). Pada banyak kasus, antibiotik justru akan memperparah diarenya. Belum lagi pemakaian antibiotik tidak pada tempatnya akan menyebabkan infeksi tambahan oleh jamur/fungus/candida

v Jangan minum obat untuk menghentikan diare seperti primperan, motilium, juga tidak perlu minum Kaopectate, smecta, ensim, dsb.

v Pada diare biasa, tidak perlu mengganti susu formula.

- INGAT - Jangan memberikan obat anti muntah!!!!



SLIDE 14. KONSTIPASI



PENYEBAB:

Penyebab utama biasanya pola perilaku, khususnya pola konsumsi makanan yang low-fiber, high-fat & high-sugar.



Pola makan kita dulu sarat dengan sayur dan buah (serat), sekarang beralih ke fast food yang bukan hanya rendah serat, tetapi juga tinggi garam dan lemak. Penyebab lainnya adalah:

v Kurang minum

v Ignoring the urge (anak mengacuhkan rasa ingin buang air besar dan justru menahannya)

v Kurang gerak/olah raga, banyak duduk

v Penyakit: Hypothyroidism (kelenjar gondok kurang berfungsi, jarang, ada gejala lain sejak bayi seperti retardasi mental), retardasi mental



GEJALA:

v Sakit perut, melilit, mules, kembung

v Nafsu makan menurun

v Rewel

v Celana dalam ada berkas tinja (Soiled underwear)

v Tinja keras, tinja ada goresan/bercak darah (Large/blood streaked stools)

v Sering buang air kecil



TATALAKSANA :

v Minum banyak

v Pola makan yang kaya serat

v Lebih memperhatikan bowel’s habit dari anak.

v Melatih anak akan kebersihan.

v Berbicara & diskusi dengan anak.

   
09-12-2007 00:23:18 DUNIA BAYI
Jumlah Posts : 368
Jumlah di-Like : 1
BAYI TAK BOLEH DIPAKAIKAN GURITA
Begitu kata dokter, kebalikan dari kebiasaan yang terjadi selama ini. Memang, tak sedikit kebiasaan turun- temurun dalam merawat bayi yang bertentangan dengan dunia medis. Bagaimana kita menyikapinya?



Dalam merawat sang buah hati, hampir bisa dipastikan kita akan "dihujani" oleh segala macam nasihat ataupun larangan dari lingkungan, entah kakek-nenek, orang tua, kaum kerabat, maupun tetangga. Umumnya, nasihat/larangan tersebut merupakan kebiasaan-kebiasaan praktek perawatan bayi yang bersifat turun-temurun.


Namun, "seringkali nasihat dan larangan tersebut tak bisa diterima akal sehat, meskipun ada pula yang kedengarannya masuk akal," ujar dr. Eric Gultom, Sp.A. dari Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo dalam cara Ibu Bayi dan Balita di ANTeve, kerja sama nakita dengan PT Endrass Perdana. Misalnya, bayi tak boleh digendong dengan kedua tungkai memeluk tubuh ibu agar kelak tungkainya tak pengkor, bengkok, atau melengkung. Begitu pula dengan nasihat untuk membedong bayi agar kelak bentuk kakinya jadi bagus.


"Kedengarannya memang masuk akal bahwa cara menggendong dengan posisi demikian mungkin saja akan menyebabkan pengkar. Apalagi pada kenyataannya, saat lahir, tungkai bayi memang penampilannya bengkok atau melengkung," tutur Eric yang juga berpraktek di RSIA Lestari, Cirendeu dan RS Medistra. Tapi, lanjutnya, bila dijelaskan dengan cara lain, akan tampak penjelasan tersebut kurang masuk akal.


Semua bayi, tutur Eric, kakinya memang akan tampak melengkung ketika lahir. Pasalnya, rongga rahim sangat terbatas ruangnya. Nah, agar si bayi cukup dalam rongga rahim, posisinya harus sedemikian rupa sehingga kedua tungkai dalam posisi bersila dan melengkung ke atas. "Tentunya dalam posisi demikian selama 9 bulan, akan menyebabkan kedua tungkai penampilannya melengkung ketika lahir." Selain itu, tulangnya masih lebih lunak dan sedang bertumbuh sehingga gampang sekali terbentuk melengkung.

Kendati demikian, tungkai yang melengkung ini berangsur-angsur akan lurus kembali sejalan dengan pertumbuhan bayi. Kecuali bila ada faktor genetik dimana salah satu orang tua penampilan tungkainya tak lurus atau melengkung, akan diturunkan pada anaknya. Jadi, tukas Eric, "melengkung tidaknya tungkai tak tergantung posisi ketika menggendong bayi." Begitupun bila bayi tak dibedong, kakinya akan tumbuh lurus sesuai potensi genetik yang dimilikinya.


MEMBAHAYAKAN BAYI


Berbagai praktek perawatan bayi yang mengikuti kebiasaan-kebiasaan turun-temurun ini, menurut Eric, seringkali bukan hanya kurang dapat diterima dasar ilmiahnya, tapi juga bisa merugikan. Misalnya, pemakaian gurita untuk bebat perut bayi. Kata orang, supaya bayi jangan masuk angin." Ada pula yang bilang, agar perutnya enggak besar dan pusarnya enggak bodong.

Dalam dunia medis, tuturnya, tak dikenal istilah masuk angin. "Istilah ini mungkin maksudnya aerophagia , yaitu bayi banyak mengandung udara di lambungnya sehingga terlihat kembung. Hal ini bisa disebabkan bayi menangis lama atau cara minum susu botol kurang betul." Jadi, Bu-Pak, sama sekali tak ada kaitannya dengan pemakaian gurita.


Begitupun dengan perut besar dan pusar bodong. "Besar kecilnya perut ditentukan oleh ketebalan kulit, lemak kulit, dan otot perut yang sanggup menahan daya dorong isi perut atau usus keluar. Secara alamiah, usus, kan, berusaha mendorong keluar," terang Eric. Nah, pada bayi, lanjutnya, kulit maupun lemak dan ototnya masih tipis karena belum tumbuh, sehingga belum mampu menahan ususnya yang mendorong keluar. Jadilah si bayi kelihatannya seperti kembung, perutnya agak besar. "Nanti, bila kulit dan lemak serta ototnya sudah lebih tebal, akan lebih sanggup menahan daya dorong tersebut." Jadi, tak akan gendut lagi, kecuali kalau makannya memang banyak.


Sama halnya dengan pusar bodong, "Bila perutnya membesar, tentu pusarnya akan menonjol, dong," tukas Eric. Tak demikian halnya setelah ketebalan kulit, lemak kulit, dan ototnya bertumbuh menjadi lebih tebal. Jadi, bukan lantaran dipakaikan gurita maka pusarnya jadi enggak bodong. Jikapun si bayi sampai punya pusar bodong, menurut Eric, karena bagian dari puntung tali pusatnya memang sejak awalnya sudah lebih besar. "Jadi, sejak lahir pusarnya memang sudah bodong, bukan karena tak dipakaikan gurita."

Pemakaian gurita, tutur Eric lebih lanjut, sebenarnya justru dapat merugikan bayi. "Bayi jadi kepanasan dan banyak keringat sehingga bisa mengalami keringet buntet di bawah lapisan gurita." Selain itu, bila pemakaian gurita terlalu ketat, "akan mengganggu gerak pernafasan bayi." Soalnya, bayi bernafas lebih dominan menggunakan gerak pernafasan perut. Jadi kalau kita bebat dia erat-erat di bagian perut, tentu akan mengganggu pernafasannya."


Contoh lain dari kebiasaan turun-temurun yang membahayakan bayi ialah membubuhkan bahan-bahan tradisional pada tali pusat yang belum puput. Hal ini bisa menimbulkan infeksi. "Perawatan tali pusat cukup dilakukan dengan menggunakan alkohol 70 persen," ujar Eric. Sebab, alkohol 70 persen dapat membunuh kuman dan mencegah berkembang-biaknya kuman, sehingga tali pusat pun terhindar dari infeksi.


Masih banyak lagi kebiasaan-kebiasaan turun-temurun yang sampai sekarang masih sering dijumpai dalam praktek perawatan bayi sehari-hari. Saran Eric, sebaiknya Bapak dan Ibu tanyakan dulu kepada dokter, apakah ada bahayanya bagi bayi Anda. Bila tidak, prakteknya terpulang kepada Bapak-Ibu sendiri sebagai orang tua si bayi.






Julie Erikania




ANEKA KEBIASAAN TURUN-TEMURUN PERAWATAN BAYI


*ASI

ASI harus dibuang dulu sebelum menyusu. Alasannya, ASI yang keluar adalah ASI lama (basi).


ASI tak pernah basi! Biasanya yang dimaksud dengan ASI lama adalah ASI yang berwarna kekuningan dan kental; penampilannya memang seperti cairan tak segar. Padahal, ASI kekuningan tersebut yang paling baik mutunya. "Kandungan nutriennya paling tinggi dan memang diperolehnya pada tetesan ASI paling awal," jelas Eric Gultom.


Warna dan penampilan ASI putih keruh serta encer sering pula diasumsikan sebagai ASI kualitas jelek. Hal ini sama sekali tak benar! "Warna dan kejernihan ASI sangat tergantung bahan nutrien yang terkandung di dalamnya," jelasnya lagi. Perlu diingat, tak ada ibu yang mempunyai ASI seputih dan seindah penampilan susu formula. Namun begitu, kualitas ASI tak dapat ditandingi oleh susu formula manapun.


Usai melahirkan, ibu harus makan ayam arak agar tubuhnya hangat dan ASI-nya banyak atau minum jamu-jamuan untuk kesegaran ibu.


Hal ini justru berbahaya karena sering berpengaruh terhadap kandungan nutrien ASI dan menyebabkan bayi kuning. Kandungan dalam ayam arak -mungkin araknya- dan jamu-jamuan, menurut observasi dokter dan para bidan, seringkali berkaitan dengan timbulnya kuning pada bayi, suatu keadaan yang secara medis disebut ikterus atau hiperbilirubinemia. "Bila kadar kuningnya tinggi, dapat membahayakan bayi karena, bahan kuning ini bukan hanya akan melekat di mata maupun kulit sehingga jadi kuning, tapi juga di sel-sel otak," terang Eric.


* MEMANDIKAN BAYI


Bayi harus dimandikan dengan air hangat agar tak masuk angin.


Memandikan bayi dengan air hangat tak perlu apabila bayi Anda normal, cukup bulan dan dalam keadaan sehat. Mandikanlah sehari dua kali, gunakan sabun bayi dan cuci rambut dengan sampo bayi. Perlakukan bayi sebagaimana layaknya Anda sebagai orang sehat mandi dan mencuci rambut.


"Mandi dengan air hangat tujuannya terutama agar bayi tak kedinginan atau hipotermi dalam bahasa kedokterannya. Tapi, sebagai bayi normal yang sehat, bayi Anda dapat beradaptasi dengan keadaan tersebut," terang Eric. Jadi, Bu-Pak, tak usah takut memandikan si kecil dengan air dingin selama kondisinya normal dan sehat serta dalam cuaca yang tak dingin.


Kepala tak boleh dibasahi saat bayi dimandikan.


Nasihat ini tentulah tak benar. Jika kepala bayi tak pernah dibasahi, kotoran di kepala jadi menumpuk dan bercampur dengan endapan lemak sehabis dilahirkan. Akibatnya, timbullah kerak kepala yang sering disebut sarapen atau dalam istilah medisnya, dermatitis seboroik.


Bayi tak boleh dimandikan jika tali pusatnya belum lepas.

Salah! Justru tali pusatnya harus dibersihkan, lalu dikeringkan dengan alkohol 70 persen.


* BEDAK DAN MINYAK-MINYAKAN


Kepala bayi perlu diberi pupur agar tak gampang pilek.


Tak ada hubungannya antara pilek dan diberi pupur. "Pilek lebih sering terjadi bila bayi tertular orang dewasa yang pilek dan mencium bayinya," urai Eric. Sebaliknya, pupur dapat menyebabkan banyak kerak di kepala dan merupakan media tumbuh kuman yang baik bila tak dibersihkan dengan baik.


Bayi harus dibedaki sesudah mandi agar tubuhnya harum. Sehabis BAK, selangkangannya dikeringkan dengan bedak. Begitu juga bila tubuhnya berkeringat, dikeringkan dengan bedak.


Sebaiknya bedak tak digunakan jika dimaksudkan untuk membuat tubuh bayi harum, mengeringkan keringat, bekas BAK atau sesudah cebok.


Di negeri tropis, bayi Anda memang akan cenderung lebih sering berkeringat. Campuran bedak dengan keringat, terang Eric, merupakan media yang baik untuk berkembang biaknya kuman di permukaan kulit, terutama di daerah tertutup dan lipatan leher, ketiak, atau selangkangan. Lagi pula campuran air dan bedak akan menutup pori-pori kulit bayi yang sangat halus dan menyumbat pernafasan kulit serta saluran kelenjar keringat, terutama bila diborehkan terlalu tebal. Hal ini menyebabkan lebih banyak keringet buntet dan ruam (kemerahan) di permukaan kulit.


Bedak hanya boleh dipakai untuk mencegah tergoresnya kulit kering. Akan tetapi, kulit kering jarang terjadi di negeri tropis karena udaranya cukup lembab sehingga kulit cenderung lebih basah; berbeda di negara empat musik yang kelembaban udaranya lebih rendah. Jikapun Anda ingin si kecil dipakaikan bedak, sebaiknya bubuhkan tipis-tipis di permukaan kulit, terutama bagian tubuh yang mudah tergores.


Bagaimana dengan minyak-minyakan dan baby oil?


Bahan minyak-minyakan, misalnya, minyak telon dan minyak kayu putih, sering diborehkan dengan alasan mencegah masuk angin dan menghangatkan tubuh bayi, terutama minyak kayu putih. Jadi, hal ini sering dipraktekkan.


Namun demikian, ingat Eric, pemakaiannya harus hati-hati. Soalnya, respons kulit bayi terhadap kandungan minyak telon dan minyak kayu putih berbeda-beda. Jika timbul kemerahan dan gejala iritasi (kulit kering seperti terbakar dan bersisik/beruntusan), sebaiknya pemakaian dihentikan.

Baby oil lebih parah lagi dalam menyumbat pori-pori kulit dan saluran kelenjar keringat karena partikelnya lebih besar dan lebih kental. Jadi, sebaiknya tak diberikan untuk kulit bayi Anda.


* MAKANAN


Bayi harus diberi pisang atau nasi kepal/ulek agar tak kelaparan.


Salah dan berbahaya! Sistem pencernaannya belum sanggup mencerna atau menghancurkan makanan tersebut. Dengan demikian, makanan tersebut akan mengendap di lambung dan menyumbat saluran pencernaan, sehingga akhirnya bayi jadi muntah. Itulah mengapa, sebelum usia 4 bulan, bayi belum boleh diberikan makanan tambahan. Jadi, Bu-Pak, tak usah takut si kecil akan kelaparan. Toh, di usia tersebut, makanannya memang cuma ASI dan ia pun boleh menyusu ASI sepuasnya kapanpun ia menginginkannya.


Bayi harus diberi susu lebih kental agar cepat gemuk.


Salah! Susu yang sangat kental juga tak dapat dicerna dan menyebabkan endapan susu di lambung sehingga bayi jadi muntah.


Bayi boleh diberi air tajin sebagai pengganti susu/pelarut susu.


Air tajin tak dapat menggantikan susu karena kandungan nutriennya kurang; juga, tak perlu dipakai sebagai pelarut bila pengenceran susu dengan air matang sudah sesuai petunjuk pelarutan yang diberikan pada setiap kemasan susu kaleng.


Susu kaleng perlu dicampur-campur (berbagai merek dagang) agar keunggulan masing-masing susu dapat dikonsumsi sekaligus oleh bayi.


Jangan termakan iklan, dong! Semua keunggulan yang diiklankan tersebut tak ada yang dapat menyaingi keunggulan ASI.


BILA BAYI PANAS


Baluri seluruh tubuhnya dengan bawang merah.


Bau, dong! Panas tak pernah turun karena bawangnya, tapi karena waktu memborehkan bawang, semua baju dibuka dan terjadi penguapan dari permukaan kulit yang basah. Itulah mengapa, praktek membungkus bayi rapat-rapat dengan beberapa lapis pakaian pada waktu bayi panas justru akan menyebabkan suhu tubuh semakin panas. Bila bayi panas, jangan membungkus bayi terlalu rapat atau dengan pakaian terlalu tebal.


"Malah lebih baik kalau semua pakaiannya dilepaskan, agar terjadi penguapan atau pelepasan panas dari tubuh bayi ke udara sekitar," tutur Eric. Bahkan, dikompres sambil telanjang pun boleh. Namun tentunya, sebelum itu si bayi sudah diberi obat penurun panas. Tak usah cemas bayi Anda akan semakin parah sakitnya. Kecuali, bila kemudian Anda tak membawanya ke dokter untuk mengatasi penyebabnya. Bukankah penyebabnya yang harus diatasi, karena penyebabnya inilah yang membuat si bayi menjadi panas.


Lepaskan semua pakaian bayi, lalu dekap di dada ibu/ayah yang tanpa busana pula. Dengan demikian bisa menurunkan panas.


Memang hal ini juga bisa dilakukan pada bayi yang mengalami panas untuk mengurangi panasnya. Tapi panas badan kita, kan, normalnya 37 derajat Celcius, sedangkan suhu udara jauh lebih rendah, sekitar 28-30 derajat Celcius. Jadi, penetralannya lebih baik ketimbang badan ibu/bapaknya.


* DIURUT


Bayi perlu diurut bila mengalami keseleo/kecengklak.


Dunia medis tak mengenal istilah keseleo/kecengklak. Mengurut bayi justru dapat menyebabkan cedera jaringan bila cara pijatan dan urutannya berlebihan, apalagi di tempat-tempat organ berbahaya semisal perut.


* TIDUR


Bayi tak boleh tidur ditengkurapkan karena susah bernafas.


Salah! Tidur tengkurap lebih nyaman buat bayi karena membuatnya lebih nyenyak dan tak rewel, serta membantu rekoil pernafasan dada lebih teratur. Sejak lahir pun, setiap saat diletakkan di tempat tidur, bayi boleh ditengkurapkan. Pengalaman menunjukkan, dengan sering ditengkurapkan, perkembangan motoriknya angkat kepala, tengkurap, bolak-balik, duduk, dan sebagainya- lebih baik.


Keberatan tidur tengkurap belakangan ini sering dikaitkan dengan tulisan mengenai SIDS (Sudden Infant Death Syndrome) yang sering terjadi di negeri Barat karena bayi tidur di ranjang terpisah dari orang tua, kadang di kamar yang terpisah pula. Sedangkan di Indonesia, umumnya bayi tidur di samping orang tua dan jarang sekali ditinggal sendiri. Jadi, tak perlu takut dengan SIDS hanya karena menengkurapkan bayi.


* PERAWATAN UMUM


Bayi tak boleh didudukkan karena takut susah kencing.


Tidak benar! Jikapun nasihat ini diikuti, boleh saja; toh, tak akan merugikan bayi.


Bila bayi kembung, laburi perutnya dengan daun-daunan obat.


Justru berbahaya bila kulit bayi sangat sensitif karena menimbulkan iritasi. Bila bayi mengalami kembung, cukup ditengkurapkan; karena dalam posisi tersebut, bayi akan banyak mengeluarkan angin. Nanti kembungnya akan hilang sendiri.


Bayi perlu diberi penghitam mata di alis mata (sipat) agar matanya jernih.


Tak ada hubungannya antara mata jernih dengan pemberian penghitam mata. Jikapun ingin diberikan, boleh saja karena tak ada bahayanya bagi bayi.


Jika bayi sering belekan, baluri di atas alis matanya dengan kunyit yang sudah dihaluskan agar saat bangun tidur, tahi matanya keluar semua sehingga enggak belekan lagi.


Salah! Mata belekan disebabkan saluran mata -masing-masing di sudut mata dekat hidung- bayi masih terlalu halus (salurannya masih sempit sekali) sehingga bila ada kotoran atau partikel-partikel di sudut mata yang mau dibersihkan di saluran tersebut namun ukurannya lebih besar dari salurannya, maka mengumpullah kotorannya di sudut mata. Itulah yang disebut belekan. Untuk mengatasinya, lakukan pemijatan sesering mungkin pada masing-masing saluran mata.








   
12-11-2007 10:22:23 PENYEBAB SESAK NAFAS BAYI
Jumlah Posts : 54
Jumlah di-Like : belum ada like
Banyak penyebab sesak napas pada bayi. Yang jelas, segera bawa ke dokter atau rumah sakit karena bisa fatal akibatnya.
Kasus sesak napas pada usia bayi banyak terjadi. Bisa saat pertama lahir, maupun beberapa hari atau bulan setelah kelahirannya baru mengalami sesak napas ini. Dalam istilah kedokteran, kata Muljono Wirjodiardjo, M.D., PhD, "Yang disebut sesak napas adalah jika frekuensi napasnya betul-betul tinggi, ada suara napas yang berbeda dari biasanya (stridor), seperti suara menggorok atau kucing mendengkur. Fatalnya, jika muka sampai tampak membiru."

Sedangkan menurut pendekatan orang awam, definisi sesak napas lebih mudah lagi yaitu terlihat dari gejalanya. Jadi, kalau anaknya susah napas disebut sesak napas. Begitu juga kalau napasnya berbunyi.

ANEKA PENYEBAB

Penyebab sesak napas pada bayi, lanjut spesialis anak dari RS Internasional Bintaro ini, banyak sekali. Bisa karena kelainan bawaan, penyakit infeksi, maupun noninfeksi seperti tersedak. Gejalanya hampir sama. Misalnya untuk derajat ringannya, ada napas yang berbunyi atau batuk berlendir, disertai tak mau makan-minum dan rewel. Sementara kalau derajatnya makin berat, fungsi paru-parunya sudah terganggu sehingga sesak napas dan sampai membiru.

Jadi, derajat sesak napas berbeda-beda. Ada yang mulanya ringan dan makin berat dan ada juga sesak napas yang kejadiannya tiba-tiba atau mendadak. Berikut uraian Muljono mengenai hal-hal yang bisa menyebabkan sesak napas pada bayi:

Kelainan bawaan/kongenital jantung atau paru-paru.
Bila bayi mengalami sesak napas begitu lahir atau 1-2 hari kemudian, biasanya disebabkan adanya kelainan jantung atau paru-paru. Hal ini bisa terjadi pada bayi dengan riwayat kelahiran normal atau bermasalah, semisal karena ketuban pecah dini atau lahir prematur.

Pada bayi prematur, sesak napas bisa terjadi karena adanya kekurangmatangan dari organ paru-paru. Paru-paru harusnya berfungsi saat bayi pertama kali menangis, sebab saat ia menangis, saat itu pulalah bayi mulai bernapas. Tapi pada bayi lahir prematur, karena saat itu organnya tidak siap, misalnya gelembung paru-paru tak bisa mekar atau membuka, sehingga udara tidak masuk. Itu sebabnya ia tak bisa menangis. Ini yang namanya penyakit respiratory distress syndrome (RDS). Tidak membukanya gelembung paru-paru tersebut karena ada suatu zat, surfactan, yang tak cukup sehingga gelembung paru-paru atau unit paru-paru yang terkecil yang seperti balon tidak membuka. Ibaratnya, seperti balon kempis.

Gejala pada kelainan jantung bawaan adalah napas sesak. Ada juga yang misalnya sedang menyusui atau beraktivitas lainnya, mukanya jadi biru dan ia jadi pasif. Jadi, penyakitnya itu utamanya karena kelainan jantung dan secondary-nya karena masalah pernapasan. Jadi, biasanya sesak napas yang terjadi ini tidak bersifat mendadak. Walaupun demikian, tetap harus segera dibawa ke dokter.

Kelainan pada jalan napas/trakea.
Kelainan bawaan/kongenital ini pun paling banyak ditemui pada bayi. Gejalanya, napas sesak dan napas berbunyi "grok-grok". Kelainan ini terjadi karena adanya hubungan antara jalan napas dengan jalan makanan/esophagus. Kelainan ini dinamakan dengan trackeo esophageal fistula. Akibat kelainan itu,ada cairan lambung yang bisa masuk ke paru-paru. Tentunya ini berbahaya sekali. Sehingga pada usia berapa pun diketahuinya, harus segera dilakukan tindakan operasi. Tak mungkin bisa menunggu lama karena banyak cairan lambung bisa masuk ke paru-paru.

Sebelum operasi pun dilakukan tindakan yang bisa menolong jiwanya, misal dengan dimasukkan selang ke jalan napas sehingga cairan dari lambung tak bisa masuk. Biasanya sesak napasnya tampak begitu waktu berjalan 1-3 jam setelah bayi lahir. Nah, bila ada sesak napas seperti ini, prosedur yang harus dilakukan adalah dilakukan foto rontgen segera untuk menganalisanya.

Tersedak air ketuban.
Ada juga penyakit-penyakit kelainan perinatologi yang didapat saat kelahiran. Bukankah saat dalam kandungan bayi minum dan buang air dalam air ketuban? Nah, karena suatu hal, misalnya stres pada janin, ketuban jadi keruh dan air ketuban ini masuk ke paru-paru bayi. Hal ini akan mengakibatkan kala lahir ia langsung tersedak.

Bayi tersedak air ketuban akan ketahuan dari foto rontgen, yaitu ada bayangan "kotor". Biasanya ini diketahui pada bayi baru lahir yang ada riwayat tersedak, batuk, kemudian sesak napasnya makin lama makin berat. Itulah mengapa, pada bayi baru lahir kita harus intensif sekali menyedot lendir dari mulut, hidung atau tenggorokannya. Bahkan kalau tersedak air ketubannya banyak atau massive, harus disedot dari paru-paru atau paru-parunya dicuci dengan alat bronchowash. Lain halnya kalau air ketubannya jernih dan tak banyak, tak jadi masalah. Biasanya dengan obat saja sudah sembuh, tak usah dicuci paru-parunya.

Namun kalau air ketubannya hijau dan berbau, harus disedot dan "dicuci" paru-parunya. Sebab, karena tersedak ini, ada sebagian paru-parunya yang tak bisa diisi udara/atelektasis atau tersumbat, sehingga menyebabkan udara tak bisa masuk. Akibatnya, jadi sesak napas. Biasanya kalau di-rontgen,bayangannya akan terlihat putih.

Selain itu, karena tersumbat dan begitu hebat sesak napasnya,ada bagian paru-paru yang pecah/kempes/pneumotoraks. Ini tentu amat berbahaya. Apalagi kejadiannya bisa mendadak dan menimbulkan kematian. Karena itu bila sesak napas seperti ini, harus lekas dibawa ke dokter untuk mendapatkan alat bantu napas/ventilator.

Seram sekali, ya, Bu-Pak? Karena itulah kala melahirkan si kecil, sebaiknya kita didampingi dokter anak, sehingga dia bisa menilai sistem pernapasan anak, apakah baik atau tidak.

Pembesaran kelenjar thymus.
Ada lagi napas sesak karena beberapa penyakit yang cukup merisaukan yang termasuk kelainan bawaan juga. Gejalanya tidak begitu kuat. Biasanya bayi-bayi ini pun lahir normal, tak ada kelainan, menangisnya pun kuat.

Hanya saja napasnya seperti orang menggorok dan semakin lama makin keras, sampai suatu saat batuk dan berlendir. Kejadian ini lebih sering dianggap karena susu tertinggal di tenggorokan. Namun ibu yang sensitif biasanya akan membawa kembali bayinya ke dokter. Biasanya kemudian diperiksa dan diberi obat. Bila dalam waktu seminggu tak sembuh juga, baru dilakukan rontgen.

Penyebabnya biasanya karena ada kelainan pada jalan napas, yaitu penyempitan trakea. Ini dikarenakan adanya pembesaran kelenjar thymus. Sebetulnya setiap orang punya kelenjar thymus. Kelenjar ini semasa dalam kandungan berfungsi untuk sistem kekebalan. Letaknya di rongga mediastinum (diantara dua paru-paru). Setelah lahir karena tidak berfungsi, maka kelenjar thymus akan menghilang dengan sendirinya. Namun adakalanya masih tersisa: ada yang kecil, ada juga yang besar; baik hanya satu atau bahkan keduanya. Nah, kelenjar thymus yang membesar ini akan menekan trakea. Akibatnya, trakea menyempit dan mengeluarkan lendir. Itu sebabnya napasnya berbunyi grok-grok dan keluar lendir, sehingga jadi batuk.

Pengobatannya biasanya dilakukan dengan obat-obatan khusus untuk mengecilkan kelenjar thymus agar tidak menekan trakea. Pemberian obat dalam waktu 2 minggu. Kalau tak menghilang, diberikan lagi pengobatan selama seminggu. Sebab, jika tidak diobati, akan menganggu pertumbuhan si bayi. Berat badan tak naik-naik, pertumbuhannya kurang, dan harus banyak minum obat.

Kelainan pembuluh darah.
Ada lagi kelainan yang gejalanya seperti mendengkur atau napasnya bunyi (stridor), yang dinamakan dengan vascular ring. Yaitu,adanya pembuluh darah jantung yang berbentuk seperti cincin (double aortic arch) yang menekan jalan napas dan jalan makan. Jadi, begitu bayi lahir napasnya berbunyi stridor.

Terlebih kalau ia menangis, bunyinya semakin keras dan jelas. Bahkan seringkali dibarengi dengan kelainan menelan, karena jalan makanan juga terganggu. Pemberian makanan yang agak keras pun akan menyebabkannya muntah, sehingga anak lebih sering menghindari makanan padat dan maunya susu saja.

Pengobatannya, bila setelah dirontgen tidak ditemui kelenjar thymus yang membesar, akan diminta meminum barium untuk melihat apakah ada bagian jalan makan yang menyempit. Setelah diketahui, dilakukan tindakan operasi, yaitu memutuskan salah satu aortanya yang kecil.

Tersedak makanan.
Tersedak atau aspirasi ini pun bisa menyebabkan sesak napas. Bisa karena tersedak susu atau makanan lain, semisal kacang. Umumnya karena gigi mereka belum lengkap, sehingga kacang yang dikunyahnya tidak sampai halus. Kadang juga disebabkan mereka menangis kala mulutnya sedang penuh makanan. Atau ibu yang tidak berhati-hati kala menyusui, sehingga tiba-tiba bayinya muntah. Mungkin saja sisa muntahnya ada yang masih tertinggal di hidung atau tenggorokan. Bukankah setelah muntah, anak akan menangis? Saat menarik napas itulah, sisa makanan masuk ke paru-paru.

Akibatnya, setelah tersedak anak batuk-batuk. Mungkin setelah batuk ia akan tenang, tapi setelah 1-2 hari napasnya mulai bunyi. Bahkan bisa juga kemudian terjadi peradangan dalam paru-paru. Anak bisa panas karena terjadi infeksi. Yang sering adalah napas berbunyi seperti asma dan banyak lendir.

Biasanya setelah dilakukan rontgen akan diketahui adanya penyumbatan/atelektasis. Pengobatan dapat dilakukan dengan bronkoskopi, dengan mengambil cairan atau makanan yang menyumbatnya.

Selain makanan, akan lebih berbahaya bila aspirasi terjadi karena minyak tanah atau bensin, meski hanya satu teguk. Ini bisa terjadi karena kecerobohan orang tua yang menyimpan minyak tanah/bensin di dalam botol bekas minuman dan menaruhnya sembarangan. Bahayanya bila tersedak minyak ini, gas yang dihasilkan minyak ini akan masuk ke lambung dan menguap, kemudian masuk ke paru-paru, sehingga bisa merusak paru-paru. Akan sangat berbahaya pula kalau dimuntahkan, karena akan langsung masuk ke paru-paru. Jadi, kalau ada anak yang minum minyak tanah/bensin jangan berusaha dimuntahkan, tapi segera ke dokter. Oleh dokter, paru-parunya akan "dicuci" dengan alat bronkoskop.

Infeksi.
Selain itu sesak napas pada bayi bisa terjadi karena penyakit infeksi. Bila anak mengalami ISPA (Infeksi saluran Pernapasan Akut) bagian atas, semisal flu harus ditangani dengan baik. Kalau tidak sembuh juga, misalnya dalam seminggu dan daya tahan anak sedang jelek, maka ISPA atas ini akan merembet ke ISPA bagian bawah, sehingga anak mengalami bronkitis, radang paru-paru, ataupun asmatik bronkitis. Gejalanya, anak gelisah, rewel, tak mau makan-minum, napas akan cepat, dan makin lama melemah. Biasanya juga disertai tubuh panas, sampai sekeliling bibir biru/sianosis, berarti pernapasannya terganggu. Penyebabnya ini akan diketahui dengan pemeriksaan dokter dan lebih jelasnya lagi dengan foto rontgen. Pengobatan dilakukan dengan pemberian antibiotika. Biasanya kalau bayi sudah terkena ISPA bawah harus dilakukan perawatan di rumah sakit. Setelah diobati,umumnya sesak napas akan hilang dan anak sembuh total tanpa meninggalkan sisa, kecuali bagi yang alergi.
   
17-01-2018 07:23:00 promil
Jumlah Posts : 1
Jumlah di-Like : belum ada like
saya sedang promil sudah 4x ke dokter. saya mulai bulan november haid teratur seperti sebelum nikah.mens tanggal 4 selesai tanggal 9.lalu saya memutuskan ke dokter untuk promil anak ke 2.lalu saya ceritakan kronologis saya yang sempat kacau haid selama hampir 3 tahun,saya sadar telat haid saya karena sempat stres berbulan2 hingga mens saya tidak teratur hingga mens tiap 2-4 bulan skali...dan waktu itu diUSG kata dokter saya tidak ada masalah di rahim dan dinyatakan hanya masalah hormon saya...pertama saya diberi obat untuk melancarkan haid saja dan des tanggal 1 saya mens kembali dan saya kembali ke dokter pada hari ke 4 mens dan diberi obat pinfetil....setelah minum obat pinfetil saya belum mens hingga tgl 15 jan.tanggal 16 kmrn sore saya keluar mens sedikit tapi keluar hanya pada waktu pipis saja.kalau tidak pipis tidak keluar...saya ke dokter kmrn disuruh tunggu hingga keluar banyak haidnya dan minum obat hormon baru namanya lepraz. tapi sudah 1 hari ini mens saya gak kluar lagi.apa yang harus saya lakukan supaya mens saya keluar deras?apa penyebab pinfetil maka mens saya kacau lagi?
   
Jumlah Posts : 49
Jumlah di-Like : belum ada like
bunda2 ada yg pernah ngalamin anaknya tiba2 sakit perut dan muntah padahal tidak makan makanan yg macam2..dan semalaman tidak tidur karena sakit perut yg kadang timbul kadang hilang..sampai dengan pagi hari setelah diberi obat anti mual tetap saja merasa mual pada saat makan dan hanya habis beberapa sendok saja..dan pada saat membau seperti sayur atau lauk katanya pusing dan ingin mual..apakah anak saya mengalami gangguan pencernaan? usia anak saya 5 tahun..dan saya harus memberi obat apa ya bunda2? kalau obat tradisional ramuannya yg aman untuk anak 5 tahun apa ya? sebelumnya terima kasih.