SITE STATUS
Jumlah Member :
493.767 member
user online :
1587 member
pageview's per day :
Over 100.000(!) page views
Kalkulator kesuburan
Masukan tanggal hari pertama bunda mengalami menstruasi

forum

Cari: makanan balita 15 bukan

New Topic :  
Jumlah Posts : 527
Jumlah di-Like : belum ada like
So long long articcle ya,bund?Poin pentingnya disini :) 20 Mitos Kampanye Hitam Anti ImunisasiDr. Widodo Judarwanto Sp.A†Imunisasi adalah investasi terbesar bagi anak di masa depan. Imunisasi adalah hak anak yang tidak bisa ditunda dan diabaikan sedikitpun. Imunisasi sudah terbukti manfaat dan efektivitasnya dan teruji keamanannya secara ilmiah dengan berdasarkan kejadian berbasis bukti.†Tetapi masih banyak saja orangtua dan kelompok orang yang menyangsikannya. Setiap tahun ada sekitar 2,4 juta anak usia kurang dari 5 tahun di dunia yang meninggal karena penyakit-penyakit yang dapat dicegah oleh vaksinasi. Di Indonesia, sekitar 7 persen anak belum mendapatkan vaksinasi. Salah satu masalah utama yang menghambat keberhasilan program imunisasi adalah penyebaran informasi yang tidak benar dan menyesatkan tentang imunisasi.†Hal itu adalah wajar terjadi karena demikian banyak informasi yang beredar yang tidak berdasarkan pemikiran dan dasar ilmiah meski dilakukan oleh seorang dokter. Hambatan lain adalah munculnya kelompok-kelompok antivaksinasi yang menyebabkan kampanye hitam dengan membawa faktor agama dan budaya.†Biasanya, kelompok tertentu yang menyebarkan kampanye hitam imunisasi demi kepentingan pribadi khususnya dalam kepentingan bisnis terselubung yang mereka lakukan. Sebagian kelompok ini adalah yang berdiri dibelakang oknum pelaku naturopathy, food combining, homeopathy atau bisnis terapi herbal.†Inilah 20 Mitos Tidak benar Yang Disebarkan Kampanye Hitam Anti Imunisasi :†1. Imunisasi tidak aman.Tidak Benar. Saat ini 194 negara terus melakukan vaksinasi untuk bayi dan balita. Badan resmi yang meneliti dan mengawasi vaksin di negara tersebut umumnya terdiri atas para dokter ahli penyakit infeksi, imunologi, mikrobiologi, farmakologi, epidemiologi, dan biostatistika. Sampai saat ini tidak ada negara yang melarang vaksinasi, justru semua negara berusaha meningkatkan cakupan imunisasi lebih dari 90% .†2. Terdapat "ilmuwan" menyatakan bahwa imunisasi berbahaya.Tidak benar imunisasi berbahaya. "Ilmuwan" yang sering dikutip di buku, tabloid, milis ternyata bukan ahli vaksin, melainkan ahli statistik, psikolog, homeopati, bakteriologi, sarjana hukum, wartawan. sehingga mereka tidak mengerti betul tentang vaksin. Sebagian besar mereka bekerja pada era tahun 1950- 1960, sehingga sumber datanya juga sangat kuno.†3. "Ilmuwan kuno" yang sering dikutip informasi di media masa atau media elektronik lainnya adalah ahli vaksin.Tidak benar. Mereka semua bukan ahli vaksin. Contoh : Dr Bernard Greenberg (biostatistika tahun 1950), DR. Bernard Rimland (Psikolog), Dr. William Hay (kolumnis), Dr. Richard Moskowitz (homeopatik), dr. Harris Coulter, PhD (penulis buku homeopatik, kanker), Neil Z. Miller, (psikolog, jurnalis), WB Clark (awal tahun 1950), Bernice Eddy (Bakteriologis tahun 1954), Robert F. Kenedy Jr (sarjana hukum) Dr. WB Clarke (ahli kanker, 1950an), Dr. Bernard Greenberg (1957-1959), Dr. William Hay, penulis buku "Immunisation: The Reality behind the Myth"(penggagas food combioning). Neil Z. Miller sering disebut sebagai peneliti vaksin internasional ternyata adalah medical research journalist dan natural health advocate.†4. Dokter Wakefield adalah "ahli vaksin", membuktikan MMR menyebabkan autisme.Tidak benar. Wakefield juga bukan ahli vaksin, dia dokter spesialis bedah. Penelitian Wakefield tahun 1998 hanya dengan sample 18. Banyak penelitian lain oleh ahli vaksin di beberapa negara menyimpulkan MMR tidak terbukti mengakibatkan autis. Setelah diaudit oleh tim ahli penelitian, terbukti bahwa Wakefield memalsukan data, sehingga kesimpulannya salah. Hal ini telah diumumkan di majalah resmi kedokteran Inggris British Medical Journal Februari 2011.†5. Imunisasi sebabkan autisme.Tidak benar. Beberapa institusi atau badan dunia di bidang kesehatan yang independen dan sudah diakui kredibilitasnya juga melakukan kajian ilmiah dan penelitian tentang tidak adanya hubungan imunisasi dan autisme. Dari hasil kajian tersebut, dikeluarkan rekomendasi untuk tenaga profesional untuk tetap menggunakan imunisasi MMR dan thimerosal karena tidak terbukti mengakibatkan Autisme. The All Party Parliamentary Group on Primary Care and Public Health pada bulan Agustus 2000, menegaskan bahwa MMR aman.†Dengan memperhatikan hubungan yang tidak terbukti antara beberapa kondisi seperti inflammatory bowel disease (gangguan pencernaan) dan autisme adalah tidak berdasar. WHO (World Health Organisation), pada bulan Januari 2001 menyatakan mendukung sepenuhnya penggunaan imunisasi MMR dengan didasarkan kajian tentang keamanan dan efikasinya. Beberapa institusi dan organisasi kesehatan bergengsi di Inggris pada Januari 2001 setelah mengadakan pertemuan dengan pemerintahan Inggris mengeluarkan pernyataan bersama yaitu MMR adalah vaksin yang sangat efektif dengan laporan keamanan yang sangat baik.†The American Academy of Pediatrics (AAP), organisasi profesi dokter anak di Amerika Serikat pada tanggal 12 - 13 Juni 2000 mengadakan konferensi dengan topik "New Challenges in Childhood Immunizations" di Oak Brook, Illinois Amerika Serikat yang dihadiri para orang tua penderita autisme, pakar imunisasi kesehatan anak dan para peneliti. Pertemuan tersebut merekomendasikan bahwa tidak terdapat hubungan antara MMR dan autisme. Menyatakan bahwa pemberian imunisasi secara terpisah tidak lebih baik dibandingkan MMR, malahan terjadi keterlambatan imunisasi MMR. Selanjutnya akan dilakukan penelitian lebih jauh tentang penyebab autisme.†6. Thimerosal dalam kandungan autism sebagai penyebab autisme.†Tidak benar. Penelitian yang mengungkapkan bahwa thimerosal tidak mengakibatkan Autis dilakukan oleh berbagai penelitian di antaranya dilakukan oleh Kreesten M. Madsen dkk dari berbagai intitusi di Denmark. Mereka mengadakan penelitian bersama terhadap anak usia 2 hingga 10 tahun sejak tahun 1970 hingga tahun 2000. Mengamati 956 anak sejak tahun 1971 hingga 2.000 anak dengan autis. Sejak thimerosal digunakan hingga tahun 1990 tidak didapatkan kenaikkan penderita auitis secara bermakna. Kemudian sejak tahun 1991 hingga tahun 2000 bersamaan dengan tidak digunakannya thimerosal pada vaksin ternyata jumlah penderita autis malah meningkat drastis. Kesimpulan penelitian tersebut adalah tidak ada hubungan antara pemberian thimerosal dengan autis. Demikian juga Stehr-Green P dkk, Department of Epidemiology, School of Public Health and Community Medicine, University of Washington, Seattle, WA, bulan Agustus 2003 melaporkan antara tahun 1980 hingga 1990 membandingkan prevalensi dan insiden penderita autisme di California, Swedia, dan Denmark yang mendapatkan ekposur dengan imunisasi thimerosal. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa insiden pemberian thimerosal pada autisme tidak menunjukkan hubungan yang bermakna.†Geier DA dalam Jurnal Americans Physicians Surgery tahun 2003, menungkapkan bahwa thimerosal tidak terbukti mengakibatkan gangguan neurodevelopment (gangguan perkembangan karena persarafan) dan penyakit jantung. Melalui forum National Academic Press tahun 2001, Stratton K dkk melaporkan tentang keamanan thimerosal pada vaksin dan tidak berpengaruh terhadap gangguan gangguan neurodevelopment (gangguan perkembangan karena persarafan). Sedangkan Hviid A dkk dalam laporan di majalah JAMA 2004 mengungkapkan penelitian terhadap 2.986.654 anak per tahun didapatkan 440 kasus autis. Dilakukan pengamatan pada kelompok anak yang menerima thimerosal dan tidak menerima thimerosal. Ternyata tidak didapatkan perbedaan bermakna. Disimpulkan bahwa pemberian thimerosal tidak berhubungan dengan terjadinya autis.†Menurut penelitian Eto, menunjukkan manifestasi klinis autis sangat berbeda dengan keracunan merkuri. Sedangkan Aschner, dalam penelitiannya menyimpulkan tidak terdapat peningkatan kadar merkuri dalam rambut, urin dan darah anak Autis. Pichichero melakukan penelitian terhadap 40 bayi usia 2-6 bulan yang diberi vaksin yang mengandung thimerosal dan dibandingkan pada kelompok kontrol tanpa diberi thimerosal. Setelah itu dilakukan evaluasi kadar thimerosal dalam tinja dan darah bayi tersebut. Ternyata thimerosal tidak meningkatkan kadar merkuri dalam darah, karena etilmerkuri akan cepat dieliminasi dari darah melalui tinja. Selain itu masih banyak lagi peneliti melaporkan hasil yang sama, yaitu thimerosal tidak mengakibatkan autisme.†7. Semua vaksin terdapat zat-zat berbahaya yang dapat merusak otak ?Tidak benar. Isu itu karena "ilmuwan" tersebut di atas tidak mengerti isi vaksin, manfaat, dan batas keamanan zat-zat di dalam vaksin. Contoh: jumlah total etil merkuri yang masuk ke tubuh bayi melalui vaksin sekitar 2 mcg/kgbb/minggu, sedangkan batas aman menurut WHO adalah jauh lebih banyak (159 mcg/kgbb/minggu). Oleh karena itu vaksin mengandung merkuri dengan dosis yang sangat rendah dan dinyatakan aman oleh WHO dan badan-badan pengawasan lainnya.†8. Vaksin terbuat dari nanah, dibiakkan di janin anjing, babi, manusia yang sengaja digugurkan?Tidak benar. Isu itu bersumber dari "ilmuwan" 50 tahun lalu (tahun 1961-1962). Pengetahuan imunologi, biomolekuilar vaksin dan tknologi pembuatan vaksin berkembang sangat pesat. Sekarang tidak ada vaksin yang terbuat dari nanah atau dibiakkan embrio anjing, babi, atau manusia. Metode baru dan teknologi paling modern dari manipulasi biomolekuler telah diyakini teknologi vaksin baru sekarang memasuki "zaman keemasan." Perbaikan vaksin sangat mungkin dilakukan di masa depan untuk mendapatkan keamanan dan efektifitas vaksin lebih hebat lagi†9. Imunisasi tak masuk akal bermanfaat.Tidak benar. Pendapat yang menyesatkan yang tidak berdasarkan kajian ilmiah dan penelitian ilmiah dikeluarkan oleh Dr. William Hay seorang dokter yang bergerak di bidang food combining, dalam buku "Immunisation: The Reality behind the Myth""Tak masuk akal memikirkan bahwa Anda bisa menyuntikkan nanah ke dalam tubuh anak kecil dan dengan proses tertentu akan meningkatkan kesehatan. Tubuh punya cara pertahanan tersendiri yang tergantung pada vitalitas saat itu. Jika dalam kondisi fit, tubuh akan mampu melawan semua infeksi, dan jika kondisinya sedang menurun, tidak akan mampu. Dan Anda tidak dapat mengubah kebugaran tubuh menjadi lebih baik dengan memasukkan racun apapun juga ke dalamnya." Padahal sampai saat ini 194 negara di seluruh dunia yakin bahwa imunisasi aman dan bermanfaat mencegah wabah, sakit berat, cacat, dan kematian pada bayi dan balita. Terbukti 194 negara tersebut terus menerus melaksanakan program imunisasi, termasuk negara dengan sosial ekonomi tinggi dan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, dengan cakupan umumnya lebih dari 85 %. Ribuan penelitian tentang efikasi dan manfaat vaksi secara biomolekular dan secara statistik bermanfaat secara bermakna.†10. Vaksin mengandung lemak babi ?Tidak benar. Hanya sebagian kecil dari vaksin yang pernah bersinggungan dengan tripsin pada proses pengembangan maupun pembuatannya seperti vaksin polio injeksi (IPV) dan meningitis. Pada vaksin meningitis, pada proses penyemaian induk bibit vaksin tertentu 15 ? 20 tahun lalu, ketika panen bibit vaksin tersebut bersinggungan dengan tripsin pankreas babi untuk melepaskan induk vaksin dari persemaiannya. Tetapi kemudian induk bibit vaksin tersebut dicuci dan dibersihkan total, sehingga pada vaksin yang disuntikkan tidak mengandung tripsin babi. Atas dasar itu maka Majelis Ulama Indonesia berpendapat vaksin itu boleh dipakai, selama belum ada penggantinya. Contohnya vaksin meningokokus (meningitis) haji diwajibkan oleh Saudi Arabia bagi semua jemaah haji untuk mencegah radang otak karena meningokokus.†11. Vaksin yang dipakai di Indonesia buatan Amerika ?Tidak benar. Vaksin yang digunakan oleh program imunisasi di Indonesia adalah buatan PT Bio Farma Bandung, yang merupakan BUMN, dengan 98,6% karyawannya adalah Muslim. Proses penelitian dan pembuatannya mendapat pengawasan ketat dari ahli-ahli vaksin di BPOM dan WHO. Vaksin-vaksin tersebut juga diekspor ke 120 negara, termasuk 36 negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam, seperti Iran dan Mesir. Vaksin yang digunakan oleh program imunisasi di Indonesia adalah buatan PT Biofarma Bandung. Vaksin-vaksin tersebut dibeli dan dipakai oleh 120 negara, termasuk 36 negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam†12. Program imunisasi hanya di negara Muslim dan miskin agar menjadi bangsa yang lemah?Tidak benar. Imunisasi saat ini dilakukan di 194 negara, termasuk negara-negara maju dengan status sosial ekonomi tinggi, dan negara-negara non-Muslim. Kalau imunisasi bisa melemahkan bangsa, maka mereka juga akan lemah, karena mereka juga melakukan program imunisasi, bahkan lebih dulu dengan jenis vaksin lebih banyak. Kenyataanya : bangsa dengan cakupan imunisasi lebih tinggi justru lebih kuat. Jadi terbukti bahwa imunisasi justru memperkuat kekebalan terhadap penyakit infeksi, bukan melemahkan.†13. Di Amerika banyak kematian bayi akibat vaksin ?Tidak benar. Isu itu karena penulis tidak faham data Vaccine Adverse Event Reporting System (VAERS) FDA Amerika tahun 1991-1994, yang mencatat 38.787 laporan kejadian ikutan pasca imunisasi, oleh penulis angka tersebut ditafsirkan sebagai angka kematian bayi 1 - 3 bulan. Kalau memang benar angka kematian begitu tinggi tentu FDA AS akan heboh dan menghentikan vaksinasi. Faktanya Amerika tidak pernah meghentikan vaksinasi bahkan mempertahankan cakupan semua imunisasi di atas 90 %. Angka tersebut adalah semua keluhan nyeri, gatal, merah, bengkak di bekas suntikan, demam, pusing, muntah yang memang rutin harus dicatat kalau ada laporan masuk. Kalau ada 38.787 laporan dari 4,5 juta bayi berarti KIPI hanya 0,9 %.†14. Banyak bayi balita meninggal pada imunisasi masal campak di Indonesia ?Tidak benar. Setiap laporan kecurigaan adanya kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) selalu dikaji oleh Komnas/Komda KIPI yang terdiri dari pakar-pakar penyakit infeksi, imunisasi, imunologi. Setelah dianalisis dari keterangan keluarga, dokter yang merawat di rumah sakit, hasil pemeriksaan fisik, dan laboratorium, ternyata balita tersebut meninggal karena radang otak, bukan karena vaksin campak. Pada bulan itu ada beberapa balita yang tidak imunisasi campak juga menderita radang otak. Berarti kematian balita tersebut bukan karena imunisasi campak, tetapi karena radang otak.†15. Demam, bengkak, merah setelah imunisasi adalah bukti vaksin berbahaya?Tidak benar. Demam, merah, bengkak, gatal di bekas suntikan adalah reaksi wajar setelah vaksin masuk ke dalam tubuh. Seperti rasa pedas dan berkeringat setelah makan sambal adalah reaksi normal tubuh kita. Umumnya keluhan tersebut akan hilang dalam beberapa hari. Boleh diberi obat penurun panas, dikompres. Bila perlu bisa konsul ke petugas kesehatan terdekat.†16. Program imunisasi gagal?Tidak benar. Isu-isu tersebut bersumber dari data yang sangat kuno (50-150 tahun lalu) hanya dari 1 - 2 negara saja, sehingga hasilnya sangat berbeda dengan hasil penelitian terbaru, karena vaksinnya sangat berbeda. Isu vaksin cacar variola gagal, berdasarkan data yang sangat kuno, di Inggris tahun 1867 - 1880 dan Jepang tahun 1872-1892. Fakta terbaru sangat berbeda, bahwa dengan imunisasi cacar di seluruh dunia sejak tahun 1980 dunia bebas cacar variola. Isu vaksin difteri gagal, berdasarkan data di Jerman tahun 1939. Fakta sekarang: vaksin difteri dipakai di seluruh dunia dan mampu menurunkan kasus difteri hingga 95 %. Isu pertusis gagal hanya dari data di Kansas dan Nova Scottia tahun 1986. Isu vaksin campak berbahaya hanya berdasar penelitian 1989-1991 pada anak miskin berkulit hitam di Meksiko, Haiti dan Afrika.†17. Program imunisasi gagal, karena setelah diimunisasi bayi balita masih bisa tertular penyakit tersebut ?Tidak benar. Program imunisasi di seluruh dunia tidak pernah gagal. Perlindungan vaksin memang tidak 100%. Bayi dan balita yang telah diimunisasi masih bisa tertular penyakit, tetapi jauh lebih ringan dan tidak berbahaya. Banyak penelitian imunologi dan epidemiologi di berbagai membuktikan bahwa bayi balita yang tidak diimunisasi lengkap tidak mempunyai kekebalan spesifik terhadap penyakit-penyakit berbahaya. Mereka mudah tertular penyakit tersebut, akan menderita sakit berat, menularkan ke anak-anak lain, menyebar luas, terjadi wabah, menyebabkan banyak kematian dan cacat.†18. Vaksin berbahaya, tidak effektif, tidak dilakukan di negara maju ?Tidak benar. Karena di Indonesia ada orang-orang yang tidak mengerti tentang vaksin dan imunisasi, hanya mengutip dari "ilmuwan" tahun 1950 -1960 yang ternyata bukan ahli vaksin, atau berdasar data-data 30 - 40 tahun lalu (1970 - 1980an) atau hanya dari 1 sumber yang tidak kuat. Atau dia mengutip Wakefield spesialis bedah, bukan ahli vaksin, yang penelitiannya dibantah oleh banyak tim peneliti lain, dan oleh majalah resmi kedokteran Inggris British Medical Journal Februari 2011 penelitian Wakefield dinyatakan salah atau bohong. Ia hanya berdasar kepada 1 - 2 laporan kasus yang tidak diteliti lebih lanjut secara ilmiah, hanya berdasar logika biasa. Badan penelitian di berbagai negara membuktikan bahwa dengan meningkatkan cakupan imunisasi, maka penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi berkurang secara bermakna. Oleh karena itu, saat ini program imunisasi dilakukan terus menerus di 194 negara, termasuk negara dengan sosial ekonomi tinggi dan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam.†19. ASI, gizi, dan suplemen herbal sudah cukup menggantikan imunisasi .Tidak ada satupun badan penelitian di dunia yang menyatakan bisa, karena kekebalan yang dibentuk sangatlah berbeda. ASI, gizi, suplemen herbal, kebersihan, hanya memperkuat pertahanan tubuh secara umum, karena tidak membentuk kekebalan spesifik terhadap kuman tertentu. Kalau jumlah kuman banyak dan ganas, perlindungan umum tidak mampu melindungi bayi, sehingga masih bisa sakit berat, cacat atau bahkan mati. Imunisasi merangsang pembentukan antibodi dan kekebalan seluler yang spesifik terhadap kuman-kuman atau racun kuman tertentu, sehingga bekerja lebih cepat, efektif, dan efisien untuk mencegah penularan penyakit yang berbahaya. Selain diberi imunisasi, bayi harus diberi ASI eksklusif, makanan pendamping ASI dengan gizi lengkap dan seimbang, kebersihan badan, makanan, minuman, pakaian, mainan, dan lingkungan. Suplemen diberikan sesuai kebutuhan individual yang bervariasi. Selain itu bayi harus diberikan kasih sayang dan stimulasi bermain untuk mengembangkan kecerdasan, kreatifitas dan perilaku yang baik.†20. Imunisasi dan Konspirasi Zionisme di dalamnya.Tidak benar. Jika dirunut sejarah vaksin modern yang dilakukan oleh Flexner Brothers, dapat ditemukan bahwa kegiatan mereka dalam penelitian tentang vaksinasi pada manusia didanai oleh Keluarga Rockefeller. Di dunia internasional banyak yayasan sosial yang mendanai penelitian ilmiah tentang vaksin dan masalah kesehatan masyarakat lainnya. Memang Rockefeller sendiri adalah salah satu keluarga Yahudi yang paling berpengaruh di dunia tetapi sebenarnya mereka adalah pendiri WHO dan lembaga strategis lainnya (The UN's WHO was established by the Rockefeller family's foundation in 1948 - the year after the same Rockefeller cohort established the CIA. Two years later the Rockefeller Foundation established the U.S. Government's National Science Foundation, the National Institute of Health (NIH), and earlier, the nation's Public Health Service (PHS). Yayasan Rockefeller yang berdiri sejak tahun 1913 dan kredibilitasnya telah diakui dunia kesehatan Internasional yang berupaya meningkatkan kesehatan global dengan bekerja untuk mengubah sistem kesehatan sehingga lebih mudah diakses dan terjangkau masyarakat tidak mampu. Yayasan kesehatan dunia ini juga menghubungkan jaringan surveilans penyakit global untuk membantu mereka yang berjuang meminimalkan penyebaran penyakit menular yang dapat menyebabkan pandemi. Yayasan ini juga meningkatkan monitoring, deteksi dan respon terhadap penyakit menular seperti Ebola, SARS, dan flu burung untuk mencegah pandemi. Memperluas penggunaan teknologi untuk meningkatkan perawatan kesehatan. Melibatkan sektor swasta untuk bekerja dengan sektor publik dalam mengembangkan praktik dan kebijakan untuk menyediakan dan mendanai pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin.†Sikap orang tua dalam menghadapi kampanye hitam†* Bila mendengar dan mengetahui kontroversi tersebut, maka pasti akan membingungkan masyarakat awam. Hal ini terjadi karena yang memberikan informasi yang tidak benar tersebut adalah para ahli kedokteran tetapi yang tidak berkompeten sesuai keahliannya. Untuk menyikapinya kita harus cermat dan teliti dan berpikiran lebih jernih. Kalau mengamati beberapa penelitian yang mendukung adanya berbagai kejadian berhubungan dengan imunisasi, mungkin benar sebagai pemicu atau sebagai co-accident atau kebetulan.†* Penelitian yang menunjukkan hubungan keterkaitan imunisasi dan berbagai hal yang tidak benar hanya dilihat dalam satu kelompok kecil (populasi). Secara statistik hal ini hanya menunjukkan hubungan, tidak menunjukkan sebab akibat. Kita juga tidak boleh langsung terpengaruh pada laporan satu atau beberapa kasus, misalnya bila orang tua anak autism berpendapat bahwa anaknya timbul gejala autism setelah imunisasi. Kesimpulan tersebut tidak bisa digeneralisasikan terhadap anak sehat secara umum (populasi lebih luas). Kalau itu terjadi bisa saja kita juga terpengaruh oleh beberapa makanan yang harus dihindari oleh penderita autism juga juga akan dihindari oleh anak sehat lainnya. Jadi logika tersebut harus dicermati dan dimengerti.†* Menanggapi tantangan tersebut, Prof Sri Rezeki Hadinegoro, Ketua Pelaksana Konferensi Vaksin Se-Asia 3 mengatakan, pemerintah bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melakukan pendekatan kepada ulama dan masyarakat untuk memberikan pemahaman yang benar. "Kami tidak melawan pemahaman kelompok antivaksin, tetapi jangan memutarbalikkan fakta pada masyarakat," kata Sri dalam acara jumpa pers pelaksanaan Konferensi Vaksinasi Asia Ke-3 di Jakarta, Kamis (28/7/2011).†* Ketua Bidang Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama menambahkan, masyarakat seharusnya tidak perlu mengkhawatirkan keamanan dan kehalalan vaksin yang beredar. "Pemerintah menjamin semua vaksin yang beredar sesuai kaidah-kaidah yang berlaku. Pada kasus kontroversi vaksin meningitis untuk jemaah haji, kami mengikuti saran MUI," katanya.†* Persoalan black campaign dari vaksin ternyata juga ditemui di negara-negara lain, misalnya di Filipina. Menurut Enrique Tayag, President of Philliphine Foundation for Vaccination, kelompok antivaksin juga menjadi tantangan. "Bagaimanapun masyarakat harus diingatkan manfaat vaksin untuk kesehatan anak jauh lebih besar daripada efek samping yang ditakutkan," katanya dalam kesempatan yang sama. Hambatan lain adalah munculnya kelompok-kelompok antivaksinasi yang menyebabkan kampanye hitam dengan membawa faktor agama dan budaya. Biasanya kelompok tertentu yang menyebarkan kampanye hitam imunisasi demi kepentingan pribadi khususnya dalam kepentingan bisnis terselubung yang mereka lakukan. Sebagian kelompok ini adalah yang dilakukan oleh oknum pelaku naturopathy, homeopathy, food combining, atau bisnis terapi herbal. Sebagian dari kelompok ini juga dilakukan oleh dokter bahkan beberapa profesor. Tetapi semuanya bukan berasal dari ahli medis, dokter atau profesior yang berkompeten di bidangnya seperti ahli kesehatan anak, ahli vaksin, ahli imunologi. Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak juga dokter atau profesor yang bergerak di bidang bisnis terapi alternatif atau non medis. Meski sebenarnya ilmu dan aliran terapi alternatif tersebut pada umumnya sangat baik, tetapi sayangnya sebagian kecil di antara mereka demi keberhasilan bisnis mereka mengorbankan kepentingan anak di dunia dengan menyebarkan informasi tidak benar dan menyesatkan.†††Benarkah imunisasi lumpuhkan generasi?Dr Piprim B Yanuarso SpA (K)Konsultan Kardiologi Anak Bagian Anak FKUI/RSCM JakartaPengurus PP IDAI, JakartaPencinta anak-anak dan ibunya anak-anak.††Pendahuluan†Akhir-akhir ini kita sering mendengar atau melihat seminar dengan judul yang membuat mata seorang dokter terbelalak. "Imunisasi lumpuhkan generasi" atau "Wahai para orangtua bekali dirimu dengan pengetahuan tentang bahaya imunisasi". Sebagai seorang dokter saya lalu merenung, bila benar apa yang mereka serukan itu, betapa besar dosa saya sebagai dokter anak yang sering mengimunisasi bayi dan anak yang datang ke tempat praktek. Betapa jahatnya saya sebagai manusia karena telah mengimunisasi begitu banyak bayi dan anak selama ini, bahkan sejak saya masih sebagai dokter umum di puskesmas dahulu. Lalu saya merenung dan mencoba meneliti kembali permasalahan ini. Siapa sebenarnya yang salah dan siapa yang benar? Dalam kontroversi yang memuat perbedaan 180 derajat ini, tidak mungkin kedua-duanya salah atau benar. Pasti salah satu benar dan yang lain salah. Dan saya khawatir bila selama ini sayalah yang bersalah itu. Saya sungguh khawatir jangan-jangan saya telah melumpuhkan begitu banyak generasi muda. Jangan-jangan saya telah melakukan dosa kemanusiaan yang sangat besar. Galau habis-habisan.Rasa galau itu membuat saya membuka-buka literatur dan data yang ada tentang permasalahan imunisasi. Saya mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi dengan seruan yang menentang keras imunisasi. Suatu pernyataan yang sangat bertolak belakang dengan yang selama ini saya pelajari bahwa imunisasi itu suatu tindakan preventif yang amat bermanfaat buat kemanusiaan. Di lain pihak kegalauan saya juga semakin menjadi bila mengingat andai seruan tersebut kemudian menyebar ke masyarakat luas lalu apa yang akan terjadi dengan bayi-bayi mungil tak berdosa itu di kemudian hari? Mungkinkah penyakit-penyakit berat yang dapat dicegah dengan imunisasi akan bangkit kembali dari kuburnya gara-gara seruan itu? Masalah ini justru menimbulkan kegalauan lebih dalam bagi saya.†Apakah sebenarnya imunisasi itu?†Sebelum melangkah lebih jauh mari kita bahas sekilas apakah yang dimaksud dengan imunisasi. Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang terhadap suatu penyakit, sehingga bila kelak terpajan pada penyakit tersebut ia tidak menjadi sakit. Kekebalan yang diperoleh dari imunisasi dapat berupa kekebalan pasif maupun aktif. Imunisasi yang diberikan untuk memperoleh kekebalan pasif disebut imunisasi pasif, dengan cara memberikan antibodi atau faktor kekebalan kepada seseorang yang membutuhkan. Contohnya adalah pemberian imunoglobulin spesifik untuk penyakit tertentu, misalnya imunoglobulin antitetanus untuk penyakit tetanus. Contoh lain adalah kekebalan pasif alamiah antibodi yang diperoleh janin dari ibu. Kekebalan jenis ini tidak berlangsung lama karena akan dimetabolisme oleh tubuh. Kekebalan aktif dibuat oleh tubuh sendiri akibat terpajan pada antigen secara alamiah atau melalui imunisasi. Imunisasi yang diberikan untuk memperoleh kekebalan aktif disebut imunisasi aktif dengan memberikan zat bioaktif yang disebut vaksin, dan tindakan itu disebut vaksinasi. Kekebalan yang diperoleh dari vaksinasi berlangsung lebih lama dari kekebalan pasif karena adanya memori imunologis, walaupun tidak sebaik kekebalan aktif yang terjadi karena infeksi alamiah. Untuk memperoleh kekebalan aktif dan memori imunologis yang efektif maka vaksinasi harus mengikuti cara pemakaian dan jadwal yang telah ditentukan melalui bukti uji klinis yang telah dilakukan. Tujuan imunisasi adalah untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu pada seseorang dan menghilangkan penyakit tersebut pada sekelompok masyarakat (populasi), atau bahkan menghilangkannya dari dunia seperti kita lihat pada keberhasilan imunisasi cacar variola. Keadaan terakhir ini lebih mungkin terjadi pada jenis penyakit yang hanya dapat ditularkan melalui manusia, seperti penyakit difteri dan poliomielitis. Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) merupakan penyakit berbahaya yang dapat menyebabkan kematian dan kecacatan seumur hidup dan akan menjadi beban bagi masyarakat di kemudian hari. Sampai saat ini terdapat 19 jenis vaksin untuk melindungi 23 PD3I di seluruh dunia dan masih banyak lagi vaksin yang sedang dalam penelitian.†Adakah bukti bahwa imunisasi bermanfaat ?†Pertanyaan selanjutnya yang perlu dijawab adalah adakah manfaat imunisasi? Ataukah imunisasi hanya bikin mudhorot (keburukan) buat kemanusiaan? Untuk menjawab pertanyaan ini saya kemudian menelaah berbagai data status kesehatan masyarakat sebelum dan sesudah ditemukannya imunisasi di berbagai negara. Namun saya ingin menampilkan data dari negara maju seperti Amerika Serikat, karena kelompok antiimunisasi selalu menuduh bahwa imunisasi adalah sebuah proyek konspirasi dari negara ini untuk melumpuhkan generasi muda di seluruh dunia.Sebelum adanya vaksin polio, terdapat 13.000 - 20.000 (16.316) kasus lumpuh layuh akut akibat polio dilaporkan setiap tahun di AS meninggalkan ribuan korban penderita cacat karena polio yang mesti menggunakan tongkat penyangga atau kursi roda. Saat ini AS dinyatakan bebas kasus polio. Angka penurunan mencapai 100%.Sebelum adanya imunisasi campak, 503.282 kasus campak terjadi setiap tahun dan 20% di antaranya dirawat dengan jumlah kematian mencapai 450 orang pertahun akibat pneumonia campak. Setelah ada imunisasi campak kasus menurun hingga 55 kasus pertahun pada tahun 2006. Angka penurunan 99.9%.Sebelum ditemukan imunisasi difteri terjadi 175.885 kasus difteri per tahun dengan angka kematian mencapai 15.520 kasus. Setelah imunisasi ditemukan tahun 2001 jumlahnya menurun menjadi 2 kasus dan tahun 2006 tidak ada lagi laporan kasus difteri. Angka penurunan mencapai 100%Sebelum tahun 1940an terdapat 150.000-260.000 kasus pertussis setiap tahun dengan angka kematian mencapai 9000 kasus setahun. Setelah imunisasi pertussis ditemukan angka kematian menurun menjadi 30 kasus setahun. Namun dengan seruan antiimunisasi yang marak di AS terjadi lagi peningkatan kasus secara signifikan di beberapa negara bagian. Pada 8 negara bagian terjadi peningkatan kasus 10-100 kali lipat pada saat cakupan imunisasi pertussis menurun drastis.Sebelum vaksin HiB ditemukan, HiB nerupakan penyebab tersering meningitis bakteri (radang selaput otak) di AS, dengan 20.000 kasus per tahun. Meningitis HiB menyebabkan kematian 600 anak pertahun dan meninggalkan kecacatan berupa tuli, kejang, dan retardasi mental pada anak yang selamat. Pada tahun 2006 kasus meningitis HIB menurun menjadi 29 kasus. Angka penurunan 99.9%.Hampir 90% bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi Rubella saat hamil trimester pertama akan mengalami sindrom Rubella kongenital, berupa penyakit jantung bawaan, katarak kongenital, dan ketulian. Pada tahun 1964 sekitar 20.000 bayi lahir dengan sindrom Rubella kongenital ini, mengakibatkan 2100 kematian neonatal dan 11.250 abortus. Setelah adanya imunisasi hanya dilaporkan 6 kasus sindrom Rubella kongenital pada tahun 2000. Kasus Rubella secara umum menurun dari 47.745 kasus menjadi hanya 11 kasus pertahun pada tahun 2006. Angka penurunan 99.9%.Hampir 2 milyar orang telah terinfeksi hepatitis B suatu saat dalam hidupnya. Sejuta di antaranya meninggal setiap tahun karena penyakit sirosis hati dan kanker hati. Sekitar 25% anak-anak yang terinfeksi hepatitis B dapat diperkirakan akan meninggal karena penyakit hati pada saat dewasa. Terjadi penurunan jumlah kasus baru dari 450.000 kasus pada tahun 1980 menjadi sekitar 80.000 kasus pada tahun 1999. Penurunan terbanyak terjadi pada anak dan remaja yang mendapat imunisasi rutin.Di seluruh dunia penyakit tetanus menyebabkan kematian pada 300.000 neonatus dan 30.000 ibu melahirkan setiap tahunnya dan mereka tidak diimunisasi adekuat. Tetanus sangat infeksius namun tidak menular, sehingga tidak seperti PD3I yang lain, imunisasi pada anggota suatu komunitas tidak dapat melindungi orang lain yang tidak diimunisasi. Karena bakteri tetanus terdapat banyak di lingkungan kita, maka tetanus hanya bisa dicegah dengan imunisasi. Bila program imunisasi tetanus distop, maka semua orang dari berbagai usia akan rentan menderita penyakit ini.Sekitar 212.000 kasus mumps (gondongan) terjadi di AS pada tahun 1964. Setelah ditemukannya vaksin mumps pada tahun 1967 insidens penyakit ini menurun menjadi hanya 266 kasus pada tahun 2001. Namun pada tahun 2006 terjadi KLB di kalangan mahasiswa, sebagian besar di antara mereka menerima 2 kali vaksinasi. Terjadi lebih dari 5500 kasus pada 15 negara bagian. Mumps merupakan penyakit yang sangat menular dan hanya butuh beberapa orang saja yang tidak diimunisasi untuk memulai transmisi penyakit sebelum menyebar luas.†Sebelum vaksin pneumokokus ditemukan, pneumokokus menyebabkan 63.000 kasus invassive pneumococcal disease (IPD) dengan 6100 kematian di AS setiap tahun. Banyak anak yang menderita gejala sisa berupa ketulian dan kejang-kejang.†Dari data di atas para ahli menyimpulkan bahwa imunisasi adalah salah satu di antara program kesehatan masyarakat yang paling sukses dan cost-effective . Program imunisasi telah menyebabkan eradikasi penyakit cacar (variola, smallpox), eliminasi campak dan poliomielitis di berbagai belahan dunia. dan penurunan signifikan pada morbiditas dan mortalitas akibat penyakit difteri, tetanus, dan pertussis. Badan kesehatan dunia (WHO) pada tahun 2003 memperkirakan 2 juta kematian anak dapat dicegah dengan imunisasi. Katz (1999) bahkan menyatakan bahwa imunisasi adalah sumbangan ilmu pengetahuan yang terbaik yang pernah diberikan para ilmuwan di dunia ini.††Miskonsepsi tentang imunisasi†Meskipun imunisasi telah terbukti banyak manfaatnya dalam mencegah wabah dan PD3I di berbagai belahan dunia, namun masih terdapat sebagian orang yang memiliki miskonsepsi terhadap imunisasi. Secara umum berikut ini adalah beberapa miskonsepsi yang sering terjadi di masyarakt:†A. Penyakit-penyakit tersebut (PD3I) sebenarnya sudah mulai menghilang sebelum vaksin ditemukan karena meningkatnya higiene dan sanitasi.Pernyataan sejenis ini dan variasinya sangat banyak dijumpai pada literatur antivaksin. Namun bila melihat insidens aktual PD3I sebelum dan sesudah ditemukannya vaksin kita tidak lagi meragukan manfaat vaksinasi. Sebagai contoh kita lihat kasus meningitis HiB di Canada. Higiene dan sanitasi sudah dalam keadaan baik sejak tahun 1990, namun kejadian meningitis HiB sebelum program imunisasi dilaksanakan mencapai 2000 kasus per tahun dan setelah imunisasi rutin dijalankan menurun menjadi 52 kasus saja dan mayoritas terjadi pada bayi dan anak yang tidak diimunisasi. Contoh lain adalah pada 3 negara maju (Inggris, Swedia, dan Jepang) yang menghentikan program imunisasi pertussis karena ketakutan terhadap efek samping vaksin pertussis. Di Inggris tahun 1974 cakupan imunisasi menurun drastis dan diikuti dengan terjadinya wabah pertussis pada tahun 1978, ada 100.000 kasus pertussis dengan 36 kematian. Di Jepang pada kurun waktu yang sama cakupan imunisasi pertussis menurun dari 70% menjadi 20-40% hal ini menyebabkan lonjakan kasus pertussis dari 393 kasus dengan 0 kematian menjadi 13.000 kasus dengan 41 kematian karena pertussis pada tahun 1979. Di Swedia pun sama, dari 700 kasus pada tahun 1981 meningkat menjadi 3200 kasus pada tahun 1985. Pengalaman tersebut jelas membuktikan bahwa tanpa imunisasi bukan saja penyakit tidak akan menghilang namun juga akan hadir kembali saat program imunisasi dihentikan.†B. Mayoritas anak yang terkena penyakit justru yang sudah diimunisasi.Pernyataan ini juga sering dijumpai pada literatur antivaksin. Memang dalam suatu kejadian luar biasa (KLB) jumlah anak yang sakit dan pernah diimunisasi lebih banyak daripada anak yang sakit dan belum diimunisasi. Penjelasan masalah tersebut sebagai berikut: pertama tidak ada vaksin yang 100% efektif. Efektivitas sebagian besar vaksin pada anak adalah sebesar 85-95%, tergantung respons individu. Kedua: proporsi anak yang diimunisasi lebih banyak daripada anak yang tidak diimunisasi di negara yang menjalankan program imunisasi. Bagaimana kedua faktor tersebut berinteraksi diilustrasikan dalam contoh berikut. Suatu sekolah mempunyai 1000 murid. Semua murid pernah diimunisasi campak 2 kali kecuali 25 yang tidak pernah sama sekali. Ketika semua murid terpapar campak, 25 murid yang belum diimunisasi semuanya menderita campak. Dari kelompok yang telah diimunisasi campak 2 kali, sakit 50 orang. Jumlah seluruh yang sakit 75 orang dan yang tidak sakit 925 orang. Kelompok antiimunisasi akan mengatakan bahwa persentase murid yang sakit adalah 67 % (50/75) dari kelompok yang pernah imunisasi, dan 33% (25/75) dari kelompok yang tidak diimunisasi. Padahal bila dihitung dari efek proteksi, maka imunisasi memberikan efek proteksi sebesar (975-25)/975 = 94.8%. Yang tidak diimunisasi efek proteksi sebesar 0/25= 0%. Dengan kata lain, 100% murid yang tidak mendapat imunisasi akan sakit campak; dibanding hanya 5,2% dari kelompok yang diimunisasi yang terkena campak. Jelas bahwa imunisasi berguna untuk melindungi anak.†C. Vaksin menimbulkan efek samping yang berbahaya, kesakitan, dan bahkan kematianVaksin merupakan produk yang sangat aman. Hampir semua efek simpang vaksin bersifat ringan dan sementara, seperti nyeri pada bekas suntikan atau demam ringan. Kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) secara definitif mencakup semua kejadian sakit pasca imunisasi. Prevalensi dan jenis sakit yang tercantum dalam KIPI hampir sama dengan prevalensi dan jenis sakit dalam keadaan sehari-hari tanpa adanya program imunisasi. Hanya sebagian kecil yang memang berkaitan dengan vaksin atau imunisasinya, sebagian besar bersifat koinsidens. Kematian yang disebabkan oleh vaksin sangat sedikit. Sebagai ilustrasi semua kematian yang dilaporkan di Amerika sebagai KIPI pada tahun 1990-1992, hanya 1 yang mungkin berhubungan dengan vaksin. Institut of Medicine (IOM) tahun 1994 menyatakan bahwa risiko kematian akibat vaksin adalah amat rendah (extra-ordinarily low). Besarnya risiko harus dibandingkan dengan besarnya manfaat vaksin. Bila satu efek simpang berat terjadi dalam sejuta dosis vaksin namun tidak ada manfaat vaksin, maka vaksin tersebut tidak berguna. Manfaat imunisasi akan lebih jelas bila risiko penyakit dibandingkan dengan risiko vaksin.†Contoh vaksin MMR (melindungi campak, mumps (gondongan) dan rubella (campak jerman)pneumonia campak : risiko kematian 1:3000 risiko alergi berat MMR 1:1000.000Ensefalitis mumps : 1 : 300 pasien mumps, risiko ensefalitis MMR 1:1000.000Sindrom rubella kongenital : 1 : 4 bayi dari ibu hamil kena rubella†Contoh vaksin DPaT (melindungi difteri, pertussis, dan tetanus)Difteri : risiko kematian 1 : 20, risiko menangis lama sementara 1 : 100Tetanus : risiko kematian 1 : 30, risiko kejang sembuh sempurna 1 : 1750Pertussis : risiko ensefalitis pertussis 1 : 20, risiko ensefalitis DPaT 1 : 1000.000††D. Penyakit penyakit tersebut (PD3I) telah tidak ada di negara kita sehingga anak tidak perlu diimunisasiAngka kejadian beberapa penyakit yang termasuk PD3I memang telah menurun drastis. Namun kejadian penyakit tersebut masih cukup tinggi di negara lain. Siapa pun termasuk wisatawan dapat membawa penyakit tersebut secara tidak sengaja dan dapat menimbulkan wabah. Hal tersebut serupa dengan KLB polio di Indonesia pada tahun 2005 lalu. Sejak tahun 1995 tidak ada kasus polio yang disebabkan oleh virus polio liar. Pada bulan April 2005, Laboratorium Bioofarma di Bandung mengkonfirmasi adanya virus polio liar tipe 1 pada anak berusia 18 bulan yang menderita lumpuh layuh akut pada bulan Maret 2005. Anak tersebut tidak pernah diimunisasi sebelumnya. Virus polio itu selanjutnya menyebabkan wabah merebak ke 10 propinsi, 48 kabupaten. Sampai bulan April 2006 tercatat 349 kasus polio, termasuk 46 kasus VDVP (vaccine derived polio virus) di Madura. Dari analisis genetik virus diketahui bahwa virus berasal dari Afrika barat. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa virus sampai ke Indonesia melalui Nigeria dan Sudan sama seperti virus yang diisolasi di Arab Saudi dan Yaman. Dari pengalaman tersebut terbukti bahwa anak tetap harus mendapat imunisasi karena dua alasan. Alasan pertama adalah anak harus dilindungi. Meskipun risiko terkena penyakit adalah kecil, bila penyakit masih ada, anak yang tidak terproteksi tetap berpeluang terinfeksi. Alasan kedua imunisasi anak penting untuk melindungi anak lain di sekitarnya. Terdapat sejumlah anak yang tak dapat diimunisasi (misalnya karena alergi berat terhadap komponen vaksin) dan sebagian kecil anak yang tidak memberi respons terhadap imunisasi. Anak-anak tersebut rentan terhadap penyakit dan perlindungan yang diharapkan adalah dari orang-orang di sekitarnya yang tidak sakit dan tidak menularkan penyakit kepadanya.†E. Pemberian vaksin kombinasi (multipel) meningkatkan risiko efek simpang yang berbahaya dan dapat membebani sistem imunAnak-anak terpapar pada banyak antigen setiap hari. Makanan dapat membawa bakteri yang baru ke dalam tubuh. Sistem imun juga akan terpapar oleh sejumlah bakteri hidup di mulut dan hidung. Infeksi saluran pernapasan bagian atas akan menambah paparan 4-10 antigen, sedangkan infeksi streptokokus pada tenggorokan memberi paparan 25-50 antigen. Tahun 1994 IOM menyatakan bahwa dalam keadaan normal penambahan jumlah antigen dalam vaksin tidak mungkin akan memberikan beban tambahan pada sistem imun dan tidak bersifat imunosupresif. Data penelitian menunjukkan bahwa imunisasi simultan dengan vaksin multipel tidak membebani sistem imun anak normal. Pada tahun 1999 Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP), American Academy of Pediatrics (AAP), dan American Academy of Family Physicians (AAFP) merekomendasi pemberian vaksin kombinasi untuk imunisasi anak. Keuntungan vaksin kombinasi adalah mengurangi jumlah suntikan, mengurangi biaya penyimpanan dan pemberian vaksin, mengurangi jumlah kunjungan ke dokter, dan memfasilitasi penambahan vaksin baru ke dalam program imunisasi.†F. Vaksin MMR menyebabkan autismeBeberapa orangtua anak dengan autisme percaya bahwa terdapat hubungan sebab akibat antara vaksin MMR dengan autisme. Gejala khas autisme biasanya diamati oleh orangtua saat anak mulai tampak gejala keterlambatan bicara setelah usia lewat satu tahun. Vaksin MMR diberikan pada usia 15 bulan (di luar negeri 12 bulan). Pada usia sekitar inilah biasanya gejala autisme menjadi lebih nyata. Meski pun ada juga kejadian autisme mengikuti imunisasi MMR pada beberapa kasus. Akan tetapi penjelasan yang paling logis dari kasus ini adalah koinsidens. Kejadian yang bersamaan waktu terjadinya namun tidak terdapat hubungan sebab akibat. Kejadian autisme meningkat sejak 1979 yang disebabkan karena meningkatnya kepedulian dan kemampuan kita mendiagnosis penyakit ini, namun tidak ada lonjakan secara tidak proporsional sejak dikenalkannya vaksin MMR pada tahun1988.Pada tahun 2000 AAP membuat pernyataan : "Meski kemungkinan hubungan antara vaksin MMR dengan autisme mendapat perhatian luas dari masyarakat dan secara politis, serta banyak yang meyakini adanya hubungan tersebut berdasarkan pengalaman pribadinya, namun bukti-bukti ilmiah yang ada tidak menyokong hipotesis bahwa vaksin MMR menyebabkan autisme dan kelainan yang berhubungan dengannya. Pemberian vaksin measles, mumps, dan rubella secara terpisah pada anak terbukti tidak lebih baik daripada pemberian gabungan menjadi vaksin MMR, bahkan akan menyebabkan keterlambatan atau luput tidak terimunisasi. Dokter anak mesti bekerjasama dengan para orangtua untuk memastikan bahwa anak mereka terlindungi saat usianya mencapai 2 tahun dari PD3I. Upaya ilmiah mesti terus dilakukan untuk mengetahui penyebab pasti dari autisme. Lembaga lain yaitu CDC dan NIH juga membuat pernyataan yang mendukung AAP. Pada tahun 2004 IOM menganalisis semua penelitian yang melaporkan adanya hubungan antara vaksin MMR dengan autisme. Hasilnya adalah tidak satu pun penelitian itu yang tidak cacat secara metodologis. Kesimpulan IOM saat itu adalah tidak terbukti ada hubungan antara vaksin MMR dengan autisme.†Penutup†Setelah mengkaji berbagai literatur sebagaimana disebutkan di atas, maka secara berangsur kegalauan saya menghilang. Saya semakin yakin akan kebenaran teori ilmiah berbasis bukti yang sudah ditemukan para ahli. Bahkan beberapa waktu lalu ada sejawat saya Dr Julian Sunan, seorang dokter yang masih muda dan amat ganteng (menurut pengakuannya sendiri) telah menelaah bahwa ternyata tokoh-tokoh antivaksin yang sering dikutip kelompok antivaksin di Indonesia ternyata banyak yang fiktif. Mereka melakukan pemelintiran data dan pemutarbalikan fakta. Tak heran kalau yang sangat aman dianggap sangat berbahaya dan penyakit sangat berbahaya nan mematikan dianggap tidak apa apa dan mungkin malah diajak bersahabat karib oleh kelompok antiimunisasi. Terimakasih.††Bahan bacaan :†Ranuh IGNG, Suyitno H, Hadinegoro SRS, Kartasasmita CB, Ismoedijanto, Soedjatmiko. Buku Pedoman Imunisasi di Indonesia, edisi ke-4. Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia, Jakarta 2011.Center for Disease Control†http://www.cdc.gov
   


13-03-2009 09:00:03 bagaimana agar anak mau makan
Jumlah Posts : 26
Jumlah di-Like : 3

JURUS MENGATASI ANAK SULIT MAKAN

Hampir pasti, setiap orangtua selalu berupaya memberi makanan yang terbaik untuk putra putrinya, apalagi yang masih balita (bawah lima tahun). Bukankah makanan yang baik, kualitas maupun kuantitasnya, sangat dibutuhkan oleh balita untuk tumbuh kembang secara optimal?
Hanya saja kadangkala si anak sulit sekali melahap makanan yang disediakan untuknya. Orangtuapun ‘pusing’ dibuatnya.
Walau begitu, bukan berarti tak ada jalan keluar. Memang butuh kesabaran. Namun jika Anda punya kemauan kuat untuk mengatasi masalah ini, panduan dari ahli gizi Tuti Soenardi berikut ini mudah-mudahan bisa membantu.Mengapa anak menjadi sulit makan?
Seperti dijelaskan Tuti dalam seminar Mengatasi Masalah Makan pada Bayi dan Balita di Bentara Budaya, Jakarta, Ahad (25/3) lalu, kondisi sulit makan ternyata bukan semata-mata ‘kesalahan’ anak. Bahkan kerap kali, justru orangtualah yang membuat anaknya menjadi seperti itu.
Misalnya saja, orangtua tidak memperkenalkan aneka jenis bahan makanan pada si kecil sejak dini. Menurut Tuti, sejak usia satu tahun si kecil mestinya sudah diperkenalkan pada makanan keluarga yaitu makanan yang disiapkan untuk dikonsumsi seluruh anggota keluarga.

”Tapi tentunya, cara pengolahan untuk makanan si kecil perlu diperhatikan yakni tidak berbumbu tajam dan pedas, juga jenis makanannya harus lunak karena pencernaan balita belum sempurna.”
Menurut Tuti, jika pengenalan aneka jenis bahan makanan dilakukan sejak dini, maka saat si anak menginjak usia lebih besar, ia akan lebih mudah menerima variasi makanan keluarga. Tapi jika yang terjadi sebaliknya, maka bukan hal aneh jika si buah hati menjelma menjadi anak yang susah makan. ”Ia akan menolak karena bosan makan makanan yang itu-itu saja,” tutur wanita yang wajahnya kerap nongol di layar kaca membawakan acara bertema gizi ini.

Pemberian porsi susu yang berlebihan, menurut Tuti, juga bisa membuat anak susah makan. Mengapa? Sebab, ia sudah kenyang oleh susu.
Selain itu, makanan selingan yang berlebihan juga bisa menjadi penyebab anak sulit makan. Apalagi kalau selingan itu berujud makanan yang rasanya terlalu manis atau asin hingga si anak terangsang untuk terus-terusan minum. Akibatnya, si anak akan merasa kenyang sebelum mengkonsumsi makanan pokoknya.

Di luar itu semua, susah makan bisa juga disebabkan oleh adanya kelainan dalam organ tubuh, atau ada penyakit tertentu. ”Karena itu, ada baiknya dicheck ke dokter mengapa anak susah makan.”

Cara mengatasi
Mengetahui penyebab tanpa tahu cara mengatasinya tentu tidak afdol bukan? Karena itu, Tuti memberikan beberapa tips yang bisa dijadikan panduan oleh para orangtua untuk mengatasi perilaku sulit makan si anak. Tips itu adalah:

* Hadirkan suasana makan yang nyaman sehingga napsu makan anak bertambah. Penting juga, anak diberi pengertian tentang arti makanannya karena anak sudah bisa berimajinasi tentang apa yang dikatakan orangtua atau pengasuhnya.

* Jangan ragu untuk ‘menyertakan’ hal-hal yang disenangi sang anak. Misalnya, jika si anak suka musik atau nonton TV, maka tak ada salahnya si anak menikmati makanannya sembari mendengarkan musik atau nonton TV. ”Kalau perlu, hadirkan anak seusia anak Anda untuk menemaninya makan. Biasanya, jika si teman makan dengan lahap, anak Anda pun akan mengikuti apa yang dilakukan temannya.”

* Usahakan agar orangtua dan anak bisa makan bersama semeja makan. Dengan cara ini, si anak akan melihat lalu mengikuti apa yang dilakukan orangtuanya di meja makan. Dan bagi orangtua, hal ini juga bisa dijadikan kesempatan untuk mengajarkan cara makan yang baik.

* Perhatikan pemberian susu dan makanan selingan. Untuk balita, pemberian susu cukup dua gelas sehari. Begitu pun makanan selingan, jangan berlebihan.

* Khusus untuk ibu bekerja, disarankan untuk selalu mempersiapkan dan mengawasi apa yang diberikan untuk si balita, termasuk jenis bahan dan jumlahnya. Tulis pula urutan makanan yang mesti diberikan pada si kecil di tempat yang ’strategis’ dan gampang diingat oleh pengasuh, misalnya di pintu lemari es. Jangan lupa juga untuk selalu memantau perkembangan makanan balita Anda. Seandainya tidak mau makan, lekas beri petunjuk pada pengasuh untuk mengganti makanan yang lain. ”Timbang berat badan anak pada waktu-waktu tertentu untuk meyakinkan bahwa makannya dikonsumsi dengan baik.”


WiOnA


   
Jumlah Posts : 3
Jumlah di-Like : belum ada like
maaf utk tespacknya tgl 30/9/15 bukan 20/9/15
   


Jumlah Posts : 527
Jumlah di-Like : belum ada like
Mengetahui Saat Memulai Pemberian Makanan PadatTanda-Tanda Kesiapan PalsuSelama bertahun-tahun orang tua telah diperintahkan mengawasi bermacam-macam tanda untuk membantu mengetahui saat bayi mereka siap menerima makanan padat. Sebagian besar hanya merupakan bagian dari perkembangan normal yang berkaitan dengan usia bayi bukan kesiapan mereka untuk makanan lain.Ada beberapa 'tanda-tanda kesiapan' lain yang sama-sama tidak dapat diandalkan sebagai panduan untuk mulai memberikan makanan padat, namun masih banyak orang yang menganggap ada hal lain lagi yang menunjukkan bahwa dibutuhkan makanan tambahan selain susu, seperti :1. Bangun di malam hariBanyak orang tua yang mulai memberikan makanan padat lebih dini dengan harapan akan membuat bayinya tidur lelap sepanjang malam. Mereka menganggap bayi bangun karena dia lapar, tapi bayi bangun di malam hari karena bermacam-macam alasan dan tidak ada bukti bahwa memberi mereka makanan padat dapat memecahkan masalah ini. Jika mereka benar-benar lapar, bayi dibawah enam bulan butuh lebih banyak asi/sufor dan bukanlah makanan padat2. Kenaikan berat badan yang sedikit melambatIni adalah alasan umum bagi orang tua sehingga disarankan untuk mulai memberikan makanan padat lebih dini. Tapi, penelitian telah menunjukkan bahwa hal tersebut normal terjadi di sekitar usia empat bulan, khususnya pada bayi yang minum asi. Jadi bukan tanda bayi membutuhkan makanan padat3. Mengamati orang tua makanDari sekitar usia empat bulan bayi tertarik pada kegiatan sehari-hari keluarga, seperti berdandan, mencukur jenggot, membersihkan gigi dan makan. Namun mereka tidak mengerti arti semua itu. Mereka hanya ingin tahu4. Membuat suara mengecap-ngecapkan bibirBayi yang belajar cara menguunakan mulutnya menikmati kemampuan ini, sebanyak mungkin mereka belajar bicara dan juga soal makan. Ini adalah bagian dari persiapan dini bayi untuk makan makanan padat tapi bukan berarti mereka telah siap untuk memulainya5. Tidak langsung tidur setelah minum susuBayi sekitar usia empat bulan lebih waspada dan lebih banyak terjaga daripada bayi yang lebih kecil. Mereka memerlukan lebih sedikit waktu tidur6. Bayi kecilJika bayi kecil, bisa karena dia memang kecil atau karena dia memerlukan lebih banyak makanan. Namun jika mereka berumur dibawah enam bulan, mereka membutuhkan asi/sufor untuk membantu 'mengejar ketertinggalan', bukan makanan padat. Pengecualian untuk bayi yang lahir prematur, beberapa mungkin memerlukan nutrisi ekstra sebelum berumur enam bulan7. Bayi besarBayi yang lahir besar atau yang cepat sekali besar tidak memerlukan makanan tambahan. Mereka besar karena faktor genetik atau dalam beberapa kasus (terutama jika minum sufor) karena mereka telah minum lebih banyak susu daripada yang mereka butuhkan. Sistem kekebalan tubuh dan pencernaan mereka tidak lebih matang dari bayi lain, jadi resiko kesehatan memberikan makanan padat sama saja. Pemikiran bahwa bayi besar membutuhkan makanan lebih awal adalah sisa-sisa pemikiran tahun 1950an dan 1960an ketika keliru mempercayai bahwa saat bayi mencapai berat badan tertentu (biasanya 5,5kg) dia memerlukan makanan padat. Susu adalah kebutuhan utama bayi untuk enam bulan pertama kehidupannya, besar ataupun kecil tubuhnya. Ukuran bukan masalahMemberikan makanan padat sebelum usia enam bulan tidak baik bagi bayi karena :- Makanan padat mengandung nutrisi dan kalori yang sama padatnya dengan asi atau sufor. Bayi yang masih kecil memiliki perut yang kecil dan perlu sumber kalori dan nutrisi yang padat dan mudah dicerna untuk pertumbuhan yang sehat. Hanya asi atau sufor yang bisa menyediakannya- Sistem pencernaan bayi tidak dapat mengambil semua kandungan yang baik dari makanan padat, sehingga makanan tersebut lewat begitu saja tanpa memberikan nutrisi yang tepat bagi bayi- Jika bayi makan makanan padat terlalu dini, nafsu makan bayi terhadap susu akan menurun, sehingga dia akan kekurangan gizi- Bayi-bayi yang diberikan makanan padat lebih dini lebih mudah terkena infeksi dan lebih beresiko mengalami alergi daripada mereka yang tetap minum susu sampai usia enam bulan, karena sistem imun mereka belum matang- Pemberian makanan padat pada bayi di usia kurang dari enam bulan juga telah membuat mereka lebih rentan terhadap faktor resiko penyakit jantung dalam kehidupannya di kemudian hari, seperti tekanan darah tinggi sumber : Buku BLW
   
Jumlah Posts : 527
Jumlah di-Like : belum ada like
Anaknya usia segitu udah dikasih makan kah,bund Try Yuni? Mengetahui Saat Memulai Pemberian Makanan PadatTanda-Tanda Kesiapan PalsuSelama bertahun-tahun orang tua telah diperintahkan mengawasi bermacam-macam tanda untuk membantu mengetahui saat bayi mereka siap menerima makanan padat. Sebagian besar hanya merupakan bagian dari perkembangan normal yang berkaitan dengan usia bayi bukan kesiapan mereka untuk makanan lain.Ada beberapa 'tanda-tanda kesiapan' lain yang sama-sama tidak dapat diandalkan sebagai panduan untuk mulai memberikan makanan padat, namun masih banyak orang yang menganggap ada hal lain lagi yang menunjukkan bahwa dibutuhkan makanan tambahan selain susu, seperti :1. Bangun di malam hariBanyak orang tua yang mulai memberikan makanan padat lebih dini dengan harapan akan membuat bayinya tidur lelap sepanjang malam. Mereka menganggap bayi bangun karena dia lapar, tapi bayi bangun di malam hari karena bermacam-macam alasan dan tidak ada bukti bahwa memberi mereka makanan padat dapat memecahkan masalah ini. Jika mereka benar-benar lapar, bayi dibawah enam bulan butuh lebih banyak asi/sufor dan bukanlah makanan padat2. Kenaikan berat badan yang sedikit melambatIni adalah alasan umum bagi orang tua sehingga disarankan untuk mulai memberikan makanan padat lebih dini. Tapi, penelitian telah menunjukkan bahwa hal tersebut normal terjadi di sekitar usia empat bulan, khususnya pada bayi yang minum asi. Jadi bukan tanda bayi membutuhkan makanan padat3. Mengamati orang tua makanDari sekitar usia empat bulan bayi tertarik pada kegiatan sehari-hari keluarga, seperti berdandan, mencukur jenggot, membersihkan gigi dan makan. Namun mereka tidak mengerti arti semua itu. Mereka hanya ingin tahu4. Membuat suara mengecap-ngecapkan bibirBayi yang belajar cara menguunakan mulutnya menikmati kemampuan ini, sebanyak mungkin mereka belajar bicara dan juga soal makan. Ini adalah bagian dari persiapan dini bayi untuk makan makanan padat tapi bukan berarti mereka telah siap untuk memulainya5. Tidak langsung tidur setelah minum susuBayi sekitar usia empat bulan lebih waspada dan lebih banyak terjaga daripada bayi yang lebih kecil. Mereka memerlukan lebih sedikit waktu tidur6. Bayi kecilJika bayi kecil, bisa karena dia memang kecil atau karena dia memerlukan lebih banyak makanan. Namun jika mereka berumur dibawah enam bulan, mereka membutuhkan asi/sufor untuk membantu 'mengejar ketertinggalan', bukan makanan padat. Pengecualian untuk bayi yang lahir prematur, beberapa mungkin memerlukan nutrisi ekstra sebelum berumur enam bulan7. Bayi besarBayi yang lahir besar atau yang cepat sekali besar tidak memerlukan makanan tambahan. Mereka besar karena faktor genetik atau dalam beberapa kasus (terutama jika minum sufor) karena mereka telah minum lebih banyak susu daripada yang mereka butuhkan. Sistem kekebalan tubuh dan pencernaan mereka tidak lebih matang dari bayi lain, jadi resiko kesehatan memberikan makanan padat sama saja. Pemikiran bahwa bayi besar membutuhkan makanan lebih awal adalah sisa-sisa pemikiran tahun 1950an dan 1960an ketika keliru mempercayai bahwa saat bayi mencapai berat badan tertentu (biasanya 5,5kg) dia memerlukan makanan padat. Susu adalah kebutuhan utama bayi untuk enam bulan pertama kehidupannya, besar ataupun kecil tubuhnya. Ukuran bukan masalahMemberikan makanan padat sebelum usia enam bulan tidak baik bagi bayi karena :- Makanan padat mengandung nutrisi dan kalori yang sama padatnya dengan asi atau sufor. Bayi yang masih kecil memiliki perut yang kecil dan perlu sumber kalori dan nutrisi yang padat dan mudah dicerna untuk pertumbuhan yang sehat. Hanya asi atau sufor yang bisa menyediakannya- Sistem pencernaan bayi tidak dapat mengambil semua kandungan yang baik dari makanan padat, sehingga makanan tersebut lewat begitu saja tanpa memberikan nutrisi yang tepat bagi bayi- Jika bayi makan makanan padat terlalu dini, nafsu makan bayi terhadap susu akan menurun, sehingga dia akan kekurangan gizi- Bayi-bayi yang diberikan makanan padat lebih dini lebih mudah terkena infeksi dan lebih beresiko mengalami alergi daripada mereka yang tetap minum susu sampai usia enam bulan, karena sistem imun mereka belum matang- Pemberian makanan padat pada bayi di usia kurang dari enam bulan juga telah membuat mereka lebih rentan terhadap faktor resiko penyakit jantung dalam kehidupannya di kemudian hari, seperti tekanan darah tinggi taken from BLW Books
   


Jumlah Posts : 527
Jumlah di-Like : belum ada like
Sekedar sharing,keputusan akhir tetap diserahkan pada bunda,karena bunda yg lebih ngerti bayi bunda,setelah konsul dengan dsa yg pro ASI dan mpasi start 6m tentunya :) Mengetahui Saat Memulai Pemberian Makanan Padat Tanda-Tanda Kesiapan Palsu Selama bertahun-tahun orang tua telah diperintahkan mengawasi bermacam-macam tanda untuk membantu mengetahui saat bayi mereka siap menerima makanan padat. Sebagian besar hanya merupakan bagian dari perkembangan normal yang berkaitan dengan usia bayi bukan kesiapan mereka untuk makanan lain. Ada beberapa 'tanda-tanda kesiapan' lain yang sama-sama tidak dapat diandalkan sebagai panduan untuk mulai memberikan makanan padat, namun masih banyak orang yang menganggap ada hal lain lagi yang menunjukkan bahwa dibutuhkan makanan tambahan selain susu, seperti : 1. Bangun di malam hari Banyak orang tua yang mulai memberikan makanan padat lebih dini dengan harapan akan membuat bayinya tidur lelap sepanjang malam. Mereka menganggap bayi bangun karena dia lapar, tapi bayi bangun di malam hari karena bermacam-macam alasan dan tidak ada bukti bahwa memberi mereka makanan padat dapat memecahkan masalah ini. Jika mereka benar-benar lapar, bayi dibawah enam bulan butuh lebih banyak asi/sufor dan bukanlah makanan padat 2. Kenaikan berat badan yang sedikit melambat Ini adalah alasan umum bagi orang tua sehingga disarankan untuk mulai memberikan makanan padat lebih dini. Tapi, penelitian telah menunjukkan bahwa hal tersebut normal terjadi di sekitar usia empat bulan, khususnya pada bayi yang minum asi. Jadi bukan tanda bayi membutuhkan makanan padat 3. Mengamati orang tua makan Dari sekitar usia empat bulan bayi tertarik pada kegiatan sehari-hari keluarga, seperti berdandan, mencukur jenggot, membersihkan gigi dan makan. Namun mereka tidak mengerti arti semua itu. Mereka hanya ingin tahu 4. Membuat suara mengecap-ngecapkan bibir Bayi yang belajar cara menggunakan mulutnya menikmati kemampuan ini, sebanyak mungkin mereka belajar bicara dan juga soal makan. Ini adalah bagian dari persiapan dini bayi untuk makan makanan padat tapi bukan berarti mereka telah siap untuk memulainya 5. Tidak langsung tidur setelah minum susu Bayi sekitar usia empat bulan lebih waspada dan lebih banyak terjaga daripada bayi yang lebih kecil. Mereka memerlukan lebih sedikit waktu tidur 6. Bayi kecil Jika bayi kecil, bisa karena dia memang kecil atau karena dia memerlukan lebih banyak makanan. Namun jika mereka berumur dibawah enam bulan, mereka membutuhkan asi/sufor untuk membantu 'mengejar ketertinggalan', bukan makanan padat. Pengecualian untuk bayi yang lahir prematur, beberapa mungkin memerlukan nutrisi ekstra sebelum berumur enam bulan 7. Bayi besar Bayi yang lahir besar atau yang cepat sekali besar tidak memerlukan makanan tambahan. Mereka besar karena faktor genetik atau dalam beberapa kasus (terutama jika minum sufor) karena mereka telah minum lebih banyak susu daripada yang mereka butuhkan. Sistem kekebalan tubuh dan pencernaan mereka tidak lebih matang dari bayi lain, jadi resiko kesehatan memberikan makanan padat sama saja. Pemikiran bahwa bayi besar membutuhkan makanan lebih awal adalah sisa-sisa pemikiran tahun 1950an dan 1960an ketika keliru mempercayai bahwa saat bayi mencapai berat badan tertentu (biasanya 5,5kg) dia memerlukan makanan padat. Susu adalah kebutuhan utama bayi untuk enam bulan pertama kehidupannya, besar ataupun kecil tubuhnya. Ukuran bukan masalah Memberikan makanan padat sebelum usia enam bulan tidak baik bagi bayi karena : - Makanan padat mengandung nutrisi dan kalori yang sama padatnya dengan asi atau sufor. Bayi yang masih kecil memiliki perut yang kecil dan perlu sumber kalori dan nutrisi yang padat dan mudah dicerna untuk pertumbuhan yang sehat. Hanya asi atau sufor yang bisa menyediakannya - Sistem pencernaan bayi tidak dapat mengambil semua kandungan yang baik dari makanan padat, sehingga makanan tersebut lewat begitu saja tanpa memberikan nutrisi yang tepat bagi bayi - Jika bayi makan makanan padat terlalu dini, nafsu makan bayi terhadap susu akan menurun, sehingga dia akan kekurangan gizi - Bayi-bayi yang diberikan makanan padat lebih dini lebih mudah terkena infeksi dan lebih beresiko mengalami alergi daripada mereka yang tetap minum susu sampai usia enam bulan, karena sistem imun mereka belum matang - Pemberian makanan padat pada bayi di usia kurang dari enam bulan juga telah membuat mereka lebih rentan terhadap faktor resiko penyakit jantung dalam kehidupannya di kemudian hari, seperti tekanan darah tinggi BLW Books
   
07-04-2014 16:51:08 makanan tambahan
Jumlah Posts : 527
Jumlah di-Like : belum ada like
Mengetahui Saat Memulai Pemberian Makanan Padat Tanda-Tanda Kesiapan Palsu Selama bertahun-tahun orang tua telah diperintahkan mengawasi bermacam-macam tanda untuk membantu mengetahui saat bayi mereka siap menerima makanan padat. Sebagian besar hanya merupakan bagian dari perkembangan normal yang berkaitan dengan usia bayi bukan kesiapan mereka untuk makanan lain. Ada beberapa 'tanda-tanda kesiapan' lain yang sama-sama tidak dapat diandalkan sebagai panduan untuk mulai memberikan makanan padat, namun masih banyak orang yang menganggap ada hal lain lagi yang menunjukkan bahwa dibutuhkan makanan tambahan selain susu, seperti : 1. Bangun di malam hari Banyak orang tua yang mulai memberikan makanan padat lebih dini dengan harapan akan membuat bayinya tidur lelap sepanjang malam. Mereka menganggap bayi bangun karena dia lapar, tapi bayi bangun di malam hari karena bermacam-macam alasan dan tidak ada bukti bahwa memberi mereka makanan padat dapat memecahkan masalah ini. Jika mereka benar-benar lapar, bayi dibawah enam bulan butuh lebih banyak asi/sufor dan bukanlah makanan padat 2. Kenaikan berat badan yang sedikit melambat Ini adalah alasan umum bagi orang tua sehingga disarankan untuk mulai memberikan makanan padat lebih dini. Tapi, penelitian telah menunjukkan bahwa hal tersebut normal terjadi di sekitar usia empat bulan, khususnya pada bayi yang minum asi. Jadi bukan tanda bayi membutuhkan makanan padat 3. Mengamati orang tua makan Dari sekitar usia empat bulan bayi tertarik pada kegiatan sehari-hari keluarga, seperti berdandan, mencukur jenggot, membersihkan gigi dan makan. Namun mereka tidak mengerti arti semua itu. Mereka hanya ingin tahu 4. Membuat suara mengecap-ngecapkan bibir Bayi yang belajar cara menguunakan mulutnya menikmati kemampuan ini, sebanyak mungkin mereka belajar bicara dan juga soal makan. Ini adalah bagian dari persiapan dini bayi untuk makan makanan padat tapi bukan berarti mereka telah siap untuk memulainya 5. Tidak langsung tidur setelah minum susu Bayi sekitar usia empat bulan lebih waspada dan lebih banyak terjaga daripada bayi yang lebih kecil. Mereka memerlukan lebih sedikit waktu tidur 6. Bayi kecil Jika bayi kecil, bisa karena dia memang kecil atau karena dia memerlukan lebih banyak makanan. Namun jika mereka berumur dibawah enam bulan, mereka membutuhkan asi/sufor untuk membantu 'mengejar ketertinggalan', bukan makanan padat. Pengecualian untuk bayi yang lahir prematur, beberapa mungkin memerlukan nutrisi ekstra sebelum berumur enam bulan 7. Bayi besar Bayi yang lahir besar atau yang cepat sekali besar tidak memerlukan makanan tambahan. Mereka besar karena faktor genetik atau dalam beberapa kasus (terutama jika minum sufor) karena mereka telah minum lebih banyak susu daripada yang mereka butuhkan. Sistem kekebalan tubuh dan pencernaan mereka tidak lebih matang dari bayi lain, jadi resiko kesehatan memberikan makanan padat sama saja. Pemikiran bahwa bayi besar membutuhkan makanan lebih awal adalah sisa-sisa pemikiran tahun 1950an dan 1960an ketika keliru mempercayai bahwa saat bayi mencapai berat badan tertentu (biasanya 5,5kg) dia memerlukan makanan padat. Susu adalah kebutuhan utama bayi untuk enam bulan pertama kehidupannya, besar ataupun kecil tubuhnya. Ukuran bukan masalah Memberikan makanan padat sebelum usia enam bulan tidak baik bagi bayi karena : - Makanan padat mengandung nutrisi dan kalori yang sama padatnya dengan asi atau sufor. Bayi yang masih kecil memiliki perut yang kecil dan perlu sumber kalori dan nutrisi yang padat dan mudah dicerna untuk pertumbuhan yang sehat. Hanya asi atau sufor yang bisa menyediakannya - Sistem pencernaan bayi tidak dapat mengambil semua kandungan yang baik dari makanan padat, sehingga makanan tersebut lewat begitu saja tanpa memberikan nutrisi yang tepat bagi bayi - Jika bayi makan makanan padat terlalu dini, nafsu makan bayi terhadap susu akan menurun, sehingga dia akan kekurangan gizi- Bayi-bayi yang diberikan makanan padat lebih dini lebih mudah terkena infeksi dan lebih beresiko mengalami alergi daripada mereka yang tetap minum susu sampai usia enam bulan, karena sistem imun mereka belum matang - Pemberian makanan padat pada bayi di usia kurang dari enam bulan juga telah membuat mereka lebih rentan terhadap faktor resiko penyakit jantung dalam kehidupannya di kemudian hari, seperti tekanan darah tinggi Sumber : BLW books
   
Jumlah Posts : 3025
Jumlah di-Like : 1
ibu hamil tdk perlu menghindari makanan "fast food" ini, namun yg perlu dihindari adalah terlalu sering dlm mengkonsumsinya. Ibu hamil silahkan sesekali mengkonsumsi makanan jenis ini, namun jangan sampai di jadikan makanan utama saja. Bukan apa-apa, jenis makanan ini memiliki nilai gizi yg cukup rendah, namun memiliki tingkat lemak yg tinggi, kandungan gula 'n garam yg tinggi, yg jika tidak di kontrol konsumsinya, jangankan ibu hamil, orang normal pun akan menerima efek yg tidak baik dari tidak terkontrolnya makanan "Fast food" ini... Makanan tdk perlu ditakuti smua sdh lulus uji.. Nikmati aja kl memang mau makan ini itu.. Daging pizza ga sembarangan daging yg asal taro itu udh beberapa tahap.. Coba aja tanya ke dokter pasti jawaban'y mkn apa aja blh asal dlm batas wajar..
   
11-05-2011 11:13:45 Variasi Menu Balita
Jumlah Posts : 149
Jumlah di-Like : belum ada like
Daripada beli olahan daging ayam yang tinggal goreng (instan) terus-menerus, Bunda cobain resep ini deh, mudah dan cepat pengerjaannya. Yang pasti, bahannya bisa kita dapatkan dengan mudah dan kita pilih sendiri yang mutunya bagus. Instan...mana tau kesegaran bahannya, cara penyimpanannya yang berpengaruh ke kualitasnya . Kalo kepepet aja sesekali bolehlah.

Bola Roti Goreng Isi Udang:


250 daging udang cincang kasar + 1 putih telur + 2 siung bawang putih dihaluskan + garam merica kecap asin secukupnya + tepung sagu 1 sdm ---> uleni sampai rata dan bagi menjadi sepuluh gundukan

Tiga lembar roti tawar tanpa kulit potong dadu, atur di piring ceper. Gulingkan masing-masing gundukan adonan udang sampai tertutup oleh potongan roti.

Goreng dalam minyak panas dan api kecil sehingga matangnya merata sampai ke dalam

SELESAI
Sumber dan gambar masakan yang sudah jadi: 

http://www.keluarganobel.com/2011/05/10/resep-makanan-balita-bola-roti-isi-udang/ 
   
Jumlah Posts : 10
Jumlah di-Like : belum ada like
sedikit serat. Cermati perbedaan ini saat Ibu merencanakan menu makan balita:

Gula & Garam - lupakan penggunaan gula dan garam pada menu bayi. Kalau pun ia sudah berusia di atas 1 tahun, batasi penggunaannya. Konsumsi garam untuk balita tidak lebih dari 1/6 jumlah maksimum orang dewasa sehari atau kurang dari 1 gram. Cermati makanan balita Ibu karena makanan orang dewasa belum tentu cocok untuknya. Kadang makanan Ibu terlalu banyak garam atau gula, atau bahkan mengandung bahan pengawet atau pewarna buatan.

Porsi Makan - Porsi makan anak juga berbeda dengan orang dewasa. Mereka membutuhkan makanan sumber energi yang lengkap gizi dalam jumlah lebih kecil namun sering.

Kebutuhan Energi & Nutrisi - Bahan makanan sumber energi seperti karbohidrat,protein, lemak serta vitamin, mineral dan serat wajib dikonsumsi anak setiap hari. Atur agar semua sumber gizi tersebut ada dalam menu sehari.

Susu Pertumbuhan – Susu sebagai salah satu sumber kalsium, juga penting dikonsumsi balita. Sedikitnya balita butuh 350 ml/12 oz per hari. Susu Pertumbuhan dari Nutricia merupakan susu lengkap gizi yang mampu memenuhi kebutuhan nutrisi anak usia 12 bulan ke atas dan menjadi pelengkap menu buah hati ibu.

Jadi apakah ‘menu seimbang’ itu?  selanjutnya baca klik disini ya
   
22-04-2008 10:27:34 Manfaat Madu
Jumlah Posts : 1000
Jumlah di-Like : 11
ass wr wb,



semoga artikel ini bermanfaat untuk semuanya.aminnnn.......



sukron,



Bunda Zahwa



MADU, SUMBER GIZI BALITA

Balita Anda susah makan? Sebelum menderita kurang gizi, beri dia madu setiap

hari. Dari penelitian terbukti, madu bisa menambah nafsu makan, menurunkan

tingkat morbiditas terhadap panas dan pilek, di samping itu lengkap

kandungan gizinya.



Memberi makan anak-anak usia di bawah lima tahun (balita) memang

gampang-gampang susah. Kalau si anak punya nafsu makan tinggi, orang tua

tidak bakal repot. Diberi makan apa saja balita itu akan menyantapnya dengan

lahap. Sebaliknya, anak balita yang bernafsu makan rendah atau susah makan,

membuat orang tua sering kewalahan, bahkan hampir kehilangan akal untuk

membujuknya makan.



Berbagai jenis makanan dicobakan. Reaksi si anak cuma membuang kembali

makanan di mulutnya bila tidak sesuai kesukaannya. Celakanya, makanan

kesukaannya justru kurang bergizi. Padahal, variasi makanan sangat perlu.

Kalau keadaan ini berlanjut bisa-bisa si anak menderita kurang makan dan

kurang gizi, sehingga mudah sakit. Akibat semua itu proses tumbuh kembangnya

menjadi tidak normal. Yang paling merisaukan, bila ia menjadi bagian dari

generasi tanpa masa depan (lost generation).



Meningkatkan nafsu makan



Untunglah ada hasil penelitian Y. Widodo. Peneliti pada Pusat Penelitian dan

Pengembangan Gizi di Bogor ini, tahun lalu membawa kabar gembira bagi para

orang tua yang memiliki anak kurang energi protein (KEP). Ia melaporkan

bahwa pemberian madu secara teratur setiap hari dapat menurunkan tingkat

morbiditas (panas dan pilek) dan memperbaiki nafsu makan anak balita.



Penelitian dilakukan terhadap balita pasien Klinik Gizi, Puslitbang Gizi,

yang menderita kurang energi protein (KEP) akibat krismon. Ada 51 balita

usia 13 - 36 bulan yang terlibat dalam penelitian. Mereka dibagi menjadi dua

kelompok, pertama Kelompok Madu (25 orang) sebagai sampel, dan kedua

Kelompok Sirop (26 orang) sebagai kontrol. Kedua kelompok sama-sama diberi

tambahan vitamin B-kompleks dan vitamin C (50 mg).



Indikator yang diamati antara lain data antropometri (umur, bobot badan,

tinggi/panjang badan), sosial-ekonomi, recall konsumsi, riwayat kesehatan

anak pada saat sebelum, selama, dan sesudah perlakuan sekitar dua bulan.



Hasil penelitian menunjukkan, tingkat morbiditas terhadap panas dan pilek

kelompok madu atau sampel menurun, nafsu makan meningkat, porsi dan

frekuensi makan bertambah, sehingga konsumsi energi dan protein mereka juga

meningkat dibandingkan dengan kelompok kontrol yang mendapat sirop. Sebagian

data hasil penelitian dapat dilihat pada tabel 1..



Manfaat kesehatan pemberian madu yang tampak dalam penelitian tersebut

antara lain disebabkan oleh dua hal. Pertama, madu merupakan makanan yang

mengandung aneka zat gizi sedangkan gula hanya mengandung energi atau

kalori. Kedua, madu ternyata juga mengandung senyawa yang bersifat

antibiotik.



Mengandung faktor pertumbuhan



Kandungan gizi utama madu adalah aneka senyawa karbohidrat seperti gula

fruktosa (41,0%), glukosa (35%), sukrosa (1,9%), dan dekstrin (1,5%).

Karbohidrat madu ikut menambah pasokan sebagian energi yang diperlukan balita.



Kadar protein dalam madu relatif kecil, sekitar 2,6%. Namun kandungan asam

aminonya cukup beragam, baik asam amino esensial maupun non-esensial. Asam

amino tersebut turut pula memasok sebagian keperluan protein tubuh balita.



Vitamin yang terdapat dalam madu antara lain vitamin B1, vitamin B2, B3, B6,

dan vitamin C. Sementara mineral yang terkandung dalam madu antara lain

kalium, natrium, kalsium, magnesium, besi, tembaga, fosfor, dan sulfur.

Meskipun jumlahnya relatif sedikit, mineral madu merupakan sumber ideal bagi

tubuh manusia karena imbangan dan jumlah mineral madu mendekati yang

terdapat dalam darah manusia.



Penelitian menunjukkan, madu juga mengandung faktor pertumbuhan. Dilaporkan,

stek batang pohon yang dicelupkan dalam madu akan lebih cepat berakar dan

tumbuh lebih baik dibandingkan dengan stek yang ditanam tanpa perlakuan

madu.



Perbandingan kadar zat gizi madu secara umum terhadap gula pasir dapat

dilihat pada tabel 2.



Madu juga mengandung zat antibiotik. Kandungan ini merupakan salah satu

keunikan madu. Penelitian Peter C. Molan (1992), peneliti dari Departement

of Biological Sciences, University of Waikoto, di Hamilton, Selandia Baru

membuktikan, madu mengandung zat antibiotik yang aktif melawan serangan

berbagai patogen penyebab penyakit.



Beberapa penyakit infeksi berbagai patogen yang dapat "disembuhkan" dan

dihambat dengan (minum) madu secara teratur antara lain penyakit lambung dan

saluran pencernaan; penyakit kulit, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA),

batuk dan demam; penyakit jantung, hati, dan paru; penyakit-penyakit yang

dapat mengganggu mata, telinga, dan syaraf.



Berdasarkan hasil penelitian Kamaruddin (1997), peneliti dari Departement of

Biochemistry, Faculty of Medicine, Universiti of Malaya, di Kualalumpur,

paling tidak ada empat faktor yang bertanggung jawab terhadap aktivitas

antibakteri pada madu. Pertama, kadar gula madu yang tinggi akan menghambat

pertumbuhan bakteri sehingga bakteri tersebut tidak dapat hidup dan

berkembang.



Kedua, tingkat keasaman madu yang tinggi (pH 3.65) akan mengurangi

pertumbuhan dan daya hidupnya sehingga bakteri tersebut merana atau mati.

Ketiga, adanya senyawa radikal hidrogen peroksida yang bersifat dapat

membunuh mikroorganisme patogen. Dan faktor keempat, adanya senyawa organik

yang bersifat antibakteri. Senyawa organik tersebut tipenya bermacam-macam.

Yang telah teridentifikasi antara lain seperti polyphenol, flavonoid, dan glikosida.



Takaran minum madu



Untuk mendapatkan manfaat kesehatan dari madu, cairan manis yang menjadi

cadangan makanan koloni lebah ini harus dikonsumsi secara teratur. Dalam

penelitian Widodo tersebut balita sampel diberi madu sebanyak 20 gram setiap

hari. Madu tersebut tidak dianjurkan untuk bayi usia 0 - 4 bulan, karena

makanan pertama dan yang utama untuk mereka adalah air susu ibunya (ASI).

Setelah usia 4 bulan baru boleh diberi madu seiring dengan pemberian makanan

tambahan sesuai anjuran.



Menurut Muhilal, 2-3 sendok makan madu 2 X sehari sudah cukup memadai untuk

menjaga stamina dan kesehatan tubuh. Namun untuk penyembuhan atau

pengobatan, madu lebih baik dikonsumsi dalam bentuk larutan dalam air karena

akan memudahkan penyerapannya di dalam tubuh. Madu tersebut sebaiknya

dikonsumsi dua jam sebelum makan atau tiga jam sesudah makan.

Selain menambahkan madu pada menu makanan balita secara teratur, tentu saja

berbagai upaya kesehatan lainnya seperti pengobatan medis, pemberian makanan

tambahan, dan imunisasi umum, harus pula dilakukan. Upaya tersebut akan

lebih mempercepat upaya pemulihan kesehatan dan perbaikan gizi balita,

terutama yang susah makan, sehingga mereka terhidar kemungkinan menjadi

generasi tanpa masa depan (Mohamad Harli, Sarjana Gizi Masyarakat dan

Sumberdaya Keluarga, IPB)

Sumber : http://www.indomedi a.com/intisari/ 2001/Mei/ madu.htm

   
30-03-2008 22:07:31 MPASI..
Jumlah Posts : 918
Jumlah di-Like : 4
eh dodol, nenek-2 juga tao kali Sis MPASI = Makanan Pendamping ASI, bukan Makanan Pembasmi ASI Array Array
   
13-12-2007 13:35:50 menu balita
Jumlah Posts : 244
Jumlah di-Like : belum ada like
iya Bener bangeet bunda2 di IB kan kebanyakan wanita bekerja, tp di sempetin loh masakin bubur anak sebelum berangkat kerja, aku pribadi jg gt kok, pdhl dirumah juga ada yg bantuin, tp aku sempet2 in masak bubur malika sejak malika mulai belajar makan. kasian kan bund nadya makan instant teruss, lg an udh 13 bulan harus dibiasain makan yg keras dan kasar, kan klu bubur instant agak lembek.

Malika jg sudah mulai aku biasain makan bubur tanpa disaring diusia 9 bln ini, cuma masaknya lebih tanak dan lama spy lembek.
Kalau menu nya sih buanyaak ya bunda, dr ikan, ati ayam,daging, udang, telur, tahu, tempe dll
nah sayur juga banyak wortel, kentang, bayam, sawi, brokoli, kacang2 an dll.
Apalagi seusia nadya sudah bisa makan dengan campuran bumbu2 yg diolah sendiri, makin enak dong rasa dari ikan2 n sayur2 tsb. Masak jd lebih bervariasi, dibanding menu untuk bayi dibawah 1 thn.

Dicoba aja bunda, ato baik juga tuh beli buku paduan untuk pola makanan balita. smoga membantu ya bunda

salam kenal,
bunda malika


   
Jumlah Posts : 52
Jumlah di-Like : belum ada like
bunda kiky safitry based on info yg aku dapat dari googling di internet untuk moloco aman dikonsumsi karena kandungan "Ext. Placentae 15 mg" itu berasal dari plasenta sapi Bukan babi atau manusia. Jawaban dari pihak BPOM Benar itu plasenta sapi. Jika di produk obat atau makanan, mengandung babi, maka di kemasannya akan ada keterangan yang menyebutkan bahwa "Produk ini mengandung babi". Dan, tidak pernah ada obat yang mengandung plasenta manusia. Jadi based on info tsb moloco aman dikonsumsi ya bund.