SITE STATUS
Jumlah Member :
492.756 member
user online :
1123 member
pageview's per day :
Over 100.000(!) page views
Kalkulator kesuburan
Masukan tanggal hari pertama bunda mengalami menstruasi

forum

Cari: bolehkah bayi usia 7 bulan di beri makan bakso

New Topic :  
Jumlah Posts : 43
Jumlah di-Like : belum ada like
buat para bunda ini ada sedikit tips dari DSA anakq tentang mpasi , smoga bermanfaat ya
Dear ibu/bapak,

 

Berikut tips singkat MPASI

 

MPASI dimulai sejak usia 6 bulan. Kalau bisa homemade.

 

Usia 6 bulan: dapat dimulai misalnya dengan serealia tepung2an (beras merah/coklat/putih), kemudian perkenalkan sayur seperti kabocha / labu kuning, wortel, labu siem kecil, kentang kukus lalu dibuat puree, dilanjutkan dengan buah seperti alpukat, pisang, pepaya, apel kukus, pir, melon dll

Contoh MPASI pertama kali bubur susu:  tepung beras merah 1 sendok makan dewasa + air 75 ml --> dimasak sampai mendidih, setelah mendidih ditambah dengan ASI perah 1-2 sendok makan sehingga masih terdapat rasa yang dikenal bayi (ASI tidak boleh dimasak), konsistensi awal sedikit cair tapi tidak mudah jatuh dari sendok. Boleh juga dibuat dari beras, dimasak jadi bubur lembut, lalu disaring. 

 

Usia 6 bulan 2 minggu: perkenalkan protein/ red meat seperti daging ayam/sapi cincang, dikukus lalu dihaluskan/blender.

 

1 jenis makanan sebaiknya dicoba minimal 4 hari untuk melihat reaksi alergi (rash, diare) baru coba jenis makanan lain.

 

Pertama kali 1x/hari dulu (misalnya jam 8-9 pagi nanti setelah 1-2 minggu baru 2x/hari (jam 8 pagi dan jam 15-16), kemudian minggu berikutnya 2 x makan besar dan 1 x snack/buah 

 

Contoh jadwal MPASI (hanya contoh, silahkan berkreasi sendiri ya..)

 

Hari ke-

Pagi

Siang

Sore

Keterangan

1 s/d 4

Tepung beras merah

ASI

ASI

ASI on demand

5 s/d 8

Puree kabocha

ASI

ASI

ASI on demand

9

Puree alpukat

ASI

Tepung beras merah

ASI on demand

10

Puree alpukat

ASI

Puree kabocha

ASI on demand

11

Tepung beras merah + alpukat

ASI

Puree kabocha

ASI on demand

12

Puree alpukat + kabocha

ASI

Tepung beras merah

ASI on demand

13

Pear kukus 


Tepung beras merah

ASI on demand

14

Tepung beras merah

Pear kukus

Puree alpukat

ASI on demand

15

Puree kabocha

Pear kukus

Tepung beras merah

ASI on demand

16

Tepung beras merah 

Pear kukus

Puree kabocha

ASI on demand

17

Puree kabocha+ ayam cincang

Puree alpukat

Tepung beras merah

ASI on demand

18

Beras merah+ ayam

Pear kukus

Puree kabocha + ayam

ASI  on demand

19

Beras merah + ayam 

Puree alpukat

Beras merah + ayam 

ASI on demand

20

Puree kabocha + ayam

Pear kukus

Tepung beras merah 

ASI on demand

21 s/d 24

Tepung beras merah + ayam + wortel

Puree alpukat

Puree kabocha + ayam

ASI on demand

25

Puree kentang + ayam + wortel

Pear kukus

Tepung beras + ayam 

ASI on demand

 

Usia 7 bulan: mulai 3x makan (makan lengkap bubur nasi tim saring karbohidrat+protein+lemak+sayur) ditambah 1-2x snack buah (jadi total makan 4-5x makan). 

Pemberian bubur nasi tim sebaiknya jangan diblender jadi satu nasi + sayur + ayam cincangnya, blenek. Sajikan seperti orang dewasa makan, terpisah2, saat makan baru disendokin jadi satu, jadi bayi juga belajar mengenali rasa yang berbeda.


Finger food paling cepat 7-8 bln, lebih baik homemade juga: misalnya wortel dikukus sampai sangat empuk, atau labu siem kukus. Bisa juga browse cara bikin sendiri biskuit oatmeal.


Usia 8-9 bulan: tetap 3x makan besar disertai 1-2 x snack/buah (total 4-5 x makan) namun harus mulai bertekstur (boleh diblender kasar tapi tidak disaring)

contoh makan besar (gabungan karbohidrat+protein+lemak+sayur):

- nasi tim kasar (bertekstur) 

- makaroni schotel dengan ayam cincang dan wortel, keju; 

- spaghetti bolognese dengan daging cincang dan tomat (spaghetti direbus empuk)

- pastel kentang tutup 

 

Seafood seperti ikan salmon/tuna, kuning telur, yoghurt, keju dapat diperkenalkan bertahap dengan memperhatikan reaksi alergi di kulit atau diare. 

 

Usia 9-12 bulan

frekuensi makan sama, namun tekstur dan porsi ditingkatkan bertahap dengan target usia 1 tahun sudah bisa makan nasi biasa (table food / makanan keluarga), minimal nasi lembek.


Tips umum lain MPASI:

MPASI merupakan sarana bayi untuk belajar makan, belajar mengenal rasa, terapkan prinsip responsive feeding, kenali rasa lapar anak dan buat suasana makan menyenangkan (anak jangan dipaksa makan).

 

Setelah mulai MPASI, ASInya jangan berkurang ya, tetap berikan semau bayi (on demand), karena ASI masih merupakan sumber nutrisi penting.

Sufor tidak perlu bila ASI masih banyak.

Air putih perlu diberikan setelah makan agar tidak sembelit. 

Bumbu seperti bawang merah/putih/bombay, seledri, dll boleh diperkenalkan bertahap.

   


29-01-2015 14:28:14 Demam Pada Bayi
Jumlah Posts : 1
Jumlah di-Like : belum ada like

Bunda mo tanya dong, bagaimana penanganan bayi usia 7 bulan yang mengalami demam (panas) dan muntah. Tetapi bayi saya tetap mau makan dan minum, terkadang ceria, terkadang sedih. Sampai sekarang bayi saya masih makan bubur instan, minumnya asi campur sufor. Bayi saya kalo disuapin juga mulutnya dikunci, bb nya masuk bulan 7 kemarin juga ga naik. Gimana ya bun ? Ada saran ngga buat kebingungan saya. Terimakasih

   
28-01-2015 15:31:21 maksn buah naga
Jumlah Posts : 6
Jumlah di-Like : belum ada like
kl bayi usia 6 bulan apa boleh makan buah naga
   


Jumlah Posts : 9
Jumlah di-Like : belum ada like
hai para bunda..

mohon infonya apakah boleh bayi usia 3 bulan sudah diberi makan seperti biskuit bayi yang dicairkan?..
   
Jumlah Posts : 15
Jumlah di-Like : belum ada like
boleh kah bayi berusia 4 bulan di kasih makan seperti promina atau nesle
   


Jumlah Posts : 198
Jumlah di-Like : 10
Sekedar berbagi info aja ya Bunda-bunda sekalian  

Penggunaan empeng pada bayi masih menjadi kontroversi. Kelompok yang kontra beranggapan, empeng bisa menyebabkan serangkaian dampak kesehatan. Tidak hanya gangguan gigi dan mulut, tapi juga diare. Tidak sedikit pula yang menuduh empeng sebagai penyebab anak sulit makan dan ketidakmandirian.

Terlepas dari semua itu, ada beberapa orangtua yang merasakan manfaat positif empeng. Salah satunya Lia, sebut saja begitu. Menurut ibu satu anak ini, empeng cukup membantu anaknya yang baru berusia 4 bulan untuk tenang. "Habis dia sering rewel. Segala cara sudah dicoba tapi tak berhasil. Saya jadi sulit menemukan waktu istirahat sehingga produksi ASI berkurang. Untunglah, setelah dikasih empeng tangisannya pun berhenti."

Ia juga mengatakan, kebiasaan mengisap jari berkurang sejak anaknya kenal empeng. Meski begitu, dia mengaku membatasi penggunaan empeng. "Sebelum tidur saya akan kasih empeng, tetapi sesudah dia pulas saya mencabutnya kembali."

RAMBU-RAMBU BIJAK

Sikap bijaksana memang diperlukan dalam hal penggunaan empeng, antara lain:

* Seperti dikemukakan Spesialis anak dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, Dr. Najib Advani, Sp.A (K), MMed.Paed, "Gunakan empeng hanya jika ada indikasi." Misalnya, si kecil teramat rewel meski sudah dicoba diatasi dengan berbagai cara. Empeng bisa menjadi alternatif membuat anak tenang. Namun jangan biasakan memberikan empeng setiap kali anak rewel tanpa mau tahu apa penyebab kerewelan itu sendiri. Bukankah kerewelan seorang anak bisa disebabkan berbagai faktor. Bisa karena kesepian dan ingin diajak main, kepanasan, kedinginan, tidak nyaman karena popoknya basah, atau tidak merasa aman. Siapa tahu dengan mengatasi penyebabnya, anak bisa kembali tenang tanpa empeng. Pendapat senada disampaikan pula oleh psikolog perkembangan anak, Mayke S. Tedjasaputra, MSi., dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia "Meski empeng boleh dibilang sangat berjasa menenangkan anak untuk sementara waktu, tapi jangan sampai dijadikan sebagai alat utama untuk menenangkan anak. Orangtualah yang harus lebih dulu dapat membuat anak merasa aman dan nyaman. Tentu saja dengan lebih dulu mencari penyebab mengapa anak gelisah atau sering menangis kemudian segera mencoba menanggulanginya."

* Empeng bisa menjadi teman tidur bagi bayi yang luar biasa rewel. Umumnya anak seperti ini memerlukan kondisi tenang sebelum bisa tertidur. Empeng bisa menjadi alternatif jika cara-cara lain, seperti mendongeng, mengusap-usap bagian tubuh tertentu tidak bisa membuatnya tenang. Jadi, jangan gunakan empeng jika anak tidak memiliki gangguan sebelum tidur. Yang tak kalah penting, orangtua juga mesti cepat-cepat mencopot empeng jika anak terlihat sudah tertidur pulas. Dengan demikian, dampak negatif penggunaan empeng dalam jangka waktu lama bisa dihindarkan.

* Jangan sekali-kali menggunakan empeng untuk menunda makan atau menyusu. Orangtua sedari awal sudah bisa membedakan jenis tangisan anak, apakah si kecil menangis lantaran lapar, haus atau bukan. Selain bisa membedakan jenis tangisan buah hatinya, orangtua juga tahu ha-rus tahu jadwal dan frekuensi menyusui. Segera susui atau beri makan anak jika dia memin-tanya. Jangan pernah menundanya dengan memberi empeng hanya karena pertimbangan "praktis", semisal si ibu tak mau repot. Pembiasaan seperti ini akan membuat pertumbuhan anak terganggu karena kurangnya asupan nutrisi.

* Saat melakukan berbagai aktivitas dengan anak, usahakan empeng tidak menempel di mulutnya. Dengan begitu, penggunaan empeng tidak menghambat proses stimulasi. Bersama anak, buatlah jadwal aktivitas yang teratur. Misalnya kapan anak bermain, bereksplorasi dengan lingkungannya, termasuk aktivitas mengajak anak berkomunikasi.

* Hentikan penggunaan empeng secara bertahap di usia 7 bulan sampai 1 tahun. Soalnya, selepas usia setahun, anak tidak berada dalam fase oral lagi sehingga keinginannya untuk mengisap-isap atau menggigit-gigit benda tidak sekuat usia sebelumnya. Alihkan perhatian anak pada aktivitas lain yang menyenangkan sekaligus mampu mengasah keterampilannya.

Semestinya, di usia 2 tahun anak sudah dapat berhenti mengempeng. Ia sudah bersosialisasi dengan lingkungan luarnya. Pemakaian empeng terlalu lama tentu bisa berdampak psikologis pada anak. Anak umumnya menjadi bahan ledekan teman-temannya. Tentu perla- kuan semacam itu sangat potensial membuat anak jadi rendah diri.

* Hindari pemakaian berlebihan. Dalam kesempatan terpisah, Prof. Dr. Drg. Retno Hayati, Sp.KGA dari RS Pondok Indah, Jakarta, bahkan menegaskan tidak ada manfaat yang berarti dari empeng. Ini berbeda dari botol susu yang berjasa menyuplai asupan nutrisi. Meskipun tidak sekeras jari, empeng juga bisa menyebabkan gigi tonggos jika durasi dan frekuensi penggunaannya sudah berlebihan. Artinya, semakin sering empeng digunakan, maka kemungkinan mengalami gigi tonggos akan semakin besar. Cara penggunaannya juga turut berpengaruh. Soalnya tidak sedikit bayi yang hobi menarik-narik empengnya ke atas. Cara ini dapat berpengaruh pada pertumbunan rahang, gigi, dan mulut si kecil. Penggunaan empeng hingga lebih dari usia 2 tahun juga bisa memperparah kondisi tersebut.

Oleh karenanya, hentikan secara bertahap penggunaan empeng ketika usia anak masih di bawah 2 tahun. Alasannya, rahang masih bisa melakukan koreksi dengan sendirinya sesuai dengan bentuk rahang dan posisi gigi. Namun selewat itu, kelainan bentuk rahang dan gigi sulit dikoreksi.

Mengapa? Karena saat mengi-sap empeng, rahang atas secara refleks akan maju ke depan. Sementara rahang bawah ber-gerak ke arah sebaliknya atau terdorong masuk ke mulut. Perubahan posisi gigi juga besar kemungkinannya terjadi jika anak mengempeng. Akan tetapi anggapan ini masih memerlukan pembuktian lebih lanjut lewat penelitian. Soalnya, banyak juga anak yang tidak mengalami dampak apa-apa meskipun menggunakan empeng.

Penelitian yang ada saat ini baru menyebutkan, kebiasaan mengisap jari yang berlebihan bisa mengganggu pertumbuhan rahang dan gusi. Selain itu, bentuk bibir juga berkemung-kinan mengalami perubahan karena mengikuti rahang. Bibir jadi sedikit maju ke depan. Tentu saja kondisi ini akan semakin parah bila anak memiliki "berbakat" memiliki gigi maju. Jadi, hentikan penggunaan empeng jauh-jauh hari sebelum anak merasa terganggu dengan penampilannya kelak.

TIP MEMILIH EMPENG

* Meski dapat dibeli tanpa resep dokter, konsultasikan dulu pada dokter mengenai pilihan empeng yang tepat bagi bayi Anda. Ini meliputi ukuran besar-kecilnya empeng, maupun bahan yang digunakan untuk empeng tersebut.

* Jangan pilih empeng yang terlalu kecil dan terpisah karena mudah lepas dan selanjutnya bisa tertelan bayi.

* Pilihlah empeng yang lembut dan orthodontic sehingga aman diisap bayi.

* Bersihkan secara teratur. Untuk bayi di bawah 6 bulan hendaknya sebelum dipakai empeng disterilkan terlebih dulu. Sedangkan untuk bayi di atas 6 bulan cukup disiram air panas kemudian diseka hingga bersih. Ingat, empeng yang kotor dapat menjadi tempat perkembangbiakan bibit penyakit penyebab diare.

DIBUAT UNTUK MEMUASKAN BAYI

Awalnya, empeng dibuat untuk memuaskan kebutuhan bayi (pacifier). Ini karena berdasarkan tahapan perkembangan menurut teori Sigmund Freud, di usia 0-12 bulan bayi berada dalam fase oral. Dalam fase ini bayi mencari kepuasan dengan cara mengisap-isap benda yang ada di dekatnya. Tak heran jika bayi sering terlihat asyik mengisap jari, ujung bantal, selimut, kertas, mainan dan benda apa pun yang berada dalam jangkauannya.

Kalaupun kebiasaan mengisap jari menjadi pilihan favorit, tak lain karena jari merupakan bagian tubuh yang paling dekat sekaligus mungil ukurannya sehingga amat mudah dimasukkan ke dalam mulut. Kebiasaan ini cukup merisaukan orangtua karena banyak penelitian yang mengungkapkan dampak buruk kebiasaan mengisap jari. Salah satunya adalah gangguan pembentukan gigi dan rahang. Kuatnya isapan jari membuat gigi anak terancam tonggos. Selain itu, keberadaan jari yang bisa dimasukkan ke mulut kapan dan di mana saja, membuat bayi sulit menghentikan kebiasaan ini, sehingga akhirnya sangat mungkin terbawa sampai anak memasuki usia sekolah.

Selain itu, tidak sedikit anak yang mencoba menenangkan diri dari kegelisahannya lewat mengisap jarinya. Tidak cuma itu. Di masa eksplorasi, tangan dan jari-jemarinya kerap digunakan anak untuk memegang dan meraih benda-benda di dekatnya, termasuk benda-benda yang kotor dan tidak higienis. Akibatnya, tangan si kecil potensial menjadi sumber penularan penyakit seperti diare. Jarinya pun bisa mengalami penebalan yang kerap diistilahkan kapalan gara-gara sering diisap.

Itulah sebabnya, para pakar kemudian mencoba mencarikan solusi. Salah satunya dengan membuat empeng guna memenuhi kebutuhan mengisap-isap pada bayi. Model dan bentuk empeng pun dibuat sedemikian rupa sehingga dampaknya tidak seburuk mengisap jari. Tak heran kalau empeng kemudian menjadi alat ampuh untuk menenangkan kerewelan bayi.

KIAT MELEPAS EMPENG

Menghentikan kebiasaan mengempeng seharusnya jauh lebih mudah dibandingkan menghentikan kebiasaan mengisap jari. Toh, empeng bukan bagian dari tubuh bayi. Namun, sulit atau tidaknya sangat ditentukan seberapa jauh bayi Anda memiliki ketergantungan pada empeng.

Usaha orangtua dalam mengupayakan ketekunan, kesabaran, ketegaran dan kreativitas mencari cara ternyata cukup berpengaruh. Selain itu, kedekatan hubungan orangtua­anak juga ikut menentukan keberhasilan. Anak umumnya akan lebih kooperatif dengan merespons ajakan orangtua apabila ia merasa dipenuhi kebutuhannya untuk dicintai (dikasihi) dan diperhatikan.

Tentu saja dalam hal ini karakter anak ikut bicara. Si kecil yang bertemperamen "keras kepala", tentu membutuhkan usaha ekstra dari orangtuanya. Tidak mudah memang karena orangtua harus membentuk kebiasaan baru pada anak untuk tidak menggunakan empeng.

Ada beberapa cara yang bisa dicoba, di antaranya:

* Tidak membeli empeng baru jika yang lama telah rusak.

* Aturlah penggunaan empeng menjadi semakin lama semakin jarang. Misalnya, hanya dipakai menjelang tidur dan tidak diberikan selama anak berada dalam keadaan "terjaga".

* Jika anak rewel, bujuklah dan ajaklah ia bermain atau melakukan aktivitas lain yang menyenangkan agar perhatiannya teralih dari empeng. Dengan demikian, anak mendapatkan aktivitas pengganti yang lebih mengasyikkan ketimbang mengempeng.

* Gantilah empeng dengan mainan gigitan/teether. Selain fungsinya hampir mirip dengan empeng, penggunaan mainan gigitan juga dianggap bermanfaat untuk mempercepat erupsi gigi susu.

EMPENG UNTUK ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

Sebagian kecil penyandang kebutuhan khusus ada yang dianjurkan menggunakan empeng. "Empeng membantu kemampuan mengisap pada bayi dan anak berkebutuhan khusus," aku Jeri Novaro Sumual, terapis dari Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Jakarta. Tentu saja dengan pemilihan empeng yang tepat dan frekuensi serta durasi penggunaan yang pas.

Namun, tidak semua pasien yang mengalami gangguan pengisapan bisa diatasi dengan pemberian empeng. Tergantung penyebab dan berat ringannya kasus. Bila gangguan pengisapan muncul akibat terganggunya pusat saraf, tentu saja penggunaan empeng nyaris tidak memberikan manfaat apa pun alias sia-sia. Yang pasti, penggunaan empeng untuk terapi harus dikonsultasikan dengan terapis.
   
24-03-2015 16:03:48 Pemberian MPASI dlm sehari
Jumlah Posts : 60
Jumlah di-Like : belum ada like

Hi bunda saya coba sharing yah dikutip dari artikel info bunda mengenai "Sukseskan MPASI Pertamanya" http://www.infobunda.com/pages/articles/artikelshow.php?id=456&catid=11

"Tentunya makanan padat bayi berbeda dengan makanan padat anak-anak dan orang dewasa.  Makanan apa yang sebaiknya diberikan? Berapa banyak? Dan bagaimana menghindari makanan tertentu untuk mengurangi resiko alergi pada bayi. Yuk, simak artikel berikut.
 
Makanan Pertama
Makanan pertama apa yang harus diberikan pada bayi? Ini adalah pertanyaan umum yang dilontarkan hampir setiap orangtua, khususnya Bunda. Apakah buah terlebih dahulu, sayuran atau tepung beras?
Pisang dan tepung beras adalah makanan yang paling sering diberikan oleh orangtua di Indonesia. Ada juga yang memberikan sayuran terlebih dahulu dengan harapan si kecil mudah diberikan sayuran nantinya. Beda hal-nya dengan Negara-negara Eropa yang biasanya menggunakan apel kukus yang ditaburi sedikit kayu manis sebagai MPASI pertama.
World Health Organization (WHO) menyarankan serelia atau makanan dari beras sebagai MPASI pertama bayi untuk memperkecil resiko alergi. Tetapi pada dasarnya apapun yang ada di lemari es Bunda bisa dijadikan MPASI pertamanya karena setiap anak memiliki keadaan yang berbeda-beda.
Untuk mengecek apakah si kecil alergi terhadap suatu makanan, berikanlah makanan yang sama 3-4 hari berturut-turut. Bila ia mengalami sembelit, muncul bintik-bintik merah, dll bisa jadi ia alergi pada makanan yang Bunda berikan.
 
Tekstur dan Jadwal Makan
Selain jenis makanan, yang perlu Bunda perhatikan adalah teksturnya. Sehari-hari biasanya bayi hanya mengonsumsi ASI/Sufor yang encer, tentu saja ia akan kaget dan menolak bila diberikan makanan yang terlalu pekat. Meskipun anjuran WHO dan UNICEF, makanan pekat dapat langsung diberikan pada bayi, tetapi pada prakteknya beberapa anak mengalami sembelit setelah mengonsumsi serelia yang terlalu pekat. Untuk itu pastikan selalu teksturnya mulai dari sangat encer hingga mengental.
Sebagai contoh untuk bayi usia 6 bulan Bunda bisa membuatkan bubur tepung beras, atau bubur beras yang encer dan disaring. Berikan 2-3 sendok makan atau sekitar 30-45ml setiap kali makan.
Bayi yang baru mulai mendapat MPASI tidak memiliki jadwal makan yang mengikat. Bunda boleh saja memberikan makan di waktu pagi, siang ataupun sore. Saat memasuki usia 7 bulan mulailah memberlakukan jadwal makan.
 
Tips :
- Jangan memaksa bayi menghabiskan porsi makannya. Biarkan saja bila ia sudah tidak mau. Itu artinya perutnya sudah merasa cukup.
- Catat reaksi anak pada jenis makanan tertentu. Apakah ia suka atau tidak. Kenali makanan favoritnya.
- Beli beberapa sendok warna unik untuk merayunya pada saat ia melakukan Gerakan Tutup Mulut (GTM).
- Saat ibu menyusui mengonsumsi sayuran, bayi dapat mengenal rasa tersebut melalui ASI, ini bisa menjadi cara awal mengenalkan rasa makanan pada bayi sebelum mendapat MPASI"

   
24-03-2015 14:59:50 Pemberian MPASI dlm sehari
Jumlah Posts : 175
Jumlah di-Like : belum ada like

saya bantu shae ya Bund ^_^...

saya kutip dari artikel yang berjudul "Sukseskan MPASI Pertamanya" ( http://www.infobunda.com/pages/articles/artikelshow.php?id=456&catid=11 )

Makanan Pertama
Makanan pertama apa yang harus diberikan pada bayi? Ini adalah pertanyaan umum yang dilontarkan hampir setiap orangtua, khususnya Bunda. Apakah buah terlebih dahulu, sayuran atau tepung beras?
Pisang dan tepung beras adalah makanan yang paling sering diberikan oleh orangtua di Indonesia. Ada juga yang memberikan sayuran terlebih dahulu dengan harapan si kecil mudah diberikan sayuran nantinya. Beda hal-nya dengan Negara-negara Eropa yang biasanya menggunakan apel kukus yang ditaburi sedikit kayu manis sebagai MPASI pertama.
World Health Organization (WHO) menyarankan serelia atau makanan dari beras sebagai MPASI pertama bayi untuk memperkecil resiko alergi. Tetapi pada dasarnya apapun yang ada di lemari es Bunda bisa dijadikan MPASI pertamanya karena setiap anak memiliki keadaan yang berbeda-beda.
Untuk mengecek apakah si kecil alergi terhadap suatu makanan, berikanlah makanan yang sama 3-4 hari berturut-turut. Bila ia mengalami sembelit, muncul bintik-bintik merah, dll bisa jadi ia alergi pada makanan yang Bunda berikan.
 
Tekstur dan Jadwal Makan
Selain jenis makanan, yang perlu Bunda perhatikan adalah teksturnya. Sehari-hari biasanya bayi hanya mengonsumsi ASI/Sufor yang encer, tentu saja ia akan kaget dan menolak bila diberikan makanan yang terlalu pekat. Meskipun anjuran WHO dan UNICEF, makanan pekat dapat langsung diberikan pada bayi, tetapi pada prakteknya beberapa anak mengalami sembelit setelah mengonsumsi serelia yang terlalu pekat. Untuk itu pastikan selalu teksturnya mulai dari sangat encer hingga mengental.
Sebagai contoh untuk bayi usia 6 bulan Bunda bisa membuatkan bubur tepung beras, atau bubur beras yang encer dan disaring. Berikan 2-3 sendok makan atau sekitar 30-45ml setiap kali makan.
Bayi yang baru mulai mendapat MPASI tidak memiliki jadwal makan yang mengikat. Bunda boleh saja memberikan makan di waktu pagi, siang ataupun sore. Saat memasuki usia 7 bulan mulailah memberlakukan jadwal makan.
 
Tips :
- Jangan memaksa bayi menghabiskan porsi makannya. Biarkan saja bila ia sudah tidak mau. Itu artinya perutnya sudah merasa cukup.
- Catat reaksi anak pada jenis makanan tertentu. Apakah ia suka atau tidak. Kenali makanan favoritnya.
- Beli beberapa sendok warna unik untuk merayunya pada saat ia melakukan Gerakan Tutup Mulut (GTM).
- Saat ibu menyusui mengonsumsi sayuran, bayi dapat mengenal rasa tersebut melalui ASI, ini bisa menjadi cara awal mengenalkan rasa makanan pada bayi sebelum mendapat MPASI

   
18-03-2015 10:36:22 MPASI yg bagus
Jumlah Posts : 60
Jumlah di-Like : belum ada like

Hi Bunda ikutan share ya,dikutip dari artikel infobunda mengenai "Sukseskan MPASI Pertamanya".

" Makanan Pertama
Makanan pertama apa yang harus diberikan pada bayi? Ini adalah pertanyaan umum yang dilontarkan hampir setiap orangtua, khususnya Bunda. Apakah buah terlebih dahulu, sayuran atau tepung beras?
Pisang dan tepung beras adalah makanan yang paling sering diberikan oleh orangtua di Indonesia. Ada juga yang memberikan sayuran terlebih dahulu dengan harapan si kecil mudah diberikan sayuran nantinya. Beda hal-nya dengan Negara-negara Eropa yang biasanya menggunakan apel kukus yang ditaburi sedikit kayu manis sebagai MPASI pertama.
World Health Organization (WHO) menyarankan serelia atau makanan dari beras sebagai MPASI pertama bayi untuk memperkecil resiko alergi. Tetapi pada dasarnya apapun yang ada di lemari es Bunda bisa dijadikan MPASI pertamanya karena setiap anak memiliki keadaan yang berbeda-beda.
Untuk mengecek apakah si kecil alergi terhadap suatu makanan, berikanlah makanan yang sama 3-4 hari berturut-turut. Bila ia mengalami sembelit, muncul bintik-bintik merah, dll bisa jadi ia alergi pada makanan yang Bunda berikan.
 
Tekstur dan Jadwal Makan
Selain jenis makanan, yang perlu Bunda perhatikan adalah teksturnya. Sehari-hari biasanya bayi hanya mengonsumsi ASI/Sufor yang encer, tentu saja ia akan kaget dan menolak bila diberikan makanan yang terlalu pekat. Meskipun anjuran WHO dan UNICEF, makanan pekat dapat langsung diberikan pada bayi, tetapi pada prakteknya beberapa anak mengalami sembelit setelah mengonsumsi serelia yang terlalu pekat. Untuk itu pastikan selalu teksturnya mulai dari sangat encer hingga mengental.
Sebagai contoh untuk bayi usia 6 bulan Bunda bisa membuatkan bubur tepung beras, atau bubur beras yang encer dan disaring. Berikan 2-3 sendok makan atau sekitar 30-45ml setiap kali makan.
Bayi yang baru mulai mendapat MPASI tidak memiliki jadwal makan yang mengikat. Bunda boleh saja memberikan makan di waktu pagi, siang ataupun sore. Saat memasuki usia 7 bulan mulailah memberlakukan jadwal makan.
 
Tips :
- Jangan memaksa bayi menghabiskan porsi makannya. Biarkan saja bila ia sudah tidak mau. Itu artinya perutnya sudah merasa cukup.
- Catat reaksi anak pada jenis makanan tertentu. Apakah ia suka atau tidak. Kenali makanan favoritnya.
- Beli beberapa sendok warna unik untuk merayunya pada saat ia melakukan Gerakan Tutup Mulut (GTM).
- Saat ibu menyusui mengonsumsi sayuran, bayi dapat mengenal rasa tersebut melalui ASI, ini bisa menjadi cara awal mengenalkan rasa makanan pada bayi sebelum mendapat MPASI. "

   
27-02-2015 16:17:03 MPASI bayi 8 Bulan
Jumlah Posts : 60
Jumlah di-Like : belum ada like

Hi Bunda, untuk usia 8 bulan sudah boleh diberikan MPASI dan sekedar sharing ya bun mengenai "MPASI pertama" yang saya kutip dari artikel info bunda. (http://www.infobunda.com/pages/articles/artikelshow.php?id=456&catid=11)

"Makanan Pertama
Makanan pertama apa yang harus diberikan pada bayi? Ini adalah pertanyaan umum yang dilontarkan hampir setiap orangtua, khususnya Bunda. Apakah buah terlebih dahulu, sayuran atau tepung beras?
Pisang dan tepung beras adalah makanan yang paling sering diberikan oleh orangtua di Indonesia. Ada juga yang memberikan sayuran terlebih dahulu dengan harapan si kecil mudah diberikan sayuran nantinya. Beda hal-nya dengan Negara-negara Eropa yang biasanya menggunakan apel kukus yang ditaburi sedikit kayu manis sebagai MPASI pertama.
World Health Organization (WHO) menyarankan serelia atau makanan dari beras sebagai MPASI pertama bayi untuk memperkecil resiko alergi. Tetapi pada dasarnya apapun yang ada di lemari es Bunda bisa dijadikan MPASI pertamanya karena setiap anak memiliki keadaan yang berbeda-beda.
Untuk mengecek apakah si kecil alergi terhadap suatu makanan, berikanlah makanan yang sama 3-4 hari berturut-turut. Bila ia mengalami sembelit, muncul bintik-bintik merah, dll bisa jadi ia alergi pada makanan yang Bunda berikan.
 
Tekstur dan Jadwal Makan
Selain jenis makanan, yang perlu Bunda perhatikan adalah teksturnya. Sehari-hari biasanya bayi hanya mengonsumsi ASI/Sufor yang encer, tentu saja ia akan kaget dan menolak bila diberikan makanan yang terlalu pekat. Meskipun anjuran WHO dan UNICEF, makanan pekat dapat langsung diberikan pada bayi, tetapi pada prakteknya beberapa anak mengalami sembelit setelah mengonsumsi serelia yang terlalu pekat. Untuk itu pastikan selalu teksturnya mulai dari sangat encer hingga mengental.
Sebagai contoh untuk bayi usia 6 bulan Bunda bisa membuatkan bubur tepung beras, atau bubur beras yang encer dan disaring. Berikan 2-3 sendok makan atau sekitar 30-45ml setiap kali makan.
Bayi yang baru mulai mendapat MPASI tidak memiliki jadwal makan yang mengikat. Bunda boleh saja memberikan makan di waktu pagi, siang ataupun sore. Saat memasuki usia 7 bulan mulailah memberlakukan jadwal makan.
 
Tips :
- Jangan memaksa bayi menghabiskan porsi makannya. Biarkan saja bila ia sudah tidak mau. Itu artinya perutnya sudah merasa cukup.
- Catat reaksi anak pada jenis makanan tertentu. Apakah ia suka atau tidak. Kenali makanan favoritnya.
- Beli beberapa sendok warna unik untuk merayunya pada saat ia melakukan Gerakan Tutup Mulut (GTM).
- Saat ibu menyusui mengonsumsi sayuran, bayi dapat mengenal rasa tersebut melalui ASI, ini bisa menjadi cara awal mengenalkan rasa makanan pada bayi sebelum mendapat MPASI."

   
10-05-2014 14:33:46 Tidak Mau Makan Nasi TIM
Jumlah Posts : 1
Jumlah di-Like : belum ada like

Dear Bunda...

Putri saya usia 9 bulan gigi sudah tumbuh 6, dua hari ini saya cb kasi nasi  tim + ikan salmon, hari pertama sama sekali tidak mau makan, baru suapan pertama langsung dilepeh n semburkan. Selama ini makannya bubur beras merah organik, dicampur sayuran n ikan salmon yg sudah diblender dia mau makan. Saya khawatir kalau terus-terusan dikasi bubur/puree apakah akan bermasalah dengan pertumbuhannya.

FYI berat badan putri saya mengalami penurunan, usia 8 bulan BB 7.15 kg, di usianya yg sekarang turun jadi 6.9 kg trus badannya lembek, namun dia aktif.

Sebaiknya bagaimana membuatnya agar mau makan nasi tim ya bun...? Karena setau saya bayi usia 9 bulan makannya sudah nasi tim lengkap krn perlu kalori yg besar.

   
Jumlah Posts : 86
Jumlah di-Like : belum ada like
Nah untuk MPASI metode FC (food combining) dijelaskan secara jelas dan gamblang di buku Pak Wied Harry berjudul "Makanan Bayi Sehat Alami". Judulnya buku super lengkap, dan memang lengkap banget, ada panduan MPASI per bulannya dan jadwal sekaligus berbagai macam resep yang gampang banget buat ditiru. FC ini bedaa banget sama metode MPASInya WHO. Kalau WHO boleh mengenalkan semua jenis makanan ke bayi buat perdana makannya, kalau FC ini mengenalkan makanan secara bertahap, sesuai pencernaan bayi. Pertimbangannya WHO, bayi usia 6 bulan sudah harus mendapatkan asupan gizi seimbang yang meliputi karbo, protein, vitamin, dll. Tapi kalau FC, mengutip dari kata pak Wied Harry di bukunya, "Pilihan jenis makanan yang paling disarankan untuk MPASI awal adalah buah. Mengapa? Selama 6 bulan pertama, bayi kita mengkonsumsi ASI. Secara alami, ASI dilengkapi enzim pencerna susu, sehingga ASI tergolong makanan setengah tercerna (semidigested food) yang bisa langsung dimanfaatkan oleh tubuh bayi. Untuk itu, hendaknya kita bijaksana menentukan MPASI awal. Sebaiknya, pilih yang mudah dicerna agar sistem cerna bayi belajar secara bertahap mencerna makanan. Pilihannya adalah buah karena buah mengandung karbohidrat sederhana, yakni gula buah,yang bisa langsung diserap oleh tubuh. Keunggulan lain, buah dilengkapi enzum pencerna alami sebagaimana ASI sehingga makin mudah dicerna. Oleh akrena itu, buah merupakan makanan MPASI awal yang paling serasi dengan fungsi organ cerna bayi. Apa yang terjadi jika kita memberikan bubur beras atau makanan lain mengandung karbohidrat kompleks kepada bayi pada masa MPASI awal? Memberikan MPASI awal mengandung karbohidrat kompleks akan sangat membebani fungsi organ cerna bayi, SItem cerna bayi mendadak harus bekerja keras membongkar molekul karbo kompleks menjadi karbo sederhana, agar kandungan patinya dapat dimanfaatkan tubuh." Nah jadi pada intinya begitu, awalnya karbo sederhana, lama2 baru bertahap dikenalkan dengan karbo kompleks, setelah pencernaannya terbiasa memproses karbo. Mengikuti panduan di bukunya, MPASI pada 2 minggu pertama hanya dengan makan buah-buahan, dan di minggu ketiga mulai dikenalkan dengan serealia (makanan sumber pati). Di bulan ke-7, selain buah dan serealia, sudah bisa dikenalkan dengan sayur2an. Dan mulai bulan ke-8, sudah bisa dikenalkan dengan protein, dimulai dari protein nabati, lalu bertahap baru protein hewani. Nah inilah contoh menu makannya : Buah-buahan: pisang, pepaya, alpukat, jeruk manis, mangga, melon, apel, pir, jambu biji merah, buah naga. Sumber pati: beras putih, beras merah, kentang. 7 bulan Buah-buahan + sumber pati + sayur-sayuran Sayur-sayuran: jagung manis, kabocha, labu siam, labu parang, tomat, zuccini, brokoli, bayam, wortel 8 bulan Buah-buahan + sumber pati + sayur-sayuran + protein Protein nabati: tahu, tempe Protein hewani: ikan tuna, salmon, ayam, daging. mulai 7 bulan makanan mpasi kebanyakan pake kaldu sayuran, dan mulai 8 bulan sudah pakai kaldu daging atau kaldu ayam. Homemade ya, bukan kaldu2 blok yang banyak MSG nya itu.
   
29-04-2014 06:47:31 makanan tambahan
Jumlah Posts : 86
Jumlah di-Like : belum ada like
UNTUK mencapai pertumbuhan optimal, seorang bayi
memerlukan semua zat gizi makro dan zat gizi mikro
yang sesuai antara jumlah dengan kebutuhannya.
Tak dapat dipungkiri, kebutuhan nutrisi terbaik untuk
bayi berusia 0 ? 6 bulan adalah ASI.
Tapi begitu menginjak usia 6 bulan ke atas, asupan
bayi harus ditambah dengan Makanan Pendamping
ASI (MPASI). Nah, berikut panduan soal MPASI yang
perlu Anda ketahui!
Terlalu Cepat vs Terlambat
Jangan memberikan MPASI terlalu cepat (sebelum
usia 6 bulan). Di samping pencernaannya belum
sempurna, tindakan itu hanya akan memperbesar
potensi bayi terkena alergi makanan.
Juga, pemberian MPASI terlalu cepat akan
menyebabkan insting bayi untuk mengisap akan
menurun sehingga jumlah ASI yang dikonsumsi juga
menurun. Kekurangan gizi banyak terjadi karena
pemberian MPASI yang terlalu dini.
Jangan pula berikan MPASI terlambat (hanya ASI saja
setelah 6 bulan ke atas). Tak baik bagi
pertumbuhannya. Bayi bisa menderita kekurangan
gizi, berat dan panjangnya tidak sesuai dengan yang
seharusnya dicapai. Karena ASI sesudah usia 6 bulan
tidak bisa mencukupi kebutuhan bayi lagi.
Mulai Usia 6 Bulan
Berikan MPASI saat bayi berusia 6 bulan ke atas.
Mengapa? Biasanya saat itu, bayi sudah bisa
menopang kepalanya sendiri secara tegak dan
menegakkan dadanya. Dengan demikian bisa
dikatakan proses menelannya sudah lebih baik.
Sedangkan jika kepalanya masih goyang-goyang,
ditakutkan proses menelannya belum sempurna,
maka dikhawatirkan akan tersedak. Juga, fungsi
pencernaan bayi pada usia tersebut sudah lebih baik.
Tanda Bayi Siap MPASI
Berikut tanda bayi yang siap MPASI:
- Mampu duduk tegak walau masih harus dibantu
- Mampu menegakkan kepala dengan baik
- Tampak tertarik melihat makanan, sendok dan
garpu
- Tidak lagi memiliki ?refleks menolak dengan lidah?
setiap kali makanan padat disuapkan ke mulutnya
- Mampu menerima makanan yang disuapkan dengan
sendok, yang mungkin terjadi bila bayi telah mampu
menggerak-gerakkan lidahnya maju-mundur dan ke
kiri-kanan
Tunjang Berat Badan Bayi
MPASI diharapkan dapat menunjang berat badan bayi
agar sesuai dengan Kartu Menuju Sehat (KMS),
yakni: pada triwulan pertama, penambahan berat
badan bayi sebanyak 750-1000 gr/bln, triwulan
kedua sebanyak 600 gr/bln, triwulan ketiga sebanyak
400 gr/bln, dan triwulan keempat sebanyak 200-300
gr/bln.
Bubur Susu
Perkenalkan jenis MPASI kepada bayi secara
bertahap. Itulah yang dianjurkan oleh semua Dokter
Spesialis Anak (DSA).
Sebagai tahap awal, bayi yang sudah berusia 6 bulan
dapat diberikan makanan bertekstur lunak dan cair
seperti bubur susu, yaitu tepung beras plus susu.
Pemberian bubur susu ini dimulai dari 1x sehari, dan
bertahap sampai 2x dalam sehari.
Berikan pada bayi satu jenis makanan baru selama
3-4 hari berturut-turut untuk mengetahui apakah
bayi cocok dengan makanan tersebut atau tidak.
Selain bubur susu, pure buah juga dapat diberikan.
Cairan pure yang dapat digunakan adalah ASI, susu
formula atau air matang . Caranya, berikan 1-2
sendok makan pure kepada bayi. Jika tidak ada
masalah, tingkatkan secara bertahap.
Jenis buah yang dapat diberikan berupa pisang
(pisang raja atau pisang ambon), alpukat, labu dan
pepaya. Setiap jenis buah diberikan 3-4 hari
berturut-turut agar bayi dapat mengenal rasa.
Setelah itu, baru mencoba buah yang lain.
Nasi Tim Saring
Dengan bertambahnya usia bayi, maka makanan yang
diasup bayi juga akan meningkat. Setelah bubur
susu, sebaiknya bayi mulai dikenalkan dengan
makanan yang berbentuk bubur atau nasi tim saring.
Makanan ini terdiri dari beras, lauk pauk (hewani
atau nabati), dan sayur.
Pemberiannya pun bergantian antara bubur susu dan
tim saring. ?Pada frekuensi awal, bubur susu
diberikan 1-2 kali sehari. Namun ketika usia bayi 7
bulan, mengalami peningkatan, dimana bubur
susunya 2x, sedangkan tim saringnya diberikan satu
kali sehari. Ketika usia 8 bulan, bubur susu diberikan
hanya sekali, tim saringnya menjadi dua kali dengan
isi yang lebih beragam. Begitu usia bayi 9-10 bulan,
baru diberikan tim saring sebanyak 3 kali sehari,?
papar dr Tinuk Agung Meilany SpA.
Nasi Lembek
Sesudah semua tahapan tersebut, baru anak
diberikan nasi putih biasa. Disarankan nasinya masih
berupa nasi yang lembek. Namun, ada juga anak
yang tidak bermasalah diberikan nasi biasa. Jadi,
bergantung kemampuan masing-masing anak, sebab
usia lebih dari 8 bulan, anak sudah tumbuh gigi,
otomatis lebih pandai mengunyah.
Satu Macam Sayur Dulu
Pemberian sayur untuk anak pun sangat disarankan.
Sayur yang baik adalah mengandung vitamin dan
mineral, biasanya terdapat pada sayuran berwarna
hijau atau orange (bayam, kacang, buncis, wortel).
Tapi, bukan berarti sayuran berwarna lain tidak
bergizi, hanya saja kandungannya lebih rendah.
Tahapannya mulai dari 1 macam sayur, jangan
langsung 3 macam. Sebab anak bisa diare. Bayi
harus harus beradaptasi dulu dengan makanan
barunya.
Bakat Alergi: Tunda Telur
Begitu anak makan bubur boleh mulai diberikan
telur. Tapi harus diperhatikan untuk anak-anak yang
punya bakat alergi, disarankan untuk memperlambat
pemberian telur, yaitu pada usia lebih dari setahun
atau lebih bagus saat usia 2 tahun.
Selain itu, pemberian telur sebaiknya dimulai dari
kuning telur terlebih dahulu, karena alergen biasanya
berasal dari protein yakni putih telurnya, sementara
kuning telur banyak mengandung lemak dan vitamin.
Ikan: Menjelang Satu Tahun
Pada dasarnya, makanan yang diberikan untuk bayi
adalah makanan yang sehat, yang terdiri atas beras,
lauk-pauk (hewani dan nabati), buah-buahan dan
tambahan susu. Sama halnya dengan memberikan
makanan padat, lauk-pauk pun harus diberikan
secara bertahap. Mulai dari daging ayam yang
dihaluskan, lalu diselingi dengan daging sapi,
sampai ketika usianya mendekati satu tahun, si kecil
sudah boleh diberi ikan.
Tahapan MPASI
Ditegaskan dr Endang Peddyawati MS SpGK MARS,
pemberian MPASI dimulai dari bentuk makanan encer
menuju ke bentuk kental secara bertahap. Semuanya
itu disesuaikan dengan usia bayi dan kemampuan
bayi menerima makanan serta kebutuhan bayi akan
kecukupan zat gizinya. Perinciannya sebagai berikut:
- Umur 6 ? 8 bulan dapat diberikan ASI, buah dan
bubur susu/ biskuit.
- Usia 8 ? 10 bulan, dapat diberikan ASI, buah,
biskuit, bubur susu, bubur saring. Bila perlu, berikan
makanan selingan seperti finger foods (makanan
yang mudah dipegang). Misalnya, wortel yang masih
mentah atau direbus setengah matang, potongan
buah apel atau pir, kentang goreng dan lainnya.
Pada usia ini, makanan bayi sudah boleh dibubuhi
kuning telur atau ayam masak.
- Usia 10 ? 12 bulan dapat diberikan ASI, buah,
biskuit, bubur susu, nasi tim lembek.
- Pada usia 1 tahun ke atas di samping masih
mengonsumsi ASI juga sudah bisa diberikan nasi
dengan lauk pauk dan buah.
Sumber: Mom & Kiddie
   
09-01-2014 06:26:07 Harus gak ya suntik IPD
Jumlah Posts : 527
Jumlah di-Like : belum ada like
Imunisasi IPD/PCV Perlukah?





Mau berbagi share ya bunda semua mengenai imuniasi PCV / IPD dan HIB setalah sebelumnya saya ketemu 2 dokter di RSIA.Brawijaya dan dua dokter itu bilang wajib ya dianjurkan dengan memberikan beberapa poin penting mengenai si imunisasi PCV ini telah dan sebenernya L dijadwalkan kemaren buat imunisasi tanggal9 junikemaren dan kebetulan ada masalah jadi ditunda buat imunisasi dan sebenernya aku juga agak-agak emh dalem hati mikir (perlu gak sih perlu gak sih dan searching di Mbah google dan disitu ada yg say yes ada juga yg say no) makin kritis buat mikir ah L imunisasi gak yaaa ?. ?Dan kemaren suami ngajak buat konsultasi lagi ke Markas sehat mampang dan ketemu salah satu dokter yg ngejelasin detil tentang imunisasi ini. Sebelumnya aku jelasin dulu ya ? Kebetulan aku dikasih buku tentang imunisasi ini yang dia punyaOke share juga di beberapa milis dan mereka juga bahas seberapa penting imunisasi dan aku sempet chat sama salah satu seorang ibu yg anaknya pernah terjangkit virusPNEUMOKOKUSdan dia bilang sangat menyesal menyepelekan hal ini awalnya dia merasa tidak penting karna memang tidak wajib balik lagi ?siapa sih yg mau anaknya terjangkit virus ini kita kan gak tau akan atau tidaknya terjangkit virus ini dan dia pesen (mom baiknya di imunisasikan memang imunisasi ini harganya lumayan mahal tapi ketimbang telat dan malah mengobati mom lebih baik dicegah) ini adalah poin pertama yang saya dapat dari imunisasi tersebut.Oke aku kasih tau ya apa sih vaksin PCV ituMengapa anak perlu terlindung dari penyakit yang disebabkan olehPNEUMOKOKUS? (IPD dan OTitus Media AKut)1. MengapaPNEUMOKOKUSpada anak perlu diwaspadai ?Data badan kesehatan dunia, WHO (2007) mencatat sekitar satu juta balita meninggal setiap tahun akibat penyakit yang disebutINVASIVE PNEUMOCCOCCAL DIASEASE (IPD). Sekitar tiga perempat kasusu tersebut tersebar di 15 negara berkembang dan Indonesia berada di peringkat ke-6 dengan 6 juta kasus, artinya tiga balita perjamnya di Indonesia meninggal karna penyakit ini.Penyakit ini cukup berbahaya karna tidak jarang menyebabkan kematian pada anak balita. Orangtua hendaknya waspada terhadap bahaya serangan penyakit IPD karna dapat mengancam nyawa, terutama pada anak usia dibawah 2tahun.2. Apa itu penyakitPNEUMOKOKUS?PenyakitPNEUMOKOKUS terdiri atas meninghitis (radang selaput otak), septikema (keracunan darah), bakteria pneumonia (infeksi darah), dan otitis media (infeksi telinga), yang disebabkan oleh bakteri Streptocuccus Pneumoniae. Beberapa diantaranya penyakit ini bisa menjadi serius, terutama jika terjadi pada anak-anak.PNEUMOKOKUSmeninghitis ini bisa berakibat fatal dan setengah dari mereka yang dapat bertahan hidup akan mengalami cacat permanen seperti tuli, kerusajab otak atau kelumpuhanPNEUMOKOKUS PNEUMONIAPneumonia pneumokokus ini lebih serius dari pada jenis pneumonia yang lain, dan sering menyebabkan anak harus masuk rumah sakit. Gejala yang harus diwaspadai adalah demam, batuk, bernapas cepat. Gejala lain diantaranya sakit dada, mual, muntah, sakit kepala, kelelahan, menggigil dan nyeri otot.PNEUMOKOKUS 0TITIS MEDIAMerupakan jenis infeksi telinga yang sangat umum terjadi pada anak-anak. Hal ini tentu sangat menyusahkan bagi mereka maupun keluarga.Gejala yang ditimbulkan antaranya rasa sakit, hidung beringus, batuk, iritabilitas, gelisah, nafau makan yang buruk, terus menerus menangis, diare dan muntah-muntah.3.bagaimana jika anak saya tertular penyakitPNEUMOKOKUS?Bakteri yang menyebabkan peneumokokus tinggal ditenggorokan dan rongga hidung setiap anak yang sehat. Bakteri ini dapat ditularkan dari anak-anak lain yang memderita infeksiPNEUMOKOKUS, dikelompok bermain atau penitipan bayi.4. Bagaimana mencegah penyakitPNEUMOKOKUS?Jika di identifikasi lebih awal, dan jika pasien diberikan perawatan yang tepat, sebenarnya infeksiPNEUMOKOKUSbisa diobati. Secara khusus,PNEUMOKOKUSotitis media umumnya bisa diobati dengan antibiotik. Namun, saat ini terjadi peningkatan resistensi bakteri terhadap antibiotik, sehingga para dokter lebih mengutamakan pencegahan terhadap penyakit dari pada pengobatan.5. Bagaimana saya bisa melindungi anak saya dari penyakitPNEUMOKOKUS?Vaksinasi terhadap infeksiPNEUMOKOKUSsekarang telah tersedia hampir 90 negara di dunia, dan telah menjadi bagian dari awal imunisasi di lebih dari 20 negara diantaranya (termasuk Amerika serikat dan kebanyakan negara Eropa Barat)Vaksin sangat berhasil dalam mengurangi jumlah kasus penyakitPNEUMOKOKUS. Vaksinasi memang tidak dapat melindungi anak dari semua infeksiPNEUMOKOKUS, namun setidaknya akam melindungi anak dari timbulnya gejala yang lebih serius.Telah tersedia juga di Indonesia vaksin konjugatPNEUMOKOKUS, dan telah direkomendasikan olehIKATAN DOKTER ANAK INDONESIA (IDAI)untuk diberikan kepada bayi usia 2, 4, dan 6 bulanKeuntungan, vaksinPNEUMOKOKUSdapat diberikan secara bersamaan dengan vaksin anak lainnya.6. Siapa yang paling beresiko tertular penyakitPNEUMOKOKUS?Anak-anak kecil (kurang dari dua tahun) dan orang tua adalah yang paling rentan tertular penyakitPNEUMOKOKUS, sehingga dalam kondisi tertentu mereka sangat membutuhkan perlindungan.Nah ini definisi ImunisasiHIB(hemofilus influenza tipe B).HIB bukanlahvirus influenzamelainkan bakteri yang menyebabkanpneumonia dan radang selaput otak (meninghitis). Balita, anak yang dititipkan di daycare, anak yang tinggal dihunian padat penduduk, dan bayi yang tidak mendapatkan ASI adalah kelompok yang paling rentan terkena virus Hib. Penularan terjadi melalui udara dan kontak langsung dengan penderita. Di Indonesia, HIb merupakan 38 persen penyebab meninghitis pada bayi dan balita. Sekitar 5-10 persen korban infeksi Hib akan meninggal dunia.Jika infeksi akut Hib menyerang bayi berusia dibawah 6 bulan, tingkat kematian mencapai 40%. Hib juga menjadi 5-18 persen kejadian pneumonia. Kantung udara di paru-paru dipenuhi cairan sehingga fungsi paru-paru terganggu. Akibat penumpukan cairan tersebut, oksigen sulit mencapai aliran darah.Jika oksigen didalam darah sedikit, sel-sel rubuh tidak dapat bekerja dengan baik sehingga bisa berujung pada kematian. Penyakit oleh bakteri Hib adalah epiglotitis yaitu penyakit radang tulang rawan tenggorokan. Penyakit ini paling sering terjadi pada anak-anak usia 2-4tahun. Penyakit ini diawali dengan sakit tenggorokan dan demam. Kemudian tulang rawan ditengah tenggorokan akan membengkak dan mengganggu jalan nafas sehingga penderitaannya sulit bernafas.Penderita bisa meninggal dalam hitungan jam karena kekurangan nafasPEMBERIAN VAKSINSebelum vaksin Hib ditemukan pada 1980-an, Hib merupakan penyebab utama meninghitis bakteri pada balita. Dua per tiga dari kasus meninghitis Hib ditemukan pada anak berusia dibawah 18 bulan, kini vaksinasi dilakukan sebanyak tiga kali. Pertama saat anak berusia 2,4 dan 6 bulan. Lalu vaksin Hib diulang pada usia 12-15 bulan.Mengingat Hib lebih sering menyerang bayi kecil (laporan CDC menunjukan bahwa 26 persen infeksi Hib terjadi pada bayi berusia 2-6 bulan dan 25 persen pada bayi usia 7-11 bulan), maka vaksin hib sebaiknya telah diberikan sejak bayi menginjak 2 bulan.Namun vaksin Hib tidak dianjurkan untuk diberikan terhadap bayi dibawah usia 2 bulan karena bayi yang masih sangat kecil belum dapat membentuk antibodi. Di negara maju, imunisasi menurunkan kejadian infeksi Hib hingga lebih dari 95 persen.Ini yang saya dapat dari konsultasi kemaren sebenernya saya udah dapet tentang seberapa pentingnya si PCV atau IPD ini dari 2 dokter tapi saya masih kurang puas akhirnya saya datang lagi ke MARKAS SEHAT ketemu dengan salah satu dokter yang menerangkan lebih jelas tentang imunisasi ini.Oh ya alhamdulillah anak saya sudah mendapatkan imunisasi Hib lengkap jadi tinggal PCV atau IPD saja, sebenernya kan imunisasi PCV ini diberikan pada usia bayi mulai dari 2 bulan ya namun karna L sudah lebih dari 2 bulan yakni 7 bulan maka L hanya mendapatkan 3x suntik saja rencana akhir bulan ini saya kembali ke brawijaya untuk segera vaksin.
   
Jumlah Posts : 527
Jumlah di-Like : belum ada like
So long long articcle ya,bund?Poin pentingnya disini :) 20 Mitos Kampanye Hitam Anti ImunisasiDr. Widodo Judarwanto Sp.AImunisasi adalah investasi terbesar bagi anak di masa depan. Imunisasi adalah hak anak yang tidak bisa ditunda dan diabaikan sedikitpun. Imunisasi sudah terbukti manfaat dan efektivitasnya dan teruji keamanannya secara ilmiah dengan berdasarkan kejadian berbasis bukti.Tetapi masih banyak saja orangtua dan kelompok orang yang menyangsikannya. Setiap tahun ada sekitar 2,4 juta anak usia kurang dari 5 tahun di dunia yang meninggal karena penyakit-penyakit yang dapat dicegah oleh vaksinasi. Di Indonesia, sekitar 7 persen anak belum mendapatkan vaksinasi. Salah satu masalah utama yang menghambat keberhasilan program imunisasi adalah penyebaran informasi yang tidak benar dan menyesatkan tentang imunisasi.Hal itu adalah wajar terjadi karena demikian banyak informasi yang beredar yang tidak berdasarkan pemikiran dan dasar ilmiah meski dilakukan oleh seorang dokter. Hambatan lain adalah munculnya kelompok-kelompok antivaksinasi yang menyebabkan kampanye hitam dengan membawa faktor agama dan budaya.Biasanya, kelompok tertentu yang menyebarkan kampanye hitam imunisasi demi kepentingan pribadi khususnya dalam kepentingan bisnis terselubung yang mereka lakukan. Sebagian kelompok ini adalah yang berdiri dibelakang oknum pelaku naturopathy, food combining, homeopathy atau bisnis terapi herbal.Inilah 20 Mitos Tidak benar Yang Disebarkan Kampanye Hitam Anti Imunisasi :1. Imunisasi tidak aman.Tidak Benar. Saat ini 194 negara terus melakukan vaksinasi untuk bayi dan balita. Badan resmi yang meneliti dan mengawasi vaksin di negara tersebut umumnya terdiri atas para dokter ahli penyakit infeksi, imunologi, mikrobiologi, farmakologi, epidemiologi, dan biostatistika. Sampai saat ini tidak ada negara yang melarang vaksinasi, justru semua negara berusaha meningkatkan cakupan imunisasi lebih dari 90% .2. Terdapat "ilmuwan" menyatakan bahwa imunisasi berbahaya.Tidak benar imunisasi berbahaya. "Ilmuwan" yang sering dikutip di buku, tabloid, milis ternyata bukan ahli vaksin, melainkan ahli statistik, psikolog, homeopati, bakteriologi, sarjana hukum, wartawan. sehingga mereka tidak mengerti betul tentang vaksin. Sebagian besar mereka bekerja pada era tahun 1950- 1960, sehingga sumber datanya juga sangat kuno.3. "Ilmuwan kuno" yang sering dikutip informasi di media masa atau media elektronik lainnya adalah ahli vaksin.Tidak benar. Mereka semua bukan ahli vaksin. Contoh : Dr Bernard Greenberg (biostatistika tahun 1950), DR. Bernard Rimland (Psikolog), Dr. William Hay (kolumnis), Dr. Richard Moskowitz (homeopatik), dr. Harris Coulter, PhD (penulis buku homeopatik, kanker), Neil Z. Miller, (psikolog, jurnalis), WB Clark (awal tahun 1950), Bernice Eddy (Bakteriologis tahun 1954), Robert F. Kenedy Jr (sarjana hukum) Dr. WB Clarke (ahli kanker, 1950an), Dr. Bernard Greenberg (1957-1959), Dr. William Hay, penulis buku "Immunisation: The Reality behind the Myth"(penggagas food combioning). Neil Z. Miller sering disebut sebagai peneliti vaksin internasional ternyata adalah medical research journalist dan natural health advocate.4. Dokter Wakefield adalah "ahli vaksin", membuktikan MMR menyebabkan autisme.Tidak benar. Wakefield juga bukan ahli vaksin, dia dokter spesialis bedah. Penelitian Wakefield tahun 1998 hanya dengan sample 18. Banyak penelitian lain oleh ahli vaksin di beberapa negara menyimpulkan MMR tidak terbukti mengakibatkan autis. Setelah diaudit oleh tim ahli penelitian, terbukti bahwa Wakefield memalsukan data, sehingga kesimpulannya salah. Hal ini telah diumumkan di majalah resmi kedokteran Inggris British Medical Journal Februari 2011.5. Imunisasi sebabkan autisme.Tidak benar. Beberapa institusi atau badan dunia di bidang kesehatan yang independen dan sudah diakui kredibilitasnya juga melakukan kajian ilmiah dan penelitian tentang tidak adanya hubungan imunisasi dan autisme. Dari hasil kajian tersebut, dikeluarkan rekomendasi untuk tenaga profesional untuk tetap menggunakan imunisasi MMR dan thimerosal karena tidak terbukti mengakibatkan Autisme. The All Party Parliamentary Group on Primary Care and Public Health pada bulan Agustus 2000, menegaskan bahwa MMR aman.Dengan memperhatikan hubungan yang tidak terbukti antara beberapa kondisi seperti inflammatory bowel disease (gangguan pencernaan) dan autisme adalah tidak berdasar. WHO (World Health Organisation), pada bulan Januari 2001 menyatakan mendukung sepenuhnya penggunaan imunisasi MMR dengan didasarkan kajian tentang keamanan dan efikasinya. Beberapa institusi dan organisasi kesehatan bergengsi di Inggris pada Januari 2001 setelah mengadakan pertemuan dengan pemerintahan Inggris mengeluarkan pernyataan bersama yaitu MMR adalah vaksin yang sangat efektif dengan laporan keamanan yang sangat baik.The American Academy of Pediatrics (AAP), organisasi profesi dokter anak di Amerika Serikat pada tanggal 12 - 13 Juni 2000 mengadakan konferensi dengan topik "New Challenges in Childhood Immunizations" di Oak Brook, Illinois Amerika Serikat yang dihadiri para orang tua penderita autisme, pakar imunisasi kesehatan anak dan para peneliti. Pertemuan tersebut merekomendasikan bahwa tidak terdapat hubungan antara MMR dan autisme. Menyatakan bahwa pemberian imunisasi secara terpisah tidak lebih baik dibandingkan MMR, malahan terjadi keterlambatan imunisasi MMR. Selanjutnya akan dilakukan penelitian lebih jauh tentang penyebab autisme.6. Thimerosal dalam kandungan autism sebagai penyebab autisme.Tidak benar. Penelitian yang mengungkapkan bahwa thimerosal tidak mengakibatkan Autis dilakukan oleh berbagai penelitian di antaranya dilakukan oleh Kreesten M. Madsen dkk dari berbagai intitusi di Denmark. Mereka mengadakan penelitian bersama terhadap anak usia 2 hingga 10 tahun sejak tahun 1970 hingga tahun 2000. Mengamati 956 anak sejak tahun 1971 hingga 2.000 anak dengan autis. Sejak thimerosal digunakan hingga tahun 1990 tidak didapatkan kenaikkan penderita auitis secara bermakna. Kemudian sejak tahun 1991 hingga tahun 2000 bersamaan dengan tidak digunakannya thimerosal pada vaksin ternyata jumlah penderita autis malah meningkat drastis. Kesimpulan penelitian tersebut adalah tidak ada hubungan antara pemberian thimerosal dengan autis. Demikian juga Stehr-Green P dkk, Department of Epidemiology, School of Public Health and Community Medicine, University of Washington, Seattle, WA, bulan Agustus 2003 melaporkan antara tahun 1980 hingga 1990 membandingkan prevalensi dan insiden penderita autisme di California, Swedia, dan Denmark yang mendapatkan ekposur dengan imunisasi thimerosal. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa insiden pemberian thimerosal pada autisme tidak menunjukkan hubungan yang bermakna.Geier DA dalam Jurnal Americans Physicians Surgery tahun 2003, menungkapkan bahwa thimerosal tidak terbukti mengakibatkan gangguan neurodevelopment (gangguan perkembangan karena persarafan) dan penyakit jantung. Melalui forum National Academic Press tahun 2001, Stratton K dkk melaporkan tentang keamanan thimerosal pada vaksin dan tidak berpengaruh terhadap gangguan gangguan neurodevelopment (gangguan perkembangan karena persarafan). Sedangkan Hviid A dkk dalam laporan di majalah JAMA 2004 mengungkapkan penelitian terhadap 2.986.654 anak per tahun didapatkan 440 kasus autis. Dilakukan pengamatan pada kelompok anak yang menerima thimerosal dan tidak menerima thimerosal. Ternyata tidak didapatkan perbedaan bermakna. Disimpulkan bahwa pemberian thimerosal tidak berhubungan dengan terjadinya autis.Menurut penelitian Eto, menunjukkan manifestasi klinis autis sangat berbeda dengan keracunan merkuri. Sedangkan Aschner, dalam penelitiannya menyimpulkan tidak terdapat peningkatan kadar merkuri dalam rambut, urin dan darah anak Autis. Pichichero melakukan penelitian terhadap 40 bayi usia 2-6 bulan yang diberi vaksin yang mengandung thimerosal dan dibandingkan pada kelompok kontrol tanpa diberi thimerosal. Setelah itu dilakukan evaluasi kadar thimerosal dalam tinja dan darah bayi tersebut. Ternyata thimerosal tidak meningkatkan kadar merkuri dalam darah, karena etilmerkuri akan cepat dieliminasi dari darah melalui tinja. Selain itu masih banyak lagi peneliti melaporkan hasil yang sama, yaitu thimerosal tidak mengakibatkan autisme.7. Semua vaksin terdapat zat-zat berbahaya yang dapat merusak otak ?Tidak benar. Isu itu karena "ilmuwan" tersebut di atas tidak mengerti isi vaksin, manfaat, dan batas keamanan zat-zat di dalam vaksin. Contoh: jumlah total etil merkuri yang masuk ke tubuh bayi melalui vaksin sekitar 2 mcg/kgbb/minggu, sedangkan batas aman menurut WHO adalah jauh lebih banyak (159 mcg/kgbb/minggu). Oleh karena itu vaksin mengandung merkuri dengan dosis yang sangat rendah dan dinyatakan aman oleh WHO dan badan-badan pengawasan lainnya.8. Vaksin terbuat dari nanah, dibiakkan di janin anjing, babi, manusia yang sengaja digugurkan?Tidak benar. Isu itu bersumber dari "ilmuwan" 50 tahun lalu (tahun 1961-1962). Pengetahuan imunologi, biomolekuilar vaksin dan tknologi pembuatan vaksin berkembang sangat pesat. Sekarang tidak ada vaksin yang terbuat dari nanah atau dibiakkan embrio anjing, babi, atau manusia. Metode baru dan teknologi paling modern dari manipulasi biomolekuler telah diyakini teknologi vaksin baru sekarang memasuki "zaman keemasan." Perbaikan vaksin sangat mungkin dilakukan di masa depan untuk mendapatkan keamanan dan efektifitas vaksin lebih hebat lagi9. Imunisasi tak masuk akal bermanfaat.Tidak benar. Pendapat yang menyesatkan yang tidak berdasarkan kajian ilmiah dan penelitian ilmiah dikeluarkan oleh Dr. William Hay seorang dokter yang bergerak di bidang food combining, dalam buku "Immunisation: The Reality behind the Myth""Tak masuk akal memikirkan bahwa Anda bisa menyuntikkan nanah ke dalam tubuh anak kecil dan dengan proses tertentu akan meningkatkan kesehatan. Tubuh punya cara pertahanan tersendiri yang tergantung pada vitalitas saat itu. Jika dalam kondisi fit, tubuh akan mampu melawan semua infeksi, dan jika kondisinya sedang menurun, tidak akan mampu. Dan Anda tidak dapat mengubah kebugaran tubuh menjadi lebih baik dengan memasukkan racun apapun juga ke dalamnya." Padahal sampai saat ini 194 negara di seluruh dunia yakin bahwa imunisasi aman dan bermanfaat mencegah wabah, sakit berat, cacat, dan kematian pada bayi dan balita. Terbukti 194 negara tersebut terus menerus melaksanakan program imunisasi, termasuk negara dengan sosial ekonomi tinggi dan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, dengan cakupan umumnya lebih dari 85 %. Ribuan penelitian tentang efikasi dan manfaat vaksi secara biomolekular dan secara statistik bermanfaat secara bermakna.10. Vaksin mengandung lemak babi ?Tidak benar. Hanya sebagian kecil dari vaksin yang pernah bersinggungan dengan tripsin pada proses pengembangan maupun pembuatannya seperti vaksin polio injeksi (IPV) dan meningitis. Pada vaksin meningitis, pada proses penyemaian induk bibit vaksin tertentu 15 ? 20 tahun lalu, ketika panen bibit vaksin tersebut bersinggungan dengan tripsin pankreas babi untuk melepaskan induk vaksin dari persemaiannya. Tetapi kemudian induk bibit vaksin tersebut dicuci dan dibersihkan total, sehingga pada vaksin yang disuntikkan tidak mengandung tripsin babi. Atas dasar itu maka Majelis Ulama Indonesia berpendapat vaksin itu boleh dipakai, selama belum ada penggantinya. Contohnya vaksin meningokokus (meningitis) haji diwajibkan oleh Saudi Arabia bagi semua jemaah haji untuk mencegah radang otak karena meningokokus.11. Vaksin yang dipakai di Indonesia buatan Amerika ?Tidak benar. Vaksin yang digunakan oleh program imunisasi di Indonesia adalah buatan PT Bio Farma Bandung, yang merupakan BUMN, dengan 98,6% karyawannya adalah Muslim. Proses penelitian dan pembuatannya mendapat pengawasan ketat dari ahli-ahli vaksin di BPOM dan WHO. Vaksin-vaksin tersebut juga diekspor ke 120 negara, termasuk 36 negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam, seperti Iran dan Mesir. Vaksin yang digunakan oleh program imunisasi di Indonesia adalah buatan PT Biofarma Bandung. Vaksin-vaksin tersebut dibeli dan dipakai oleh 120 negara, termasuk 36 negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam12. Program imunisasi hanya di negara Muslim dan miskin agar menjadi bangsa yang lemah?Tidak benar. Imunisasi saat ini dilakukan di 194 negara, termasuk negara-negara maju dengan status sosial ekonomi tinggi, dan negara-negara non-Muslim. Kalau imunisasi bisa melemahkan bangsa, maka mereka juga akan lemah, karena mereka juga melakukan program imunisasi, bahkan lebih dulu dengan jenis vaksin lebih banyak. Kenyataanya : bangsa dengan cakupan imunisasi lebih tinggi justru lebih kuat. Jadi terbukti bahwa imunisasi justru memperkuat kekebalan terhadap penyakit infeksi, bukan melemahkan.13. Di Amerika banyak kematian bayi akibat vaksin ?Tidak benar. Isu itu karena penulis tidak faham data Vaccine Adverse Event Reporting System (VAERS) FDA Amerika tahun 1991-1994, yang mencatat 38.787 laporan kejadian ikutan pasca imunisasi, oleh penulis angka tersebut ditafsirkan sebagai angka kematian bayi 1 - 3 bulan. Kalau memang benar angka kematian begitu tinggi tentu FDA AS akan heboh dan menghentikan vaksinasi. Faktanya Amerika tidak pernah meghentikan vaksinasi bahkan mempertahankan cakupan semua imunisasi di atas 90 %. Angka tersebut adalah semua keluhan nyeri, gatal, merah, bengkak di bekas suntikan, demam, pusing, muntah yang memang rutin harus dicatat kalau ada laporan masuk. Kalau ada 38.787 laporan dari 4,5 juta bayi berarti KIPI hanya 0,9 %.14. Banyak bayi balita meninggal pada imunisasi masal campak di Indonesia ?Tidak benar. Setiap laporan kecurigaan adanya kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) selalu dikaji oleh Komnas/Komda KIPI yang terdiri dari pakar-pakar penyakit infeksi, imunisasi, imunologi. Setelah dianalisis dari keterangan keluarga, dokter yang merawat di rumah sakit, hasil pemeriksaan fisik, dan laboratorium, ternyata balita tersebut meninggal karena radang otak, bukan karena vaksin campak. Pada bulan itu ada beberapa balita yang tidak imunisasi campak juga menderita radang otak. Berarti kematian balita tersebut bukan karena imunisasi campak, tetapi karena radang otak.15. Demam, bengkak, merah setelah imunisasi adalah bukti vaksin berbahaya?Tidak benar. Demam, merah, bengkak, gatal di bekas suntikan adalah reaksi wajar setelah vaksin masuk ke dalam tubuh. Seperti rasa pedas dan berkeringat setelah makan sambal adalah reaksi normal tubuh kita. Umumnya keluhan tersebut akan hilang dalam beberapa hari. Boleh diberi obat penurun panas, dikompres. Bila perlu bisa konsul ke petugas kesehatan terdekat.16. Program imunisasi gagal?Tidak benar. Isu-isu tersebut bersumber dari data yang sangat kuno (50-150 tahun lalu) hanya dari 1 - 2 negara saja, sehingga hasilnya sangat berbeda dengan hasil penelitian terbaru, karena vaksinnya sangat berbeda. Isu vaksin cacar variola gagal, berdasarkan data yang sangat kuno, di Inggris tahun 1867 - 1880 dan Jepang tahun 1872-1892. Fakta terbaru sangat berbeda, bahwa dengan imunisasi cacar di seluruh dunia sejak tahun 1980 dunia bebas cacar variola. Isu vaksin difteri gagal, berdasarkan data di Jerman tahun 1939. Fakta sekarang: vaksin difteri dipakai di seluruh dunia dan mampu menurunkan kasus difteri hingga 95 %. Isu pertusis gagal hanya dari data di Kansas dan Nova Scottia tahun 1986. Isu vaksin campak berbahaya hanya berdasar penelitian 1989-1991 pada anak miskin berkulit hitam di Meksiko, Haiti dan Afrika.17. Program imunisasi gagal, karena setelah diimunisasi bayi balita masih bisa tertular penyakit tersebut ?Tidak benar. Program imunisasi di seluruh dunia tidak pernah gagal. Perlindungan vaksin memang tidak 100%. Bayi dan balita yang telah diimunisasi masih bisa tertular penyakit, tetapi jauh lebih ringan dan tidak berbahaya. Banyak penelitian imunologi dan epidemiologi di berbagai membuktikan bahwa bayi balita yang tidak diimunisasi lengkap tidak mempunyai kekebalan spesifik terhadap penyakit-penyakit berbahaya. Mereka mudah tertular penyakit tersebut, akan menderita sakit berat, menularkan ke anak-anak lain, menyebar luas, terjadi wabah, menyebabkan banyak kematian dan cacat.18. Vaksin berbahaya, tidak effektif, tidak dilakukan di negara maju ?Tidak benar. Karena di Indonesia ada orang-orang yang tidak mengerti tentang vaksin dan imunisasi, hanya mengutip dari "ilmuwan" tahun 1950 -1960 yang ternyata bukan ahli vaksin, atau berdasar data-data 30 - 40 tahun lalu (1970 - 1980an) atau hanya dari 1 sumber yang tidak kuat. Atau dia mengutip Wakefield spesialis bedah, bukan ahli vaksin, yang penelitiannya dibantah oleh banyak tim peneliti lain, dan oleh majalah resmi kedokteran Inggris British Medical Journal Februari 2011 penelitian Wakefield dinyatakan salah atau bohong. Ia hanya berdasar kepada 1 - 2 laporan kasus yang tidak diteliti lebih lanjut secara ilmiah, hanya berdasar logika biasa. Badan penelitian di berbagai negara membuktikan bahwa dengan meningkatkan cakupan imunisasi, maka penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi berkurang secara bermakna. Oleh karena itu, saat ini program imunisasi dilakukan terus menerus di 194 negara, termasuk negara dengan sosial ekonomi tinggi dan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam.19. ASI, gizi, dan suplemen herbal sudah cukup menggantikan imunisasi .Tidak ada satupun badan penelitian di dunia yang menyatakan bisa, karena kekebalan yang dibentuk sangatlah berbeda. ASI, gizi, suplemen herbal, kebersihan, hanya memperkuat pertahanan tubuh secara umum, karena tidak membentuk kekebalan spesifik terhadap kuman tertentu. Kalau jumlah kuman banyak dan ganas, perlindungan umum tidak mampu melindungi bayi, sehingga masih bisa sakit berat, cacat atau bahkan mati. Imunisasi merangsang pembentukan antibodi dan kekebalan seluler yang spesifik terhadap kuman-kuman atau racun kuman tertentu, sehingga bekerja lebih cepat, efektif, dan efisien untuk mencegah penularan penyakit yang berbahaya. Selain diberi imunisasi, bayi harus diberi ASI eksklusif, makanan pendamping ASI dengan gizi lengkap dan seimbang, kebersihan badan, makanan, minuman, pakaian, mainan, dan lingkungan. Suplemen diberikan sesuai kebutuhan individual yang bervariasi. Selain itu bayi harus diberikan kasih sayang dan stimulasi bermain untuk mengembangkan kecerdasan, kreatifitas dan perilaku yang baik.20. Imunisasi dan Konspirasi Zionisme di dalamnya.Tidak benar. Jika dirunut sejarah vaksin modern yang dilakukan oleh Flexner Brothers, dapat ditemukan bahwa kegiatan mereka dalam penelitian tentang vaksinasi pada manusia didanai oleh Keluarga Rockefeller. Di dunia internasional banyak yayasan sosial yang mendanai penelitian ilmiah tentang vaksin dan masalah kesehatan masyarakat lainnya. Memang Rockefeller sendiri adalah salah satu keluarga Yahudi yang paling berpengaruh di dunia tetapi sebenarnya mereka adalah pendiri WHO dan lembaga strategis lainnya (The UN's WHO was established by the Rockefeller family's foundation in 1948 - the year after the same Rockefeller cohort established the CIA. Two years later the Rockefeller Foundation established the U.S. Government's National Science Foundation, the National Institute of Health (NIH), and earlier, the nation's Public Health Service (PHS). Yayasan Rockefeller yang berdiri sejak tahun 1913 dan kredibilitasnya telah diakui dunia kesehatan Internasional yang berupaya meningkatkan kesehatan global dengan bekerja untuk mengubah sistem kesehatan sehingga lebih mudah diakses dan terjangkau masyarakat tidak mampu. Yayasan kesehatan dunia ini juga menghubungkan jaringan surveilans penyakit global untuk membantu mereka yang berjuang meminimalkan penyebaran penyakit menular yang dapat menyebabkan pandemi. Yayasan ini juga meningkatkan monitoring, deteksi dan respon terhadap penyakit menular seperti Ebola, SARS, dan flu burung untuk mencegah pandemi. Memperluas penggunaan teknologi untuk meningkatkan perawatan kesehatan. Melibatkan sektor swasta untuk bekerja dengan sektor publik dalam mengembangkan praktik dan kebijakan untuk menyediakan dan mendanai pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin.Sikap orang tua dalam menghadapi kampanye hitam* Bila mendengar dan mengetahui kontroversi tersebut, maka pasti akan membingungkan masyarakat awam. Hal ini terjadi karena yang memberikan informasi yang tidak benar tersebut adalah para ahli kedokteran tetapi yang tidak berkompeten sesuai keahliannya. Untuk menyikapinya kita harus cermat dan teliti dan berpikiran lebih jernih. Kalau mengamati beberapa penelitian yang mendukung adanya berbagai kejadian berhubungan dengan imunisasi, mungkin benar sebagai pemicu atau sebagai co-accident atau kebetulan.* Penelitian yang menunjukkan hubungan keterkaitan imunisasi dan berbagai hal yang tidak benar hanya dilihat dalam satu kelompok kecil (populasi). Secara statistik hal ini hanya menunjukkan hubungan, tidak menunjukkan sebab akibat. Kita juga tidak boleh langsung terpengaruh pada laporan satu atau beberapa kasus, misalnya bila orang tua anak autism berpendapat bahwa anaknya timbul gejala autism setelah imunisasi. Kesimpulan tersebut tidak bisa digeneralisasikan terhadap anak sehat secara umum (populasi lebih luas). Kalau itu terjadi bisa saja kita juga terpengaruh oleh beberapa makanan yang harus dihindari oleh penderita autism juga juga akan dihindari oleh anak sehat lainnya. Jadi logika tersebut harus dicermati dan dimengerti.* Menanggapi tantangan tersebut, Prof Sri Rezeki Hadinegoro, Ketua Pelaksana Konferensi Vaksin Se-Asia 3 mengatakan, pemerintah bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melakukan pendekatan kepada ulama dan masyarakat untuk memberikan pemahaman yang benar. "Kami tidak melawan pemahaman kelompok antivaksin, tetapi jangan memutarbalikkan fakta pada masyarakat," kata Sri dalam acara jumpa pers pelaksanaan Konferensi Vaksinasi Asia Ke-3 di Jakarta, Kamis (28/7/2011).* Ketua Bidang Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama menambahkan, masyarakat seharusnya tidak perlu mengkhawatirkan keamanan dan kehalalan vaksin yang beredar. "Pemerintah menjamin semua vaksin yang beredar sesuai kaidah-kaidah yang berlaku. Pada kasus kontroversi vaksin meningitis untuk jemaah haji, kami mengikuti saran MUI," katanya.* Persoalan black campaign dari vaksin ternyata juga ditemui di negara-negara lain, misalnya di Filipina. Menurut Enrique Tayag, President of Philliphine Foundation for Vaccination, kelompok antivaksin juga menjadi tantangan. "Bagaimanapun masyarakat harus diingatkan manfaat vaksin untuk kesehatan anak jauh lebih besar daripada efek samping yang ditakutkan," katanya dalam kesempatan yang sama. Hambatan lain adalah munculnya kelompok-kelompok antivaksinasi yang menyebabkan kampanye hitam dengan membawa faktor agama dan budaya. Biasanya kelompok tertentu yang menyebarkan kampanye hitam imunisasi demi kepentingan pribadi khususnya dalam kepentingan bisnis terselubung yang mereka lakukan. Sebagian kelompok ini adalah yang dilakukan oleh oknum pelaku naturopathy, homeopathy, food combining, atau bisnis terapi herbal. Sebagian dari kelompok ini juga dilakukan oleh dokter bahkan beberapa profesor. Tetapi semuanya bukan berasal dari ahli medis, dokter atau profesior yang berkompeten di bidangnya seperti ahli kesehatan anak, ahli vaksin, ahli imunologi. Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak juga dokter atau profesor yang bergerak di bidang bisnis terapi alternatif atau non medis. Meski sebenarnya ilmu dan aliran terapi alternatif tersebut pada umumnya sangat baik, tetapi sayangnya sebagian kecil di antara mereka demi keberhasilan bisnis mereka mengorbankan kepentingan anak di dunia dengan menyebarkan informasi tidak benar dan menyesatkan.Benarkah imunisasi lumpuhkan generasi?Dr Piprim B Yanuarso SpA (K)Konsultan Kardiologi Anak Bagian Anak FKUI/RSCM JakartaPengurus PP IDAI, JakartaPencinta anak-anak dan ibunya anak-anak.PendahuluanAkhir-akhir ini kita sering mendengar atau melihat seminar dengan judul yang membuat mata seorang dokter terbelalak. "Imunisasi lumpuhkan generasi" atau "Wahai para orangtua bekali dirimu dengan pengetahuan tentang bahaya imunisasi". Sebagai seorang dokter saya lalu merenung, bila benar apa yang mereka serukan itu, betapa besar dosa saya sebagai dokter anak yang sering mengimunisasi bayi dan anak yang datang ke tempat praktek. Betapa jahatnya saya sebagai manusia karena telah mengimunisasi begitu banyak bayi dan anak selama ini, bahkan sejak saya masih sebagai dokter umum di puskesmas dahulu. Lalu saya merenung dan mencoba meneliti kembali permasalahan ini. Siapa sebenarnya yang salah dan siapa yang benar? Dalam kontroversi yang memuat perbedaan 180 derajat ini, tidak mungkin kedua-duanya salah atau benar. Pasti salah satu benar dan yang lain salah. Dan saya khawatir bila selama ini sayalah yang bersalah itu. Saya sungguh khawatir jangan-jangan saya telah melumpuhkan begitu banyak generasi muda. Jangan-jangan saya telah melakukan dosa kemanusiaan yang sangat besar. Galau habis-habisan.Rasa galau itu membuat saya membuka-buka literatur dan data yang ada tentang permasalahan imunisasi. Saya mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi dengan seruan yang menentang keras imunisasi. Suatu pernyataan yang sangat bertolak belakang dengan yang selama ini saya pelajari bahwa imunisasi itu suatu tindakan preventif yang amat bermanfaat buat kemanusiaan. Di lain pihak kegalauan saya juga semakin menjadi bila mengingat andai seruan tersebut kemudian menyebar ke masyarakat luas lalu apa yang akan terjadi dengan bayi-bayi mungil tak berdosa itu di kemudian hari? Mungkinkah penyakit-penyakit berat yang dapat dicegah dengan imunisasi akan bangkit kembali dari kuburnya gara-gara seruan itu? Masalah ini justru menimbulkan kegalauan lebih dalam bagi saya.Apakah sebenarnya imunisasi itu?Sebelum melangkah lebih jauh mari kita bahas sekilas apakah yang dimaksud dengan imunisasi. Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang terhadap suatu penyakit, sehingga bila kelak terpajan pada penyakit tersebut ia tidak menjadi sakit. Kekebalan yang diperoleh dari imunisasi dapat berupa kekebalan pasif maupun aktif. Imunisasi yang diberikan untuk memperoleh kekebalan pasif disebut imunisasi pasif, dengan cara memberikan antibodi atau faktor kekebalan kepada seseorang yang membutuhkan. Contohnya adalah pemberian imunoglobulin spesifik untuk penyakit tertentu, misalnya imunoglobulin antitetanus untuk penyakit tetanus. Contoh lain adalah kekebalan pasif alamiah antibodi yang diperoleh janin dari ibu. Kekebalan jenis ini tidak berlangsung lama karena akan dimetabolisme oleh tubuh. Kekebalan aktif dibuat oleh tubuh sendiri akibat terpajan pada antigen secara alamiah atau melalui imunisasi. Imunisasi yang diberikan untuk memperoleh kekebalan aktif disebut imunisasi aktif dengan memberikan zat bioaktif yang disebut vaksin, dan tindakan itu disebut vaksinasi. Kekebalan yang diperoleh dari vaksinasi berlangsung lebih lama dari kekebalan pasif karena adanya memori imunologis, walaupun tidak sebaik kekebalan aktif yang terjadi karena infeksi alamiah. Untuk memperoleh kekebalan aktif dan memori imunologis yang efektif maka vaksinasi harus mengikuti cara pemakaian dan jadwal yang telah ditentukan melalui bukti uji klinis yang telah dilakukan. Tujuan imunisasi adalah untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu pada seseorang dan menghilangkan penyakit tersebut pada sekelompok masyarakat (populasi), atau bahkan menghilangkannya dari dunia seperti kita lihat pada keberhasilan imunisasi cacar variola. Keadaan terakhir ini lebih mungkin terjadi pada jenis penyakit yang hanya dapat ditularkan melalui manusia, seperti penyakit difteri dan poliomielitis. Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) merupakan penyakit berbahaya yang dapat menyebabkan kematian dan kecacatan seumur hidup dan akan menjadi beban bagi masyarakat di kemudian hari. Sampai saat ini terdapat 19 jenis vaksin untuk melindungi 23 PD3I di seluruh dunia dan masih banyak lagi vaksin yang sedang dalam penelitian.Adakah bukti bahwa imunisasi bermanfaat ?Pertanyaan selanjutnya yang perlu dijawab adalah adakah manfaat imunisasi? Ataukah imunisasi hanya bikin mudhorot (keburukan) buat kemanusiaan? Untuk menjawab pertanyaan ini saya kemudian menelaah berbagai data status kesehatan masyarakat sebelum dan sesudah ditemukannya imunisasi di berbagai negara. Namun saya ingin menampilkan data dari negara maju seperti Amerika Serikat, karena kelompok antiimunisasi selalu menuduh bahwa imunisasi adalah sebuah proyek konspirasi dari negara ini untuk melumpuhkan generasi muda di seluruh dunia.Sebelum adanya vaksin polio, terdapat 13.000 - 20.000 (16.316) kasus lumpuh layuh akut akibat polio dilaporkan setiap tahun di AS meninggalkan ribuan korban penderita cacat karena polio yang mesti menggunakan tongkat penyangga atau kursi roda. Saat ini AS dinyatakan bebas kasus polio. Angka penurunan mencapai 100%.Sebelum adanya imunisasi campak, 503.282 kasus campak terjadi setiap tahun dan 20% di antaranya dirawat dengan jumlah kematian mencapai 450 orang pertahun akibat pneumonia campak. Setelah ada imunisasi campak kasus menurun hingga 55 kasus pertahun pada tahun 2006. Angka penurunan 99.9%.Sebelum ditemukan imunisasi difteri terjadi 175.885 kasus difteri per tahun dengan angka kematian mencapai 15.520 kasus. Setelah imunisasi ditemukan tahun 2001 jumlahnya menurun menjadi 2 kasus dan tahun 2006 tidak ada lagi laporan kasus difteri. Angka penurunan mencapai 100%Sebelum tahun 1940an terdapat 150.000-260.000 kasus pertussis setiap tahun dengan angka kematian mencapai 9000 kasus setahun. Setelah imunisasi pertussis ditemukan angka kematian menurun menjadi 30 kasus setahun. Namun dengan seruan antiimunisasi yang marak di AS terjadi lagi peningkatan kasus secara signifikan di beberapa negara bagian. Pada 8 negara bagian terjadi peningkatan kasus 10-100 kali lipat pada saat cakupan imunisasi pertussis menurun drastis.Sebelum vaksin HiB ditemukan, HiB nerupakan penyebab tersering meningitis bakteri (radang selaput otak) di AS, dengan 20.000 kasus per tahun. Meningitis HiB menyebabkan kematian 600 anak pertahun dan meninggalkan kecacatan berupa tuli, kejang, dan retardasi mental pada anak yang selamat. Pada tahun 2006 kasus meningitis HIB menurun menjadi 29 kasus. Angka penurunan 99.9%.Hampir 90% bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi Rubella saat hamil trimester pertama akan mengalami sindrom Rubella kongenital, berupa penyakit jantung bawaan, katarak kongenital, dan ketulian. Pada tahun 1964 sekitar 20.000 bayi lahir dengan sindrom Rubella kongenital ini, mengakibatkan 2100 kematian neonatal dan 11.250 abortus. Setelah adanya imunisasi hanya dilaporkan 6 kasus sindrom Rubella kongenital pada tahun 2000. Kasus Rubella secara umum menurun dari 47.745 kasus menjadi hanya 11 kasus pertahun pada tahun 2006. Angka penurunan 99.9%.Hampir 2 milyar orang telah terinfeksi hepatitis B suatu saat dalam hidupnya. Sejuta di antaranya meninggal setiap tahun karena penyakit sirosis hati dan kanker hati. Sekitar 25% anak-anak yang terinfeksi hepatitis B dapat diperkirakan akan meninggal karena penyakit hati pada saat dewasa. Terjadi penurunan jumlah kasus baru dari 450.000 kasus pada tahun 1980 menjadi sekitar 80.000 kasus pada tahun 1999. Penurunan terbanyak terjadi pada anak dan remaja yang mendapat imunisasi rutin.Di seluruh dunia penyakit tetanus menyebabkan kematian pada 300.000 neonatus dan 30.000 ibu melahirkan setiap tahunnya dan mereka tidak diimunisasi adekuat. Tetanus sangat infeksius namun tidak menular, sehingga tidak seperti PD3I yang lain, imunisasi pada anggota suatu komunitas tidak dapat melindungi orang lain yang tidak diimunisasi. Karena bakteri tetanus terdapat banyak di lingkungan kita, maka tetanus hanya bisa dicegah dengan imunisasi. Bila program imunisasi tetanus distop, maka semua orang dari berbagai usia akan rentan menderita penyakit ini.Sekitar 212.000 kasus mumps (gondongan) terjadi di AS pada tahun 1964. Setelah ditemukannya vaksin mumps pada tahun 1967 insidens penyakit ini menurun menjadi hanya 266 kasus pada tahun 2001. Namun pada tahun 2006 terjadi KLB di kalangan mahasiswa, sebagian besar di antara mereka menerima 2 kali vaksinasi. Terjadi lebih dari 5500 kasus pada 15 negara bagian. Mumps merupakan penyakit yang sangat menular dan hanya butuh beberapa orang saja yang tidak diimunisasi untuk memulai transmisi penyakit sebelum menyebar luas.Sebelum vaksin pneumokokus ditemukan, pneumokokus menyebabkan 63.000 kasus invassive pneumococcal disease (IPD) dengan 6100 kematian di AS setiap tahun. Banyak anak yang menderita gejala sisa berupa ketulian dan kejang-kejang.Dari data di atas para ahli menyimpulkan bahwa imunisasi adalah salah satu di antara program kesehatan masyarakat yang paling sukses dan cost-effective . Program imunisasi telah menyebabkan eradikasi penyakit cacar (variola, smallpox), eliminasi campak dan poliomielitis di berbagai belahan dunia. dan penurunan signifikan pada morbiditas dan mortalitas akibat penyakit difteri, tetanus, dan pertussis. Badan kesehatan dunia (WHO) pada tahun 2003 memperkirakan 2 juta kematian anak dapat dicegah dengan imunisasi. Katz (1999) bahkan menyatakan bahwa imunisasi adalah sumbangan ilmu pengetahuan yang terbaik yang pernah diberikan para ilmuwan di dunia ini.Miskonsepsi tentang imunisasiMeskipun imunisasi telah terbukti banyak manfaatnya dalam mencegah wabah dan PD3I di berbagai belahan dunia, namun masih terdapat sebagian orang yang memiliki miskonsepsi terhadap imunisasi. Secara umum berikut ini adalah beberapa miskonsepsi yang sering terjadi di masyarakt:A. Penyakit-penyakit tersebut (PD3I) sebenarnya sudah mulai menghilang sebelum vaksin ditemukan karena meningkatnya higiene dan sanitasi.Pernyataan sejenis ini dan variasinya sangat banyak dijumpai pada literatur antivaksin. Namun bila melihat insidens aktual PD3I sebelum dan sesudah ditemukannya vaksin kita tidak lagi meragukan manfaat vaksinasi. Sebagai contoh kita lihat kasus meningitis HiB di Canada. Higiene dan sanitasi sudah dalam keadaan baik sejak tahun 1990, namun kejadian meningitis HiB sebelum program imunisasi dilaksanakan mencapai 2000 kasus per tahun dan setelah imunisasi rutin dijalankan menurun menjadi 52 kasus saja dan mayoritas terjadi pada bayi dan anak yang tidak diimunisasi. Contoh lain adalah pada 3 negara maju (Inggris, Swedia, dan Jepang) yang menghentikan program imunisasi pertussis karena ketakutan terhadap efek samping vaksin pertussis. Di Inggris tahun 1974 cakupan imunisasi menurun drastis dan diikuti dengan terjadinya wabah pertussis pada tahun 1978, ada 100.000 kasus pertussis dengan 36 kematian. Di Jepang pada kurun waktu yang sama cakupan imunisasi pertussis menurun dari 70% menjadi 20-40% hal ini menyebabkan lonjakan kasus pertussis dari 393 kasus dengan 0 kematian menjadi 13.000 kasus dengan 41 kematian karena pertussis pada tahun 1979. Di Swedia pun sama, dari 700 kasus pada tahun 1981 meningkat menjadi 3200 kasus pada tahun 1985. Pengalaman tersebut jelas membuktikan bahwa tanpa imunisasi bukan saja penyakit tidak akan menghilang namun juga akan hadir kembali saat program imunisasi dihentikan.B. Mayoritas anak yang terkena penyakit justru yang sudah diimunisasi.Pernyataan ini juga sering dijumpai pada literatur antivaksin. Memang dalam suatu kejadian luar biasa (KLB) jumlah anak yang sakit dan pernah diimunisasi lebih banyak daripada anak yang sakit dan belum diimunisasi. Penjelasan masalah tersebut sebagai berikut: pertama tidak ada vaksin yang 100% efektif. Efektivitas sebagian besar vaksin pada anak adalah sebesar 85-95%, tergantung respons individu. Kedua: proporsi anak yang diimunisasi lebih banyak daripada anak yang tidak diimunisasi di negara yang menjalankan program imunisasi. Bagaimana kedua faktor tersebut berinteraksi diilustrasikan dalam contoh berikut. Suatu sekolah mempunyai 1000 murid. Semua murid pernah diimunisasi campak 2 kali kecuali 25 yang tidak pernah sama sekali. Ketika semua murid terpapar campak, 25 murid yang belum diimunisasi semuanya menderita campak. Dari kelompok yang telah diimunisasi campak 2 kali, sakit 50 orang. Jumlah seluruh yang sakit 75 orang dan yang tidak sakit 925 orang. Kelompok antiimunisasi akan mengatakan bahwa persentase murid yang sakit adalah 67 % (50/75) dari kelompok yang pernah imunisasi, dan 33% (25/75) dari kelompok yang tidak diimunisasi. Padahal bila dihitung dari efek proteksi, maka imunisasi memberikan efek proteksi sebesar (975-25)/975 = 94.8%. Yang tidak diimunisasi efek proteksi sebesar 0/25= 0%. Dengan kata lain, 100% murid yang tidak mendapat imunisasi akan sakit campak; dibanding hanya 5,2% dari kelompok yang diimunisasi yang terkena campak. Jelas bahwa imunisasi berguna untuk melindungi anak.C. Vaksin menimbulkan efek samping yang berbahaya, kesakitan, dan bahkan kematianVaksin merupakan produk yang sangat aman. Hampir semua efek simpang vaksin bersifat ringan dan sementara, seperti nyeri pada bekas suntikan atau demam ringan. Kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) secara definitif mencakup semua kejadian sakit pasca imunisasi. Prevalensi dan jenis sakit yang tercantum dalam KIPI hampir sama dengan prevalensi dan jenis sakit dalam keadaan sehari-hari tanpa adanya program imunisasi. Hanya sebagian kecil yang memang berkaitan dengan vaksin atau imunisasinya, sebagian besar bersifat koinsidens. Kematian yang disebabkan oleh vaksin sangat sedikit. Sebagai ilustrasi semua kematian yang dilaporkan di Amerika sebagai KIPI pada tahun 1990-1992, hanya 1 yang mungkin berhubungan dengan vaksin. Institut of Medicine (IOM) tahun 1994 menyatakan bahwa risiko kematian akibat vaksin adalah amat rendah (extra-ordinarily low). Besarnya risiko harus dibandingkan dengan besarnya manfaat vaksin. Bila satu efek simpang berat terjadi dalam sejuta dosis vaksin namun tidak ada manfaat vaksin, maka vaksin tersebut tidak berguna. Manfaat imunisasi akan lebih jelas bila risiko penyakit dibandingkan dengan risiko vaksin.Contoh vaksin MMR (melindungi campak, mumps (gondongan) dan rubella (campak jerman)pneumonia campak : risiko kematian 1:3000 risiko alergi berat MMR 1:1000.000Ensefalitis mumps : 1 : 300 pasien mumps, risiko ensefalitis MMR 1:1000.000Sindrom rubella kongenital : 1 : 4 bayi dari ibu hamil kena rubellaContoh vaksin DPaT (melindungi difteri, pertussis, dan tetanus)Difteri : risiko kematian 1 : 20, risiko menangis lama sementara 1 : 100Tetanus : risiko kematian 1 : 30, risiko kejang sembuh sempurna 1 : 1750Pertussis : risiko ensefalitis pertussis 1 : 20, risiko ensefalitis DPaT 1 : 1000.000D. Penyakit penyakit tersebut (PD3I) telah tidak ada di negara kita sehingga anak tidak perlu diimunisasiAngka kejadian beberapa penyakit yang termasuk PD3I memang telah menurun drastis. Namun kejadian penyakit tersebut masih cukup tinggi di negara lain. Siapa pun termasuk wisatawan dapat membawa penyakit tersebut secara tidak sengaja dan dapat menimbulkan wabah. Hal tersebut serupa dengan KLB polio di Indonesia pada tahun 2005 lalu. Sejak tahun 1995 tidak ada kasus polio yang disebabkan oleh virus polio liar. Pada bulan April 2005, Laboratorium Bioofarma di Bandung mengkonfirmasi adanya virus polio liar tipe 1 pada anak berusia 18 bulan yang menderita lumpuh layuh akut pada bulan Maret 2005. Anak tersebut tidak pernah diimunisasi sebelumnya. Virus polio itu selanjutnya menyebabkan wabah merebak ke 10 propinsi, 48 kabupaten. Sampai bulan April 2006 tercatat 349 kasus polio, termasuk 46 kasus VDVP (vaccine derived polio virus) di Madura. Dari analisis genetik virus diketahui bahwa virus berasal dari Afrika barat. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa virus sampai ke Indonesia melalui Nigeria dan Sudan sama seperti virus yang diisolasi di Arab Saudi dan Yaman. Dari pengalaman tersebut terbukti bahwa anak tetap harus mendapat imunisasi karena dua alasan. Alasan pertama adalah anak harus dilindungi. Meskipun risiko terkena penyakit adalah kecil, bila penyakit masih ada, anak yang tidak terproteksi tetap berpeluang terinfeksi. Alasan kedua imunisasi anak penting untuk melindungi anak lain di sekitarnya. Terdapat sejumlah anak yang tak dapat diimunisasi (misalnya karena alergi berat terhadap komponen vaksin) dan sebagian kecil anak yang tidak memberi respons terhadap imunisasi. Anak-anak tersebut rentan terhadap penyakit dan perlindungan yang diharapkan adalah dari orang-orang di sekitarnya yang tidak sakit dan tidak menularkan penyakit kepadanya.E. Pemberian vaksin kombinasi (multipel) meningkatkan risiko efek simpang yang berbahaya dan dapat membebani sistem imunAnak-anak terpapar pada banyak antigen setiap hari. Makanan dapat membawa bakteri yang baru ke dalam tubuh. Sistem imun juga akan terpapar oleh sejumlah bakteri hidup di mulut dan hidung. Infeksi saluran pernapasan bagian atas akan menambah paparan 4-10 antigen, sedangkan infeksi streptokokus pada tenggorokan memberi paparan 25-50 antigen. Tahun 1994 IOM menyatakan bahwa dalam keadaan normal penambahan jumlah antigen dalam vaksin tidak mungkin akan memberikan beban tambahan pada sistem imun dan tidak bersifat imunosupresif. Data penelitian menunjukkan bahwa imunisasi simultan dengan vaksin multipel tidak membebani sistem imun anak normal. Pada tahun 1999 Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP), American Academy of Pediatrics (AAP), dan American Academy of Family Physicians (AAFP) merekomendasi pemberian vaksin kombinasi untuk imunisasi anak. Keuntungan vaksin kombinasi adalah mengurangi jumlah suntikan, mengurangi biaya penyimpanan dan pemberian vaksin, mengurangi jumlah kunjungan ke dokter, dan memfasilitasi penambahan vaksin baru ke dalam program imunisasi.F. Vaksin MMR menyebabkan autismeBeberapa orangtua anak dengan autisme percaya bahwa terdapat hubungan sebab akibat antara vaksin MMR dengan autisme. Gejala khas autisme biasanya diamati oleh orangtua saat anak mulai tampak gejala keterlambatan bicara setelah usia lewat satu tahun. Vaksin MMR diberikan pada usia 15 bulan (di luar negeri 12 bulan). Pada usia sekitar inilah biasanya gejala autisme menjadi lebih nyata. Meski pun ada juga kejadian autisme mengikuti imunisasi MMR pada beberapa kasus. Akan tetapi penjelasan yang paling logis dari kasus ini adalah koinsidens. Kejadian yang bersamaan waktu terjadinya namun tidak terdapat hubungan sebab akibat. Kejadian autisme meningkat sejak 1979 yang disebabkan karena meningkatnya kepedulian dan kemampuan kita mendiagnosis penyakit ini, namun tidak ada lonjakan secara tidak proporsional sejak dikenalkannya vaksin MMR pada tahun1988.Pada tahun 2000 AAP membuat pernyataan : "Meski kemungkinan hubungan antara vaksin MMR dengan autisme mendapat perhatian luas dari masyarakat dan secara politis, serta banyak yang meyakini adanya hubungan tersebut berdasarkan pengalaman pribadinya, namun bukti-bukti ilmiah yang ada tidak menyokong hipotesis bahwa vaksin MMR menyebabkan autisme dan kelainan yang berhubungan dengannya. Pemberian vaksin measles, mumps, dan rubella secara terpisah pada anak terbukti tidak lebih baik daripada pemberian gabungan menjadi vaksin MMR, bahkan akan menyebabkan keterlambatan atau luput tidak terimunisasi. Dokter anak mesti bekerjasama dengan para orangtua untuk memastikan bahwa anak mereka terlindungi saat usianya mencapai 2 tahun dari PD3I. Upaya ilmiah mesti terus dilakukan untuk mengetahui penyebab pasti dari autisme. Lembaga lain yaitu CDC dan NIH juga membuat pernyataan yang mendukung AAP. Pada tahun 2004 IOM menganalisis semua penelitian yang melaporkan adanya hubungan antara vaksin MMR dengan autisme. Hasilnya adalah tidak satu pun penelitian itu yang tidak cacat secara metodologis. Kesimpulan IOM saat itu adalah tidak terbukti ada hubungan antara vaksin MMR dengan autisme.PenutupSetelah mengkaji berbagai literatur sebagaimana disebutkan di atas, maka secara berangsur kegalauan saya menghilang. Saya semakin yakin akan kebenaran teori ilmiah berbasis bukti yang sudah ditemukan para ahli. Bahkan beberapa waktu lalu ada sejawat saya Dr Julian Sunan, seorang dokter yang masih muda dan amat ganteng (menurut pengakuannya sendiri) telah menelaah bahwa ternyata tokoh-tokoh antivaksin yang sering dikutip kelompok antivaksin di Indonesia ternyata banyak yang fiktif. Mereka melakukan pemelintiran data dan pemutarbalikan fakta. Tak heran kalau yang sangat aman dianggap sangat berbahaya dan penyakit sangat berbahaya nan mematikan dianggap tidak apa apa dan mungkin malah diajak bersahabat karib oleh kelompok antiimunisasi. Terimakasih.Bahan bacaan :Ranuh IGNG, Suyitno H, Hadinegoro SRS, Kartasasmita CB, Ismoedijanto, Soedjatmiko. Buku Pedoman Imunisasi di Indonesia, edisi ke-4. Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia, Jakarta 2011.Center for Disease Controlhttp://www.cdc.gov