SITE STATUS
Jumlah Member :
493.732 member
user online :
994 member
pageview's per day :
Over 100.000(!) page views
Kalkulator kesuburan
Masukan tanggal hari pertama bunda mengalami menstruasi

forum

Cari: katalog penukaran poin ibu dan balita 20

New Topic :  
Jumlah Posts : 20
Jumlah di-Like : belum ada like
iya bun bener yang jelas sih ga nyesel deh beli anmum, karena anmum the best buat buat ibu dan balita...
   


09-01-2014 06:26:07 Harus gak ya suntik IPD
Jumlah Posts : 527
Jumlah di-Like : belum ada like
Imunisasi IPD/PCV Perlukah?





Mau berbagi share ya bunda semua mengenai imuniasi PCV / IPD dan HIB setalah sebelumnya saya ketemu 2 dokter di RSIA.Brawijaya dan dua dokter itu bilang wajib ya dianjurkan dengan memberikan beberapa poin penting mengenai si imunisasi PCV ini telah dan sebenernya L dijadwalkan kemaren buat imunisasi tanggal9 junikemaren dan kebetulan ada masalah jadi ditunda buat imunisasi dan sebenernya aku juga agak-agak emh dalem hati mikir (perlu gak sih perlu gak sih dan searching di Mbah google dan disitu ada yg say yes ada juga yg say no) makin kritis buat mikir ah L imunisasi gak yaaa ?. ?Dan kemaren suami ngajak buat konsultasi lagi ke Markas sehat mampang dan ketemu salah satu dokter yg ngejelasin detil tentang imunisasi ini. Sebelumnya aku jelasin dulu ya ? Kebetulan aku dikasih buku tentang imunisasi ini yang dia punyaOke share juga di beberapa milis dan mereka juga bahas seberapa penting imunisasi dan aku sempet chat sama salah satu seorang ibu yg anaknya pernah terjangkit virusPNEUMOKOKUSdan dia bilang sangat menyesal menyepelekan hal ini awalnya dia merasa tidak penting karna memang tidak wajib balik lagi ?siapa sih yg mau anaknya terjangkit virus ini kita kan gak tau akan atau tidaknya terjangkit virus ini dan dia pesen (mom baiknya di imunisasikan memang imunisasi ini harganya lumayan mahal tapi ketimbang telat dan malah mengobati mom lebih baik dicegah) ini adalah poin pertama yang saya dapat dari imunisasi tersebut.Oke aku kasih tau ya apa sih vaksin PCV ituMengapa anak perlu terlindung dari penyakit yang disebabkan olehPNEUMOKOKUS? (IPD dan OTitus Media AKut)1. MengapaPNEUMOKOKUSpada anak perlu diwaspadai ?Data badan kesehatan dunia, WHO (2007) mencatat sekitar satu juta balita meninggal setiap tahun akibat penyakit yang disebutINVASIVE PNEUMOCCOCCAL DIASEASE (IPD). Sekitar tiga perempat kasusu tersebut tersebar di 15 negara berkembang dan Indonesia berada di peringkat ke-6 dengan 6 juta kasus, artinya tiga balita perjamnya di Indonesia meninggal karna penyakit ini.Penyakit ini cukup berbahaya karna tidak jarang menyebabkan kematian pada anak balita. Orangtua hendaknya waspada terhadap bahaya serangan penyakit IPD karna dapat mengancam nyawa, terutama pada anak usia dibawah 2tahun.2. Apa itu penyakitPNEUMOKOKUS?PenyakitPNEUMOKOKUS terdiri atas meninghitis (radang selaput otak), septikema (keracunan darah), bakteria pneumonia (infeksi darah), dan otitis media (infeksi telinga), yang disebabkan oleh bakteri Streptocuccus Pneumoniae. Beberapa diantaranya penyakit ini bisa menjadi serius, terutama jika terjadi pada anak-anak.PNEUMOKOKUSmeninghitis ini bisa berakibat fatal dan setengah dari mereka yang dapat bertahan hidup akan mengalami cacat permanen seperti tuli, kerusajab otak atau kelumpuhanPNEUMOKOKUS PNEUMONIAPneumonia pneumokokus ini lebih serius dari pada jenis pneumonia yang lain, dan sering menyebabkan anak harus masuk rumah sakit. Gejala yang harus diwaspadai adalah demam, batuk, bernapas cepat. Gejala lain diantaranya sakit dada, mual, muntah, sakit kepala, kelelahan, menggigil dan nyeri otot.PNEUMOKOKUS 0TITIS MEDIAMerupakan jenis infeksi telinga yang sangat umum terjadi pada anak-anak. Hal ini tentu sangat menyusahkan bagi mereka maupun keluarga.Gejala yang ditimbulkan antaranya rasa sakit, hidung beringus, batuk, iritabilitas, gelisah, nafau makan yang buruk, terus menerus menangis, diare dan muntah-muntah.3.bagaimana jika anak saya tertular penyakitPNEUMOKOKUS?Bakteri yang menyebabkan peneumokokus tinggal ditenggorokan dan rongga hidung setiap anak yang sehat. Bakteri ini dapat ditularkan dari anak-anak lain yang memderita infeksiPNEUMOKOKUS, dikelompok bermain atau penitipan bayi.4. Bagaimana mencegah penyakitPNEUMOKOKUS?Jika di identifikasi lebih awal, dan jika pasien diberikan perawatan yang tepat, sebenarnya infeksiPNEUMOKOKUSbisa diobati. Secara khusus,PNEUMOKOKUSotitis media umumnya bisa diobati dengan antibiotik. Namun, saat ini terjadi peningkatan resistensi bakteri terhadap antibiotik, sehingga para dokter lebih mengutamakan pencegahan terhadap penyakit dari pada pengobatan.5. Bagaimana saya bisa melindungi anak saya dari penyakitPNEUMOKOKUS?Vaksinasi terhadap infeksiPNEUMOKOKUSsekarang telah tersedia hampir 90 negara di dunia, dan telah menjadi bagian dari awal imunisasi di lebih dari 20 negara diantaranya (termasuk Amerika serikat dan kebanyakan negara Eropa Barat)Vaksin sangat berhasil dalam mengurangi jumlah kasus penyakitPNEUMOKOKUS. Vaksinasi memang tidak dapat melindungi anak dari semua infeksiPNEUMOKOKUS, namun setidaknya akam melindungi anak dari timbulnya gejala yang lebih serius.Telah tersedia juga di Indonesia vaksin konjugatPNEUMOKOKUS, dan telah direkomendasikan olehIKATAN DOKTER ANAK INDONESIA (IDAI)untuk diberikan kepada bayi usia 2, 4, dan 6 bulanKeuntungan, vaksinPNEUMOKOKUSdapat diberikan secara bersamaan dengan vaksin anak lainnya.6. Siapa yang paling beresiko tertular penyakitPNEUMOKOKUS?Anak-anak kecil (kurang dari dua tahun) dan orang tua adalah yang paling rentan tertular penyakitPNEUMOKOKUS, sehingga dalam kondisi tertentu mereka sangat membutuhkan perlindungan.Nah ini definisi ImunisasiHIB(hemofilus influenza tipe B).HIB bukanlahvirus influenzamelainkan bakteri yang menyebabkanpneumonia dan radang selaput otak (meninghitis). Balita, anak yang dititipkan di daycare, anak yang tinggal dihunian padat penduduk, dan bayi yang tidak mendapatkan ASI adalah kelompok yang paling rentan terkena virus Hib. Penularan terjadi melalui udara dan kontak langsung dengan penderita. Di Indonesia, HIb merupakan 38 persen penyebab meninghitis pada bayi dan balita. Sekitar 5-10 persen korban infeksi Hib akan meninggal dunia.Jika infeksi akut Hib menyerang bayi berusia dibawah 6 bulan, tingkat kematian mencapai 40%. Hib juga menjadi 5-18 persen kejadian pneumonia. Kantung udara di paru-paru dipenuhi cairan sehingga fungsi paru-paru terganggu. Akibat penumpukan cairan tersebut, oksigen sulit mencapai aliran darah.Jika oksigen didalam darah sedikit, sel-sel rubuh tidak dapat bekerja dengan baik sehingga bisa berujung pada kematian. Penyakit oleh bakteri Hib adalah epiglotitis yaitu penyakit radang tulang rawan tenggorokan. Penyakit ini paling sering terjadi pada anak-anak usia 2-4tahun. Penyakit ini diawali dengan sakit tenggorokan dan demam. Kemudian tulang rawan ditengah tenggorokan akan membengkak dan mengganggu jalan nafas sehingga penderitaannya sulit bernafas.Penderita bisa meninggal dalam hitungan jam karena kekurangan nafasPEMBERIAN VAKSINSebelum vaksin Hib ditemukan pada 1980-an, Hib merupakan penyebab utama meninghitis bakteri pada balita. Dua per tiga dari kasus meninghitis Hib ditemukan pada anak berusia dibawah 18 bulan, kini vaksinasi dilakukan sebanyak tiga kali. Pertama saat anak berusia 2,4 dan 6 bulan. Lalu vaksin Hib diulang pada usia 12-15 bulan.Mengingat Hib lebih sering menyerang bayi kecil (laporan CDC menunjukan bahwa 26 persen infeksi Hib terjadi pada bayi berusia 2-6 bulan dan 25 persen pada bayi usia 7-11 bulan), maka vaksin hib sebaiknya telah diberikan sejak bayi menginjak 2 bulan.Namun vaksin Hib tidak dianjurkan untuk diberikan terhadap bayi dibawah usia 2 bulan karena bayi yang masih sangat kecil belum dapat membentuk antibodi. Di negara maju, imunisasi menurunkan kejadian infeksi Hib hingga lebih dari 95 persen.Ini yang saya dapat dari konsultasi kemaren sebenernya saya udah dapet tentang seberapa pentingnya si PCV atau IPD ini dari 2 dokter tapi saya masih kurang puas akhirnya saya datang lagi ke MARKAS SEHAT ketemu dengan salah satu dokter yang menerangkan lebih jelas tentang imunisasi ini.Oh ya alhamdulillah anak saya sudah mendapatkan imunisasi Hib lengkap jadi tinggal PCV atau IPD saja, sebenernya kan imunisasi PCV ini diberikan pada usia bayi mulai dari 2 bulan ya namun karna L sudah lebih dari 2 bulan yakni 7 bulan maka L hanya mendapatkan 3x suntik saja rencana akhir bulan ini saya kembali ke brawijaya untuk segera vaksin.
   
Jumlah Posts : 527
Jumlah di-Like : belum ada like
So long long articcle ya,bund?Poin pentingnya disini :) 20 Mitos Kampanye Hitam Anti ImunisasiDr. Widodo Judarwanto Sp.AImunisasi adalah investasi terbesar bagi anak di masa depan. Imunisasi adalah hak anak yang tidak bisa ditunda dan diabaikan sedikitpun. Imunisasi sudah terbukti manfaat dan efektivitasnya dan teruji keamanannya secara ilmiah dengan berdasarkan kejadian berbasis bukti.Tetapi masih banyak saja orangtua dan kelompok orang yang menyangsikannya. Setiap tahun ada sekitar 2,4 juta anak usia kurang dari 5 tahun di dunia yang meninggal karena penyakit-penyakit yang dapat dicegah oleh vaksinasi. Di Indonesia, sekitar 7 persen anak belum mendapatkan vaksinasi. Salah satu masalah utama yang menghambat keberhasilan program imunisasi adalah penyebaran informasi yang tidak benar dan menyesatkan tentang imunisasi.Hal itu adalah wajar terjadi karena demikian banyak informasi yang beredar yang tidak berdasarkan pemikiran dan dasar ilmiah meski dilakukan oleh seorang dokter. Hambatan lain adalah munculnya kelompok-kelompok antivaksinasi yang menyebabkan kampanye hitam dengan membawa faktor agama dan budaya.Biasanya, kelompok tertentu yang menyebarkan kampanye hitam imunisasi demi kepentingan pribadi khususnya dalam kepentingan bisnis terselubung yang mereka lakukan. Sebagian kelompok ini adalah yang berdiri dibelakang oknum pelaku naturopathy, food combining, homeopathy atau bisnis terapi herbal.Inilah 20 Mitos Tidak benar Yang Disebarkan Kampanye Hitam Anti Imunisasi :1. Imunisasi tidak aman.Tidak Benar. Saat ini 194 negara terus melakukan vaksinasi untuk bayi dan balita. Badan resmi yang meneliti dan mengawasi vaksin di negara tersebut umumnya terdiri atas para dokter ahli penyakit infeksi, imunologi, mikrobiologi, farmakologi, epidemiologi, dan biostatistika. Sampai saat ini tidak ada negara yang melarang vaksinasi, justru semua negara berusaha meningkatkan cakupan imunisasi lebih dari 90% .2. Terdapat "ilmuwan" menyatakan bahwa imunisasi berbahaya.Tidak benar imunisasi berbahaya. "Ilmuwan" yang sering dikutip di buku, tabloid, milis ternyata bukan ahli vaksin, melainkan ahli statistik, psikolog, homeopati, bakteriologi, sarjana hukum, wartawan. sehingga mereka tidak mengerti betul tentang vaksin. Sebagian besar mereka bekerja pada era tahun 1950- 1960, sehingga sumber datanya juga sangat kuno.3. "Ilmuwan kuno" yang sering dikutip informasi di media masa atau media elektronik lainnya adalah ahli vaksin.Tidak benar. Mereka semua bukan ahli vaksin. Contoh : Dr Bernard Greenberg (biostatistika tahun 1950), DR. Bernard Rimland (Psikolog), Dr. William Hay (kolumnis), Dr. Richard Moskowitz (homeopatik), dr. Harris Coulter, PhD (penulis buku homeopatik, kanker), Neil Z. Miller, (psikolog, jurnalis), WB Clark (awal tahun 1950), Bernice Eddy (Bakteriologis tahun 1954), Robert F. Kenedy Jr (sarjana hukum) Dr. WB Clarke (ahli kanker, 1950an), Dr. Bernard Greenberg (1957-1959), Dr. William Hay, penulis buku "Immunisation: The Reality behind the Myth"(penggagas food combioning). Neil Z. Miller sering disebut sebagai peneliti vaksin internasional ternyata adalah medical research journalist dan natural health advocate.4. Dokter Wakefield adalah "ahli vaksin", membuktikan MMR menyebabkan autisme.Tidak benar. Wakefield juga bukan ahli vaksin, dia dokter spesialis bedah. Penelitian Wakefield tahun 1998 hanya dengan sample 18. Banyak penelitian lain oleh ahli vaksin di beberapa negara menyimpulkan MMR tidak terbukti mengakibatkan autis. Setelah diaudit oleh tim ahli penelitian, terbukti bahwa Wakefield memalsukan data, sehingga kesimpulannya salah. Hal ini telah diumumkan di majalah resmi kedokteran Inggris British Medical Journal Februari 2011.5. Imunisasi sebabkan autisme.Tidak benar. Beberapa institusi atau badan dunia di bidang kesehatan yang independen dan sudah diakui kredibilitasnya juga melakukan kajian ilmiah dan penelitian tentang tidak adanya hubungan imunisasi dan autisme. Dari hasil kajian tersebut, dikeluarkan rekomendasi untuk tenaga profesional untuk tetap menggunakan imunisasi MMR dan thimerosal karena tidak terbukti mengakibatkan Autisme. The All Party Parliamentary Group on Primary Care and Public Health pada bulan Agustus 2000, menegaskan bahwa MMR aman.Dengan memperhatikan hubungan yang tidak terbukti antara beberapa kondisi seperti inflammatory bowel disease (gangguan pencernaan) dan autisme adalah tidak berdasar. WHO (World Health Organisation), pada bulan Januari 2001 menyatakan mendukung sepenuhnya penggunaan imunisasi MMR dengan didasarkan kajian tentang keamanan dan efikasinya. Beberapa institusi dan organisasi kesehatan bergengsi di Inggris pada Januari 2001 setelah mengadakan pertemuan dengan pemerintahan Inggris mengeluarkan pernyataan bersama yaitu MMR adalah vaksin yang sangat efektif dengan laporan keamanan yang sangat baik.The American Academy of Pediatrics (AAP), organisasi profesi dokter anak di Amerika Serikat pada tanggal 12 - 13 Juni 2000 mengadakan konferensi dengan topik "New Challenges in Childhood Immunizations" di Oak Brook, Illinois Amerika Serikat yang dihadiri para orang tua penderita autisme, pakar imunisasi kesehatan anak dan para peneliti. Pertemuan tersebut merekomendasikan bahwa tidak terdapat hubungan antara MMR dan autisme. Menyatakan bahwa pemberian imunisasi secara terpisah tidak lebih baik dibandingkan MMR, malahan terjadi keterlambatan imunisasi MMR. Selanjutnya akan dilakukan penelitian lebih jauh tentang penyebab autisme.6. Thimerosal dalam kandungan autism sebagai penyebab autisme.Tidak benar. Penelitian yang mengungkapkan bahwa thimerosal tidak mengakibatkan Autis dilakukan oleh berbagai penelitian di antaranya dilakukan oleh Kreesten M. Madsen dkk dari berbagai intitusi di Denmark. Mereka mengadakan penelitian bersama terhadap anak usia 2 hingga 10 tahun sejak tahun 1970 hingga tahun 2000. Mengamati 956 anak sejak tahun 1971 hingga 2.000 anak dengan autis. Sejak thimerosal digunakan hingga tahun 1990 tidak didapatkan kenaikkan penderita auitis secara bermakna. Kemudian sejak tahun 1991 hingga tahun 2000 bersamaan dengan tidak digunakannya thimerosal pada vaksin ternyata jumlah penderita autis malah meningkat drastis. Kesimpulan penelitian tersebut adalah tidak ada hubungan antara pemberian thimerosal dengan autis. Demikian juga Stehr-Green P dkk, Department of Epidemiology, School of Public Health and Community Medicine, University of Washington, Seattle, WA, bulan Agustus 2003 melaporkan antara tahun 1980 hingga 1990 membandingkan prevalensi dan insiden penderita autisme di California, Swedia, dan Denmark yang mendapatkan ekposur dengan imunisasi thimerosal. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa insiden pemberian thimerosal pada autisme tidak menunjukkan hubungan yang bermakna.Geier DA dalam Jurnal Americans Physicians Surgery tahun 2003, menungkapkan bahwa thimerosal tidak terbukti mengakibatkan gangguan neurodevelopment (gangguan perkembangan karena persarafan) dan penyakit jantung. Melalui forum National Academic Press tahun 2001, Stratton K dkk melaporkan tentang keamanan thimerosal pada vaksin dan tidak berpengaruh terhadap gangguan gangguan neurodevelopment (gangguan perkembangan karena persarafan). Sedangkan Hviid A dkk dalam laporan di majalah JAMA 2004 mengungkapkan penelitian terhadap 2.986.654 anak per tahun didapatkan 440 kasus autis. Dilakukan pengamatan pada kelompok anak yang menerima thimerosal dan tidak menerima thimerosal. Ternyata tidak didapatkan perbedaan bermakna. Disimpulkan bahwa pemberian thimerosal tidak berhubungan dengan terjadinya autis.Menurut penelitian Eto, menunjukkan manifestasi klinis autis sangat berbeda dengan keracunan merkuri. Sedangkan Aschner, dalam penelitiannya menyimpulkan tidak terdapat peningkatan kadar merkuri dalam rambut, urin dan darah anak Autis. Pichichero melakukan penelitian terhadap 40 bayi usia 2-6 bulan yang diberi vaksin yang mengandung thimerosal dan dibandingkan pada kelompok kontrol tanpa diberi thimerosal. Setelah itu dilakukan evaluasi kadar thimerosal dalam tinja dan darah bayi tersebut. Ternyata thimerosal tidak meningkatkan kadar merkuri dalam darah, karena etilmerkuri akan cepat dieliminasi dari darah melalui tinja. Selain itu masih banyak lagi peneliti melaporkan hasil yang sama, yaitu thimerosal tidak mengakibatkan autisme.7. Semua vaksin terdapat zat-zat berbahaya yang dapat merusak otak ?Tidak benar. Isu itu karena "ilmuwan" tersebut di atas tidak mengerti isi vaksin, manfaat, dan batas keamanan zat-zat di dalam vaksin. Contoh: jumlah total etil merkuri yang masuk ke tubuh bayi melalui vaksin sekitar 2 mcg/kgbb/minggu, sedangkan batas aman menurut WHO adalah jauh lebih banyak (159 mcg/kgbb/minggu). Oleh karena itu vaksin mengandung merkuri dengan dosis yang sangat rendah dan dinyatakan aman oleh WHO dan badan-badan pengawasan lainnya.8. Vaksin terbuat dari nanah, dibiakkan di janin anjing, babi, manusia yang sengaja digugurkan?Tidak benar. Isu itu bersumber dari "ilmuwan" 50 tahun lalu (tahun 1961-1962). Pengetahuan imunologi, biomolekuilar vaksin dan tknologi pembuatan vaksin berkembang sangat pesat. Sekarang tidak ada vaksin yang terbuat dari nanah atau dibiakkan embrio anjing, babi, atau manusia. Metode baru dan teknologi paling modern dari manipulasi biomolekuler telah diyakini teknologi vaksin baru sekarang memasuki "zaman keemasan." Perbaikan vaksin sangat mungkin dilakukan di masa depan untuk mendapatkan keamanan dan efektifitas vaksin lebih hebat lagi9. Imunisasi tak masuk akal bermanfaat.Tidak benar. Pendapat yang menyesatkan yang tidak berdasarkan kajian ilmiah dan penelitian ilmiah dikeluarkan oleh Dr. William Hay seorang dokter yang bergerak di bidang food combining, dalam buku "Immunisation: The Reality behind the Myth""Tak masuk akal memikirkan bahwa Anda bisa menyuntikkan nanah ke dalam tubuh anak kecil dan dengan proses tertentu akan meningkatkan kesehatan. Tubuh punya cara pertahanan tersendiri yang tergantung pada vitalitas saat itu. Jika dalam kondisi fit, tubuh akan mampu melawan semua infeksi, dan jika kondisinya sedang menurun, tidak akan mampu. Dan Anda tidak dapat mengubah kebugaran tubuh menjadi lebih baik dengan memasukkan racun apapun juga ke dalamnya." Padahal sampai saat ini 194 negara di seluruh dunia yakin bahwa imunisasi aman dan bermanfaat mencegah wabah, sakit berat, cacat, dan kematian pada bayi dan balita. Terbukti 194 negara tersebut terus menerus melaksanakan program imunisasi, termasuk negara dengan sosial ekonomi tinggi dan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, dengan cakupan umumnya lebih dari 85 %. Ribuan penelitian tentang efikasi dan manfaat vaksi secara biomolekular dan secara statistik bermanfaat secara bermakna.10. Vaksin mengandung lemak babi ?Tidak benar. Hanya sebagian kecil dari vaksin yang pernah bersinggungan dengan tripsin pada proses pengembangan maupun pembuatannya seperti vaksin polio injeksi (IPV) dan meningitis. Pada vaksin meningitis, pada proses penyemaian induk bibit vaksin tertentu 15 ? 20 tahun lalu, ketika panen bibit vaksin tersebut bersinggungan dengan tripsin pankreas babi untuk melepaskan induk vaksin dari persemaiannya. Tetapi kemudian induk bibit vaksin tersebut dicuci dan dibersihkan total, sehingga pada vaksin yang disuntikkan tidak mengandung tripsin babi. Atas dasar itu maka Majelis Ulama Indonesia berpendapat vaksin itu boleh dipakai, selama belum ada penggantinya. Contohnya vaksin meningokokus (meningitis) haji diwajibkan oleh Saudi Arabia bagi semua jemaah haji untuk mencegah radang otak karena meningokokus.11. Vaksin yang dipakai di Indonesia buatan Amerika ?Tidak benar. Vaksin yang digunakan oleh program imunisasi di Indonesia adalah buatan PT Bio Farma Bandung, yang merupakan BUMN, dengan 98,6% karyawannya adalah Muslim. Proses penelitian dan pembuatannya mendapat pengawasan ketat dari ahli-ahli vaksin di BPOM dan WHO. Vaksin-vaksin tersebut juga diekspor ke 120 negara, termasuk 36 negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam, seperti Iran dan Mesir. Vaksin yang digunakan oleh program imunisasi di Indonesia adalah buatan PT Biofarma Bandung. Vaksin-vaksin tersebut dibeli dan dipakai oleh 120 negara, termasuk 36 negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam12. Program imunisasi hanya di negara Muslim dan miskin agar menjadi bangsa yang lemah?Tidak benar. Imunisasi saat ini dilakukan di 194 negara, termasuk negara-negara maju dengan status sosial ekonomi tinggi, dan negara-negara non-Muslim. Kalau imunisasi bisa melemahkan bangsa, maka mereka juga akan lemah, karena mereka juga melakukan program imunisasi, bahkan lebih dulu dengan jenis vaksin lebih banyak. Kenyataanya : bangsa dengan cakupan imunisasi lebih tinggi justru lebih kuat. Jadi terbukti bahwa imunisasi justru memperkuat kekebalan terhadap penyakit infeksi, bukan melemahkan.13. Di Amerika banyak kematian bayi akibat vaksin ?Tidak benar. Isu itu karena penulis tidak faham data Vaccine Adverse Event Reporting System (VAERS) FDA Amerika tahun 1991-1994, yang mencatat 38.787 laporan kejadian ikutan pasca imunisasi, oleh penulis angka tersebut ditafsirkan sebagai angka kematian bayi 1 - 3 bulan. Kalau memang benar angka kematian begitu tinggi tentu FDA AS akan heboh dan menghentikan vaksinasi. Faktanya Amerika tidak pernah meghentikan vaksinasi bahkan mempertahankan cakupan semua imunisasi di atas 90 %. Angka tersebut adalah semua keluhan nyeri, gatal, merah, bengkak di bekas suntikan, demam, pusing, muntah yang memang rutin harus dicatat kalau ada laporan masuk. Kalau ada 38.787 laporan dari 4,5 juta bayi berarti KIPI hanya 0,9 %.14. Banyak bayi balita meninggal pada imunisasi masal campak di Indonesia ?Tidak benar. Setiap laporan kecurigaan adanya kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) selalu dikaji oleh Komnas/Komda KIPI yang terdiri dari pakar-pakar penyakit infeksi, imunisasi, imunologi. Setelah dianalisis dari keterangan keluarga, dokter yang merawat di rumah sakit, hasil pemeriksaan fisik, dan laboratorium, ternyata balita tersebut meninggal karena radang otak, bukan karena vaksin campak. Pada bulan itu ada beberapa balita yang tidak imunisasi campak juga menderita radang otak. Berarti kematian balita tersebut bukan karena imunisasi campak, tetapi karena radang otak.15. Demam, bengkak, merah setelah imunisasi adalah bukti vaksin berbahaya?Tidak benar. Demam, merah, bengkak, gatal di bekas suntikan adalah reaksi wajar setelah vaksin masuk ke dalam tubuh. Seperti rasa pedas dan berkeringat setelah makan sambal adalah reaksi normal tubuh kita. Umumnya keluhan tersebut akan hilang dalam beberapa hari. Boleh diberi obat penurun panas, dikompres. Bila perlu bisa konsul ke petugas kesehatan terdekat.16. Program imunisasi gagal?Tidak benar. Isu-isu tersebut bersumber dari data yang sangat kuno (50-150 tahun lalu) hanya dari 1 - 2 negara saja, sehingga hasilnya sangat berbeda dengan hasil penelitian terbaru, karena vaksinnya sangat berbeda. Isu vaksin cacar variola gagal, berdasarkan data yang sangat kuno, di Inggris tahun 1867 - 1880 dan Jepang tahun 1872-1892. Fakta terbaru sangat berbeda, bahwa dengan imunisasi cacar di seluruh dunia sejak tahun 1980 dunia bebas cacar variola. Isu vaksin difteri gagal, berdasarkan data di Jerman tahun 1939. Fakta sekarang: vaksin difteri dipakai di seluruh dunia dan mampu menurunkan kasus difteri hingga 95 %. Isu pertusis gagal hanya dari data di Kansas dan Nova Scottia tahun 1986. Isu vaksin campak berbahaya hanya berdasar penelitian 1989-1991 pada anak miskin berkulit hitam di Meksiko, Haiti dan Afrika.17. Program imunisasi gagal, karena setelah diimunisasi bayi balita masih bisa tertular penyakit tersebut ?Tidak benar. Program imunisasi di seluruh dunia tidak pernah gagal. Perlindungan vaksin memang tidak 100%. Bayi dan balita yang telah diimunisasi masih bisa tertular penyakit, tetapi jauh lebih ringan dan tidak berbahaya. Banyak penelitian imunologi dan epidemiologi di berbagai membuktikan bahwa bayi balita yang tidak diimunisasi lengkap tidak mempunyai kekebalan spesifik terhadap penyakit-penyakit berbahaya. Mereka mudah tertular penyakit tersebut, akan menderita sakit berat, menularkan ke anak-anak lain, menyebar luas, terjadi wabah, menyebabkan banyak kematian dan cacat.18. Vaksin berbahaya, tidak effektif, tidak dilakukan di negara maju ?Tidak benar. Karena di Indonesia ada orang-orang yang tidak mengerti tentang vaksin dan imunisasi, hanya mengutip dari "ilmuwan" tahun 1950 -1960 yang ternyata bukan ahli vaksin, atau berdasar data-data 30 - 40 tahun lalu (1970 - 1980an) atau hanya dari 1 sumber yang tidak kuat. Atau dia mengutip Wakefield spesialis bedah, bukan ahli vaksin, yang penelitiannya dibantah oleh banyak tim peneliti lain, dan oleh majalah resmi kedokteran Inggris British Medical Journal Februari 2011 penelitian Wakefield dinyatakan salah atau bohong. Ia hanya berdasar kepada 1 - 2 laporan kasus yang tidak diteliti lebih lanjut secara ilmiah, hanya berdasar logika biasa. Badan penelitian di berbagai negara membuktikan bahwa dengan meningkatkan cakupan imunisasi, maka penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi berkurang secara bermakna. Oleh karena itu, saat ini program imunisasi dilakukan terus menerus di 194 negara, termasuk negara dengan sosial ekonomi tinggi dan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam.19. ASI, gizi, dan suplemen herbal sudah cukup menggantikan imunisasi .Tidak ada satupun badan penelitian di dunia yang menyatakan bisa, karena kekebalan yang dibentuk sangatlah berbeda. ASI, gizi, suplemen herbal, kebersihan, hanya memperkuat pertahanan tubuh secara umum, karena tidak membentuk kekebalan spesifik terhadap kuman tertentu. Kalau jumlah kuman banyak dan ganas, perlindungan umum tidak mampu melindungi bayi, sehingga masih bisa sakit berat, cacat atau bahkan mati. Imunisasi merangsang pembentukan antibodi dan kekebalan seluler yang spesifik terhadap kuman-kuman atau racun kuman tertentu, sehingga bekerja lebih cepat, efektif, dan efisien untuk mencegah penularan penyakit yang berbahaya. Selain diberi imunisasi, bayi harus diberi ASI eksklusif, makanan pendamping ASI dengan gizi lengkap dan seimbang, kebersihan badan, makanan, minuman, pakaian, mainan, dan lingkungan. Suplemen diberikan sesuai kebutuhan individual yang bervariasi. Selain itu bayi harus diberikan kasih sayang dan stimulasi bermain untuk mengembangkan kecerdasan, kreatifitas dan perilaku yang baik.20. Imunisasi dan Konspirasi Zionisme di dalamnya.Tidak benar. Jika dirunut sejarah vaksin modern yang dilakukan oleh Flexner Brothers, dapat ditemukan bahwa kegiatan mereka dalam penelitian tentang vaksinasi pada manusia didanai oleh Keluarga Rockefeller. Di dunia internasional banyak yayasan sosial yang mendanai penelitian ilmiah tentang vaksin dan masalah kesehatan masyarakat lainnya. Memang Rockefeller sendiri adalah salah satu keluarga Yahudi yang paling berpengaruh di dunia tetapi sebenarnya mereka adalah pendiri WHO dan lembaga strategis lainnya (The UN's WHO was established by the Rockefeller family's foundation in 1948 - the year after the same Rockefeller cohort established the CIA. Two years later the Rockefeller Foundation established the U.S. Government's National Science Foundation, the National Institute of Health (NIH), and earlier, the nation's Public Health Service (PHS). Yayasan Rockefeller yang berdiri sejak tahun 1913 dan kredibilitasnya telah diakui dunia kesehatan Internasional yang berupaya meningkatkan kesehatan global dengan bekerja untuk mengubah sistem kesehatan sehingga lebih mudah diakses dan terjangkau masyarakat tidak mampu. Yayasan kesehatan dunia ini juga menghubungkan jaringan surveilans penyakit global untuk membantu mereka yang berjuang meminimalkan penyebaran penyakit menular yang dapat menyebabkan pandemi. Yayasan ini juga meningkatkan monitoring, deteksi dan respon terhadap penyakit menular seperti Ebola, SARS, dan flu burung untuk mencegah pandemi. Memperluas penggunaan teknologi untuk meningkatkan perawatan kesehatan. Melibatkan sektor swasta untuk bekerja dengan sektor publik dalam mengembangkan praktik dan kebijakan untuk menyediakan dan mendanai pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin.Sikap orang tua dalam menghadapi kampanye hitam* Bila mendengar dan mengetahui kontroversi tersebut, maka pasti akan membingungkan masyarakat awam. Hal ini terjadi karena yang memberikan informasi yang tidak benar tersebut adalah para ahli kedokteran tetapi yang tidak berkompeten sesuai keahliannya. Untuk menyikapinya kita harus cermat dan teliti dan berpikiran lebih jernih. Kalau mengamati beberapa penelitian yang mendukung adanya berbagai kejadian berhubungan dengan imunisasi, mungkin benar sebagai pemicu atau sebagai co-accident atau kebetulan.* Penelitian yang menunjukkan hubungan keterkaitan imunisasi dan berbagai hal yang tidak benar hanya dilihat dalam satu kelompok kecil (populasi). Secara statistik hal ini hanya menunjukkan hubungan, tidak menunjukkan sebab akibat. Kita juga tidak boleh langsung terpengaruh pada laporan satu atau beberapa kasus, misalnya bila orang tua anak autism berpendapat bahwa anaknya timbul gejala autism setelah imunisasi. Kesimpulan tersebut tidak bisa digeneralisasikan terhadap anak sehat secara umum (populasi lebih luas). Kalau itu terjadi bisa saja kita juga terpengaruh oleh beberapa makanan yang harus dihindari oleh penderita autism juga juga akan dihindari oleh anak sehat lainnya. Jadi logika tersebut harus dicermati dan dimengerti.* Menanggapi tantangan tersebut, Prof Sri Rezeki Hadinegoro, Ketua Pelaksana Konferensi Vaksin Se-Asia 3 mengatakan, pemerintah bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melakukan pendekatan kepada ulama dan masyarakat untuk memberikan pemahaman yang benar. "Kami tidak melawan pemahaman kelompok antivaksin, tetapi jangan memutarbalikkan fakta pada masyarakat," kata Sri dalam acara jumpa pers pelaksanaan Konferensi Vaksinasi Asia Ke-3 di Jakarta, Kamis (28/7/2011).* Ketua Bidang Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama menambahkan, masyarakat seharusnya tidak perlu mengkhawatirkan keamanan dan kehalalan vaksin yang beredar. "Pemerintah menjamin semua vaksin yang beredar sesuai kaidah-kaidah yang berlaku. Pada kasus kontroversi vaksin meningitis untuk jemaah haji, kami mengikuti saran MUI," katanya.* Persoalan black campaign dari vaksin ternyata juga ditemui di negara-negara lain, misalnya di Filipina. Menurut Enrique Tayag, President of Philliphine Foundation for Vaccination, kelompok antivaksin juga menjadi tantangan. "Bagaimanapun masyarakat harus diingatkan manfaat vaksin untuk kesehatan anak jauh lebih besar daripada efek samping yang ditakutkan," katanya dalam kesempatan yang sama. Hambatan lain adalah munculnya kelompok-kelompok antivaksinasi yang menyebabkan kampanye hitam dengan membawa faktor agama dan budaya. Biasanya kelompok tertentu yang menyebarkan kampanye hitam imunisasi demi kepentingan pribadi khususnya dalam kepentingan bisnis terselubung yang mereka lakukan. Sebagian kelompok ini adalah yang dilakukan oleh oknum pelaku naturopathy, homeopathy, food combining, atau bisnis terapi herbal. Sebagian dari kelompok ini juga dilakukan oleh dokter bahkan beberapa profesor. Tetapi semuanya bukan berasal dari ahli medis, dokter atau profesior yang berkompeten di bidangnya seperti ahli kesehatan anak, ahli vaksin, ahli imunologi. Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak juga dokter atau profesor yang bergerak di bidang bisnis terapi alternatif atau non medis. Meski sebenarnya ilmu dan aliran terapi alternatif tersebut pada umumnya sangat baik, tetapi sayangnya sebagian kecil di antara mereka demi keberhasilan bisnis mereka mengorbankan kepentingan anak di dunia dengan menyebarkan informasi tidak benar dan menyesatkan.Benarkah imunisasi lumpuhkan generasi?Dr Piprim B Yanuarso SpA (K)Konsultan Kardiologi Anak Bagian Anak FKUI/RSCM JakartaPengurus PP IDAI, JakartaPencinta anak-anak dan ibunya anak-anak.PendahuluanAkhir-akhir ini kita sering mendengar atau melihat seminar dengan judul yang membuat mata seorang dokter terbelalak. "Imunisasi lumpuhkan generasi" atau "Wahai para orangtua bekali dirimu dengan pengetahuan tentang bahaya imunisasi". Sebagai seorang dokter saya lalu merenung, bila benar apa yang mereka serukan itu, betapa besar dosa saya sebagai dokter anak yang sering mengimunisasi bayi dan anak yang datang ke tempat praktek. Betapa jahatnya saya sebagai manusia karena telah mengimunisasi begitu banyak bayi dan anak selama ini, bahkan sejak saya masih sebagai dokter umum di puskesmas dahulu. Lalu saya merenung dan mencoba meneliti kembali permasalahan ini. Siapa sebenarnya yang salah dan siapa yang benar? Dalam kontroversi yang memuat perbedaan 180 derajat ini, tidak mungkin kedua-duanya salah atau benar. Pasti salah satu benar dan yang lain salah. Dan saya khawatir bila selama ini sayalah yang bersalah itu. Saya sungguh khawatir jangan-jangan saya telah melumpuhkan begitu banyak generasi muda. Jangan-jangan saya telah melakukan dosa kemanusiaan yang sangat besar. Galau habis-habisan.Rasa galau itu membuat saya membuka-buka literatur dan data yang ada tentang permasalahan imunisasi. Saya mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi dengan seruan yang menentang keras imunisasi. Suatu pernyataan yang sangat bertolak belakang dengan yang selama ini saya pelajari bahwa imunisasi itu suatu tindakan preventif yang amat bermanfaat buat kemanusiaan. Di lain pihak kegalauan saya juga semakin menjadi bila mengingat andai seruan tersebut kemudian menyebar ke masyarakat luas lalu apa yang akan terjadi dengan bayi-bayi mungil tak berdosa itu di kemudian hari? Mungkinkah penyakit-penyakit berat yang dapat dicegah dengan imunisasi akan bangkit kembali dari kuburnya gara-gara seruan itu? Masalah ini justru menimbulkan kegalauan lebih dalam bagi saya.Apakah sebenarnya imunisasi itu?Sebelum melangkah lebih jauh mari kita bahas sekilas apakah yang dimaksud dengan imunisasi. Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang terhadap suatu penyakit, sehingga bila kelak terpajan pada penyakit tersebut ia tidak menjadi sakit. Kekebalan yang diperoleh dari imunisasi dapat berupa kekebalan pasif maupun aktif. Imunisasi yang diberikan untuk memperoleh kekebalan pasif disebut imunisasi pasif, dengan cara memberikan antibodi atau faktor kekebalan kepada seseorang yang membutuhkan. Contohnya adalah pemberian imunoglobulin spesifik untuk penyakit tertentu, misalnya imunoglobulin antitetanus untuk penyakit tetanus. Contoh lain adalah kekebalan pasif alamiah antibodi yang diperoleh janin dari ibu. Kekebalan jenis ini tidak berlangsung lama karena akan dimetabolisme oleh tubuh. Kekebalan aktif dibuat oleh tubuh sendiri akibat terpajan pada antigen secara alamiah atau melalui imunisasi. Imunisasi yang diberikan untuk memperoleh kekebalan aktif disebut imunisasi aktif dengan memberikan zat bioaktif yang disebut vaksin, dan tindakan itu disebut vaksinasi. Kekebalan yang diperoleh dari vaksinasi berlangsung lebih lama dari kekebalan pasif karena adanya memori imunologis, walaupun tidak sebaik kekebalan aktif yang terjadi karena infeksi alamiah. Untuk memperoleh kekebalan aktif dan memori imunologis yang efektif maka vaksinasi harus mengikuti cara pemakaian dan jadwal yang telah ditentukan melalui bukti uji klinis yang telah dilakukan. Tujuan imunisasi adalah untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu pada seseorang dan menghilangkan penyakit tersebut pada sekelompok masyarakat (populasi), atau bahkan menghilangkannya dari dunia seperti kita lihat pada keberhasilan imunisasi cacar variola. Keadaan terakhir ini lebih mungkin terjadi pada jenis penyakit yang hanya dapat ditularkan melalui manusia, seperti penyakit difteri dan poliomielitis. Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) merupakan penyakit berbahaya yang dapat menyebabkan kematian dan kecacatan seumur hidup dan akan menjadi beban bagi masyarakat di kemudian hari. Sampai saat ini terdapat 19 jenis vaksin untuk melindungi 23 PD3I di seluruh dunia dan masih banyak lagi vaksin yang sedang dalam penelitian.Adakah bukti bahwa imunisasi bermanfaat ?Pertanyaan selanjutnya yang perlu dijawab adalah adakah manfaat imunisasi? Ataukah imunisasi hanya bikin mudhorot (keburukan) buat kemanusiaan? Untuk menjawab pertanyaan ini saya kemudian menelaah berbagai data status kesehatan masyarakat sebelum dan sesudah ditemukannya imunisasi di berbagai negara. Namun saya ingin menampilkan data dari negara maju seperti Amerika Serikat, karena kelompok antiimunisasi selalu menuduh bahwa imunisasi adalah sebuah proyek konspirasi dari negara ini untuk melumpuhkan generasi muda di seluruh dunia.Sebelum adanya vaksin polio, terdapat 13.000 - 20.000 (16.316) kasus lumpuh layuh akut akibat polio dilaporkan setiap tahun di AS meninggalkan ribuan korban penderita cacat karena polio yang mesti menggunakan tongkat penyangga atau kursi roda. Saat ini AS dinyatakan bebas kasus polio. Angka penurunan mencapai 100%.Sebelum adanya imunisasi campak, 503.282 kasus campak terjadi setiap tahun dan 20% di antaranya dirawat dengan jumlah kematian mencapai 450 orang pertahun akibat pneumonia campak. Setelah ada imunisasi campak kasus menurun hingga 55 kasus pertahun pada tahun 2006. Angka penurunan 99.9%.Sebelum ditemukan imunisasi difteri terjadi 175.885 kasus difteri per tahun dengan angka kematian mencapai 15.520 kasus. Setelah imunisasi ditemukan tahun 2001 jumlahnya menurun menjadi 2 kasus dan tahun 2006 tidak ada lagi laporan kasus difteri. Angka penurunan mencapai 100%Sebelum tahun 1940an terdapat 150.000-260.000 kasus pertussis setiap tahun dengan angka kematian mencapai 9000 kasus setahun. Setelah imunisasi pertussis ditemukan angka kematian menurun menjadi 30 kasus setahun. Namun dengan seruan antiimunisasi yang marak di AS terjadi lagi peningkatan kasus secara signifikan di beberapa negara bagian. Pada 8 negara bagian terjadi peningkatan kasus 10-100 kali lipat pada saat cakupan imunisasi pertussis menurun drastis.Sebelum vaksin HiB ditemukan, HiB nerupakan penyebab tersering meningitis bakteri (radang selaput otak) di AS, dengan 20.000 kasus per tahun. Meningitis HiB menyebabkan kematian 600 anak pertahun dan meninggalkan kecacatan berupa tuli, kejang, dan retardasi mental pada anak yang selamat. Pada tahun 2006 kasus meningitis HIB menurun menjadi 29 kasus. Angka penurunan 99.9%.Hampir 90% bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi Rubella saat hamil trimester pertama akan mengalami sindrom Rubella kongenital, berupa penyakit jantung bawaan, katarak kongenital, dan ketulian. Pada tahun 1964 sekitar 20.000 bayi lahir dengan sindrom Rubella kongenital ini, mengakibatkan 2100 kematian neonatal dan 11.250 abortus. Setelah adanya imunisasi hanya dilaporkan 6 kasus sindrom Rubella kongenital pada tahun 2000. Kasus Rubella secara umum menurun dari 47.745 kasus menjadi hanya 11 kasus pertahun pada tahun 2006. Angka penurunan 99.9%.Hampir 2 milyar orang telah terinfeksi hepatitis B suatu saat dalam hidupnya. Sejuta di antaranya meninggal setiap tahun karena penyakit sirosis hati dan kanker hati. Sekitar 25% anak-anak yang terinfeksi hepatitis B dapat diperkirakan akan meninggal karena penyakit hati pada saat dewasa. Terjadi penurunan jumlah kasus baru dari 450.000 kasus pada tahun 1980 menjadi sekitar 80.000 kasus pada tahun 1999. Penurunan terbanyak terjadi pada anak dan remaja yang mendapat imunisasi rutin.Di seluruh dunia penyakit tetanus menyebabkan kematian pada 300.000 neonatus dan 30.000 ibu melahirkan setiap tahunnya dan mereka tidak diimunisasi adekuat. Tetanus sangat infeksius namun tidak menular, sehingga tidak seperti PD3I yang lain, imunisasi pada anggota suatu komunitas tidak dapat melindungi orang lain yang tidak diimunisasi. Karena bakteri tetanus terdapat banyak di lingkungan kita, maka tetanus hanya bisa dicegah dengan imunisasi. Bila program imunisasi tetanus distop, maka semua orang dari berbagai usia akan rentan menderita penyakit ini.Sekitar 212.000 kasus mumps (gondongan) terjadi di AS pada tahun 1964. Setelah ditemukannya vaksin mumps pada tahun 1967 insidens penyakit ini menurun menjadi hanya 266 kasus pada tahun 2001. Namun pada tahun 2006 terjadi KLB di kalangan mahasiswa, sebagian besar di antara mereka menerima 2 kali vaksinasi. Terjadi lebih dari 5500 kasus pada 15 negara bagian. Mumps merupakan penyakit yang sangat menular dan hanya butuh beberapa orang saja yang tidak diimunisasi untuk memulai transmisi penyakit sebelum menyebar luas.Sebelum vaksin pneumokokus ditemukan, pneumokokus menyebabkan 63.000 kasus invassive pneumococcal disease (IPD) dengan 6100 kematian di AS setiap tahun. Banyak anak yang menderita gejala sisa berupa ketulian dan kejang-kejang.Dari data di atas para ahli menyimpulkan bahwa imunisasi adalah salah satu di antara program kesehatan masyarakat yang paling sukses dan cost-effective . Program imunisasi telah menyebabkan eradikasi penyakit cacar (variola, smallpox), eliminasi campak dan poliomielitis di berbagai belahan dunia. dan penurunan signifikan pada morbiditas dan mortalitas akibat penyakit difteri, tetanus, dan pertussis. Badan kesehatan dunia (WHO) pada tahun 2003 memperkirakan 2 juta kematian anak dapat dicegah dengan imunisasi. Katz (1999) bahkan menyatakan bahwa imunisasi adalah sumbangan ilmu pengetahuan yang terbaik yang pernah diberikan para ilmuwan di dunia ini.Miskonsepsi tentang imunisasiMeskipun imunisasi telah terbukti banyak manfaatnya dalam mencegah wabah dan PD3I di berbagai belahan dunia, namun masih terdapat sebagian orang yang memiliki miskonsepsi terhadap imunisasi. Secara umum berikut ini adalah beberapa miskonsepsi yang sering terjadi di masyarakt:A. Penyakit-penyakit tersebut (PD3I) sebenarnya sudah mulai menghilang sebelum vaksin ditemukan karena meningkatnya higiene dan sanitasi.Pernyataan sejenis ini dan variasinya sangat banyak dijumpai pada literatur antivaksin. Namun bila melihat insidens aktual PD3I sebelum dan sesudah ditemukannya vaksin kita tidak lagi meragukan manfaat vaksinasi. Sebagai contoh kita lihat kasus meningitis HiB di Canada. Higiene dan sanitasi sudah dalam keadaan baik sejak tahun 1990, namun kejadian meningitis HiB sebelum program imunisasi dilaksanakan mencapai 2000 kasus per tahun dan setelah imunisasi rutin dijalankan menurun menjadi 52 kasus saja dan mayoritas terjadi pada bayi dan anak yang tidak diimunisasi. Contoh lain adalah pada 3 negara maju (Inggris, Swedia, dan Jepang) yang menghentikan program imunisasi pertussis karena ketakutan terhadap efek samping vaksin pertussis. Di Inggris tahun 1974 cakupan imunisasi menurun drastis dan diikuti dengan terjadinya wabah pertussis pada tahun 1978, ada 100.000 kasus pertussis dengan 36 kematian. Di Jepang pada kurun waktu yang sama cakupan imunisasi pertussis menurun dari 70% menjadi 20-40% hal ini menyebabkan lonjakan kasus pertussis dari 393 kasus dengan 0 kematian menjadi 13.000 kasus dengan 41 kematian karena pertussis pada tahun 1979. Di Swedia pun sama, dari 700 kasus pada tahun 1981 meningkat menjadi 3200 kasus pada tahun 1985. Pengalaman tersebut jelas membuktikan bahwa tanpa imunisasi bukan saja penyakit tidak akan menghilang namun juga akan hadir kembali saat program imunisasi dihentikan.B. Mayoritas anak yang terkena penyakit justru yang sudah diimunisasi.Pernyataan ini juga sering dijumpai pada literatur antivaksin. Memang dalam suatu kejadian luar biasa (KLB) jumlah anak yang sakit dan pernah diimunisasi lebih banyak daripada anak yang sakit dan belum diimunisasi. Penjelasan masalah tersebut sebagai berikut: pertama tidak ada vaksin yang 100% efektif. Efektivitas sebagian besar vaksin pada anak adalah sebesar 85-95%, tergantung respons individu. Kedua: proporsi anak yang diimunisasi lebih banyak daripada anak yang tidak diimunisasi di negara yang menjalankan program imunisasi. Bagaimana kedua faktor tersebut berinteraksi diilustrasikan dalam contoh berikut. Suatu sekolah mempunyai 1000 murid. Semua murid pernah diimunisasi campak 2 kali kecuali 25 yang tidak pernah sama sekali. Ketika semua murid terpapar campak, 25 murid yang belum diimunisasi semuanya menderita campak. Dari kelompok yang telah diimunisasi campak 2 kali, sakit 50 orang. Jumlah seluruh yang sakit 75 orang dan yang tidak sakit 925 orang. Kelompok antiimunisasi akan mengatakan bahwa persentase murid yang sakit adalah 67 % (50/75) dari kelompok yang pernah imunisasi, dan 33% (25/75) dari kelompok yang tidak diimunisasi. Padahal bila dihitung dari efek proteksi, maka imunisasi memberikan efek proteksi sebesar (975-25)/975 = 94.8%. Yang tidak diimunisasi efek proteksi sebesar 0/25= 0%. Dengan kata lain, 100% murid yang tidak mendapat imunisasi akan sakit campak; dibanding hanya 5,2% dari kelompok yang diimunisasi yang terkena campak. Jelas bahwa imunisasi berguna untuk melindungi anak.C. Vaksin menimbulkan efek samping yang berbahaya, kesakitan, dan bahkan kematianVaksin merupakan produk yang sangat aman. Hampir semua efek simpang vaksin bersifat ringan dan sementara, seperti nyeri pada bekas suntikan atau demam ringan. Kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) secara definitif mencakup semua kejadian sakit pasca imunisasi. Prevalensi dan jenis sakit yang tercantum dalam KIPI hampir sama dengan prevalensi dan jenis sakit dalam keadaan sehari-hari tanpa adanya program imunisasi. Hanya sebagian kecil yang memang berkaitan dengan vaksin atau imunisasinya, sebagian besar bersifat koinsidens. Kematian yang disebabkan oleh vaksin sangat sedikit. Sebagai ilustrasi semua kematian yang dilaporkan di Amerika sebagai KIPI pada tahun 1990-1992, hanya 1 yang mungkin berhubungan dengan vaksin. Institut of Medicine (IOM) tahun 1994 menyatakan bahwa risiko kematian akibat vaksin adalah amat rendah (extra-ordinarily low). Besarnya risiko harus dibandingkan dengan besarnya manfaat vaksin. Bila satu efek simpang berat terjadi dalam sejuta dosis vaksin namun tidak ada manfaat vaksin, maka vaksin tersebut tidak berguna. Manfaat imunisasi akan lebih jelas bila risiko penyakit dibandingkan dengan risiko vaksin.Contoh vaksin MMR (melindungi campak, mumps (gondongan) dan rubella (campak jerman)pneumonia campak : risiko kematian 1:3000 risiko alergi berat MMR 1:1000.000Ensefalitis mumps : 1 : 300 pasien mumps, risiko ensefalitis MMR 1:1000.000Sindrom rubella kongenital : 1 : 4 bayi dari ibu hamil kena rubellaContoh vaksin DPaT (melindungi difteri, pertussis, dan tetanus)Difteri : risiko kematian 1 : 20, risiko menangis lama sementara 1 : 100Tetanus : risiko kematian 1 : 30, risiko kejang sembuh sempurna 1 : 1750Pertussis : risiko ensefalitis pertussis 1 : 20, risiko ensefalitis DPaT 1 : 1000.000D. Penyakit penyakit tersebut (PD3I) telah tidak ada di negara kita sehingga anak tidak perlu diimunisasiAngka kejadian beberapa penyakit yang termasuk PD3I memang telah menurun drastis. Namun kejadian penyakit tersebut masih cukup tinggi di negara lain. Siapa pun termasuk wisatawan dapat membawa penyakit tersebut secara tidak sengaja dan dapat menimbulkan wabah. Hal tersebut serupa dengan KLB polio di Indonesia pada tahun 2005 lalu. Sejak tahun 1995 tidak ada kasus polio yang disebabkan oleh virus polio liar. Pada bulan April 2005, Laboratorium Bioofarma di Bandung mengkonfirmasi adanya virus polio liar tipe 1 pada anak berusia 18 bulan yang menderita lumpuh layuh akut pada bulan Maret 2005. Anak tersebut tidak pernah diimunisasi sebelumnya. Virus polio itu selanjutnya menyebabkan wabah merebak ke 10 propinsi, 48 kabupaten. Sampai bulan April 2006 tercatat 349 kasus polio, termasuk 46 kasus VDVP (vaccine derived polio virus) di Madura. Dari analisis genetik virus diketahui bahwa virus berasal dari Afrika barat. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa virus sampai ke Indonesia melalui Nigeria dan Sudan sama seperti virus yang diisolasi di Arab Saudi dan Yaman. Dari pengalaman tersebut terbukti bahwa anak tetap harus mendapat imunisasi karena dua alasan. Alasan pertama adalah anak harus dilindungi. Meskipun risiko terkena penyakit adalah kecil, bila penyakit masih ada, anak yang tidak terproteksi tetap berpeluang terinfeksi. Alasan kedua imunisasi anak penting untuk melindungi anak lain di sekitarnya. Terdapat sejumlah anak yang tak dapat diimunisasi (misalnya karena alergi berat terhadap komponen vaksin) dan sebagian kecil anak yang tidak memberi respons terhadap imunisasi. Anak-anak tersebut rentan terhadap penyakit dan perlindungan yang diharapkan adalah dari orang-orang di sekitarnya yang tidak sakit dan tidak menularkan penyakit kepadanya.E. Pemberian vaksin kombinasi (multipel) meningkatkan risiko efek simpang yang berbahaya dan dapat membebani sistem imunAnak-anak terpapar pada banyak antigen setiap hari. Makanan dapat membawa bakteri yang baru ke dalam tubuh. Sistem imun juga akan terpapar oleh sejumlah bakteri hidup di mulut dan hidung. Infeksi saluran pernapasan bagian atas akan menambah paparan 4-10 antigen, sedangkan infeksi streptokokus pada tenggorokan memberi paparan 25-50 antigen. Tahun 1994 IOM menyatakan bahwa dalam keadaan normal penambahan jumlah antigen dalam vaksin tidak mungkin akan memberikan beban tambahan pada sistem imun dan tidak bersifat imunosupresif. Data penelitian menunjukkan bahwa imunisasi simultan dengan vaksin multipel tidak membebani sistem imun anak normal. Pada tahun 1999 Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP), American Academy of Pediatrics (AAP), dan American Academy of Family Physicians (AAFP) merekomendasi pemberian vaksin kombinasi untuk imunisasi anak. Keuntungan vaksin kombinasi adalah mengurangi jumlah suntikan, mengurangi biaya penyimpanan dan pemberian vaksin, mengurangi jumlah kunjungan ke dokter, dan memfasilitasi penambahan vaksin baru ke dalam program imunisasi.F. Vaksin MMR menyebabkan autismeBeberapa orangtua anak dengan autisme percaya bahwa terdapat hubungan sebab akibat antara vaksin MMR dengan autisme. Gejala khas autisme biasanya diamati oleh orangtua saat anak mulai tampak gejala keterlambatan bicara setelah usia lewat satu tahun. Vaksin MMR diberikan pada usia 15 bulan (di luar negeri 12 bulan). Pada usia sekitar inilah biasanya gejala autisme menjadi lebih nyata. Meski pun ada juga kejadian autisme mengikuti imunisasi MMR pada beberapa kasus. Akan tetapi penjelasan yang paling logis dari kasus ini adalah koinsidens. Kejadian yang bersamaan waktu terjadinya namun tidak terdapat hubungan sebab akibat. Kejadian autisme meningkat sejak 1979 yang disebabkan karena meningkatnya kepedulian dan kemampuan kita mendiagnosis penyakit ini, namun tidak ada lonjakan secara tidak proporsional sejak dikenalkannya vaksin MMR pada tahun1988.Pada tahun 2000 AAP membuat pernyataan : "Meski kemungkinan hubungan antara vaksin MMR dengan autisme mendapat perhatian luas dari masyarakat dan secara politis, serta banyak yang meyakini adanya hubungan tersebut berdasarkan pengalaman pribadinya, namun bukti-bukti ilmiah yang ada tidak menyokong hipotesis bahwa vaksin MMR menyebabkan autisme dan kelainan yang berhubungan dengannya. Pemberian vaksin measles, mumps, dan rubella secara terpisah pada anak terbukti tidak lebih baik daripada pemberian gabungan menjadi vaksin MMR, bahkan akan menyebabkan keterlambatan atau luput tidak terimunisasi. Dokter anak mesti bekerjasama dengan para orangtua untuk memastikan bahwa anak mereka terlindungi saat usianya mencapai 2 tahun dari PD3I. Upaya ilmiah mesti terus dilakukan untuk mengetahui penyebab pasti dari autisme. Lembaga lain yaitu CDC dan NIH juga membuat pernyataan yang mendukung AAP. Pada tahun 2004 IOM menganalisis semua penelitian yang melaporkan adanya hubungan antara vaksin MMR dengan autisme. Hasilnya adalah tidak satu pun penelitian itu yang tidak cacat secara metodologis. Kesimpulan IOM saat itu adalah tidak terbukti ada hubungan antara vaksin MMR dengan autisme.PenutupSetelah mengkaji berbagai literatur sebagaimana disebutkan di atas, maka secara berangsur kegalauan saya menghilang. Saya semakin yakin akan kebenaran teori ilmiah berbasis bukti yang sudah ditemukan para ahli. Bahkan beberapa waktu lalu ada sejawat saya Dr Julian Sunan, seorang dokter yang masih muda dan amat ganteng (menurut pengakuannya sendiri) telah menelaah bahwa ternyata tokoh-tokoh antivaksin yang sering dikutip kelompok antivaksin di Indonesia ternyata banyak yang fiktif. Mereka melakukan pemelintiran data dan pemutarbalikan fakta. Tak heran kalau yang sangat aman dianggap sangat berbahaya dan penyakit sangat berbahaya nan mematikan dianggap tidak apa apa dan mungkin malah diajak bersahabat karib oleh kelompok antiimunisasi. Terimakasih.Bahan bacaan :Ranuh IGNG, Suyitno H, Hadinegoro SRS, Kartasasmita CB, Ismoedijanto, Soedjatmiko. Buku Pedoman Imunisasi di Indonesia, edisi ke-4. Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia, Jakarta 2011.Center for Disease Controlhttp://www.cdc.gov
   


Jumlah Posts : 2513
Jumlah di-Like : 7

Jangan pernah membandingkan bayi Bunda dengan bayi tetangga yang chubby dan gemuk. Membandingkan bayi sendiri dengan bayi lain bukan langkah tepat. Bayi dilahirkan dengan ukuran dan ciri yang berbeda. Rata-rata berat badan bayi yang baru dilahirkan berkisar antara 2,5 – 4,5 kg.

 

Ukuran dan berat badan bayi dapat ditentukan berdasarkan keturunan dari orangtua, kesehatan Ibu, dan nutrisi yang Ibu konsumsi selama masa kehamilan. Perlu diketahui Bunda, berat badan bayi saat baru dilahirkan bukanlah hal yang paling penting dalam pertumbuhannya. Yang terpenting adalah berapa berat badan yang dapat dicapai setelah ia dilahirkan.

Oleh sebab itu, daripada "galau" melihat bayi lain, lebih baik mengacu pada grafik pertumbuhan bayi bersumber dari WHO untuk memonitor berat badan dan panjang bayi si kecil setiap bulannya melalui kartu menuju sehat (KMS) yang dapat bunda dapatkan pada posyandu atau dokter spesialis anak (DSA).

Menurut WHO yang disebut berat badan ideal untuk usia 3 bulan adalah yang masuk dalam range 5,1 kg - 8,0 kg dan untuk anak 3 tahun adalah 11,4 kg - 18 kg.

CARA MENGHITUNG BERAT BAYI IDEAL :

1. Untuk anak dibawah 12 bulan : BBI = (n : 2) + 4 atau (umur (bln) : 2 ) + 4

     a.  Untuk usia 1-6 bulan dapat menggunakan rumus : BBL(gr) +(usia x 600 gram)

     b. Untuk usia 7-12 bulan dapat menggunakan rumus :

-  BBL (gr) + (usia x 500 gram )

-  (usia/2) +3

2. Untuk anak 1-10 thn : BBI = (2 x n) + 8 atau (2 x umur (thn)) + 8

CONTOH :

Anak balita usia 2 tahun 10 bulan, berarti ditulis dengan n = 2,10 dan selanjutnya dikali dengan 2 (sebagaimana rumus 2n), jadi hasilnya adalah 4,20.

Hasil ini jangan langsung ditambah dengan 8, karena 4,20 diartikan 4 tahun 20 bulan, 20 bulan artinya 1 tahun 8 bulan, jadi 4 + 1,8 = 5.8

4,20 berubah menjadi 5,8, baru kemudian ditambah dengan 8. Maka Berat badan Idealnya adalah 13,8 kg.

* BBL adalah Berat Badan Lahir Usia dinyatakan dalam bulan

Tabel Berat Badan Anak Sesuai Usia menurut WHO (to big for handphone):



Infobunda : http://www.infobunda.com/brt/412-Berat-Badan-Ideal-Si-Kecil.html#ixzz2qWon9Vai

   
Jumlah Posts : 2513
Jumlah di-Like : 7

Dear Bunda, Dalam pemeriksaan USG dapat melihat image jenis kelamin janin dengan baik ketika usia kehamilan antara 18-20 minggu, meski demikian hal ini tergantung dari berbagai kondisi. Apabila posisi sang janin memungkinkan maka dapat terlihat jelas image yang mengindikasi pada jenis kelamin laki-laki atau perempuan. Namun berbagai kendala dapat menyebabkan hasil pemeriksaan untuk melihat jenis kelamin tidak dapat dengan baik terlaksana, seperti posisi janin yang tidak menguntungkan, tebalnya lemak ibu dan sebagainya.

   


Jumlah Posts : 2513
Jumlah di-Like : 7

Dear Bunda, Dalam pemeriksaan USG dapat melihat image jenis kelamin janin dengan baik ketika usia kehamilan antara 18-20 minggu, meski demikian hal ini tergantung dari berbagai kondisi. Apabila posisi sang janin memungkinkan maka dapat terlihat jelas image yang mengindikasi pada jenis kelamin laki-laki atau perempuan. Namun berbagai kendala dapat menyebabkan hasil pemeriksaan untuk melihat jenis kelamin tidak dapat dengan baik terlaksana, seperti posisi janin yang tidak menguntungkan, tebalnya lemak ibu dan sebagainya.

   
Jumlah Posts : 73
Jumlah di-Like : belum ada like
buat yg beragama islam silahkan di bca sampai sel3sai ini certa nyta dr ust nai peruqyah internasional.. Nuruddin Al Indunissy CAESAR & AL QUR’AN, SEBAGAI SOLUSINYA. KEMARIN · PUBLIK Bismillah Assholatu wa Sallamu ala Rosulillah. Segala puji hanya milik Allah, Rabb yang maha luas dan kekal kasih sayangnya. Tulisan ini saya persembahkan bagi jiwa-jiwa yang sedang mencari ketenangan dan kemenangan haqiqi dalam naungan kebahagiaan islam. Dalam tulisan ini saya akan kupas secara mendalam, langkah dan tahapan bagaimana melahirkan dengan senyuman dan menangkal angkuhnya kejahatan system dunia farmasi dan industry rumahsakit. RumahSakit merupakan industry jasa yang sangat erat kaitannya dengan para pemegang dunia farmasi (industry dan penjual obat), sehingga bukan rahasia jika ada system yang serakah, yang mengikat mereka agar saling menguntungkan sementara korbannya adalah manusia secara umum dan muslim yang sekuler (memisahkan agama dengan kehidupan) dan materialis (mementingkan object yang terlihat dan mengabaikan dunia spiritual yang justru lebih besar perannya). Caesarean Sections/Section Caesaria atau lebih dikenal dengan “Operasi Caesar”, merupakan tindakan medis untuk mengeluarkan bayi dari rahim ibundanya dengan membedah/menyayat abdomen (perut) ibu. Proses Caesar ini terjadi dalam hitungan menit saja dan tidak sakit karena ibunda dibius terlebih dahulu, namun sehari pasca Caesar mulai terjadi sakit yang luarbiasa pada bekas operasi, punggung dan kepala. Kadang sakit ini berlanjut hingga tahun-tahun berikutnya saat ibunda batuk, bersin bahkan tertawa dan resiko pada kehamilan dan kelahiran berikutnya. Jika tindakan ini menimbulkan cacat permanent pada ibu, lalu kenapa banyak orang memilih untuk pasrah Caesar bahkan ada trend Caesar dikalangan ibu-ibu yang mengaku moderen? Maka berikut ini adalah alasan-alasan Caesar secara logis/normal: 1. Ukuran bayi terlalu besar, sementara panggul sang ibu kecil. 2. Bayi menderita kelainan misalnya spina bifida. 3. Posisi kepala janin tidak berada di bawah atau sungsang. 4. Sang ibu memiliki penyakit jantung atau kondisi medis lain yang berisiko memburuk akibat tekanan saat melahirkan. 5. Penurunan suplai darah ke plasenta sebelum kelahiran. Hal ini dapat menyebabkan bayi lahir dengan tubuh kecil. 6. Plasenta menghalangi leher rahim. 7. Luka terbuka yang disebabkan infeksi herpes genital yang aktif. 8. Sang ibu terinfeksi virus HIV. 9. Terdapat lebih dari satu janin dan kondisi kehamilan yang kompleks misalnya posisi janin yang kurang ideal atau kembar siam. Dan alasan lainya. Adapun trend Caesar, yang merupakan pilihan sendiri, baik karena menghindari sakitnya proses lahiran normal (semisal mulas pada bukaan 1 hingga 10, kerusakan/luka jahitan pada vagina, proses bukaan yang lama atau sakitnya saat melahirkan itu sendiri) ataupun ikut trend Caesar untuk memilik tanggal lahir yang cantik (caesar yang direncanakan) itu merupakan resiko sendiri dan bukan kesalahan dunia medis. Namun dari sebuah survey yang dikutip dari sebuah buku kehamilan oleh Nadia Mulya menunjukkan bahwa 394 responden memilih caesar karena beragam alasan. Sebanyak 83.5% di antaranya mengaku harus bersalin caesar karena keputusan dokter (komplikasi medis) atau ada indikasi medis yang mengancam keselamatan ibu dan bayi. Semoga Allah merahmati para dokter dan bidan yang jujur, memudahkan kehidupannya di dunia dan akhirat karena ini bagian dari profesi yang luhur yang menjadi solusi bagi kesulitan umat manusia di dunia modern ini. Masalah kemudian timbul, saat sebuah system memaksa mereka untuk melakukan hal yang ditolak nurani setiap manusia yang hidup hatinya. Bagaimana sikap seoran mukmin yang beriman pada taqdir menyikapi hal ini? Bukankah Allah azza wa jalla telah menentukan sunnatullah pada setiap wanita untuk mengalami kelahiran dengan normal jauh sebelum adanya Sectio Cesaria? Telah lama saya menghembuskan adanya indikasi gangguan non-medis pada proses Caesar, beberapa tahun silam saya mulai menteorikan lengkap dengan solusinya untuk mengatasi Caesar yang tidak direncanakan ini. Sebagaimana penelitian pribadi saya tentang adanya campur tangan musuh-musuh Allah (syaitan) pada banyak penyakit dalam yang kemudian mengarah pada operasi besar. Banyak sekali penyakit pada jasad yang divonis operasi (setelah melalui proses scaning yang moderen) namun kemudian tidak ditemukan penyakitnya. Alhamdulillah, dari training-training yang digelar dibawah bendera Yayasan RehabHati dan Yayasan Qur’anic Healing di Indonesia dan Malaysia banyak sekali testimony membahagiakan dari saudari-saudari kita yang tidak jadi Caesar setelah diupayakan melalui upaya spiritual dengan Teraphy Al Qur’an (ruqyah syariyyah), do’a dan sinerginya dengan Ath Tib An Nabawai atau metode pengobatan ala Nabi dengan memaksimalkan konsumsi Madu, Habbatussauda, Zaitun dan herbal Sunnah yang penuh berkah lainnya juga tidakan bekam dan upaya pengobatan tradisional lain. Alhamdulillah, bayi-bayi telah lahir dengan sempurna atas keagungan dan kekuasaan Allah melalui kedahsyatan teraphy Al Qur’an beberapa tahun kemudian setelah teori itu ditrainingkan. Bahkan salah satu trainer RehabHati yang juga praktii medis di salah satu RumahSakit Islam di Kota Wonogiri memberikan testimony yang mengejutkan bahwasannya setelah direktur rumahsakit yang juga kawan saya mengeluarkan intruksi untuk meruqyah setiap pasien yang mau Caesar 2 jam berikutnya banyak sekali –sekali lagi, banyak sekali– pasien yang tidak jadi dicaesar karena telah lahir terlebih dahulu. Anda pun, insya Allah akan melihat ramai testimony dibawah tulisan ini tentang kesaksian mereka yang telah mendapatkan berkah dari teraphy Al Qur’an ini. Setelah tahun demi tahun saya lalui dalam mensosialisasikan ruqyah syariyyah bersama team, Desember 2014 lalu saya Allah beri amanah seorang putera. Alhamdulillah lahir normal di salahsatu rumahsakit di kota Kediri. Tidak ada masalah, meski sebenarnya saya miris melihat beberapa suami dengan begitu mudahnya membubuhkan tanda-tangan Caesar untuk istrinya melalui jalur BPJS. Waktu berlalu cepat, April 2016 ini Allah memberi amanah yang kedua setelah melalui perjuangan yang panjang. Saya, ingin setiap ibu, setiap muslimah dan mukminah membaca tulisan dari jari seorang ayah ini. Seorang ayah yang mengerti bahwa melahirkan itu rasanya seperti setengah kematian, dan setelah lahiran nanti masih ada perjalanan panjang yang harus dilalui dengan tabah untuk mencapai jannah-Nya. 1 April 2016, saya sedang dalam perjalanan dari kota Sukabumi menuju kota Bogor. Istri memberitahu bahwasannya, besok, sepertinya tidak bisa menemani saya mengisi Mega Training RehabHati di kota Bogor karena mulai merasakan mulas dan sakit perut. Dan saya mengizinkannya, tentu saja meski saya tidak bisa menemani beliau mengingat MegaTraining di Bogor ini adalah salah satu event Pelatihan Ruqyah terbesar yang dikonsep beberapa bulan sebeumnya untuk menyakinkan 1000 peserta yang telah teregistrasi untuk hadir itu merasa nyaman, aman dan terkesan dalam menikmati Traning dan Teraphy Al Qur’an Gratis yang diselenggarakan Team RumahRehab Bogor. 2 April 2016, saya mengisi training dengan gelisah. Sambal sesekali melihat Handphone, seandainya saja ada kabar emergensi dari rumah karena diprediksi kisaran 12 April 2016 ini istri akan melahirkan anak keduanya. Dan malam harinya saya langsung pulang ke rumah kontrakan saya di Kota Wisata, Cibubur. 3 April 2016, Alhamdulillah kekhawatiran saya terobati. Istri sepertinya bukan mulas indikasi akan melahirkan, namun sakit perut biasa. Saya mengajak istri untuk check-up kerumahsakit, namun ia menolaknya. Saya menghormati keputusannya, dan diam-diam bertekad seandainya hingga besok dzuhur istri menolak kerumah sakit saya akan mengkondisikan agar ia bersedia dirawat. 4 April 16, 12.15 PM selepas dzuhur beliau memberi tahu bahwa lututnya mulai gemetar. Saya kaget ketika beliau mengatakan bahwa sehari semalam ini lebih dari 10 kali ke kamar mandi. Saya melihat indikasi muntaber, dan ini berbahaya, dalam kondisi mengandung bisa dehidrasi. 4 April 16, 12.45 PM taksi sudah ada didepan rumah dan membawa kami kesalah satu rumah sakit termegah di daerah ini, tentu saja bukan karena saya cukup uang namun untuk memastikan kenyamanan istri karena ini adalah hak dunia medis. Qodarullah, macet menghadang dan jam 14.00 Dokter kandungannya sudah pulang, dan baru akan buka lagi jam 17.00, akhirnya saya istri dan putra saya yang baru berusia 15 bulan belok ke salahsatu Mall untuk menunggu dokter. 4 April 16, 17.40 PM kami sudah bersama dokter pribadi istri, ia seorang muslimah muda yang ramah, berkerudung dan professional. Beliau menyimpulkan bahwa istri dehidrasi, dan air ketuban ada pada level 8 (standar sehat ada pada level 10). Dan saya menyetujui istri dirawat malam itu. Malam itu saya mulai merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang ayah, menggendong anak kesana-kemari, check-in rawat inap, tanda tangan sana-sini, dan yang lebih berat mengkondisikan bayi tidur dirumahsakit. Alhamdulillah, semua berlalu dengan baik karena kami mengambil kelas ruang rawat inap VIP. Cukup luas untuk saya dan anak saya, babysitter, dan tentunya istri yang malam itu divonis dehidrasi dan muntaber. Setelah check-up, USG, dirawat dan check lab diketahui bahwa muntaber istri disebabkan Jamur. Dan dokter, pagi itu memberitahukan dengan senyum lega bahwa untuk Jamur sudah ada obatnya. Istri boleh pulang pagi berikutnya. 5 April 16, 11.30 AM, Alhamdulillah kami pulang dengan tenang. Dan dihari yang sama bidan memberitahu kami bahwa kondisi kandungan sekarang aman dan sudah “bukaan 1”. Dalam proses persalinan ada proses yang bernama “Pembukaan”, pembukaan atau bukaan yang dimaksud adalah pembukaan atau prosesnya mulut Rahim dari 1 hingga 10. Proses bukaan ini terjadi secara bertahap dan alami, ada semacam asam atau gas yang mendorong bayi keluar. Bayi terdorong keluar karena dorongan gas dan mengkerutnya Rahim, sehingga mulut Rahim terbuka secara bertahap. Ini proses harus dilalui seorang ibu dengan tabah, sabar dan tawakkal. Jika menyerah, maka alternative lain adalah Caesar. 8 April 2016, istri masih muntaber dan semakin lemah. Seakan obat itu tidak mempan. Dan kami kembali lagi check-up, kerumahsakit yang sama. 8 April 2016, 9.30AM kami masuk melalui pintu IGD, dan langsung dibawa keruang persalinan. Di check, dan masih bukaan 1 dan kondisi makin lemah. 8 April 2016, 9.35 AM dokter dan 1 perawat disampingnya menyampaikan kepada saya bahwa kondisi semakin lemah, dan Air ketuban semakin menyusut. Prediksi beliau sudah “Level 6”, hingga disarankan untuk diberi perangsang (Induksi) atau Cesar. 8 April 2016, 9.50 AM, saya memutuskan untuk menolak dan mengupayakan sendiri terlebih dahulu dirumah. “Saya sendiri praktisi pengobat, seperti dokter. Hanya saja, kalau dokter dibidang medis saya bagian non-medis. Saya telah banyak menembukan bahwa masalah seperti ini ada indikasi non-medis, jadi saya ingin mengupayakan terlebih dahulu dirumah”. Dokter tersenyum dan mengangguk, beliau menyerahkan sepenuhnya kepada saya, dan kami pun pulang. 8 April 2016, 12.30 PM, saya kembali sampai dirumah. Otak saya mulai berputar mencari cara, teringat sahabat saya ust. Rahmat Bekam, ketua PBI Jabar sekarang yang selama ini memberikan saran-saran herbal secara ilmiah tentang penyakit melalui tinjauan medis. Dan Istri beliau, yang juga seorang Herbalis dan Bidan Thibun Nabawi memberi 4 saran kepada istri: 1. Konsumsi Habbatussauda (menambah mules). 2. Zaitun untuk melancarkan kelahiran, oles dan minum. 3. Minum air kelapa (untuk menormalkan kembali air ketuban) meskipun sebenarnya tidak ada cara untuk menambah air ketuban. 4. Bekam di pinggang. Dan pergelangan kaki kanan dibawah mata kaki yang merupakan titik untuk melancarkan proses pembukaan. Beliau juga, seperti saya kutif dari istri, menyarankan untuk ruqyah. “Jangan lupa ruqyah”, katanya. Saya teringat, beberapa tahun lalu pernah menemukan kasus dan menteorikan bahwa salah satu titik persembunyian syaitan yang menyebabkan keguguran adalah pada pergelangan atas kaki kanan dibawah mata kaki. 8 April 2016, 18.20 PM, selepas maghrib saya mulai mengawali proses ruqyah pada istri. PROSES RUQYAH 1 Ruqyah Syariyyah merupakan proses pembacaan Ayat Suci Al Qur’an kepada seorang mukmin yang sedang kesulitan, terutama ketika terikat/terbelenggu sebuah kondisi yang tidak dimengerti secara logis dengan harapan mendapatkan syfa atau kesembuha dan rahmat dari Allah azza wa jalla yang menciptakan dan menjaga setiap mahluk-Nya. Diawali dengan wudhu, menunaikan shalat maghrib, dan mempersiapkan 1 liter air kelapa muda dan air putih disampingnya untuk diruqyah bersamaan dengan istri. Dan istri menggunakan hijab sempurna agar khusyuk dan merupakan bagian dari adab do’a. Setelah mengucap Taawudz, Ayat Kursi, Al Falaq dan An Nas sebagai do’a perlindungan sebelum memulai ruqyah saya mengucapkan istighfar, sholawat dan berdo’a kepada Allah agar dilancarkan proses persalinan istri. Ini adalah muqodimah awal dalam setiap ruqyah syar’ie. Selanjutnya saya sentuhkan tangan kanan saya persis diperut istri, mendekatkan bibir kepadanya dan mulai membaca do’a-do’a Nabi sholallahu alaiyhi wa sallam untuk mengawali ruqyah. Kemudian membaca al Fatihah, Al Baqarah 1-4, 102, 163-164, 255-257, 284-286, Al Imran 18-19 dan bayi didalam mulai bergerak-gerak seakan musafir kehausan mendapat air segar. Saya mengulang-ngulang ayat itu dan bayi mulai motah berputar-putar hingga istri saya gelid an memegangi perutnya. Ruqyah dilanjutkan dengan membaca surah-surah berikutnya hingga selesai. Ada kesimpulan besar disini, selama ini saya yakin bahwa bayi sungsang dan terikat ari-ari bisa lahir dengan normal hanya mendengar testimony kawan-kawan alumni pelatihan ruqyah yang saya bina dan juga video-video keajaiban Al Qur’an saat dibacakan pada janin dalam kandungan dan kemudian bayi sujud –saat itu– saya merasakan sendiri bahwa bayi tidak hanya bergerak namun berputar. Masyaa Allah.. Selanjutnya saya meruqyah Air kelapa dan air putih untuk minumannya. Saya dekatkan bibir saya kepada dua wadah air dan membacakan surah al Fatihah 7x, Al Kafiruun 1x, Al Falaq dan An Nass masing-masing 3x. Nabi sholallahu alaiyhi wa sallam membacakan surah Al Kafirun kepada air yang dicampur garam saat mengobat luka sengatan. 9 April 2016, 18.20 PM Hari itu istri mencoba check kandungan di Klinik Bersalin Ranti di daerah ciangsana cibubur dan hasilnya menakjubkan, bidan disana mengatakan dengan penuh percaya diri bahwa air ketuban normal dan sudah mulai bukaan 2. Disana mulai ada cahaya yang merekah! Bahkan sang bidan disana menyimpulkan, masih ada satu minggu waktu untuk menunggu. Dan istri mengatakan, bahkan, bu bidan lela (istri rahmat bekam) sebelumnya prediksi bahwa masih ada dua minggu waktu. Hal ini membuat saya termenung, kenapa bisa-bisanya seorang dokter specialist menyarankan induksi dengan kondisi ketuban yang menakutkan? Apakah alat-alat itu terlalu modern? Kepenasaranan ini mulai menggelitik saya untuk menggali lebih dalam tentang apa itu Air ketuban. Saya menggalinya di internet dan juga menggali beberapa informasi dari istri tentang apa yang dokter lakukan saat USG dan kemudian menyimpulkan tentang air ketuban. Dan disini ada hal yang menarik lagi. Saat USG dokter memperlihatkan melalui layar kombinasi warna gelap, biasanya, selama usia kehamilan 1-9 bulan dilayar itu terlihat kondisi bayi dan bentuknya; tangan, jemari, kepala, kaki termasuk jenis kelaminnya. Saat alat detector ditempel di perut istri, tampilan pada layar itu hanya gelap, dengan kondisi demikian artinya air ketuban sudah hamper habis (dinding rahim melekat pada bayi, karena tidak ada air atau sedikit). Saya sontak teringat banyak kasus yang dilalui dalam teraphy ruqyah, pasien mengakui dan menyebutkan jenis penyakitnya terlihat di Xray, namun saat operasi tidak ada. Jika syaitan bisa mempengaruhi electron listrik, mempengaruhi dan merusak koneksi internet, laptop bahkan beberapa kehancuran pada bentuk-bentuk jasad, maka sangat mungkin juga mempengaruhi tampilan alat dokter kandungan. Masih segar diingatan saya ketika menteraphy seorang umaht di Kenya, afrika timur. Beliau mengaku 6 kali dioperasi dan 2 kalinya adalah operasi cesar, dari 4 operasi tersebut dokter mendeteksi benda hitam pada perutnya dan ketika dibedah benda itu tidak ada. Kasus ini banyak terjadi (sekali lagi, banyak terjadi) di rumahsakit dan kemudian mereka lari ke pengobatan alternative. Baiklah, saya melanjutkan upaya secara maksimum. Mendekatkan diri kepada Allah, menolong sebanyak-banyaknya muslimin-muslimah yang bisa ditolonga dan dimudahkan dengan teraphy Al Qur’an minggu itu. Termasuk upaya sedekah sesuai yang Allah mampukan dan takdirkan kepada kami, juga ibadah-ibadah lainnya. Berharap Allah subhanahu wa ta’ala mengampuni kami, karena tidak ada kesulitan kecuali disebabkan dosa dan kesalahan kita sendiri. Dihari yang sama saya mengisi private teraphy di rumah rehab bogor, 1 jam dari rumah. Hari itu saya sudah agak lega, tinggal menunggu hari lahir. Namun jujur, minggu itu kami lalui dengan sangat lama. “Hikmah itu selalu ada, dalam situasi tersulit sekalipun. Saat kita terbentur pada sebuah kondisi "tidak ada pilihan", sementara kaki lelah dan harus terus melangkah --maka-- disana Allah sedang mengajari kita untuk tabah. Menundukan kepala dalam-dalam, menyadari bahwa kita ini lemah tidak berdaya dihadapan ketetapan Allah yang maha gagah perkasa. Merasakan sebuah kekuatan sedang mengatur kita dengan kemahaanNya” 17 April 16, 11.35 PM. Istri saya mulai merasakan mulas hebat. Bapa Mertua dari Kediri sudah berjaga-jaga, dan Rafiq kecil tertidur pulas. Sambil memangkunya, saya berfikir keras. Seandainya dibawa kerumah sakit, apa yang akan terjadi dengan dia? Akhirnya kami menyimpulkan untuk kerumahsakit besok pagi. 18 April 16, 05.40 AM. Kami sudah ada diruang IGD, dan Istri dibawa ke ruang persalinan. Check-up dan lain-lain. Alhamdulillah sudah bukaan 3. Dan saya ke lantai 1 untuk Check-in. Istri dibawa kekamarnya. Kami tidak mengambil ruang VIP namun mengambil Ruang Kelas 1, dibawahnya. Pertimbangan mengambil ruang VIP sebelumnya adalah untuk menjaga hijab istri. Dan pertimbangan mengambil ruang kelas 1 adalah setelah kami tahu bahwa meski di ruang kelas 1, yang mana ada dua pasien tetap ada hijab. Dan yang lebih penting, ternyata semua kelas persalinannya diruang tertutup yang baik. Ini terjadi karena kami tidak pernah kerumahsakit sebelumnya. Hal yang mengesankan disana adalah ketika istri saya curhat tentang sikap salah satu bidan kepadanya, ia mengatakan ada bidan yang tidak ramah dan kasar saat cek sendiri diruang persalinan. Istri saya berkata, bidan itu berkata: “Ck..ck. Bagaimana bu upaya teraphynya. Diteraphy apa sih. Hipno-hipno gitu itu ya?” Katanya tanpa beban, bahwa seharusnya kamilah yang berkata dengan bangga karena tidak menerima atau menolak induksi minggu kemarin. Bayangkan kalau minggu kemarin melakukan induksi, pasti gagal karena belum saatnya. Dan kalau induksi gagal maka tindakan selanjutnya adalah Caesar. Istri saya menjawab: “Bukan, suami saya hanya membacakan al Qur’an kepada saya. Namanya terapy Ruqyah”. “Hh.. Yang paling penting kan mulesnya, untuk bukaan itu ya harus mules bukan diruqyah”. Kata bidan itu, menyakiti hati saya saat mendengarnya dari istri. Saya hanya berkata; “Sabar. Ini belum seberapa. Mereka hanya tidak tahu”. Jam demi jam, menit demi menit, detik demi detik selanjutnya saya mengawasi setiap gerak dan tindakan. Disamping istri, mengatur strategi, mengatur waktu, memotivasi, menemani dan yang terpenting memastikan si kaka Rafiq tidak bosan. Bukaan 4, 5, 6 dan 7 berlalu menggembirakan meski lebih lama dari normal. Prediksi lahiran adalah selepas dzuhur, selambatnya ashar. Sebelum ganti shift bidan menyimpulkan, selambat-lambatnya maghrib insyaAllah lahir. Murotal Al Qur’an terus mengalir mewarnai keluh kesah hati kami. 18 April 16, 02.40 PM. Bidan shift sore datang, berwajah tegas-professional dan berkata; “Bu. Check lagi”. Ia memegang perut istri, memasang alat denyut jantung dan mencetaknya. Dan menawarkan oksigen, serta menaruh disampingnya. Dan ia menyimpulkan masih bukaan 7, dan menyarankan dibawa keruang persalinan. Alasannya sangat logis, agar nanti tidak buru-buru saat kontraksi. Dan saya menerimanya tanpa alasan. 18 April 16, 02.55 PM. Istri sudah diruang persalinan, dipasang infus dan selang oksigen. Hal ini membuat ayah mertua panic dan menelpon ibu mertua untuk segera kejakarta. Saya memperhatikan dengan seksama, drama ini. 18 April 16, 03.03 PM. Suster tadi kembali dan membawa selembar kertas dan papan yang ia dekap didadanya. “Bapa, ini sudah jam 3, dan saatnya lahiran. Namun kondisi mulas malah makin berkurang. Saya izin untuk memasang akselerator” kata bidan itu sangat elegan membuat saya hati-hati untuk bicara. “Akselerator, apa bedanya dengan induksi?” Jawab saya. “Beda. Kalau induksi itu membuat mulas sebelum mulas. Kalau akselerator itu menambah mulas setelah mulas. Agar lancer dan cepat lahir.” Katanya sambil senyum. Saya diam. Dan lalu menimpali. “Sama saja. Apa tidak bisa tunggu sebentar?” Kata saya kemudian. “Sudah saatnya pa, ini saran dokter” katanya. Padahal entah dimanakah bu dokter itu. “Kalau tunggu dulu bagaimana, saya kan bilang tidak mau di induksi?” Jawab saya. “Kalau bapa nolak, bapa harus menandatangani bahwa bapa menolak tindakan medis” Katanya sambil menggerak-gerakan kertas ditangannya dan tidak lupa senyum. “Tunggu satu jam!” Tukas saya. “Iya, kalau bapa nolak harus tanda tangan. Lagian, bapa ini sudah dua kali nolak induksi. Kita harus cek, ada apa ini?” Katanya membuat urat leher saya menegang. “Baik, apa susahnya tanda tangan? Tapi tujuan anda minta izin kan sebagai persetujuan. Dan ingat, praduga dokter itu juga bisa salah. Saya menunggu dari 2 minggu lalu detik-demi-detiknya. Dan, bayangkan kalau saya setuju induksi minggu lalu. Sudah rusak istri saya. Jangan samakan saya dengan pasien-pasien BPJS anda!” jawab saya meninggi. Suster itu diam, dan berkata singkat; “Baik” lalu pergi. 6 Jam dari saat itu adalah waktu sulit kami. Tidak ada poses bukaan, mulas sudah berkurang. Suster tidak lagi diruangan hanya sesekali mengecek. Diruangan sebelah terdengar jeritan tangisan bayi berulang-ulang menandai telah lahir jiwa baru. Namun kami masih menunggu, dan disaat itu pula Allah tunjukan keagungan-Nya. 18 April 16, 07.40PM. Maghrib dan Isya sudah berlalu, do’a sudah dihantar kelangit. Al Qur’an mengalun, ruangan sepi. Diblok lain Rafiq bersama bibinya sudah tertidur pulas setelah main sendiri seharian tanpa ayah dan ibunya. Dan ini adalah hal pertama baginya. Mertua saya pergi ke Airport menjemput ibu Mertua. Tinggal saya dan Istri. Wajah istri mulai pucat sudah lebih dari 20 jam proses bukaan 3 sampai 7 dan terkunci disini. Bidan mengabarkan; “Pa. jika bapa tetap tidak mau induksi. Sebaiknya dibawa lagi ke kamar inap”. Saya hanya mengangguk lemas, namun didada saya masih membara sebuah keyakinan bahwa Allah menciptakan sesuatu dengan perencanaan dan jalan-jalan. Jangankan janin manusia, anai-anai dan semut kecil saja sudah Allah atur hidup dan matinya. Milyaran bakteri Allah atur hidup matinya dalam hitungan jam, apalagi manusia. Suster sibuk diruang sebelah, dan saya melepaskan genggaman tangan istri dan meletakannya di perut. Mulai melakukan upaya terakhir, sebelum istri dibawa kembali ke ruang rawat inap. PROSES RUQYAH 2. Pertama saya memberitahu dan mengajak istri untuk menghentikan proses dzikir. Karena selama proses menunggu bukaan berikutnya, saya sarankan istri untuk beberapa kalimah yang agung, diantaranya; berdzikir “Laa ilaaha illa anta subhanaka inni kuntum minadzolimiin”, karena itu yang diucapkan Nabi yunus saat ada dalam puncak kesulitan diperut ikan. Juga dzikir “Ya Hayyu Ya Qayyum” karena itu hal yang diucapkan Nabi sholallahu alaiyhi wa sallam saat ia ada dalam kondisi genting. Selanjutnya, karena masih punya wudhu, saya langsung memulainya dengan Ta’awudz, Basmallah dan surah al Fatihah dengan suara lirih dan kemudian semakin menguat. Posisi bibir sangat dekat dengan Rahim istri. Seperti ruqyah biasa saya mulai dengan Al Fatihah, Al Baqarah (1-4, 163-164, 255-257, 284-286) dan saya mengulang-ngulang secara menyeluruh tiap ayatnya sebanyak 3 sampai 7 kali, dan mengulangnya lebih banyak pada surah al Baqarah ayat 257. Kemudian dilanjut surah Al Imrah ayat 18-19 dan pada ulangan yang ke3 atau 4 saya mendengar istri berbisik lirih. “Bi. Ada sesuatu yang mengalir keluar”, katanya. Dan saya mengecek ternyata ada cairan, lendir dan bercampur darah mengalir. Saya memberitahu suster yang ada diluar da nada dua suster yang masuk mengecek dan positive ketuban pecah. Allahuakbar! Kedua suster itu pun segera membenahi ruangan dan peralatan yang disiapkan. Saya mengabari ayah ibu mertua dan juga ayah ibu kandung, memohon do’a mereka agar dimudahkan. 18 April 16, 08.50 PM Ketuban pecah dan Bukaan 8. 18 April 16, 09.40 PM Bukaan 9. 18 April 16, 10.10 PM, Dokter datang dan kepala bayi sudah meraksuk keluar. Dokter sigap menangani proses lahiran dan jam 10.15 malam itu Salman Al Farisi, putra kedua kami terlahir dengan sempurna. Berat 3.04 kg dan panjang 50cm. Saya memuji Allah subhanahu wa ta’ala dan membacakan ucapan selamat datang kepada putra kedua dengan lantunan Syahadatain ditelinganya dan kemudian mentahniknya. Sesaat setelah lahiran, dan bayi mulai di observasi. Seorang suster yang baik hati, yang mengurusi proses terakhir lahiran itu berkata kepada Istri; “Bu. Disamping sedang operasi Caesar, padahal ia masuk bareng ibu dan saat itu ia juga disaranin induksi namun gagal”. Banyak sekali proses Induksi dan Caesar yang tidak wajar terjadi, tidak semua kesalahan terjadi pada praktisi medis karena mereka hanyalah instrument dari dunia farmasi dan industri rumahsakit. Kesalahan terbesar adalah pada sistem yang jahat dan kelemahan iman yang membuat ketawakalan seseorang berkurang, terlindas dunia dan orang-orang materialist. 19 April 16, 05PM, Dokter mengizinkan pulang. Seharian dikamar inap, saya dan istri mendengar rintihan pasien sebelah yang tidak henti-hentinya. Beliau di Caesar 2 hari kemarin dan hari pertama memang tidak ada tanda-tanda penderitaan, namun hari kedua saya menyaksikan derita wanita-wanita yang dioperasi. Rasa panas bekas sayatan dan jahitan, juga sakit yang menjalar dipunggung dan kepala. Selama masih ada tawakal yang tersisa, maka jangan sekali-kali serahkan istri anda untuk di Caesar. Tindakan ini hanya boleh diambil saat tidak ada pilihan, atau dalam kondisi khusus. Jangan cepat menelan mentah-mentah apa yang diprediksi dokter pengobatan dokter adalah dugaan manusia sementara Al Qur’an adalah wahyu yang pasti. Wallahu ta’ala alam.
   
Jumlah Posts : 73
Jumlah di-Like : belum ada like
buat yg beragama islam silahkan di bca sampai sel3sai ini certa nyta dr ust nai peruqyah internasional.. Nuruddin Al Indunissy CAESAR & AL QUR’AN, SEBAGAI SOLUSINYA. KEMARIN · PUBLIK Bismillah Assholatu wa Sallamu ala Rosulillah. Segala puji hanya milik Allah, Rabb yang maha luas dan kekal kasih sayangnya. Tulisan ini saya persembahkan bagi jiwa-jiwa yang sedang mencari ketenangan dan kemenangan haqiqi dalam naungan kebahagiaan islam. Dalam tulisan ini saya akan kupas secara mendalam, langkah dan tahapan bagaimana melahirkan dengan senyuman dan menangkal angkuhnya kejahatan system dunia farmasi dan industry rumahsakit. RumahSakit merupakan industry jasa yang sangat erat kaitannya dengan para pemegang dunia farmasi (industry dan penjual obat), sehingga bukan rahasia jika ada system yang serakah, yang mengikat mereka agar saling menguntungkan sementara korbannya adalah manusia secara umum dan muslim yang sekuler (memisahkan agama dengan kehidupan) dan materialis (mementingkan object yang terlihat dan mengabaikan dunia spiritual yang justru lebih besar perannya). Caesarean Sections/Section Caesaria atau lebih dikenal dengan “Operasi Caesar”, merupakan tindakan medis untuk mengeluarkan bayi dari rahim ibundanya dengan membedah/menyayat abdomen (perut) ibu. Proses Caesar ini terjadi dalam hitungan menit saja dan tidak sakit karena ibunda dibius terlebih dahulu, namun sehari pasca Caesar mulai terjadi sakit yang luarbiasa pada bekas operasi, punggung dan kepala. Kadang sakit ini berlanjut hingga tahun-tahun berikutnya saat ibunda batuk, bersin bahkan tertawa dan resiko pada kehamilan dan kelahiran berikutnya. Jika tindakan ini menimbulkan cacat permanent pada ibu, lalu kenapa banyak orang memilih untuk pasrah Caesar bahkan ada trend Caesar dikalangan ibu-ibu yang mengaku moderen? Maka berikut ini adalah alasan-alasan Caesar secara logis/normal: 1. Ukuran bayi terlalu besar, sementara panggul sang ibu kecil. 2. Bayi menderita kelainan misalnya spina bifida. 3. Posisi kepala janin tidak berada di bawah atau sungsang. 4. Sang ibu memiliki penyakit jantung atau kondisi medis lain yang berisiko memburuk akibat tekanan saat melahirkan. 5. Penurunan suplai darah ke plasenta sebelum kelahiran. Hal ini dapat menyebabkan bayi lahir dengan tubuh kecil. 6. Plasenta menghalangi leher rahim. 7. Luka terbuka yang disebabkan infeksi herpes genital yang aktif. 8. Sang ibu terinfeksi virus HIV. 9. Terdapat lebih dari satu janin dan kondisi kehamilan yang kompleks misalnya posisi janin yang kurang ideal atau kembar siam. Dan alasan lainya. Adapun trend Caesar, yang merupakan pilihan sendiri, baik karena menghindari sakitnya proses lahiran normal (semisal mulas pada bukaan 1 hingga 10, kerusakan/luka jahitan pada vagina, proses bukaan yang lama atau sakitnya saat melahirkan itu sendiri) ataupun ikut trend Caesar untuk memilik tanggal lahir yang cantik (caesar yang direncanakan) itu merupakan resiko sendiri dan bukan kesalahan dunia medis. Namun dari sebuah survey yang dikutip dari sebuah buku kehamilan oleh Nadia Mulya menunjukkan bahwa 394 responden memilih caesar karena beragam alasan. Sebanyak 83.5% di antaranya mengaku harus bersalin caesar karena keputusan dokter (komplikasi medis) atau ada indikasi medis yang mengancam keselamatan ibu dan bayi. Semoga Allah merahmati para dokter dan bidan yang jujur, memudahkan kehidupannya di dunia dan akhirat karena ini bagian dari profesi yang luhur yang menjadi solusi bagi kesulitan umat manusia di dunia modern ini. Masalah kemudian timbul, saat sebuah system memaksa mereka untuk melakukan hal yang ditolak nurani setiap manusia yang hidup hatinya. Bagaimana sikap seoran mukmin yang beriman pada taqdir menyikapi hal ini? Bukankah Allah azza wa jalla telah menentukan sunnatullah pada setiap wanita untuk mengalami kelahiran dengan normal jauh sebelum adanya Sectio Cesaria? Telah lama saya menghembuskan adanya indikasi gangguan non-medis pada proses Caesar, beberapa tahun silam saya mulai menteorikan lengkap dengan solusinya untuk mengatasi Caesar yang tidak direncanakan ini. Sebagaimana penelitian pribadi saya tentang adanya campur tangan musuh-musuh Allah (syaitan) pada banyak penyakit dalam yang kemudian mengarah pada operasi besar. Banyak sekali penyakit pada jasad yang divonis operasi (setelah melalui proses scaning yang moderen) namun kemudian tidak ditemukan penyakitnya. Alhamdulillah, dari training-training yang digelar dibawah bendera Yayasan RehabHati dan Yayasan Qur’anic Healing di Indonesia dan Malaysia banyak sekali testimony membahagiakan dari saudari-saudari kita yang tidak jadi Caesar setelah diupayakan melalui upaya spiritual dengan Teraphy Al Qur’an (ruqyah syariyyah), do’a dan sinerginya dengan Ath Tib An Nabawai atau metode pengobatan ala Nabi dengan memaksimalkan konsumsi Madu, Habbatussauda, Zaitun dan herbal Sunnah yang penuh berkah lainnya juga tidakan bekam dan upaya pengobatan tradisional lain. Alhamdulillah, bayi-bayi telah lahir dengan sempurna atas keagungan dan kekuasaan Allah melalui kedahsyatan teraphy Al Qur’an beberapa tahun kemudian setelah teori itu ditrainingkan. Bahkan salah satu trainer RehabHati yang juga praktii medis di salah satu RumahSakit Islam di Kota Wonogiri memberikan testimony yang mengejutkan bahwasannya setelah direktur rumahsakit yang juga kawan saya mengeluarkan intruksi untuk meruqyah setiap pasien yang mau Caesar 2 jam berikutnya banyak sekali –sekali lagi, banyak sekali– pasien yang tidak jadi dicaesar karena telah lahir terlebih dahulu. Anda pun, insya Allah akan melihat ramai testimony dibawah tulisan ini tentang kesaksian mereka yang telah mendapatkan berkah dari teraphy Al Qur’an ini. Setelah tahun demi tahun saya lalui dalam mensosialisasikan ruqyah syariyyah bersama team, Desember 2014 lalu saya Allah beri amanah seorang putera. Alhamdulillah lahir normal di salahsatu rumahsakit di kota Kediri. Tidak ada masalah, meski sebenarnya saya miris melihat beberapa suami dengan begitu mudahnya membubuhkan tanda-tangan Caesar untuk istrinya melalui jalur BPJS. Waktu berlalu cepat, April 2016 ini Allah memberi amanah yang kedua setelah melalui perjuangan yang panjang. Saya, ingin setiap ibu, setiap muslimah dan mukminah membaca tulisan dari jari seorang ayah ini. Seorang ayah yang mengerti bahwa melahirkan itu rasanya seperti setengah kematian, dan setelah lahiran nanti masih ada perjalanan panjang yang harus dilalui dengan tabah untuk mencapai jannah-Nya. 1 April 2016, saya sedang dalam perjalanan dari kota Sukabumi menuju kota Bogor. Istri memberitahu bahwasannya, besok, sepertinya tidak bisa menemani saya mengisi Mega Training RehabHati di kota Bogor karena mulai merasakan mulas dan sakit perut. Dan saya mengizinkannya, tentu saja meski saya tidak bisa menemani beliau mengingat MegaTraining di Bogor ini adalah salah satu event Pelatihan Ruqyah terbesar yang dikonsep beberapa bulan sebeumnya untuk menyakinkan 1000 peserta yang telah teregistrasi untuk hadir itu merasa nyaman, aman dan terkesan dalam menikmati Traning dan Teraphy Al Qur’an Gratis yang diselenggarakan Team RumahRehab Bogor. 2 April 2016, saya mengisi training dengan gelisah. Sambal sesekali melihat Handphone, seandainya saja ada kabar emergensi dari rumah karena diprediksi kisaran 12 April 2016 ini istri akan melahirkan anak keduanya. Dan malam harinya saya langsung pulang ke rumah kontrakan saya di Kota Wisata, Cibubur. 3 April 2016, Alhamdulillah kekhawatiran saya terobati. Istri sepertinya bukan mulas indikasi akan melahirkan, namun sakit perut biasa. Saya mengajak istri untuk check-up kerumahsakit, namun ia menolaknya. Saya menghormati keputusannya, dan diam-diam bertekad seandainya hingga besok dzuhur istri menolak kerumah sakit saya akan mengkondisikan agar ia bersedia dirawat. 4 April 16, 12.15 PM selepas dzuhur beliau memberi tahu bahwa lututnya mulai gemetar. Saya kaget ketika beliau mengatakan bahwa sehari semalam ini lebih dari 10 kali ke kamar mandi. Saya melihat indikasi muntaber, dan ini berbahaya, dalam kondisi mengandung bisa dehidrasi. 4 April 16, 12.45 PM taksi sudah ada didepan rumah dan membawa kami kesalah satu rumah sakit termegah di daerah ini, tentu saja bukan karena saya cukup uang namun untuk memastikan kenyamanan istri karena ini adalah hak dunia medis. Qodarullah, macet menghadang dan jam 14.00 Dokter kandungannya sudah pulang, dan baru akan buka lagi jam 17.00, akhirnya saya istri dan putra saya yang baru berusia 15 bulan belok ke salahsatu Mall untuk menunggu dokter. 4 April 16, 17.40 PM kami sudah bersama dokter pribadi istri, ia seorang muslimah muda yang ramah, berkerudung dan professional. Beliau menyimpulkan bahwa istri dehidrasi, dan air ketuban ada pada level 8 (standar sehat ada pada level 10). Dan saya menyetujui istri dirawat malam itu. Malam itu saya mulai merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang ayah, menggendong anak kesana-kemari, check-in rawat inap, tanda tangan sana-sini, dan yang lebih berat mengkondisikan bayi tidur dirumahsakit. Alhamdulillah, semua berlalu dengan baik karena kami mengambil kelas ruang rawat inap VIP. Cukup luas untuk saya dan anak saya, babysitter, dan tentunya istri yang malam itu divonis dehidrasi dan muntaber. Setelah check-up, USG, dirawat dan check lab diketahui bahwa muntaber istri disebabkan Jamur. Dan dokter, pagi itu memberitahukan dengan senyum lega bahwa untuk Jamur sudah ada obatnya. Istri boleh pulang pagi berikutnya. 5 April 16, 11.30 AM, Alhamdulillah kami pulang dengan tenang. Dan dihari yang sama bidan memberitahu kami bahwa kondisi kandungan sekarang aman dan sudah “bukaan 1”. Dalam proses persalinan ada proses yang bernama “Pembukaan”, pembukaan atau bukaan yang dimaksud adalah pembukaan atau prosesnya mulut Rahim dari 1 hingga 10. Proses bukaan ini terjadi secara bertahap dan alami, ada semacam asam atau gas yang mendorong bayi keluar. Bayi terdorong keluar karena dorongan gas dan mengkerutnya Rahim, sehingga mulut Rahim terbuka secara bertahap. Ini proses harus dilalui seorang ibu dengan tabah, sabar dan tawakkal. Jika menyerah, maka alternative lain adalah Caesar. 8 April 2016, istri masih muntaber dan semakin lemah. Seakan obat itu tidak mempan. Dan kami kembali lagi check-up, kerumahsakit yang sama. 8 April 2016, 9.30AM kami masuk melalui pintu IGD, dan langsung dibawa keruang persalinan. Di check, dan masih bukaan 1 dan kondisi makin lemah. 8 April 2016, 9.35 AM dokter dan 1 perawat disampingnya menyampaikan kepada saya bahwa kondisi semakin lemah, dan Air ketuban semakin menyusut. Prediksi beliau sudah “Level 6”, hingga disarankan untuk diberi perangsang (Induksi) atau Cesar. 8 April 2016, 9.50 AM, saya memutuskan untuk menolak dan mengupayakan sendiri terlebih dahulu dirumah. “Saya sendiri praktisi pengobat, seperti dokter. Hanya saja, kalau dokter dibidang medis saya bagian non-medis. Saya telah banyak menembukan bahwa masalah seperti ini ada indikasi non-medis, jadi saya ingin mengupayakan terlebih dahulu dirumah”. Dokter tersenyum dan mengangguk, beliau menyerahkan sepenuhnya kepada saya, dan kami pun pulang. 8 April 2016, 12.30 PM, saya kembali sampai dirumah. Otak saya mulai berputar mencari cara, teringat sahabat saya ust. Rahmat Bekam, ketua PBI Jabar sekarang yang selama ini memberikan saran-saran herbal secara ilmiah tentang penyakit melalui tinjauan medis. Dan Istri beliau, yang juga seorang Herbalis dan Bidan Thibun Nabawi memberi 4 saran kepada istri: 1. Konsumsi Habbatussauda (menambah mules). 2. Zaitun untuk melancarkan kelahiran, oles dan minum. 3. Minum air kelapa (untuk menormalkan kembali air ketuban) meskipun sebenarnya tidak ada cara untuk menambah air ketuban. 4. Bekam di pinggang. Dan pergelangan kaki kanan dibawah mata kaki yang merupakan titik untuk melancarkan proses pembukaan. Beliau juga, seperti saya kutif dari istri, menyarankan untuk ruqyah. “Jangan lupa ruqyah”, katanya. Saya teringat, beberapa tahun lalu pernah menemukan kasus dan menteorikan bahwa salah satu titik persembunyian syaitan yang menyebabkan keguguran adalah pada pergelangan atas kaki kanan dibawah mata kaki. 8 April 2016, 18.20 PM, selepas maghrib saya mulai mengawali proses ruqyah pada istri. PROSES RUQYAH 1 Ruqyah Syariyyah merupakan proses pembacaan Ayat Suci Al Qur’an kepada seorang mukmin yang sedang kesulitan, terutama ketika terikat/terbelenggu sebuah kondisi yang tidak dimengerti secara logis dengan harapan mendapatkan syfa atau kesembuha dan rahmat dari Allah azza wa jalla yang menciptakan dan menjaga setiap mahluk-Nya. Diawali dengan wudhu, menunaikan shalat maghrib, dan mempersiapkan 1 liter air kelapa muda dan air putih disampingnya untuk diruqyah bersamaan dengan istri. Dan istri menggunakan hijab sempurna agar khusyuk dan merupakan bagian dari adab do’a. Setelah mengucap Taawudz, Ayat Kursi, Al Falaq dan An Nas sebagai do’a perlindungan sebelum memulai ruqyah saya mengucapkan istighfar, sholawat dan berdo’a kepada Allah agar dilancarkan proses persalinan istri. Ini adalah muqodimah awal dalam setiap ruqyah syar’ie. Selanjutnya saya sentuhkan tangan kanan saya persis diperut istri, mendekatkan bibir kepadanya dan mulai membaca do’a-do’a Nabi sholallahu alaiyhi wa sallam untuk mengawali ruqyah. Kemudian membaca al Fatihah, Al Baqarah 1-4, 102, 163-164, 255-257, 284-286, Al Imran 18-19 dan bayi didalam mulai bergerak-gerak seakan musafir kehausan mendapat air segar. Saya mengulang-ngulang ayat itu dan bayi mulai motah berputar-putar hingga istri saya gelid an memegangi perutnya. Ruqyah dilanjutkan dengan membaca surah-surah berikutnya hingga selesai. Ada kesimpulan besar disini, selama ini saya yakin bahwa bayi sungsang dan terikat ari-ari bisa lahir dengan normal hanya mendengar testimony kawan-kawan alumni pelatihan ruqyah yang saya bina dan juga video-video keajaiban Al Qur’an saat dibacakan pada janin dalam kandungan dan kemudian bayi sujud –saat itu– saya merasakan sendiri bahwa bayi tidak hanya bergerak namun berputar. Masyaa Allah.. Selanjutnya saya meruqyah Air kelapa dan air putih untuk minumannya. Saya dekatkan bibir saya kepada dua wadah air dan membacakan surah al Fatihah 7x, Al Kafiruun 1x, Al Falaq dan An Nass masing-masing 3x. Nabi sholallahu alaiyhi wa sallam membacakan surah Al Kafirun kepada air yang dicampur garam saat mengobat luka sengatan. 9 April 2016, 18.20 PM Hari itu istri mencoba check kandungan di Klinik Bersalin Ranti di daerah ciangsana cibubur dan hasilnya menakjubkan, bidan disana mengatakan dengan penuh percaya diri bahwa air ketuban normal dan sudah mulai bukaan 2. Disana mulai ada cahaya yang merekah! Bahkan sang bidan disana menyimpulkan, masih ada satu minggu waktu untuk menunggu. Dan istri mengatakan, bahkan, bu bidan lela (istri rahmat bekam) sebelumnya prediksi bahwa masih ada dua minggu waktu. Hal ini membuat saya termenung, kenapa bisa-bisanya seorang dokter specialist menyarankan induksi dengan kondisi ketuban yang menakutkan? Apakah alat-alat itu terlalu modern? Kepenasaranan ini mulai menggelitik saya untuk menggali lebih dalam tentang apa itu Air ketuban. Saya menggalinya di internet dan juga menggali beberapa informasi dari istri tentang apa yang dokter lakukan saat USG dan kemudian menyimpulkan tentang air ketuban. Dan disini ada hal yang menarik lagi. Saat USG dokter memperlihatkan melalui layar kombinasi warna gelap, biasanya, selama usia kehamilan 1-9 bulan dilayar itu terlihat kondisi bayi dan bentuknya; tangan, jemari, kepala, kaki termasuk jenis kelaminnya. Saat alat detector ditempel di perut istri, tampilan pada layar itu hanya gelap, dengan kondisi demikian artinya air ketuban sudah hamper habis (dinding rahim melekat pada bayi, karena tidak ada air atau sedikit). Saya sontak teringat banyak kasus yang dilalui dalam teraphy ruqyah, pasien mengakui dan menyebutkan jenis penyakitnya terlihat di Xray, namun saat operasi tidak ada. Jika syaitan bisa mempengaruhi electron listrik, mempengaruhi dan merusak koneksi internet, laptop bahkan beberapa kehancuran pada bentuk-bentuk jasad, maka sangat mungkin juga mempengaruhi tampilan alat dokter kandungan. Masih segar diingatan saya ketika menteraphy seorang umaht di Kenya, afrika timur. Beliau mengaku 6 kali dioperasi dan 2 kalinya adalah operasi cesar, dari 4 operasi tersebut dokter mendeteksi benda hitam pada perutnya dan ketika dibedah benda itu tidak ada. Kasus ini banyak terjadi (sekali lagi, banyak terjadi) di rumahsakit dan kemudian mereka lari ke pengobatan alternative. Baiklah, saya melanjutkan upaya secara maksimum. Mendekatkan diri kepada Allah, menolong sebanyak-banyaknya muslimin-muslimah yang bisa ditolonga dan dimudahkan dengan teraphy Al Qur’an minggu itu. Termasuk upaya sedekah sesuai yang Allah mampukan dan takdirkan kepada kami, juga ibadah-ibadah lainnya. Berharap Allah subhanahu wa ta’ala mengampuni kami, karena tidak ada kesulitan kecuali disebabkan dosa dan kesalahan kita sendiri. Dihari yang sama saya mengisi private teraphy di rumah rehab bogor, 1 jam dari rumah. Hari itu saya sudah agak lega, tinggal menunggu hari lahir. Namun jujur, minggu itu kami lalui dengan sangat lama. “Hikmah itu selalu ada, dalam situasi tersulit sekalipun. Saat kita terbentur pada sebuah kondisi "tidak ada pilihan", sementara kaki lelah dan harus terus melangkah --maka-- disana Allah sedang mengajari kita untuk tabah. Menundukan kepala dalam-dalam, menyadari bahwa kita ini lemah tidak berdaya dihadapan ketetapan Allah yang maha gagah perkasa. Merasakan sebuah kekuatan sedang mengatur kita dengan kemahaanNya” 17 April 16, 11.35 PM. Istri saya mulai merasakan mulas hebat. Bapa Mertua dari Kediri sudah berjaga-jaga, dan Rafiq kecil tertidur pulas. Sambil memangkunya, saya berfikir keras. Seandainya dibawa kerumah sakit, apa yang akan terjadi dengan dia? Akhirnya kami menyimpulkan untuk kerumahsakit besok pagi. 18 April 16, 05.40 AM. Kami sudah ada diruang IGD, dan Istri dibawa ke ruang persalinan. Check-up dan lain-lain. Alhamdulillah sudah bukaan 3. Dan saya ke lantai 1 untuk Check-in. Istri dibawa kekamarnya. Kami tidak mengambil ruang VIP namun mengambil Ruang Kelas 1, dibawahnya. Pertimbangan mengambil ruang VIP sebelumnya adalah untuk menjaga hijab istri. Dan pertimbangan mengambil ruang kelas 1 adalah setelah kami tahu bahwa meski di ruang kelas 1, yang mana ada dua pasien tetap ada hijab. Dan yang lebih penting, ternyata semua kelas persalinannya diruang tertutup yang baik. Ini terjadi karena kami tidak pernah kerumahsakit sebelumnya. Hal yang mengesankan disana adalah ketika istri saya curhat tentang sikap salah satu bidan kepadanya, ia mengatakan ada bidan yang tidak ramah dan kasar saat cek sendiri diruang persalinan. Istri saya berkata, bidan itu berkata: “Ck..ck. Bagaimana bu upaya teraphynya. Diteraphy apa sih. Hipno-hipno gitu itu ya?” Katanya tanpa beban, bahwa seharusnya kamilah yang berkata dengan bangga karena tidak menerima atau menolak induksi minggu kemarin. Bayangkan kalau minggu kemarin melakukan induksi, pasti gagal karena belum saatnya. Dan kalau induksi gagal maka tindakan selanjutnya adalah Caesar. Istri saya menjawab: “Bukan, suami saya hanya membacakan al Qur’an kepada saya. Namanya terapy Ruqyah”. “Hh.. Yang paling penting kan mulesnya, untuk bukaan itu ya harus mules bukan diruqyah”. Kata bidan itu, menyakiti hati saya saat mendengarnya dari istri. Saya hanya berkata; “Sabar. Ini belum seberapa. Mereka hanya tidak tahu”. Jam demi jam, menit demi menit, detik demi detik selanjutnya saya mengawasi setiap gerak dan tindakan. Disamping istri, mengatur strategi, mengatur waktu, memotivasi, menemani dan yang terpenting memastikan si kaka Rafiq tidak bosan. Bukaan 4, 5, 6 dan 7 berlalu menggembirakan meski lebih lama dari normal. Prediksi lahiran adalah selepas dzuhur, selambatnya ashar. Sebelum ganti shift bidan menyimpulkan, selambat-lambatnya maghrib insyaAllah lahir. Murotal Al Qur’an terus mengalir mewarnai keluh kesah hati kami. 18 April 16, 02.40 PM. Bidan shift sore datang, berwajah tegas-professional dan berkata; “Bu. Check lagi”. Ia memegang perut istri, memasang alat denyut jantung dan mencetaknya. Dan menawarkan oksigen, serta menaruh disampingnya. Dan ia menyimpulkan masih bukaan 7, dan menyarankan dibawa keruang persalinan. Alasannya sangat logis, agar nanti tidak buru-buru saat kontraksi. Dan saya menerimanya tanpa alasan. 18 April 16, 02.55 PM. Istri sudah diruang persalinan, dipasang infus dan selang oksigen. Hal ini membuat ayah mertua panic dan menelpon ibu mertua untuk segera kejakarta. Saya memperhatikan dengan seksama, drama ini. 18 April 16, 03.03 PM. Suster tadi kembali dan membawa selembar kertas dan papan yang ia dekap didadanya. “Bapa, ini sudah jam 3, dan saatnya lahiran. Namun kondisi mulas malah makin berkurang. Saya izin untuk memasang akselerator” kata bidan itu sangat elegan membuat saya hati-hati untuk bicara. “Akselerator, apa bedanya dengan induksi?” Jawab saya. “Beda. Kalau induksi itu membuat mulas sebelum mulas. Kalau akselerator itu menambah mulas setelah mulas. Agar lancer dan cepat lahir.” Katanya sambil senyum. Saya diam. Dan lalu menimpali. “Sama saja. Apa tidak bisa tunggu sebentar?” Kata saya kemudian. “Sudah saatnya pa, ini saran dokter” katanya. Padahal entah dimanakah bu dokter itu. “Kalau tunggu dulu bagaimana, saya kan bilang tidak mau di induksi?” Jawab saya. “Kalau bapa nolak, bapa harus menandatangani bahwa bapa menolak tindakan medis” Katanya sambil menggerak-gerakan kertas ditangannya dan tidak lupa senyum. “Tunggu satu jam!” Tukas saya. “Iya, kalau bapa nolak harus tanda tangan. Lagian, bapa ini sudah dua kali nolak induksi. Kita harus cek, ada apa ini?” Katanya membuat urat leher saya menegang. “Baik, apa susahnya tanda tangan? Tapi tujuan anda minta izin kan sebagai persetujuan. Dan ingat, praduga dokter itu juga bisa salah. Saya menunggu dari 2 minggu lalu detik-demi-detiknya. Dan, bayangkan kalau saya setuju induksi minggu lalu. Sudah rusak istri saya. Jangan samakan saya dengan pasien-pasien BPJS anda!” jawab saya meninggi. Suster itu diam, dan berkata singkat; “Baik” lalu pergi. 6 Jam dari saat itu adalah waktu sulit kami. Tidak ada poses bukaan, mulas sudah berkurang. Suster tidak lagi diruangan hanya sesekali mengecek. Diruangan sebelah terdengar jeritan tangisan bayi berulang-ulang menandai telah lahir jiwa baru. Namun kami masih menunggu, dan disaat itu pula Allah tunjukan keagungan-Nya. 18 April 16, 07.40PM. Maghrib dan Isya sudah berlalu, do’a sudah dihantar kelangit. Al Qur’an mengalun, ruangan sepi. Diblok lain Rafiq bersama bibinya sudah tertidur pulas setelah main sendiri seharian tanpa ayah dan ibunya. Dan ini adalah hal pertama baginya. Mertua saya pergi ke Airport menjemput ibu Mertua. Tinggal saya dan Istri. Wajah istri mulai pucat sudah lebih dari 20 jam proses bukaan 3 sampai 7 dan terkunci disini. Bidan mengabarkan; “Pa. jika bapa tetap tidak mau induksi. Sebaiknya dibawa lagi ke kamar inap”. Saya hanya mengangguk lemas, namun didada saya masih membara sebuah keyakinan bahwa Allah menciptakan sesuatu dengan perencanaan dan jalan-jalan. Jangankan janin manusia, anai-anai dan semut kecil saja sudah Allah atur hidup dan matinya. Milyaran bakteri Allah atur hidup matinya dalam hitungan jam, apalagi manusia. Suster sibuk diruang sebelah, dan saya melepaskan genggaman tangan istri dan meletakannya di perut. Mulai melakukan upaya terakhir, sebelum istri dibawa kembali ke ruang rawat inap. PROSES RUQYAH 2. Pertama saya memberitahu dan mengajak istri untuk menghentikan proses dzikir. Karena selama proses menunggu bukaan berikutnya, saya sarankan istri untuk beberapa kalimah yang agung, diantaranya; berdzikir “Laa ilaaha illa anta subhanaka inni kuntum minadzolimiin”, karena itu yang diucapkan Nabi yunus saat ada dalam puncak kesulitan diperut ikan. Juga dzikir “Ya Hayyu Ya Qayyum” karena itu hal yang diucapkan Nabi sholallahu alaiyhi wa sallam saat ia ada dalam kondisi genting. Selanjutnya, karena masih punya wudhu, saya langsung memulainya dengan Ta’awudz, Basmallah dan surah al Fatihah dengan suara lirih dan kemudian semakin menguat. Posisi bibir sangat dekat dengan Rahim istri. Seperti ruqyah biasa saya mulai dengan Al Fatihah, Al Baqarah (1-4, 163-164, 255-257, 284-286) dan saya mengulang-ngulang secara menyeluruh tiap ayatnya sebanyak 3 sampai 7 kali, dan mengulangnya lebih banyak pada surah al Baqarah ayat 257. Kemudian dilanjut surah Al Imrah ayat 18-19 dan pada ulangan yang ke3 atau 4 saya mendengar istri berbisik lirih. “Bi. Ada sesuatu yang mengalir keluar”, katanya. Dan saya mengecek ternyata ada cairan, lendir dan bercampur darah mengalir. Saya memberitahu suster yang ada diluar da nada dua suster yang masuk mengecek dan positive ketuban pecah. Allahuakbar! Kedua suster itu pun segera membenahi ruangan dan peralatan yang disiapkan. Saya mengabari ayah ibu mertua dan juga ayah ibu kandung, memohon do’a mereka agar dimudahkan. 18 April 16, 08.50 PM Ketuban pecah dan Bukaan 8. 18 April 16, 09.40 PM Bukaan 9. 18 April 16, 10.10 PM, Dokter datang dan kepala bayi sudah meraksuk keluar. Dokter sigap menangani proses lahiran dan jam 10.15 malam itu Salman Al Farisi, putra kedua kami terlahir dengan sempurna. Berat 3.04 kg dan panjang 50cm. Saya memuji Allah subhanahu wa ta’ala dan membacakan ucapan selamat datang kepada putra kedua dengan lantunan Syahadatain ditelinganya dan kemudian mentahniknya. Sesaat setelah lahiran, dan bayi mulai di observasi. Seorang suster yang baik hati, yang mengurusi proses terakhir lahiran itu berkata kepada Istri; “Bu. Disamping sedang operasi Caesar, padahal ia masuk bareng ibu dan saat itu ia juga disaranin induksi namun gagal”. Banyak sekali proses Induksi dan Caesar yang tidak wajar terjadi, tidak semua kesalahan terjadi pada praktisi medis karena mereka hanyalah instrument dari dunia farmasi dan industri rumahsakit. Kesalahan terbesar adalah pada sistem yang jahat dan kelemahan iman yang membuat ketawakalan seseorang berkurang, terlindas dunia dan orang-orang materialist. 19 April 16, 05PM, Dokter mengizinkan pulang. Seharian dikamar inap, saya dan istri mendengar rintihan pasien sebelah yang tidak henti-hentinya. Beliau di Caesar 2 hari kemarin dan hari pertama memang tidak ada tanda-tanda penderitaan, namun hari kedua saya menyaksikan derita wanita-wanita yang dioperasi. Rasa panas bekas sayatan dan jahitan, juga sakit yang menjalar dipunggung dan kepala. Selama masih ada tawakal yang tersisa, maka jangan sekali-kali serahkan istri anda untuk di Caesar. Tindakan ini hanya boleh diambil saat tidak ada pilihan, atau dalam kondisi khusus. Jangan cepat menelan mentah-mentah apa yang diprediksi dokter pengobatan dokter adalah dugaan manusia sementara Al Qur’an adalah wahyu yang pasti. Wallahu ta’ala alam.
   
Jumlah Posts : 73
Jumlah di-Like : belum ada like
buat yg beragama islam silahkan di bca sampai sel3sai ini certa nyta dr ust nai peruqyah internasional.. Nuruddin Al Indunissy CAESAR & AL QUR’AN, SEBAGAI SOLUSINYA. KEMARIN · PUBLIK Bismillah Assholatu wa Sallamu ala Rosulillah. Segala puji hanya milik Allah, Rabb yang maha luas dan kekal kasih sayangnya. Tulisan ini saya persembahkan bagi jiwa-jiwa yang sedang mencari ketenangan dan kemenangan haqiqi dalam naungan kebahagiaan islam. Dalam tulisan ini saya akan kupas secara mendalam, langkah dan tahapan bagaimana melahirkan dengan senyuman dan menangkal angkuhnya kejahatan system dunia farmasi dan industry rumahsakit. RumahSakit merupakan industry jasa yang sangat erat kaitannya dengan para pemegang dunia farmasi (industry dan penjual obat), sehingga bukan rahasia jika ada system yang serakah, yang mengikat mereka agar saling menguntungkan sementara korbannya adalah manusia secara umum dan muslim yang sekuler (memisahkan agama dengan kehidupan) dan materialis (mementingkan object yang terlihat dan mengabaikan dunia spiritual yang justru lebih besar perannya). Caesarean Sections/Section Caesaria atau lebih dikenal dengan “Operasi Caesar”, merupakan tindakan medis untuk mengeluarkan bayi dari rahim ibundanya dengan membedah/menyayat abdomen (perut) ibu. Proses Caesar ini terjadi dalam hitungan menit saja dan tidak sakit karena ibunda dibius terlebih dahulu, namun sehari pasca Caesar mulai terjadi sakit yang luarbiasa pada bekas operasi, punggung dan kepala. Kadang sakit ini berlanjut hingga tahun-tahun berikutnya saat ibunda batuk, bersin bahkan tertawa dan resiko pada kehamilan dan kelahiran berikutnya. Jika tindakan ini menimbulkan cacat permanent pada ibu, lalu kenapa banyak orang memilih untuk pasrah Caesar bahkan ada trend Caesar dikalangan ibu-ibu yang mengaku moderen? Maka berikut ini adalah alasan-alasan Caesar secara logis/normal: 1. Ukuran bayi terlalu besar, sementara panggul sang ibu kecil. 2. Bayi menderita kelainan misalnya spina bifida. 3. Posisi kepala janin tidak berada di bawah atau sungsang. 4. Sang ibu memiliki penyakit jantung atau kondisi medis lain yang berisiko memburuk akibat tekanan saat melahirkan. 5. Penurunan suplai darah ke plasenta sebelum kelahiran. Hal ini dapat menyebabkan bayi lahir dengan tubuh kecil. 6. Plasenta menghalangi leher rahim. 7. Luka terbuka yang disebabkan infeksi herpes genital yang aktif. 8. Sang ibu terinfeksi virus HIV. 9. Terdapat lebih dari satu janin dan kondisi kehamilan yang kompleks misalnya posisi janin yang kurang ideal atau kembar siam. Dan alasan lainya. Adapun trend Caesar, yang merupakan pilihan sendiri, baik karena menghindari sakitnya proses lahiran normal (semisal mulas pada bukaan 1 hingga 10, kerusakan/luka jahitan pada vagina, proses bukaan yang lama atau sakitnya saat melahirkan itu sendiri) ataupun ikut trend Caesar untuk memilik tanggal lahir yang cantik (caesar yang direncanakan) itu merupakan resiko sendiri dan bukan kesalahan dunia medis. Namun dari sebuah survey yang dikutip dari sebuah buku kehamilan oleh Nadia Mulya menunjukkan bahwa 394 responden memilih caesar karena beragam alasan. Sebanyak 83.5% di antaranya mengaku harus bersalin caesar karena keputusan dokter (komplikasi medis) atau ada indikasi medis yang mengancam keselamatan ibu dan bayi. Semoga Allah merahmati para dokter dan bidan yang jujur, memudahkan kehidupannya di dunia dan akhirat karena ini bagian dari profesi yang luhur yang menjadi solusi bagi kesulitan umat manusia di dunia modern ini. Masalah kemudian timbul, saat sebuah system memaksa mereka untuk melakukan hal yang ditolak nurani setiap manusia yang hidup hatinya. Bagaimana sikap seoran mukmin yang beriman pada taqdir menyikapi hal ini? Bukankah Allah azza wa jalla telah menentukan sunnatullah pada setiap wanita untuk mengalami kelahiran dengan normal jauh sebelum adanya Sectio Cesaria? Telah lama saya menghembuskan adanya indikasi gangguan non-medis pada proses Caesar, beberapa tahun silam saya mulai menteorikan lengkap dengan solusinya untuk mengatasi Caesar yang tidak direncanakan ini. Sebagaimana penelitian pribadi saya tentang adanya campur tangan musuh-musuh Allah (syaitan) pada banyak penyakit dalam yang kemudian mengarah pada operasi besar. Banyak sekali penyakit pada jasad yang divonis operasi (setelah melalui proses scaning yang moderen) namun kemudian tidak ditemukan penyakitnya. Alhamdulillah, dari training-training yang digelar dibawah bendera Yayasan RehabHati dan Yayasan Qur’anic Healing di Indonesia dan Malaysia banyak sekali testimony membahagiakan dari saudari-saudari kita yang tidak jadi Caesar setelah diupayakan melalui upaya spiritual dengan Teraphy Al Qur’an (ruqyah syariyyah), do’a dan sinerginya dengan Ath Tib An Nabawai atau metode pengobatan ala Nabi dengan memaksimalkan konsumsi Madu, Habbatussauda, Zaitun dan herbal Sunnah yang penuh berkah lainnya juga tidakan bekam dan upaya pengobatan tradisional lain. Alhamdulillah, bayi-bayi telah lahir dengan sempurna atas keagungan dan kekuasaan Allah melalui kedahsyatan teraphy Al Qur’an beberapa tahun kemudian setelah teori itu ditrainingkan. Bahkan salah satu trainer RehabHati yang juga praktii medis di salah satu RumahSakit Islam di Kota Wonogiri memberikan testimony yang mengejutkan bahwasannya setelah direktur rumahsakit yang juga kawan saya mengeluarkan intruksi untuk meruqyah setiap pasien yang mau Caesar 2 jam berikutnya banyak sekali –sekali lagi, banyak sekali– pasien yang tidak jadi dicaesar karena telah lahir terlebih dahulu. Anda pun, insya Allah akan melihat ramai testimony dibawah tulisan ini tentang kesaksian mereka yang telah mendapatkan berkah dari teraphy Al Qur’an ini. Setelah tahun demi tahun saya lalui dalam mensosialisasikan ruqyah syariyyah bersama team, Desember 2014 lalu saya Allah beri amanah seorang putera. Alhamdulillah lahir normal di salahsatu rumahsakit di kota Kediri. Tidak ada masalah, meski sebenarnya saya miris melihat beberapa suami dengan begitu mudahnya membubuhkan tanda-tangan Caesar untuk istrinya melalui jalur BPJS. Waktu berlalu cepat, April 2016 ini Allah memberi amanah yang kedua setelah melalui perjuangan yang panjang. Saya, ingin setiap ibu, setiap muslimah dan mukminah membaca tulisan dari jari seorang ayah ini. Seorang ayah yang mengerti bahwa melahirkan itu rasanya seperti setengah kematian, dan setelah lahiran nanti masih ada perjalanan panjang yang harus dilalui dengan tabah untuk mencapai jannah-Nya. 1 April 2016, saya sedang dalam perjalanan dari kota Sukabumi menuju kota Bogor. Istri memberitahu bahwasannya, besok, sepertinya tidak bisa menemani saya mengisi Mega Training RehabHati di kota Bogor karena mulai merasakan mulas dan sakit perut. Dan saya mengizinkannya, tentu saja meski saya tidak bisa menemani beliau mengingat MegaTraining di Bogor ini adalah salah satu event Pelatihan Ruqyah terbesar yang dikonsep beberapa bulan sebeumnya untuk menyakinkan 1000 peserta yang telah teregistrasi untuk hadir itu merasa nyaman, aman dan terkesan dalam menikmati Traning dan Teraphy Al Qur’an Gratis yang diselenggarakan Team RumahRehab Bogor. 2 April 2016, saya mengisi training dengan gelisah. Sambal sesekali melihat Handphone, seandainya saja ada kabar emergensi dari rumah karena diprediksi kisaran 12 April 2016 ini istri akan melahirkan anak keduanya. Dan malam harinya saya langsung pulang ke rumah kontrakan saya di Kota Wisata, Cibubur. 3 April 2016, Alhamdulillah kekhawatiran saya terobati. Istri sepertinya bukan mulas indikasi akan melahirkan, namun sakit perut biasa. Saya mengajak istri untuk check-up kerumahsakit, namun ia menolaknya. Saya menghormati keputusannya, dan diam-diam bertekad seandainya hingga besok dzuhur istri menolak kerumah sakit saya akan mengkondisikan agar ia bersedia dirawat. 4 April 16, 12.15 PM selepas dzuhur beliau memberi tahu bahwa lututnya mulai gemetar. Saya kaget ketika beliau mengatakan bahwa sehari semalam ini lebih dari 10 kali ke kamar mandi. Saya melihat indikasi muntaber, dan ini berbahaya, dalam kondisi mengandung bisa dehidrasi. 4 April 16, 12.45 PM taksi sudah ada didepan rumah dan membawa kami kesalah satu rumah sakit termegah di daerah ini, tentu saja bukan karena saya cukup uang namun untuk memastikan kenyamanan istri karena ini adalah hak dunia medis. Qodarullah, macet menghadang dan jam 14.00 Dokter kandungannya sudah pulang, dan baru akan buka lagi jam 17.00, akhirnya saya istri dan putra saya yang baru berusia 15 bulan belok ke salahsatu Mall untuk menunggu dokter. 4 April 16, 17.40 PM kami sudah bersama dokter pribadi istri, ia seorang muslimah muda yang ramah, berkerudung dan professional. Beliau menyimpulkan bahwa istri dehidrasi, dan air ketuban ada pada level 8 (standar sehat ada pada level 10). Dan saya menyetujui istri dirawat malam itu. Malam itu saya mulai merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang ayah, menggendong anak kesana-kemari, check-in rawat inap, tanda tangan sana-sini, dan yang lebih berat mengkondisikan bayi tidur dirumahsakit. Alhamdulillah, semua berlalu dengan baik karena kami mengambil kelas ruang rawat inap VIP. Cukup luas untuk saya dan anak saya, babysitter, dan tentunya istri yang malam itu divonis dehidrasi dan muntaber. Setelah check-up, USG, dirawat dan check lab diketahui bahwa muntaber istri disebabkan Jamur. Dan dokter, pagi itu memberitahukan dengan senyum lega bahwa untuk Jamur sudah ada obatnya. Istri boleh pulang pagi berikutnya. 5 April 16, 11.30 AM, Alhamdulillah kami pulang dengan tenang. Dan dihari yang sama bidan memberitahu kami bahwa kondisi kandungan sekarang aman dan sudah “bukaan 1”. Dalam proses persalinan ada proses yang bernama “Pembukaan”, pembukaan atau bukaan yang dimaksud adalah pembukaan atau prosesnya mulut Rahim dari 1 hingga 10. Proses bukaan ini terjadi secara bertahap dan alami, ada semacam asam atau gas yang mendorong bayi keluar. Bayi terdorong keluar karena dorongan gas dan mengkerutnya Rahim, sehingga mulut Rahim terbuka secara bertahap. Ini proses harus dilalui seorang ibu dengan tabah, sabar dan tawakkal. Jika menyerah, maka alternative lain adalah Caesar. 8 April 2016, istri masih muntaber dan semakin lemah. Seakan obat itu tidak mempan. Dan kami kembali lagi check-up, kerumahsakit yang sama. 8 April 2016, 9.30AM kami masuk melalui pintu IGD, dan langsung dibawa keruang persalinan. Di check, dan masih bukaan 1 dan kondisi makin lemah. 8 April 2016, 9.35 AM dokter dan 1 perawat disampingnya menyampaikan kepada saya bahwa kondisi semakin lemah, dan Air ketuban semakin menyusut. Prediksi beliau sudah “Level 6”, hingga disarankan untuk diberi perangsang (Induksi) atau Cesar. 8 April 2016, 9.50 AM, saya memutuskan untuk menolak dan mengupayakan sendiri terlebih dahulu dirumah. “Saya sendiri praktisi pengobat, seperti dokter. Hanya saja, kalau dokter dibidang medis saya bagian non-medis. Saya telah banyak menembukan bahwa masalah seperti ini ada indikasi non-medis, jadi saya ingin mengupayakan terlebih dahulu dirumah”. Dokter tersenyum dan mengangguk, beliau menyerahkan sepenuhnya kepada saya, dan kami pun pulang. 8 April 2016, 12.30 PM, saya kembali sampai dirumah. Otak saya mulai berputar mencari cara, teringat sahabat saya ust. Rahmat Bekam, ketua PBI Jabar sekarang yang selama ini memberikan saran-saran herbal secara ilmiah tentang penyakit melalui tinjauan medis. Dan Istri beliau, yang juga seorang Herbalis dan Bidan Thibun Nabawi memberi 4 saran kepada istri: 1. Konsumsi Habbatussauda (menambah mules). 2. Zaitun untuk melancarkan kelahiran, oles dan minum. 3. Minum air kelapa (untuk menormalkan kembali air ketuban) meskipun sebenarnya tidak ada cara untuk menambah air ketuban. 4. Bekam di pinggang. Dan pergelangan kaki kanan dibawah mata kaki yang merupakan titik untuk melancarkan proses pembukaan. Beliau juga, seperti saya kutif dari istri, menyarankan untuk ruqyah. “Jangan lupa ruqyah”, katanya. Saya teringat, beberapa tahun lalu pernah menemukan kasus dan menteorikan bahwa salah satu titik persembunyian syaitan yang menyebabkan keguguran adalah pada pergelangan atas kaki kanan dibawah mata kaki. 8 April 2016, 18.20 PM, selepas maghrib saya mulai mengawali proses ruqyah pada istri. PROSES RUQYAH 1 Ruqyah Syariyyah merupakan proses pembacaan Ayat Suci Al Qur’an kepada seorang mukmin yang sedang kesulitan, terutama ketika terikat/terbelenggu sebuah kondisi yang tidak dimengerti secara logis dengan harapan mendapatkan syfa atau kesembuha dan rahmat dari Allah azza wa jalla yang menciptakan dan menjaga setiap mahluk-Nya. Diawali dengan wudhu, menunaikan shalat maghrib, dan mempersiapkan 1 liter air kelapa muda dan air putih disampingnya untuk diruqyah bersamaan dengan istri. Dan istri menggunakan hijab sempurna agar khusyuk dan merupakan bagian dari adab do’a. Setelah mengucap Taawudz, Ayat Kursi, Al Falaq dan An Nas sebagai do’a perlindungan sebelum memulai ruqyah saya mengucapkan istighfar, sholawat dan berdo’a kepada Allah agar dilancarkan proses persalinan istri. Ini adalah muqodimah awal dalam setiap ruqyah syar’ie. Selanjutnya saya sentuhkan tangan kanan saya persis diperut istri, mendekatkan bibir kepadanya dan mulai membaca do’a-do’a Nabi sholallahu alaiyhi wa sallam untuk mengawali ruqyah. Kemudian membaca al Fatihah, Al Baqarah 1-4, 102, 163-164, 255-257, 284-286, Al Imran 18-19 dan bayi didalam mulai bergerak-gerak seakan musafir kehausan mendapat air segar. Saya mengulang-ngulang ayat itu dan bayi mulai motah berputar-putar hingga istri saya gelid an memegangi perutnya. Ruqyah dilanjutkan dengan membaca surah-surah berikutnya hingga selesai. Ada kesimpulan besar disini, selama ini saya yakin bahwa bayi sungsang dan terikat ari-ari bisa lahir dengan normal hanya mendengar testimony kawan-kawan alumni pelatihan ruqyah yang saya bina dan juga video-video keajaiban Al Qur’an saat dibacakan pada janin dalam kandungan dan kemudian bayi sujud –saat itu– saya merasakan sendiri bahwa bayi tidak hanya bergerak namun berputar. Masyaa Allah.. Selanjutnya saya meruqyah Air kelapa dan air putih untuk minumannya. Saya dekatkan bibir saya kepada dua wadah air dan membacakan surah al Fatihah 7x, Al Kafiruun 1x, Al Falaq dan An Nass masing-masing 3x. Nabi sholallahu alaiyhi wa sallam membacakan surah Al Kafirun kepada air yang dicampur garam saat mengobat luka sengatan. 9 April 2016, 18.20 PM Hari itu istri mencoba check kandungan di Klinik Bersalin Ranti di daerah ciangsana cibubur dan hasilnya menakjubkan, bidan disana mengatakan dengan penuh percaya diri bahwa air ketuban normal dan sudah mulai bukaan 2. Disana mulai ada cahaya yang merekah! Bahkan sang bidan disana menyimpulkan, masih ada satu minggu waktu untuk menunggu. Dan istri mengatakan, bahkan, bu bidan lela (istri rahmat bekam) sebelumnya prediksi bahwa masih ada dua minggu waktu. Hal ini membuat saya termenung, kenapa bisa-bisanya seorang dokter specialist menyarankan induksi dengan kondisi ketuban yang menakutkan? Apakah alat-alat itu terlalu modern? Kepenasaranan ini mulai menggelitik saya untuk menggali lebih dalam tentang apa itu Air ketuban. Saya menggalinya di internet dan juga menggali beberapa informasi dari istri tentang apa yang dokter lakukan saat USG dan kemudian menyimpulkan tentang air ketuban. Dan disini ada hal yang menarik lagi. Saat USG dokter memperlihatkan melalui layar kombinasi warna gelap, biasanya, selama usia kehamilan 1-9 bulan dilayar itu terlihat kondisi bayi dan bentuknya; tangan, jemari, kepala, kaki termasuk jenis kelaminnya. Saat alat detector ditempel di perut istri, tampilan pada layar itu hanya gelap, dengan kondisi demikian artinya air ketuban sudah hamper habis (dinding rahim melekat pada bayi, karena tidak ada air atau sedikit). Saya sontak teringat banyak kasus yang dilalui dalam teraphy ruqyah, pasien mengakui dan menyebutkan jenis penyakitnya terlihat di Xray, namun saat operasi tidak ada. Jika syaitan bisa mempengaruhi electron listrik, mempengaruhi dan merusak koneksi internet, laptop bahkan beberapa kehancuran pada bentuk-bentuk jasad, maka sangat mungkin juga mempengaruhi tampilan alat dokter kandungan. Masih segar diingatan saya ketika menteraphy seorang umaht di Kenya, afrika timur. Beliau mengaku 6 kali dioperasi dan 2 kalinya adalah operasi cesar, dari 4 operasi tersebut dokter mendeteksi benda hitam pada perutnya dan ketika dibedah benda itu tidak ada. Kasus ini banyak terjadi (sekali lagi, banyak terjadi) di rumahsakit dan kemudian mereka lari ke pengobatan alternative. Baiklah, saya melanjutkan upaya secara maksimum. Mendekatkan diri kepada Allah, menolong sebanyak-banyaknya muslimin-muslimah yang bisa ditolonga dan dimudahkan dengan teraphy Al Qur’an minggu itu. Termasuk upaya sedekah sesuai yang Allah mampukan dan takdirkan kepada kami, juga ibadah-ibadah lainnya. Berharap Allah subhanahu wa ta’ala mengampuni kami, karena tidak ada kesulitan kecuali disebabkan dosa dan kesalahan kita sendiri. Dihari yang sama saya mengisi private teraphy di rumah rehab bogor, 1 jam dari rumah. Hari itu saya sudah agak lega, tinggal menunggu hari lahir. Namun jujur, minggu itu kami lalui dengan sangat lama. “Hikmah itu selalu ada, dalam situasi tersulit sekalipun. Saat kita terbentur pada sebuah kondisi "tidak ada pilihan", sementara kaki lelah dan harus terus melangkah --maka-- disana Allah sedang mengajari kita untuk tabah. Menundukan kepala dalam-dalam, menyadari bahwa kita ini lemah tidak berdaya dihadapan ketetapan Allah yang maha gagah perkasa. Merasakan sebuah kekuatan sedang mengatur kita dengan kemahaanNya” 17 April 16, 11.35 PM. Istri saya mulai merasakan mulas hebat. Bapa Mertua dari Kediri sudah berjaga-jaga, dan Rafiq kecil tertidur pulas. Sambil memangkunya, saya berfikir keras. Seandainya dibawa kerumah sakit, apa yang akan terjadi dengan dia? Akhirnya kami menyimpulkan untuk kerumahsakit besok pagi. 18 April 16, 05.40 AM. Kami sudah ada diruang IGD, dan Istri dibawa ke ruang persalinan. Check-up dan lain-lain. Alhamdulillah sudah bukaan 3. Dan saya ke lantai 1 untuk Check-in. Istri dibawa kekamarnya. Kami tidak mengambil ruang VIP namun mengambil Ruang Kelas 1, dibawahnya. Pertimbangan mengambil ruang VIP sebelumnya adalah untuk menjaga hijab istri. Dan pertimbangan mengambil ruang kelas 1 adalah setelah kami tahu bahwa meski di ruang kelas 1, yang mana ada dua pasien tetap ada hijab. Dan yang lebih penting, ternyata semua kelas persalinannya diruang tertutup yang baik. Ini terjadi karena kami tidak pernah kerumahsakit sebelumnya. Hal yang mengesankan disana adalah ketika istri saya curhat tentang sikap salah satu bidan kepadanya, ia mengatakan ada bidan yang tidak ramah dan kasar saat cek sendiri diruang persalinan. Istri saya berkata, bidan itu berkata: “Ck..ck. Bagaimana bu upaya teraphynya. Diteraphy apa sih. Hipno-hipno gitu itu ya?” Katanya tanpa beban, bahwa seharusnya kamilah yang berkata dengan bangga karena tidak menerima atau menolak induksi minggu kemarin. Bayangkan kalau minggu kemarin melakukan induksi, pasti gagal karena belum saatnya. Dan kalau induksi gagal maka tindakan selanjutnya adalah Caesar. Istri saya menjawab: “Bukan, suami saya hanya membacakan al Qur’an kepada saya. Namanya terapy Ruqyah”. “Hh.. Yang paling penting kan mulesnya, untuk bukaan itu ya harus mules bukan diruqyah”. Kata bidan itu, menyakiti hati saya saat mendengarnya dari istri. Saya hanya berkata; “Sabar. Ini belum seberapa. Mereka hanya tidak tahu”. Jam demi jam, menit demi menit, detik demi detik selanjutnya saya mengawasi setiap gerak dan tindakan. Disamping istri, mengatur strategi, mengatur waktu, memotivasi, menemani dan yang terpenting memastikan si kaka Rafiq tidak bosan. Bukaan 4, 5, 6 dan 7 berlalu menggembirakan meski lebih lama dari normal. Prediksi lahiran adalah selepas dzuhur, selambatnya ashar. Sebelum ganti shift bidan menyimpulkan, selambat-lambatnya maghrib insyaAllah lahir. Murotal Al Qur’an terus mengalir mewarnai keluh kesah hati kami. 18 April 16, 02.40 PM. Bidan shift sore datang, berwajah tegas-professional dan berkata; “Bu. Check lagi”. Ia memegang perut istri, memasang alat denyut jantung dan mencetaknya. Dan menawarkan oksigen, serta menaruh disampingnya. Dan ia menyimpulkan masih bukaan 7, dan menyarankan dibawa keruang persalinan. Alasannya sangat logis, agar nanti tidak buru-buru saat kontraksi. Dan saya menerimanya tanpa alasan. 18 April 16, 02.55 PM. Istri sudah diruang persalinan, dipasang infus dan selang oksigen. Hal ini membuat ayah mertua panic dan menelpon ibu mertua untuk segera kejakarta. Saya memperhatikan dengan seksama, drama ini. 18 April 16, 03.03 PM. Suster tadi kembali dan membawa selembar kertas dan papan yang ia dekap didadanya. “Bapa, ini sudah jam 3, dan saatnya lahiran. Namun kondisi mulas malah makin berkurang. Saya izin untuk memasang akselerator” kata bidan itu sangat elegan membuat saya hati-hati untuk bicara. “Akselerator, apa bedanya dengan induksi?” Jawab saya. “Beda. Kalau induksi itu membuat mulas sebelum mulas. Kalau akselerator itu menambah mulas setelah mulas. Agar lancer dan cepat lahir.” Katanya sambil senyum. Saya diam. Dan lalu menimpali. “Sama saja. Apa tidak bisa tunggu sebentar?” Kata saya kemudian. “Sudah saatnya pa, ini saran dokter” katanya. Padahal entah dimanakah bu dokter itu. “Kalau tunggu dulu bagaimana, saya kan bilang tidak mau di induksi?” Jawab saya. “Kalau bapa nolak, bapa harus menandatangani bahwa bapa menolak tindakan medis” Katanya sambil menggerak-gerakan kertas ditangannya dan tidak lupa senyum. “Tunggu satu jam!” Tukas saya. “Iya, kalau bapa nolak harus tanda tangan. Lagian, bapa ini sudah dua kali nolak induksi. Kita harus cek, ada apa ini?” Katanya membuat urat leher saya menegang. “Baik, apa susahnya tanda tangan? Tapi tujuan anda minta izin kan sebagai persetujuan. Dan ingat, praduga dokter itu juga bisa salah. Saya menunggu dari 2 minggu lalu detik-demi-detiknya. Dan, bayangkan kalau saya setuju induksi minggu lalu. Sudah rusak istri saya. Jangan samakan saya dengan pasien-pasien BPJS anda!” jawab saya meninggi. Suster itu diam, dan berkata singkat; “Baik” lalu pergi. 6 Jam dari saat itu adalah waktu sulit kami. Tidak ada poses bukaan, mulas sudah berkurang. Suster tidak lagi diruangan hanya sesekali mengecek. Diruangan sebelah terdengar jeritan tangisan bayi berulang-ulang menandai telah lahir jiwa baru. Namun kami masih menunggu, dan disaat itu pula Allah tunjukan keagungan-Nya. 18 April 16, 07.40PM. Maghrib dan Isya sudah berlalu, do’a sudah dihantar kelangit. Al Qur’an mengalun, ruangan sepi. Diblok lain Rafiq bersama bibinya sudah tertidur pulas setelah main sendiri seharian tanpa ayah dan ibunya. Dan ini adalah hal pertama baginya. Mertua saya pergi ke Airport menjemput ibu Mertua. Tinggal saya dan Istri. Wajah istri mulai pucat sudah lebih dari 20 jam proses bukaan 3 sampai 7 dan terkunci disini. Bidan mengabarkan; “Pa. jika bapa tetap tidak mau induksi. Sebaiknya dibawa lagi ke kamar inap”. Saya hanya mengangguk lemas, namun didada saya masih membara sebuah keyakinan bahwa Allah menciptakan sesuatu dengan perencanaan dan jalan-jalan. Jangankan janin manusia, anai-anai dan semut kecil saja sudah Allah atur hidup dan matinya. Milyaran bakteri Allah atur hidup matinya dalam hitungan jam, apalagi manusia. Suster sibuk diruang sebelah, dan saya melepaskan genggaman tangan istri dan meletakannya di perut. Mulai melakukan upaya terakhir, sebelum istri dibawa kembali ke ruang rawat inap. PROSES RUQYAH 2. Pertama saya memberitahu dan mengajak istri untuk menghentikan proses dzikir. Karena selama proses menunggu bukaan berikutnya, saya sarankan istri untuk beberapa kalimah yang agung, diantaranya; berdzikir “Laa ilaaha illa anta subhanaka inni kuntum minadzolimiin”, karena itu yang diucapkan Nabi yunus saat ada dalam puncak kesulitan diperut ikan. Juga dzikir “Ya Hayyu Ya Qayyum” karena itu hal yang diucapkan Nabi sholallahu alaiyhi wa sallam saat ia ada dalam kondisi genting. Selanjutnya, karena masih punya wudhu, saya langsung memulainya dengan Ta’awudz, Basmallah dan surah al Fatihah dengan suara lirih dan kemudian semakin menguat. Posisi bibir sangat dekat dengan Rahim istri. Seperti ruqyah biasa saya mulai dengan Al Fatihah, Al Baqarah (1-4, 163-164, 255-257, 284-286) dan saya mengulang-ngulang secara menyeluruh tiap ayatnya sebanyak 3 sampai 7 kali, dan mengulangnya lebih banyak pada surah al Baqarah ayat 257. Kemudian dilanjut surah Al Imrah ayat 18-19 dan pada ulangan yang ke3 atau 4 saya mendengar istri berbisik lirih. “Bi. Ada sesuatu yang mengalir keluar”, katanya. Dan saya mengecek ternyata ada cairan, lendir dan bercampur darah mengalir. Saya memberitahu suster yang ada diluar da nada dua suster yang masuk mengecek dan positive ketuban pecah. Allahuakbar! Kedua suster itu pun segera membenahi ruangan dan peralatan yang disiapkan. Saya mengabari ayah ibu mertua dan juga ayah ibu kandung, memohon do’a mereka agar dimudahkan. 18 April 16, 08.50 PM Ketuban pecah dan Bukaan 8. 18 April 16, 09.40 PM Bukaan 9. 18 April 16, 10.10 PM, Dokter datang dan kepala bayi sudah meraksuk keluar. Dokter sigap menangani proses lahiran dan jam 10.15 malam itu Salman Al Farisi, putra kedua kami terlahir dengan sempurna. Berat 3.04 kg dan panjang 50cm. Saya memuji Allah subhanahu wa ta’ala dan membacakan ucapan selamat datang kepada putra kedua dengan lantunan Syahadatain ditelinganya dan kemudian mentahniknya. Sesaat setelah lahiran, dan bayi mulai di observasi. Seorang suster yang baik hati, yang mengurusi proses terakhir lahiran itu berkata kepada Istri; “Bu. Disamping sedang operasi Caesar, padahal ia masuk bareng ibu dan saat itu ia juga disaranin induksi namun gagal”. Banyak sekali proses Induksi dan Caesar yang tidak wajar terjadi, tidak semua kesalahan terjadi pada praktisi medis karena mereka hanyalah instrument dari dunia farmasi dan industri rumahsakit. Kesalahan terbesar adalah pada sistem yang jahat dan kelemahan iman yang membuat ketawakalan seseorang berkurang, terlindas dunia dan orang-orang materialist. 19 April 16, 05PM, Dokter mengizinkan pulang. Seharian dikamar inap, saya dan istri mendengar rintihan pasien sebelah yang tidak henti-hentinya. Beliau di Caesar 2 hari kemarin dan hari pertama memang tidak ada tanda-tanda penderitaan, namun hari kedua saya menyaksikan derita wanita-wanita yang dioperasi. Rasa panas bekas sayatan dan jahitan, juga sakit yang menjalar dipunggung dan kepala. Selama masih ada tawakal yang tersisa, maka jangan sekali-kali serahkan istri anda untuk di Caesar. Tindakan ini hanya boleh diambil saat tidak ada pilihan, atau dalam kondisi khusus. Jangan cepat menelan mentah-mentah apa yang diprediksi dokter pengobatan dokter adalah dugaan manusia sementara Al Qur’an adalah wahyu yang pasti. Wallahu ta’ala alam.
   
27-10-2015 15:31:24 berat badan si ibu
Jumlah Posts : 2513
Jumlah di-Like : 7

Dear Bunda, Dalam pemeriksaan USG dapat melihat image jenis kelamin janin dengan baik ketika usia kehamilan antara 18-20 minggu, meski demikian hal ini tergantung dari berbagai kondisi. Apabila posisi sang janin memungkinkan maka dapat terlihat jelas image yang mengindikasi pada jenis kelamin laki-laki atau perempuan. Namun berbagai kendala dapat menyebabkan hasil pemeriksaan untuk melihat jenis kelamin tidak dapat dengan baik terlaksana, seperti posisi janin yang tidak menguntungkan, tebalnya lemak ibu dan sebagainya

   
18-09-2015 13:49:05 Hamil anak kedua
Jumlah Posts : 326
Jumlah di-Like : belum ada like

 WEANING WITH LOVE (WWL): Menyapih Dengan Cinta

Bunda si kecil sudah 2 tahun ya, aduh sudah saatnya disapih nih, bisa gak ya??

Menyusui merupakan kedekatan yang sangat intens antara ibu dan bayinya. Sehingga saat harus melalui proses menyapih, seringkali ibu merasa tak tega untuk melakukannya. Demikian pula bagi si bayi, yang juga tak rela berpisah dari ibunya. Akibatnya, proses yang sebenarnya alamiah ini, maju mundur bahkan menimbulkan masalah yang bisa menjadi momok bagi ibu dan anak.

Kapan waktu yang tepat untuk menyapih?

Menentukan kapan anak perlu disapih, terkadang bukan keputusan mudah. Walau memang sudah masanya, terkadang justru bunda belum siap untuk menyapih.

Berikut yang perlu kita perhatikan:

1. Ibu ingin menyapih, anak belum siap. Alasan ibu ingin menyapih, karena tidak menikmati kegiatan menyusui, kelelahan atau sibuk bekerja.

Saran ahli:

  • Jika anak masih di rentang usia menyusui, pikirkan kembali apakah ia perlu disapih? Bila alasannya tidak mendesak, tunda dulu niat menyapih.
  • Bila kurang menikmati kegiatan menyusui, atasi pencetus masalahnya. Semisal, bila puting ibu sakit, atasi dengan cara menyusui yang benar.

Bila menyusui terasa membosankan, ubah jadi menyenangkan sambil mendengarkan musik

2. Anak ingin disapih, ibu belum siap. Anak tidak tertarik lagi minum ASI dari payudara dan ingin minum dari cangkir. Padahal ibu masih ingin menyusui dan ASI banyak.

Saran ahli:

  • Tunda penyapihan dengan menciptakan suasana menyusui yang tenang, jauh dari rangsangan yang bisa membuyarkan konsentrasi anak
  • Jika anak sudah bisa diajak komunikasi, beri pengertian manfaat ASI dengan bahasa yang sederhana
  • Bila anak ingin tetap disapih, berpikir positif dan jangan sedih atau kecewa karena bisa mengganggu kerja hormon prolaktin dan oksitosin sehingga bisa menghambat produksi ASI.
  • Karena inisiatif datang dari anak, biasanya proses menyapih menjadi lebih mudah. Tetap berikan ASI, namun melalui cangkir

3. Ibu dan anak sama-sama tidak siap. Anjuran menyapih dari pihak luar, bukan kehendak ibu ataupun anak. Misalnya, lingkungan menganggap anak sudah besar sehingga perlu disapih.

Saran ahli:

  • Pemberian ASI dianjurkan hingga anak usia 2 tahun. Tapi jika ibu dan anak masih nyaman, boleh terus dilanjutkan. Kekurangannya, anak bisa menjadi manja, kurang mandiri, tergantung pada ibu dan jadi bahan ejekan.
  • Pada kasus ibuhamil lagi, keputusan menyapih atau tidak tergantung pada kesehatan kandungan

4. Penyapihan sementara. Bisa dialami bunda yang mendapat tugas sehingga harus meninggalkan anak. Atau bunda harus minum obat sehingga ASI "tercemar" dan tidak boleh diminumkan bayi

Saran ahli:

  • Bila bepergian lama, lakukan penyapihan sementara, setelah itu relaktasi. Selama bunda pergi anak minum ASI dari cangkir. Begitu bunda kembali, anak menyusu lagi dari payudara.
  • Jika menjalani pengobatan, ASI tetap diperah namun dibuang hanya untuk menjaga produksinya. Setelah pengobatan selesai, lakukan relaktasi.

Bagaimana tips menyapih dengan cinta?

Mestinya selama proses penyapihan itu tidak perlu terjadi saling menekan antara ibu dan anak karena proses tersebut alami. Menyapih bukan proses pemisahan hubungan antara ibu dan anak, baik secara fisik maupun emosi. Menyapih adalah bagian dari fase perkembangan yang harus dijalani oleh anak. Justru karena cinta Anda, anak harus melewati fase perkembangan ini untuk menghadapi fase perkembangan selanjutnya.

Tapi perlu diingat sebisa mungkin hindari menyapih anak dengan membohonginya. Kalau ada anjuran, olesi saja daerah areola Anda dengan buah mengkudu atau obat merah agar bayi tak ingin menyusu, abaikan saran ini. Menyapih anak dengan cara ini sama dengan melakukan kekerasan padanya. Anda mengambil paksa 'kepemilikannya', yang dapat menimbulkan luka batin.

Kerelaan Anda dan si bayi untuk mengakhiri kegiatan menyusu adalah kunci utama dari menyapih dengan cinta atau weaning with love. Lakukan sepenuh cinta dengan langkah-langkah ini:

  1. Kurangi frekuensi menyusui secara bertahap dimulai pada siang hari. Sebab pada saat inilah waktu yang tepat untuk mengenalkan dia pada sesuatu yang baru, seperti rasa, bentuk dan tekstur pada makanan pendamping ASI (MP-ASI).
  2. Tidur terpisah. Balita mau tak mau belajar menahan diri untuk tidak menyusu di malan hari. Dalam hal ini perlu kerja sama ayah seperti menemani tidur, agar balita tidak rewel ketika pisah dengan ibunya.
  3. Tambah pemberian MP-ASI sebanyak 3-4 kali sehari untuk mengurangi pemberian ASI pada siang hari.
  4. Tetapkan tempat menyusui hanya pada satu tempat, misalnya di kamar. Gunanya agar si kecil tidak meminta susu di sembarang tempat sekaligus mengajaknya untuk belajar mengenal aturan.
  5. Tunjukkan perhatian dan kasih sayang selama proses menyapih, misalnya mendekap, mengusap atau mencium agar anak tahu bahwa Anda tetap menyayangi dia meski Anda sudah tidak menyusuinya lagi.
  6. Ajak bicara. Sekalipun masih kecil, sedikit-sedikit balita bisa mengerti maksud kita, asalkan dijelaskan dengan bahasa sederhana dan lemah lembut
  7. Bulatkan tekad. Artinya Anda benar-benar siap untuk melepaskan aktivitas ini. Bila Anda ragu-ragu, Anda akan kesulitan sendiri. Keraguan Anda terbaca oleh anak. Alhasil, anak pun tidak rela disapih.
  8. Sapih anak saat ia dalam keadaan sehat, karena dalam keadaan sakit ia akan semakin butuh kelekatan dengan Anda.  
  9. Libatkan suami sebagai orang yang mampu menghibur dan mengalihkan perhatian anak ketika rewel minta ASI.
  10. Berikan penjelasan pada anak mengapa ia harus disapih. Misalnya, “Ayo, kamu sudah besar, sudah tidak perlu lagi menyusu bunda. Makan kue saja yuk. Atau minum susu di cangkir?” Lakukan dengan sabar, lembut dan cinta Anda. Jangan pernah bosan untuk memberikan alasan padanya.
  11. Ganti aktivitas menyusu dengan membaca buku atau mendongeng sebelum tidur. Aktivitas ini tidak jauh berbeda saat Anda menyusuinya bukan?

Ada aturannya? Pernyataan WHO dan UNICEF di Geneva pada tahun 2001, “Tidak ada keharusan anak disapih pada usia 2 tahun. Benar bila ibu menyusui bayi secara eksklusif di enam bulan pertama kehidupannya. Kemudian ASI dapat dilanjutkan secara bersamaan dengan MP-ASI hingga anak berusia 2 tahun. Tapi tidak ada keharusan kapan harus menyapih.” Penelitian Dewey KG, Pediatric Clinics of North American, tahun 2001, ASI masih boleh diberikan pada anak usia 2 tahun karena masih mengandung: 43% protein, 36% kalsium, 75% vitamin A, dan 60% vitamin C. 

Saat proses penyapihan terjadi, sebenarnya anak sedang berada pada fase alami untuk:

  • Belajar mengenal aneka ragam rasa dan tekstur makanan.
  • Latihan mengunyah makanan padat karena gigi dan rahangnya 'diuji' agar dapat berkembang secara optimal.
  • Latihan kemandirian, sebab anak tidak harus bergantung lagi pada ASI setiap ia merasa lapar atau haus. Dia sudah bisa menikmati makanan padatnya.
  • Latihan percaya pada orang lain dalam pemenuhan kebutuhannya. Saat ini Anda bukanlah satu-satunya orang yang bisa memenuhi kebutuhannya. Selain itu anak juga sedang berlatih untuk beradaptasi dan berinteraksi dengan orang lain.

Bagaimana jika anak tidak mau disapih?

Bagi anak, menyusu bukan sekadar kegiatan yang mengenyangkan perut. Menyusu juga memenuhi kebutuhan emosi anak. Berhenti menyusu bisa jadi masalah jika anak tidak siap untuk disapih dengan alasan:

  1. Tidak mau kehilangan kedekatan bersama ibu. Dia sudah mengerti kalau dia bisa memiliki perhatian dan waktu Anda seluruhnya hanya saat menyusu.
  2. Menikmati kontak kulit. Lewat sentuhan dan pelukan, dia merasa dicintai.
  3. Memberi ketenangan. Bagi balita Anda yang selalu aktif, saat menyusu adalah waktu dimana dia bisa tenang di tengah rasa ingin tahunya yang tinggi.
  4. Memberi kenikmatan oral dan bonusnya dia bisa mendapat susu.

Apa yang sebaiknya Anda lakukan? Upayakanlah agar anak berhenti menyusu tanpa membahayakan perkembangan fisik dan emosinya.  Kuncinya mudah saja, beri anak hubungan dekat dan rasa cinta yang sama seperti pertama kali Anda menyusui dirinya.

Ini kiatnya! Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua ketika anak menolak untuk disapih:

1. Jelaskan alasan Anda menyapihnya. Biasanya strategi yang Anda gunakan ketika ingin menyapih anak adalah dengan menjauhi anak. Namun pesan yang sampai pada anak berbeda, dia justru merasa Anda tidak ingin bersamanya lagi. Untuk menhindari hal ini, anak perlu penjelasan dan anak usia 2 tahun  sudah bisa mendengarkan dan memahami penjelasan Anda.

2. Alihkan perhatiannya. Anak  tidak bisa berhenti memikirkan tentang menyusu kecuali kesempatan tersebut muncul. Anda adalah orang yang bisa tahu kapan anak ingin menyusu pada Anda. Setiap kali dia mendekati Anda untuk meminta menyusu, segera ajak dia bermain atau melakukan kegiatan menyenangkan yang bisa membuat dia lupa tujuan awalnya mendekati Anda.

3. Tinggalkan kebiasaan saat menyusui. Bila Anda terbiasa menyusui dia sebelum tidur ganti ritual tersebut dengan membacakan dia dongeng. Jika Anda punya sudut favorit untuk menyusui anak, misalnya di sofa kamar, hindari duduk di sofa tersebut di jam-jam di mana Anda biasa menyusui anak.

4. Siap dengan camilan sehat pengganti ASI. Jika Anda ingin menyapih anak, pastikan Anda sudah menyediakan  camilan lezat dan sehat yang bisa memuaskan rasa laparnya.

5. Beri waktu. Anda tidak bisa langsung berhenti menyusuinya seketika. Lakukan secara perlahan-lahan karena jika tidak Anda justru bisa membuat anak mengalami kecemasan saat berpisah. Biasanya anak lebih mudah untuk mengurangi menyusu pada Anda, bila dia masih bisa mendapat jaminan di waktu menyusu favoritnya, misalnya pagi hari atau malam hari sebelum tidur.

Yuk tunjukkan kasih sayang kita kepada anak, sapihlah dengan cinta dan antar anak ke gerbang masa depan gemilangnya dengan cinta.

   
Jumlah Posts : 21
Jumlah di-Like : belum ada like
hai bunda bunda cantik,mau tanyak ne,usia kandunganku ud 37minggu,besok mau usg lg,utk lht anaknya udh masuk panggul ato blon.krn kepengen lahiran normal.kira kira apa sih tanda2 anaknya udh masuk panggul,soalnya kata dokter lahiran ku tggl 20 agustus ne.udh mengikuti senam hamil,kira2 bs gk y anaknya masuk panggul.oiaaa minta doa ya bunda2,agar aq bisa lahiran normal,trs ibu dan anaknya 22 na sehat...amin yra..tks
   
02-08-2015 09:16:45 normal berat badan ibu hamil
Jumlah Posts : 139
Jumlah di-Like : belum ada like
bbj saya dokter bilang masih normal ko bun dan sy liat tabel perkembangan bbj di info bunda jg tergolong masih normal. skr sy 34w6d. klo periksa di RS lingkar perut ga dijelasin tp lingkar kepala, plasenta, air ketuban, baby ny posisiny udh dibagus blm, panjang tulang kaki dan tangan, berat janin bun sesuai ga dgn umur kehamilan bun... kenaikan berat badan ibu hamil 15-20 kg klo ga salah bun.
   
Jumlah Posts : 326
Jumlah di-Like : belum ada like

ASI Lancar, Puasa Tak Lewat

(Sumber dari: AIMI *dengan perubahan seperlunya*)

Bulan Ramadhan hampir tiba. Bulan penuh ibadah bagi umat muslim di dunia. Salah satu ibadah yang wajib dilakukan setiap muslim yang telah baligh (cukup umur) adalah berpuasa. Nah, bagaimana dengan ibu hamil dan menyusui?

Puasa Ramadhan hukumnya tetap wajib bagi ibu hamil dan menyusui. Alhamdulillah, Islam memberikan kelonggaran bagi ibu hamil dan menyusui untuk tidak berpuasa dengan berpuasa di lain waktu atau membayar fidyah.

Yang pertama, dikembalikan kepada motivasi atau niat. Jika ibu hamil dan menyusui tidak melakukan ibadah puasa karena mengkhawatirkan kesehatan dirinya, maka dia menganggap dirinya seperti orang sakit. Sehingga cara mengganti puasa sama dengan mengganti puasa dikala orang sakit, yaitu dengan berpuasa di hari lain. Namun, jika mengkhawatirkan bayinya, dianggap seperti orang tua yang tak punya kemampuan sehingga cara menggantinya selain membayar puasa-seperti cara orang tua-yaitu dengan membayar fidyah.

Yang kedua, ibu hamil atau menyusui cukup membayar fidyah saja tanpa harus berpuasa. Karena keduanya tidak berpuasa bukan karena sakit, melainkan karena keadaan yang membuatnya tidak mampu puasa. Kasusnya lebih dekat dengan orang tua yang tidak mampu berpuasa.

Apa dan bagaimana cara membayar Fidyah? Fidyah adalah memberi makan orang fakir miskin. Satu hari puasa diganti dengan satu kali fidyah. Ukuran memberi makan adalah sebesar porsi kita makan 3 kali sehari, yakni sekitar 1 mud atau 600 gram. Jika dirupakan uang, sebesar biaya kita makan 3 kali sehari.

Ketika memberikan fidyah, ada tata caranya juga. Salah satu yang harus diingat adalah jangan lupa mengucapkan berita serah terima/ijab kabul. Misalnya “Saya membayar fidyah kepada saudara, mohon diterima dengan baik”. Jika meminta orang lain yang menyerahkan maka, “Ibu A membayar fidyah kepada saudara, mohon diterima dengan baik”. Untuk detailnya, silakan konsultasi dengan pemuka agama di lingkungan Anda. 

Nah, bagi ibu menyusui yang ingin berpuasa bagaimana? Selama kondisi ibu dan bayi sehat, maka diperbolehkan berpuasa. Namun, jika dikuatirkan terjadi hal yang tidak diinginkan, misalnya kekurangan gizi, produksi ASI berkurang, sakit, dan lain sebagainya, maka Islam menyarankan untuk tidak berpuasa.

Manajemen Laktasi Ibu Menyusui Yang Sedang Berpuasa

Dengan perubahan jadwal makan, bukan berarti asupan makanan yang dikonsumsipun ikut berubah. Yang penting, ibu menyusui tetap makan 3 kali sehari dan secara disiplin mengkonsumsi makanan dengan gizi berimbang, yaitu dengan komposisi 50% karbohidrat, 30% protein dan 10-20% lemak.

Kemudian, hal-hal berikut dapat dilakukan untuk memastikan bahwa produksi ASI selama ibu berpuasa tetap lancar dan berkualitas:

Asupan menu dengan gizi seimbang

Ibu yang sedang menyusui memang membutuhkan tambahan sekitar 700 kalori perhari, 500 kalori diambil dari makanan ibu dan 200 kalori diambil dari cadangan lemak dalam tubuh ibu. Oleh karena itu, penting bagi ibu menyusui yang sedang berpuasa untuk tetap mempertahankan pola makan 3x sehari dengan menu gizi seimbang. Pada saat sahur, ketika berbuka puasa dan menjelang tidur sesudah shalat tarawih. Makan sahur akan menghasilkan energi yang berguna untuk aktivitas kita hari itu. Komposisi makanan dengan gizi berimbang akan menghasilkan sari makanan yang bagus untuk anak. Jangan terlambat berbuka dan jangan makan secara asal yang penting makan ya :)

Ada beberapa tips mengenai asupan ibu menyusui selama berpuasa:

Pertama,boleh mencoba konsumsi sumber karbohidrat kompleks agar bisa membantu membuat ibu menyusui tidak lemas di tengah hari. Karbo kompleks seperti beras merah lebih lama diproses tubuh sehingga pelepasan gula menjadi energi berlangsung bertahap. Kondisi ini dapat lebih menjamin kebutuhan energi ibu sampai berbuka. 

Kedua, konsumsi sayur dan buah lebih banyak saat berbuka atau malam hari dan konsumsi protein lebih banyak saat makan sahur. Protein menjadi sumber energi, yang diolah terakhir setelah karbohidrat dan lemak. Asupan protein ini sesuai bagi busui yang membutuhkan banyak cadangan energi. Sementara serat pada buah dan sayur membantu menjaga asupan vitamin dan menjaga kesehatan pencernaan ibu selama menyusui. Usahakan stop makanan instant selama puasa ini ya, karena makanan seperti mie instant biasanya hanya mengandung kalori yg membuat kenyang tetapi minim nilai gizinya. 

Ketiga, silakan konsumsi suplemen vitamin dan mineral jika diperlukan. Tanyakan kepada dokter suplemen apa yang baik untuk ibu menyusui saat berpuasa karena saat ibu menyusui berpuasa, yang terpengaruh biasanya adalah kadar micro nutrients (elemen-elemen nutrisi yang diperlukan dalam jumlah yang kecil seperti zinc, magnesium, dan potassium), namun itu bukanlah masalah.  

Perbanyak konsumsi cairan, mulaidari berbuka hingga sahur

Jika bisa minum air putih sebanyak dua liter (sekitar 10-12 gelas sehari), ditambah dengan jenis cairan lainnya seperti juice buah, teh manis hangat dan susu. Berbuka puasa dengan minum minuman hangat, akan merangsang kelancaran ASI bagi ibu menyusui. Jika bisa, hindari teh dan kopi saat sahur karena bersifat diuretik, yang menyebabkan ibu sering buang air kecil. Akibatnya ibu berisiko kekurangan cairan akibat seringnya cairan dibuang. 

Istirahat yang cukup

Merasa lemas saat berpuasa itu hal yang lumrah, apalagi jika si ibu baru saja menyusui. Cobalah untuk beristirahatlah sejenak, apakah dengan cara tidur atau sekadar relaks menenangkan pikiran. Perlu ibu menyusui ketahui, bahwa semakin

sering payudara dihisap oleh bayi, maka produksi ASI akan semakin banyak. Jadi, bila selama puasa ibu tetap rajin menyusui, ASI akan tetap lancar.

Ibu Bekerja

Ibu bekerja yang memerah ASI di tempat kerjanya disarankan untuk tetap melakukan kegiatan memerah ASI seperti biasa dengan tetap memperhatikan tips-tips seperti yang sudah disebutkan diatas ini. Kembali berpegang pada prinsip demand and supply, semakin banyak ASI dikeluarkan maka semakin banyak ASI yang akan diproduksi. Apabila ibu menyusui yang biasa memerah menghentikan kegiatan memerahnya selama bulan puasa, maka ASI yang diproduksi dapat berkurang, yang bukan disebabkan oleh kegiatan berpuasa tetapi karena mengurangi kegiatan memerah tadi.

Bagaimanapun, mendapatkan ASI adalah hak bayi. Jadi, dahulukan kepentingan bayi. Untuk ibu yang memiliki bayi di bawah 6 bulan, memang dianjurkan untuk tidak berpuasa karena bayi sedang dalam tahap ASI Eksklusif dan belum memperoleh makanan tambahan apapun kecuali ASI. Ada dua alasan kenapa ibu dalam fase ASIX tidak dianjurkan berpuasa dulu: pertama, pada masa ASIX, terutama di dua bulan pertama adalah fase pemantapan menyusui. Jika proses menyusui ibu sudah mantap dan ingin mencoba puasa silakan. Tetapi jika ibu masih berjuang untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan dan produksi, sebaiknya tunda dulu puasanya. Kedua, bayi di bawah 6 bulan sering mengalami fase percapatan pertumbuhan (growth spurts) yang membuatnya tiiba-tiba jadi sangat sering menyusu. Jika Anda mulai kewalahan di saat fase GS ini, pertimbangkan untuk stop puasa dulu.

Kondisi yang Harus Diperhatikan

Jika si kecil masih dalam fase ASIX (atau bahkan setelahnya) dan ibu ingin berpuasa, ada hal penting yang tidak boleh diabaikan: perhatikan sinyal sinyal yang dikirimkan tubuh Anda dan tubuh bayi. 

Apa yang harus diperhatikan dari kondisi ibu?

-Merasa sangat haus (terutama pasca menyusui/memerah).

- Urine/ air seni berwarna pekat (kuning tua/cokelat) serta bau yangtajam.

- Merasa sangat pusing dan berkunang-kunang, apalagi jika pusing tidak hilang setelah ibu beristirahat

Adalah wajar jika ibu merasa lemas.  Oleh karena itu usahakanlah untuk beristirahat paling tidak satu kali di siang hari. Atau bila tidak memungkinkan untuk tidur siang, upayakan untuk sekadar duduk,

berbaring dengan rileks. Istirahat akan sangat membantu agar hormon Oksitosin yang berfungsi untuk mengeluarkan ASI bekerja secara optimal. Jika Anda mulai pusing atau air seni Anda mulai pekat, sebaiknya hentikan dulu puasanya. Apa yang harus diperhatikan dari kondisi bayi?- Frekuensi BAK bayi sudah kurang dari 6 kali per 24 jam, warna urine bayi juga mulai pekat- Ada gejala2 dehidrasi lain pada bayi, seperti mulut yag kering, bayi terlihat sangat lemas, kulit tidak lentur, dsb.- Bayi kelihatan gelisah seharian, rewel atau berperilaku di luar kebiasaan normalnya. - Bayi mengalami diare atau demam yang mana membutuhkan extra asupan ASI agar tidak dehidrasi, terutama di masa ASIX.

Selamat menunaikan ibadah puasa dan salam ASI :)