SITE STATUS
Jumlah Member :
493.708 member
user online :
1659 member
pageview's per day :
Over 100.000(!) page views
Kalkulator kesuburan
Masukan tanggal hari pertama bunda mengalami menstruasi

forum

Cari: anak yang lahir saat adzan subuh

New Topic :  
Jumlah Posts : 181
Jumlah di-Like : belum ada like

Skizofrenia bukan hanya dialami orang dewasa, bahkan saat masih menjadi janin pun sudah rentan terkena skizofrenia. Skizofrenia menurut yang aku baca, gangguan mental yang ditandai dengan adanya kelainan persepsi atau ungkapan realitas.

Biasanya penderita akan merasakan adanya halusinasi pendengaran. Gak jarang penderita skizofrenia ini dianggap gila atau menderita gangguan jiwa. Menurut seorang psikiater dan peneliti khusus skizofrenia, Edwin Fuller Torrey, MD penyakit seperti polio, varisela-zoster, campak, rubella, dan toxoplasma yang diderita ibu hamil, diduga akan meningkatkan resiko terjadinya skizofrenia bagi anak mereka nantinya.

Dan ini musti bunda waspadai, skizofrenia pada bayi dalam kandungan juga akan meningkat tujuh kali lipat kalau bunda menderita influenza di trimester pertama kehamilan. Walau faktor resiko ini tergolong kecil, tapi sebuah penemuan menunujukkan sekitar 97% anak yang lahir dari ibu yang terserang influenza sangat beresiko mengalami skizofrenia saat dewasa.

Gak hanya itu, janin yang mengalami hipoksia atau kadar oksigen rendah dalam tubuh, ternyata itu pun dapat menjadi faktor resiko terjadinya skizofrenia. Jadi, saran buat bunda yang sedang hamil penting untuk mengetahui kondisi hipoksia.

Tanda kalau janin mengalami hipoksia seperti ini :

  • Denyut jantung janin kurang dari 120 denyutan/menit
  • Akselerasi denyut jantung janin memanjang lebih dari 160
  • Mengalami apnea atau kondisi di mana nafas berhenti dalam beberapa waktu, plus sulit untuk bangun dari tidur
  • Memiliki skor apgar yang rendah (kisarannya antara 0-3)
  • Kejang-kejang di hari pertama setelah dilahirkan
  • Memiliki pH yang rendah

Solusi bagi skizofrenia

Untuk mencegah terjadinya gangguan ini, perhatikan dan jaga kondisi fisik ibu hamil terutama selama masa trimester pertama dengan cara memenuhi kebutuhan gizi dan menghindari potensi stres menjadi salah satu cara yang harus bunda tempuh untuk menghindari kondisi bayi mengalami gangguan skizofrenia. Bunda tetap harus yakin bahwa skizofrenia ini bisa dicegah atau bahkan bisa disembuhkan.

Tapi bunda gak perlu khawatir, saat ini sudah ada suatu komunitas yang peduli dengan Skizofrenia, namanya KPSI. Komunitas ini bertujuan untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat kalau skizofrenia ini gangguan medis yang dapat disembuhkan, dan bukan karena diguna-guna atau gila.

Komunitas ini bisa jadi ajang tukar informasi untuk memberi kemudahan dalam perawatan dan pemulihan bagi si penderita skizofrenia.

sumber

   


Jumlah Posts : 110
Jumlah di-Like : 2
aku tadi nemu artikel ini bun semoga bermanfaat.. Cara mendapatkan Bayi Laki-laki atau Perempuan. Laki-laki perermpuan sama saja. Kata-kata itu sering kita dengar dari pasangan yang sedang menunggu datangnya buah hati. Tapi kadang-kadang dalam hati mereka, ada keinginan yang tak bisa disangkal bahwa mereka punya harapan agar anak yang lahir perempuan atau laki-laki. Bisakah anak yang lahir kita rancang sebagai laki-laki atau perempuan? Bisa! Usaha pertama yang harus dilakukan, tentu saja berdoa dan memintanya langsung pada Sang Pembuat Hidup. Cara lainnya, ikhtiar-ikhtiar yang halal bisa dan boleh kita lakukan. Setiap kali ejakulasi, laki-laki normal mengeluarkan sperma 2 sampai 5 semprotan. Dalam durasi tersebut, sperma yang dihasilkan sekitar 2 sampai 5 cc. Sperma yang normal tiap cc mengandung 60 – 200 juta spermatozoa. Jadi setiap seorang laki-laki mengalami ejakulasi, 120 sampai 1 milyar sperma telah dikeluarkan dari tubuhnya. Seperti yang kita tahu, dalam sperma terdapat dua gen. Androsperma yang juga disebut gen Y dan Gynosperma yang bisa kita sebut sebagai gen X. Gen Y adalah gen yang memungkinkan kita seorang ibu mengandung anak perempuan, sedangkan gen X adalah sebaliknya. Jika suami dan istri sama-sama dominan gen X nya maka kemungkinan besar, keduanya akan mempunyai anak perempuan. Tapi jika sang ayah dominan gen Y dan sang ibu gen X maka kemungkinan besar anak yang dilahirkan adalah laki-laki. Meskipun demikian, hal itu adalah hitung-hitungan logika yang tak pernah mengalahkan keajaiban alam dan kekuasaan Tuhan. Cara menghitung masa ovulasi atau puncak masa subur seorang perempuan: # Diketahui tanggal awal masa bersihnya seorang perempuan setiap bulan, misalnya setiap tanggal 05. # Diketahui tanggal akhir masa bersihnya seorang perempuan setiap bulan, misalnya setiap tanggal 27. # Rumus: ((tanggal setiap bulannya) – (tanggal setiap bulannya))/2 = n; # kemudian n + tanggal awal masa bersih dari seorang perempuan = masa ovulasi atau puncak masa suburnya seorang perempuan penerapan: (27 – 05)/2 = 11; 05 + 11 = 16 – setiap hari ke 16 dari sejak awal bersihnya seorang perempuan adalah puncak masa subur dari seorang perempuan atau masa ovulasi Ciri-ciri spermatozoa: # Androsperma, membawa gen Y: # Bergerak lebih lambat. # Lebih mampu bertahan hidup lebih lama (berumur rata-rata kira-kira 2 sampai 3 hari). # Lebih tahan dalam ‘suasana’ asam. # Tidak tahan dalam ‘suasana’ basa. # Memiliki Berat Jenis (BJ) lebih ringan. # Gynosperma, membawa gen X: # Bergerak lebih gesit. # Hidup lebih singkat (berumur rata-rata kira-kira hanya 1 hari saja) # Tidak tahan dalam ‘suasana’ asam. # Lebih tahan dalam ‘suasana’ basa. # Memiliki Berat Jenis (BJ) lebih berat. Jika Ingin Anak Laki-laki. Jika Anda adalah pasangan yang ingin menginginkan bayi laki-laki, ada tips-tips dari hasil sebuah penelitian yang bisa Anda lakukan. Pertama, sebaiknya Anda melakukan hubungan intim pada saat atau sehari sebelum ovulasi. Ovulasi adalah saat terlepasnya sel telur dari indung telur dalam rahim perempuan. Cara berikutnya adalah membasahi vagina dengan satu liter air yang terlebih dahulu telah dicampur dengan 2 (dua) sendok soda kue. Selain itu mengkonsumsi seafood dan daging juga sangat membantu dalam proses ini. Dan yang paling penting dari rangkaian usaha di atas adalah, sang suami harus mengeluarkan sperma sedekat mungkin dengan mulut rahim. Hal ini diharapkan mempercepat Gynosperma melakukan perjalanannya membuahi sel telur. Jika Ingin Anak Perempuan. Jika Anda adalah pasangan yang menginginkan anak perempuan, ada beberapa tips yang bisa Anda lakukan. Pertma tengok jadwal hubungan intim Anda. Lakukan hubungan intim 2 hari sampai 3 hari sebelum masa ovulasi. Langkah selanjutnya, sebelum berhubungan badan, sang istri bisa membasuh vagina dengan satu liter air yang dicampur dengan satu sendok air cuka. Larutan ini tidak membahayakan. Larutan asam dalam air cuka bermanfaat untuk melumpuhkan Androsperma yang berperan besar membentuk gen laki-laki. Selain itu sebaiknya sang calon ayah mengeluarkan sperma tidak seperti cara di atas, melainkan agak mengambil jarak dengan mulut rahim. Cara ini memungkinkan untuk mendapatkan bayi perempuan. Mengkomsumsi makanan yang mengandung asam seperti yoghurt, buah dengan rasa asam, sayur segar dan kacang-kacangan juga membantu proses. Tapi sekali lagi jangan lupa, manusia berusaha Alloh jua yang punya rencana.
   
Jumlah Posts : 198
Jumlah di-Like : 10

MEMANTAU BERAT BADAN BAYI

Tumbuh kembang bayi dapat tercermin dari peningkatan berat badannya.

Ada banyak cara memantau kesehatan bayi. Tapi yang termudah dan terjelas adalah dengan mengukur kondisi fisiknya. Inilah yang dikenal dengan istilah pengukuran antropometri yang mencakup pengukuran berat badan, panjang (tinggi) badan, lingkar lengan, serta lingkar kepala.

Pembahasan kali ini diutamakan pada berat badan (BB) bayi yang kerap menjadi perhatian utama karena nyata terlihat. Namun, bukan berarti orangtua boleh mengabaikan tinggi (panjang) badan, lingkar lengan serta lingkar kepala lo. Ketiga komponen itu tetap harus mendapat perhatian karena juga dapat dijadikan sebagai tolok ukur kesehatan bayi.

Sajian rubrik Dunia Bayi minggu ini menyajikan kiat-kiat cara memantau berat badan bayi plus bagaimana menjaga agar BB si kecil bisa dalam standar ideal.

Selamat mambaca!

BB TURUN DULU LANTAS NAIK

Bila dicermati pada waktu 1-2 minggu setelah lahir, bobot bayi menyusut. Karena tubuhnya masih banyak mengandung air sebagai "oleh-oleh" dari dalam rahim. Dalam rentang waktu 1-2 minggu tersebut, cairan itu sedikit demi akan keluar melalui urine dan menurunkan bobot bayi secara otomatis. Tentu saja angka penurunannya tidak drastis. Dengan begitu, jika setelah 1-2 minggu kelahiran bayi, BB si kecil turun, itu merupakan hal alamiah. Jadi tak perlu terlalu dikhawatirkan.

Di minggu-minggu berikutnya, berat badan si kecil relatif meningkat, yakni sekitar 750-1.000 gram per bulannya. Setelah usia 3-6 bulan kenaikannya tidak sebesar itu, yaitu sekitar 500– 600 gram per bulan. Nah, di usia 6-9 bulan penambahan bobotnya semakin melambat, sekitar 350–450 gram per bulan. Begitu pula ketika si kecil berusia 9-12 bulan, penambahannya tak terlalu mencolok sekitar 150–250 gram per bulannya.

Ketika memasuki usia satu tahun, umumnya penambahan berat badan bayi mulai melambat lagi. Namun, bukan berarti terjadi penurunan. Beratnya tetap meningkat, hanya saja perlahan-lahan atau tidak sepesat sebelumnya. Yang jelas, orangtua tak perlu kaget atau khawatir. Itu artinya normal-normal saja. Toh, berbagai penelitian terhadap sejumlah bayi normal dari berbagai ras juga menunjukkan adanya penurunan berat badan di rentang usia 0-12 bulan.

KEBUTUHAN ENERGI & BERAT BADAN

Agar berat badan sang buah hati tetap mengalami peningkatan yang normal dan sesuai dengan pertambahan usianya, berikan ia asupan nutrisi yang adekuat dengan komposisi zat gizi yang seimbang. Maksudnya, makanan yang dikonsumsi hendaknya mengandung unsur karbohidrat, protein, lemak, serta vitamin-mineral yang cukup.

Patut diperhatikan bahwa tiap kelompok usia, kebutuhan energi anak berbeda-beda. Untuk bayi usia 0-6 bulan, kebutuhan energinya adalah 550 Kkal per hari. Sedangkan yang berusia 7-12 bulan, kebutuhan energinya adalah 650 Kkal. Tambahan lagi pada bayi, jenis makanan pun disesuaikan dengan kemampuannya saat itu. Contohnya, pada usia 0–6 bulan hanya minum ASI/susu formula, kemudian bertahap diberikan bentuk makanan yang lebih bertekstur mulai dari lembut hingga lebih kasar sesuai dengan kemampuan/toleransinya.

Bila berat badan bayi mengalami penurunan, apalagi bila tren tersebut terjadi dalam 1 bulan atau bahkan lebih (berarti lebih dari sekali pengukuran), harus dicari penyebabnya. Sebaiknya segera bawa buah hati Anda ke dokter untuk dievaluasi lebih lanjut, apakah jumlah minum/makannya sudah mencukupi kalorinya, ataukah ada penyebab-penyebab lainnya seperti penyakit-penyakit/kelainan-kelainan tertentu. Ada banyak kemungkinan penyebabnya, di antaranya adalah:

1. Pola makan dan asupan nutrisi yang tidak seimbang dan adekuat

2. Pengetahuan orangtua tentang nutrisi untuk anak/bayi yang kurang

3. Kelainan sistem organ dalam tubuh seperti:

- Sistem pencernaannya (seperti refluks gastrointestinal, diare kronik/melanjut, kelainan anatomis bawaan, dan lain-lain),

- Sistem hormonal (defisiensi hormon pertumbuhan, gangguan kelenjar tiroid/hipotiroid, diabetes, dan lain-lain),

- Sistem imunologi (defisiensi imunitas, AIDS/HIV, alergi berat terhadap makanan tertentu sehingga penyerapannya terganggu, penyakit autoantibodi, dan lain-lain),

- Kelainan jantung bawaan,

- Penyakit kronis seperti kecacingan, tuberkulosis, dan sebagainya.

MENGENAL KMS

Untuk memudahkan mengenali status gizi bayi--- menurut berat badan, jenis kelamin, serta usia----maka standar ideal digambarkan dalam bentuk kurva yang biasanya terdapat pada kartu atau buku pantau tumbuh-kembang bayi dari puskesmas atau rumah sakit. Dengan mengetahui ukuran ideal, orangtua diharapkan bisa mengetahui status kesehataan si kecil.

Saat ini ada dua kurva pertumbuhan yang digunakan yakni kurva yang terdapat dalam Kartu Menuju Sehat (KMS) hasil rancangan Departemen Kesehatan dan yang dikeluarkan oleh National Center for Health Statistics (NCHS)/Centers for Disease Control (CDC) yang berasal dari Amerika Serikat. Perbedaannya, kurva pertumbuhan pada KMS hanya mencantumkan berat badan dan umur. Sedangkan pada kurva NCHS mencantumkan berat badan, tinggi badan, umur dan jenis kelamin. Jadi kurva NCHS memang lebih praktis dan mudah dibaca. Sayangnya, NCHS mengacu pada pertumbuhan anak-anak di Amerika (ras kaukasia).

Dengan kurva tersebut, orangtua tinggal menyesuaikan antara usia, jenis kelamin dan berat untuk me-ngetahui, apakah berat badan bayinya masuk ke dalam kurva normal, kurang atau berlebih. Pemantauan proses tumbuh kembang bayi ini perlu dilakukan setiap bulan, sehingga bila terjadi penyimpangan dari garis atau pita normal dapat diketahui dengan segera dan dilakukan antisipasi yang tepat.

MEMBACA KURVA

Untuk membaca kurva berat badan bayi versi NCHS atau KMS sebenarnya mudah. Langkah pertama adalah me-ngetahui berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) atau usia (dalam bulan) si bayi. Kemudian dengan berpedoman pada komponen tersebut, cobalah untuk mencari titik temunya pada kurva yang tersedia. Patut diperhatikan bila menggunakan kurva NCHS, pilihlah kurva yang sesuai dengan jenis kelamin bayi Anda. Sebab, kurva ini dibedakan antara bayi laki-laki dan perempuan.

Cobalah cermati, apakah sudah sesuai dengan garis/pita standar (normal) yang tersedia (biasanya berwarna hitam), ataukah trennya malah cenderung menuju ke bawah (garis merah). Bila penambahan BB, TB dan usia bayi sesuai atau berada pada garis/pita standar, itu berarti tumbuh kembangnya normal. Nah, sebaiknya orangtua wajib waspada bila tren grafiknya cenderung menuju ke bawah (garis merah).

Fluktuasi memang mungkin terjadi, namun bila masih dalam rentang yang normal tidak apa-apa. Tapi, tetap dianjurkan untuk meningkatkan pertambahan BB/TB sesuai dengan standar usianya. BB yang turun bukan melulu ada gangguan. Faktor genetik juga menentukan pertum-buhan si kecil. Artinya, pertambahan berat juga dapat dilihat bagaimana riwayat BB keluarganya. Maksudnya, bila orangtua memang berperawakan kurus bisa jadi anaknya pun akan memiliki perawakan yang sama dengan orangtuanya.

Utami Sri Rahayu. Foto: Iman/nakita

PERTAMBAHAN BERAT BAYI, BENARKAH TURUN NAIK?

Semua bayi dari ras-ras yang ada di dunia mengalami penurunan pertambahan berat badan di bulan-bulan tertentu.

"Dok, kenapa, ya, pertambahan berat badan bayi saya naik-turun? Bulan kemarin naik 650 gram. Eh, bulan ini naiknya cuma 350 gram. Saya khawatir terjadi apa-apa pada bayi saya," kata seorang ibu saat berkonsultasi dengan dokter anak.

Menanggapi kecemasan ibu tersebut, dr. Hanifah Oswari, Sp.A., menegaskan para orang tua untuk tidak terlalu khawatir terhadap pertambahan BB bayi yang naik-turun. Umumnya dalam waktu 2 minggu setelah lahir, BB bayi akan mengalami penurunan setidaknya sekitar 10 persen. Sebelumnya sewaktu lahir, badan bayi masih banyak mengandung air sehingga timbangannya lebih berat. Nah, dalam 2 minggu pertama itulah cairan berangsur-angsur keluar melalui saluran urin. "Ini proses yang alamiah, kok. Kebanyakan bayi akan mengalami penurunan BB," kata dokter dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Senada dengan Hanifah, penelitian yang dilakukan oleh Judith Groner juga menunjukkan bahwa dalam jangka waktu 1-2 minggu setelah lahir BB bayi akan turun sekitar 10 persen. Meski begitu, umumnya BB si kecil akan kembali seperti waktu lahir dalam beberapa pekan kemudian. Demikian hasil penelitian yang diungkapkan oleh asosiasi profesor bidang penyakit anak pada Fakultas Kedokteran, Columbus University, Ohio, Amerika Serikat.

KISARAN BB NORMAL

Bobot bayi baru lahir yang dikategorikan normal berada pada rentang 2.500 ­ 4.000 gram. Setelah itu, pertambahan bobotnya tentu akan berbeda-beda; ada yang tinggi dan ada yang rendah. Umpamanya, ada bayi yang penambahan BB-nya 600 gram per bulan. Namun, ada juga yang bertambah hanya sekitar 350 gram per bulan.

Kepastian apakah BB bayi normal atau tidak bisa dilihat dari kurva Lubchenko. Biasanya kurva ini dicantumkan dalam kartu menuju sehat (KMS) atau buku pantau tumbuh-kembang bayi yang bisa didapat di puskemas atau rumah sakit. Menurut kurva Lubchenko, ada 3 parameter utama untuk mengetahui pertumbuhan seorang bayi, yaitu bertambahnya berat badan, tinggi badan, dan ukuran lingkar kepala.

Pertambahan BB yang dikategorikan normal dibagi menjadi beberapa tahapan. Pada triwulan pertama, pertambahan BB sekitar 150-250 gram per bulan. Pada triwulan kedua sekitar 500-600 gram per bulan, sedangkan pada triwulan ketiga mencapai 350-450 gram per bulan. Lalu, pada triwulan keempat pertambahan BB berkisar antara 250-350 gram per bulan. Dari patokan di atas terlihat kalau dalam 3 bulan pertama setelah lahir, pertambahan BB berlangsung biasa-biasa saja. Kemudian, pada usia 3-6 bulan pertambahan BB terkesan melesat, dan mulai melambat saat usia di atas 6 bulan.

Yang ditekankan Hanifah, meski kenaikan BB-nya melambat, pertumbuhan anak sebenarnya berlangsung normal. Toh, sebenarnya bobot tersebut tetap mengalami penambahan walaupun lebih kecil ketimbang di bulan-bulan sebelumnya. Jadi, orang tua tak perlu khawatir. Memang, "Tak diketahui secara pasti kenapa pertambahan BB bayi menurun. Yang pasti, penelitian yang dilakukan terhadap sejumlah bayi normal dari berbagai ras juga menunjukkan hal yang sama," ujarnya.

Secara garis besar, saat menginjak usia 6 bulan, rata-rata BB bayi sudah mencapai 2 kali lipat BB lahirnya. Sedangkan di usia 1 tahun BB ini sudah mencapai 3 kali lipat berat lahir. Nah, selepas usia 1 tahun, pertambahan BB mulai melambat lagi. "Hal itu memang berlangsung secara alamiah dan normal. Tak usah terlalu dipusingkan kenapa kenaikan BB yang tadinya tinggi tiba-tiba menurun. Bagaimanapun, angka-angka itu sangat bersifat individual. Tiap anak berbeda-beda tak usah dibandingkan dengan bayi yang lain," tutur Hanifah.

BB TIDAK NORMAL

Dugaan bahwa ada yang tidak beres pada pertumbuhan si kecil pantas muncul bila grafik BB pada kurva terlihat menurun drastis. Apalagi jika nafsu makannya (termasuk keinginan untuk menyusu) juga terlihat menurun. Nah, untuk mendeteksi ketidaknormalan itu, Hanifah sekali lagi menekankan pentingnya mengamati data-data yang tercatat pada kurva Lubchenko. Jangan-jangan si kecil terserang penyakit.

Sebuah studi menunjukkan adanya keterkaitan antara perubahan BB dengan kondisi pertumbuhan anak. Jika BB tak bertambah sesuai dengan grafik normal maka kemungkinan anak tengah mengalami gangguan pertumbuhan. Nah, jika dalam 2 bulan berturut-turut si kecil tidak mengalami pertambahan berat atau malah turun secara drastis, waspadai kemungkinan adanya gangguan. Masalahnya, pada usia 0-2 tahun, sekitar 80 persen jaringan otak sedang terbentuk. Segeralah berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui dan memastikan kondisi si kecil.

Gangguan pertumbuhan ini bisa terjadi dalam waktu singkat maupun jangka panjang. Merosotnya BB dalam waktu singkat bisa disebabkan oleh menurunnya nafsu makan, penyakit, atau kurangnya asupan makanan pada bayi. Sedangkan, penurunan BB sedikit demi sedikit dalam rentang waktu yang tidak sebentar biasanya dipicu oleh kelainan gagal tumbuh. Gagal tumbuh merupakan ketidakmampuan bayi/anak untuk mencapai BB atau TB sesuai jalur pertumbuhan yang normal. Penyakit infeksi juga dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pertumbuhan pada anak.

PENTINGNYA GIZI

ASI, seperti ditandaskan dr. Rachmi Untoro, MPH, berperan besar pada pertambahan BB bayi. Penelitian membuktikan bayi yang mengonsumsi ASI pada 2 bulan pertama semenjak lahir, mengalami pertambahan BB yang lebih cepat ketimbang bayi yang mengonsumsi susu formula. 

Meski belum ada studi yang dapat menjawab dengan pasti mengapa dengan minum ASI pertambahan BB berlangsung lebih cepat, tapi riset menunjukkan anak yang minum ASI menghabiskan energi lebih sedikit dibandingkan anak yang minum susu formula. Itulah mungkin yang menjadi penyebab bobotnya cepat bertambah. Selain itu, dengan minum ASI bayi pada dasarnya akan lebih cepat lapar dan haus. Plus, tentu saja, ASI mengandung zat-zat terbaik untuk bayi.

Rachmi juga berpendapat kalau pertumbuhan bayi tidak bisa dilihat hanya berdasarkan perubahan BB dan PB-nya saja. Namun juga, perlu diperhatikan keseimbangan antara asupan dan kebutuhan gizinya. Jika keadaan gizi anak baik, barulah dapat dikatakan pertumbuhannya normal. Bukankah jika gizinya tak seimbang, pertumbuhan anak akan terganggu, seperti menjadi kurus, terlalu gemuk, atau pendek.

Kecukupan gizi sebenarnya sudah diperlukan bayi sejak di kandungan. Ibu hamil yang kurang menyantap makanan bergizi kemungkinan besar nantinya memiliki bayi dengan BB rendah dan sakit-sakitan. "Beberapa penelitian menunjukkan, bayi yang tak mendapat gizi cukup ketika masih dalam kandungan berisiko tinggi menderita penyakit degeneratif," papar Direktur Gizi Masyarakat Departemen Kesehatan ini. Contohnya, hipertensi, penyakit jantung, diabetes, dan gagal ginjal.

KATEGORI KURUS-GEMUK

Ada yang menyebutkan, bayi baru lahir dikatakan gemuk jika BB-nya mencapai lebih dari 3.500 gram. Atau sebaliknya, bayi yang lahir dengan BB 2.500 gram adalah kurus. Padahal kurus-gemuknya bayi tak bisa dilihat secara hitam putih seperti itu karena masing-masing menjalani proses tumbuh-kembang yang khas.

Kalaupun si kecil telihat gemuk atau kurus, tinggal dilihat saja apakah bobot tersebut masih sejalan dengan kurva pertambahan tinggi badan dan ukuran lingkar kepala yang normal. "Apakah bayi itu kurus atau gemuk tak cukup dilihat berdasarkan berat badannya, tapi bandingkan pula dengan pertumbuhan panjang badan setiap bulannya melalui kurva Lubchenko."

Untuk menyebut apakah anak kurus atau gemuk juga harus dengan melihat bagaimana riwayat berat badan keluarganya. Alasannya, faktor genetik juga menentukan pertumbuhan anak. Ada anak yang pertambahan BB-nya lambat tapi diiringi pertambahan tinggi badan yang cepat. Jadilah ia si kurus. Sebaliknya, ada anak yang pertambahan BB-nya cepat tapi pertambahan tinggi badannya lambat, maka ia disebut sebagai si gendut. Artinya, ada faktor X yang ikut mempengaruhi apakah si anak kelak tergolong gemuk atau kurus yaitu faktor genetik.

Yang perlu diketahui, lanjut Hanifah, di bawah usia 2 tahun, bayi atau anak yang gemuk belum bisa dibilang kegemukan. Gemuk dalam persepsi orang dewasa adalah kelebihan simpanan lemak. Lemak ini sebenarnya berfungsi sebagai cadangan energi. Jadi, kalaupun lemak si bayi tampak berlebih, bukan berarti ia menderita obesitas. Lantaran itulah, walaupun si bayi terlihat sangat gemuk, orang tua tak perlu mengurangi asupan makanannya. Contohnya, bayi yang lahir di atas 3.500 gram tidak bisa dikatakan gemuk karena itu baru BB awalnya.

Pengecualian bisa dilakukan bila memang orang tua memiliki riwayat obesitas. Kemungkinan besar, bayi bisa mengalami hal yang sama. Kalau sudah begini, porsi makan si kecil perlu diperhatikan. Namun, penyebab obesitas tak melulu faktor genetik. Bayi yang kurang aktif bergerak juga bisa mengalami kegemukan. Apalagi bila ia selalu makan terlalu banyak. Akibatnya, sel-sel lemaknya berkembang terlalu pesat sehingga mempercepat pembentukan lemak pada tubuhnya.

PERTAMBAHAN BB BAYI PREMATUR

Bagaimana dengan berat badan bayi prematur? Apakah pertambahannya akan lebih sedikit dibandingkan anak seusianya yang lahir cukup bulan? Biasanya, lanjut Hanifah, perlu waktu beberapa tahun agar pertambahan BB anak prematur berlangsung normal. "Karena ia dilahirkan lebih cepat, anak prematur perlu waktu untuk mengejar berat atau tinggi badan anak seusianya."

Riset menunjukkan pada usia 8 tahun anak prematur rata-rata akan mampu mengejar ketertinggalan pertambahan berat dan tingginya. Namun, hasil riset memaparkan anak prematur yang lahir saat usia kehamilan belum genap 32 minggu akan tetap memiliki bobot maupun tinggi badan yang lebih kecil dibanding teman seusianya yang lahir dengan cukup bulan. 

   


Jumlah Posts : 198
Jumlah di-Like : 10

MEMANTAU BERAT BADAN BAYI

Tumbuh kembang bayi dapat tercermin dari peningkatan berat badannya.

Ada banyak cara memantau kesehatan bayi. Tapi yang termudah dan terjelas adalah dengan mengukur kondisi fisiknya. Inilah yang dikenal dengan istilah pengukuran antropometri yang mencakup pengukuran berat badan, panjang (tinggi) badan, lingkar lengan, serta lingkar kepala.

Pembahasan kali ini diutamakan pada berat badan (BB) bayi yang kerap menjadi perhatian utama karena nyata terlihat. Namun, bukan berarti orangtua boleh mengabaikan tinggi (panjang) badan, lingkar lengan serta lingkar kepala lo. Ketiga komponen itu tetap harus mendapat perhatian karena juga dapat dijadikan sebagai tolok ukur kesehatan bayi.

Sajian rubrik Dunia Bayi minggu ini menyajikan kiat-kiat cara memantau berat badan bayi plus bagaimana menjaga agar BB si kecil bisa dalam standar ideal.

Selamat mambaca!

BB TURUN DULU LANTAS NAIK

Bila dicermati pada waktu 1-2 minggu setelah lahir, bobot bayi menyusut. Karena tubuhnya masih banyak mengandung air sebagai "oleh-oleh" dari dalam rahim. Dalam rentang waktu 1-2 minggu tersebut, cairan itu sedikit demi akan keluar melalui urine dan menurunkan bobot bayi secara otomatis. Tentu saja angka penurunannya tidak drastis. Dengan begitu, jika setelah 1-2 minggu kelahiran bayi, BB si kecil turun, itu merupakan hal alamiah. Jadi tak perlu terlalu dikhawatirkan.

Di minggu-minggu berikutnya, berat badan si kecil relatif meningkat, yakni sekitar 750-1.000 gram per bulannya. Setelah usia 3-6 bulan kenaikannya tidak sebesar itu, yaitu sekitar 500– 600 gram per bulan. Nah, di usia 6-9 bulan penambahan bobotnya semakin melambat, sekitar 350–450 gram per bulan. Begitu pula ketika si kecil berusia 9-12 bulan, penambahannya tak terlalu mencolok sekitar 150–250 gram per bulannya.

Ketika memasuki usia satu tahun, umumnya penambahan berat badan bayi mulai melambat lagi. Namun, bukan berarti terjadi penurunan. Beratnya tetap meningkat, hanya saja perlahan-lahan atau tidak sepesat sebelumnya. Yang jelas, orangtua tak perlu kaget atau khawatir. Itu artinya normal-normal saja. Toh, berbagai penelitian terhadap sejumlah bayi normal dari berbagai ras juga menunjukkan adanya penurunan berat badan di rentang usia 0-12 bulan.

KEBUTUHAN ENERGI & BERAT BADAN

Agar berat badan sang buah hati tetap mengalami peningkatan yang normal dan sesuai dengan pertambahan usianya, berikan ia asupan nutrisi yang adekuat dengan komposisi zat gizi yang seimbang. Maksudnya, makanan yang dikonsumsi hendaknya mengandung unsur karbohidrat, protein, lemak, serta vitamin-mineral yang cukup.

Patut diperhatikan bahwa tiap kelompok usia, kebutuhan energi anak berbeda-beda. Untuk bayi usia 0-6 bulan, kebutuhan energinya adalah 550 Kkal per hari. Sedangkan yang berusia 7-12 bulan, kebutuhan energinya adalah 650 Kkal. Tambahan lagi pada bayi, jenis makanan pun disesuaikan dengan kemampuannya saat itu. Contohnya, pada usia 0–6 bulan hanya minum ASI/susu formula, kemudian bertahap diberikan bentuk makanan yang lebih bertekstur mulai dari lembut hingga lebih kasar sesuai dengan kemampuan/toleransinya.

Bila berat badan bayi mengalami penurunan, apalagi bila tren tersebut terjadi dalam 1 bulan atau bahkan lebih (berarti lebih dari sekali pengukuran), harus dicari penyebabnya. Sebaiknya segera bawa buah hati Anda ke dokter untuk dievaluasi lebih lanjut, apakah jumlah minum/makannya sudah mencukupi kalorinya, ataukah ada penyebab-penyebab lainnya seperti penyakit-penyakit/kelainan-kelainan tertentu. Ada banyak kemungkinan penyebabnya, di antaranya adalah:

1. Pola makan dan asupan nutrisi yang tidak seimbang dan adekuat

2. Pengetahuan orangtua tentang nutrisi untuk anak/bayi yang kurang

3. Kelainan sistem organ dalam tubuh seperti:

- Sistem pencernaannya (seperti refluks gastrointestinal, diare kronik/melanjut, kelainan anatomis bawaan, dan lain-lain),

- Sistem hormonal (defisiensi hormon pertumbuhan, gangguan kelenjar tiroid/hipotiroid, diabetes, dan lain-lain),

- Sistem imunologi (defisiensi imunitas, AIDS/HIV, alergi berat terhadap makanan tertentu sehingga penyerapannya terganggu, penyakit autoantibodi, dan lain-lain),

- Kelainan jantung bawaan,

- Penyakit kronis seperti kecacingan, tuberkulosis, dan sebagainya.

MENGENAL KMS

Untuk memudahkan mengenali status gizi bayi--- menurut berat badan, jenis kelamin, serta usia----maka standar ideal digambarkan dalam bentuk kurva yang biasanya terdapat pada kartu atau buku pantau tumbuh-kembang bayi dari puskesmas atau rumah sakit. Dengan mengetahui ukuran ideal, orangtua diharapkan bisa mengetahui status kesehataan si kecil.

Saat ini ada dua kurva pertumbuhan yang digunakan yakni kurva yang terdapat dalam Kartu Menuju Sehat (KMS) hasil rancangan Departemen Kesehatan dan yang dikeluarkan oleh National Center for Health Statistics (NCHS)/Centers for Disease Control (CDC) yang berasal dari Amerika Serikat. Perbedaannya, kurva pertumbuhan pada KMS hanya mencantumkan berat badan dan umur. Sedangkan pada kurva NCHS mencantumkan berat badan, tinggi badan, umur dan jenis kelamin. Jadi kurva NCHS memang lebih praktis dan mudah dibaca. Sayangnya, NCHS mengacu pada pertumbuhan anak-anak di Amerika (ras kaukasia).

Dengan kurva tersebut, orangtua tinggal menyesuaikan antara usia, jenis kelamin dan berat untuk me-ngetahui, apakah berat badan bayinya masuk ke dalam kurva normal, kurang atau berlebih. Pemantauan proses tumbuh kembang bayi ini perlu dilakukan setiap bulan, sehingga bila terjadi penyimpangan dari garis atau pita normal dapat diketahui dengan segera dan dilakukan antisipasi yang tepat.

MEMBACA KURVA

Untuk membaca kurva berat badan bayi versi NCHS atau KMS sebenarnya mudah. Langkah pertama adalah me-ngetahui berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) atau usia (dalam bulan) si bayi. Kemudian dengan berpedoman pada komponen tersebut, cobalah untuk mencari titik temunya pada kurva yang tersedia. Patut diperhatikan bila menggunakan kurva NCHS, pilihlah kurva yang sesuai dengan jenis kelamin bayi Anda. Sebab, kurva ini dibedakan antara bayi laki-laki dan perempuan.

Cobalah cermati, apakah sudah sesuai dengan garis/pita standar (normal) yang tersedia (biasanya berwarna hitam), ataukah trennya malah cenderung menuju ke bawah (garis merah). Bila penambahan BB, TB dan usia bayi sesuai atau berada pada garis/pita standar, itu berarti tumbuh kembangnya normal. Nah, sebaiknya orangtua wajib waspada bila tren grafiknya cenderung menuju ke bawah (garis merah).

Fluktuasi memang mungkin terjadi, namun bila masih dalam rentang yang normal tidak apa-apa. Tapi, tetap dianjurkan untuk meningkatkan pertambahan BB/TB sesuai dengan standar usianya. BB yang turun bukan melulu ada gangguan. Faktor genetik juga menentukan pertum-buhan si kecil. Artinya, pertambahan berat juga dapat dilihat bagaimana riwayat BB keluarganya. Maksudnya, bila orangtua memang berperawakan kurus bisa jadi anaknya pun akan memiliki perawakan yang sama dengan orangtuanya.

Utami Sri Rahayu. Foto: Iman/nakita

PERTAMBAHAN BERAT BAYI, BENARKAH TURUN NAIK?

Semua bayi dari ras-ras yang ada di dunia mengalami penurunan pertambahan berat badan di bulan-bulan tertentu.

"Dok, kenapa, ya, pertambahan berat badan bayi saya naik-turun? Bulan kemarin naik 650 gram. Eh, bulan ini naiknya cuma 350 gram. Saya khawatir terjadi apa-apa pada bayi saya," kata seorang ibu saat berkonsultasi dengan dokter anak.

Menanggapi kecemasan ibu tersebut, dr. Hanifah Oswari, Sp.A., menegaskan para orang tua untuk tidak terlalu khawatir terhadap pertambahan BB bayi yang naik-turun. Umumnya dalam waktu 2 minggu setelah lahir, BB bayi akan mengalami penurunan setidaknya sekitar 10 persen. Sebelumnya sewaktu lahir, badan bayi masih banyak mengandung air sehingga timbangannya lebih berat. Nah, dalam 2 minggu pertama itulah cairan berangsur-angsur keluar melalui saluran urin. "Ini proses yang alamiah, kok. Kebanyakan bayi akan mengalami penurunan BB," kata dokter dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Senada dengan Hanifah, penelitian yang dilakukan oleh Judith Groner juga menunjukkan bahwa dalam jangka waktu 1-2 minggu setelah lahir BB bayi akan turun sekitar 10 persen. Meski begitu, umumnya BB si kecil akan kembali seperti waktu lahir dalam beberapa pekan kemudian. Demikian hasil penelitian yang diungkapkan oleh asosiasi profesor bidang penyakit anak pada Fakultas Kedokteran, Columbus University, Ohio, Amerika Serikat.

KISARAN BB NORMAL

Bobot bayi baru lahir yang dikategorikan normal berada pada rentang 2.500 ­ 4.000 gram. Setelah itu, pertambahan bobotnya tentu akan berbeda-beda; ada yang tinggi dan ada yang rendah. Umpamanya, ada bayi yang penambahan BB-nya 600 gram per bulan. Namun, ada juga yang bertambah hanya sekitar 350 gram per bulan.

Kepastian apakah BB bayi normal atau tidak bisa dilihat dari kurva Lubchenko. Biasanya kurva ini dicantumkan dalam kartu menuju sehat (KMS) atau buku pantau tumbuh-kembang bayi yang bisa didapat di puskemas atau rumah sakit. Menurut kurva Lubchenko, ada 3 parameter utama untuk mengetahui pertumbuhan seorang bayi, yaitu bertambahnya berat badan, tinggi badan, dan ukuran lingkar kepala.

Pertambahan BB yang dikategorikan normal dibagi menjadi beberapa tahapan. Pada triwulan pertama, pertambahan BB sekitar 150-250 gram per bulan. Pada triwulan kedua sekitar 500-600 gram per bulan, sedangkan pada triwulan ketiga mencapai 350-450 gram per bulan. Lalu, pada triwulan keempat pertambahan BB berkisar antara 250-350 gram per bulan. Dari patokan di atas terlihat kalau dalam 3 bulan pertama setelah lahir, pertambahan BB berlangsung biasa-biasa saja. Kemudian, pada usia 3-6 bulan pertambahan BB terkesan melesat, dan mulai melambat saat usia di atas 6 bulan.

Yang ditekankan Hanifah, meski kenaikan BB-nya melambat, pertumbuhan anak sebenarnya berlangsung normal. Toh, sebenarnya bobot tersebut tetap mengalami penambahan walaupun lebih kecil ketimbang di bulan-bulan sebelumnya. Jadi, orang tua tak perlu khawatir. Memang, "Tak diketahui secara pasti kenapa pertambahan BB bayi menurun. Yang pasti, penelitian yang dilakukan terhadap sejumlah bayi normal dari berbagai ras juga menunjukkan hal yang sama," ujarnya.

Secara garis besar, saat menginjak usia 6 bulan, rata-rata BB bayi sudah mencapai 2 kali lipat BB lahirnya. Sedangkan di usia 1 tahun BB ini sudah mencapai 3 kali lipat berat lahir. Nah, selepas usia 1 tahun, pertambahan BB mulai melambat lagi. "Hal itu memang berlangsung secara alamiah dan normal. Tak usah terlalu dipusingkan kenapa kenaikan BB yang tadinya tinggi tiba-tiba menurun. Bagaimanapun, angka-angka itu sangat bersifat individual. Tiap anak berbeda-beda tak usah dibandingkan dengan bayi yang lain," tutur Hanifah.

BB TIDAK NORMAL

Dugaan bahwa ada yang tidak beres pada pertumbuhan si kecil pantas muncul bila grafik BB pada kurva terlihat menurun drastis. Apalagi jika nafsu makannya (termasuk keinginan untuk menyusu) juga terlihat menurun. Nah, untuk mendeteksi ketidaknormalan itu, Hanifah sekali lagi menekankan pentingnya mengamati data-data yang tercatat pada kurva Lubchenko. Jangan-jangan si kecil terserang penyakit.

Sebuah studi menunjukkan adanya keterkaitan antara perubahan BB dengan kondisi pertumbuhan anak. Jika BB tak bertambah sesuai dengan grafik normal maka kemungkinan anak tengah mengalami gangguan pertumbuhan. Nah, jika dalam 2 bulan berturut-turut si kecil tidak mengalami pertambahan berat atau malah turun secara drastis, waspadai kemungkinan adanya gangguan. Masalahnya, pada usia 0-2 tahun, sekitar 80 persen jaringan otak sedang terbentuk. Segeralah berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui dan memastikan kondisi si kecil.

Gangguan pertumbuhan ini bisa terjadi dalam waktu singkat maupun jangka panjang. Merosotnya BB dalam waktu singkat bisa disebabkan oleh menurunnya nafsu makan, penyakit, atau kurangnya asupan makanan pada bayi. Sedangkan, penurunan BB sedikit demi sedikit dalam rentang waktu yang tidak sebentar biasanya dipicu oleh kelainan gagal tumbuh. Gagal tumbuh merupakan ketidakmampuan bayi/anak untuk mencapai BB atau TB sesuai jalur pertumbuhan yang normal. Penyakit infeksi juga dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pertumbuhan pada anak.

PENTINGNYA GIZI

ASI, seperti ditandaskan dr. Rachmi Untoro, MPH, berperan besar pada pertambahan BB bayi. Penelitian membuktikan bayi yang mengonsumsi ASI pada 2 bulan pertama semenjak lahir, mengalami pertambahan BB yang lebih cepat ketimbang bayi yang mengonsumsi susu formula. 

Meski belum ada studi yang dapat menjawab dengan pasti mengapa dengan minum ASI pertambahan BB berlangsung lebih cepat, tapi riset menunjukkan anak yang minum ASI menghabiskan energi lebih sedikit dibandingkan anak yang minum susu formula. Itulah mungkin yang menjadi penyebab bobotnya cepat bertambah. Selain itu, dengan minum ASI bayi pada dasarnya akan lebih cepat lapar dan haus. Plus, tentu saja, ASI mengandung zat-zat terbaik untuk bayi.

Rachmi juga berpendapat kalau pertumbuhan bayi tidak bisa dilihat hanya berdasarkan perubahan BB dan PB-nya saja. Namun juga, perlu diperhatikan keseimbangan antara asupan dan kebutuhan gizinya. Jika keadaan gizi anak baik, barulah dapat dikatakan pertumbuhannya normal. Bukankah jika gizinya tak seimbang, pertumbuhan anak akan terganggu, seperti menjadi kurus, terlalu gemuk, atau pendek.

Kecukupan gizi sebenarnya sudah diperlukan bayi sejak di kandungan. Ibu hamil yang kurang menyantap makanan bergizi kemungkinan besar nantinya memiliki bayi dengan BB rendah dan sakit-sakitan. "Beberapa penelitian menunjukkan, bayi yang tak mendapat gizi cukup ketika masih dalam kandungan berisiko tinggi menderita penyakit degeneratif," papar Direktur Gizi Masyarakat Departemen Kesehatan ini. Contohnya, hipertensi, penyakit jantung, diabetes, dan gagal ginjal.

KATEGORI KURUS-GEMUK

Ada yang menyebutkan, bayi baru lahir dikatakan gemuk jika BB-nya mencapai lebih dari 3.500 gram. Atau sebaliknya, bayi yang lahir dengan BB 2.500 gram adalah kurus. Padahal kurus-gemuknya bayi tak bisa dilihat secara hitam putih seperti itu karena masing-masing menjalani proses tumbuh-kembang yang khas.

Kalaupun si kecil telihat gemuk atau kurus, tinggal dilihat saja apakah bobot tersebut masih sejalan dengan kurva pertambahan tinggi badan dan ukuran lingkar kepala yang normal. "Apakah bayi itu kurus atau gemuk tak cukup dilihat berdasarkan berat badannya, tapi bandingkan pula dengan pertumbuhan panjang badan setiap bulannya melalui kurva Lubchenko."

Untuk menyebut apakah anak kurus atau gemuk juga harus dengan melihat bagaimana riwayat berat badan keluarganya. Alasannya, faktor genetik juga menentukan pertumbuhan anak. Ada anak yang pertambahan BB-nya lambat tapi diiringi pertambahan tinggi badan yang cepat. Jadilah ia si kurus. Sebaliknya, ada anak yang pertambahan BB-nya cepat tapi pertambahan tinggi badannya lambat, maka ia disebut sebagai si gendut. Artinya, ada faktor X yang ikut mempengaruhi apakah si anak kelak tergolong gemuk atau kurus yaitu faktor genetik.

Yang perlu diketahui, lanjut Hanifah, di bawah usia 2 tahun, bayi atau anak yang gemuk belum bisa dibilang kegemukan. Gemuk dalam persepsi orang dewasa adalah kelebihan simpanan lemak. Lemak ini sebenarnya berfungsi sebagai cadangan energi. Jadi, kalaupun lemak si bayi tampak berlebih, bukan berarti ia menderita obesitas. Lantaran itulah, walaupun si bayi terlihat sangat gemuk, orang tua tak perlu mengurangi asupan makanannya. Contohnya, bayi yang lahir di atas 3.500 gram tidak bisa dikatakan gemuk karena itu baru BB awalnya.

Pengecualian bisa dilakukan bila memang orang tua memiliki riwayat obesitas. Kemungkinan besar, bayi bisa mengalami hal yang sama. Kalau sudah begini, porsi makan si kecil perlu diperhatikan. Namun, penyebab obesitas tak melulu faktor genetik. Bayi yang kurang aktif bergerak juga bisa mengalami kegemukan. Apalagi bila ia selalu makan terlalu banyak. Akibatnya, sel-sel lemaknya berkembang terlalu pesat sehingga mempercepat pembentukan lemak pada tubuhnya.

PERTAMBAHAN BB BAYI PREMATUR

Bagaimana dengan berat badan bayi prematur? Apakah pertambahannya akan lebih sedikit dibandingkan anak seusianya yang lahir cukup bulan? Biasanya, lanjut Hanifah, perlu waktu beberapa tahun agar pertambahan BB anak prematur berlangsung normal. "Karena ia dilahirkan lebih cepat, anak prematur perlu waktu untuk mengejar berat atau tinggi badan anak seusianya."

Riset menunjukkan pada usia 8 tahun anak prematur rata-rata akan mampu mengejar ketertinggalan pertambahan berat dan tingginya. Namun, hasil riset memaparkan anak prematur yang lahir saat usia kehamilan belum genap 32 minggu akan tetap memiliki bobot maupun tinggi badan yang lebih kecil dibanding teman seusianya yang lahir dengan cukup bulan. 

   
11-12-2007 22:45:42 Imunisasi MMR
Jumlah Posts : 368
Jumlah di-Like : 1
MENYIKAPI KONTROVERSI AUTISME DAN IMUNISASI MMR


dr. Widodo Judarwanto, Rumah Sakit Bunda Jakarta


Dalam waktu terakhir ini kasus penderita autisme tampaknya semakin meningkat pesat. Autisme tampak menjadi seperti epidemi ke berbagai belahan dunia. Dilaporkan terdapat kenaikan angka kejadian penderita Autisme yang cukup tajam di beberapa negara. Keadaan tersebut di atas cukup mencemaskan mengingat sampai saat ini penyebab autisme multifaktorial, masih misterius dan sering menjadi bahan perdebatan diantara para klinisi.

Autisme adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial. Perdebatan yang terjadi akhir-akhir ini berkisar pada kemungkinan hubungan autisme dengan imunisasi MMR (Mumps, Measles, Rubella). Banyak orang tua menolak imunisasi karena mendapatkan informasi bahwa imunisasi MMR dapat mengakibatkan autisme. Akibatnya anak tidak mendapatkan perlindungan imunisasi untuk menghindari penyakit-penyakit justru yang lebih berbahaya seperti hepatitis B, Difteri, Tetanus, pertusis, TBC dan sebagainya. Banyak penelitian yang dilakukan secara luas ternyata membuktikan bahwa autism tidak berkaitan dengan imunisasi MMR. Tetapi memang terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa Autism dan imunisasi MMR berhubungan.

Imunisasi MMR adalah imunisasi kombinasi untuk mencegah penyakit Campak, Campak Jerman dan Penyakit Gondong. Pemberian vaksin MMR biasanya diberikan pada usia anak 16 bulan. Vaksin ini adalah gabungan vaksin hidup yang dilemahkan. Semula vaksin ini ditemukan secara terpisah, tetapi dalam beberapa tahun kemudian digabung menjadi vaksin kombinasi. Kombinasi tersebut terdiri dari virus hidup Campak galur Edmonton atau Schwarz yang telah dilemahkan, Componen Antigen Rubella dari virus hidup Wistar RA 27/3 yang dilemahkan dan Antigen gondongen dari virus hidup galur Jerry Lynn atau Urabe AM-9.

Pendapat yang mendukung autism berkaitan dengan imunisasi :
Terdapat beberapa penelitian dan beberapa kesaksian yang mengungkapkan Autisme mungkin berhubungan dengan imunisasi MMR. Reaksi imunisasi MMR secara umum ringan, pernah dilaporkan kasus meningoensfalitis pada minggu 3-4 setelah imunisasi di Inggris dan beberapa tempat lainnya. Reaksi klinis yang pernah dilaporkan meliputi kekakuan leher, iritabilitas hebat, kejang, gangguan kesadaran, serangan ketakutan yang tidak beralasan dan tidak dapat dijelaskan, defisit motorik/sensorik, gangguan penglihatan, defisit visual atau bicara yang serupa dengan gejala pada anak autism.

Andrew Wakefielddari Inggris melakukan penelitian terhadap 12 anak, ternyata terdapat gangguan Inflamantory Bowel disesase pada anak autism. Hal ini berkaitan dengan setelah diberikan imunisasi MMR. Bernard Rimland dari Amerika juga mengadakan penelitian mengenai hubungan antara vaksinasi terutama MMR (measles, mumps rubella ) dan autisme. Wakefield dan Montgomery melaporkan adanya virus morbili (campak) dengan autism pada 70 anak dari 90 anak autism dibandingkan dengan 5 anak dari 70 anak yang tidak autism. Hal ini hanya menunjukkan hubungan, belum membuktikan adanya sebab akibat.

Jeane Smith seorang warga negara Amerika bersaksi didepan kongres Amerika : kelainan autis dinegeri ini sudah menjadi epidemi, dia dan banyak orang tua anak penderta autisme percaya bahwa anak mereka yang terkena autisme disebabkan oleh reaksi dari vaksinasi. Sedangkan beberapa orang tua penderita autisme di Indonesiapun berkesaksian bahwa anaknya terkena autisme setelah diberi imunisasi

Pendapat yang menentang bahwa imunisasi menyebabkan autisme
Sedangkan penelitian yang mengungkapkan bahwa MMR tidak mengakibatkan Autisme lebih banyak lagi dan lebih sistematis. Brent Taylor, melakukan penelitian epidemiologik dengan menilai 498 anak dengan Autisme. Didapatkan kesimpulan terjadi kenaikkan tajam penderita autism pada tahun 1979, namun tidak ada peningkatan kasus autism pada tahun 1988 saat MMR mulai digunakan. Didapatkan kesimpulan bahwa kelompok anak yang tidak mendapatkan MMR juga terdapat kenaikkan kasus aurtism yang sama dengan kelompok yang di imunisasi MMR.

Dales dkk seperti yang dikutip dari JAMA (Journal of the American Medical Association) 2001, mengamati anak yang lahir sejak tahun 1980 hingga 1994 di California, sejak tahun 1979 diberikan imunisasi MMR. Menyimpulkan bahwa kenaikkan angka kasus Autism di California, tidak berkaitan dengan mulainya pemberian MMR.

Intitute of medicine, suatu badan yang mengkaji keamanan vaksin telah melakukan kajian yang mendalam antara hubungan Autisme dan MMR. Badan itu melaporkan bahwa secara epidemiologis tidak terdapat hubungan antara MMR dan ASD. The British Journal of General Practice mepublikasikan penelitian De Wilde, pada bulan maret 2001. Meneliti anak dalam 6 bulan setelah imunisasi MMR dibandingkan dengan anak tanpa Autisme. Menyimpulkan tidak terdapat perubahan perilaku anak secara bermakna antara kelompok control dan kasus. Pada jurnal ilmiah Archives of Disease in Childhood, September 2001, The Royal College of Paediatrics and Child Health, menegaskan bahwa tidak ada bukti ilmiah yang mendukung adanya hipoteda kaitan imunisasi MMR dan Autisme. Para profesional di bidang kesehatan tidak usah ragu dalam merekomendasikan imunisasi MMR pada pasiennya..

Makela A, Nuorti JP, Peltola H tim peneliti dari Central Hospital Helsinki dan universitas Helsinky Finlandia pada bulan Juli 2002 telah melakukan penelitian terhadap 535.544 anak yang mendapatkan imunisasi MMR sejak 1982 hingga 1986, yang dilakukan pengamatan 3 bulan setelah di Imunisasi. Mereka menyimpulkan bahwa tidak menunjukkan hubungan yang bermakana antara imunisasi MMR dengan penyakit neurologis (persrafan) seperti ensefalitis, aseptik meningitis atau autisme. Kreesten Meldgaard Madsen dkk bulan November 2002, melakukan penelitian sejak tahun 1991 - 1998 terhadap 440.655 anak yang mendapatkan imunisasi MMR. Hasilnya menunjukkan tidak terbukti hipotesis hubungan MMR dan Autisme.

Rekomendasi Intitusi atau Badan Kesehatan Dunia
Beberapa institusi atau badan dunia di bidang kesehatan yang independen dan sudah diakui kredibilitasnya juga melakukan kajian ilmiah dan penelitian tentang tidak adanya hubungan imunisasi dan autisme. Dari hasil kajian tersebut, dikeluarkan rekomendasi untuk tenaga profesional untuk tetap menggunakan imunisasi MMR dan thimerosal karena tidak terbukti mengakibatkan Autisme.

The All Party Parliamentary Group on Primary Care and Public Health pada bulan Agustus 2000, menegaskan bahwa MMR aman. Dengan memperhatikan hubungan yang tidak terbukti antara beberapa kondisi seperti inflammatory bowel disease (gangguan pencernaan) dan autisme adalah tidak berdasar.

WHO (World Health Organisation), pada bulan Januari 2001 menyatakan mendukung sepenuhnya penggunaan imunisasi MMR dengan didasarkan kajian tentang keamanan dan efikasinya.

Beberapa institusi dan organisasi kesehatan bergengsi di Inggris termasuk the British Medical Association, Royal College of General Practitioners, Royal College of Nursing, Faculty of Public Health Medicine, United Kingdom Public Health Association, Royal College of Midwives, Community Practitioners and Health Visitors Association, Unison, Sense, Royal Pharmaceutical Society, Public Health Laboratory Service and Medicines Control Agency pada bulan januari tahun 2001 setelah mengadakan pertemuan dengan pemerintahan Inggris mengeluarkan pernyataan bersama yaitu MMR adalah vaksin yang sangat efektif dengan laporan keamanan yang sangat baik. Secara ilmiah sangat aman dan sanagat efektif untuk melindungi anak dari penyakit. Sangat merekomendasikan untuk memberikan MMR terhadap anak dan tanpa menimbulkan resiko.

The Committee on Safety of Medicine (Komite Keamanan Obat) pada bulan Maret 2001, menyatakan bahwa kesimpulan dr Wakefield tentang vaksin MMR terlalu premature. Tidak terdapat sesuatu yang mengkawatirkan. The Scottish Parliament�s Health and Community Care Committee, juga menyatakan pendapat tentang kontroversi yang terjadi, yaitu Berdasarkan pengalaman klinis berbasis bukti, tidak terdapat hubungan secara ilimiah antara MMR dan Autisme atau Crohn disease. Komite tesebut tidak merekomendasikan perubahan program imunisasi yang telah ditetapkan sebelumnya bahwa MMR tetap harus diberikan.

The Irish Parliament�s Joint Committee on Health and Children pada bulan September 2001, melakukan review terhadap beberapa penelitian termasuk presentasi Dr Wakefield yang mengungkapkan AUTISM berhungan dengan MMR. Menyimpulkan tidak ada hubungan antara MMR dan Autisme. Tidak terdapat pengalaman klinis lainnya yang mebuktikan bahan lain di dalam MMR yang lebih aman dibandingkan kombinasi imunisasi. MMR.

The American Academy of Pediatrics (AAP), organisasi profesi dokter anak di Amerika Serikat pada tanggal 12 � 13 Juni 2000 mengadakan konferensi dengan topik "New Challenges in Childhood Immunizations" di Oak Brook, Illinois Amerika Serikat yang dihadiri para orang tua penderita autisme, pakar imunisasi kesehatan anak dan para peneliti. Pertemuan tersebut merekomendasikan bahwa tidak terdapat huibungan antara MMR dan Autisme. Menyatakan bahwa pemberian imunisasi secara terpisah tidak lebih baik dibandingkan MMR, malahan terjadi keterlambatan imunisasi MMR. Selanjutnya akan dilakukan penelitian l;ebih jauh tentang penyebab Autisme.

BAGAIMANA SIKAP KITA SEBAIKNYA ?
Bila mendengar dan mengetahui kontroversi tersebut, maka masyarakat awam bahkan beberapa klinisipun jadi bingung. Untuk menyikapinya kita harus cermat dan teliti dan berpikiran lebih jernih. Kalau mengamati beberapa penelitian yang mendukung adanya autisme berhubungan dengan imunisasi, mungkin benar sebagai pemicu. Secara umum penderita autisme sudah mempunyai kelainan genetik (bawaan) dan biologis sejak awal. Hal ini dibuktikan bahwa genetik tertentu sudah hampir dapat diidentifikasi dan penelitian terdapat kelainan otak sebelum dilakukan imunisasi. Kelainan autism ini bisa dipicu oleh bermacam hal seperti imunisasi, alergi makanan, logam berat dan sebagainya. Jadi bukan hanya imunisasi yang dapat memicu timbulnya autisme. Pada sebuah klinik tumbuh kembang anak didapatkan 40 anak dengan autism tetapi semuanya tidak pernah diberikan imunisasi. Hal ini membuktikan bahwa pemicu autisme bukan hanya imunisasi.

Penelitian yang menunjukkan hubungan keterkaitan imunisasi dan autism hanya dilihat dalam satu kelompok kecil (populasi) autism. Secara statistik hal ini hanya menunjukkan hubungan, tidak menunjukkan sebab akibat. Kita juga tidak boleh langsung terpengaruh pada laporan satu atau beberapa kasus, misalnya bila orang tua anak autism berpendapat bahwa anaknya timbul gejala autism setelah imunisasi. Kesimpulan tersebut tidak bisa digeneralisasikan terhadap anak sehat secara umum (populasi lebih luas). Kalau itu terjadi bisa saja kita juga terpengaruh oleh beberapa makanan yang harus dihindari oleh penderita autism juga juga akan dihindari oleh anak sehat lainnya. Jadi logika tersebut harus dicermati dan dimengerti.

Bila terpengaruh oleh pendapat yang mendukung keterkaitan autism dan imunisasi tanpa melihat fakta penelitian lainnya yang lebih jelas, maka kita akan mengabaikan imunisasi dengan segala akibatnya yang jauh lebih berbahaya pada anak. Penelitian dalam jumlah besar dan luas secara epidemiologis lebih bisa dipercaya untuk menunjukkan sebab akibat dibandingkan laporan beberapa kasus yang jumlahnya relatif tidak bermakna secara umum. Beberapa institusi atau badan kesehatan dunia yang bergengsi pun telah mengeluarkan rekomendasi untuk tetap meneruskan pemberian imunisasi MMR. Hal ini juga menambah keyakinan kita bahwa memang Imunisasi MMR memang benar aman.

Kontroversi itu terus berlanjut terus, namun kita bisa mengambil hikmah dan jalan yang terbaik anak kita harus imunisasi atau tidak ? Untuk meyakinkan hal tersebut mungkin kita bisa berpedoman pada banyak penelitian yang lebih dipercaya validitasnya secara statistik dengan populasi lebih banyak dan luas yaitu Autisme tidak berhubungan dengan MMRl. Demikian pula kita harus percaya terhadap rekomendasi berbagai badan dunia kesehatan yang independen dan terpercaya setelah dilakukan kajian ilmiah terhadap berbagai penelitian yang dilakukan oleh beberapa pakar kesehatan anak di berbagai dunia maju.

Dari beberapa hal tersebut diatas, tampaknya dapat disimpulkan bahwa Imunisasi MMR tidak mengakibatkan Autisme, bila anak kita sehat dan tidak berbakat autisme. Tetapi diduga imunisasi dapat memicu memperberat timbulnya gangguan perilaku pada anak yang sudah mempunya bakat autisme secara genetik sejak lahir.

Tetapi tampaknya teori, penelitian atau pendapat beberapa kasus yang mendukung keterkaitan autisme dengan imunisasi, tidak boleh diabaikan bergitu saja. Meskipun laporan penelitian yang mendukung hubungan Autisme dan imunisasi hanya dalam populasi kecil atau bahkan laporan perkasus anak autisme. Sangatlah bijaksana untuk lebih waspada bila anak kita sudah mulai tampak ditemukan penyimpangan perkembangan atau perilaku sejak dini, memang sebaiknya untuk mendapatkan imunisasi MMR harus berkonsultasi lebih jelas dahulu dengan dokter anak. Bila anak kita sudah dicurigai ditemukan bakat kelainan Autism sejak dini atau beresiko terjadi autisme, mungkin bisa saja menunda dahulu imunisasi MMR sebelum dipastikan diagnosis Autisme dapat disingkirkan. Meskipun sebenarnya pemicu atau faktor yang memperberat Autisme bukan hanya imunisasi. Dalam hal seperti ini kita harus memahami dengan baik resiko, tanda dan gejala autisme sejak dini.

Tetapi bila anak kita sehat, tidak beresiko atau tidak menunjukkan tanda dini gejala Autisme maka kita tidak perlu kawatir untuk mendapatkan imunisasi tersebut. Kekawatiran terhadap imunisasi tanpa didasari pemahaman yang baik dan pemikiran yang jernih akan menimbulkan permasalahan kesehatan yang baru pada anak kita. Dengan menghindari imunisasi maka akan timbul permasalahan baru yang lebih berbahaya dan dapat mengancam jiwa terutama bila anak terkena infeksi yang dapat dicegah dengan imunisasi
   


Jumlah Posts : 1725
Jumlah di-Like : 25
Topik ini membahas tentang anak yang lahir pada bulan November 2017.
Jika Bunda memiliki anak yang lahir dibulan dan tahun yang sama, silahkan Bunda berbagi cerita tentang pengalaman seputar kelahiran, perawatan, dan tumbuh kembang anak.
   
Jumlah Posts : 1725
Jumlah di-Like : 25
Topik ini membahas tentang anak yang lahir pada bulan Oktober 2017.
Jika Bunda memiliki anak yang lahir dibulan dan tahun yang sama, silahkan Bunda berbagi cerita tentang pengalaman seputar kelahiran, perawatan, dan tumbuh kembang anak.
   
Jumlah Posts : 1725
Jumlah di-Like : 25
Topik ini membahas tentang anak yang lahir pada bulan September 2017.
Jika Bunda memiliki anak yang lahir dibulan dan tahun yang sama, silahkan Bunda berbagi cerita tentang pengalaman seputar kelahiran, perawatan, dan tumbuh kembang anak.
   
Jumlah Posts : 1725
Jumlah di-Like : 25
Topik ini membahas tentang anak yang lahir pada bulan Agustus 2017.
Jika Bunda memiliki anak yang lahir dibulan dan tahun yang sama, silahkan Bunda berbagi cerita tentang pengalaman seputar kelahiran, perawatan, dan tumbuh kembang anak.
   
Jumlah Posts : 1725
Jumlah di-Like : 25
Topik ini membahas tentang anak yang lahir pada bulan Juli 2017.
Jika Bunda memiliki anak yang lahir dibulan dan tahun yang sama, silahkan Bunda berbagi cerita tentang pengalaman seputar kelahiran, perawatan, dan tumbuh kembang anak.
   
Jumlah Posts : 1725
Jumlah di-Like : 25
Topik ini membahas tentang anak yang lahir pada bulan Juni 2017.
Jika Bunda memiliki anak yang lahir dibulan dan tahun yang sama, silahkan Bunda berbagi cerita tentang pengalaman seputar kelahiran, perawatan, dan tumbuh kembang anak.